
"Guru itu mengatakan pada kami bahwa di saat kedua penyihir akan menikah, akan terjadi sebuah ikatan mana di sekitar jantung sepasang penyihir tersebut,"
"Dan di saat sepasang penyihir itu ingin memiliki penerus akan ada sebuah kejadian dimana mana milik mereka akan tersedot pada penerus penyihir tersebut hingga tak bersisa,"
Avyanna mengerjapkan matanya berulang kali.
Avyanna terlihat bingung sejenak dan akhirnya membuka mulutnya, "Apakah anak dari pasangan penyihir tersebut bisa dikatakan akan membunuh orang tuannya sendiri, Bu?"
Demetria tersenyum, "Bisa saja. Tetapi itu tidak akan terjadi jika pasangan penyihir tersebut dapat mengendalikan mana milik mereka dengan baik,"
Avyanna membuka matanya dengan lebar dan berkata, "Apakah kakak dan saya juga ... menyedot mana milik ibu dan ayah?"
Demetria membelai rambut hitam Avyanna sambil berkata, "Itu tidak pernah terjadi pada kita, Avyku. Ayahmu dan aku dapat mengontrol sihir lebih baik dari pada penyihir lainnya,"
Avyanna mengerutkan alisnya, "Tetapi, Bu ... apa hubungan ini dengan kondisi saya?"
Demetria berdeham sejenak dan berkata, "Mungkin karena ini. sebelum anak dari pasangan penyihir itu tepat berumur lima tahun, anak tersebut tidak boleh terpapar sihir dengan jumlah yang besar. Karena mungkin hal itu akan membuat sebuah efek samping yang merusak pada anak tersebut,"
Avyanna terkejut, "Itu ..."
Demetria tersenyum sedih saat ia melihat bagaimana mata Avyanna bergetar karena terkejut.
"Ayahmu mungkin menunjukkan sedikit sihir padamu seperti mengubah benda menjadi benda lainnya. Atau mungkin memberikan angin di sekitarmu yang dapat membuatmu bisa terbang atau melakukan hal lainnya,"
"Tetapi sihir yang biasa ayahmu tunjukkan adalah sihir yang berbeda dengan sihir yang di maksud dengan pernyataan bahwa anak yang belum genap lima tahun tidak boleh terpapar sihir yang besar,"
Avyanna semakin kebingungan, "Sihir yang berbeda?"
Demetria menganggukkan kepalanya, "Ya, Avyku,"
Demetria melepas genggaman tangannya dan mulai berdiri.
Ia berjalan ke sebuah rak buku dan membuka sebuah laci di bawahnya.
Demetria mengambil kantung berwarna cokelat tua dengan tali merah di tangannya dan kembali berjalan ke samping tempat tidur Avyanna berada.
Avyanna menaikan salah satu alisnya dan bertanya, "Apa itu, Bu?"
Demetria tersebut sejenak saat ia kembali duduk sambil mengeluarkan sesuatu dari kantung tersebut.
Buku tebal keluar dari kantung itu.
Sampul buku tersebut terlihat memiliki akar kering yang melilit sisi-sisi buku tersebut.
Avyanna yang melihatnya tidak bisa menahan rasa penasarannya, "Buku apa ini, Bu?"
Demetria berkata sambil menatap buku tersebut, "Ibu mencoba untuk tidak membahas sihir di depanmu karena apa yang terjadi padamu saat itu,"
"Ibu?"
Demetria, "Avyku ... di dunia ini ada dua jenis sihir yang biasa di gunakan oleh makhluk hidup,"
Demetria menyentuh buku itu sambil menggumamkan sesuatu.
Buku itu mulai mengeluarkan cahaya redup dan akar-akar yang tadinya melilit sisi-sisi buku mulai bergerak berkumpul menjadi satu di tengah sampul buku.
Avyanna yang melihat itu merasa takjub sambil terus mengerjapkan matanya, "Wah!"
Demetria mulai membalikan halaman demi halaman buku tersebut sambil berkata, "Sihir pertama adalah sihir yang biasa di gunakan oleh manusia. Dan yang ke dua adalah sihir yang digunakan oleh makhluk non-manusia,"
Kertas pada buku itu mengeluarkan cahaya redup dengan akar yang menjulur di atas kertas halaman tersebut.
Demetria menatap Avyanna sambil berkata, "Sihir yang biasa digunakan oleh manusia di bagi sesuai dengan penggunaannya. Jika para penyihir mengatakan bahwa sumber kekuatan sihir mereka berasal dari mana sedangkan para pendekar menyebut sumber kekuatannya dengan aura,"
Avyanna terkesima dengan akar-akar yang menjulur di buku tetapi ia menanggapi pernyataan Demetria dengan berkata, "Sihir yang digunakan oleh manusia itu berasal dari mana dan juga aura? Ibu, itu terdengar sama saja,"
Demetria, "Sebenarnya memang sama, karena dalam membentuk inti mana maupun inti aura tepat di jantung dan juga sumbernya berasal dari diri manusia itu sendiri. Hanya saja ..."
Avyanna memiringkan kepalanya, "Hanya saja?"
Demetria, "Hanya saja cara mengalirkan sumber itu ke seluruh tubuh dan cara menggunakannya yang berbeda. Contohnya, penyihir yang sudah membentuk inti mana akan dapat menggunakan mana dalam tubuh mereka dengan leluasa dan biasanya mana itu akan menyeruak keluar dari tubuh seperti asap yang pekat,"
"Tetapi meskipun dapat menggunakan dengan leluasa, para penyihir yang menggunakan mana tersebut terlebih dahulu harus membentuk sebuah segel sihir dan mengucapkan sebuah mantra sambil membayangkan apa yang akan buat atau lakukan dengan mana tersebut,"
"Sedangkan, para pengguna aura yang sudah membentuk inti aura di jantung mereka tidak bisa seleluasa para penyihir dalam menggunakan sihir,"
Demetria menoleh ke arah Avyanna yang mendengarkan dengan cermat sambil tersenyum dan Demetria melanjutkan, "Mereka hanya dapat mengalirkan aura mereka kepada objek-objek perantara. Karena itu kebanyakan pengguna aura adalah orang-orang yang menggunakan senjata,"
Avyanna mengangguk dan menatap akar lainnya yang menjulur dari balik kertas kekuningan buku tersebut, "Saya mengerti,"
Avyanna mengerutkan keningnya dan bertanya pada Demetria, "Lalu sihir lainnya? Ibu mengatakan bahwa yang menggunakan adalah mahkluk non-manusia?"
Demetria mengangguk sambil membalikkan halaman, "Sihir yang di gunakan mahkluk non-manusia disebut sebagai sihir elementary. Yang berarti sihir dasar dari kehidupan. Sihir ini berasal dari mana yang menyebar di seluruh dunia. Entah itu ada di langit, tanah, pepohonan, air, udara, bahkan batu sekalipun."
Avyanna membuka matanya dengan lebar karena terkejut, "Batu memiliki mana?"
Demetria mengangguk, "Ya. Semua makhluk yang tak hidup di dunia ini juga memiliki mana dalam diri mereka tetapi mereka tidak dapat menggunakan seperti para makhluk hidup, karena itu mereka memberikan secara percuma layaknya oksigen yang di hasilkan pohon,"
Avyanna mengangkat tangannya mencoba untuk menyentuh ujung akar di atas halaman buku tersebut.
Tetapi dengan segera menarik tangannya kembali saat Avyanna melihat bahwa akar itu menusuk dalam kertas yang sudah kekuningan tersebut.
Demetria tertawa kecil saat melihat wajah bingung Avyanna.
Ia melanjutkan penjelasannya, "Sihir elementary biasanya di gunakan oleh bangsa elf, goblin, dwarf, dan makhluk lainnya yang bukan manusia. Mereka menggunakan mana ini tanpa harus membentuk segel ataupun mengucapkan mantra terlebih dahulu,"
"Bahkan, mereka juga tidak perlu menggunakan benda perantara untuk dapat menggunakan sihir. Karena mereka telah diijinkan untuk menggunakannya oleh para alam,"
Avyanna terkesima, "Ijin dari alam?"
Demetria mengangguk, "Ya, Avyku,"
Avyanna menatap dengan penuh harap kepada Demetria, "Lalu, ibu? Dimana para makhluk yang bukan manusia itu? Mungkin saja mereka dapat membatu mengajarkan saya dalam menggunakan mana alam,"
Demetria yang mendengarkan itu terkejut sejenak dan mulai diam.
Avyanna yang melihat ibunya terdiam mulai membuka mulutnya dan berkata, "Atau mungkin saja saya dapat di sembuhkan oleh mereka? Karena saya yakin mereka pasti mengetahui sesuatu,"
Demetria tersenyum tipis, "Itu ... adalah pemikiran yang bagus,"
Avyanna mengangguk dan berkata dengan suaranya yang tinggi dengan semangat, "Jika kita berhasil melakukannya ibu dan kakak tidak perlu menahan diri dalam menggunakan sihir di depan saya. Kita juga bisa mengetahui dengan baik dimana ayah berada dan lalu menjemputnya pulang,"
Demetria menatap Avyanna dan tersenyum, "Itu benar, Avyku. Tetapi ..."
****