
Semua penyihir yang mendengarkan hal itu mulai terkejut.
Bahkan para penyihir tua menatap tak percaya pada Cathan yang berdiri dengan sangat indah di tengah-tengah para penyihir.
"Apa yang ..."
"Itu warna yang tak pernah kulihat sebelumnya,"
Rygon melebarkan matanya saat ia terus menerus menatap asap berwarna emas yang mengelilingi tubuh Cathan dan para penyihir muda.
Rygon mengerutkan alisnya tak percaya, "Apakah itu ma- mana emas?"
Cathan memejamkan matanya saat ia terus fokus mengeluarkan sihir penyembuhan pada para penyihir muda.
Cathan mulai mendecakkan lidahnya saat ia merasakan rasa sakit di jantungnya.
Cathan terbatuk saat ia mengerutkan alisnya sambil meraba dada kirinya, 'Apa aku terlalu banyak menggunakan sihir?'
Alv menoleh ke arah Cathan dan terdiam sejenak saat melihat Cathan seperti kesakitan.
Setelah itu, Alv mulai menghela napas panjang dan berpikir, 'Kita semua akan tamat kalau Cathan sampai kehabisan tenaganya,'
Xyla yang terduduk dan mulai merasa lebih baik setelah mana emas milik Cathan menyelimuti lukanya.
Xyla mengerutkan keningnya saat ia menatap dengan ekspresi aneh pada Cathan.
Ia mulai mengangkat tangannya dan membuka mulutnya, "Tuan Syvonne, bolehkan saya bertanya?"
Cathan segera membuka matanya lalu menoleh ke arah Xyla dan mengangguk, "Ya, silahkan saja,"
Xyla menengguk air di mulutnya dan berkata dengan hati- hati, "Ma- mana emas itu ... Mungkinkah anda ..."
Cathan menaikan satu alisnya sambil memiringkan kepalanya dan bertanya dengan bingung, "Kenapa?"
Xyla tertunduk sejenak dan berkata, "Mung ... Mungkinkah ... Ah?! A- apakah anda adalah penyihir emas?"
Mendengar hal ini membuat para penyihir terkesiap dan beberapa di antaranya bahkan tidak bergerak.
Rygon yang mendengar hal itu pun juga langsung terpaku saat ia sedang dibantu oleh tangan kanannya untuk bangkit.
Rygon melebarkan matanya terkejut, "Anak ini ... Penyihir emas?"
Penyihir emas ...
Penyihir yang sudah sejak lama tidak terlihat.
Mungkin diperkirakan semenjak kekaisaran ini terbentuk.
Sekitar 10.000 tahun penyihir emas tidak terlihat lamanya tahun yang sama dengan terbentuknya kekaisaran.
Bahkan, catatan tentang mereka sangatlah sedikit hampir mustahil menemukan catatan tentang mereka.
Menara sihir bahkan hanya memiliki sedikit catatan tentang mereka.
Hanya warna rambut dan mata mereka sajalah yang disebutkan dalam catatan itu selebihnya hanyalah omong kosong tentangnya.
Warna rambut dan mata yang di sebutkan berwarna emas yang indah.
Kaisar pertama memiliki warna mata dan rambut emas yang di sebut-sebut sebagai penyihir emas pertama di kekaisaran.
Xyla menengguk air di mulutnya sambil diam-diam memperhatikan wajah Cathan.
Akashi segera berdiri dan mendekat pada Max yang masih kesulitan untuk bangun.
Akashi juga diam-diam memperhatikan sekitarnya dan tentunya menunggu jawaban dari Cathan.
Xyla mengerutkan alisnya, "Tuan Syvonne?"
Semua terkejut karena mereka mengetahui sedikit tentang penyihir emas.
Tetapi di depan mereka, seorang penyihir dengan mana emas terlihat menari-nari di sekitarnya.
Yang bahkan mana emas tidak pernah ditemukan pada para penyihir sejak dahulu.
Cathan menggaruk dagunya dan berkata, "Kenapa kau berpikir seperti itu?"
Xyla menggelengkan kepalanya, "Ti- tidak. Hanya saja saya merasa aneh sejak kita mengetahui kebenaran yang dikatakan oleh tuan Imorgent kemarin,"
Hazel menatap Xyla yang terlihat mengeluarkan keringat dingin, "Xyla?"
Xyla melanjutkan pembicaraannya, "Bahkan membagikan mana juga bukanlah hal yang bisa dilakukan oleh penyihir pada dasarnya. Karena itu saya merasa aneh,"
Apa yang dikatakan oleh Xyla itu adalah benar.
Segelintir penyihir akan menghiraukannya karena mereka lebih mementingkan nyawa dan keselamatan mereka.
Tetapi ada juga beberapa penyihir yang merasa janggal akan semua itu.
Memisahkannya dengan pemikiran para penyihir tua yang sudah serakah sejak dulu hingga mereka tidak berpikir tentang hal yang menyangkut pembagian mana yang dilakukan Cathan.
Mereka hanya berpikir bahwa Cathan dapat membagikan mana karena ia memiliki artefak penyimpan mana.
Padahal artefak itu memiliki kapasitas yang tidak terlalu banyak seperti mana yang dibagikan oleh Cathan.
Rygon terdiam di tempatnya.
Cathan yang mendengar apa yang dikatakan oleh Xyla menatap Rygon yang juga menatapnya, "Jika iya, apa yang ingin kau lakukan padaku?"
Xyla menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak! Saya tidak akan melakukan apapun! Saya hanya penasaran saja,"
Cathan tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Xyla.
Ia mulai berjalan ke arah Alv yang terduduk sambil mengatur napasnya.
Para penyihir menatap dalam diam Cathan.
Alv menatap Cathan yang mulai berjalan mendekat kepadanya sambil berkata, "Apa?"
Cathan menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku hanya ingin melihat apakah kau terluka?"
Alv menggelengkan kepalanya, "Terimakasih padamu, luka yang tadi membuka kini sudah sembuh,"
Cathan mengulurkan tangannya pada Alv dan Alv meraih uluran tangan Cathan.
Alv berkata saat ia sudah berdiri, "Tadi apa yang kau lakukan? Hingga diam seperti batu?"
Cathan mendecakkan lidahnya, "Pohon yang menjadi sumber mana telah di hancurkan,"
Alv mengerutkan keningnya, "Sial! Lalu apakah ada sesuatu yang berbahaya yang mungkin saja akan datang?"
Cathan mengangguk, "Sepertinya Louis masih disini,"
Alv menghela napasnya saat ia memukul dahinya dengan keras, "Haah ... Apa yang kita lakukan? Kau tidak mungkin terus menerus membagikan mana milikmu kepada para penyihir disini,"
Cathan mengangguk, "Iya, kau benar. Karena itu kita seharusnya segera mendapatkan bantuan dari istana,"
Alv, "Apa kau sudah mengirimkan surat atau apapun itu?"
Cathan mengangguk, "Aku sudah melakukannya sesaat setelah kita sampai ke sini. Tetapi ..."
Alv mengerutkan alisnya lebih dalam, "Tetapi?"
Cathan menoleh ke arah Alv dan berkata, "Semua hewan spirit yang ku kirim semuanya mati,"
Alv terkejut, "Tidak mungkin!!!"
Cathan mengerutkan alisnya, "Aku bahkan tidak merasa sedikitpun kehidupan di sini ..."
Alv menendang batu di tanah sambil mengeluarkan kata makian.
Cathan menyentuh bahu Alv dan berkata, "Hei, tenanglah. Kita mungkin bisa menemukan jalan keluarnya,"
Alv mengangguk setelah ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Cih, baiklah ..."
Mereka untuk sementara tenggelam dalam pemikiran mereka sebelum pada akhirnya Alv membuka mulutnya.
Alv berkata, "Aku akan mengumpulkan para penyihir. Kau lebih baik melakukan apapun itu agar kita bisa keluar dari pulau ini dengan segera,"
Cathan mengangguk, "Baiklah. Jangan lupa dengan para penyihir tua itu, Alv,"
Alv berjalan menjauhi Cathan sambil melambaikan tangannya, "Ya. Aku tahu itu,"
Cathan menghela napas dan mulai memejamkan matanya.
Ia mulai fokus pada apa yang akan ia lakukan.
Mencari setidaknya ada yang masih hidup.
Setidaknya ...
Wajah seorang wanita muncul dalam ingatan Cathan.
Rambut hitam bergelombang dan mata biru langit yang menatapnya, 'Chatty, kembalilah dengan selamat,'
Wajah Zeffrey yang acuh tak acuh sambil memberikan sebotol air pada Cathan, 'Ayah, cepat kembalilah,'
Dan Avyanna yang berlari dengan kaki kecilnya dan berteriak, 'Ayah?! Kapan kau akan kembali?!"
Cathan mengeluarkan keringat dingin saat ia merasakan rasa sakit yang menusuk dari jantungnya, 'Kuharap kalian baik-baik saja, Demyku,'
Cathan juga terus mengirimkan sinyal pada spirit yang memilik ikatan dengan Demetria.
Ia mengabaikan suara-suara berisik di sekitarnya saat Cathan mendengar suara tawa.
'Fokus ...'
Cathan berpikir lebih keras, 'Kumohon ...'
SREEEEEETTTTTTTTTT!!!!!
Sebuah suara seperti benda yang tertarik terdengar dari jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat Cathan berdiri.
Cathan mengerutkan keningnya, "Apa itu?"
Tiba-tiba saja sesuatu muncul dalam pandangannya.
Cathan yang melihat itu mulai merasakan bahwa hawa dingin menjulur di sekujur tubuhnya.
'Tidak mungkin!'
Cathan segera membuka matanya dan berbalik dengan cepat.
Cathan berlari sambil berteriak, "SEMUANYA LARI!!!!!"
****