
Max melihat ke sekeliling sambil berkata dengan heran,"Apa ini adalah sebuah ... Ruangan?"
Hazel melebarkan matanya dan berkata dengan takjub, "Ruangan di bawah pintu tadi? Apa ini ruangan bawah tanah?"
Xyla yang sedang berjalan sambil menyentuh dinding pun berkata, "Bahkan, tempat ini tidak hancur,"
Xyla melihat ke langit-langit tanpa bicara.
Akashi yang juga masih melihat ke sekeliling dengan heran mulai menoleh ke belakang saat ia merasakan bahwa di bahunya ada sebuah ketukan.
"Tuan Syvonne?"
Lucy merasakan bahwa rambut di tangannya mulai berdiri.
Lucy meneguk air di mulutnya dan berkata dengan ngeri, "Jangan katakan padaku ... Bahwa ini adalah markas orang-orang yang tadi?"
Max menatap Lucy dengan mata yang bergetar, "Tidak ... Mungkin ..."
Lucy, "Jika bukan, mengapa tempat ini terlihat baik-baik saja?!"
Alv memijat pelipisnya dan berkata, "Hentikan kalian berdua!"
Max dan Lucy seketika menutup mulutnya saat mendengar nada tak menyenangkan dari Alv.
Alv berjalan mendekati Cathan, "Dimana kita?"
Cathan, "Kurasa ... Ini adalah ruang penelitianku yang ... Berada di bawah rumahku ..."
"???"
Semua penyihir yang selamat saling memandang dengan bingung.
Masuk ke dalam ruang penelitian penyihir terkemuka hampir di seluruh kekaisaran.
Ini pasti membuat para penyihir akan merasa bahagia dan merasa sangat beruntung.
Karena Cathan adalah penyihir yang sangat terkenal di seluruh satu benua.
Sebagai seorang penyihir muda yang jenius.
Max menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mulai bergumam, "Te-tetapi ... aku tak melihat sesuatu yang hebat di sini,"
Ruangan ini hanyalah ruangan yang kosong.
Xyla menelusuri dinding dan berkata saat ia menemukan sebuah lubang kecil, "Ada lubang di sini!"
Semua penyihir yang selamat mulai mendekat pada Xyla dan melihat lubang tak beraturan pada dinding.
Cathan yang bersandar lemah pada tubuh Akashi berkata, "Lebih baik kita ... masuk ke dalam ..."
Max menatap ngeri lubang gelap itu dan akhirnya bertanya dengan nada bergetar, "A-apa anda yakin, tuan Syvonne?"
Cathan mengangguk lemah dan berkata kepada Akashi, "Ayo masuk ..."
Akashi mengerutkan keningnya dan merasa ragu saat akan masuk ke dalam lubang.
Xavian yang melihat hal itu mendecakkan lidahnya dan mulai melompat masuk ke dalam lubang.
Akashi, "?!!"
Terdengar suara yang bergema dari dalam lubang, "Sangat penakut!"
Akashi menggertakan giginya dan merasa sangat kesal, "Apa yang kau katakan?!"
Alv memijat pelipisnya, "Hentikan!"
Akashi bergumam dengan wajah yang tertekuk, "Awas saja nanti kau!"
Lucy mengedipkan matanya berulang kali saat satu per satu penyihir masuk ke dalam lubang.
Lucy meraih ujung pakaian Hazel dan berkata, "Ha-hazel ... apa kau yakin akan masuk??"
Hazel hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Lucy.
Hazel melompat masuk ke dalam lubang setelah Xyla masuk ke dalam.
Kini, tinggal duo penakut yang tersisa.
Max dan Lucy saling memandang dan tak ada satupun dari mereka yang ingin masuk duluan.
"Kenapa tidak kau saja yang duluan?"
"Ka-kau saja yang duluan,"
"Kau saja ..."
"Tidak, kau saja ..."
"Biasanya wanita yang di persilahkan masuk terlebih dahulu,"
"Hah? Jika menyangkut hal seperti ini kau meminta untuk wanita yang maju duluan? Sedangkan tentang sihir kami wanita selalu di belakang!"
"Siapa yang melakukan itu?! A-aku bahkan tidak pernah tahu hal seperti itu!"
"Yang benar saja! Dari ucapanmu saja ..."
"Tidak! Kau wanita harus masuk duluan karena aku ada pria yang ..."
Suara gema yang sangat keras terdengar dari balik lubang tersebut, "Hentikan!"
Max dan Lucy langsung terdiam dan saling melirik.
Max mendorong pelan Lucy dan berkata, "Masuklah ..."
Lucy melebarkan matanya dan mendecakkan lidahnya, "Tch! Kau saja!"
Lucy meneguk air di mulutnya dan akhirnya mengikuti Alv ke dalam.
Max yang awalnya sangat ragu, mau tak mau tetap masuk dan mengikuti Lucy di belakangnya.
Max memejamkan matanya saat ia terus berjalan dengan tubuh yang tertunduk.
Max menelan air di mulutnya dan bertanya, "Tuan Imorgent, apa kita melewati terowongan lagi?"
"..."
Max berhenti berjalan dan mengerjapkan matanya berulang kali.
"Tuan Imorgent?"
"..."
Suara yang Max keluarkan hanya bergema di tempat itu tanpa ada yang menanggapi.
"Hei, Lucy?!"
"..."
Max mulai membeku.
...
Max memandang ke sekeliling dengan ketakutan, "Ha-halo? Apakah ada orang? Hei?! Akashi? Xyla? Hazel? Tuan Syvonne? Manusia anjing?!"
Max berjalan perlahan dengan tubuh yang tertekuk, "Hei? Tolong siapapun yang mendengar ... Jawab aku!!"
Drooonggggg!!!!
Max berhenti dan meneguk air di mulutnya dengan ketakutan.
Ia dapat merasakan bahwa tubuhnya sedang di banjiri dengan keringat yang dingin.
Hal ini membuatnya sangat ketakutan tanpa bisa melakukan apapun.
Max menatap jalan di belakangnya yang entah mengapa terlihat perlahan menggelap dengan wajah yang penuh ekspresi was-was.
Max bergumam, "Si-siapa itu?"
Doooooonggggg!!!
Max meneguk air di mulutnya dan terus bergumam hal yang tak dapat di mengerti.
Max menatap ke depan dan berjalan perlahan.
Dooooongggg!!!
Suara yang aneh terus menusuk telinga Max.
Tangan dan kaki Max bergetar hebat.
Ia bahkan harus menggigit bibirnya untuk bisa menahan berat tubuhnya.
'Ahhhhhhh ... aku tidak ingin mati!'
Max tiba-tiba merasakan rasa lemas di sekujur tubuhnya.
Bahkan ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya untuk berjalan lagi.
Berapa kali dia berusaha untuk bangkit ia tetap terjatuh lagi.
Max menggigit bibirnya dan berteriak dalam hati, 'Arrrghhhh!!!!'
Sesuatu terjulur dan mengenai bahu Max yang bergetar sangat hebat.
Max terkejut setengah mati, "Arghhhhh!!!!"
"Kenapa kau berteriak?!"
Max mendengar suara yang akrab dan akhirnya memberanikan menoleh ke belakang.
Max membuka mulutnya dan berkata dengan gagap, "Tu-tuan Imorgent?"
Alv mengerutkan alisnya dengan bingung, "Kenapa lagi ini?"
Max mulai membalikkan tubuhnya dan mencoba untuk memeluk Alv.
Alv merasa merinding di sekujur tubuhnya dan mulai mendorong kasar tubuh Max yang dipenuhi dengan keringat.
Lucy yang berjalan di belakang Alv juga memasang wajah jijik saat ia membuat kontak mata dengan Max.
Alv mengabaikan rengekan Max yang sedang ketakutan dengan berkata, "Ayo kita maju ke depan,"
Lucy berjalan melewati Max yang sepertinya masih harus mengumpulkan nyawanya.
Lucy bertanya kepada Alv, "Apakah yang lainnya berada di tempat lain??"
Alv mengangguk, "Sepertinya ini adalah lorong yang menghubungkan tempat tadi dengan ruangan penelitian Cathan, "
Lucy mengangguk dan tidak menanggapi hal lainnya.
Melainkan, Lucy mulai berteriak, "Jika kau tidak ingin mati seperti orang bodoh di sini, cepat jalan!"
Alv hanya menghela napas saat mendengar suara nyaring yang bergema di tempat yang sempit sambil menutup telinganya.
Max menggigit bibirnya dan berkata dengan gemetar, "Ku-kumohon, tunggu aku!"
****