I Became A Child Of Wizarding Family

I Became A Child Of Wizarding Family
Chapter 13~ Pengalihan



Avyanna mendekatkan mulutnya ke telinga Demetria dan mulai berbisik, "Bagaimana jika kita pelgi ke..."


Demetria yang mendengarnya terkekeh dan berkata, "Hmmm... Baiklah, jika itu yang diinginkan Avyku..."


Demetria tersenyum dan berkata sambil menggendong Avyanna, "Mari kita pergi..."


***


Matahari bersinar sangat terang.


Burung- burunh terus berkicau tanpa henti saling bersautan.


Pepohonan seolah menari saat angin berhembus mengenai dedaunan berwarna kecoklatan.


Ini adalah hari yang cerah.


Di musim gugur yang indah.


Tetapi tidak dengan suasana hati seseorang.


Cathan menyandarkan tubuhnya dengan lesu pada sebuah dinding yang dingin.


Matanya tak berkedip dan hanya menatap jalan bebatuan di depannya dengan tatapan kosong.


Orang- orang yang berjalan melewatinya menatap Cathan dengan kasihan.


Tetapi mereka menutup mulut rapat- rapat tanpa berkomentar tentang perilaku Cathan.


"..."


Terdengar sebuah suara tadinya tapi Cathan tetap diam karena ia tidak memperhatikan, "..."


Cathan bahkan tidak menyadari bahwa seseorang yang berada di sebelahnya sejak tadi memanggilnya.


"Ayah?!"


Lamunan Cathan terbuyar saat ia mulai mendengar suara Zeffrey memanggilnya.


Cathan membuka mulutnya, "Ah..."


Zeffrey mengerutkan alisnya dengan heran dan berkata dengan nada lirih, "Ayah, dari tadi saya memanggil..."


Cathan menatap kosong mata coklat anaknya itu dan mengangguk, "Maaf... Sepertinya ayahmu ini sedikit linglung?"


Zeffrey mengerutkan alisnya dan berkata, "Sepertinya bukan hanya sedikit..."


Cathan tersenyum lesu tanpa berbicara, "..."


Cathan menoleh ke arah lain dan mulai melamun lagi.


Zeffrey menghela napas dan mulai memberikan Cathan sebuah roti.


"Ayah, makanlah dulu... Setidaknya perut Ayah yang dari tadi berbunyi itu bisa sedikit terisi,"


Cathan menoleh untuk melihat roti sebesar lengan di berikan padanya oleh Zeffrey.


"..."


Cathan tidak meraihnya, ia menatap Zeffrey yang sudah mulai tumbuh.


"Apakah Zeffyku sudah makan?"


Zeffrey mengangguk dan berkata, "Sudah, Ayah. Karena itu, saya bergegas kesini saat melihat Ayah akhirnya keluar tadi..."


Cathan menghela napas dan mulai meraih roti yang diberikan Zeffrey.


Cathan memakan roti yang sebesar lengan orang dewasa itu dengan perlahan.


Zeffrey menatap dengan hati- hati wajah ayahnya yang terlihat sangat lesu.


Meskipun Cathan bukanlah tipe ayah yang akan memukul anaknya tanpa alasan.


Tetapi, Zeffrey mengetahui bahwa suasana di dalam hati Cathan sangatlah tidak bagus.


Karena itu, Zeffrey memantapkan hatinya dan mulai membuka mulutnya, "Ayah, apakah mungkin ada masalah yang membuat ayah sampai seperti ini?"


Cathan yang mengunyah rotinya itu menoleh ke arah Zeffrey setelah mendengar perkataannya.


Cathan dapat melihat betapa gugupnya Zeffrey saat bertanya.


Ia melihat bahwa putra sulungnya itu memainkan ujung pakaiannya dengan canggung.


Cathan tersenyum dan mengangkat tangannya untuk mengelus kepala Zeffrey.


"Yah... Begitulah... Zeffyku tak perlu memikirkannya. Biarkan ayah yang berpikir dan menyelesaikannya,"


Zeffrey mengerutkan alisnya dan berkata dengan penuh percaya diri, "Jika ayah kesulitan, saya mungkin saja bisa membantu,"


Cathan tersenyum lalu terkekeh pelan, "Haha ... Ya, Zeffyku memang anak yang dapat diandalkan.."


Zeffrey menggeluarkan gelas kayu dan juga teko berisi air dari kantung parsial dan memberikannya pada Cathan.


Cathan menerimanya dengan senang hati, "Terimakasih..."


Mereka berada dalam kondisi yang sangat hening untuk beberapa saat sampai akhirnya Cathan membuka mulutnya untuk berbicara.


"Ayah ingin memberitahu mu, Zeffy ..."


Zeffrey menaikan kedua alisnya dan mengangguk, "Silahkan, ayah. Ceritakan saja,"


Cathan mengerutkan alisnya dan berkata dengan nada datar, "Para bangsawan itu mulai memonopoli bahan pangan..."


Zeffrey terlihat sedikit kebingungan mendengar cerita Cathan.


Zeffrey terdiam di sisi Cathan sejenak lalu mulai bertanya, "Monopoli? Mengapa mereka melakukannya?"


Cathan mengangguk dan berkata, "Iya. Entah apa yang dipikirkan oleh mereka, sebentar lagi musim dingin akan datang dan mereka ingin membawa semua gandum untuk diri mereka sendiri..."


Zeffrey terdiam tetapi ia mengerutkan alisnya tanda tak senang sambil terus mendengarkan cerita ayahnya.


"Dan parahnya lagi adalah mereka mendesak menara sihir untuk membatu mereka memaksa para rakyat untuk memberikannya dengan harga yang murah..."


Cathan menggertakan giginya geram, "Jika menara sihir tidak membatu, mereka akan menarik kembali segala donasi baik itu dalam bentuk uang ataupun bahan- bahan penelitian dari menara sihir,"


Cathan mencengkram celananya,


"Aku bahkan tidak mengerti mengapa para bangsawan itu bergerak dengan cara seperti ini? Bahkan lima poros kekaisaran tidak mengatakan apapun?! Atau mungkinkah mereka tidak tahu persoalan ini?"


Cathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal secara frustasi, "Aku sama sekali tidak mengerti!"


Zeffrey yang melihat ayahnya sampai seperti ini masih tidak mengerti.


"Tapi, ayah. Bukankah hanya gandum yang mereka ingin kuasai? Kita dan para rakyat dapat menggunakan bahan pangan lainnya untuk membuat makanan pokok,"


Cathan menatap Zeffrey dan berkata, "Kamu benar, Zeffy. Tapi, ini bukan hal sederhana yang seperti yang kamu pikirkan,"


Zeffrey bingung, "Tidak seperti yang saya pikirkan?"


Cathan mengangguk, "Ya. Jika memang hanya gandum saja, mereka bisa melakukannya tanpa harus menara sihir untuk turun tangan bukan? Gandum itu hanya untuk mengalihkan sesuatu... Mereka seperti ingin ..."


Zeffrey mengernyitkan alisnya bingung, "Mengalihkan? Apa yang Ayah maksud?"


Cathan menggelengkan kepalanya, "Ayah pun tidak tahu. Karena itu, sepertinya kamu harus kembali ke rumah terlebih dahulu tanpa Ayah,"


Cathan memasang wajah penuh pertanyaan, "Ayah ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu..."


Zeffrey menatap ayahnya dan mulai mengangguk menandakan setuju.


Zeffrey ingin membantu ayahnya, tapi ia masih sangat kecil untuk bisa mengerti maksud dari cerita ayahnya.


'Kenapa para bangsawan ingin memiliki gandum yang merupakan bahan pokok?'


'Dan juga, Ayah mengatakan bahwa lima poros bahkan tidak mencoba menghentikannya,'


'Pengalihan? Pengalihan apa yang Ayah maksud?'


Cathan menghela napas dalam diam sambil berpikir hal yang membuatnya bingung, 'Ini benar- benar membuatku pusing!'


Cathan menatap putranya yang menunduk lebih dalam.


Cathan mulai menepuk pundak Zeffrey dan berkata, "Zeffyku, jangan memaksakan pemikiranmu. Ayah sangat menyesal karena membuatmu harus berpikir sangat keras tidak sesuai umurmu,"


Cathan tersenyum lemah sambil menatap Zeffrey, "Padahal di umur segini kau hanya perlu untuk bermain bersama dengan teman sebaya mu. Tetapi, aku malah..."


Zeffrey menggelengkan kepalanya dan berkata, " Itu tidak benar, Ayah... Sayalah yang sangat ingin mengetahui tentang ini karena itu saya memaksa untuk ikut..."


Cathan, "Zeffy, kau terlalu cepat untuk bertindak dewasa,"


Zeffrey menggelengkan kepalanya lagi dan berkata, "Karena saya ingin sekali melindungi keluarga kita... Sama seperti Ayah dan ibu yang selalu melindungi saya..."


Cathan menatap Zeffrey dan berpikir, 'Anak ini...'


Cathan menghela napas dan mulai mengatur wajahnya, "Kalau begitu, Zeffyku. Lebih baik kau pulang lebih dulu, Ayah akan mengantarkan mu sampai ke gerbang masuk,"


Zeffrey mengangguk, "Baik, Ayah,"


Cathan, "Ah... Dan juga, Ayah sudah memanggil kereta kuda untuk kau tumpangi nanti..."


Zeffrey mulai mengangguk sambil mengikuti Cathan di belakangnya.


Zeffrey dapat melihatnya.


Bahu lebar dan punggung yang kokoh milik ayahnya.


'Aku melihatnya. Itu sama seperti sebuah perisai...'


****