
Xyla mengangguk saat ia juga merasakan sebuah harapan.
Akashi menjadi urutan paling belakang karena ia membawa seseorang di punggungnya.
Alv yang berlari di sebelah Akashi hanya bisa menyemangati dalam diam.
Akashi hanya tersenyum pahit.
Mereka terus berlari dan akhirnya cahaya yang sangat terang menyilaukan mata mereka.
"Ah ..."
Cahaya dari matahari terbenam membuat mata perlahan terbiasa dengan cahayanya.
Telinga para penyihir yang selamat itu menangkap suara ombak yang sedang bertabrakan dengan bebatuan.
Mereka juga dapat mendengar suara cekikikan burung camar yang terbang di atas air yang berwarna hijau kebiruan.
Angin yang berdesir menerpa wajah mereka yang sangat kotor.
Para penyihir yang selamat itu menatap untuk waktu yang sangat lama.
Tidak ada bau tanah yang terbakar.
Tidak ada pemandangan dimana bangunan hancur menyisakan batu-batu saja.
Tidak ada kabut yang membuat napas menjadi sesak.
Tidak ada suara dentuman keras yang menyakitkan telinga.
Seolah-olah apa yang mereka lewati tadi hanyalah sebuah mimpi buruk.
Itu hening untuk sementara waktu, hingga satu penyihir membuka mulutnya.
Xavian mengerutkan keningnya saat ia melihat pemandangan di depannya, "Laut?"
Hazel menghela napas yang sangat panjang saat ia mulai terjatuh.
Hazel menunduk dan mencengkram lututnya yang berdarah dengan tubuh yang mulai terlihat gemetar.
Semua penyihir disitu tahu bahwa ini adalah suasana yang mengharukan.
Lucy bahkan tidak mencoba untuk menyembunyikan tangisnya yang pecah.
Air mata mengalir deras di pipinya yang kotor oleh debu.
Xyla hanya tersenyum saat ia berkata, "Entah mengapa terasa sangat lama sekali sejak aku melihat laut,"
Akashi menyenderkan tubuhnya di bebatuan setelah ia menurunkan Cathan.
Akashi merobek ujung pakaiannya dan mengikat bahunya yang berdarah.
Akashi mengeluh, "Urgh ..."
Alv mendekati Akashi dan berkata dengan alis yang berkerut, "Apa kau terkena serangan?"
Akashi mengerutkan keningnya saat ia menahan rasa sakit di bahunya, "Saya tak ingat ..."
Alv melipat tangan di depan dadanya dan berpikir dengan keras, "Kita mungkin harus ..."
Belum selesai mengucapkan apa yang Alv pikirkan, Max berteriak sangat keras memanggil namanya.
"Tuan Imorgent!!!"
Alv menoleh ke arah seseorang yang berteriak memanggil namanya dengan alis terajut.
Lucy yang masih terisak menatap dengan marah ke arah Max, "Mengapa ... kau berteriak seperti itu?!"
Max menatap dengan mata yang melebar lurus ke arah Alv.
Max mengangkat kedua telapak tangannya dan ...
Semua penyihir yang selamat menatap dengan heran.
Hazel menutup mulutnya yang menganga tak percaya, "Tidak mungkin ..."
Akashi menatap telapak tangannya yang pucat dengan bercak darah.
Tangan Akashi bergetar sangat hebat saat ia mencoba untuk menggumamkan sesuatu.
Alv bahkan berjalan mendekati Max, "Itu ..."
Max mengangguk dan melihat ke sekelilingnya, "Ya! Kita dapat menggunakan sihir lagi!"
Semua penyihir secara serentak menatap tangan mereka dan menggumamkan sesuatu.
Mana menyelimuti tubuh para penyihir yang selamat itu, membuat angin yang tadinya bertiup santai menjadi lebih keras.
Alv tersenyum lebar, "Kalau begini, kita bisa melakukan teleportasi!"
Max mengangguk dengan semangat, "Ya! Anda benar, tuan Imorgent!"
Hazel mengeluarkan kantung parsial dari bagian dadanya dan mencoba mencari sesuatu.
"Kita harus pergi dari sini ..."
Semua penyihir yang masih sibuk dengan sihir yang mereka lakukan segera menoleh ke arah Xyla yang menatap lurus dengan wajah serius.
Xyla berkata, "Kita harus segera pergi!"
Alv juga yang terlena dengan bagaimana mereka akhirnya bisa menggunakan sihir mulai tersadarkan kembali dengan apa yang dikatakan oleh Xyla.
Alv berkata saat ia menurunkan tangannya, "Kau benar ... kita harus pergi dulu ke tempat yang aman,"
Max, "Kemana kita harus pergi? Seluruh pulau sudah di hancurkan,"
Lucy menggigit bibirnya, "Kita tidak bisa bersembunyi terus di pulau ini ..."
Akashi mengangguk, "Ya, kau benar ... kita harus berteleportasi ke luar pulau,"
Hazel yang masih terduduk berkata, "Kita tidak bisa berteleportasi jarak yang sangat jauh tanpa portal sihir!"
Xyla berkata dengan tangan yang terlipat di depan dada, "Satu-satunya portal di pulau ini hanya ada di perbatasan desa Amea,"
Xavian yang menatap laut berkata dengan tenang, "Portal itu hancur,"
Max hampir meludah, "Sialan! Bagaimana caranya kita pergi dari sini?!"
Alv menatap dengan serius saat ia berkata, "Aku mengetahui seorang penyihir yang dapat melakukan hal itu,"
Semua penyihir menatap ke arah Alv.
Max membuka matanya lebar dengan takjub, "Tuan Syvonne dapat melakukan hal itu?"
Alv mengangguk memberi tanggapan pada pertanyaan Max.
Xyla melirik Cathan dan bergumam sangat pelan hingga tak ada yang mendengarnya, "Sesuai dugaanku ... dia bukan penyihir biasa ..."
Lucy berkata, "Apakah kita harus membangunkannya untuk melakukan teleportasi?"
Max melotot ke arah Lucy dengan wajah mengejek, "Apa kau ingin membunuh orang yang sekarat secara tidak langsung?"
Lucy mengerutkan keningnya, "Hah? Tuan Syvonne tidak akan mati semudah itu! Tidak seperti mu yang sudah payah juga penakut!"
Max, "Yang benar saja?! Apa kau tak lihat bagaimana beliau bahkan tidak bisa bernapas dengan baik?! Dan jangan menyebutku penakut jika kau saja juga sering gemetar ketakutan!"
Lucy memasang wajah kesal, "Kau yang pengecut! Katakan padaku bagaimana kau akan mengeluarkan kami semua dari situasi ini?"
Max, "Kenapa aku yang harus memikirkannya sendiri? Kau juga harusnya berpikir!"
Lucy berteriak dengan marah, "Apa?! Dasar pengecut sialan!"
Max juga balik berteriak, "Kau bahkan lebih pengecut dariku!"
Alv menggertakan giginya denga kesal sambil berteriak, "HENTIKAN!!!!"
Hazel menghela napas panjang sambil membuang wajahnya yang malu melihat pertengkaran kekanakan Max dan Lucy.
Alv menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku punya ide. Tapi, aku tak yakin apakah ini akan berhasil,"
Akashi yang mulai akan mengangkat Cathan berkata, "Lebih baik kita mencobanya dulu,"
Alv mengangguk dan mencoba menjelaskan apa yang dia pikirkan kepada para penyihir.
Akashi menggendong Cathan di punggungnya, membuat luka di bahunya kembali terbuka.
Akashi menahan rasa sakit pada bahunya dan menggendong Cathan.
Xavian yang diam-diam melihat ini mulai menarik paksa Cathan dan akhirnya Xavian-lah yang membawa Cathan di punggungnya.
Akashi yang kebingungan berkata, "Apa yang kau lakukan?!"
Xavian hanya diam dan menjauh dari Akashi.
Akashi berteriak marah, "Apa kau merasa bahwa aku tak mampu membawanya?!"
Xavian melirik sejenak dan memalingkan wajahnya ke arah lain, "Ya,"
Akashi menggertakan giginya dengan marah, "Apa-apaan?!"
Alv menghela napas panjang saat ia melihat pertengkaran lainnya, "Bisakah kita mencoba apa yang tadi aku jelaskan?"
"Pertama, kita akan menyatukan mana milik kita dengan cara yang sama seperti bagaimana kita keluar dari terowongan saat yang lalu. Dengan cara menggandengkan tangan atau mungkin berpelukan?"
Max menelan air di mulutnya dan mulai merasakan merinding di punggungnya, "Kurasa berpelukan bukan hal yang bagus ..."
Alv mengabaikannya dan melanjutkan, "Kedua, setelah mana milik kita semua tercampur dengan baik kita dapat menyebutkan mantra secara bersamaan. Pikiran kita harus sama, yaitu koordinat yang akan menjadi tempat tujuan kita,"
Xyla mengangkat tangannya.
Alv menganggukkan kepalannya, "Ya?"
Xyla, "Kemana kita akan pergi, tuan Imorgent?"
Alv terlihat menunduk sejenak dan akhirnya berkata, "Aku memiliki sebuah gambaran kemana kita harus pergi,"
Akashi, "Jadi anda sudah memiliki gambaran tempat yang akan kita tuju?"
Alv mengangguk, "Ya ... aku akan menuliskan koordinatnya di tanah,"
Alv membungkuk dan menuliskan koordinatnya di tengah-tengah mereka.
"Mari kita mulai sekarang,"
Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Alv, para penyihir yang tersisa mengangguk dan akhirnya membuat lingkaran.
Mereka bergandengan tangan sambil saling memandang satu sama lain.
Xavian yang menggendong Cathan di punggungnya mulai meraih tangan Xyla dan juga Akashi.
Alv yang sudah selesai menuliskan koordinatnya mulai meraih tangan Max dan Hazel lalu berdiri di antara mereka.
Alv mengangguk sambil memandang para penyihir muda yang selamat, "Ayo!"
Fuuuuuusssshhhhhhh...
Masing-masing penyihir mengeluarkan mana yang mengelilingi tubuh mereka.
Mana itu bersatu di tengah-tengah mereka membentuk sebuah segel.
Sebuah dinding transparan muncul di sekitar mereka.
Angin yang kencang muncul dari bawah dimana segel tersebut muncul.
Alv mencengkram tangan Max dan Hazel dengan kencang.
Alv berteriak, "Pikirkan koordinatnya dan fokus!"
Para penyihir yang selamat memejamkan mata mereka dan menggunakan mantra teleportasi.
Cahaya yang awalnya redup dari dinding transparan itu mulai bersinar lebih terang.
Hampir menutupi dengan rapi para penyihir yang sedang fokus.
Alv berteriak sekali lagi, "Jangan pernah lepaskan genggaman saudara sesama penyihir kalian!"
Dan ...
Kilauan cahaya menyilaukan tempat itu.
Dimana burung-burung camar yang tadinya berisik di sekitar tempat itu mulai terbang menjauh.
Cahaya itu perlahan menghilang bersamaan dengan bayangan manusia di dalamnya.
Itu berarti ...
Mereka menghilang ...
Entah mereka selamat atau tidak ...
****