
Zeffrey mendatangi seorang dokter desa untuk mendapatkan obat bagi Avyanna yang terbaring lemah di rumah.
Setelah itu, Zeffrey mendatangi kediaman Bia untuk menyampaikan bahwa kondisi Avyanna sudah mulai baik-baik saja meskipun kini masih tak sadarkan diri.
Bia terlihat pucat dan berkeringat dingin saat ia mendengar bahwa Avyanna belum juga sadar.
Bia mengerutkan alisnya yang menambah kerutan di wajahnya yang sudah tua sambil berkata, "Aku harap ia baik-baik saja ..."
Zeffrey mengangguk dan berkata, "Saya harap juga begitu, nyonya. Saya dan ibu saya sangat berterima kasih berkat anda adik saya tidak terlambat mendapatkan pertolongan,"
Sebelumnya Bia melakukan pertemuan lebih dari dua jam dan akhirnya menunggu Avyanna datang.
Tetapi Bia yang sudah menunggu hingga lebih dari lima belas menit di tempat dengan meja batu berada tidak melihat Avyanna sama sekali.
Perasaan tidak enak yang dirasakan oleh Bia membuatnya meminta orang-orang di sekitarnya untuk mencari keberadaan Avyanna.
Dan akhirnya berhasil ditemukan di bawah pohon dengan wajah yang sudah membiru.
Dokter desaーGray yang dipanggil secara mendadak juga tiba dengan wajah panik saat melihat keadaan Avyanna.
Gray yang mencoba sebisa mungkin menyelamatkan Avyanna juga tak bisa melakukan apapun karena ini berhubungan dengan mana.
Akhirnya salah satu orang memanggil Demetria dan juga Zeffrey untuk melihat Avyanna.
Dan Bia juga ikut turun tangan sebelum Demetria dan Zeffrey sampai ke tempat Avyanna berada.
Bia memberikan aura miliknya untuk membatu Avyanna untuk bernapas lebih lega.
Hal ini membuat wajah Avyanna yang awalnya suda membiru, berangsur-angsur memutih.
Avyanna masih terus mengeluarkan keringat dingin dan wajahnya menjadi jauh lebih pucat.
Dan setelah Demetria dan Zeffrey datang, mereka langsung membawa Avyanna kembali ke rumah mereka dengan bantuan para spirit.
Bia mengelus dadanya dan mengangguk dengan senyum kecil setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Zeffrey, "Tak apa. Lebih baik saat ini kamu pulang untuk merawat adikmu dan katakan pada ibumu agar ia tetap memperhatikan kesehatannya,"
Bia menepuk tangan Zeffrey dan mengatakan beberapa hal lainnya.
Setelah itu, Zeffrey pamit dan berjalan pulang sambil membawa beberapa obat yang diresepkan oleh Gray pada adiknyaーAvyanna.
Selama perjalanan Zeffrey memandang telapak tangannya dalam diam.
Zeffrey membuka lalu menutup telapak tangannya itu secara bergantian.
Wajah pucat adiknya yang malang itu terus menghantuinya.
Bibirnya yang membiru dan ada bekas gigitan bibir sehingga terlihat bekas darah di bibirnya.
Avyanna tahun ini akan berulang tahun yang ke empat tahun.
Tetapi apakah ia bisa melewati tahun ini dengan selamat?
Pandangan Zeffrey mendung.
Ia merasa bahwa ia gagal menjaga adik perempuannya itu.
Setelah mereka melarikan diri dari pulau Witchery, Avyanna selalu memaksakan diri untuk terpapar sihir yang sangat luar biasa kuatnya.
Avyanna dipaksa menahan semua rasa sakit itu padahal umurnya masih sangat kecil.
Zeffrey menggigit bibirnya untuk menahan air mata agar tidak menetes dari sudut matanya.
Bahkan perasaan tak menentu akan status hidup atau tidaknya ayah mereka, membuat mereka kini jauh lebih gusar.
Zeffrey terdiam sejenak saat ia memandang langit.
Seekor burung biru kecil mendekatinya dan mulai bertengger dengan aman di atas bahu Zeffrey.
Zeffrey melirik sambil memiringkan kepalanya untuk melihat burung biru itu.
"Ada apa?"
Burung kecil itu menepuk-nepuk cakarnya di atas bahu Zeffrey sambil berkicau.
Zeffrey mengerutkan keningnya dan entah mengapa perlahan-lahan mata Zeffrey melebar.
"A-apa?!"
Zeffrey langsung berlari sambil menggenggam obat-obatan di dalam dekapannya.
Burung biru kecil itu berkicau dengan keras hingga memekakkan telinga.
Tetapi Zeffrey menghiraukannya dan terus berlari.
Zeffrey yang terus berlari memikirkan sesuatu, 'Berita ini harus ku sampaikan pada ibu!'
***
Demetria menatap wajah bulat Avyanna yang tertidur.
Tangannya mengelus lembut pipi Avyanna.
Demetria mengingat apa yang dikatakan oleh putranya kepada dirinya beberapa waktu lalu.
'Saya mencoba untuk membuka paksa ikatan inti mana yang ada padanya dengan bantuan para spirit, Bu,'
'Inti mana? Bagaimana bisa ...'
'Sepertinya, Avy mencoba membangun inti mana sendirian,'
'Sendirian? Apa yang?'
'Ibu, lebih baik kita biarkan Avy beristirahat sejenak. Kita akan bertanya padanya setelah ia bangun,'
Demetria menatap dengan tatapan sedih pada Avyanna, "Apa yang sebenarnya kau lakukan, Avy?"
Demetria melepaskan genggaman pada tangan Avyanna dan mengusap wajahnya yang sudah basah.
Demetria perlahan tertunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ini semua karena aku ..."
Demetria berpikir bahwa semua ini tidak akan pernah terjadi jika Demetria tidak mengajak Avyanna yang masih sangat kecil saat itu untuk keluar dari rumah.
Ia juga berpikir andai saja saat itu ia tidak mengabulkan permintaan Avyanna untuk datang ke menara sihir.
"Tapi jika begitu ..."
Demetria semakin tertunduk, "Apa yang akan terjadi pada Zeffyku?"
Air mata menetes dari sudut mata Demetria membasahi pipinya yang sudah basah karena keringat dingin.
Demetria menggigit bibirnya menahan agar suara tangisnya tidak akan membangunkan putrinya.
Perasaan cemas yang tak bisa ia utarakan dengan bebas karena ia takut hanya akan membuat anak-anaknya juga merasa sedih.
Bahu Demetria bergetar.
Demetria memeluk dirinya menahan agar tubuhnya yang bergetar tidak akan membuat Avyanna terganggu.
'Aku ... belum cukup menjadi seorang ibu ...'
Demetria yang memejamkan matanya membayangkan bagaimana perasaan dan ekspresi Cathan saat melihat dirinya yang seperti ini.
'Apa yang harus kulakukan, Chatty?'
'Apa yang bisa kulakukan jika aku merasakan rasa kehilangan lagi?'
'Apa yang harus kulakukan untuk mengatasi rasa takut ini?'
Demetria terus menahan segala sendirian.
Menyimpan perasaan sebenarnya rapat-rapat dalam hatinya.
Berusaha tegar untuk semua masalah yang sebenarnya tak bisa dihadapinya.
"..."
Demetria membuka matanya lebar saat ia merasakan sebuah pelukan kaku pada tubuhnya.
Demetria mengangkat wajahnya dan dapat melihat bahwa Avyanna menatap dengan bingung ke arah ibunya.
"Ibu, mengapa menangis?"
Demetria terkejut sejenak, "Hah?"
Avyanna mengerutkan keningnya dan meringis kesakitan.
Demetria dengan sigap membatu Avyanna agar duduk lebih nyaman.
Demetria langsung menerkam wajah bulat Avyanna dan menatap mata emas Avyanna dengan sangat dekat, "Avy? Sayangku? Apa kau sungguh sudah sadar?"
Avyanna mengangguk sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal dan berkata dengan canggung, "Ya ... ibu ... apa ibu menangis?"
Demetria menghela napas sangat panjang saat Avyanna menjawab 'ya'.
Demetria segera merapikan wajahnya dengan mengelap wajahnya dengan pakaiannya.
Demetria tersenyum kecil saat ia kembali mengelus pipi Avyanna, "Ibu hanya ..."
Demetria kembali mengingat apa yang dikatakan Zeffrey, 'Sepertinya, Avy mencoba membangun inti mana sendirian,'
Demetria segera memasang mata yang menatap dengan tajam pada Avyanna.
"Ibu yang ingin sekali bertanya,"
Avyanna mengedipkan matanya berulang kali sambil memiringkan kepalanya, "Ya?"
Demetria mengerutkan keningnya, "Apa maksudnya dengan membangun inti mata? Apakah bisa di jelaskan?"
****