I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 9: Perjanjian



Edmond POV


Pukul 4 sore di Phari, di kantor kepala desa. Aku duduk di sebuah ruangan bersama seorang anak kecil berambut cokelat dengan mata emas. Dia berlumuran darah dari atas sampai bawah. Tapi tidak satupun luka ada di tubuhnya.


"... Aku rasa kau perlu mandi dulu. Bisakah kau memandikannya pak kepala desa?"


"A, Aku bisa menyiapkan airnya t, tapi.. akan lebih baik apabila dia mandi sendiri"


"Aturlah itu sendiri. Aku tidak ingin berbicara dengan seseorang yang terlihat seperti pembunuh berantai"


Pak kepala desa mengiyakan ku dan bergegas membawa anak tersebut pergi. Membiarkanku sendirian di ruang kosong, aku mendesah kecil merasa lelah.


Jujur, aku hanya membutuhkan satu dari anak Asa. Tapi Rumos mendesak ku untuk mengambil kembarannya juga. Aku tidak bisa melupakan ekspresinya saat dia menyadari aku hanya akan membelinya.


...*********...


BEBERAPA JAM YANG LALU..


Aku menyimpan kertas perjanjianku dan Rumos di dalam tasku. Ini bukan perjanjian yang buruk. Sebaiknya dia menepati janjinya dan menurutiku. Aku tidak ingin rugi banyak sebagai imbalan membelinya.


Pak kepala desa mendesah panjang, menggaruk kepalanya. Dia berbisik, menanyaiku apa aku yakin ingin membeli sosok arogan sepertinya.


"Secara pribadi, tidak ada yang benar-benar mengenal mereka di desa ini. Kami-"


TOK, TOK, TOK!!!


Suara ketukan pintu terdengar dan aku berbalik melihat seorang wanita di usia 30an berdiri di ambang pintu.


"Pak, apa kita bisa berangkat? Aku sudah menunggu lama di luar."


"Bersabarlah Gyana. Kita akan pergi sebentar lagi"


"Cih, dasar lelet. Pantas saja istrimu selalu kabur"


Aku tersenyum masam pada wanita tersebut. Namanya adalah Gyana—— karyawan pertamaku yang telah bekerja selama 16 tahun. Keahliannya adalah berjalan di tali tegang dan merupakan orang ke-dua yang mengurus sirkus setelahku.


Gyana menoleh pada Rumos, mengamatinya dari atas sampai bawah. Ujung mulutnya berkedut sekali, menunjuk padanya dan mengomel padaku.


"Hah?! Dia adalah ornag yang kau beli?! Bagaimana bisa dia membuatmu menjadi lebih sukses?!! Anak kecil seperti ini?!"


".. Hentikan omelan mu. Kita akan berangkat. Siapkan keretanya dan panggil yang lain kembali"


Gyana mendecakkan lidahnya, berbalik dan pergi. Aku menghembuskan nafasku dan menggeleng sedikit sembari merapikan jasku, melirik pada Rumos yang masih menatapku.


Dia tidak terkejut saat bertemu Gyana. Dia tidak takut sama sekali. Itu wajar. Dia adalah anak aneh yang akan membawakan ku keuntungan. Tapi..


"Kemaslah barang-barangmu. Kita akan berangkat sekarang."


"Kau benar. Kita harus menjemput kembaran ku"


"... Tidak. Kita akan kembali ke sirkus."


"!!.. Apa?"


... Heh! Sudah kuduga. Dia tidak membacanya dengan benar.


Rumos melebarkan matanya, terbungkam. Dia tercengang. Dia baru menyadarinya. Reaksinya membuatku ingin tertawa melihat ekspresinya yang berubah dalam sedetik.


"Kau salah sangka. Aku hanya membelimu. Aku tidak membeli kalian berdua. Sirkus kami bukanlah tempat panti asuhan"


Hebatnya-


".... Ha! Aku tahu itu. Makanya, aku mempunyai sebuah penawaran terbaik untuk sirkus kalian."


"Benarkah? Aku tidak membutuhkan-"


"Tidak untukmu. Aku bilang untuk sirkus ini. Artinya, siapa saja di sirkus Danija boleh menerima tawaran ini"


—— Dia dapat menenangkan dirinya lagi dan mengenakan topengnya kembali dalam waktu yang sama.


Rumos menyeringai, membuat tubuhku secara otomatis berbalik ke belakang. Mataku tertuju pada Gyana yang berada di ambang pintu, menyilangkan tangannya. Dia mendengarkan semuanya dan aku tidak tahu sejak kapan dia berada disana.


Tergantung tawarannya, Gyana dapat menerimanya dengan mudah. Tapi tawaran apa yang dia ingin sampaikan?


"Nona Gyana, bagaimana denganmu? Anda pasti sering direpotkan. Bagaimana jika aku menawarkanmu seorang pelayan yang serba bisa?"


Pelayan..?


!!! Apa maksudnya saudaranya sendiri? Dia menjual kembarannya?!


Aku melirik Gyana yang tidak tertarik sama sekali. Lagipula, dia tahu jikalau dia mengambil saudaranya maka dia juga yang harus mengurusnya sebab aku tidak akan bertanggungjawab. Dia pastinya tidak ingin merepotkan dirinya untuk mengurus seorang anak kecil.


Akan tetapi-


"Aku menjualnya seharga 1 koin perunggu. Dia adalah pelayan yang bisa mengurus dirinya sendiri. Dia kompeten. Jikalau dia tidak, aku tidak mungkin menawarkannya."


"... Nak, aku tidak tertarik sama sekali. Kau tahu kau sedang menjual saudaramu sendiri kan?"


"Benar! Kami ini satu set. Apabila aku menderita maka dia harus juga. Apabila aku mati maka dia pun harus mati"


—— Rumos sunggulah seseorang yang busuk hingga menjual saudaranya sendiri. Dia mengerikan. Saudaranya pasti hidup bagai anjingnya selama ini.


Gyana menopang dagunya, tetap menolaknya. Dia adalah orang yang tidak mudah goyah. Rumos terus menerus mendesaknya untuk menerimanya sampai ia merasa jengkel dan keluar dari ruangan.


Dia sangat buruk dalam pemasaran ya?


"Haaa... Sudah kuduga aku tidak sehebat saudaraku ketika berjualan. Namsius adalah penipu terhebat yang pernah kutemui"


".. Kembaranmu pasti akan marah jikalau dia mendengar itu."


"Oh? Saudaraku? Dia tetap akan memaafkan ku meskipun begitu. Dia adalah orang baik. Makanya, aku tahu dia tidak akan menyimpan dendam"


Rumos adalah sesosok monster. Dia adalah orang terburuk yang pernah kutemui. Aku tidak tahu apa aku bisa mengendalikan monster ini dengan benar atau tidak. Dia berada di luar akal sehatnya.


Maaf, aku membutuhkan sebuah jaminan untuk mengaturnya. Aku tahu Rumos tidak akan mendengarkanku.


"Aku akan membelinya. Kalian ini satu set kan?"


"Oh, pak Edmond, dengan senang hati. Untukmu, akan kuberikan gratis."


".. Iya. Terimakasih"


—— Namsius, jadilah asuransi ku dan bawakan lah kesuksesan yang ku impikan.


...**********...


Pukul 4 sore lewat 15 menit. Aku duduk di sebuah ruangan bersama seorang anak kecil yang tersenyum hangat. Dia menyapaku sopan dan berbucara halus. Tidak seperti kembarannya yang merupakan iblis penghasut.


'Anda' dan 'saya' ya? Dia tidak se-kasar dan arogan seperti kakaknya. Berbeda dengan kembarannya 180°.


"Iya. Aku mendengar semua tentangmu dari Rumos. Kau pasti tahu apa yang terjadi disini kan?"


Namsius mengangguk, tetap tenang dan bersikap santun. Di situasi seperti ini, semua orang pasti akan takut apabila dia baru saja dijual. Setidaknya dia seharusnya marah pada Rumos sebab kembarannya barusan menjualnya.


Namun.. Entah dia berusaha untuk mendapatkan sisi baikku atau apa, aku tidak tahu mengapa dia bersikap sangat ramah. Dia sulit dibaca.


Apakah dia hanya anak bodoh atau terlalu baik?


"Haaa.. lupakan. Kalian anak-anak Asa memang luar biasa aneh," gumamku sambil memberikanku kertas yang sudah Rumos dan aku tandatangani. "Tandatangani perjanjian ini dan aku akan menjelaskan pekerjaanmu"


".... Pak, bolehkah saya menandatangani perjanjian baru? Ada sesuatu yang ingin kutambahkan"


Tambahkan? Apa yang ingin dia tambahkan lagi?


"Katakanlah. Aku akan mempertimbangkannya"


"... Baiklah. Kami ingin pergi ke Ibalion. Yah.. ini masalah pribadi"


Aku memiringkan kepalaku dan menyender di kursi. Ini aneh. Seingatku, Ibalion adalah kota Elf yang berada di puncak gunung. Aku belum pernah ke sana tapi kabarnya disana bukanlah tempat yang aman. Bangsa manusia hanya pergi kesana untuk urusan tertentu.


Apa urusan mereka hingga harus pergi ke sana? Itu aneh.


Aku meminta Namsius untuk meberitahukan alasannya. Tidak mungkin seorang anak kecil pergi ke kota itu tanpa alasan. Apa alasan mereka pergi ke luar desa sebelum bertemu dengan ku adalah karena mereka ingin berangkat ke Ibalion?


"Uh.. Bagaimana cara menjelaskannya ya?" Namsius menggosok tengkuknya dengan ragu. Ia menggosok dagunya dan memainkan jarinya sebelum menjelaskan masalahnya.


"Saya dan Rumos terkena sebuah kutukan. Kami juga baru menyadarinya hari ini. Kami hanya punya waktu.. sebanyak 2 tahun kedepan"


!!! Eh?!! Apa dia serius?!


"J, Jadi bisakah.. anda memberikan kami kesempatan setidaknya sekali untuk ke Ibalion?"


Namsius menatapku polos bak anak tidak bersalah. Dia tidak kelihatannya berbohong. Sayangnya, dia terlalu aneh sampai aku logika ku tidak dapat berjalan.


Maksudku, dia tidak membenci kakaknya? Dia tahu dia sedang dijual kan? Aku ini orang yang membelinya-


—— Apa dia tidak membenci hidupnya ini?


... Tidak. Lupakan. Aku pastinya sudah tahu jawabannya.


Seperti kata Rumos, dia adalah orang yang baik. Jadi pastinya dia akan memaafkannya dengan cepat. Ditambah, dia tidak bisa hidup tanpa kembarannya.


Dia seperti anjing naif. Pantas saja dia menjadi pembantu kembarannya.


"Baik, aku akan menambahkannya. Asalkan kau melakukan tugasmu dengan benar. Jujur, aku tidak mengharapkan banyak darimu"


"... Maaf, saya tidak melebihi ekspektasi anda"


"Yah, syukurlah kau sadar diri dan tidak se-pemberontak Rumos. Mulai hari ini kau akan bertugas beres-beres. Mengerti?"


Namsius mengiyakan ku, masih memasang senyuman lembut. Bedanya, kini matanya terlihat sendu setelah aku merendahkannya.


Haaa... Aku tidak peduli.


Lagipula, seperti kata kepala desa, jangan mempertanyakan anak-anak Asa. Mereka bukan anak-anak yang biasa.


Makanya, aku berharap mereka benar-benar bisa membawaku untung. Aku tidak ingin dirugikan. Aku ingin menjadi kaya.


Jika sampai sirkus ini bangkrut, aku-


"--- Tuan, jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Kami tidak akan mengecewakan anda"


!!!!


Aku menoleh pada Namsius, terkejut dengan kata-katanya. Sesaat, dia bisa membaca apa yang aku pikirkan? Padahal aku tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Tuan, percayalah pada kami. Jangan cemas. Kami ada disini"


".... Haaa.." Aku menghela nafas lega tanpa kusadari.


Namsius mengatakan kalimat tersebut dengan hangat. Kata-katanya membuatku merasa begitu tenang nan nyaman seakan-akan aku tidak memiliki stress sama sekali. Tatapannya yang lembut membuatku tidak kegelisahan ku menghilang.


.. Aku rasa Rumis benar. Namsius memanglah orang yang baik.


.


.


".. Terimakasih, Namsius."


...**********...


Author POV


Namsius berjalan keluar dari ruangan bersama kepala desa. Hal yang pertama kali ia lakukan seusai ia menandatangani perjanjian adalah mencari Rumos yang menungguinya di depan kantor kepala desa.


".. Yo, bagaimana kabarmu? Kau berhasil menipunya?"


"Iya. Aku berhasil membuatnya percaya padaku. Setidaknya aku meyakinkannya kita terkena kutukan yang akan membuat kita mati"


"Pfft- serius? Konyol. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa berakting begitu nyata sampai bisa menipunya. Kau pasti penipu handal di kehidupan sebelumnya."


Namsius menyikut Rumos, menyuruhnya berhenti bercanda. Dia menariknya pergi ke tempat sepi dan menanyainya rencananya sehabis ini. Akan tetapi, Rumos memberikannya jawaban yang ambigu dan mencandainya lebih jauh lagi.


Merasa jengkel, Namsius mengingatkannya bahwa kembarannya adalah orang yang menjualnya ke sirkus ini dan memintanya bertanggungjawab.


"Baik, baik, padahal kau tetap menurut dan memaafkanku lho. Apa ada alasan?"


"Alasan? Kau ingin kita bertengkar? Lagipula, kupikir ini adalah pilihan terbaik karena kita harus sama-sama ke Ibalion"


"Menyedihkan. Kau ternyata toleran padaku. Yah, itu bagus kau melakukannya. Kita memang saling membutuhkan satu sama lain"


Namsius mendesah panjang, menyilangkan tangannya. Dia tidak tahu apa dia harus senang karena dia sudah mendapat jaminan pergi ke Ibalion, atau sedih karena dia terjebak dengan orang yang menjualnya ke sebuah sirkus mencurigakan.


Tapi.. semua itu tidaklah masalah baginya. Satu-satunya hal yang terpenting adalah dia dan Rumos harus menyelesaikan misinya di dunia ini.


.


.


—— Yang terpenting adalaha dia bisa tersenyum bahagia dan menang melawan takdir berantakannya.