
Halo reader! Maaf telat tapi selamat tahun baru ya!! Horee- kita sudah masuk tahun 2022!!
Maaf, untuk 2 chapter terakhir Author telat update. Author sedikit sibuk (╥﹏╥)
Semoga kalian sehat-sehat dan siap memulai lembaran baru di tahun 2022. Well.. anyway,, Have fun reading!!
...*********...
Author POV
Alangkah mengejutkannya bagi semua orang Fonsius bangun lebih awal dari biasanya. Kedua orangtuanya, Alice, dan Cendric tercengang melihatnya sudah mengenakan seragam sekolah dan menyisir rambutnya rapi. Ia terlihat berseri-seri untuk pergi ke sekolah.
Sangat aneh bagi semua orang melihatnya berpenampilan begini.
".. Hei, Nom écravain. Apa yang kau lakukan pada kakakku? Apa dia kerasukan hantu atau apa?"
Apa maksudmu Cendric? Dia hanya sedang semangat pergi ke sekolah.
"Tapi dia bukan orang yang akan menyisir rambutnya untuk berangkat ke sekolah. Tidak jarang juga ia ke sekolah menggunakan piyamanya. Ada apa dengannya hari ini?"
Aku sudah mengatakannya. Fonsius sedang bersemangat ke sekolah. Ia berada dalam mood yang luar biasa baik. Sederhananya, ia mengantisipasi dan menantikan sekolah hari ini.
"Biar kutebak, guru baru dari ibukota yang ia ceritakan adalah alasannya bukan?"
Yup. Benar sekali! Mulai hari ini, seorang guru baru dari ibukota akan mengajar di sekolah kecil di Phari—— sekolah Alberdeen Phari.
Dikabarkan, guru tersebut sangatlah pintar dan berbakat. Sebelum pindah ke Asa, dia bekerja untuk institusi sihir. Sihirnya sangatlah hebat hingga semua orang yang melihatnya akan terkagum-kagum. Dikaruniai oleh para dewa-dewi, dia adalah salah satu orang yang dipilih menjadi seorang pahlawan untuk mengalahkan sang raja iblis.
.
.
".. Oh, begitu. Aku tidak akan berkomentar. Jangan memberikanku Spoiler pagi-pagi sekali- Aku ada sekolah. Jadi lanjutkan narasi mu di luar rumah."
(-_-;)・・・
Baiklah, mari kita lanjut saja.
TAK-
"Ayah, ibu, Alice, Cendric- Aku berangkat duluan!" Seru Fonsius, meletakkan piringnya di dapur. Mengambil tas selempangnya, ia berpamitan pada keluarganya dan pergi ke sekolah dengan riang.
"Eh? Dia pergi begitu saja? Apa-apaan dengan alurnya?"
Dia sudah melakukan semuanya satu jam lebih awal. Bukankah kau menyuruhku untuk tidak spoiler terlalu banyak? Kau mengusirku keluar rumah.
"Uh.. benar juga. Aku tidak tahu bagaimana plot nya berjalan tetapi aku berharap kau tidak merencanakan sesuatu yang buruk dan membantunya berkembang"
No comment. Aku hanya bisa menjamin dia akan baik-baik saja hari ini. Lagipula, Fonsius bukanlah tipe orang yang begitu mudah digoyahkan.
—— Memiliki sesuatu untuk dilindungi terkadang dapat membuat seseorang menjadi lebih kuat dari yang kau bayangkan.
"Setuju. Dia keras kepala. Meskipun dalam keadaan kusut dan menyedihkan dia tetap akan berusaha yang terbaik. Dia tidak akan berubah dalam situasi apapun demi keluarganya."
Hmm.. itu masuk akal. Hei, kalau begitu katakanlah-
"Apa?"
.
.
.
—— Apakah kau tertarik dengan fiksi picaresque dan tragedi balas dendam? Cerita satir nan komedi yang realistis tanpa plot armor.
Aku bisa membuatmu protagonis dari cerita tersebut. Seperti dalam cerita Shakespeare, kau akan menjadi tokoh-
"TIDAK! Jangan mengacau lagi. Aku ini hanya karakter pendukung. Realistis atau tidak- menjadi protagonis dalam cerita Shakespeare adalah skenario terburuk yang pernah ada"
... Aku rasa kau benar. Jangan khawatir, aku tidak punya kemampuan untuk menulis cerita tragis yang baik. Aku bukan Shakespeare atau Osamu Dazai. Jadi itu tidak akan terjadi pastinya.
"Yah.. aku harap begitu. Juga, ceritakanlah padaku kapan-kapan apa yang terjadi di sekolah.. dan tentang guru baru itu tentu saja"
Sip!! (。•̀ᴗ-)✧
Ngomong-ngomong, aku akan melanjutkan narasinya. Sampai ketemu lagi Cen.
...********...
Sekolah Alberdeen—— sekolah bagi anak-anak berusia 8-17 tahun yang telah berdiri selama 20 tahun di desa Phari. Tidak terlalu terkenal, sekolah ini memiliki reputasi sedang dengan pelajarannya medium saja. Menjadi satu-satunya sekolah di Phari, hampir semua anak di desa kecil ini dimasukkan ke sana.
Makanya, sangat mudah bagi Fonsius untuk menemukan seseorang yang ia kenal. Mengendap-endap masuk ke sekolah, ia berusaha menghindari kerumunan. Terutama perundung terbesarnya yang seringkali berkeliaran di satu sekolah.
Sialnya, seakan-akan dunia tersebut mempermainkannya, ia malah dipanggil dengan lantang oleh sosok ular berkulit manusia yang paling ia benci dari atap sekolah.
"FONSIUS!! DIAM DISANA!! ADA SEBUAH HADIAH YANG PANTAS UNTUKMU YANG INGIN KUBERIKAN!!"
Membuat semua pandangan tertuju padanya, ia tidak bisa menahan rasa malu dan gugup- berbaur dengan ketakutan yang tak bisa dijelaskannya. Ia tidak berani mengangkat kepalanya pada kakak kelasnya yang berteriak dari atap sekolah.
Tidak bisa memikirkan apapun, dia mematung gemetaran di tengah halaman sekolah. Beberapa kali ia ditabrak oleh beberapa murid yang berlalu-lalang.
"T, Tidak.. Mengapa harus sekarang? Daniel sengaja memanggilku? A, Apa mau-"
TAP, TAP, TAP..
Fonsius tersentak kaget, mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya. Mengangkat kepalanya, jantungnya berdebar cepat saat melihat seorang lelaki jangkung yang kekar bersama temannya berada di depan matanya.
Lewine Reevese dan Irvette Candace-- Murid seangkatannya yang sering merundung nya. Di sekolah ini, mereka dijuluki sebagai 'Berandal terburuk yang pernah ada di Phari'.
Mereka telah berbuat banyak kekacauan dan nama mereka tidak bisa dibersihkan lagi. Semua orang tahu tentang sikap mereka yang liar.
"Hei, pecundang- ular itu memanggilmu lagi?"
"Heh! Menyedihkan sekali menjadi badut Daniel"
Memasuki mode panik, ia berusaha kabur dari mereka. Sayangnya, ia langsung didorong jatuh ke bawah tanah dan diseret kasar di atas jalan yang kasar. Dibawa ke halaman belakang sekolah, ia berteriak minta tolong. Ia tahu kelas belum mulai jam segini. Daniel pun pasti mendengarnya dari atas. Ia bisa melihatnya sedang menonton semuanya dari atap.
Namun..
"SESEORANG- TOLONG!! TOLONG AKU!!"
——Seberapa keras ia berteriak hingga tenggorokannya sakit, ia merasa seperti orang bisu yang tidak bisa di dengar semua orang.
"SESEORANG!! TOLONG!! AKU-"
"Oi, diamlah! Kau merusak suasana hati semua orang badut!"
Dan walaupun ada yang mendengarnya, itu tidak akan mengubah apapun. Tidak ada yang peduli dengannya. Hidup Fonsius bukanlah hidup mereka.
Mengapa mereka harus membantunya?
BRUKk!!
Fonsius meringis kesakitan. Dilempar ke sebuah tembok bata, ia melindungi belakang kepalanya dengan tangannya agar tidak cedera. Muak dengan apa yang ia dan semua orang lakukan, ia berusaha meninju mereka sekali. Tetapi malah mendapat hasil yang sebaliknya.
Melawan, berteriak, memohon, kabur.. semua usaha yang ia lakukan sia-sia. Dia sudah mencoba segalanya.
Sekelas dengan salah satu dari mereka, setiap hari terasa bagai neraka bagi Fonsius. Dengan wali kelas yang menutup mata dan malas mengurus perundungan, ia tidak mempunyai harapan selain bergantung pada Daniel. Tidak hanya wali kelasnya tetapi semua orang di Phari sudah pasrah dengan Lewine dan Irvette.
Itulah mengapa Fonsius sangat bergembira saat menyadari ada seorang guru baru dari luar yang datang kemari. Berharap, sesuatu berubah hanya untuk hari ini.
——Alangkah baiknya jikalau harapannya menjadi kenyataan.
"Hei, hei- kau sudah menyerah? Bukankah kau akan memukul kami?"
".. K, Kalian tidak lelah menggangguku terus? Mengapa kalian melakukan ini?"
Fonsius melirik ke arah Lewine dan Irvette dengan jijik. Menengadah, tatapannya bertemu dengan sosok ular berkulit manusia yang menyeringai tepat di atasnya. Sesaat, ia merasa pasrah untuk hidup di dunia ini. Diluar dari rumahnya, tidak pernah sekalipun ada orang yang menjulurkan tangan padanya.
Apa yang bisa ia lakukan? Dia adalah seorang pecundang menyedihkan.
TAP, TAP, TAP..
".. Heh! Lalu mengapa jikalau dia ini seorang pecundang? Kalian tidak lebih menyedihkan darinya."
Suara seorang pria menangkap perhatian semua orang disana. Menoleh ke kiri, mereka menemukan sosok asing berusia 20 tahun yang mengenakan jubah hitam setinggi pergelangan kakinya. Berwajah tampan, berambut pirang pucat dan bermata cokelat tua yang indah, Daniel melebarkan matanya saat menyadari pria yang berdiri di depannya bukanlah sesosok pria biasa. Ia bisa melihat sejumlah Mana raksasa yang mengelilinginya dari jauh.
Begitu juga Irvette yang memiliki kemampuan sihir untuk merasakannya. Ia langsung menjadi was-was dan menarik Lewine mundur dengan cepat, mengatakan pria tersebut memiliki divine protection.
"Ha? Ada apa? Kalian berdua ketakutan? Semenit yang lalu kalian merasa seperti jagoan. Merasa terintimidasi? Ini yang selalu kalian lakukan setiap hari bukan?"
"!!!.. A, Apa maksudmu?! Kau pikir kau siapa?!" Tanya Lewine, terprovokasi.
"Siapa aku? Aku adalah wali kelasmu. Itu wajar aku mencari murid-murid ku. Kelas sudah mulai dari 5 menit yang lalu. Nona Candace dan kakak kelas diatas- sebaiknya kalian pergi ke kelas kalian sebelum dicap terlambat."
Daniel dan Irvette mengangkat alisnya kaget, tertegun sesaat. Merasa bimbang, Irvette menoleh Lewine beberapa kali, menanyakan apa yang harus ia lakukan. Namun, merasa tidak nyaman dan terdesak dengan atmosfer disini, ia memutuskan untuk meninggalkan Lewine setelah memperingatkannya untuk hati-hati.
Sementara itu, Daniel yang mengamati situasi dari atas, menggigit bibirnya. Berada di ujung, ia mulai bertanya-tanya tentang identitas pria tersebut. Sayangnya, ia pun terpaksa kembali ke kelas mengingat ia memiliki citra sebagai murid teladan dan pergi dengan perasaan janggal ke kelasnya.
"Baiklah, jadi sisa kalian berdua ya? Lewine Reevese dan Fonsius Farrel. Wah, wah.. kalian berdua sudah terlambat 8 menit sekarang. Jujur, aku masih akan mentolerir kalian apa ila kalian terlambat 5 menit. Tapi tampaknya, kalian berdua akan mendapatkan hukuman tambahan"
"!! Tsk, diam. Guru sinting sepertimu tidak-"
"Aku tidak peduli. Selama aku mengajar disini, kau harus menghargai dan menurutiku. Aku ini gurumu. Sekarang kembalilah ke kelas dan jangan pernah mengganggu Fonsius Farrel lagi. Kau akan dihukum 3 kali lipat apabila kau maish mengulanginya"
Lewine bergidik, terdiam dari rasa takut. Ia mengepalkan tangannya kuat, menahan emosinya. Mendecak lidahnya, ia menoleh pada Fonsius yang babak belur dan mengangkatnya naik dari kerah sebelum berbisik dengan nada serius.
"Dengar, kau akan ku bunuh apabila kau berani-beraninya mengikuti perintah monster itu. Camkan itu-"
".. Aku tidak perlu mendengar apa kau katakan. Pembohong sepertimu adalah yang terburuk"
"Kau pikir orang asing itu penyelamatmu? Dia adalah monster mengenakan topeng manusia yang tebal. Kau akan menyesal mengatakan aku ini seorang pembohong"
Lewine melepaskan tangannya, berjalan pergi meninggalkan Fonsius dan pria asing itu. Mengelap hidungnya yang dipenuhi darah, Fonsius mengangkat badannya naik dan berusaha menghampirinya.
Sialnya, ia tidak mempunyai sisa tenaga untuk berdiri sehingga tubuhnya langsung ambruk ketika ia melangkahkan kakinya. Pria yang berdiri tidak jauh darinya langsung berlari panik sewaktu ia menyadari Fonsius perlahan-lahan tidak menyadarkan diri.
"A, Ah.. Dia pingsan. Sekarang bagaimana?"
...********...
Tidak menyadari berapa lama waktu berlalu, Fonsius membuka matanya kebingungan dengan apa yang terjadi. Hal terakhir yang ia ingat adalah peringatan Lewine yang tidak jelas. Wajar saja ia terbangun di UKS sehabis ia pingsan. Tapi..
"... M, Mengapa kau ada disini, Lewine? Apa kau sakit atau apa?"
"Diamlah- Wali kelas sialan itu mengunci kita di UKS! Aku tidak berada disini karena aku mau!"
—— Meskipun pingsan ia tidak terbangun dari mimpi buruknya.
"K, Kau tidak akan.. m, memukul ku kan?"
"Ugh, jikalau aku bisa tentu saja aku akan meninju wajahmu. Sayang sekali monster itu memantau ruangan ini dengan sihir."
"K, Kalau begitu.. aku yang akan keluar" Fonsius turun dari ranjang UKS, memutar satu-satunya kenop pintu di ruangan tersebut. Memiringkan kepalanya, ia dapat merasakan sihir pengunci yang kuat di seisi ruangan.
Fonsius mengedipkan matanya berkali-kali, memainkan tangannya dengan gugup dan lelah. Membuat Lewine tercengang dan menampar keningnya, ia menelan liurnya-- mengerti apa yang terjadi sekarang.
"... Apa kau goblok atau apa? Dia mengunci KITA! Sampai kita selesai mengerjakan tugas hari ini, dia tidak akan membukakan pintunya"
Entah bagaimana, kini ia terpaksa berada dalam satu ruangan bersama perundungnya. Ia tidak menyadarkan diri dari pagi hingga siang. Jam yangg menunjukkan pukul 2 siang membuatnya memalingkan kepalanya, melihat tugas yang menumpuk di meja disampingnya.
"... Sudah berapa banyak?" Tanya Fonsius, mengambil buku-buku miliknya. "Jangan bilang kau belum kerja sama sekali"
"Memang belum. Aku tidak mengerti sama sekali. Kau seorang kutu buku kan? Kerjakan untukku, badut pecundang"
Fonsius membuka bukunya, mengecek tugasnya hari ini. Membelalakkan matanya, ia menutup bukunya secepat kilat saat ia disapa oleh sejumlah angka yang membuat otaknya berhenti bekerja.
".. Aku.. juga tidak pandai matematika. Aku bukan seorang kutu buku"
"Apa? Itu tidak mungkin. Bukankah setiap orang yang berkacamata pasti pintar belajar?"
"H, Hukum.. macam apa itu?! A- Aku tidak sepintar yang kau kira. Aku sering ketiduran di kelas dan sesekali bolos juga"
"!! Oh.. jadi kau ketiduran di kelas? Itu mengejutkan. Jadi kau bukan murid teladan ya? Dasar tidak berguna"
"Tentu saja bukan. Aku ini hanya murid biasa. B, Bagaimana jika kita coba kerja soalnya dulu.... d, dan membahasnya nanti?"
TAK!!
"!!..." Mendengar suara pena yang dibuka paksa tutupnya, jantung Fonsius berdegup kencang dari rasa kaget. Ia bergegas menyembunyikan ekspresinya dan menundukkan kepalanya ketika menyadari Lewine menyetujui sarannya secara tersirat.
——Lagipula, ia mengerti alasannya. Merasakan hal yang sama, ia juga tidak menyukai Lewine dan tidak ingin berlama-lama disini. Pilihan paling logis yang tersisa adalah bekerjasama.
Lewine menggosok tengkuknya, membuka bukunya. Mendecakkan lidah, ia mulai mencorat-coret bukunya tanpa suara. Tak lama kemudian, ia menutup bukunya- mengatakan ia sudah selesai.
Fonsius ternganga, setengah terkagum dengan perkataannya. Semua orang tahu matematika adalah salah satu pelajaran tersulit yang pernah ada sampai bisa membuat Author cerita ini tremor.
... Siapa yang tidak? Matematika adalah sesuatu yang tidak pernah Author dan Fonsius pahami di tempat pertama. 。:゚(;´∩`;)゚:。
"K, Kau sudah selesai?"
"Kau belum?"
"Aku mengerjakan tugas sastra duluan. Apa.. kau mau bertukar jawaban?"
Lewine mendengus angkuh menggeleng. Menyilangkan tangannya, ia menyeringai sombong dan mengabaikannya. Tetapi, ia berubah pikiran saat ia mengerti bagaimana perasaan Fonsius melihat soal matematika begitu ia membuka buku selanjutnya.
Tidak mengerti satupun hal dari buku tersebut, pikirannya terjebak dalam labirin bahasa yang membingungkannya. Melihat ekspresi Lewine seakan-akan ia melihat bahasa alien, Fonsius buru-buru menyelesaikan tugasnya.
"Hei, kita membenci satu sama lain kan tetapi itulah mengapa kita harus keluar dari sini kan? Bagaimana jika kita membuat kesepakatan?"
"Denganmu? Aku bisa memaksamu memberikannya padaku."
".. Kau tidak bisa memukuliku. D, Ditambah, apa untungnya apabila kau melakukannya? Ada cara yang lebih cepat daripada itu"
Lewine menggigit bibirnya jengkel, melemparkan bukunya ke wajah Fonsius. Merebut kasar buku sastranya, ia menyalin semua jawaban di bukunya sembari mengomel.
Menggunakan kesempatan ini sebelum ia berubah pikiran, Fonsius pun menyalin jawabannya. Tak disangka keduanya, inilah pertama kalinya mereka bekerjasama.
"Kau sama menyebalkan seperti sastra! Tidak satu ada jawaban yang konstan sama sekali-- Aku benci sastra membingungkan ini!"
Yah.. walaupun mereka bisa dikatakan jauh dari definisi akur. Keduanya masih saling membenci satu sama lain dan memenuhi ruangan dengan sindiran.
"Ini adalah soal penalaran. Tidak ada jawaban pasti. Jawabannya boleh lebih dari satu. Bagaimana bisa kau terjebak dalam labirin apabila jalan keluarnya ada banyak?"
"Bagaimana denganmu? Kau tidka bisa menyelesaikan soal yang jawabannya hanya satu? Soal itu bahkan tidak perlu penalaran dan kau pun masih terjebak di labirin meskipun jalannya hanya satu"
"Itu bukan- Haa... Lupakan. Kita tidak bisa saling mengerti. Kita bertolak belakang."
Fonsius menghela nafas panjang. Keduanya lalu mengembalikan buku satu sama lain dnegan kasar, tidak mengucapkan terimakasih ataupun minta maaf. Mengambil buku terakhir, keduanya tertegun melihat tugas mereka. Disaat yang bersamaan, darah mereka mulai mendidih-- tidak tahan lagi dengan tugas terakhirnya.
"Ugh- Guru baru sialan itu!!"
"Wali kelas br***ek itu!!!"
Keduanya mengutuk pria yang mengunci mereka di ruangan. Bertukar pandang, untuk sesaat mereka dipersatukan dengan perasaan senasib dan koneksi aneh yang menghubungkan niat untuk meninju muka sesosok guru ambigu.
"Kau pandai sihir, pecundang?"
"Tidak. Kau juga tidak bukan? Si br****ek itu menjebak kita"
"Tsk- Terkutuk lah dia. Aku berharap wajahnya ditinju hari ini sampai giginya copot!"