
"Dimana dia?!"
"Tsk- ini sudah yang ke berapa kalinya dia menghilang! Apa-apaan dengan anak ini?!!"
Namsius terengah-engah bersembunyi dibalik sebuah pohon besar. Kakinya berdarah dan tubuhnya sedang dalam kondisi buruk. Seperti pemeran utama dalam film horor, Namsius takut ketahuan oleh 2 pemuda tersebut yang akan menangkapnya.
Setiap kali ada kesempatan, dia berlari berpindah tempat ke tempat lain secara diam-diam bagai permainan petak umpet.
THUNK!!!
"OI, JANGAN MEMBUATKU KESAL!!"
"Keparat sialan- Keluar sekarang juga!"
Tangan Namsius gemetaran penuh tanah. Ia hanya bisa menipu dirinya dia bisa kabur dari sini apabila dia mencoba sebisa mungkin. Ia berusaha keluar dari hutan, mencari bantuan. Dia sangat putus asa. Dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain selain menyelamatkan dirinya.
Berlari terus tanpa akhir, ia menemukan dirinya berada di ujung tebing tinggi. Pupil matanya mengecil dan kakinya jatuh dari ketakutannya. Suaranya tidak bisa keluar sama sekali dan yang tersisa hanyalah air matanya yang terjatuh.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak bisa menghubungi Rumos. Apa artinya aku harus bergantung pada diriku sendiri?"
Namsius mengepalkan jarinya sekuat tenaga, mengerti bahwa tidak akan ada yang datang menyelamatkannya. Meskipun ada, mereka pasti akan memanfaatkannya.
Tapi bukan berarti dia tersesat dalam keputusannya. Dia tahu jelas apa yang harus dia lakukan agar dia bisa bebas dari kejaran tak berujung ini.
"Sial, sial, sial.. Aku tidak bisa melompat dari sini!! Ini akan menyakitkan- Aku takut!!"
Karena telur ikan raksasa dan memiliki kekuatan dari dewa Darumias bernama Auto-heal-
—— Melompat dari tebing bukanlah ancaman bagi nyawanya. Maut tidak akan bisa menyentuhnya.
Sedikit yang ia ketahui, telur ikan raksasa adalah telur yang dapat membuat setiap orang yang memakan telurnya menjadi abadi sebab maut tidak bisa menyentuhnya. Tubuh mereka akan tubuh dengan sehat, bugar, dan indah.
Namun setelah menginjak usia 25 tahun, tubuh mereka secara fisik akan terjebak selama-lamanya pada usia tersebut dan tidak dapat tumbuh lagi. Akibatnya, mereka tidak bisa menua, menjadi kekal seumur hidup.
Akan tetapi, sebelum mendapatkan telur ikan, Namsius dan Rumos sudah terlebih dahulu mendapatkan sebuah hadiah kekuatan bernama Auto-heal yang dianggap sebagai kutukan oleh Rumos.
Auto-heal adalah sebuah kemampuan untuk menyebuhkan dan regenerasi diri mereka secara otomatis HANYA ketika mereka berada di ambang kematian atau sekarat. Mereka harus mencoba membunuh diri mereka setiap kali ingin menggunakan kemampuan ini.
Menggunakan kemampuan ini terus menerus menurut si kembar sangatlah menyakitkan. Mereka menggunakannya hanya dalam keadaan bahaya dan gawat. Mereka membenci kemampuan ini yang berguna nan menyakitkan.
Keuntungannya adalah kedua kemampuan ini dapat menjamin nyawa mereka meskipun menyakitkan.
TAP, TAP, TAP..
"!!! T, Tidak- aku tidak boleh takut.. A, Aku harus bertahan hidup. Aku harus ke Ibalion!!"
Namsius menguatkan tekadnya seketika suara langkah kaki pengejar nya semakin mendekat. Ia berbalik sesaat, melihat samar-samar bayangan mereka. Ia mengetahui jikalau ia membiarkan dirinya ditangkap, dia tidak akan bisa bebas.
Tanpa pikiran kedua, ia menarik nafasnya dalam-dalam, membiarkan dirinya ditarik gravitasi. Terjatuh bebas dari tepi tebing, ia bisa merasakan angin yang berhembus melewati badannya.
Dia tidak merasa takut lagi seiring badannya mulai mendekati tanah. Dia bisa merasakan kebebasan-- bebas dari mereka yang mencari untung dan yang hanya akan menggunakannya.
——Tidak ada yang bisa mengaturnya lagi sehabis tubuhnya menghantam tanah.
"Namsius-"
"!!!!... Apa?"
.
.
... Sebelum ia mendengar namanya dipanggil dari atas oleh suara yang ia kenal sangat.
"M, Mengapa? Kau bilang agar kita terus lari biarpun salah satu dari kita tertangkap. Kau menyuruhku agar terus lari dan.. dan.."
"... Aku berbohong. Aku berencana untuk membuangmu apabila kau tertangkap. Rencananya berubah sekarang"
Namsius melebarkan matanya, tidak percaya apa yang barusan ia dengar. Selama ini, ia telah dibutakan oleh orang terpercayanya. Tidak- dia tahu suatu hari saat ini akan tiba. Dia hanya tidak ingin mengakuinya.
Dan kini ia tidak bisa berkata-kata. Hanya air mata yang bisa keluar dari mata emasnya ketika ia melihat siluet Rumos yang tersenyum tipis, melongoknya dari atas tebing bersama seorang pria berkumis tebal.
Pada saat itulah ia menyadarinya-
"Kau.. berbohong padaku. Dari awal, kau hanya memanfaatkan ku... Kau tidak pernah peduli apakah aku hidup atau tidak"
"Iya. Dan aku beruntung kau mempercayaiku dari awal hingga titik ini. Aku bersyukur kau masih peduli padaku sampai hari ini. Jadi.. Apa kau menyesal telah mempercayaiku?"
—— Sejak awal kesempatannya untuk kabur ialah 0%. Dari semenjak dia terlahir kembali, dia telah berada dalam sarang laba-laba.
Sebuah ingatan senang dan dukanya bersama kembarannya menyerang benaknya. Sesuatu yang menyesakkan dadanya sewaktu punggungnya tidak pernah menyentuh tanah. Ia merasa emosi campur aduk sewaktu dirinya diangkat naik oleh sihir angin seseorang yang membelinya
"-Kau pengkhianat- Kau yang terburuk. Aku.. membencimu. Aku membencimu!! Mengapa?!"
"Kau tahu... Aku tidak bisa membiarkanmu bebas. Itu aneh mengapa kau masih bertanya. Haha, Bukankah kita ini satu paket?"
".... Diam. Jangan bercanda."
"Lagipula, kau tidak bisa hidup tanpaku. Kau tidak berdaya. Kau hanya perlu mengikuti setiap kataku saja dan kita akan selamat"
"....."
Rumos merendahkan kelopak matanya. Ia memainkan tangannya di belakang punggungnya, sadar akan apa yang telah dia lakukan pada Fonsius.
—— Dan tidak sedikitpun ia merasa bersalah padanya. Yang ia rasakan hanyalah rasa lega Namsius tidak melawannya.
TAK-
Namsius menginjakkan kakinya di atas tebing dengan ekspresi datar. Semua air matanya telah mengering dan yang tersisa hanyalah darah yang keluar dari kaki, tangan, dan kepalanya. Bau tanah tercium tajam darinya.
Mata kosongnya melekat pada satu orang didepannya. Ia menerima apa yang terjadi padanya.
Inilah konsekuensinya karena mempercayai seekor serigala berbulu domba.
"... Kau pastinya akan memaafkan ku. Jadi jangan menatapku seperti itu"
...********...
SETENGAH JAM SEBELUMNYA
Edmond POV
Seorang anak kecil berbau samar air comberan berdiri di depanku. Ia terlihat sangat was-was meskipun aku mengatakan aku tidak akan melukai mereka sama sekali.
Sirkus sekarang sedang kekurangan orang. Makanya, kami butuh tambahan orang untuk membantu kami.
Dari kata kepala desa dan anak buahku, anak-anak Asa adalah anak-anak yang cukup pintar dan cerdik. Mereka pernah memberi saran kepada pangeran Liam dan mengerti ekonomi juga politik. Katanya, mereka tidak seperti anak 3 tahun melainkan orang dewasa
Padahal pangeran Liam sebenarnya adalah orang yang kekanak-kanakan dan hanya hsia menggunakan posisinya sebagai pangeran untuk mendapatkan apa yang ia mau. Yah, dia tidak salah memanfaatkan statusnya.
Tetapi ketika mendengar dia menyogok kepala desanya dengan uang, aku tersadar dia telah berubah jauh dari perkiraan ku.
Anak-anak Asa—— Rumos dan Namsius adalah anak kembar tidak identik. Yang satu rambutnya hitam dan yang satu cokelat, yang satu matanya emas dan yang satu matanya laut. Tidak ada yang spesial sama sekali.
"Baiklah, seperti kata kepala desa kalian, aku akan mengadopsimu hari ini. Kami sudah membuat perjanjian. Lihat," kataku sambil mengeluarkan kertas
Rumos mengambil kertas tersebut dari tangannya, membacanya saksama. Matanya tertuju pada tandatangan dan logo di kertas itu sebelum terdiam sebentar. Aku melihat tubuhnya bergetar sedikit dan ia mengulum bibirnya, menahan sesuatu.
Dia pasti ketakutan setelah mengetahui dia-
"Pfft- hahahaha, Hahahaha!! Adopsi katanya- hahahaha!! Itu lucu!!"
!!!?
".. Apa?" Aku terkejut ketika melihat mereka tertawa terbahak-bahak. Dari informasi yang kudapatkan, aku tahu mereka pintar dan bisa baca tulis. Mereka juga mengerti banyak hal dengan kosakata yang rumit.
Tapi mengapa ia tertawa?
"Hei, dasar tidak sopan! Dia sudah mau mengadopsimu!! Dia ini-"
"Adopsi? Hei, emangnya ada yang mau? Pak kepala desa, anda baru saja menjualku kepada seorang pemilik sirkus dan tidak bisa dikembalikan dan tidak diperbolehkan lagi ke sini. Bagaimana bisa itu namanya adopsi?"
!!!
Oh.. Dia menyadari kalau aku membeli mereka dengan uang?
".. Cih, apa masalahnya jika aku menjualmu?!!"
Rumos menahan tawanya, menyeringai lebar. Sesaat kemudian, ia mendesah kecil dan menggaruk kepalanya. Dia menopang dagunya, berpikir dalam-dalam, hanya untuk tertawa sekali lagi.
Sebenarnya, apa yang ia pikirkan?
"Berapa banyak yang kau bayar tuan pemilik sirkus? Apakah harga kami melebihi 10 koin emas."
".. Kau sombong. Hargamu adalah 3 koin emas."
"Yah.. Kepala desa, kembalikan uang itu sekarang juga. Kami akan menawarkanmu sesuatu yang lebih bagus daripada ini"
Oh, mereka akan bernegosiasi dengan kepala desa dengan tawaran yang lebih bagus?
Dia pintar. Keterlaluan pintar seperti kata pangeran Liam. Memang sangat enak jika mendapatkan anak yang bodoh dan bisa dipekerjakan sebagai pembantu. Namun anak pintar akan lebih baik lagi untuk pekerjaanku.
Sayangnya, mengembalikan koin emas itu karena ada tawaran yang lebih bagus-
.
—— itu sungguh merusak harga diriku.
Sang kepala desa mengeluarkan koin yang kuberikan dari sakunya. Aku menahan tangannya, menolak koin emas tersebut untuk dikembalikan.
".. Aku tidak bisa melakukannya. Kau harus ikut denganku"
"Oh, begitu. Kalau begitu, apa pekerjaanku di sirkus? Anak berusia 3 tahun ini bisa kerja apa? Berapa gaji kami?"
".. Aku tidak yakin kau bisa mengangkat benda berat, jadi mencuci dan menjemur serta menyapu adalah pekerjaanmu. Dan dikarenakan kau pastinya tidak punya sihir, jadi gajimu hanyalah.. 1 koin perunggu"
"Catatlah di kertas dan tandatangan. Aku akan menandatanganinya juga"
Sesuai keinginannya, aku mengambil kertas baru dan mencatat serta menandatangani kertas itu. Aku memberikannya kertas itu untuk meyakinkannya dan menyuruhnya menandatangani kertas itu juga.
"Apa aku boleh menambahkan kalau aku hanya akan bekerja untukmu selama 3 tahun saja?"
"5 tahun. Setuju?"
Ia mengangguk, dan membaca kertas tersebut sampai ia merasa yakin merasa yakin. Ia kemudian meletakkan kertas itu diatas meja dan menggigit jari mereka hingga berdarah sebelum mengoleskan darah itu di kertas tandatangannya.
Ia lalu mengelap tangannya, memberikanku kertasnya. Aku terkejut melihat ada anak 3 tahun yang seniat itu hingga menggigit tangannya hingga berdarah tanpa menangis.
Tetapi yang paling mengejutkan adalah-
"... luka kalian bisa menutup sendiri?"
"Itu rahasiaku. Namaku Rumos Reiss. Kami dari Asa. Aku bisa menjamin membuatmu kaya 2 kali lipat dalam 5 tahun"
"Hmm... Aku akan menantikan kerjasamamu."
—— Keangkuhannya dan arogansinya melebihi ekspektasi ku.
"Yah, aku memang bau dan miskin, tapi selepas dari itu- aku bisa melakukan segalanya, bahkan membunuh orang jika kau mau"
Aku pasti lagi beruntung mendapatkan anak ini. Aku tidak mungkin melepaskannya dengan mudah begitu saja.
"Namaku Edmond, pemilik sirkus Danija. Selamat datang di sirkus kami!"
Tapi...
.
.
——Aku ingin tahu bagaimana reaksinya setelah menyadari aku hanya mengadopsi salah satu dari anak-anak Asa saja.
...********...
Author POV
Dewa Darumias menyilangkan tangannya. Ia memantau dari atas apa yang terjadi selama ini. Menduga hal ini akan terjadi, ia mengeluarkan tawa riang dan memanggil utusannya yang menyaksikan semuanya dari bayangan.
"Whis, kau lihat itu?"
"Iya, mereka bukanlah kombinasi yang cocok"
"Itulah sebabnya mereka mengesankan."
Whisly tertegun, mengiyakannya. Sejujurnya, ia tidak pernah merasa penderitaan mereka menarik.
"Tuan, mengapa anda memilih mereka?"
"Ha? Bukankah itu sudah jelas?"
"..Apa?" Whisly memiringkan kepalanya kebingungan. Ia melihat atasannya menyeringai menyeramkan dengan tatapan yang membuat bulunya berdiri.
"Aku tidak memiliki alasan apapun. Mereka hanya orang menyenangkan"
Nafas Whisly tertahan. Ia kini mengerti apa yang terjadi di Liawes saat ini.
"Kau menggunakan mereka sebagai bidak?"
"Iya. Mengesankan bukan?"
"..."
Lebih dari apapun yang pernah ada, Whisly membulatkan tekadnya dan mengambil sebuah keputusan yang melenceng dari tugasnya. Ancaman terbesar dunia Liawes berada di depannya.
"—— Tuanku, anda.. sangatlah tidak terduga wahai dewa pencipta Darumias sang dewa penipu"