
Johnson Farrel POV
Aku menoleh pada istriku yang sepemikiran denganku. Mengerutkan keningku, aku melihat anak-anak yang berwajah murung, jengkel, dan datar.
"Uh.. anak-anak, bagaimana sekolah kalian?"
"Biasa saja"
"... Tapi kalian tidak terlihat baik-"
"Biasa saja"
...
....
......Apa ini? Masa pubertas mereka sudah tiba?
Fonsius terlihat setengah bimbang memikirkan sesuatu. Aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Alice kelihatannya mengetahui sesuatu tetapi ia sendiri memiliki masalahnya sendiri yang lebih besar. Sementara itu..
"Cendric.."
"Hm? Ada apa ayah? Aku tidak bersalah sama sekali"
... Dia mengetahui semuanya tetapi menutup mulutnya. Dalam suatu hal ia terlibat dengan mereka. Apa ini salah satu dari leluconnya atau apa?
Uwaahh!!!! Mengapa anak-anak ku semuanya seperti ini?!!
Istriku- Tolong bantu aku!!
Aku melirik Gwendolyn. Meminta bantuan, ia tertawa kecil sambil mengunyah makanannya.
"... Aku akan pergi ke kantor kepala sekolah apabila kalian tidak memberitahuku apa yang terjadi"
"!!!!!!!... APA?!!" Fonsius, Cendric, dan Alice membelalakkan mata. Tercengang, mereka mematung ditempat sesaat.
Sudah kuduga istriku sangat pandai dalam urusan ini. Kerja bagus, Gwen!!
"T, Tidak.. Kami seriusan baik-baik saja, bibi. Ini hanya sekedar... masalah kecil yang tidak terlalu penting" Alice melirik adik-adiknya yang mengangguk cepat. Mereka berusaha meyakinkan istriku padahal mereka sendiri tidak yakin.
Sudah jelas mereka berbohong. Tapi jika Alice mengatakan apa yang terjadi memang bukan masalah besar, aku rasa dia memiliki urusan pribadi yang tidak bisa kami ganggu. Namun, itu tidak menjawab apa yang terjadi pada Fonsius sebab masalah mereka adalah 2 hal yang berbeda.
"Bagaimana denganmu, Fonsius?" Tanyaku.
"E, Em.. Aku baik-baik saja. Aku dan temanku sedang bertengkar kecil. Jadi ini bukan masalah yang patut dibesar-besarkan"
Aku mengamati wajah Fonsius. Dia tidak terlihat berbohong. Pada akhirnya, semua masalah mereka bukanlah hal yang besar kelihatannya.
.
.
Tapi, kalian tahu.. Itu aneh bukan mereka mencoba menyembunyikan masalah kecil tersebut. Mungkin kini mereka sudah mulai memasuki fase dimana mereka mulai dewasa dan mandiri seperti Alice.
Menjadi dewasa itu sulit. Aku harap anak-anak ku dapat bertahan dari ribuan ombak yang akan mendatangi mereka kedepannya.
"Ah, benar. Berbicara tentang itu, sebentar lagi Gojamn akan tiba. Aku berencana pergi keluar kota hari itu," ujar Alice, hampir membuatku dan istriku tersedak.
Ada urusan apa lagi sampai ia mendadak pergi keluar kota? Pekerjaannya?
"Teman penaku akan datang, ia mengatakan dia memerlukan bantuanku untuk suatu urusannya"
Teman pena?
Tunggu.. Alice dan Fonsius memiliki seorang teman? Maksudku aku tahu anak-anakku dapat dikategorikan penyendiri disekolah dan tidak mudah mempercayai orang lain, terutama Alice.
Itu kabar gembira mereka memiliki seseorang yang dapat ia percayai.
"Mari kita rayakan ini! Ini pasti adalah sebuah keajaiban!!"
"Eh..?"
.
.
.
Walaupun ini bukan urusanku, aku penasaran siapakah temannya ini yang Alice katakan. Pertemanan anak remaja memang indah bukan?
...********...
Namsius POV
'Namsius.. Namsius...'
Aku mendengar suara seseorang memanggilku. Membuka mataku, aku menemukan diriku di sebuah padang bunga. Aku disapa oleh langit biru yang terang benderang.
.
.
.
Waitt.. Aku merasakan sebuah deja vu. Jangan bilang-
"Oh, anak muda. Kau sudah bangun?"
—— Aku dipanggil oleh seorang dewa lagi?!!
"Mengapa kau sangat kaget? Aku pikir kau sudah pernah bertemu dengan dewa penipu itu"
Haah?!! Siapa dia?! Dewa ini bukan dewa Darumias- Dia menyilaukan mataku!!
Sesosok pria muda berambut pirang kecoklatan, bermata ungu, berpostur bagus dan diselimuti pakaian putih, ia memancarkan aura keanggunan—— Dia terlihat selayaknya sesosok dewa yang indah. Tidak seperti dewa yang mengirim kami ke Liawes.
PLAKK!!
"!!... Mengapa kau menampar dirimu sendiri? Apa kau gila?"
"Maaf, tanganku secara refleks melakukannya. Sekedar memastikan apa ini kenyataan atau bukan"
Tapi itulah masalahnya. Mengapa sesosok dewa sepertinya ingin menemuiku? Mari kita simak lagi situasinya.
Aku pingsan berkat kabut asap yang dikeluarkan liontin pastor Peregrin. Pingsan dan terbangun di tempat ini, aku akan mengasumsikan dewa di depanku ini tidak lain adalah-
"--- Apa anda dewa Angus?"
"Iya, anak muda. Apa kau sudah tenang?"
Tepat sasaran. Itu menjelaskan mengapa dia terlihat begitu sempurna.
"Iya. Nama saya Namsius Reiss. Ada keperluan apa anda memanggil saya kemari?"
"Mengobrol tentu saja. Tidak perlu formalitas apapun. Aku cuma ingin mengenal orang yang menjadi teman Dante"
... Terkecuali sikapnya yang mengejutkan ku. Dewa-dewi di dunia ini sungguhlah tidak biasa. Ditambah, dia ternyata menyadari keberadaan Dante dan memperhatikannya.
"Duduklah" Dewa Angus menjentikkan jarinya, merubah bunga-bunga disekitarku menjadi kursi dan meja. Menjadikanku was-was, aku ragu duduk di atas kursi yang ia siapkan. Melihatku bersikap begitu, dewa Angus terkekeh geli dan memaksaku duduk di atas kursi dengan bunganya.
"Aku bukanlah dewa penipu itu. Mungkin aku bisa sedikit keras kepala dan memaksa, tetapi tidak bermain kotor sepertinya"
Dewa penipu? Apa maksudnya Darumias?
Aku duduk kaku, menganggukkan kepalaku. Tidak berkata apapun, kami berdua diam sampai ia menyuruhku tidak sungkan menanyainya apa saja. Berpikir sekilas, aku memalingkan wajahku. Aku hanya ingin cepat pulang. Aku tidak mau berlama-lama disini.
".. Bagaimana keadaan tubuhku?"
"Mati sesaat. Aku menarik nyawamu keatas"
!!!!? EEEEEHHHH?!!!
Mengapa dia melakukan itu?! Karena dia ingin mengobrol denganku?!!
Tidak- Aku percaya dia tidak sesederhana itu. Dia pasti memiliki motif lain. Aku harus mencari tahu secepatnya sebelum orang-orang menyadari tubuhku tidak bernyawa.
Pikir. Apa yang bisa kutanyakan padanya? Apa kemungkinan alasan dia mencabut paksa nyawaku?
".. Apa pastor Peregrin tahu tentang liontin itu mengeluarkan asap?"
"Tidak. Aku bahkan tidak menyuruhnya memberikan liontin itu padamu. Dante yang memintanya menghadiahi mu liontin itu"
"!! Dante?" Aku melebarkan mataku. "M, Mengapa dia tidak memberikannya sendiri padaku?"
Dewa Angus menopang dagunya. Ia mengangkat bahunya dan mengatakan ia pun bingung sendiri. Ia melihat apa yang selama ini terjadi di kuil Yrmos. Apa dia tahu tentang apa yang Dante alami juga?
Dewa Angus tersenyum manis. Menengadah, ia meletakkan tangannya di belakang kepalanya sebelum tiba-tiba mengubah topiknya secara drastis. Ia tiba-tiba memperkenalkan dirinya.
"Namaku Angus. Seperti yang kau ketahui aku adalah dewa kecantikan dan keramahtamahan. Aku belum memperkenalkan diriku kan?"
"A.. Aku mengerti"
"Haha, itu mengingatkanku, kau berasal dari dunia lain di kehidupan sebelumnya kan? Apa kau tahu apa tugas para dewa di dunia ini?"
Aku terdiam. Menebak-nebak, aku memberikan jawaban yang paling umum. Yakni, untuk membuat semua orang bahagia dan menyejahterakan semuanya.
"Betul! Itulah alasan utamanya. Ibaratnya seperti pemerintah negara tanpa korupsi ," jelasnya sembari menggambarkan sebuah pantheon dewa-dewi dunia ini.
"Pantheon dunia ini hanya ada satu—— Arumas. Dewa-dewi dunia ini sangat beragam dan banyak jumlahnya. Ada aku, temanku, rekanku, musuh bebuyutan ku, kakekku, nenekku, ayahku, saudaraku.. pokoknya banyak!"
... Ok. Pembicaraan ini melenceng keluar jalur. Sangat harus kubilang.
"Semua dewa disini tidak semuanya akur. Kami pun sering berantem. Akan tetapi, kami tidak pernah melupakan tugas kami sama sekali"
"Benarkah? Mengejutkan sekali para dewa bahkan memiliki.. musuh bebuyutan"
"Iya. Kami punya. Setidaknya semua dewa punya satu. Untukku musuh bebuyutanku adalah si dewa penipu!"
Uh.. Itu mengagumkan pantheon ini tidak pecah kalau begitu. Menampung dewa-dewi begitu pasti sulit. Dan itu membuatku bertanya-tanya sedari tadi-
"—— Mengapa kau menyebut dewa Darumias sebagai dewa penipu?"
"Karena dia memanglah dewa penipu sebelum menjadi dewa pencipta dunia ini"
Aku mengedipkan mataku 2 kali. Kini semuanya terasa masuk akal. Perbuatan liciknya memanglah keterlaluan cocok dengan pekerjaannya.
Dewa Angus kemudian menceritakan bahwa Dewa Darumias dulunya bukanlah dewa dari pantheon Arumas. Ia berasal dari pantheon tetangga. Dewa Darumias adalah dewa kecil yang berkeliaran di dunia bawah sebelum menjadi dewa pencipta.
Lama sekali, terjadinya perang diantara puluhan pantheon dari berbagai dunia. Ini adalah hal yang sering terjadi dalam ratusan abad terakhir. Bertempur, para dewa-dewi dari berbagai dunia berusaha mengambil posisi teratas dan mutlak. Termasuk pantheon Arumas yang merupakan salah satu pantheon lama yang berkarat dan terlupakan karena dewa pencipta mereka terbunuh dalam perang pantheon sebelumnya sehingga dunia hancur menjadi kekosongan.
Kehancuran dunia mereka membuat seluruh dewa-dewi pantheon tersebut menyadari betapa mereka sungguh mencintai dan merindukan dunia yang mereka hancurkan akibat perang.
"Pada saat itu, perang adalah satu-satunya cara agar kami dapat mendapatkan dunia kami kembali. Apabila kami memenangkan perang, salah satu dari dewa-dewi pantheon kami dapat menjadi dewa pencipta baru dan membangun kembali apa yang runtuh."
"Lalu pada akhirnya kalian menang?"
"... Tidak" Dewa Angus menggeleng. Ia memejamkan matanya sejenak, mengingat has akhir perang.
"—— Tidak ada yang menang saat itu. Tidak ada yang mampu berperang lagi dan kami semua berada dalam jalan buntu terkecuali satu dewa yang mengkhianati pantheon nya sendiri"
"... Dewa Darumias. Semuanya pasti tidak menduga perang akan berakhir seperti ini"
"Benar. Sesosok dewa penipu rendahan yang menjadi dewa terkuat nan pencipta. Awalnya semua orang menentangnya. Bahkan ketika ia memilih masuk pantheon Arumas, kami semua tercengang dengan tindakannya."
Sebagai seorang dewa, dewa darumias adalah dewa teraneh dan terunik. Semua dewa mengakuinya. Dia bermain kotor dan tidak mempunyai harga diri hampir setiap saat.
"Namun, kau tahu apa yang paling mengejutkan? Meskipun dia adalah dewa rendahan yang tidak seperti dewa-"
—— Dia adalah dewa yang paling mencintai dunia bawah dan segala yang ada di dalamnya.
"Darumias adalah sesosok dewa yang tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Ia selalu melakukannya untuk Liawes meskipun caranya kotor."
Sisinya itu membuat dewa-dewi Arumas menerimanya disebabkan oleh perasaan dasar yang sama. Sayangnya, ada satu pertanyaan yang tertinggal.
Tapi mengapa seorang dewa penipu ingin menjadi dewa pencipta? Aku yakin semua itu bukanlah sebuah tipu muslihat untuk rencana liciknya.
Apa yang terjadi di pantheon dan dunia lamanya? Aku tidak berada dalam posisi untuk mengetahuinya. Sebagaimana pun, aku tidak penasaran sama sekali.
Kurang lebih kini aku mengetahui mengapa aku dikirim ke Liawes. Dia menipuku dan Rumos untuk menyelematkan dunia ini. Itu cara yang kejam untuk melakukan sesuatu yang terpuji. Aku mengerti.
—— Tapi bukan berarti aku akan memaafkan dewa sialan itu karena telah menyiksa kami. Aku tidak bisa bersimpati padanya.
"Oh benar. Itu mengingatkanku Namsius"
Dewa Angus menepuk pundakku. Tersentak, aku tersenyum kaku dan mengiyakannya. Raut wajahnya yang ria menimbulkan suatu firasat buruk dari dalam diriku.
"Mari kita berpindah tempat. Ada beberapa tamu yang harus kujamu hari ini. Kau tidak keberatan bukan?"
Sial. Apa ini? Benakku mengatakan tidak tetapi mulutku tak bisa terbuka. Dia menekanku dengan presensi nya supaya aku menjawab iya. Dia berusaha memaksaku!
"T, Tidak terimakasih, aku-"
"Mengapa? Padahal para dewa-dewi lain sangat menantikan keberadaan mu dan kembaranmu"
"!!!.. Apa? Aku dan Rumos?" Tanyaku, kaget.
"Tepat sekali! Pantheon Arumas sangat menantikan kedatangan kalian. Sayangnya, Darumias selalu menjauhkan kami dari kalian sampai bahkan menyembunyikan kedatangan kalian ke dunia ini"
Sekitar beberapa dekade yang lalu, pantheon Arumas menemukan sebuah dunia baru tanpa pantheon. Setidaknya, hampir tidak ada tanda-tanda pantheon aktif disana. Ajaibnya, dunia tersebut masih berjalan dan hidup. Bumi— itulah namanya.
Pantheon Arumas terkejut sangat senang menemukan Bumi. Namun seakan-akan ada pembatas, mereka tidak bisa masuk dan memantau bagaimana kehidupan disana dari jauh. Penasaran, dewa Darumias adalah dewa yang mempelajari dunia tersebut paling lama sebelum memutuskan satu hal gila.
Yakni, mengambil nyawa 2 orang manusia dan membawanya masuk ke Liawes.
"Kalian berdua adalah hadiah darinya kepada dunia ini. Darumias menghadiahi kami dengan sesuatu yang paling mengejutkan. Kami sangat senang dan bersyukur kalian bisa datang kesini"
.
.
.
Entah mengapa perkataan gembiranya itu tidak membuatku senang. Diperlakukan sebagai alat dan piala kesuksesan mereka.
"Begitu ya? Kalian tampaknya mengenaliku baik karena telah mengamati manusia di dunia kami sangat lama. Aku pun penasaran bagaimanakah dewa-dewi disini."
Yah.. biarpun mereka tidak lah jahat— tak kenal maka tak sayang. Aku akan menilai mereka sendiri apakah mereka membahayakanku dan saudara-saudari ku. Terlebih lagi, ada kemungkinan Dante berada dalam bahaya.
"Aku tidak keberatan menemui dewa-dewi lain selama waktunya cukup"
—— Bukan dari para dewa. Melainkan seorang manusia bertopeng yang bersembunyi bagai kecoak.
...********...
Alice POV
Ini adalah hal paling gawat yang terjadi di akhir tahun. Tidak hanya ada orang yang mengetahui keberadaan adik-adikku, orang yang mengetahuinya adalah orang yang paling kubenci. Dia memanggilku dengan nama kotor itu. Aku mendoakannya cepat mati tahun depan.
Dia baik, ramah, hangat, dan peduli? Jangan bercanda! Orang sepertinya mempunyai divine protection dari dewa? Hei, apa takdir ini sebuah candaan? Bagaimana bisa orang sepertinya seorang pahlawan yang baik dan ramah? Aku tidak percaya ini. Dia adalah orang pilihan dewa?
.. Dewa? Pfft- sungguh konyol! Dewa? Mengapa dewa itu memberikannya semua itu?
——dewa sialan.
Dialah orang yang menghancurkan hidupku. Dia juga orang yang mencabut mataku dan merampas semua yang kumiliki.
Aku tidak akan memaafkannya begitu saja. Dia ingin berobat? Menggantikan mataku? Terserah, aku tidak buta lagi sekarang.
TOK, TOK, TOK..
Telingaku menangkap suara ketukan pintu. Aku menenangkan pikiranku dan membuka pintunya, menemukan Fonsius berdiri di depan sana sambil memainkan tangannya. Aku menanyainya apa yang ia perlukan.
"A, Alice.. ada sesuatu yang ingin kutanyakan," gumam Fonsius. "Tentang anak-anak Asa. Kau tahu sesuatu kan?"
"!!.. Darimana pertanyaan itu muncul? Apa guru barumu menyuruhmu menanyakan itu?"
Fonsius menggelengkan kepalanya. Mengatakan ia tidak memiliki banyak hubungan dengan Alfred, ia menjelaskan dia menanyakan pertanyaan ini karena sebuah alasan yang tidak bisa diberitahukannya.
"Bisakah kau memberitahuku? Mengapa anak-anak Asa adalah sebuah tabu untuk dibicarakan..? Apa kau benar-benar menemui mereka?"
Aku mengangkat alisku. Aku tidak menduga saat ini akan datang dimana ia akan menanyaiku secara langsung terang-terangan. Apapun alasannya, Fonsius tidak boleh mengetahui keberadaan Namsius dan Rumos.
".. Iya. Aku bertemu mereka dulu sekali. Mereka menyelamatkan ku dari Alfred. Mereka menintaku tidak membocorkan mereka karena mereka ingin hidup tenang"
"A, Aku mengerti.. Aku mempunyai pesan pada mereka apabila kau bertemu dengan mereka kapan-kapan"
Pesan? Dia mendadak ingin memberikan sebuah pesan? Ini pastinya bukan pesan miliknya. Apa Alfred yang menyuruhnya? Tidak. Fonsius mengatakan dia tidak dekat dengannya.
Siapa lagi yang mengetahui keberadaan anak-anak Asa?
"Pesan apa yang ingin kau sampaikan?"
.
.
.
"—— Beritahukan mereka bahwa ayah mereka masih hidup di kekaisaran runtuh jauh di timur"