I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 18: Jantung



Namsius POV


Aku berjalan kembali ke penginapan dengan Rumos. Hari ini hari yang memuaskan. Rencananya berjalan lancar. Tidak ada gangguan yang menghadang kami sejauh ini. Bonusnya, naga di Ibalion dapat makan setelah ribuan tahun lamanya.


"Oi, aku tidak mengerti mengapa kau sangat baik kepada naga tersebut. Apa itu karena kau ingin memenggal kepalanya di saat yang tepat makanya kau menurunkan kewaspadaannya?"


"Tidak. Itu ide yang kejam dan tidak berperasaan. Bermain dengan perasaan naga itu dengan simpati palsu dan kemudian membunuhnya begitu saja- Aku tidak mungkin melakukannya"


"Benarkah? Jadi apa rencana mu? Kau tidak akan berhenti tengah jalan dan tiba-tiba berubah pikiran dengan panik kan?"


Lirikan Rumos menusuk punggungku hingga kata-kataku tak bisa keluar. Aku membenci matanya yang melihatku seperti itu. Jangan menatapku dengan tatapan itu. Kau tahu, aku tidak senaif dan sebaik yang ia kira.


Aku juga bisa bermain kotor jikalau perlu. Aku ini seorang manusia- bukan malaikat. Tapi manusia tidaklah semuanya jahat dan menjijikkan. Diantaranya, pasti ada manusia yang baik sebab kami diciptakan dengan hati nurani.


—— Manusia adalah makhluk berdosa yang tidak diciptakan dengan tujuan untuk berbuat jahat dan dosa.


Walaupun kami ini makhluk munafik dan yang terburuk dalam sejarah, kami bukanlah makhluk yang hitam putih dan sesederhana itu. Buktinya, setiap manusia itu unik dengan kepribadiannya sendiri tetapi tidak lebih spesial dari yang lain.


Termasuk aku dan Rumos yang berbeda jauh personalitasnya.


"Namsius.. Bagaimana kau bisa sangat yakin dia adalah makhluk yang baik? Apa kau pernah memikirkan alasannya?"


"... Aku tidak pernah mengatakannya adalah sosok yang baik-"


"Bagaimana jika naga tersebut terperangkap disana karena alasan yang buruk dan kau baru saja membuat kesalahan fatal? Apa yang akan kau lakukan?"


"... Ada apa denganmu? Aku yakin aku tidak melakukan kesalahan apapun. Apa yang kau inginkan dariku? Kau punya alibi naga itu jahat?"


Rumos menggelengkan kepalanya, menghela nafas berat. Ia menghentikan langkah kakinya dan berbalik menghadapku dengan datar sembari mengatakan kata-kata yang tidak ku inginkan.


"Aku tidak ingin kita gagal. Itu saja. Aku hanya cemas. Apa itu sebuah masalah?"


Entah kalimat itu tulus dikatakan atau sekedar membuatku merasa bersalah, alisku berkedut sekali dengan tidak senang. Apa dia tidak percaya padaku sebegitunya?


Lagipula, semua makhluk di dunia ini pasti pernah melakukan kejahatan. Menunjukkan kebaikan pada yang membutuhkan, baik jahat atau baik, bukanlah sebuah kesalahan sebab sebaiknya kita mengasihani sesama daripada saling menancapkan pisau ke leher.


".. Itu tidak diperlukan. Kita sudah bersama-sama selama hampir 6 tahun dan pastinya masih tetap terjebak dalam 30 tahun ke depan."


"Haaa.. berkat dewa sialan itu. Kita terpedangkap dalam mimpi buruk ini."


Rumos tersenyum jengkel memikirkannya. Ia menyilangkan tangannya, memikirkan sesuatu yang tak bisa kutebak. Kakiku mengikuti langkahnya kembali berjalan menuju kamar penginapan sambil memandangi punggungnya.


Dilihat sekali lagi dari garis besar, hubungan kami bukanlah hubungan yang sehat dan tulus. Jujur, aku terkadang dia membuatku gelisah dan takut seberapa dekat kami sekarang ini. Hubungan kami bisa tegang kapan saja bagai bom waktu yang siap meledak.


Itulah bagian menakutkannya. Makanya, sebisa mungkin aku ingin menjaga jarak dan menjadi mandiri. Aku tidak ingin terlalu dekat dengannya. Aku tidak tahu apa yang Rumos pikirkan tentangku tapi aku harap aku tidak berada dalam radar berbahayanya.


Alasan mengapa aku selalu penurut dan mengapa aku mengikutinya adalah karena aku ingin membuat diriku merasa berguna dan agar menghindari pertengkaran yang tidak diperlukan.


"Nam, berjanjilah rencana ini akan sukses. Korbankan lah segalanya jikalau perlu demi penalti ini"


".. Nah, tidak akan. Aku tidak mungkin mengorbankan segalanya. Rencana ini akan sukses-"


—— Juga, kami tidak sedekat itu. Aku tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba memanggilku 'Nam'.


"Kau optimistis sekali. Jangan turunkan kewaspadaan mu. Akan ada masalah apabila kau melakukannya"


"!!!... B, Baik..?"


Aku menganggukkan kepalaku, merasa sedikit tidak nyaman. Yang tadi dia ucapkan tidaklah natural. Dia membuatku merinding sebentar.


Apa dia barusan mengancamku atau apa aku yang terlalu paranoid? Ada apa dengannya hari ini bertingkah aneh?


"Oh ya. Kau boleh memanggilku Ru. Kita akan terjebak di dunia ini kedepannya. Lebih baik kita bekerja sama dengan baik"


.


.


Tidak- Lupakan. Aku rasa ada isu dengan kami berdua. Memikirkan hal ini lebih jauh akan membuatku sakit kepala. Aku juga tidak jauh beda dengannya.


Mari kita fokus pada hal yang lain saja.


TAP, TAP, TAP..


"Hei, hei- bocah kembar. Darimana saja kalian? Apa kalian tahu kalian tidak seharusnya berkeliaran saat ini?!"


Aku melihat nona Dori berjalan menuju kami dengan hentakkan kaki yang kuat. Dia terlihat khawatir dan mengecek keadaan kami dari atas sampai bawah, memastikan kami tidak cedera.


Berbohong padanya, aku menjawabnya bahwa kami barusan pergi berkonsultasi tentang sihir dari Elf di sekitar. Ia mendesah lega, menepuk bahu kami sehabis aku memberitahukannya karangan cerita yang kubuat.


Tapi aku mengerti. Alasan mengapa dia sangat khawatir ada hubungannya dengan naga merah di kota ini tadi pagi. Sepanjang perjalanan kembali, telingaku menangkap banyak sekali Elf yang membicarakannya dengan cemas dan panik. Dikarenakan naga tersebut sangat raksasa, ada kemungkinan apabila ia dibebaskan akan berdampak besar.


Mungkin itu jugalah salah satu hal yang membuat Rumos meragukan rencana ku. Namun ini setidaknya lebih baik daripada langsung membunuhnya.


"Jadi apa yang mereka katakan tentang Mana kalian? Tidak ada yang instan di dunia ini jadi jangan menyerah."


"Uh.. Nona Dori. Sejujurnya, mereka mengatakan belajar sihir adalah sesuatu yang berada di luar kemampuan dan jangkauan kami"


"Sangat disayangkan. Bagaimana denganmu Dori? Aku dengar naga yang kemarin kita lihat mencoba membebaskan diri."


Dori meletakkan tangannya di pinggang, menjelaskan situasinya. Ia mengatakan untuk satu Minggu ke depan, semua penghuni kita Ibalion harus dievakuasi ke bawah gunung. Dikarenakan kota ini terletak dekat dnegan sarang naga, Dori diminta oleh walikota Ibalion untuk mengawal semuanya turun sembari menunggu bantuan dari pihak lain.


Aku tidak memperhitungkan sejauh itu dampaknya. Ini mengartikan kami tidak mempunyai banyak waktu lagi untuk mengambil jantung naga.


".. Oi, Nam. Apa solusinya sekarang?"


Solusinya? Oh itu mudah.


"Tetap lakukan sesuai rencana. Kita tidak perlu melenceng dan bimbang hanya karena sebuah masalah kecil. Prioritas kita tidak berubah"


...********...


Etty POV


Aku mendengar suara langkah kaki mendekati guaku. Aku pergi ke depan rantai yang membatasi depan gua dan melihat 2 anak kecil itu datang lagi. Ini adalah hari ketiga mereka datang kemari. Lebih tepatnya kunjungan ke-16 mereka.


Badan mereka kecil, jadi mereka bisa keluar masuk dengan mudah. Rantai tersebut mengurung dan mengikatku agar aku tidak bisa keluar.


Sama seperti biasa, mereka melakukan rutinitas aneh mereka di depanku. Mereka akan memasak makanan yang mereka bawa, menyiapkan piring, dan menghidangkanku makanan lezat yang menggiurkan.


Sehabis itu, mereka akan ikut makan bersamaku di dalam gua setelah aku menyantap makananku. Apabila aku tidak melakukannya, mereka akan memaksakan diri mereka untuk ikut kelaparan.


Makanan mereka selalu mengenyangkan ku dan memuaskan rasa laparku. Itu adalah makanan terbaik. Bonusnya, aku bisa memakan makanan mereka 5 kali dalam sehari setidaknya.


Hal ini berlanjut tetap berlanjut, besok, besok, dan besok lagi, hingga satu Minggu berlalu. Selain makan bersama, kami tidak pernah berkomunikasi atau bertukar informasi.


Bukannya aku mempercayai mereka atau apapun itu. Mereka tidak terlihat mencurigakan dan berbahaya. Jadi aku tidak terlalu peduli apakah mereka ada disini atau tidak.


Sayangnya, ini canggung. Aku tidak ingin terus menerus begini. Membunuh manusia bukanlah pekerjaan yang sulit.


Tapi bukankah itu menyedihkan bagi seekor naga untuk membunuh anak manusia yang kurus kering seperti mereka?


TAP, TAP, TAP..


"Selamat sore, naga. Kami sudah datang!"


Hari ini juga, mereka datang pukul 5 sore untuk memasakkan ku makanan. Sesuai keseharian, kami makan bersama dan mengenyangkan perut kami.


Tetapi berbeda dengan hari kemarin, kali ini aku tidak membiarkan mereka pergi begitu saja seusai makan sore.


Aku tahu mereka ingin menyampaikan sesuatu padaku. Berdiam diri bagi kedua pihak tidak akan membantu kami bukan?


"Wahai anak manusia, ikutlah denganku"


"!!!.. U, Uh.."


Tanpa berlama-lama menunggu respon mereka, aku langsung menarik mereka ke dalam gua yang gelap dengan ekorku sebab mereka terlalu linglung untuk menjawabku. Aku tidak yakin kesadaran mereka sekarang berada di tempat yang seharusnya.


Sayangnya, aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku tidak menyukai makhluk yang bertele-tele. Aku tidak ingin menunggu waktu sebulan lebih hanya untuk mereka membuka diri padaku.


Aku akan memaksa mereka menyampaikan apa yang mereka ingin katakan.


"Wahai anak manusia, lihatlah ke depan. Kita sudah sampai"


"!!... E, Eh?"


Kedua anak kecil tersebut tertegun dan kembali tersadar sewaktu aku membawa mereka ke tempat paling terang, yakni ujung gua ini. Mereka membelalakkan mata mereka, ternganga dengan apa yang mereka lihat disana.


Itu tidak mengejutkan sama sekali. Setiap manusia yang melihatnya pasti akan terkejut.


—— Aku membawa mereka pada tempat yang paling banyak dicari manusia yang serakah. Tempat harta karun Elf yang berlimpah emas dimana-mana.


".. Uh.. T, Tuan naga.."


"Wahai anak manusia, diam dan dengarkanlah. Beritahukan maksud kedatangan kalian kemari. Jangan membuatku menunggu terlalu lama"


...*********...


Namsius POV


Ribuan tahun yang lalu, seekor naga merah sekaligus pemimpin para naga tanpa sengaja melintasi perbatasan wilayah Elf. Membuat kepanikan, para warga Ibalion mengira sang naga hendak menyerang mereka.


Mereka tidak salah sebab di tempat pertama sang naga merah memang ingin mendominasi wilayah tersebut. Akibat gunung merapi yang meletus bertahun-tahun lalu, sang naga hampir kehilangan tempat tinggal dan melakukan ekspedisi mencari habitat baru.


Namun, sang naga merah tidak bermaksud merebut paksa wilayah Elf. Ia ingin bernegosiasi dengan bangsa tersebut yang menurutnya wilayah lokasi tersebut sangat cocok untuk para naga. Sebaliknya, para Elf yang salah menginterpretasi maksudnya malah mengurungnya di dalam gua.


Naga merah yang diceritakan tidak lain adalah naga merah yang berada di depan kami—— Etty.


.


.


Haaa.. sungguh nama yang buruk. Siapa di dunia ini yang memiliki ide untuk menamai karakter naga merah gagah, terutama pemimpin dari para naga-- Etty?


"... Tuan Etty. Kami minta maaf karena telah merepotkan anda. Kami tidak bermaksud bertindak mencurigakan"


"Tidak masalah. Aku tahu kalian tidak mempunyai niat buruk. Siapa nama kalian?"


"Ah, anda boleh memanggilku Namsius dan kembaran ku Rumos. Kami berasal dari Asa"


Tuan Etty menganggukkan kepalanya. Wajahnya tampak berseri-seri saat kami berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa naga. Aku merasa Dejavu ketika memandangi ekspresinya.


Dia mengingatkanku akan 2 penjaga Elf yang tersenyum gembira. Apa dia merasakan hal yang sama dengan Elf penjaga gerbang?


Wow, aku rasa siapapun yang menjadi penerjemah disini akan sukses besar. Mereka pasti akan dibayar tinggi dan disenangi semua orang.


"Hmm, jadi kalian berasal dari Asa ya? Apa tempat itu masih tandus dan gersang? Dari ingatanku ribuan tahu lalu, tempat tersebut sangat kumuh dan tidak terawat"


!! Oh, tuan Etty tahu tentang Asa?


".. Tempat tersebut telah tenggelam dan berubah menjadi danau sekitar 3 tahun yang lalu. Kami terkejut tuan Etty mengetahui tempat itu"


"Yah, aku pernah beberapa kali melewati wilayah Phari dan Asa. Tidak banyak yang bisa kukatakan tentang wilayah tersebut sejujurnya. Asa telah ditakdirkan untuk tenggelam dari dulu"


Aku dan Rumos melirik satu sama lain. Ini mengartikan dari awal kami memang akan diusir dari Asa cepat atau lambat. Mendesah panjang, Rumos menceritakan lebih lanjut tentang Asa yang kini berubah menjadi danau Noro dan alasan mengapa kami ke Ibalion.


Ia tidak berbohong dan menjelaskan terang-terangan tentang Sarah dan sirkus Danija. Satu-satunya kebohongan yang ia beritahukan hanyalah alasan mengapa kami membutuhkan jantung naga supaya mendapatkan simpati tuan Etty.


".. Jadi kalian membutuhkan jantungku untuk mengobati seorang teman kalian?" Tanya tuan Etty, memastikan jawaban kami.


"Iya. Tapi.. kami tidak ingin anda mati," jawabku dengan ragu. Aku tidak berbohong saat aku mengatakan aku tidak ingin ada yang mati.


Aku ingin menyelesaikan semuanya tanpa perlu pertumpahan darah. Aku tidak ingin naga ini mati demi penalti kami. Itu akan membuatku benar-benar marah dan kecewa pada dewa Darumias dan dunia ini apabila begitu.


"Hmm, kematian ya?" Gumam tuan Etty dengan nada yang datar. "Pfft- HAHAHAHA HAHAHA!!!"


!!! D, Dia tertawa?


"Itu tidak mungkin terjadi. Aku mempunyai 4 jantung. Memberikan satu untuk kalian itu bukan sebuah masalah. Masalah lebih besar adalah jika ada orang yang ingin mengambil kepalaku"


EEEEEHHH?!!! 4 JANTUNG?!!


Kakiku menjadi lemah dari rasa syukur dan lega. Rumos yang berada di sampingku tersentak kecil ketika aku teduduk di tanah. Dia tersenyum jengkel, membantuku berdiri sementara tuan Etty tertawa terbahak-bahak karena reaksiku menghiburnya.


Etty mengeluarkan jantungnya dari mulut dan menyuruh Rumos menangkapnya. Wajahku memucat dan tanganku gemetaran dari rasa ngeri dan jijik ketika menyadari jantung tersebut masih berdetak kencang di luar tubuhnya.


Untungnya aku dapat menenangkan diriku secepatnya dan bergegas memberikan Rumos sebuah toples kaca, sebelum memasukkannya ke ruang penyimpanan.


"I, Itu pertama kalinya aku melihat sebuah jantung dari dekat."


"Ew, menjijikkan. Aku tidak tertarik dengan jantung yang bisa hidup diluar tubuh di udara terbuka"


TING-


Aku mendengar suara notifikasi dan melihat kelinci utusan dewa Darumias muncul di depanku. Dia memberikan sebuah acungan jempol sambil tersenyum lebar dan memberikan kami sebuah hadiah kecil.


[PENALTI SUKSES!! SELAMAT!!


Kanselir dunia alam bawah sadar memberikan kalian hadiah di ruang penyimpanan. Sebuah senapan tahan sihir yang tidak perlu peluru untuk menembak bagi masing-masing kalian.


Kanselir dunia alam bawah sadar memuji kalian. Si kembar, kalian lulus ujian!!]


... Hah? Ujian? Bukankah kami terkena penalti? Mungkin keduanya?


Rumos mengerutkan keningnya melototi Whisly. Belum sempat ia mengatakan apapun, ia langsung disela kelinci putih itu dengan suara lonceng yang membuatnya tak bisa bersuara.


[Kanselir dunia alam bawah sadar menyuruh kalian fokus. Selesaikan kasus ini dengan tuntas]


Aku mengedipkan mataku 2 kali seketika Whisly tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Waktu yang tadinya serasa berhenti sejenak, kini telah berubah normal. Aku tidak mengerti apa yang dimaksudkan Whisly sama sekali. Apa kami memiliki misi tersembunyi?


"Ada apa?" Tanya tuan Etty membuat kami tersentak


"!! Ah, maaf. Kami sedikit.. terkejut. Tapi kami sangat berterimakasih," jawab Rumos.


Tuan Etty merespon kami dengan sebuah anggukan kecil. Ia tersenyum lega dan lembut pada kami, membuatku menyadari bahwa dia tidak hanyalah naga yang baik.


——Tetapi seekor naga tulus yang layak menjadi pemimpin para naga melainkan namanya yang konyol.


Aku.. ingin melakukan sesuatu untuk membantunya. Rumos pasti tidak memperbolehkan ku.


"... Em, tuan Etty," panggilku dengan suara yang paling kecil.


"Ada apa? Kau terlihat gelisah Namsius"


Etty tersenyum tipis, mendekatiku. Sudah kuduga dia adalah naga yang lembut. Dia tidak ganas seperti kata Dori.


..


....


........ Lupakan. Aku akan menyelamatkan naga ini bagaimanapun caranya. Bangsanya sedang menunggu kepulangannya.


"Sebagai balas budi kebaikan anda, kami akan membantu anda keluar dari sini sekarang juga"


Aku tidak bisa membiarkannya mati hari ini. Aku akan membebaskannya sebelum Dori tiba di gua malam ini.


—— Aku akan memastikan naga merah ini dapat terbang di langit biru lagi sampai akhir hidupnya.