I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 19: Pembebasan



Rumos POV


Hari ini adalah hari dimana semua penghuni kota Ibaliln berhasil diungsikan ke kota tetangga. Kabarnya, Dori dan rekan-rekannya yang akan tiba kemungkinan beberapa jam dari sekarang akan memenggal kepala naga malam ini.


Harusnya ini tidak ada masalahnya dengan kami karena urusan penalti sudah diselesaikan dnegan sempurna.


Tapi..


"Sebagai balas budi kebaikan anda, kami akan membantu anda keluar dari sini sekarang juga"


Haaa... anak sialan ini-- bisakah dia untuk sesaat tidak mengacaukan segalanya? Apa dia serius tidak mendengar kata Dori?! Jika dia melepaskan naga ini, maka Ibalion-


"Apa kalian bisa?"


"Iya- Kami bisa! Percaya saja pada kami"


Ugh, aku membenci ini. Mengapa dia tidak sesekali tidak melenceng dari apa yang seharusnya?


Apa ada untung kami melakukan semua ini?!


"Nam, kau keterlaluan! Ini tidak apa yang kita sepakati- Kau berjanji kau hanya akan memprioritaskan aku dan dirimu sendiri!!"


"Maaf, ini harus dilakukan. Kita belum menuntaskan masalah naga Ibalion ini hingga tuntas"


"Ugh, kau-"


Aku menarik Namsius mendekat ke arahku dan memukul kepalanya. Dia membuatku frustasi dan kesal. Dia tidak ingin mendengarkan ku sama sekali. Aku tidak percaya padanya. Dia telah mengkhianati ku berkali-kali.


Walaupun dia sudah berjanji terus menerus, aku harap dia bisa berhenti membawakan masalah padaku. Apa sebaiknya aku membuangnya saja?!


.


.


Haaa.. Tidak. Itu tidak akan berhasil. Aku tidak ingin melihatnya lebih bahagia daripada ku. Dia masih harus bergantung padaku. Kami ini satu set. Kami ini kembar yang setara.


—— Aku tidak bisa membuangnya. Dia masih memiliki kegunaan untuk difungsikan.


".. Baiklah, Nam. Aku akan menoleransi kan dirimu. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?"


...********...


Author POV


Namsius dan Rumos mendaki sebuah gunung salju yang jauh lebih tinggi dan dingin daripada kota Ibalion. Sesudah mengosongkan satu gua tersebut tanpa sisa ke dalam ruang penyimpanan mereka, termasuk Etty si naga merah.


Kini mereka dalam perjalanan menuju puncak gunung tertinggi di daerah setempat dimana seekor naga perak terperangkap disana. Sama seperti Etty, naga tersebut telah terperangkap di dalam sana selama ribuan tahun jua.


Sebagai balas budi bantuan sang naga merah, Namsius dan Rumos membebaskan Etty dari gua yang mengurungnya. Seharusnya itulah yang mereka lakukan. Namun, saat Etty menceritakan tentang salah satu temannya yang terkurung di puncak gunung-


"Tsk, Nam. Kau sungguh tidak waras."


"Aku waras. Aku hanya melakukan ini demi bangsa naga dan kebaikan kita?"


"Kau.. tahukan pastinya tidak ada yang gratis di dunia ini? Semuanya ada bayarannya. Bahkan kebaikan sekalipun"


—— Namsius memutuskan untuk membantunya membebaskan teman Etty, mengakibatkan kepalanya di pukul sekali lagi oleh Rumos.


"Aku tahu. Tidak setiap hal akan selalu berjalan sesuai keinginan kita tapi tidak ada salahnya seseorang berbuat kebaikan di dunia ini."


"Nam, aku benci mengatakan ini tapi kau adalah bukti nyata betapa tidak adilnya dunia ini. Niat baikmu dan semua yang telah kau lakukan dengan setulus hati tidak pernah mendapatkan balasan yang sepantasnya"


Kaki Namsius berhenti sebentar seketika tangan Rumos mencengkeram kerahnya. Ia menatap Rumos yang melototinya dengan datar.


"Apa aku pikir kita akan bertemu dengan naga itu lagi? Apa yang akan kita dapatkan dari ini?! Apa kau sadar kita hanya membuang waktu kita disini?"


"Lalu? Baik ada bayaran, untung, maupun imbalan, itu urusan belakangan. Aku tidak melakukannya untuk semua itu. Apakah untuk berbuat baik harus memperhitungkan semua hal merepotkan itu?"


"!!!.. Kau tidak mengerti tentang dunia ini sama sekali- Apa kau tidak pernah menyesal melakukan semua ini?!"


Rumos menguatkan kepalan tangannya. Ia tidak berniat memarahi Namsius. Namun jawaban dan respon yang diberikan kembarannya tidak sesuai harapannya. Malahan, jawaban tersebut memancing amarah dari sebuah ingatan yang tak ingin ia ingat.


Namsius mengangkat alisnya, tertegun melihat ekspresi Rumos. Ia tidak bisa berkomentar tentang perasaan campur aduk yang ditunjukkan saudaranya. Jantungnya berdetak sekencang suara gong Whisly. Dia merasakan simpati dan ketakutan yang tak bisa di deskripsikan.


Menepis tangannya menjauh, ia memeluk saudaranya dan menenangkannya agar suasananya tidak menegang terlalu jauh.


".. Maaf. Aku rasa aku akan lebih menyesal apabila aku tidak melakukan apapun. Inilah yang terbaik yang bisa kuberikan. Aku tidak peduli ganjaran yang akan kudapatkan."


"... Kau keras kepala. Mengapa kau bersikeras sekali?"


"Aku tidak tahu seberapa menyedihkan hidup seseorang untuk melakukan kebaikan demi imbalan. Menurutku akan lebih menyedihkan apabila kita tidak membantu apapun meskipun tahu situasinya."


Rumos menundukkan kepalanya, menghela nafas panjang. Ia mendinginkan kepalanya di pundak Namsius sambil menjaga emosinya agar tidak kelewatan batas. Ia kelepasan diri selama beberapa saat.


Berterimakasih pada Namsius yang menenangkan, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka untuk sampai ke puncak gunung.


"Haaa.. kita sebaiknya pergi saja. Sebentar lagi kita sampai di puncak. Mari kita selesaikan apa yang kita mulai"


...*********...


Namsius POV


Kebaikan.. Apa itu salah aku melakukannya? Apa itu salah aku menghindari pertengkaran?


Aku tidak pernah memikirkan sesuatu yang tidak penting seperti itu. Jawabannya sudah jelas berada di depan mata. Itu aneh bagaimana Rumos tidak mengerti hal semudah ini.


Aku tidak mengerti pola pikirnya. Aku tidak tahu apa yang ia lalui dalam hidup sampai ia bisa berpikiran menyedihkan nan kacau.


Apa itu yang membuatnya melakukan kejahatan? Hidupnya? Pola pikirnya? Cara ia menangani masalah?


...—— Itu tidak penting. Apapun latar belakangmu dan masalah hidupmu, kejahatan yang telah kita lakukan tidak bisa dibenarkan sama sekali....


Itulah yang kupelajari dari sejarah hidupku. Tidak akan ada alasan yang dapat membuat dosa tersebut benar. Aku mengerti dunia ini lebih dalam daripadanya.


Dalam satu titik di kehidupanku yang sebelumnya, aku menyadari hukum karma berlaku di manapun kita berada.


Benar apa yang Rumos katakan. Semua yang kita lakukan pasti ada bayaran dan balasannya. Termasuk kebaikan itu sendiri. Hanya saja kita tidak tahu kapan hal tersebut akan terjadi.


...—— Sayangnya yang tidak semua orang ketahui adalah bagaimana karma tidak memihak pada yang jahat ataupun yang baik. Karma itu adil. Apa yang kita lakukan akan kembali pada dirimu sendiri....


Contohnya adalah rasa penyesalan yang akan menyiksa apabila aku tidak membantu tuan Etty membebaskan temannya.


Makanya, setiap langkah yang kami buat pasti akan dibalas sesuai apa yang seharusnya. Kejahatan dan kebaikan yang kubuat pasti akan menerima balasannya suatu hari nanti. Dan ini berlaku untuk saudaraku juga.


TAP, TAP.. TAP!!


"Nam, kita sudah sampai"


Aku dan Rumos akhirnya sampai di tempat tujuan. Pandangan kami langsung tertuju pada sosok naga raksasa yang dirantai lehernya. Naga tersebut menyadari keberadaan kami sesaat kami menginjakkan kaki di puncak gunung tertinggi di sekitar Ibalion.


Belum sempat kami mendekatinya, ekor naga perak tersebut menepis kami dengan kuat-- hampir membuat kami terjatuh dari gunung. Syukurlah, aku dan Rumos berhasil bertahan di tepi dan menjaga keseimbangan kami agar tidak jatuh. Akan tetapi, tulang kami remuk semua sampai kami tidak bisa bergerak saking kuatnya ayunan ekor tersebut.


Kami benar-benar beruntung kami memiliki sistem Auto-heal yang mengobati kami ketika berada di ambang kematian. Namun itu tidak mengurangi rasa sakit yang luar biasa.


"S.. Selamat malam, Sil. Maaf mengganggu anda tengah malam begini," jawab Rumos sambil menahan rasa sakit di satu tubuhnya.


Nona Sil si naga perak tersentak dan mengeluarkan aura mengancam pada kami yang mengetahui namanya. Ia menjadi SUPER was-was sampai kami tidak mempunyai pilihan lain selain mengeluarkan tuan Etty dari ruang penyimpanan untuk menjelaskan semuanya.


Nona Sil terkejut saat melihat tuan Etty muncul tiba-tiba di depannya dan menanyakan apa yang terjadi. Ia melebarkan matanya tidak percaya melihat temannya yang terbang tinggi di langit malam setelah ribuan tahun lamanya.


Dipertemukan kembali melalui reuni tidak terduga, ia meneteskan air matanya dan memanggil nama temannya berkali-kali dengan penuh kerinduan.


"Ah, ah.. K, Kemana saja.. kau, Etty..? S- Selama ribuan tahun.. terakhir.. aku- aku..."


"Sil, aku mengerti. Kita berdua telah melalui nasib yang sulit. Berkat anak-anak manusia ini, aku bisa bertemu denganmu saat ini"


Nona Sil memandang kami dengan mata yang berair. Dia berterimakasih dan meminta maaf pada kami tanpa ragu karena telah membebaskan tuan Etty. Kesungguhan dalam kata-katanya membuatku terkesan atas kesetiaannya dan dedikasinya pada tuan Etty. Sebaliknya, tuan Etty juga tulus ikhlas dalam persahabatannya.


Itu menakjubkan melihat persahabatan mereka yang bertahan selama ribuan tahun. Aku harap persahabatan tersebut abadi sampai akhir. Aku tidak ingin mereka berakhir sepertiku dan Rumos.


Untuk sekarang, hanya ada satu hal yang menghalang persahabatan mereka.


KLANG!!


"!! Sil, apa kau baik-baik saja?!"


"Iya. Jangan cemas. Rantai ini tidak memiliki sihir apapun selain mengekang ku di gunung ini"


Aku mengamati rantai yang mengikat nona Sil dark leher hingga kakinya. Rumos mengerutkan keningnya, mengeluarkan ******* frustasi yang melelahkan. Aku mengerti mengapa dia merasa pusing.


Secara literal, rantai tersebut terbuat dari bahan terkuat di dunia Liawes. Tentu saja akan sulit memikirkan solusi untuk memutuskan rantai tersebut.


"Namsius, Rumos, apa ada yang bisa kalian lakukan dengan rantai ini?"


Tidak satupun solusi muncul di kepalaku. Terkecuali 2 solusi ekstrim yang kami tidak ingin kami gunakan sebab konsekuensinya tidak kami ketahui, aku pikir solusi ini satu-satunya yang tersisa.


".. Em, apa rantai ini bisa diputuskan dengan pedang Valois?"


"!!! Kalian mempunyai pedang Valois?!" Tuan Etty dan nona Sil bertanya diwaktu yang bersamaan. Mereka ternganga dan bertukar tatapan dengan satu sama lain, tidak percaya dengan apa yang kami dengar.


"Kami memilikinya. Sayangnya, kami belum pernah menggunakannya," jelas Rumos.


Itulah alasan mengapa kami tidak ingin mengambil resiko ini. Jadi jelasnya kami akan mengguankan solusi ke-dua.


—— Menggunakan senjata api yang diberikan Whisly.


Rumos mengeluarkan 2 senapan panjang nan besar. Warnanya hitam pekat dan terlihat sangan berbahaya. Memberikan satu padaku, aku mengacungkan senapa tersebut dnegan hati-hati ke arah rantai di kaki nona Sil sementara Rumos mengarahkannya pada rantai di lehernya.


Sebagai pengetesan dan penyesuaian, aku mencoba menembak ke atas. Sebuah cahaya emas melesat cepat, membelah langit malam. Senapan ini ternyata tidak menembakkan peluru, melainkan sebuah cahaya yang bukan sihir ataupun Mana-- sebuah material yang tidak berada dari dunia ini.


Jangkauan tembak senapam tersebut sangat luas. Tidak peduli seberapa jauh dan benda apa yang menghadangnya, senapan ini mampu menembus semua itu tanpa bersuara.


"Menakjubkan. Aku rasa ini hadiah Natal pertama kita di dunia ini"


"Nam, di dunia ini bahkan tidak ada yang namanya Natal karena Messiah sang Juru Selamat tidak lahir di dunia ini"


"Tidak masalah. Aku akan menganggap ini sebagai hadiah awal Natal saja"


Rumos tersenyum masam, menyuruhku fokus. Aku kembali menodong senapanku ke rantai. Mengikuti aba-aba Rumos, aku menarik pelatuk dan menembak sebanyak 3 kali supaya rantainya benar-benar putus.


Aku mundur beberapa langkah kebelakang dan menenangkan tanganku sehabis memegang senapan. Sesuatu dalam diriku masih tidak terbiasa dan menolak menggunakan senjata. Walaupun ini sudah yang kesekian kalinya aku mengangkat sebuah senapan, entah mengapa tubuhku tetap saja gemetar dan kaku.


WHOOSH!!!


Angin kencang berhembus seketika nona Sil membentangkan sayapnya. Aku dan Rumos segera bersembunyi di belakang sebuah batu besar agar kami tidak terkena dampak dari angin yang bisa menghancurkan satu kota Ibalion. Terbang tinggi bersama temannya, ia dan tuan Etty berterimakasih pada kami.


"Namsius dan Rumos dari Asa-- terimakasih. Aku harap kalian menjaga bagian dari diriku yang kuberikan pada kalian"


...*********...


Author POV


Si kembar melambaikan tangannya pada 2 naga yang terbang menuju cakrawala. Tanpa mereka sangka, pertemuan mereka dengan bangsa naga berlangsung singkat tanpa pertumpahan darah. Hanya keringat dari kerja keras mereka lah yang bercucuran.


Walaupun pertemuan ini didasarkan atas rasa kepercayaan akan satu sama lain bukan pertemanan, kedua belah pihak berhasil menyelesaikan tujuan dan mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan tenang.


"Haaa.. Ini sungguh melelahkan. Kini kita harus turun dari gunung lagi"


"Kita sebaiknya berisitirahat sebentar dulu"


Namsius duduk di tanah, tersenyum tipis. Ia senang penalti mereka sudah beres. Akan tetapi, sesuatu dari dirinya merasa janggal.


Kali ini, ia bernasib baik ia tidak perlu mengotorin tangannya dengan darah naga. Namun dalam situasi terpaksa, ia bertanya-tanya apakah dia sanggup membunuh naga yang memberikannya jantungnya dan tidur nyenyak malam ini?


"Nam, apa yang kau pikirkan?"


"Cuman.. sesuatu yang tidak terlalu menyenangkan. Ini.. tentang ujian Whisly"


"Oh, dia? Kelinci itu memang aneh. Aku bahkan tidak tahu dia menguji kita dan apa motif dibaliknya.


...********...


Whisly POV


Pertama kali kanselir ini melihat anak kembar yang dikirim Darumias ke dunianya, kanselir ini langsung mengetahui ada yang salah.


Dewa Darumias selalu benar. Ini bukan pertama kalinya dia mengirim seseorang dari dunia lain ke dunianya. Ada yang menjadi pahlawan dan ada pula yang menjadi raja atau bangsawan.


... Tapi pembantu? Asistennya pahlawan? Warga miskin?


Semua orang yang dia kirim pasti kebanyakan terlahir kembali sebagai bangsawan atau anak dari keluarga yang mencukupi.


Baru kali ini kanselir ini melihatnya mengirim seseorang menjadi anak miskin yang sebatang kara. Keberadaan mereka juga tidak boleh diketahui oleh pahlawan utamanya, Fonsius.


Hidup mereka sengsara juga dan sangat berantakan. Mereka hidup dengan cara yang kotor.


—— Bagaimana bisa mereka membantu pahlawannya? Secara rasional dan logika itu mustahil. Situasi mereka sangat sulit.


Ketika kanselir ini menanyakannya, dewa Darumias hanya mengiyakan ku dan tersenyum manis. Dia terlihat senang dengan situasi mereka. Apa ini hukuman bagi mereka?


Tidak- memang benar jikalau Fonsius tidak ada yang membantu untuk memandu nya, dunia bisa hancur.


Namun, ini juga salah. Apa dewa Darumias... sengaja menyiksa warga yang tidak bersalah? Apa mereka jahat?


Kanselir ini mengetes mereka sendiri. Disisi siapa ia harus pilih, itu tergantung hasil ujiannya.


—— Dan sesuai yang kuduga, mereka tidak bersalah di hadapan dewa Darumias. Mereka masih ada sisi baik dan mereka hanya sangat putus asa.


Kanselir ini sudah melihat hasilnya. Meskipun ini mungkin ujian untukku atau mungkin orang lain, melihat seseorang menderita seperti itu sangatlah tidak pantas.


Apalagi setelah dilahirkan kembali dan tidak masuk ke tempat orang mati.


".. Maafkan saya ini dewa Darumias. Saya sudah memilih disisi mana saya akan berdiri"