I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 13: Belanja



Namsius POV


Pemandangan malam hari di kota kecil baik besar di dunia ini tidak sesuai ekspektasiku dengan dunia fantasi. Bukan berarti aku kecewa. Tempat ini sebenarnya tidak lebih baik daripada dunia asalku.


Mengingatkanku akan beberapa kenangan lama yang kusimpan dalam-dalam. Baru kusadari selama ini menyimpan ingatan tentang dunia pertamaku lebih menyakitkan daripada yang diceritakan di novel-novel.


Ada perasaan rindu, sedih, bertanya-tanya dan berandai-andai yang tak bisa ku jelaskan. Aku ingin sekali saja pergi ke dunia tersebut lagi.


Bagaimana kabar rekan kerjaku? Apa murid-murid di sekolah ku tumbuh dengan baik sekarang? Apa semua orang disana bahagia dan sehat-sehat saja?


Mereka menyadari aku sudah tiada kan?


Apakah ada yang menangis untukku? Apa ada yang menunggu kepulangan ku? Apa ada yang merindukanku setelah aku mati?


Maaf, aku tidak bisa bersama kalian. Aku juga tidak ingin mati. Aku ingin melihat murid-murid ku tumbuh besar. Aku yakin rekan kerjaku akan kecewa setelah mendengar apa yang kulakukan di dunia ini. Aku harap mereka bisa memaafkan ku.


Aku...


"Oi, bisakah kau tidak melamun? Emosional mu kambuh lagi?"


... Harap aku tidak mati hari itu.


"Haa.. sedikit. Aku baik-baik saja. Jangan dipikirkan. Hari ini kita sukses besar. Jadi bersukacitalah!"


".. Kau tidak terdengar seperti orang yang senang. Jangan paksakan dirimu apabila kau sudah-"


"Ayolah, jangan katakan itu padaku. Tersenyumlah! Mari kita rayakan keuntungan besar ini!!"


Aku merangkul pundak Rumos, membujtikan aku baik-baik saja dengan menjawabnya senormal mungkin. Lagipula, ini tidak seperti dirinya yang biasa. Dia tidak pernah sekhawatir ini.


Yah.. mungkin ini berita baik karena hubungan kami semakin dekat.


Hari ini adalah hari yang baik. Kami mendapat 71400 koin emas hari ini. Bukan jumlah yang terlalu sedikit maupun besar. Jadi pastinya hari ini aku tidak ingin mengacau dengan berpikir negatif.


"Haaa.. terserah. Kau memang tidak bisa diduga orangnya. Aku tidak tahu kau bisa berjudi. Kupikir kau hanya guru TK biasa yang baik seperti malaikat."


"Eh?! Itu kan hanya pekerjaanku. Keberuntungan memang selalu di pihakku ketika berjudi. Aku penasaran bagaimana kau melihatku sampai sekarang ini"


"Aku tidak melihatmu bagai sosok suci hanya karena kau seorang guru TK. Kau tidak lebih rasional dan sering terbawa perasaan"


Rumos menyikutku main-main. Dia tidak sedingin dirinya yang dulu dan tidak perlu memgawasiku terus menerus. Dia terlihat lebih santai dan senang hari ini.


Kami akan segera pergi ke Ibalion sesuai taruhannya. Setelah itu, kami tidak memiliki rencana untuk kembali ke sirkus tersebut lagi. Kami tidak ingin membuat sukses ataupun menjadi dekat dan bermain ramah dengan mereka yang telah menyiksa kami.


Kami berencana untuk membuat mereka membayar apa yang telah mereka lakukan. Tapi masalah ini akan kami urus nanti setelah kami pergi ke Ibalion.


"Oh ya, kita akan kemana sekarang? Kau belum memberitahuku."


"Kita akan ke toko senjata. Jaga-jaga kita akan membeli senjata dari dunia ini juga"


Rumos membawa ku ke sebuah toko senjata kecil di tepi jalan. Toko tersebut sepi dan berdebu seolah-olah tak pernah dibersihkan sama sekali. Tidak sesuai ekspektasi ku dan sedikit mengecewakan.


Di depan kasir toko, seorang kakek tua menyapa kami dengan gelak tawa. Penampilannya terlihat ramah dan berwibawa bak orang bijak. Ia tidak mengusir ataupun membeda-bedakan kami meskipun kami ini anak kecil yang bau comberan.


"Ada yang bisa kubantu, anak muda? Maaf sedikit berdebu. Tidak banyak yang datang ke toko ini belakangan"


"Tidak masalah. Apa anda pemilik tokonya?" Tanya Rumos, melihat ke sekelilingnya


"Iya. Datang untuk mengagumi pedang? Biasanya ada anak-anak seperti kalian yang datang kemari. Kalian tertarik untuk mengayunkan satu?"


Aku dan Rumos menggeleng. Kami tidak mempunyai banyak waktu sebab kami tidak boleh ketahuan oleh yang lain. Menjelaskan intinya, sang pemilik toko menggosok kumisnya dan mengajak kami ke sebuah ruangan yang terkunci rapat dengan puluhan gembok


Aura yang dikeluarkan ruangan tersebut sangatlah mengerikan dan membuatku bergidik. Bagai sesosok monster terkurung di balik pintu tersebut, sekujur tubuhku menolak untuk masuk ke dalam sana.


"Apa kalian takut? Kalian masih mempunyai kesempatan untuk berbalik pergi"


"... W, Walaupun begitu kita harus tetap masuk ke dalam kan? S, seseorang.. kenalan kami membutuhkan s, senjata untuk mengambil jantung naga di Ibalion," jawabku, menguatkan diri. Sang pemilik toko tersenyum lebar, menepuk kepala ku sebelum menjelaskan tentang naga yang kami bicarakan di Ibalion.


Kononnya, di Ibalion terdapat seekor naga yang terkurung dalam gua. Bukan sembarang naga tetapi naga merah yang merupakan pemimpin bangsa naga. Dia bukanlah naga yang ramah dan suka mengancam Elf disekitar. Belakangan ini naga tersebut sering mengamuk sehingga bangsa elf bersedia memberikan harta mereka yang berada di gua tersebut pada siapapun yang berani memenggal kepala naga.


Woah, itu terdengar sulit dan hampir mustahil bagiku. Jikalau bangsa Elf saja tidak mampu mengalahkan naga, apa ada kemungkinan 0.1% anak manusia seperti kami bisa?


"Permisi pak, berapa persentase seseorang bisa mengalahkan naga merah itu?" Tanya Rumos.


Sang pemilik toko memiringkan kepalanya sembari membuka semua gembok yang ada di pintu. Mengingat bahwa naga adalah makhluk anti sihir, pedang dan semua mantra tidak akan ampuh.


"Dengan tangan kosong tentu saja hasilnya 0%. Namun dengan pedang Valois.. sekitar 45% mungkin?"


"Pedang Valois?"


Aku dan Rumos bertukar tatapan saat kakek tua di depan kami membukakan pintu yang penuh gembuk pada kami. Di dalam sana hanya terdapat sebuah pedang bewarna hitam dengan semburat merah.


—— Pedang Valois. Pedang anti sihir pertama yang kami pernah lihat. Pedang itu bukanlah pedang biasa. Kami tahu ada sesuatu yang bersemayam di dalamnya.


".. Jadi, apa pendapat kalian?"


...*********...


Author POV


Namsius dan Rumos merapikan pakaian mereka dengan senyuman puas. Kakek tua yang mengantar mereka keluar tokonya menatap mereka dengan khawatir, menanyakan mereka berulang kali ingin membawa pedang Valois keluar dari tokonya.


"Aku sudah memperingatkan kalian betapa bahayanya pedang ini. Kalian masih waras kalian tetap mau mengambilnya?!"


Si kembar mengangguk, mengiyakannya tanpa pikir panjang. Mereka tidak peduli apakah pedang tersebut berbahaya atau mengancam nyawa mereka sebab seluruh hidup mereka sudah kacau balau.


Mereka hanya ingin menyelesaikan tugas mereka agar tidak terkena penalti lagi dan hidup tenang.


"Kami sudah membelinya. Kami tidak menyesal. Terimakasih atas bantuannya," ujar Rumos


Kakek tua tersebut menatap tak percaya. Dia merasa gelisah dan cemas karena apa yang baru saja ia lakukan. Menahan mereka untuk tidak keluar dari tokonya dulu, ia memastikan apakah mereka mempunyai kemampuan sihir atau tidak sebagai jaminan keselamatan mereka dari makhluk di dalam pedang Valois.


Si kembar menggeleng, mengatakan mereka tidak bis menggunakannya. Mereka tidak memiliki bakat dan tidak memiliki dasar ataupun mengerti sihir sama sekali.


Yah.. bukannya mereka terlalu peduli dengan sihir yang tidak akan membantu mereka.


Pada dasarnya, sihir adalah sesuatu yang bisa dilakukan semua orang karena semua makhluk hidup memiliki Mana dari dalam. Tapi hanya sebagian orang saja yang bisa menggunakan sihirnya sesuai keinginannya.


Mana adalah sebuah energi yang terdapat pada suatu benda hidup maupun mati. Untuk bisa menggunakan sihir, seseorang harus mempunyai Mana yang cukup dan mampu mengaturnyanya dengan teratur.


".. Haaa.. Sudah kuduga aku menyesal menjual pedang Valois dengan harga 150 koin emas. Kalian tidak ada harapan sama sekali apabila terjadi sesuatu dengan pedang itu," keluh sang pemilik toko, memegang keningnya.


"Jadi kalian tidak punya sihir, Divine Protection, ataupun kekuatan milik iblis?"


"Eh..? Apa itu? Emangnya ketiganya ada bedanya?"


Kakek tua tersebut mendesah panjang, menyuruh si kembar duduk di depan kasirnya sebentar. Merasa pusing, ia memberikan Namsius dan Rumos sebuah buku sihir dasar dan menyuruhnya mempelajarinya.


".. Mengapa?"


"Lakukan saja. Kalian tidak akan menyesalinya. Apabila pedang tersebut sempat berbahaya, bacalah mantra di halaman 57 untuk menenangkan makhluk di dalamnya"


...*******...


Hari ini adalah hari keberangkatan mereka ke Latagin. Namun, Namsius dan Rumos tidak terlihat begitu senang. Malahan, mereka merasa frustasi dan tidak sabar--- Putus asa untuk belajar sesuatu yang mereka tidak mengerti sama sekali.


"Namsius, apa sihir kita sudah keluar?"


"Belum, aku tidak mengerti bagaimana caranya? Pemilik toko tadi ambigu sekali"


"Sudah kuduga sihir bukanlah asuransi kita. Kita tidak memiliki bakat di bidang ini"


Sudah 4 setengah jam Namsius dan Rumos mencoba mempraktikkan sihir. Tapi mereka masih tidak berhasil memproyeksikan sihir tersebut dengan benar. Sekarang mereka sedang berada dalam kereta kuda menuju Latagin.


Terdapat 3 kereta lain yang ditumpangi anggota sirkus lain. Kereta pertama dinaiki pak Edmond dan Sarah dengan kusirnya adalah Alfred. Kereta kedua yang berisi peralatan dinaiki oleh si kembar dan Toru. Dan kereta terakhir yang isinya makanan dan sebagainya dengan kusirnya Gyana.


Untuk beberapa alasan, mereka memilih kereta kedua dikarenakan kereta tersebut adalah kereta yang paling tenang diantara ketiganya. Mengenal pria besar di tempat kusir, dia tidak akan membuat masalah tidak penting untuk mereka.


Dia mungkin tidak menindas mereka sekejam Alfred ataupun Gyana, tetapi dia sama menyeramkan dan menjijikkannya. Wajahnya yang selalu terlihat tersenyum dan tertawa membuatnya 10 kali lipat lebih mengerikan.


"Yo, apa yang kalian lakukan dibelakang sana?"


".. Sihir."


"Kalian penasaran?"


Namsius dan Rumos mengiyakannya, menghindari kontak mata. Mereka tidak ingin terlalu dekat dengannya dan sebisa mungkin menjawab singkat setiap pertanyaannya.


"Haha, menarik. Aku tidak tahu banyak tentang sihir tapi kau bisa menanyakannya pada orang yang menyelamatkanmu dari bunuh diri Namsius"


Namsius mengangkat alisnya, hampir lupa kejadian dari 2 tahun yang lalu. Ia diselamatkan oleh seorang pengguna sihir sirkus Danija. Sihir yang digunakannya bukanlah salah satu sihir rumit tapi tidak sesederhana yang terlihat juga.


Seseorang yang memiliki Mana yang banyak tetapi tidak memiliki teknik yang sempurna ada di sirkus ini. Jelas sekali, orang tersebut memiliki bakat di bidang ini.


Berbeda dengan si kembar yang sudah membaca konsep dasar sihir melalui buku dan catatan yang diberikan sang pemilik toko, tetapi masih tidak bisa menggunakannya dengan benar. Mereka mengerti teorinya dan penjelasannya dengan cukup baik. Mereka bahkan sampai membaca buku sihir ibu Fonsius yang merupakan seorang pendeta wanita--- mantan tukang sihir kerajaan.


"Ugh, bagaimana cara melakukan ini?!"


"Aku tidak mengerti konsep sihir dunia ini"


... Dan tetap saja mereka kebingungan.