I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 10: 2 tahun kemudian



Seorang lelaki tanpa lengan berusia 14 tahun duduk di bangku sambil memakan makanannya. Laki-laki itu sangat tinggi besar melebihi anak seusianya dan ia bisa menggunakan kakinya seperti tangannya sendiri.


Namanya adalah Alfred. Sirkus Danija adalah rumahnya dan keluarganya karena dia tinggal disini semenjak lahir. Orangtuanya dulu adalah salah satu anggota sirkus Danija. Namun meninggal saat ia lahir dari kecelakaan mendadak.


"Yo, Alfred!"


Alfred melihat ke depannya, menemukan seorang pria berotot yang memiliki bekas luka di kepalanya dan seorang wanita melambaikan tangannya. Mereka adalah rekan kerjanya, Toru dan Gyana.


Mereka duduk di samping Alfred, ikut makan siang dengannya. Mereka bertiga berbincang kecil tentang pekerjaan mereka dan tertawa-tawa dari candaan ria.


"Ah, ngomong-ngomong, kudengar bos membawa satu anak kecil lagi masuk. Dia masih berusia 8 tahun lho," kata Toru


"8 tahun itu muda sekali! Apa dia perempuan?!" Tanya Alfred.


Toru mengangguk, berimajinasi bagaimana penampilan aggota baru sirkus ini. Alfred pun memejamkan matanya, ikut membayangkannya. Terhanyut dalam khayalan, Gyana merasa terabaikan dan langsung menyela mereka dengan mengacungkan jarinya ke kanannya.


"Mengapa kalian sangat terkaget-kaget dengan usianya? Dia tidak semuda si kembar yang masih 5 tahun"


Alfred dan Toru menoleh ke samping, menemukan 2 anak kembar tidak identik sedang menyapu lantai. Toru mengerutkan keningnya ketika melihat keduanya serius bekerja. Ia mengomentari betapa akurnya si kembar meskipun latar belakang mengapa mereka berada disini tidak terlalu menyenangkan.


"... Tidak, mereka aneh. Aku tidak yakin mereka ini anak 5 tahun. Maksudku, bagaimana bisa seorang anak 5 tahun menjual saudaranya sendiri?"


"Yah.. dia menawarkan ku untuk membeli saudaranya duluan. Tentu saja aku menolak anak aneh seperti mereka. Aku tidak mengerti apa yang mereka pikirkan"


"Aku tidak perlu memanggil mereka untuk apapun. Mereka akan datang sendiri seolah-olah tahu apa yang kubutuhkan. Mereka jarang berbicara, tersenyum, ataupun berekspresi."


"Kau benar, kapan terakhir kali kita melihat mereka memiliki emosi?"


Gyana menopang dagunya, mengingat-ingat kembali. Toru pun ikut merombak ingatannya dan mencoba mencari jawaban dari pertanyaan yang Gyana tanyakan.


Si kembar sirkus Danija, Namsius dan Rumos—— Pembersih sirkus dan asisten pesulap pak Edmond. Anggota terhandal dalam tugas mereka. Selalu teliti, cermat, dan rapi dalam pekerjaan mereka.


"Tsk, mereka sudah bekerja seperti mesin dari 2 tahun yang lalu. Mereka terkadang membuatku merinding," ujar Alfred, menghabiskan makanannya dan mengelap mulutnya dengan bajunya. Ia lalu ke arah si kembar sambil tersenyum jengkel.


"Haaa... Dasar pengecut," komentar Gyana. "Mereka memang gesit, jeli, jarang berbicara namun selalu mengerti apa yang mereka lakukan dan butuhkan. Tapi mengatakan anak 5 tahun membuatmu takut itu menyedihkan"


Alfred memalingkan kepalanya dan mendecak lidah tidak senang sementara Gyana menyeringai mengejeknya. Mencegah agar situasinya tidak memburuk, Toru mengalihkan pembicaraannya dan memanggil si kembar untuk datang.


Melihat gerakan tangannya, si kembar bergegas datang padanya sembari membawa sebotol alkohol untuk Toru dan sekotak rokok untuk Gyana. Tidak lupa juga mereka mengambil sebuah kemeja baru untuk Alfred yang memiliki kebiasaan makan berantakan.


"Hei.. bagaimana pekerjaan kalian berdua?" Tanya Toru


Si kembar mengangguk, memberikan barang-barang yang mereka bawa. Mereka membantu Alfred mengenakan kemeja dan mengambil pakaian kotornya. Ajaibnya, mereka melakukannya tanpa bersuara sama sekali dan berkordinasi dengan satu sama lain dengan sempurna.


Seluruh anggota sirkus Danija sudah terbiasa dengan ini. Dari hari pertama ia bekerja, keduanya selalu datar. Mereka tidak banyak bereaksi ataupun mengemukakan pendapat mereka pada anggota lain kecuali pak Edmond sehingga semua orang cepat bosan dengan mereka.


".. Cih, itu luar biasa Namsius tidak membencinya," gumam Alfred, melihat keduanya berjalan pergi.


Secara personal, tiada orang yang dekat dengan si kembar di sirkus ini. Mereka menjauhkan diri mereka, membuat sebuah batas yang tidak bisa dilewati. Hal ini mengecewakan semua orang sebab mereka merasa canggung dan kaku berada di sampingnya.


TAP, TAP, TAP!!


"Oh- kalian semua ada disini?"


Semua orang berbalik secepat kilat saat mendengar suara sang pemilik sirkus, pak Edmond di belakang mereka. Namsius dan Rumos pun menahan langkah kaki mereka, berputar 180° padanya.


Mata mereka kemudian tertuju pada seorang gadis kecil disampingnya yang menarik perhatian semua orang. Gadis berambut pirang dengan manik mata hijau. Ia memiliki pipi merah mawar dan senyuman manis terlukis di wajahnya.


"Oh, dia anak barunya?" Tanya Gyana, menunjuk anak perempuan itu dengan rokoknya.


"Iya. Perkenalkan dirimu, sayang. Jangan takut," kata pak Edmond sambil menepuk pundak gadis itu.


Gadis itu menelan liurnya gugup dan memperkenalkan dirinya dengan naif. Kepolosannya membuat Alfred dan Toru menyeringai lebar sementara Namsius dan Rumos merasa kasihan padanya.


"N, Namaku Sarah dan aku 8 tahun ini. Aku istri ke-9 pak Edmond"


"Sarah, bukan? Itu nama yang sangat biasa," komentar Gyana


Sarah tersentak, meminta maaf. Ia merasa tidak nyaman sewaktu Gyana menertawakan kenaifan nya. Ia lalu ditarik rambutnya dan dilempar ke tanah dengan kasar olehnya.


Meringis kesakitan, ia memegang kepalanya dan berusaha berdiri tanpa dibantu oleh siapapun.


"A, ah.. s, sakit-"


"Sarah, camkan ini. Namaku Gyana, orang yang mengatur sirkus ini setelah pak Edmond. Yang tak bertangan ini Alfred, yang mukanya ada bekas luka itu Toru, dan yang kembar itu, Namsius dan Rumos. Apa kau mengerti?"


Sarah mengangguk cepat-- ketakutan nan gemetaran. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Bagaimana dia bisa disini atau apa yang akan terjadi padanya disini adalah pertanyaan diluar kepalanya.


—— Dia harus bertahan hidup di sirkus ini terlebih dahulu.


"Wah, Wah.. kau kasar sekali pada putri kita, Gyana," Ujar Toru sambil tertawa kecil bersama pak Edmond. "Kau cemburu kan?"


Gyana tidak merespon pertanyaan Toru dan buru-buru pergi sesaat dirinya dibaca oleh rekan kerjanya. Alfred yang berada disampingnya tidak bereaksi banyak, tidak tertarik dengan apa yang terjadi.


Tidak- lebih tepatnya, ia kecewa karena penampilan Sarah tidak sesuai ekspektasi dan tipe yang ia bayangkan.


Sedangkan si kembar Asa-


"Rumos, kita harus membantunya!"


"Jangan! Kita sudah 2 tahun bekerja disini. Kita tidak boleh merusak apa yang sudah kita bangun"


"T, Tapi.. orang-orang disini sangat kejam. Apa kau tidak ingat mereka lebih kejam daripada ini saat pertama kali kita bergabung dengan sirkus?"


—— Mereka sedang berkonflik dan bertikai melalui telepati meski masih memasang wajah datar.


"Aku tahu Ini semua karena kita tidak bereaksi makanya mereka menyerah. Karena kita membosankan dan respon kita tidak menghibur dan mengesankan, mereka berhenti mengganggu-"


"-- Diamlah, Namsius. Kau bisa menasihatinya nanti. Kita cuci baju dulu sekarang"


Namsius dan Rumos bertukar pandang, menatap tajam satu sama lain sebelum mendesah. Mereka permisi kepada yang lain dan bergegas pergi mencuci baju.


Sesampainya di tepi kali, mereka mulai melakukan aktivitas mereka sehari-hari disertai percakapan telepati.


"Oi, bulan depan kita akan ke Ibalion kan?"


"Sesuai perjanjian, harusnya iya."


".. Jangan khawatir, aku akan menemukan caranya walaupun dia berbohong"


Namsius tersenyum tipis, mengangguk kecil. Ia tidak merasa terganggu lagi dengan keberadaan Rumos atau tindakan licik yang dilakukannya asalkan tidak kelewatan.


"Hmm, kau benar. Kita tidak perlu terburu-buru."


"Tapi lebih cepat, lebih baik. Kita bisa menikmati kebebasan kita lebih awal"


"-Dan kita bisa menyelamatkan Sarah setelah itu. Kita akan membawanya pergi juga."


".. Benar. Dia pasti sengsara berada disini"


Seiring waktu berjalan, mereka berdua semakin dekat-- semakin tulus. Mereka tidak terlalu perhitungan dan sedikit peduli pada yang lain.


—— Mereka tidak memandang satu sama lain sebagai orang asing yang senasib lagi. Mereka menerima kenyataan bahwa mereka adalah saudara sedarah di kehidupan ini.


...********...


Namsius POV


Aku masuk ke tenda milik Alfred, membawakan baju yang barusan ku cuci. Pandanganku tertuju pada Alfred yang sedang tertidur dengan Gyana. Mereka setengah telanjang, jadi aku tahu apa yang mereka lakukan sebelum aku masuk.


Ugh, ini sungguh mengganggu ku. Melihat mereka membuatku teringat hari dimana aku dan Rumos dipaksa tidur dengannya. Keperawanan kami menghilang hari itu karena wanita busuk ini.


Syukurlah, kami hanya pernah ditiduri olehnya sekali. Ini semua berkat akting kami supaya menahan semua penderitaan, ketakutan, dan kesakitan yang ada.


Penyiksaan kami juga termasuk memakan daging tikus mentah, telinga kami ditindik menggunakan paku, sering dipukuli dengan tongkat besi dan disuruh tidur diluar setiap musim dingin.


Tapi kami sudah terbiasa. Jika kami meladeninya, mereka akan semakin menjadi jadi karena mereka menyukai wajah sengsara kami.


Makanya, kami sekarang memasang wajah datar setiap saat. Penindasan mereka hanya berlaku selama setengah tahun saja sebab mereka bosan dengan wajah yang selalu sama dan tidak berubah.


"Hei- mengapa kau menjadi patung?"


?!! Dia bangun! Gyana-


"Maafkan saya. Saya hanya kebingungan dimana saya harus meletakkan pakaian ini. Apa saya membangunkan anda nona Gyana?"


Aku berusaha memasangkan wajah sedatar mungkin dan menenangkan detak jantungku. Aku sempat kaget sebentar. Aku harap dia tidak memperhatikannya.


".. Pfft- kau terlihat lebih seperti manusia tanpa kembaranmu. Kalian melengkapi satu sama lain makanya kalian terlihat seperti mesin. Kau baru saja kaget kan?"


AAAARGH!!!!


Lupakan- ini tidak berhasil! Aku sudah ketahuan!! Bagaimana ini?!!


".. Maafkan saya. Saya akan pergi setelah meletakkan baju ini"


Level kelicikan dan permainan kotornya setara dengan Rumos sedangkan tingkat kesadisannya melebihi semua manusia yang pernah kutemui. Dia kejam dan keji.


"Oi, kau adalah satu-satunya orang yang memanggilku nona selain kembaranmu. Aku tahu kalian sangat sopan karena kalian tidak ingin berurusan dengan kami. Kalian pintar. Sayangnya... Kau lebih ekspresif dari kakakmu"


".. Nona Gyana, jikalau anda tidak ada keperluan apapun lagi apa saya boleh pergi?"


"Tsk, terserah. Muka dua menyebalkan seperti kembaranmu. Bukannya aku membenci kalian berdua tapi setidaknya aku lebih memilihmu. Kau pasti akan terlihat lebih tidak menyedihkan di bawah sinar bulan."


....


.....


.......


—— Aku membencinya. Aku harap dia masuk neraka di akhir hidupnya.


Gyana adalah orang yang jeli. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa melihat apa yang kami pakai dibalik topeng. Wajar saja dia adalah orang kedua pengurus sirkus ini. Yah,. bukan berarti dia tidak bisa kami prediksi dan baca.


Dia sedikit menakutkan. Namun tidak sampai membuatku trauma atau apapun itu berkat Rumos yang selalu ada di sisiku. Dia adalah yang terburuk dari yang terburuk. Menjijikan.


"Satu hal lagi, anak Asa"


".. Ada apa?"


"Aku tidak tahu apa yang kau gunakan. Itu aneh baju yang kalian cuci selalu sangat harum wanginya"


"Terimakasih."


Aku mengabaikan Gyana dan berjalan keluar dari tendanya. Aku tidak tahan dengannya. Sayangnya, agar kami dapat berada di sisi baik semua orang, kami terpaksa harus melakukan semua ini.


Menarik nafas dalam-dalam, aku mencari Rumos yang menghilang entah kemana. Biasanya jam segini, kami akan bertukar informasi dan menyusun rencana untuk hari-h yang sebentar lagi akan tiba.


Jadi dimana dia sekarang?


"Oi- Namsius! Temui aku dibelakang tenda kita. Bantu aku mengurus Sarah!!"


!! Eh? Sarah?


Mengapa dia ada disana?


".. Kau dalam masalah karena tidak bisa mengurus anak kecil?"


"Cih, kau tahu aku tidak bisa menenangkan anak kecil yang sedang menangis kan? Dia baru saja dipukuli Edmond dan Toru."


!! HAAAAH?!! APA YANG BARU SAJA IA KATAKAN?!!


DASAR BA*****N TIDAK TAHU DIRI!! SI BR****K ITU MELAKUKAN APA?!


Aku tergesa-gesa berlari ke tempat Rumos, menemukannya kewalahan disana. Aku menutup mulutku dan pupil mataku mengecil seketika aku melihat badan Sarah penuh luka memar. Dia menangis tersedu-sedu.


Rumos mengatakan dia sudah mengecek lukanya dan mencoba menenangkannya sebisa mungkin. Dia memberitahukan ku apa yang terjadi, membuat amarahku hampir melonjak mendengar apa yang ia lakukan pada Sarah.


Sarah pasti sudah melalui banyak hal yang mengerikan.


"T, Tolong aku.. Aku tidak mau kembali kesana! Tolong.. Aku!!" Sarah memohon pada kami yang menyedihkan. Padahal, kami sendiri tidak bisa melakukan apapun untuknya. Kami sendiri tidak berdaya.


"Jangan takut. Kau sudah aman sekarang"


Satu-satunya hal yang bisa kami lakukan adalah menghiburnya dan memberikannya keberanian.


"A.. Aman..? M, Mereka.. tidak akan m, menyeretku masuk ke dalam lagi?"


"Benar. Kau aman. Tidak ada yang akan menyakitimu. Kau boleh melepaskan semuanya"


".. S, Semuanya? Apa.. kau y, yakin?"


Aku mengelus kepalanya pelan, memeluknya hati-hati sambil mengusap punggungnya. Aku mengiyakannya, mengatakan dia tidak perlu bersembunyi di belakang tenda kami.


"A, Apa.. Aku boleh..?"


Air mata Sarah menetes di bajuku dan tangan kecilnya yang memelukku mengencang dengan kepalanya menyender di bahuku. Dia mencurahkan seluruh hatinya dalam tangisannya yang menyakitkan.


Memberikannya waktu, aku dan Rumos tidak mengatakan apapun selama sekitar 10 menit hingga dia tenang dan melepaskan semuanya. Rumos lalu membeli obat anti nyeri dan salep dari Market sebelum membantu mengoles salep dan menyuruhnya meminum obat anti nyeri.


Sesudah mengobati lukanya, aku memeriksa keadaan sekelilingku dan memesan Sarah untuk berhati-hati. Sirkus ini bukanlah tempat yang aman untuk anak-anak sejenis kami.


——Mereka tidak memperlakukan kami sebagai manusia.


"U, Uh... T, terimakasih.. em.. N, Nama kalian.."


"Oh, kau tidak perlu mengenal nama kami. Jika kau ingin berterimakasih, jangan pernah berbicara dengan kami lagi mengerti?"


!!!


Oi, oi, oi- Dia pasti bercanda.


Ancaman seperti itu mana mungkin bisa berakhir baik bagi anak-anak. Dia malah akan menangis lagi.


"Ah, haha.. maksud kembaran ku adalah.. Sarah tidak boleh membantu kami atau memanggil kami lagi. Ini rahasia kecil kita"


".. Mengapa?"


"Karena kami sibuk dan kami bisa hukum jika Sarah bicara pada kami. Apa Sarah mau kami dihukum?"


..


...


..... Oh sial. Apa aku baru saja memanipulasi anak kecil dan membuatnya merasa bersalah?


Aku ternyata buruk dalam hal ini. Apa ini karena aku sudah lama tidak berinteraksi dengan anak-anak dan terlalu banyak menipu orang dewasa?


"T, Tidak. Aku berjanji aku tidak akan melakukannya."


...********...


Rumos menarikku pergi ke tepi hutan dekat sirkus sehabis ia memastikan Sarah sudah tertidur. Kembali pada jadwal rutinitas kami, sekarang saatnya berdiskusi tentang rencana kami selanjutnya.


Tempat persembunyian kami berada di dalam hutan di sebuah gua yang tak berpenghuni. Kami sering berbincang disana setiap kali ada sesuatu yang penting terjadi.


"Hei.. Apa kau yakin dia bisa merahasiakan kejadian ini dari yang lain?"


"Iya, dia bukan anak TK jadi setidaknya lebih bisa menjaga rahasia. Memang ada beberapa anak-anak yang terkadang akan langsung membocorkan rahasianya tapi Sarah tidak terlihat seperti itu"


... Yah, walaupun aku merasa sedikit bersalah karena memanfaatkannya.


"Kau yakin? Kau mengatakan ini 'rahasia kecil' untuk kita dan dia. Bagaimana jika dia bocorkan?"


"Kata-kata itu adalah frasa ajaib. Ada kemungkin dia akan memberitahu tapi karena ada frasa istimewa seperti 'rahasia kecil', anak-anak merasa lebih terlibat sehingga menjaga rahasianya. Juga, aku tidak yakin dia akan memberitahukan pada siapapun"


"Apa kau belajar itu dari pengalamanmu sebagai anak TK?"


"... Tidak. Ini hanya kebetulan aku pandai menjebak orang lain"


---- Dan aku malu dan kecewa sekali menjebak orang seperti ini.


Rumos mengiyakanku dengan sebuah anggukan tidak peduli sebelum memperlihatkanku layar biru sistem SSM. Disana tertera jumlah uang yang sudah berhasil kami kumpulkan. Total uang yang kami tabung selama 2 tahun ini adalah 17 koin emas, 156 koin perak, dan 345 koin perunggu.


Ini bukanlah gaji yang diberikan oleh pemilik sirkus. Ini adalah uang yang kami dapatkan sendiri dari menipu dan menjual ulang barang dunia lain secara diam-diam. Ini juga merupakan uang hasil curian kami dari bangsawan kaya yang mengunjungi sirkus.


—— Kami tahu ini salah. Tapi untuk mempunyai uang dan bertahan hidup, kami tidak bisa mengandalkan kepala sirkus sepenuhnya.


"Aku berencana membeli senapan seharga 12 koin emas dan 50 koin perak. Itu bukan senapan modern. Setidaknya model yang digunakan adalah model senapan perang dunia pertama"


"Di dunia ini memang belum ada bubuk mesiu sama sekali. Aku tidak yakin senapan bisa mengalahkan naga yang kulitnya tebal dan bersisik keras"


"Hah! Mana mungkin senapan ini untuk mengalahkan naga. Ini hanya untuk perlindungan diri. Untuk mengalahkan naga kita akan memakai bom"


"Um.. Aku tidak terlalu mengerti, jadi silahkan saja. Kau sebaiknya mengajariku juga cara menggunakan senjata"


"Pastinya."


Rumos tersenyum tipis, membeli senapan yang aku tidak mengerti tipe dan modelnya. Uang kami berkurang drastis dan tersisa secuil.


Dipikirkan lagi, bukankah itu artinya senapan ini mahal jika dibeli menggunakan emas?


Rumos mengecek senapan itu sebelum menyimpannya di ruang penyimpanannya. Aku menyender di dinding gua, menungguinya untuk beres-beres sambil memikirkan masa depan kami.


"Hei, Rumos. Aku dengar sirkus ini akan pergi ke Latagin 2 Minggu lagi. Tempat itu sangat dekat dengan Ibalion. Apa kita akan kesana?"


"Kita lihat dulu. Terutama sekarang situasinya akan semakin sulit sekarang berkat anak itu"


".. Kita masih memiliki waktu. Jadi tidak perlu cepat-cepat. Mari kita pergi tidur dan mengakhiri hari ini saja"