
JOHNSON FARREL POV
"Hore! Hujan! Ini pasti hadiah dari dewa! Sekarang kita tidak akan kehujanan saat acara musim panas"
"Kita harus merayakan ini! Aku akan memanggil istriku dulu"
Suara sorak-sorai di seluruh desa terdengar. Kabar gembira ini tersebar di sepanjang jaln desa sampai-sampai aku dapat mendengarnya dari dalam kamarku. Daripada suara ayam, aku dibangunkan oleh sorakan warga yang nyaring.
Beranjak dari ranjangku, aku bersiap-siap pergi ke ruang makan. Disana aku melihat istri tercintaku, Gwendoline dan anak terkasihku, Fonsius sedang sarapan. Mereka menyapaku ceria, mengajakku ikut sarapan.
Semebari sarapan, anakku dan istriku menceritakan tentang danau luas yang muncul di dekat tangga Noro. Danau tersebut muncul setiap musim panas tiba. Tapi musim panas tahun ini, air danau terlihat lebih jernih dan tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.
"Oh.. kasihan. Sepertinya kita harus memperbaiki rumah anak-anak Asa lagi. Tahun lalu teman mereka meminta rumahnya diperbaiki juga. Kemana ya anak-anak Asa itu pergi?"
"Entahlah. Kata teman-teman mereka, anak-anak Asa selalu mengungsi pergi ke tempat lain. Mereka beruntung mereka memiliki teman-teman yang sangat baik dan pintar."
"Orangtua mereka meninggal saat mereka masih berusia satu tahun. Makanya, beristirahatlah yang baik. Kau sedang hamil. Fonsius akan sedih apabila kau tidak bersama kami disini"
Istriku tertawa kecil dan tersenyum, mencium bibirku. Ia lalu melihat Fonsius yang menyelesaikan makanannya sebelum membersihkan meja dan memintaku menggendong Fonsius.
"Papa! Papa..!!"
"Fonsius kecil, kau ingin jalan-jalan?"
"Iya! Apa itu boleh ibu?"
Istriku terkekeh geli, mengiyakannya. Dia memesan kepada kami agar berhati-hati di jalanan ramai. Dengan cepat, kami berterimakasih dan beganti pakaian sebelum pergi keluar.
Di sapa langit yang cerah benderang, hari baru yang sungguh menyenangkan dimulai lagi. Aku menghirup udara segar nan sejuk sembari membawa Fonsius melihat-lihat pusat kota yang ramai. Semua orang bergembira dan menari disana.
... Sampai sebuah teriakan terdengar ditengah-tengah kota.
"UWAAAH- SESEORANG TOLONG!! SAUDARAKU TERKENA SERANGAN JANTUNG!!!"
.
.
!!!? HAAAH?!! APA YANG BARU SAJA AKU DENGAR?!!
Aku berlari ke sumeber suara teriakan dan melihat 2 anak kecil berdiri disana. Mereka adalah teman anak-anak Asa yang kami temui kemarin. Yang satunya terbaring di tanah dan yang satunya lagi berteriak minta tolong.
Serius- Apa yang terjadi disini?!!
"P, Papa.."
"Tenang, Fonsius. Kita harus cepat memanggil dokter."
Aku berlari memanggil dokter dan menjelaskan apa yang terjadi. Dokter itu datang terburu-buru, memeriksa anak yang terbaring ditanah sementara aku menenangkan saudaranya yang berteriak minta tolong.
Sehabis sang dokter memeriksa kondisinya, saudaranya langsunh menanyakan keadaannya dengan panik, membuatnya mendesah panjang.
"Haaa... anak muda," panggil sang dokter, memegang pundaknya. "Tenanglah, dia cuma demam karena hujan"
"O, oh.. h, hujan?" Tanya anak itu sambil mengusap air matanya.
Sang dokter menyilangkan tangannya, menghembuskan nafas lelah. Ia menasihati mereka dan menyuruh mereka untuk tidak panik lain kali sampai-sampai membuat keributan.
"Makanya kalian berdua jangan suka main hujan. Kau hampir membuat semua orang terkena serangan jantung. Lain kali, jangan sampai diulangi lagi," pesan dokter
"Hiks.. Hiks.. J, jadi dia tidak akan mati?"
"Dia tidak akan mati. Yah, namanya 3 tahun memang belum tahu banyak hal. Aku akan memberikan kalian obat demam dan flu," jawab dokter sambil pergi ke rumahnya
Aku melihat kedua anak itu menggunakan pakaian setengah kering ditambah membawa sebuah koper yang lembab. Aku membantu anak yang berbaring duduk dan mengajak mereka ke rumahku.
Mereka bertukar tatapan sejenak dan menatapku dengan mata berair sebelum mengangguk. Setelah dokter memberikannya sebuah obat, aku membawa mereka ke rumahku dan memberikannya baju ganti. Istriku memberikan mereka makanan yang masih tersisa sementara Fonsius menemani mereka..
Sesudah mereka berganti pakaian dan makan dengan lahap, Fonsius mengajak mereka bermain di ruang tamu. Mereka terlihat kaku dan linglung. Wajah mereka murung dan khawatir. Mereka tertegun sesaat, menatap satu sama lain lagi.
Apa mereka memang sediam ini?
"Ada apa? Kalian masih tidak enak badan?" Tanya istriku
"!!! Tidak, tidak- kami.. minta maaf telah merepotkan kalian"
"Hahaha, tidak masalah- duduklah di kursi. Mari kita berbincang sebentar," ujarku, menepuk bangku disamping ku dan Fonsius.
Mereka mengangguk pelan, berjalan menuju kursi. Aku melihat badan mereka sangat kurus dan kecil duduk di kursi yang sangat besar. Tidak- bukan kursinya tetapi mereka yang terlalu kecil.
"Nak, apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanyaku, menyadarkan mereka yang terhanyut dalam pikirannya.
"T, Tidak.. Kami hanya.."
"... Rindu. Kami ingin melihat teman kami di Asa."
Aku terdiam, tidak bisa berkata apapun. Mereka kemudian menjelaskan apa yang terjadi dengan nada yang sendu.
"... Rumah mereka hancur dan barang mereka juga basah semua karena hujan. Kami membantu mereka semalaman sambil main hujan"
"Iya- itu sangat menyenangkan! Tapi... kami tidak ingin.. mereka pergi. Mereka tidak mempunyai apapun lagi. Bukankah itu sangat menyedihkan?"
"Hari ini pun kami tidak mengetahui keadaan mereka. Kami bahkan tidak tahu apa mereka masih hidup atau tidak"
Keduanya menunduk ke bawah dengan sedih. Aku ingin membantu mereka dan mengatakan sesuatu agar mereka tersenyum. Mereka kelihatannya sangat menyukai teman mereka dari Asa. Tetapi, aku tahu aku tidak berada dalam posisi untuk menghibur mereka sebab aku jugalah salah satu orang yang mengabaikan anak-anak Asa.
"... Maaf, aku tidak bisa melakukan apapun," Ujarku. "Tapi jikalau kalian dan mereka mendapatkan kesulitan, kalian boleh mendatangiku lain kali"
"!! A, apa itu boleh? Tuan berjanji kan?" Tanya mereka sedikit ragu. Di mata mereka, aku bisa melihat menyembunyikan kegirangan mereka saat menyadari aku berada di pihak mereka.
"Tentu saja! Namun dengan satu syarat!"
"S, Syarat?" Mereka memiringkan kepala mereka kebingungan. Sudah kuduga mereka akan bereaksi seperti ini. Anak-anak memang sangat mudah dibaca ya.
—— Haruskah aku mencandai mereka sedikit lagi?
DUK!!
"Suamiku, jangan usil- Aku tahu apa yang kau pikirkan."
... Atau mungkin tidak. Aku tidak ingin dipukul sekali lagi dengan rotan oleh istriku.
Sebaiknya aku tidak meminta yang macam-macam. Yah.. dipikir-pikir lagi, mereka tidak pernah memberitahu nama mereka dan selalu memanggilku tuan. Itu sangat tidak nyaman.
Apa mungkin mereka masih canggung dengan kami?
"Hei, namaku Johnson Farrel. Ini istriku Gwendoline dan anakku Fonsius. Syarat pertamaku adalah jangan memanggilku tuan lagi"
".. J, Jadi apa yang harus-"
"Papa John. Kau boleh memanggilku itu!!"
"......"
"....."
Wajahku mulai memanas dari rasa malu. Aku bisa melihat anakku memberikanku tatapan aneh dan istriku yang menahan tawa. Yang paling parahnya-
"E, Em.. apa kau baik-baik?"
—— Kedua anak-anak disampingku menatapku penuh simpati bagai aku ini terkena gangguan jiwa yang parah.
Ah.. Aku merasa aku ingin mengubur diriku 6 inchi dibawah tanah dan tidak pernah bangun lagi.
Untung saja, istriku yang merupakan malaikat penyelamatku membantuku dalam situasi ini. Dia meluruskan situasinya dan membereskan semuanya.
"Panggil saja dia paman John dan aku bibi Gwen. Jangan pedulikan yang tadi"
Istriku-- Kau memang yang terbaik. Ayo nikah lagi di kehidupan selanjutnya.
Mengumpulkan ketenangan dan harga diriku kembali, aku menyembunyikan rasa malu ku dan mengganti topik pembicaraan dengan membiarkan Fonsius memperkenalkan dirinya. Anakku yang manis kelihatan semangat sekali bertemu teman baru.
"Fonsius! Namaku Fonsius! Senang berkenalan dengan kalian!" Seru Fonsius dengan matanya berbinar-binar. Menjulurkan tangannya pada bocah berambut hitam, ia menanyakan namanya dengan antusias.
"... Nama ku?" Tanya si rambut hitam. Ia menoleh pada saudaranya sesaat sebelum menjabat tangan Fonsius. Namun, yang memperkenalkan diri adalah..
"Panggil aku Namsius. Ini adalah saudaraku, Rumos Reiss. Kami seusia denganmu"
.. Saudaranya?
Yah, kudengar anak kembar memang selalu bertolak belakang. Aku rasa Rumos adalah kembaran yang lebih pendiam dan cuek sedangkan Namsius lebih ceria.
".. Senang berkenalan denganmu juga..?"
Fonsius terlihat kebingungan tetapi ia tidak terlalu mempedulikannya. Dia menjabat tangan Namsius juga dan kembali duduk di kursinya setelah itu.
"Kalian berdua memiliki nama yang unik," puji istriku sembari duduk di samping Fonsius dan memeluknya. Kami tidak berbicara selama beberapa menit, tidak memiliki topik pembicaraan.
"Ngomong-ngomong.. Apa kalian berdua tahu tentang danau Noro?" Tanyaku, memecahkan keheningan.
——Ugh aku tidak seharusnya mengatakan itu. Mereka masih sedih Asa tenggelam. Kenapa aku tidak bisa menjaga mulutku agar tidak keceplosan?!
"Uh.. paman John, mengapa semua orang sangat bergembira dengan danau Noro? Apa ada sesuatu yang spesial disana?"
!!! Oh, Namsius tertarik dengan danau itu?
"Y, Yah.. Setiap festival musim panas dibawah langit malam yang cerah, akan ada ikan dan udang raksasa yang datang kesana," jelasku, tersenyum kaku.
".... Mengapa tidak pergi ke laut saja?" Tanya Namsius, merasa tidak masuk akal.
Sumpah- kembaran ini seringkali membuat mulutku bungkam. Perkataan mereka selalu ada benarnya sampai-sampai aku merasa jengkel.
Semasa hidupku, tak pernah sekali pun aku bertemu dengan anak-anak seperti mereka. Sangat logis, tenang, dan perhitungan.
—— Apa mereka ini seriusan anak usia 3 tahun?
"K, Karena ikan dan udang disini spesial. Para warga biasanya melihat ikan-ikan itu dan memberikan mereka makan. Terkadang juga bermain dengan ikan itu. Sisik mereka sangat cantik dan berkilau dibawah rembulan"
"Woah, danau Noro pasti sangat ramai. Padahal semasa tempat itu menjadi daratan tandus, Apakah pernah sekalipun satu warga datang ke tempat menyedihkan itu?"
"!!! Apa?" Mataku terbelalak mendengar Rumos menanyakan sebuah pertanyaan yang sekali lagi membuatku terdiam. Kali ini buka. hanya aku, tetapi istriku pun juga.
".. Ikan-ikan itu diberi makan oleh satu warga Noro ya? Hanya karena mereka cantik? Jadi.. bagaimana dengan anak-anak di Asa? Mereka.. buruk rupa ya?"
"...."
Aku terdiam melihat mereka berdua secara bergantian. Dari tadi sepertinya dia berusaha mengungkit masalah ini terus-menerus. Seakan-akan mencoba membuat warga Phari merasa bersalah karena telah mengabaikan anak-anak Asa.
Istriku yang duduk di samping fonsius, tersenyum kaku dan menyuruhku untuk tidak terlalu kasar dan marah melalui bisikan.
Aku tahu mereka sedih dan mungkin kesal serta marah. Aku tahu semua orang tidak pernah peduli dan melupakan anak-anak Asa. Tapi..
Bukankah ini keterlaluan? Aku hanya mencoba menghibur mereka. Bukannya aku tidak bersalah karena melupakan mereka juga, namun mereka semakin lama melimpahkan rasa marah mereka pada ku. Aku-
"—— Tidak pernah melakukan apapun. Bahkan membantu mereka ataupun menyakiti mereka."
"!!!... K, Kau.. Namsius, bagaimana bisa kau tahu.. apa yang kupikirkan? Apa kau menyihir ku?"
".. Aku tidak bisa menggunakan sihir. Aku hanya kebetulan bisa menebaknya dari ekspresi wajahmu. Maaf, kami tidak bermaksud menyudutkan kalian semua. Saudaraku sedikit terbawa perasaan tadi"
!!!!..
Namsius menampilkan sebuah senyum ramah, membuatku bergidik dan mematung. Sesuatu dari dalam diriku mengatakan mereka bukanlah anak-anak yang normal.
Tidak- sejak awal, mereka memang sengaja menunjukkan sisi tersebut.
"Apa ada yang mau turun kebawah hanya untuk memberi makan? Apa ada yang peduli dengan mereka selain kami? Kami hanya penasaran apa ada orang yang memberikan mereka makan selain kami. Karena sepertinya.. kalian lebih peduli tentang ikan itu daripada anak-anak di Asa"
".. Rumos, itu kelewatan. Kau harusnya menjaga kata-kata mu lebih baik"
"Ah, maaf. Bukannya kami melarang kalian untuk memberi makan pada ikan dan bermain bersama mereka. Hanya saja, mereka masih 3 tahun dan tidak punya siapapun selain kami. Jadi kami merasa emosional. Aku tidak mengerti mengapa semua orang cuek dengan masalah ini, bahkan orangtua mereka."
".... Yah, ayah mereka meninggalkan mereka saat masih kecil. Ibu mereka pun tidak terlalu peduli pada mereka, mengabaikan mereka sampai-sampai mereka tidak menangis di hari ia meninggal meskipun mayatnya ditemukan setengah busuk dimakan tikus dan lalat. Aku tidak bisa mendeskripsikan dalam kata-kata apabila aku berada dalam posisi mereka"
..... Aku tidak bisa mengatakan apapun selain kesadaran diri dan frustasi. Akan tetapi, aku hanya bisa mematung.
Barusan, mereka menyindir semua orang di Noro. Mereka mempunyai maksud tertentu mengatakan itu. Mereka baru saja memanggil semua orang di Phari bodoh dan bebal.
Bukannya aku tidak bisa menyindir mereka ataupun membenarkan kalimat mereka yang banyak celahnya. Hanya saja, ada sesuatu yang membuatku tidak berdaya dihadapan mereka.
Aku menatap mata mereka yang menatapku tajam. Badan mereka kurus kecil dan pendek. Mereka terlihat seperti anak 3 tahun yang kurang gizi dan dalam sekali lihat, mereka sangat rapuh.
Namun, dalam kenyataannya, dari mata mereka.. aku melihat kepintaran dan emosi mereka terpancar. Mereka lebih kuat dibandingkan kebanyakan orang.
Mengalami dan melihat hal jauh lebih banyak dan dalam dibandingkan orang lain.
—— Aku tidak merasa aku berbicara dengan anak berusia 3 tahun. Tidak- lebih tepatnya, aku merasa sedang berbicara dengan seseorang dari luar dunia ini.
Aku tidak bisa mendeskripsikan apa yang kurasakan. Aku merasa sedang dibutakan oleh tatapannya yang melekat pada ku sampai-sampai aku tidka bisa mengetahui dan menyinak apa yang terjadi lagi.
"--- A, ah, maaf kami kelewatan. Kami harus pulang sekarang. Terimakasih sudah mengurus kami." Namsius memecahkan keheningan, beranjak dari kursi dan menarik Rumos.
Aku yang maish dalam keadaan linglung nan bimbang, cepat-cepat berdiri dan membukakannya pintu. Istriku pun beranjak dari kursinya, menggendong Fonsius ke depan pintu untuk berpamitan dengan mereka.
Sebelum berbalik pergi, Namsius dan Rumos membungkuk pada kami dan meminta maaf sekali lagi. Mereka kelihatannya menyesal telah membuat kacau suasananya.
"Tidak masalah. Aku ini tabah orangnya. Um.. Yah... Aku tadi hanya ingin menghibur kalian"
"... Kami tahu. Tapi kami tidak ingin dihibur- kami ingin didengarkan."
!!!
Hei, dunia ini pasti bercanda? Bagaimana bisa anak 3 tahun bisa se-menyeramkan itu?
Aku penasaran bagaimana mereka tumbuh besar nantinya.
"Uh, satu hal lagi yang ingin kami sampaikan.."
"Oh, ada apa, Namsius?"
"Yah... Di tempat pertama, pemikiran kalian tidak karena kalian juga pasti tidak ingin repot-repot. Kalian mempunyai orang yang kalian cintai kan? Kalian sebaiknya menghabiskan waktu dengan mereka sebaik mungkin"
"!!!..."
"Itu saja. Kami pergi dulu ya!"
Aku melambaikan tanganku, memandangi punggung mereka. Sesaat, aku menjadi kebingungan lagi. Aku ingin sekali mengetahui apa jawaban dibalik pertanyaan yang terlintas di benakku saat itu.
"Papa, mama-- aku lapar!"
Sayangnya, mereka sekali lagi benar.
—— Aku memiliki orang yang kucintai disini. Makanya, aku harus menjaga mereka agar tetap aman.
"Iya, Fonsius. Ayo kita makan diluar."
...*********...
Hari ini hari festival musim panas. Bagaimana kabar kalian Namsius dan Rumos?
Semenjak hari itu, aku tidak bisa melupakan apa yang dikatakan kalian. Aku bebal dan anak berusia 3 tahun seperti kalian lebih kritis daripadaku.
Mengapa aku sangat macet pemikirannya?
"Sayang, ada apa? Apa kau sedang menulis surat khayalan di otakmu?"
"Iya. Untuk Namsius dan Rumos. Aku tidak akan pernah melupakan ucapan mereka tentang Asa--- Seakan-akan mereka berbicara tentang diri mereka sendiri. Aku jadi penasaran apa mereka sebenarnya anak-anak dari Asa yang asli"
Mereka mengatakan aku tidak salah. Mereka mengatakan tidak ada orang yang mau repot-repot juga. Aku baru menyadari di satu titik semua orang di dunia ini pernah menjadi munafik dan egois, tidak terkecuali mereka sendiri.
Apa yang mereka akan lakukan mulai sekarang? Dimana kalian? Apa kalian adalah anak-anak dari Asa?
Aku tidak akan pernah mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Aku terlalu sibuk menghidupi hidupku sendiri dengan orang-orang berharga di sekitarku.
"Jangan khawatir, mereka akan baik-baik saja."
Istriku memelukku hangat. Aku tersenyum ingin mempercayainya dan segera menggendong Fonsius yang memeluk kakiku. Kami berjalan-jalan melihat suasana kota yang sangat ramai.
Hari ini keluarga kerajaan akan datang ke Phari. Itu karena tahun ini desa ini mendapatkan giliran menjadi tuan rumah untuk merayakan festival musim panas.
Semua orang di desa ini sangat bersemangat dan sibuk.
"Wah, lihat- danaunya!" Ujar Fonsius, menunjuk ke arah danau yang sangat biru saat ikan-ikan besar mulai berdatangan.
Danau Noro ya? Pemandangan yang sangat indah.
Tanah tandus Asa kini telah berubah menjadi tempat yang begitu indah. Makanya, suatu hari pun, aku percaya anak-anak Asa dapat menjadi bahagia.
"Papa, lihat itu- Ada sesuatu di danau!"
"!! Eh?" Aku berjalan mendekati danau, melihat beberapa puluhan serpihan kayu terdampar di tengah tangga Noro.
Diantara serpihan-serpihan tersebut, aku menemukan selembar foto yang terapung di atas air. Mengambil foto tersebut, aku membelalakkan mataku saat aku menemukan sebuah foto keluarga anak-anak Asa.
Sepasang suami istri yang sangat muda dipotret bersama anak-anak kembarnya. Mereka sangat mirip dengan Namsius dan Rumos. Terlebih lagi-
—— Mereka tidak terlihat seperti keluarga yang bahagia dari awal.
"Ada apa sayang?"
"... Mereka adalah anak-anak Asa."
.
.
Jadi, selama ini dugaanku benar.