
Panggil aku Namsius. Guru biasa tak populer di kota kecil yang sedang pulang kerja. Setelah ini aku akan makan malam, minum soda, mandi, dan tidur.
——Itu rencananya seharusnya.
"WOI, PEMBUNUH GEBLEK! JANGAN KEJAR AKU DONG!!"
Sialnya, hari ini aku bertemu dengan pria yang wajah dan nama yang dikenal seluruh dunia berkat televisi dan radio. Dia adalah seorang pembunuh berantai yang kabur dari penjara.
Namanya adalah Rumos.
"Oh, kau mengenali wajahku. Tapi aku ini tidak bersalah dan kau akan membantuku membuktikannya!!"
"-Kita ini bukan lagi dalam drama! Tak bersalah- kau sudah membunuh banyak orang bahkan di depan kamera!! Apa otakmu bermasalah?!!"
"Kau punya masalah dengan otakku? Jaga mulutmu!"
Aku berlari makin kencang agar bisa kabur. Setelah beberapa menit, aku kehabisan nafas dan berhenti sebentar. Aku melirik ke belakang dan melihatnya masih mengejarku. Aku berlari menyebrang jalan tetapi dia juga ikut dan menangkapku.
Lalu-
BRAKK!!
Kami berdua tertabrak mobil dan akhirnya mati karena tidak melihat lampu lalu lintas ketika menyebrang. Itulah akhir kehidupan pertamaku dan pembunuh bernama Rumos.
Namun-- Ceritanya belum selesai sampai disini.
Setelah tubuhku terasa dingin dan jantungku tidak berdetak. Sebuah cahaya putih muncul di depanku. Cahaya itu sangat silau hingga mataku terpaksa terpejam. Saat aku membuka mataku lagi, aku langsung berada di sebuah ruangan bersama Rumos dan seorang kakek tua.
Dia menyambut kami dan memperkenalkan kami sebagai seorang dewa dari dunia lain.
"Namaku Darumias. Dewa pencipta dunia Liawes. Aku akan memberikan kalian kesempatan hidup dalam dunia yang kuciptakan lagi. Dengan satu syarat, kalian berdua harus membantu seorang pahlawan bernama Fonsius"
.. Ah, ini seperti cerita isekai. Artinya, aku akan menjadi penjahatnya? Protagonisnya? Pembantu pahlawannya?
"Kalian bedua akan menjadi mob yang tak dikenal oleh semua orang di dunia itu. Akan ada beberapa peraturan yang kubuat tapi aku yakin kalian pasti akan mengerti nanti"
Oh, mob.. itu menyedihkan.
Rumos mengedipkan mata 2 kali dan menanyakan apa yang terjadi padaku. Dia terlihat sangat kebingungan tetapi tenang.
Dasar sialan!! Apa dia tidak sadar apa yang telah ia perbuat?!!
Darumias menjelaskan singkat tentang dunia lain dimana ada Elf, Dwarf, sihir, iblis, dan lain-lain.
Ini sama seperti novel yang sering kubaca! Sayangnya.. aku menjadi mob!!?
"Bagaimana jika aku menolak? Aku akan membunuh pria ini denganku," ujar Rumos
"Oh, kau tidak bisa membunuh satu sama lain. Kalian tidak mempunyai kesempatan untuk menolak. Kalian harus pergi kesana. Aku akan memberikan kalian sebuah hadiah nanti"
"!! Ini adalah sebuah pemaksaan-"
"Aku tidak peduli- Aku memilih kalian"
Darumias tidak mendengarkan Rumos dan langsung menyuruh kami memakan sebuah apel. Aku bertukar pandang dengan Rumos yang jengkel sementara aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tahu pergi ke dunia lain seperti dalam novel itu tampak menyenangkan, tapi..
Aku mempunyai firasat buruk. Ada sesuatu yang janggal.
—— Dan di tempat pertama, aku menyadari aku tidak membutuhkan reinkarnasi lagi.
".. ada apa dengan kalian berdua? Kau tidak tidak ingin kesana, Namsius? Kau tidak percaya padaku?" Tanya Darumias
Sayangnya.. Dewa ini kelihatannya akan melakukan apapun agar kami menurutinya. Bahkan mengubah kami menjadi seekor serangga.
"A, ah, aku.. akan memakan ini setelah Rumos melakukannya"
"Heh, kau serius akan menaruh nyawamu padaku? Kau barusan tadi mengatakan otakku bermasalah," sindir Rumos
"... Ini bukan saatnya kita bertengkar. Kita sekarang berada dalam posisi yang sama. Kau tahu aku lebih percaya padamu?"
Rumos tersenyum jengkel sebelum mendesah dan menggigit apelnya. Aku melihat ke buah itu kemudian menelan liurku.
Aku sangat, sangat gelisah. Aku tahu ada yang janggal. Tapi kini aku berada di dalam sarang laba-laba.
"Oh, Namsius.. kita tidak memiliki banyak waktu"
"!! U, uh.. Em..."
Aku menggigit apel itu dan melihat Darumias yang tersenyum. Dia hanya terdiam sembari tersenyum lebar padaku. Melihatnya tersenyum, aku baru menyadari betapa bodohnya aku ini..
.
.
—— Aku telah membuat sebuah kesalahan fatal.
"Ugh.. Urk- T, Tolong!!" Tenggorokanku terbakar dan aku bisa melihat kulitku perlahan-lahan mencair, menyisakkan tengkorak ku yang kering.
Sudah kuduga. Aku benar-benar terperangkap dalam serangkaian jaring laba-laba.
Tidak, tidak, tidak--- Aku tidak ingin hidup lagi! Aku tidak ingin bereinkarnasi lagi!! Aku takut!!
Ayah, ibu- Tolong temui aku! Kalian berjanji akan menemui ku di surga nanti!! Jemput aku!! Bawa aku bersama kalian!!!
"Namsius, Rumos, selamat jalan. Aku akan mendoakan kesuksesan kalian."
.
.
—— Apa aku akan baik-baik saja?
...********...
Seorang anak kecil berambut cokelat abu dengan mata kuning emas berlari ke rumahnya. Dia membawa sebuah roti di tangan kecilnya sembari berlari menuruni tangga. Sesampainya di rumah, dia melihat anak seusianya yang berambut hitam dengan mata biru laut sedang duduk di halaman rumahnya.
"Namsius, apa kau sudah mencuri rotinya?"
"Iya. Ini makanan kita untuk hari ini. Siapa yang akan kita tipu besok?"
"Kemungkinan ibunya Fonsius. Yah, itu tidak penting siapa. Kita harus makan dulu"
"Dia lagi?! Aku tahu orangtua si protagonis ini sangatlah baik hati tapi bukankah kita itu kelewatan menipunya hampir setiap hari?!" Tanya kaget si rambut cokelat.
Dia adalah Namsius Reiss—— Sebatang kara yang tinggal bersama saudara kembarnya Rumos Reiss. Wajah mereka tidak mirip sama sekali, sikap mereka pun bagai air dan api.
Satu-satunya hal yang mirip hanyalah tanda lahir mereka di tangan kiri berbentuk seperti bulan. Dan itu pun salah satu hal yang paling mereka benci berada di tubuh mereka.
—— Mereka menganggap tanda tersebut sebagai kutukan dari dunia dan dewa pencipta dunia ini.
"Musim panas sebentar lagi tiba.. Aku benci musim itu, Namsius"
"... Haha, mengingatkanku tentang masa remajaku dulu"
"Masa remajamu? Oh, maksudmu saat-saat yang ditunggu-tunggu semua murid."
"Benar! Liburan musim panas!! Itu adalah musim favoritku!"
"....."
"... Tapi entah mengapa.. aku kini membencinya ketika mengingat kita tinggal disini."
Namsius dan Rumos tinggal di wilayah Asa—— wilayah terkumuh dan terendah dari desa mereka, Phari. Mereka adalah satu-satunya orang tersisa yang tinggal di wilayah itu. Karena mereka tidak punya uang, mereka tidak bisa pergi dari sana.
"Lupakan saja. Masa-masa itu bahkan bukan bagian dari hidupmu lagi"
"... Iya.. jadi apa rencana selanjutnya untuk Fonsius? Kita beruntung dia tinggal di Phari kan?"
" Sayangnya, dia seusia dengan fisik kita--- dia masih 3 tahun. Kita harus menunggu sampai dia lebih besar"
"Haaa... Itu akan sangat lama"
Rumos mengedipkan matanya dan menatap Namusius yang menopang dagunya, menengadah ke langit biru. Ia memiringkannya sedikit, merasa tidak percaya dengan perkataannya.
"Apa kau tidak pernah belajar dari kesalahan mu? Kau mudah sekali percaya padaku."
"Oh, maksudmu saat aku menaruh nyawaku padamu? Jangan salah paham, aku mempercayaimu jauh melebihi dewa Darumias. Bukankah dia seperti ular yang berada dibawah pohon terlarang?"
"Benar. Ditambah, peraturan sialan yang dia buat itu-- membuatku semakin ingin mencekik mati nyawanya"
Namsius dan Rumos bukanlah anak yang normal. Mereka diutus oleh dewa Darumias ke dunia ini untuk membantu pahlawan bernama Fonsius agar dia bisa mengalahkan raja iblis. Tetapi, terdapat beberapa peraturan yang tidak boleh mereka langgar sama sekali;
1) Mereka tidak boleh diketahui keberadaannya oleh Fonsius.
2) Mereka boleh berinteraksi dengan pahlawan lain tetapi fokus utama tetap Fonsius.
3) Mereka harus mengarahkan Fonsius ke jalan yang benar agar dia tidak melenceng.
4) Mereka tidak boleh membunuhnya ataupun pahlawan lain.
5) Jika ada peraturan yang dilanggar maka akan dikenakan penalti.
"Sesuai kata dewa sialan itu, Fonsius akan menyadari dirinya adalah seorang pahlawan ketika usianya menginjak 15 tahun kan. Bagaimana jika mendekati ibunya dulu?"
"... Haaaa... Sudah kuduga kita tidak akan pernah bisa sepemikiran, Rumos"
"Jangan katakan itu. Kau juga akan ikut kan?"
"Tentu saja. Aku tidak ingin mati kelaparan"
Mereka berdua merapikan pakaian mereka dan pergi menaiki tangga. Asa dan daerah utama Phari, dipisahkan dengan tangga yang sangat panjang--- Noro. Butuh waktu satu jam untuk sampai ke pusat desa tempat Fonsius tinggal setiap hari.
—— makanya, mereka akan bergantian naik dan turun tangga atau terkadang tidur di jalanan dibanding rumah mereka agar mempermudah pekerjaan mereka dalam menipu warga setempat.
Tidak ada yang peduli sama sekali dengan mereka. Mereka hanya bisa mengandalkan diri mereka sendiri untuk mencari uang. Tidak pernah mengharapkan kebaikan dari orang lain selain kebaikan dari rasa simpati dan prihatin mereka.
"Ah, itu dia ibunya. Apa sebaiknya kita membawakan sesuatu untuk Fonsius agar dia mengingat kita?"
"Tidak perlu. Kita ini miskin jadi jangan merepotkan diri kita sendiri. Namsius, kau duluan yang menyapanya. Kau lebih pandai berkomunikasi dan menipu orang"
"Kau tidak pandai bersosialisasi? Kau-"
"Jangan banyak protes. Kau sama munafik nya denganku. Kau sadar kan?"
Namsius mengangguk dan menghela nafas panjang, mengakui kemunafikan dirinya demi bertahan hidup. Ia sendiri merasa jijik dengan dirinya. Sayangnya, dia tidak mempunyai pilihan lain dan mempertaruhkan semuanya.
"Baik, baik.. Aku akan menipunya. Masuklah ketika ada kesempatan, mengerti?"
Namsius memetik sebuah bunga yang ada di jalanan sebelum ia menghampiri targetnya, yakni sepasang suami istri yang masih muda di tepi jalan. Menyapa mereka dengan senyuman ramah, ia menawarkan sebuah bunga asal-asalan yang ia petik untuk dibeli.
Mereka yang tersenyum lembut dengan tawaran tersebut adalah orang tua sang protagonis, Fonsius. Berbaik hati, mereka memberikannya sebuah koin emas padanya.
"Terimakasih, tuan dan nyonya muda," ujar Namsius, membungkuk sembari Rumos menghampirinya.
Ini adalah pekerjaan sehari-hari mereka. Menipu orang demi uang dengan benda yang mereka pungut. Terkadang bisa benda aneh yang mereka buat sembarangan, terkadang barang sederhana yang mereka besar-besarkan bagai benda mewah, bahkan benda seperti daun juga mereka jual.
—— Seorang con artis dan penipu handal, itu adalah pekerjaan mereka sehari-hari.
"Haha, kalian masih muda. Gunakan koni itu dengan baik. Ngomong-ngomong, berapa usia kalian?" Tanya ibu Fonsius
"3 tahun. Kami tinggal di dekat sini. Orang tua kami sudah mati jadi kami tinggal bersama nenek kami," jawab Namsius
"Ah, kasihan. Itu pasti sulit harus bersikap dewasa di usia muda. Rawatlah nenekmu dan jagalah diri kalian. Jujur, kami juga mempunyai anak seusia kalian," ujar ayah Fonsius
"Namanya Fonsius. Lain kali kami perkenalkan," tambah ibunya.
"Ah, itu pasti-"
"Terimakasih paman. Kami pulang dulu ya. Nenek kami sedang menunggu," sela Rumos sembari menarik Namsius pergi, meninggalkan sepasang suami istri itu dalam kebingungan.
Reaksi mendadak Rumos membuat orangtua Fonsius terdiam, memikirkan apa yang baru saja terjadi.
"Suamiku, apa anak-anak selalu seaneh ini?"
"Tidak..? Bagaimana mereka bisa aneh? Bukankah mereka biasanya seperti ini? Konyol dan-"
"Aku tahu. Namun apa kau tidak merasakannya? Dari nada bicara dan diksi mereka.."
Ayah Fonsius menggaruk kepalanya, menatap punggung Namsius dan Rumos. Ia mengangguk kecil, mengiyakan istrinya dan merasa sedikit janggal.
"Kau benar. Aku tidak merasa sedang berbicara dengan seorang anak kecil. Mereka sungguh anak yang aneh?"
...*********...
Rumos memeriksa koin emas yang diberikan tadi sambil tersenyum gembira. Semenyara itu, Namsius hanya tertawa kecil melihat tingkahnya sembari mencari target selanjutnya.
Matanya kemudian terkunci pada seorang gadis muda yang berwajah ramah nan polos. Menyikut Rumos, ia menunjuk gadis tersebut dan menanyakan pendapatnya.
"Oh, kau mempunyai mata yang bagus. Dia adalah target yang baik."
".. Dia masih muda. Kau yakin?"
"Iya. Pergilah sekarang-" Rumos mendorong punggung Namsius, membuatnya hampir tersandung kakinya sendiri.
Mendesah panjang, ia memperbaiki penampilannya sebelum menghampirinya dengan riang ceria. Kali ini dia menawarkan sebuah cincin keberuntungan yang ia buat menggunakan rumput sembari bercanda dengannya.
Gadis itu tertawa geli, terkesan dengan kemampuan kerajinan tangan Namsius dan sikapnya. Menerima tawarannya, ia memberikannya 3 koin perunggu dan tersenyum lebar.
"Terimakasih, nona muda. Semoga beruntung mendapat pacar!"
"!! P, Pacar- Dasar anak kecil ini! Padahal ini pertemuan pertama kita, bagaimana kau bisa tahu?"
Namsius tertawa geli, memutuskan aktingnya sampai disana dengan lambaian tangan. Namun, langkah kakinya berhenti sesaat gadis tersebut menahannya dari belakang.
"Tunggu, aku pernah melihatmu- wajahmu familiar," kata gadis tersebut, membuat Namsius gugup.
".. Apa maksudmu? Aku-"
"Oh, bukankah kau anak dari Asa?"
"Eh? Bukan. Mengapa kau mengatakan itu?"
Gadis itu mengerutkan keningnya, semakin mencurigainya. Ia berjongkok dan menghendus sedikit rambut Namsius sebelum mundur dari rasa kaget dan mendorongnya secara refleks. Tindakannya menarik perhatian seorang pria paruh baya yang menanyakan apa yang terjadi.
"Anak ini badannya berbau seperti air comberan"
"Anak ini?" tanya pria itu, memperbaiki kacamata dan menjentikkan jarinya. "Oh, pantas saja- dia anak dari Asa! Aku pernah melihatnya menuruni tangga beberapa kali!!"
Namsius membesarkan matanya, berusaha tenang agar ia salah berbicara. Ia melirik pada Rumos dari ekor matanya sembari tersenyum kaku dan terkekeh kecil mengatakan gadis dan pria itu salah paham, memastikan mereka dengan yakin.
Ketika bualannya tidak berhasil, Namsius menahan nafasnya dengan panik dan segera melakukan telepati singkat dengan Rumos.
"Hei, Rumos. Tolong aku!"
——Telepati. Selain larangan, mereka juga diberikan hadiah kecil yang bisa membantu mereka. Satu-satunya hadiah dari dewa Darumias yang mereka cap sebagai berguna.
"Ada apa? Kau menggali kuburan mu sendiri? Jangan terlalu mengandalkanku setiap kali kau terkena masalah"
"Apa?! Kau sudah berjanji-"
"Bukan berarti aku akan melakukannya. Sudah ku peringatkan untuk tidak mempercayaiku semudah itu kan?"
Namsius mengerutkan keningnya, pasrah meminta bantuan Rumos. Memutuskan untuk menyelesaikan masalahnua sendiri, ia membersihkan tenggorokannya dan tersenyum penuh percaya diri, sebelum mengatakan dengan yakin bualannya.
"Badanku bau karena aku baru saja menemui temanku dari Asa yang kesepian. Mereka tidak punya makanan apapun makanya aku dan temanku, Rumos sering pergi kesana. Tidak kalian tahu tidak ada seorangpun yang membantu mereka sama sekali?"
"!! Y, Yah... Ah..." Keduanya tertegun setelah mendengar jawaban Namsius. Mereka bertukar pandang, tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"... M, Mereka lumayan menyedihkan. Tidak banyak orang yang ingin turun kesana belakangan ini karena jauh dan tidak ada apapun disana."
"B, Benar. Kasihan sekali.."
Namsius tersenyum datar melihat keduanya menunjukkan rasa bersalah yang mereka tutupi dengan simpati sementara Rumos yang menonton dari kejauhan, menahan tawanya sambil memegang perut dan mulutnya erat-erat.
"Lucu- mereka hanya mengatakan itu karena dibilang"
"... Apa itu ada bedanya dengan kita?"
"Tidak ada, kita sama munafiknya. Ini hanya sikap alami manusia. Kau pasti mengerti kan?"
Namsius mengulum bibir pucat nya dan mengangguk kecil. Ia menatap 2 orang di depannya lagi yang bertingkah aneh seakan-akan mereka tertangkap basah dalam tindakan kriminal.
Namun, siapa yang tidak begitu? Jika mereka tidak melakukannya? Apa yang akan masyarakat katakan pada mereka?
Mereka takut dipandang rendah. Mereka takut dipandang sebagai makhluk jijik tak berhati meskipun secara literal-
—— Satu desa Phari ini tidak pernah menunjukkan perhatian dan kekhawatiran mereka pada Asa dan penghuni di dalamnya.
Bahkan orang-orang yang berasal dari Asa awalnya kini tidak peduli lagi sebab tempat tersebut bukanlah tempat tinggal mereka lagi.
"... Nona muda dan tuan, kalian tidak salah. Mereka memang anak-anak yang memprihatinkan dan menyedihkan. Masa depan mereka sangatlah suram"
"!!.... M, Masa... depan ya?"
"Maknya, setidaknya- aku mohon.. Janganlah terlalu kasar juga pada mereka. Hidup mereka sudah cukup memuakkan. Itu saja, aku pergi dulu"
Namsius berjalan pergi ke arah Rumos tanpa menunggu jawaban dari mereka. Ia tidak merasa senang ataupun sedih. Akan tetapi, sesuatu dari dalam dirinya sedang meluap-luap.
Ia tidak mengenal apa itu. Mulutnya terbungkam dan ia tidak bisa mengatur ekspresinya.
"Kerja bagus. Itu cukup untuk hari ini," ujar Rumos mengambil 3 koin perunggu dari saku celana Namsius.
".... Rumos, kau memang yang terburuk"
"Dan kau bukan yang terbaik. Kau mengatakan aku yang terburuk karena aku ini benar sebagai pembunuh kan?"
".... Mungkin.."
Namsius menundukkan kepalanya. Perasaan campur aduk yang menyesakkannya membuatnya ingin menjerit-jerit minta tolong. Ia jijik dengan dirinya sendiri.
".. Kau boleh emosional. Namun jangan berani-beraninya mengacaukan kesempatan dalam hidup ini"
Benci mengakuinya, ia tidak sendirian dalam menanggung situasi ini. Satu-satunya orang disampingnya saat ini adalah orang yang paling ia benci. Orang yang senasib dengannya.
—— Pembunuhnya sendiri.
"Namsius, jangan bengong. Cepatlah, kita harus pergi"
"... Kemana?"
"Asa, kau lupa?"
"Mengapa?"
Rumos terdiam, melebarkan matanya. Ia meledak tertawa sesaat kemudian, menyeret Namsius menuruni tangga Noro menuju Asa. Ia tercengang melihat Namsius bertingkah laku seperti orang amnesia karena penolakannya.
"Mengapa kau menyeretku?"
"Karena kita akan pulang ke rumah. Bukankah kita dikandung di rahim yang sama?"
Nafas Namsius tertahan.Hidup do dunia ini membuatnya hampir gila. Dia tidak memiliki apapun sama sekali, terkecuali satu hal-
"Yah, Ayo pulang Rumos"
—— Pembunuh berantai sekaligus saudaranya sendiri.