
...Shhhh.....
Sinopsis:
Hei, apa kau tahu kabarnya? Tentang sesosok monster yang akan muncul apabila kita memainkan permainan terlarang ini tengah malam.
Permainan apa?
Jika kita mengitung mundur hingga mencapai angka 0, dia akan datang.
Siapa?
... Entahlah. Mereka yang berhasil menghitung mundur tidak pernah terlihat. Dan untuk mereka yang tidak pernah mencapainya..
Apa? Apa yang kau lihat?
....
Hei, mengapa kau diam saja? Apa kau masih ada disana?
.
.
.
—— Sshhhh..
...********...
Keheningan malam yang membuat bulu kuduk merinding adalah pertanda buruk. Ram menyadari hal ini lebih awal dari sepupu dan teman-temannya. Menelan liurnya, ia memalingkan kepalanya ragu memasuki rumah tua di depannya.
"H, Hei.. K, Kau yakin kau tidak ingin pulang?"
"Hmm? Ada apa? Kau takut?" Tanya Dylan, setengah mencemooh Ram. "Pulanglah apabila kau takut"
Ram menggigit bibirnya. Jikalau dia bisa pulang, maka dia akan melakukannya dari tadi. Namun, ia telah kabur dari rumah diam-diam. Ia tahu senjata emaknya akan mendarat di wajahnya begitu pulang. Itu tidak berarti dia ingin berada di rumah tua ini juga. Mempertimbangkan keputusannya, ia balik kanan dan berjalan pulang.
Sayangnya, langkahnya berhenti saat suara telepon memecahkan heningnya malam. Deringannya membuat Dylan yang hendak masuk ke dalam menoleh secepat cahaya dan langsung merebut ponsel Ram supaya sepupunya tidak membocorkan apa yang terjadi.
"H, Halo-"
[Ada apa- Dasar anak sinting! Apa kau tahu jam berapa sekarang?!! Bisa-bisanya kalian pergi keluar dan tidak mengunci pintu terlebih lagi!! Anak tak tahu diri!!]
Dylan menjauhkan ponsel yang memekakkan telinganya. Kepanikan, ia tanpa sengaja mematikan ponsel tersebut-- menggali kuburannya dan Ram sendiri.
Ponselnya kemudian berdering 2 kali lipat lebih kencang sampai-sampai teman-temannya tidak jadi masuk ke dalam. Ram hampir memutih ketakutan bergegas mengangkat panggilan ibunya dan mencari alasan ter-logis yang ada.
"I, Ibu.. Kami sedang.. uh.. bertemu dengan bang David. D, Dia barusan tiba dan-"
[Jangan cari alasan! Bang David ada disini kok sama ibu! Dia barusan pulang ke rumah naik ojek!! Cari apa kau tengah malam begi-]
TUT!!
Ram menonaktifkan hp nya. Ia pikir ini adalah satu-satunya pilihan paling cepat untuk menyelamatkan telinganya dari omelan emak.
"Wow, Ram. Pemberani sekali kau"
"Diam LAN card. Aku menyesal membantumu"
...***********...
Rumah Ram
Saudara Dylan-- David duduk di sofa. Mendengar suara bibinya berteriak, ia tersentak kaget dan bergidik. Bertanya-tanya mengapa ia marah, David lalu menyadari ketiadaan keberadaan Ram dan Dylan.
Tersenyum kaku, ia menghampiri bibinya dan menenangkannya. Ia tidak tahu apa yang kedua penghuni lain rumah ini pergi. Yang dia tahu, ia terlalu takut untuk melihat bibinya marah lebih dari ini.
"Bibi, bagaimana jika aku mencari mereka? Mumpung David juga ada urusan diluar jam segini"
"Kamu ada urusan apa? Kepala bibi hampir pecah lihat kenakalan 2 bocah itu"
David mendudukkan bibinya yang memegang keningnya di atas kursi meja makan. Ia menjelaskannya maksud kedatangannya yang tiba-tiba adalah karena janjinya kepada pacarnya yang tinggal tidak jauh dari sini.
"Maaf merepotkan bibi. Aku dan Sarah janji ketemuan tengah malam ini"
"Haaa.. dasar anak muda. Kok bibi dan ibumu nggak tahu kamu punya pacaran sama si kembang bunga. Sarah yang rambutnya hitam gelam dan bermata bulat kan?"
"Iya. Yang badannya tinggi ramping dan bibirnya semerah mawar bak Dewi cantik," Kata David, mendeskripsikan perempuan yang ia sukai.
"Sekali lagi maafkan David ya merepotkan bibi"
"Tidak apa," ujar bibinya yang sudah tua dan pikun. "Kau pasti juga stress sampai-sampai berbicara dengan dinding"
David mengedipkan matanya 2 kali, kebingungan. Mengira-ngira ibunya yang menceritakan apa yang ia lakukan dirumah, ia terkekeh kecil dan menoleh ke kanannya sekilas.
"Aku tidak sedang stress bibi. Aku sedang berbicara dengan temanku saat itu"
"Begitu ya.."
"Iya. Bibi aku pergi dulu mencari mereka ya"
"Baik. Dav, jangan sampai mereka kabur ya. Ibu mau tempeleng mereka nanti"
"Haha, jangan dong di smack down bu. Kasihan sel otak mereka."
...******...
Ram POV
Aku berbaring di sebuah ruangan yang gelap dengan sebuah senter di tanganku. Tidak ada bulan purnama malam ini. Dingin. Aku meringkuk gemetaran. Mataku tertuju pada satu-satunya orang di sampingku.
"RAM memory, apa kau setakut itu?"
"B, Bagaimana bisa aku tidak gelisah dalam keadaan ini?"
"Benarkah. Jadi kau takut akan penjahat, struktur rapuh, hantu, gelap, atau... Kau takut ditinggal sendirian?" Dylan menyentil hidungku pelan, menertawakan ku. Aku tidak mengerti apa yang ia pikirkan.
Sekarang semua orang sedang berpencar di ruangan-ruangan yang belum pernah kami masuki. Mana bisa aku tidak takut di rumah seperti ini. Ditambah, Dylan kelihatannya terlalu ceroboh untuk ku tinggal sendiri. Ibu akan membunuhku jikalau salah satu dari kami terkena kecelakaan.
SREET..
"!!!! UWAA- HENTIKAN!" Aku menepis tangan Dylan yang merayap naik ke leherku. Menyuruhnya berhenti bercanda, aku mengancamnya dengan nilai bahasa Indonesianya yang telur bebek.
"Ibu akan memarahimu habis-habisan"
"Ya nggak lah. Kamu orang negara mana bisa remed bahasa nasional sendiri"
Dylan memalingkan kepala terdiam. Ia mengecek ponsel hp nya yang menunjukkan hampir pukul 12 malam. Melirik pada penerang diruangan ini, aku memegang erat senterku agar dia tidak merebutnya bagai nyawaku dipertaruhkan.
".. Heh- Apa ini? Apa yang kau takutkan sampai harus memeluk senter itu? Apa kau pikir itu harta nasional negara?" Tanya sepupuku yang menyeringai. "Kau takut hantu ya? Tak bisa dipercaya"
"D.. Daripada hantu, aku lebih takut kita akan tertimpa atap rumah tua ini. Aku.. belum pernah memikirkan apa aku takut hantu atau tidak.."
"Itulah makanya, kita uji nyali! Kemarikan senternya-"
Aku menggeleng, memegang senternya lebih erat. Masalahnya, seberapa kuat aku mencoba mempertahankan satu-satunya penerang ruangan ini, dia mengetahui kelemahanku.
—— Aku tidak tahan geli.
Tangannya menggelitik ku di bagian sensitif. Melindungi pinggang dan leherku, aku terpaksa melepaskan senternya- memberikannya kesempatan untuk merebutnya. Aku melototinya. Aku tidak menyukai apa yang ia lakukan.
Mendekati tengah malam, ruangan ini dipenuhi hawa dingin dan aku bisa merasakan sesuatu membuat firasatku memburuk. Semua perasaan marah dan harga diriku dikalahkan oleh rasa janggal di ruangan ini.
Aku memohonnya untuk tidak mematikan senternya. Dia tidak mendengarkanku, mengatakan aku adalah seorang pengecut. Mematikan senternya, ia meletakkannya di tempat yang jauh dariku. Keringat dingin bercucuran dari punggung. Setiap kali ia menghitung mundur dari 10, sesuatu yang mencekam mendekatiku.
Dylan tidak berhenti menghiting mundur- menjahiliku. Suara ringannya menambah sesak atmosfer ruangan ini sehingga aku putus asanya meraba-raba mencari senter. Aku tahu ada yang datang. Kami tidak sendirian di ruangan ini.
"Lima, empat.."
"H- Hentikan. Candaanmu kelewatan!"
"Tiga..."
"D, Dylan- ini tidak lucu lagi"
"......"
"... Dylan?"
—— Suara sepupuku menghilang dalam keheningan malam. Meninggalkanku sendirian dalam kegelapan.
"... Dylan, Apa kau disana?"
"......"
Aku tidak mendapatkan respon apapun. Seakan-akan aku sendirian. Kenyataannya, aku menyadari ada sesuatu di depanku. Tanganku yang pada akhirnya meraih senter di dekatku segera menghidupkannya kembali. Perlahan-lahan, aku mengangkat senter—— menyinari apa yang ada disampingku.
Tak bisa mendeskripsikan ketakutan hebat yang kulihat hari itu. Suaraku tidak bisa keluar dan mataku bergetar, melihat sosok monster berambut hitam panjang menutupi mulut Dylan dengan cakarnya yang panjang nan tajam.
Monster bertubuh tinggi kurus kering itu menoleh ke arahku dengan cara yang aneh. Aku ingin berteriak. Tidak mampu menahan apa yang ada di depan mataku. Tenggorokan keringku tidak memperbolehkanku mengeluarkan sepata kata.
Menatapku dari mata hitam bulat, monster itu mengangkat jari mengerikannya— menempatkannya di depan mulut semerah darah yang tersobek lebar.
.
.
.
"——Shhhh.."
...**********...
Third POV
Ram dan Dylan duduk di halaman rumah mereka. Keduanya tidak bisa melupakan apa yang mendatangi mereka semalam. Kini mereka sedang dihukum ibu mereka mencuci baju.
——Walaupun mereka barusan ditemui kejadian aneh, mereka pun tidak luput dari hukuman dan kewajiban mereka.
".. Dylan, mati kita berjanji tidak melakukan uji nyali lagi"
"S, Setuju. Aku akan mengubur rahasia ini selamanya hingga aku mati"
"-- Ayo, apaan tuh yang kalian sembunyikan?"
Ram dan Dylan menoleh ke belakang mereka, menemukan David. Menjewer telinga kedua orang yang kabur semalam, ia mencandai mereka sambil menasehati mereka untuk tidak mengulang perbuatan nakal mereka lagi.
"Ih sakit, bang! Apaan sih?!"
"Hayoo, siapa suruh kalian keluyuran ke ujung jalan. Salah sendiri dong uji nyali sampai ngompol"
Ram menundukkan kepala merah menyalanya sementara Dylan menanyakan siapa nama pengkhianat yang menjual mereka kepada abangnya. Tertawa terbahak-bahak, David menjawabnya dengan gelengan.
"Temanku melihat semuanya. Rangga yang memberitahuku apa yang terjadi."
"... T, Temanmu?"
"....!!!" Ram bergidik dan terperanjat oleh angin yang membelai pipinya. Menjadi defensive secara otomatis, ia memperhatikan sisi kanan David— dimana sumber anginnya berasal.
"Apa yang barusan- Abang David, apa kau bekerja sebagai dukun?" Tanya Ram. Menjauh dari David.
"Tidak, konyol. Apa yang membuatmu kalian berpikir seperti itu? Kalian lihat apa sih semalam sampai jadi was-"
"—— Shhhhh..."
David tersentak dan terdiam sesaat. Melihat adiknya mengisyaratkannya tidak berbicara lebih lanjut, ia tersenyum lega dan bejalan pergi.
Pada akhirnya Ram dan David tidak pernah berhasil menghitung mundur mencapai angka 0. Mereka bertemu dengan sesosok asing yang membuat mereka ketakutan mereka hingga terdiam.
"Haha, Sarah memang baik ya. Menyelamatkan orang bahkan setelah dia meninggal di rumah lamamu."
David melirik sosok remaja berambut pirang yang melayang di sebelah kanannya. Sosok tersebut mengiyakannya, memegang kepalanya yang berlubang disamping.
'Kau beruntung mempunyai pacar seperti Sarah'
"Benar. Aku berterimakasih kau sudah membantuku, Rangga"
.
.
.
'—— Syukurlah mereka tidak bertemu monster yang menempati rumah tua tersebut. Aku pun tidak ingin bertemu dengannya lagi'
^^^—— End of SP^^^