
Namsius POV
Orang kaya jauh lebih kecil kemungkinannya untuk melakukan hal-hal 'buruk', hanya karena mereka tidak perlu melakukannya.
Ini adalah masalah struktur masyarakat, tetapi keluarga kaya secara teknis tidak melakukan kesalahan moral dalam hal ini. Sungguh kacau bahwa keluarga miskin harus melakukan hal-hal yang secara moral dipertanyakan untuk bertahan hidup.
Namun--
"—— Haaa... Tetap saja aku iri dengan keluarga kerajaan itu. Hidup kita sangat menyedihkan."
"Aku tidak bisa lebih setuju daripada itu. Juga, aku terkejut kau tadi mengetahui etika dan tata krama di meja makan. Apa kau dulu berasal dari keluarga kaya atau apa?"
"Tidak. Aku berasal dari keluarga sederhana. Yah, berterimakasih lah pada ketertarikan ku dengan peralatan makan sih."
Rumos mengerutkan keningnya, memandangiku aneh. Dia terlihat terkejut saat aku mengakui ketertarikan anehku. Padahal dia sendiri lebih aneh.
Baru kusadari, Rumos ternyata adalah orang yang berpengetahuan tinggi dan setidaknya pernah belajar hingga perguruan tinggi. Aku sendiri sempat tidak mengerti apa yang ingin dia sampaikan tengah jalan. Tapi anehnya-
—— Orang sepertinya berakhir sebagai seorang pembunuh berantai?
Mengapa? Orang berpendidikan tinggi dan memiliki karisma mempunyai akhir menyedihkan seperti itu?
"Oi, tukang melamun-"
"!! Jangan memanggilku itu!"
"Terserah. Ikannya akan muncul sebentar lagi. Kita harus cepat ke danau Noro sekarang. Kau ikut?"
Aku mengiyakannya dengan malas, memfokuskan diriku. Kami lalu berlari ke tepi danau yang dipenuhi lautan manusia. Karena badan kami kecil, kami mati-matian berusaha menyelipkan badan kami ke depan.
Sesampainya di depan, aku terengah-engah kehabisan nafas. Mataku menempel pada ikan-ikan raksasa yang bewarna pelangi pastel keemasan. Sisik mereka lebih besar dari yang kuduga.
"Rumos, ini mustahil. Sisik itu terlalu jumbo bahkan untuk orang dewasa. Tidak mungkin ikan-ikan tersebut punya tangan untuk mencabutnya kan?"
"Lakukan saja."
Aku menghela nafas panjang, tidak percaya ia bertekad besi dalam rencana 50:50 ini. Menarik nafas dalam-dalam, aku terjun ke dalam air dan mendekati seekor ikan raksasa.
Aku meraba bagian bawah sisiknya yang terlihat lebih elok dari dekat. Sayangnya, sisik tersebut menempel erat di kulit mereka, membuatnya mustahil untuk dicabut.
"Hei, Rumos.. bagaimana ini? Apa kau sudah berhasil bernegosiasi?"
"Kau punya pisau, Namsius?"
"!!! Pisau?! Sudah kuduga ini tidak akan berhasil!! Kau sudah mencoba bernegosiasi dengan mereka?"
"Aku menarik perkataan ku kembali. Mereka tidak menjawabku sama sekali. Ternyata mereka hanya ikan tanpa otak untuk berpikir"
Cih- sial. Dia pasti bercanda! Dari mana dia mendapatkan info tentang ikan ber-akal Budi itu? Harusnya aku tahu ide ini terlalu absurd.
"Hei, kita sudah disini. Aku tidak ingin mendengar usaha kita sia-sia untuk menjadi kaya. Lakukan sesuatu!"
"... Haaa... Baiklah."
Rumos menarik tanganku, mengisyaratkanku untuk berenang naik ke atas. Kami mengambil nafas sebentar disana sembari mencoba menghangatkan diri. Air malam ini mungkin tidak sedingin hari-hari kemarin. Namun, air dingin danau ini tetap membuat kami menggigil.
Ini pasti yang terburuk. Aku tahu Rumos bukan orang yang mudah percaya pada orang lain jadi dari siapakah dia mendengar berita ini?
"... Kupikir mereka mempunyai kesadaran diri. Semua orang di desa ini berkata demikian. Ditambah, mencabut sisik ikan terdengar tidak terlalu sulit dalam cerita mereka"
"S, Semua orang? Bagaimana bisa? Tidak- mengapa kau bisa percaya pada mereka?"
"Apa kau tidak ingin kaya? "
"Tentu saja. Aku muak hidup di jalanan- Tapi tidak senekat ini juga kali!!"
Aku mengerutkan kening, menengadah ke bulan purnama. Aku tidak memiliki rencana apapun yang muncul di benakku saat ini. Terkecuali untuk satu hal-
"—— Rumah lama kita.. Ini kesempatan kita untuk menghapus jejak kita di Asa"
"Menghapus jejak itu sedikit merepot- Hei!"
BYUUR..
Aku menyelam masuk sendirian tanpa menunggu jawabannya. Di dalam air, aku melihat seekor ikan bergerak memutari ku saat mata kami bertemu sejenak. Dia tampaknya baru menyadari keberadaan kami.
Ikan tersebut mengikuti ku ke dasar danau, berenang mendekati rumah kami yang hancur. Aku memungut beberapa foto dan barang-barang lainnya yang membocorkan identitas kami, kemudian memasukkannya ke dalam saku celana untuk dibakar nanti.
"Oi- dimana kau sekarang? Bisa-bisanya kau bertindak gegabah seperti itu! Kau tidak pernah menungguku sama sekali!!"
"Maaf, aku tahu kau pasti akan menolaknya apabila aku tidak langsung turun. Aku berada di rumah lama kita. Kau tahu.. di tempat dimana barang-barang kita disebut polutan. Tentu saja mereka disebut polutan- Ini sudah bukan rumah kita lagi."
"Haaa... ada-ada saja. Tunggulah konfirmasiku setiap kali kau bertindak. Tunggu aku disana."
[.. Kau tidak punya rumah? Barang-barang di sekitar sini milik kalian?]
!!! EEEHH?!!
Ikan ini bisa mengerti telepati kami?!
[Jadi kalian dulu pemilik tempat ini sebelum danau ini terbentuk?]
".. Iya, begitulah. Kami dulu tinggal disini," jawab Rumos, baru sampai ke dasar laut.
"Kami tidak mempunyai rumah. Jadi kami menginginkan sisikmu agar kami bisa jual untuk bertahan hidup," tambahku, mencoba meyakinkan nya.
Ikan tersebut menoleh pada kayu penopang rumah kami yang berserakan di lantai laut. Dia terdiam beberapa saat dan langsung meminta maaf tanpa sebab, membuatku kebingungan.
[Ah, maaf. Aku turut bersedih melihat rumah kalian. Sayangnya, aku tidak bisa memberikan kalian sisik ku.] Ikan tersebut memliki ekspresi murung, merasa sedikit bersalah. [Sisik ku terlalu keras. Maaf, aku tidak bisa membantu kalian]
Aku tersenyum lemah dan mengangguk mengerti. Tebakanku benar. Tidak ada yang bisa mencabutnya.
Tapi ini sangat menyedihkan karena kami dikasihani bukan oleh seorang manusia-
—— Melainkan seekor ikan yang bisa membaca pikiran kami. Ia memperlakukan kami lebih baik daripada manusia itu sendiri.
Seketika kami berenang naik, ikan itu menghentikan kami dan menyuruh kami mendekat. Dia mengeluarkan 2 buah telur dari mulutnya dan meminta kami memakannya. Aku dan Rumos tertegun, mengambil telur berukuran sekecil kelingking kami.
[Aku tidak bisa membantu banyak. Jadi setidaknya ambillah telurku ini agar kalian dapat tumbuh dengan baik dan terjamin. Kalian tumbuh sehat dan sempurna tanpa kematian bisa menyentuh kalian sama sekali]
"!! B, Benarkah? Terimakasih, tuan ikan!"
[Semoga beruntung. Aku memberkatimu sobat]
"Baiklah, sampai jumpa. Jaga kesehatan dan keselamatan ya!"
Aku melambaikan tanganku padanya sebelum naik ke permukaan dengan cepat. Di permukaan, aku dan Rumos sama-sama memandangi satu sama lain dengan senyuman lebar di wajah kami. Saking bahagianya, kami tidak pernah menyadari wajah kami dapat tersenyum selebar ini.
Wow, itu satu ikan yang sangat baik dan ramah tadi. Kita beruntung hari ini.
"Haruskah kita mencobanya?"
"Tentu saja, kau duluan. Anggap saja ini sebagai hukuman karena kau bertindak seenaknya"
.
.
"Rumos.. Hari ini adalah hari yang baik. Aku harap waktu dapat berhenti sesaat agar hari esok tidak pernah datang"
...********...
Liam Thebeoceron POV
Festival malam musim panas di Phari sangatlah meriah nan ramai. Aku dan adikku Eliot sedang berjalan-jalan di tengah-tengah cahaya lentera kelap-kelip. Desa kecil ini memiliki banyak potensi yang mengagetkanku. Dari alamnya hingga budaya mereka.
Akan tetapi yang paling mengagetkanku hari ini adalah anak kembar tadi siang yang keterlaluan pintar. Mereka tidak seperti anak kecil lainnya. Mereka berwibawa dan cerdas.
Semua perkataan mereka terdengar seperti saran untukku. Itu bukan hal yang buruk, malahan.. aku merasa beberapa dari perkataan itu bisa kujadikan pegangan.
"Kak, aku ingin melihat danaunya!"
"Danau? Masih sedikit ramai disana. Kita sebaiknya menunggu-"
"Aku hanya ingin melihat ikannya. Sebentar saja- apa itu boleh?" Tanya Eliot, sengaja bertingkah imut.
.... Yah, tapi jika aku tidak bisa mengurus adikku sendiri bagaimana aku bisa mengurus berjuta-juta orang? Aku masih ahrus banyak belajar.
"Asalkan kau tidak terlalu dekat ke danau, aku rasa semuanya akan baik-baik saja"
"HORE!!"
Aku membawa Eliot ke sisi tepi danau yang sepi dekat semak-semak. Eliot menatap ikan-ikan raksasa itu dengan penuh antusias sementara aku melihat airnya yang jernih. Sayangnya, ada banyak sampah kotor yang tersebar di danau ini.
Salah satunya adalah selembar kertas yang terhanyut ke dekat kakiku. Mendesah panjang, aku memungut kertas tersebut untuk dibuang. Namun, tanganku berhenti setengah jalan saat mataku terpana dengan isi yang ada di dalamnya.
Kertas tersebut berisikan beberapa titik-titik serta garis yang beraturan dan berpola. Aku tidak bisa membaca terlalu jelas dikarenakan tulisannya memudar karena air. Satu-satunya hal yang terbaca jelas adalah dua kata yang terdapat di paling atas kertas.
—— 'Kode Morse'.
Memiringkan kepalaku dengan bingung, aku mengernyitkan kening ku. Aku tidak pernah melihat kode ini sebelumnya.
.. Kode apa ini? Apa seseorang bernama Morse dulu pernah tinggal disini?
TAP, TAP, TAP..
"Oh, disini ada orang?"
!!!!
Aku buru-buru menarik Eliot mendekatiku ketika suara seorang pria paruh baya terdengar. Meronyokkan kertas di tanganku, aku bergegas berbalik dan menemukan 3 pria mencurigakan berdiri tidak jauh dariku.
Mereka tersentak sesaat melihat wajahku dan segera memberikan salam padaku. Mereka tidak terlihat (setidaknya) bermaksud buruk padaku. Ini lebih tepatnya sebuah kebetulan yang mendadak.
".. Siapa kalian?" Tanyaku
"Oh, aku adalah kepala desa disini. Apa yang anda disini, pangeran?"
Aku mengedipkan mataku 2 kali, melihat pria di usia 40 nya sedang bermain dengan kumisnya. Dia terlihat sangat.. lusuh (jembel) dan berbau alkohol.
"Aku sedang menjaga adikku. Namun.. Kelihatannya anda sedikit sibuk. Kita bicara saja nanti"
"Haha, pangeran Liam.. aku hanya memperlihatkan 2 pemuda ini yang berasal dari sirkus luar desa. Mereka adalah teman lamaku"
Aku melirik 2 pemuda dibelakangnya yang menyeringai aneh. Pemuda yang pertama mempunyai sebuah luka di kepalanya dan yang satunya lagi tidak mempunyai tangan sama sekali. Mereka membuatku tidak nyaman.
"Pangeran Liam, anda tidak perlu pergi. Bagaimana jika kita berbincang bersama-sama?"
Ketiga orang tersebut memintaku tidak pergi, hampir memaksaku dan mengancamku disini. Mereka memiliki wajah licik yang samar-samar terlihat di senyuman palsu tersebut. Mereka tidak menyembunyikannya dengan benar.
Ya ampun- apa mereka serius memaksaku? Aku yang merupakan seorang pangeran?
Untung saja sebelum situasinya semakan memburuk, Eliot menyela situasinya dengan menarik bajuku dan menunjuk ke air danau. Tindakannya membuat ketiganya terdiam sesaat, dan segera memberi salam saat mereka baru menyadari keberadaan Eliot.
Mereka tidak sopan. Jika bukan karena ayah yang menyuruhku untuk menghindari kekacauan dan aku yang harus Eliot disini, aku pasti akan menghukum mereka sekarang.
"Kakak, lihat!" seru Eliot, menarik tanganku
"Ada apa, Eliot?"
"Kakak, mengapa ada 2 orang di danau ini?"
"!!... Eh?"
Aku melihat ke arah yang ditunjuk Eliot dan membelalakkan mataku. Aku menemukan dua anak kembar yang kukenal sedang berenang susah payah ke tepi danau. Menggendong Eliot, aku berlari tergesa-gesa kesana untuk menolong mereka.
"Hei, kalian berdua! Apa yang kalian lakukan disini?!"
"!!?.. P, Pangeran.. M, Mengapa.. a, anda..."
Aku menjulurkan tanganku, menarik mereka ke atas. Wajah pucat mereka kelihatan baru bertemu hantu. Ekspresi terkejut dan kewalahan mereka tercampur, membuat mereka tak bisa berkata-kata.
"Pangeran Liam! Apa anda baik-baik saja?" Tanya kepala desa, berlari padaku dengan raut wajah yang khawatir akan citra nya.
"Ada yang lebih penting disini- Bisakah kalian membantu anak-anak ini dulu? Setelah ini, aku perlu berbicara dengan kalian
"B, baik"
"Aku perlu berbicara dengan mu sehabis ini, kepala desa"
Kepala desa Phari menelan liurnya, menjadi gagap. Dia mengangguk cepat, berjalan menuju Namsiis dan Rumos. Akan tetapi, sebelum mereka bisa membantu mereka, si kembar buru-buru berterimakasih padaku dan segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lain.
"M, maaf.. mereka masih kecil. Mereka pasti bermain-main di tepi danau dan mencoba menangkap kunang-kunang.. atau ikan mungkin"
"Aku tahu mereka masih kecil. Namun aku yakin anak-anak Asa ini tidak sebodoh itu."
"!! A, Asa?!.."
Kepala desa terkejut dan memainkan jarinya ragu. Aku memintanya menjelaskan tetapi dia sepertinya keberatan menceritakannya dan mengelak. Dia menyembunyikan sesuatu.
Apa yang terjadi di Asa? Apa yang mereka sembunyikan?
"P, Pangeran tidak perlu khawatir. Kami-"
"Kepala desa. Yang kutahu, mereka bukanlah tipe anak-anak yang akan bermain dengan ikan atau kunang-kunang. Makanya.."
Yah.. Terserah apa yang ia katakan, aku bisa mendapatkan informasi dari mulutnya langsung dihadapan emas.
"Kepala desa, mari kita buat kesepakatan. Aku akan membayarmu 15 koin emas untuk informasi ini"
—— Uang itu segalanya. Itulah yang ku pelajari dari anak-anak Asa. Aku bersyukur telah bertermu mereka. Aku yang dulu pasti akan memaksa mereka sekarang seperti orang gila.
"A, apa- 15 koin?!"
".. Iya.. hanya jika kau mau memberitahuku. Aku akan mengecek ulang lagi faktanya. Jika kata-kata yang kau sampaikan benar sesuai kenyataan, aku akan membayarmu dia kali lipat."