I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 7: Dijual



Author POV


Namsius membuka matanya, terbangun dari tidurnya. Langit biru terang yang pertama kali ia lihat setelah terbangun membuatnya resah. Badannya tidak bisa bergerak dan mati rasa. Suaranya bahkan tidak bisa keluar sama sekali dari tenggorokannya dan ia hanya bisa terbaring diam di atas rumput hijau.


"!! APA YANG TERJADI?! BUKANKAH KAMI HARUSNYA ADA DI ATAS POHON?!!"


Namsius membelalakkan matanya dengan tidak tenang. Melirik ke kanannya, ia menemukan Rumos yang terbaring lemas tak jauh darinya-- Tak bisa bergerak ataupun bersuara.


Mereka berdua hanya berbaring di rumput dengan pakaian putih lembut dibawah langit biru bertiup angin sepoi-sepoi. Pemandangan disana sangatlah tenang dan melegakan hati.


Namun batin gelisah mereka mengatakan yang sebaliknya dan mencoba teringat apa yang terjadi sebelum mereka tertidur.


"Namsius- kau bisa mendengarku?"


"A, Aku bisa. Ada ide apa yang terjadi? Apa yang sedang terjadi disini?"


"Yah, ingatan terakhirku adalah kita sedang tertidur di atas pohon dekat danau Noro. Aku tidak mengingat apapun lagi sehabis itu"


"Em.. Karena kita ini miskin dan hampir tidak mempunyai apapun, kita tidak mungkin diculik dan dibawa ke tempat ini kan? Artinya.. Kita pasti berada di alam bawah sadar!"


Rumos melirik pada Namsius, kini mengerti bagaimana situasinya. Detak jantung mereka mulai berdetak normal dan tenang kembali. Menghembuskan nafas panjang dengan lelah, mereka kini memahami situasinya.


"Rumos, tampaknya kita dipanggil dewa Darumias"


"Ugh, dewa tidak berguna itu- apa maunya sekarang?"


"Haaa.. dia mulai membuatku pusing. Aku harap ini bukan berita buruk."


TING!


"!!!.. Suara apa itu?"


"!!!.... A, Ada sesuatu di atas-"


Sebuah lonceng muncul di depan mereka tiba-tiba bersama sesosok kelinci putih. Kelinci itu membunyikan lonceng itu dengan keras, memekakkan telinga si kembar sampai-sampai telinga mereka berdenging.


Sebuah seringai lebar terlukis diwajah makhluk putih tersebut. Ia kemudian memperkenalkan dirinya sebagai utusan dewa Darumias dengan bangga, memuji nama atasannya. Tercengang, Namsius dan Rumos mengedipkan kata mereka cepat. Namun tetap saja, sosok kelinci di depan mereka tidak menghilang.


"Wahai manusia terpilih dari dunia lain, selamat datang di dunia mimpi. Perkenalkan namaku adalah Whisly—— Kanselir dunia alam bawah sadar. Senang berkenalan denganmu!"


"!!.."


Kelinci itu menepuk kedua tangannya, mengacungkan jari telunjuknya ke atas. Dalam sekejap, tubuh mereka langsung terduduk sendiri, memperbolehkan Namsius dan Rumos untuk merasakan dan mengontrol tubuh mereka lagi.


Sayangnya, suara mereka masih belum dikembalikan. Mereka tidak bisa memprotes ataupun mengomel. Mereka hanya bisa mendengarkannya.


"Yah.. tak perlu basa-basi. Hari ini aku memanggil kalian kemari untuk menyampaikan kekecewaan dewa Darumias terhadap kalian. Sudah 3 tahun tapi kalian masih juga belum melakukan apapun dan baru hari ini kalian berinteraksi dengan benar. Mengapa kalian tidak bersiap-siap? Kalian tahu dunia ini akan hancur bukan?"


Namsius dan Rumos mengerutkan kening mereka, merasa kesal dikata-katain oleh sosok yang hampir tidak tahu apapun. Mereka ingin sekali membantah perkataan tersebut jikalau mereka bisa.


Kata-kata mereka tidak bisa keluar dan mulut mereka tertutup rapat. Mereka hanya bisa menelan kekesalan mereka.


Bagaimana bisa seorang anak berusia 3 tahun melakukan sesuatu dengan badan kecilnya? Dengan tubuh kecil seperti ini? Situasi ekonomi yang sangat buruk? Yatim piatu dan tidak punya tempat tinggal? Bukankah Fonsius tidak seharusnya sadar dengan keberadaan mereka?


Melakukan misi ini sampai setidaknya 12 tahun ke depan dengan situasi seperti ini-


—— Di tempat pertama, hal seperti membantu pahlawan protagonisnya sangatlah mustahil dengan situasi mereka sekarang. Mereka sendiri kesusahan untuk bertahan hidup. Membantu orang lain adalah sesuatu diluar logika dan rasionalisme mereka.


".. Kalian tidak berguna ya? Untunglah dewa Darumias berbaik hati danmemberikan kalian pertolongan." Whisly menjentikkan jarinya, mengagetkan Namsius dan Rumos seketika sebuah layar biru muncul di depan mereka.


Layar tersebut berisikan semua barang-barang di dunia pertama mereka dengan harga dan deskripsi setiap barang disana tertera dibawahnya.


"Layar yang kalian lihat adalah bagian dari Sistem Storage and Market, atau bisa dibilang SSM. Sistem ini memperbolehkan kalian berdua membeli barang dari dunia pertama kalian dengan uang yang kalian terima di dunia ini. Kalian juga bisa menyimpan barang-barang kalian di ruang penyimpanan atau biasanya disebut Storage. Kalian mengerti?"


Namsius dan Rumos memiringkan kepalanya kebingungan. Mereka tidak mengerti cara menggunakan sistem tersebut, membuat Whisly tercengang. Ia mencoba menjelaskan sekali lagi sistem tersebut. Akan tetapi, ia masih mendapatkan reaksi yang sama.


Menepuk dahinya dengan malas, ia mengomentari bahwa merekalah orang pertama yang pernah merepotkan nya sejauh ini.


"Padahal kami mengambil sistem ini dari video game dunia kalian- Bagaimana bisa kalian tidak tahu sama sekali?!" Tanya Whisly, tidak percaya apa yang ia barusan terjadi.


"Sekali melihat layar biru tersebut, semua orang yang berasal dari dunia kalian sudah bisa langsung mengerti!! Sejauh ini hanya kalian satu-satunya yang harus kujelaskan secara rinci!!"


Namsius mengangkat bahunya, menggaruk tengkuknya. Rumos pun menatap kosong layar tersebut, tidak mengerti bagaimana cara menggunakannya. Jelasnya, mereka bukanlah tipe orang yang suka bermain game online, offline, ataupun game yang berada di gadget.


Mereka adalah tipe orang yang jika diberikan waktu bermain sebagai anak-anak, akan lebih memilih untuk melakukan hal yang mereka sukai. Membaca cerita, menggambar, jalan-jalan, observasi, dan semacamnya.


Mereka tidak mempunyai ketertarikan untuk bermain game di gadget ataupun permainan diluar ruangan seperti petak umpet dan kejar-kejaran. Satu-satunya permainan yang mereka sukai adalah permainan kartu dan permainan papan.


"Ugh, inilah mengapa aku selalu menyarankan para dewa untuk mengirim anak-anak muda, terutama remaja untuk dikirim ke dunia lain. Dua pria tidak fleksibel, sering mengeluh, terlalu perhitungan, dan terlalu rasional seperti kalian!!"


Whisly menyilangkan tangannya dan mendecakkan lidahnya. Dia tidak menyukai situasi saat ini. Tapi dia tidak bisa membantahnya sebab inilah perintah dewa Darumias.


Selama berabad-abad, setidaknya ada 10-15 orang yang dikirim ke dunia lain oleh para dewa-dewi. Entah sebagai pahlawan, heroine, mob, antagonis, karakter sampingan yang tidak penting, atau peran lainnya-


—— Kebanyakan dari mereka adalah remaja muda menuju dewasa yang masih sekolah atau baru lulus kuliah.


Namun kali ini, para dewa-dewi beserta bawahannya dikejutkan oleh dewa Darumias yang mengirim 2 orang tidak biasa ke dunia ciptaannya. Dua pemuda sial yang tertabrak truk. Tidak ada yang menarik dari mereka sama sekali.


Mereka bukanlah orang yang pemberani, juga bukanlah seorang penjahat. Mereka sederhana, logis, rasional, dan seseorang yang akan menggunakan orang lain demi kepentingan mereka tanpa bermaksud buruk.


Jadi mengapa mereka? Terutama seorang kriminal dan seorang guru TK adalah kombinasi terburuk yang pernah ada.


"Baiklah, aku akan menjelaskan singkat saja. Untuk menutup layar, gerakkam jari-jemari kalian ke bawah. Untuk membukanya, gerakkan jari kalian ke atas. Untuk membuka Storage, gambarlah lingkaran di udara. Untuk menutup Storage, ketuk layar sebanyak 2 kali. Aku tidak akan menjelaskannya 2 kali, mengerti?"


Whisly tidak mengerti. Ia tidak tahu apa yang membuat dewa Darumias memilih 2 orang seperti mereka. Mereka jika ditulis dalam sebuah novel adalah karakter yang membosankan dan realistis.


—— Tidak cocok dengan dunia berbasis fantasi.


"Oh, kita berbagi ruang penyimpanan?"


"Kurasa begitu. Benda di Market rata-rata mahal semua. Butuh waktu yang lama untuk mengumpulkan uang hanya untuk membeli satu benda saja"


"Sistem ini tidak akan berguna banyak apabila kita miskin. Tapi ini lebih baik daripada tidak diberi bantuan sama sekali. Sistem ini lumayan juga"


Whisly tertawa kecil, diam-diam membaca telepati mereka. Ia mengamati keduanya, tidak menemukan satupun hal spesial dari reaksi mereka. Diantara semua orang dari dunia lain yang pernah ia temui, mereka adalah salah satu yang berada di bawah ekspektasinya.


Setelah Namsius dan Rumos memberikan respon yang menandakan mereka mengerti, ia mengangguk kecil dan segera membunyikan loncengnya sekali lagi-- mengembalikan suara mereka.


Suara si kembar keluar secara refleks tiba-tiba, membuat mereka tersentak kaget. Mereka lalu mengecek tenggorokan dan pita suaranya untuk mengetes apakah mereka sudah bisa berbicara normal.


"A, Ah.. Aku bisa berbicara lagi," gumam Rumos.


"Suaraku sudah bisa keluar," ujar Namsius, memegang tenggorokannya.


Whisly memutar matanya, menampilkan sebuah layar besar didepan mereka tanpa basa-basi. Layar tersebut membuat Namsius dan Rumos tidak nyaman dengan kata 'Penalti' yang tertera di atas layar bewarna merah.


"Sebab kalian menghabiskan waktu 3 tahun disini tanpa melakukan apapun, kalian akan menerima hukuman sebagai gantinya"


Sesuai firasat buruk mereka, Whisly dan dewa Darumias tentu saja tidak akan membiarkan hidup mereka berjalan dengan mulus. Ternganga tidak percaya, Namsius dan Rumos tidak menerima penalti mereka.


"Hei- Apa yang kau harapkan dengan anak berusia 3 tahun? Pergi berperang? Kalian tidak masuk akal! Kami bahkan tidak melanggar peraturan yang ada!!"


"Kita saja dalam situasi sulit, kita tidak mempunyai waktu untuk membantu Fonsius. Terutama, kita harus menyembunyikan keberadaan kami!!"


Whisly memutar matanya, tidak peduli. Ia menolak mendengarkan satu katapun dari mereka dan langsung memberitahukan penalti mereka.


"Ambillah jantung naga di Ibalion dalam waktu 3 tahun. Gagal dan kalian akan menerima penalti lebih buruk. Ada pertanyaan?"


Si kembar tertegun, merasionalkan situasinya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Tidak tahu awal dari masalahnya. Penalti ini adalah sesuatu yang tidak bisa mereka tolak. Mungkin semua ini disebabkan karena mereka salah langka.


Mereka kini mengetahui Fonsius adalah karakter terpenting di dunia ini. Seluruh dunia Liawes berputar mengitarinya dan mereka memgetahui sedikit tentangnya. Mereka tidak mengetahui konsekuensinya apabila mereka tidak ada di dunia ini.


".. Apabila kita tidak membantu Fonsius, dunia ini akan kiamat. Apa itu karena Fonsius gagal mengalahkan raja iblis?" Tanya Namsius.


" .. Tidak. Masalahnya terjadi setelahnya," Jawab Whisly, membingungkan di kembar.


"Ha? Apa dia dimanfaatkan atau-"


"Tidak ada komentar tentang itu. Aku sudah banyak membantu kalian. Sampai jumpa!" Sela Whisly, buru-buru mengakhiri pembicaraan-- menyembunyikannya sesuatu.


"!!! Oi, kau-"


Whisly mendorong si kembar masuk kedalam sebuah portal. Menatap langit biru di atas mereka, Namsius dan Rumos sedang jatuh bebas di dalam portal. Kini mereka mengerti alasan dewa Darumias memanggil mereka tetapi disaat yang bersamaan tidak.


Mengapa mereka dan penyebabnya masih dipertanyakan.


Satu hal yang mereka tahu hanyalah-


"—— Betapa hancurnya nasib kita ini"


...*******...


Namsius dan Rumos terbangun di pagi buta dengan jantung yang berdebar kencang. Mereka memeriksa badan mereka dari atas sampai bawah dan menemukan tidak ada kejanggalan sama sekali.


"Phew, kita masih ada di atas pohon."


"Semua tadi itu bukan mimpi kan?"


Namsius mengangkat bahunya, mencoba membuka layar SSM. Mereka menghela nafas lega setelah melihat layar biru yang muncul di depan mereka. Namun juga khawatir karena penalti yang muncul di depan mereka juga.


"Rumos, apa kita punya peta?"


"Tidak, aku hanya mengetahui Ibalion adalah nama kota bangsa Elf. Jarang sekali ada manusia yang tahu tentang Ibalion"


"Hmm, bagaimana jika dirumah Fonsius? Ayahnya adalah mantan pendekar pedang. Dia pasti mempunyai nya di suatu tempat.


"Benarkah? Aku tidak pernah memperhatikan. Kita beruntung kita juga bisa sekalian curi makanan disana."


Namsius tersenyum masam, mengiyakan Fonsius. Dia tidak pernah menyukainya. Tindakan mencuri, merampok, berkelahi.. Ia tidak terbiasa. Sayangnya, dia terpaksa melakukannya demi bertahan hidup.


".. Lakukan seperti biasa?"


"Kau masih perlu bertanya?"


".. Kau tahu, kita lebih sering berkonflik daripada sepemikiran"


Sama seperti hari sejak pertama ia datang ke dunia ini, dia dan Rumos selalu bertentangan. Hanya saja, dia selalu mengalah sebab dia tidak ingin mereka bertengkar dan menyadari hidup di dunia ini sendirian tidaklah mudah dengan cara paling jujur.


"Lakukan saja bagian mu."


Namsius mengangguk sedikit, turun dari pohon mengikuti Rumos. Ia kemudian memasukkan koper mereka ke dalam ruang Storage sebelum berangkat ke rumah Fonsius. Mereka mengintip dari jendela rumahnya dan menemukan semua orang masih tertidur lelap.


Dengan hati-hati, Rumos menyelinap masuk ke dalam rumah dan mencuri semua peta di rumah tersebut dan beberapa roti. Tidak lupa, ia mencuri peralatan lain seperti pisau dan beberapa buku. Berkat sistem SSM, ia tidak perlu khawatir dengan banyak barang yang ia curi dan hampir membuat sebagian rumah tersebut kosong.


Setelah mencuri semuanya, Rumos menghapus jejaknya dan keluar melalui jendela. Namsius menutup jendelanya lagi dengan rapat sehabis mengecek sekilas situasi di dalam.


Akan tetapi, nafasnya tertahan sesaat ia melihat seorang anak kecil duduk terbangun, memandangi mereka. Tidak ingin Rumos menyadarinya agar dia tidak mengancam Fonsius lagi.


Ia melambaikan tangan kecilnya pada Fonsius, menyuruhnya tidur kembali. Sampai sang protagonis kembali ke kamarnya lagi, Namsius terus mengisyaratkannya untuk kembali ke kamarnya.


"—Apa yang kau lakukan disana?"


Namsius berbalik secepat kilat, menghadap pada Rumos yang berdiri tidak jauh darinya. Ia menggeleng kuat, menariknya menjauhi rumah tersebut. Sesaat sebelum ia pergi, matanya melirik pada Fonsius yang dengan mengantuk kembali ke kamarnya.


Menghela nafas lega, ia tersenyum tipis dan mendorong kembarannya untuk segera berangkat. Rumos menyadari ada sesuatu yang janggal dengan sikap Namsius dan menanyainya apa yang terjadi.


"Kau berbohong padaku. Jangan bilang si protagonis melihat-"


"Haha, ayolah- walaupun aku berbohong kau lebih banyak berbohong daripadaku. Jangan cemas, dia mungkin akan melupakan kita dalam sehari atau dua."


"!! Jadi dia melihat kita ya? Kau terdengar yakin sekali. Apa kau punya argumen pendukung perkataan mu"


"Aku ini guru TK. Kau ingat?"


Rumos tersenyum sarkastik, menyikutnya. Ia menyilangkam tangannya sebentar sembari berjalan ke pesisir desa untuk mencari kereta kuda yang bisa mereka tumpangi pagi ini. Sayangnya, diakibatkan festival musim panas yang berlanjut hingga 2 hari kedepan, mereka terpaksa harus jalan kaki ke desa sebelah yang berjarak 7 km.


Mereka harus berjalan kaki dengan tubuh kurus mereka selama berjam-jam. Setidaknya dengan rute tercepat mereka, mereka seharusnya sampai disana besok sore.


.


.


Atau begitulah yang mereka kira..


TAP, TAP, TAP!!


Namsius dan Rumos menoleh refleks ke belakang mereka ketika mendengar suara langkah kaki. Rumos mengerutkan keningnya ketika melihat 2 pemuda yang kemarin mereka temui bersama kepala desa dan seorang pria gendut berkumis datang menghampiri mereka. Dalam sekejap, ia dan Namsius langsung mengetahui apa yang terjadi.


—— Mereka sedang diikuti sedari mereka meninggalkan Phari. Mereka sedang diincar.


"Tunggu, aba-aba dariku. Berpencar dan jangan sampai tertangkap. Intinya larilah tanpa mempedulikan yang lain meskipun salah satu dari kita tertangkap. Yang lain hanya perlu menunggu untuk dibebas"


Namsius tidak memberikan respon kembali-- terlalu takut. Namun ia mengerti apa yang dimaksudkannya. Ia mengamati gerak-gerik kepala desa yang mendekat ke arahnya dengan suasana hati jengkel. Dia tahu bahwa sang kepala desa tidak mempunyai niat baik sama sekali.


Menunggu aba-aba dari Rumos, menelan liurnya. Ini pertama kalinya dia menghadapi skenario seperti ini. Tangannya gemetar dan jantung berdetak kasar. Dia tidak bisa membedakan rasa takut dan perasaan lainnya lagi.


Satu-satunya hal yang ada di otaknya sekarang adalah-


"Anak-anak Asa.. Kemarilah! Apa kalian tahu kalian sudah-"


—— Aba-aba dari partnernya.


"Sekarang."


"!!! Hei, Tunggu-"


Namsius dan Rumos berlari kabur dari kepala desa. Dengan panik, kepala desa bersama orang-orang dibelakangnya bergegas mengejar mereka. Mereka berpencar menjadi 2 kelompok, mengejar Namsius yang lari ke timur dan Rumos ke barat.


Sementara 2 pemuda mencurigakan kemarin mengejar Namsius ke timur, kepala desa dan pria lainnya mengejar Rumos.


"Hei, tunggu! Ada.. yang ingin.. mengadopsi kalian!" Seru kepala desa, terengah-engah.


Ujung mulut Rumos berkedut sesaat dan matanya melirik ke belakang dengan sinis. Kebohongan manis yang diucapkan kepala desa membuatnya mual.


—— Kenyataannya, ia dan Namsius malah akan dijual olehnya kepada seseorang yang lebih busuk daripadanya.


"Heh! Emangnya kita semudah itu tertipu? Mana ada yang mau mengadopsi kita semudah! Kalau kau benar, pastinya kita akan diadopsi dari dulu!!"


"Kalian ini kenapa?! Nggak mau diadopsi?!"


Rumos memanjat pohon tinggi yang ada di sampingnya, hampir kehabisan tenaga. Ia menarik nafas dalam-dalam di atas sambil memikirkan rencana baru karena ia tidak bisa lari selamanya.


Sialnya, kepala desa dan temannya telah sampai lebih dulu. Menggigit bibirnya, ia tersadar bahwa ia telah disudutkan dua pria tua dibawahnya.


"Hei, turunlah! Kami tidak bisa memanjat ke atas sana!! Apa kau gila?! Melakukan ini pada orang yang akan mengadopsi kalian- Sungguh keterlaluan!!"


".. Heh, lucu. Kami tidak perlu diadopsi sama sekali. Siapa juga yang mau mengadopsi kami?"


.


.


"Aku mau."


"!!!.."


Bulu kuduknya berdiri dan ia menjadi waspada 2 kali lipat. Tatapannya terkunci pada pria gendut berkumis yang melihatnya dan menampilkan sebuah senyuman tipis. Instingnya mengatakan dia adalah seorang pencari untung terbusuk yang pernah ia temui.


"Namamu Rumos kan?" Tanya pria gendut berkumis itu sambil melepaskan topinya. Ia menjulurkan tangannya pada Rumos dan memintanya turun dengan senyum ramahnya-


"Panggil kembaranmu kesini juga. Aku bersedia merawat kalian"


.


.


—— Ke dalam sarang laba-laba yang mematikan.