
Alice POV
Aku duduk di kursiku, menulis surat untuk adikku di Byorgian. Mengendapkan suara di sekitar ku, aku mendesah kecil dan mulai menulis apa yang kudapatkan hari ini dari Cendric.
Mencatat semua yang terjadi di selembar kertas, aku mengingat-ingat detail kecil yang diucapkannya. Nom écravain, Lecteur, sosok yang lebih tinggi dari dewa Darumias..
——Aku kini mengerti mengapa Namsius menyuruhku menyembunyikan kemampuan Cendric dari Rumos. Terutama yang berkaitan dengan sosok dari balik layar.
Semua ini terdengar tidak masuk akal. Namsius yakin dia akan mengamuk dan membunuh sosok yang dikatakan Cendric, mengingat fakta bahwa ia benci yang namanya dewa-dewi. Dia akan mengabaikan semuanya dan terjebak memburu sosok bernama Nom écravain seumur hidupnya.
Yah.. sampai sekarang tidak ada bukti bahwa sosok yang dikatakan Cendric itu ada. Mungkin saja semua itu berasal dari khayalannya. Akan tetapi, Namsius sangat tertarik-- seakan-akan ia dapat mengerti apa yang dikatakannya.
Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan tetapi mendengar teorinya tentang semua yang Cendric katakan, semua penjelasannya terdengar masuk akal di telingaku. Tentang bagaimana ada sosok lain di atas dewa- dunia lain yang berbeda dari ini.
Aku lega Cendric semakin terbuka pada keluarganya. Sayangnya, dia masih menyembunyikan satu hal.
—— Apa yang ia lakukan di dalam ruang bacanya?
Seingatku, dia tidak pernah menceritakan apapun tentang aktivitasnya di ruang baca. Aku tahu fakta bahwa
Sayangnya, itu tidaklah penting. Aku mempunyai urusanku sendiri. Begitu juga Namsius dan Rumos yang memiliki sebuah tujuan.
TUK, TUK..
"!!.. Oh, sebuah surat?" Kepalaku terangkat ke atas, melihat seekor kucing sedang mengetuk jendelaku. Terkejut, aku bergegas membiarkannya masuk ke dalam kamarku.
Kucing tersebut melompat masuk, mendarat di atas meja belajarku dan menuju ke perapian hangat. Dia mengeong sekali menyapaku, membuat dirinya senyaman mungkin di lantai kamarku.
Namiel—— Kucing jalanan yang Rumos pungut sekitar 2 tahun yang lalu. Bermanik mata hijau zamrud dan berbulu karamel kusam, ia adalah pengikut setia adikku.
Harus diingat, kucing ini bukanlah hewan peliharaannya sebab Rumos mengatakan ia tidak pernah merawatnya, memberikannya rumah, ataupun berniat mengurusnya. Ditambah, walinya alergi dengan kucing dan melarangnya untuk memelihara hewan selain ikan mas.
Satu-satunya hal yang pernah Rumos lakukan untuk Namiel hanyalah memberikannya makanan dan memandikannya setiap 2 Minggu sekali. Hal kecil yang dilakukannya sudah cukup untuk membuat kucing tersebut mengikuti dan menurutinya.
Rumos menceritakan ia menemukannya di tepi jalan dalam keadaan sekarat. Dia bukanlah kucing yang asing baginya. Namiel sudah lama berada di jalanan ibukota selama bertahun-tahun. Akan tetapi, baru kali ini adikku melihatnya dalam keadaan sekarat dan kelaparan.
Setelah berpikir panjang, akhirnya Rumos memutuskan untuk membawanya pada Yulan. Aku ingat hari itu Rumos dimarahi tanpa henti karena membawa seekor kucing masuk ke rumah tanpa memberitahunya.
Walaupun Namiel tetap disembuhkan dan menjadi sehat setelah hari itu, Rumos memberitahuku malam itu ia diusir dari rumah sebab alergi Yulan kambuh dan ia harus menetralisir seisi rumahnya. Selepas hari itu, adikku tidak pernah membawa Namiel ke dekat rumah. Namun ia tetap mengunjungi Namiel secara rutin setiap pulang sekolah atau kerja.
Kini Namiel menjadi kucing pesuruhnya untuk mengirim surat kepadaku dari ibukota. Dia pergi dari satu kota ke kota lain sendirian untuk sampai ke Phari. Dari pengalaman ku, perjalanan dari desa kecil ini menuju ibukota bukanlah perjalanan yang menyenangkan, mengingat jalan bebatuan yang panjang harus dilalui.
Meskipun Namiel sudah terbiasa, aku tidak bisa membayangkan bahaya apa yang kucing ini lalui. Kupikir menggunakan merpati merupakan opsi yang lebih baik untuk mengantar surat daripada kucing. Itu aneh mengapa dia memilih seekor kucing sebagai pengantar suratnya. Untuk suatu alasan, dia tidak menyukai burung tersebut.
Tapi syukurlah selama ini Namiel sampai ke tempat tujuan dan pulang ke rumah dengan selamat. Kali ini juga dia berhasil sampai ke Phari. Dia adalah kucing yang pemberani dan pintar.
"Astaga- Rumos seharusnya menjagamu lebih baik lagi. Namiel, kerja bagus menjadi mandiri sendiri"
"Meow.."
Aku berjongkok di depannya, mengambil surat dalam kantong yang diikatkan dalam tubuhnya. Melepaskan talinya, Namiel mendengkur kecil saat ia kantong kain di punggungnya kuambil. Tertawa kecil, aku mengelusnya sembari membuka surat yang dibawa adikku dan membacanya di dekat perapian.
[Kepada saudariku Alice,
Bagaimana kabarmu? Aku baik-baik saja di ibukota bersama Yulan. Kau pastinya bertanya-tanya mengapa aku mengirimkan surat ini. Yulan memiliki sebuah urusan mendadak untuk kerjaannya dan memintaku membantunya. Itulah alasan mengapa aku mengirimkan surat ini.
Yah.. mungkin juga untuk bertemu denganmu dan melihat keadaan di Phari. Aku akan menghabiskan liburan musim dinginku di Phari. Aku menantikan reuni kita.
Rahasiakan ini dari semua orang di Phari dan keluarga Farrel. Aku mengandalkan mu. Aku percaya kau bisa menyembunyikannya.
P.S:Bakarlah surat ini setelah aku membacanya]
Aku mengangkat alisku, membaca pesan terakhirnya. Menuju meja belajarku, aku menyalin ulang seluruh isi suratnya di kertas baru. Aku memasukkan kertas tersebut ke dalam amplop yang sama dengan surat yang kutulis untuk Namsius. Menggunakan sihirku, aku mengirimnya langsung ke alamat tempat tinggalnya di Byorgian dan membuang surat yang asli ke perapian.
Bakarlah surat ini—— Kalimat ini adalah sebuah pertanda bahwa Rumos ingin merahasiakan isi surat ini dari siapapun, termasuk Namsius. Isi dari surat tersebut biasanya sangatlah penting dan ingin ia rahasiakan terutama dari kembarannya.
Tentunya aku pada awalnya tidak mengetahui hal tersebut. Aku tidak tahu surat tersebut ingin dirahasiakannya. Yang kutahu saat itu hanyalah betapa pentingnya surat tersebut hingga dia memintaku membakarnya. Oleh karena itu, aku mengabarkannya pada Namsius yang sedang berkelana entah kemana.
Aku baru menyadari bahwa aku mengacau ketika Namsius menyampaikan ia tidak tahu tentang isi surat tersebut. Pada saat itulah aku menyadari maksud Rumos untuk tidak pernah memberitahukan pada siapapun termausk Namsius tentang isi surat tersebut.
Aku tidak menduga Namsius tidak tahu tentang isinya. Karena si kembar sangatlah dekat pada satu sama lain, kupikir mereka membagi semuanya. Namun kenyataannya, mereka memiliki privasi dan kehidupan mereka sendiri yang berbeda.
Mencari cara untuk memperbaiki kesalahanku, aku menjelaskan semuanya pada Namsius, berharap ia merahasiakan apa yang terjadi dari Rumos dan tidak membocorkan isi surat tersebut. Aku tidak bisa tidur malam itu disebabkan rasa pusing yang membuat kepalaku hampir pecah.
Besoknya, aku secepat kilat membuka surat yang dikirim Namsius dan membaca responnya. Dia berjanji akan merahasiakan semuanya, membuatku sangat lega. Akan tetapi, ia menyarankanku untuk memberitahukannya lagi lain kali apabila Rumos mengirim surat sejenis ini sebab ia perlu tahu apa yang dilakukan kembarannya.
Aku sempat ragu sesaat. Tapi, seluruh keraguanku menghilang ketika membaca surat Rumos kembali yang secara tersirat berisikan sebuah rencana cerdiknya. Takut membahayakan dan mengacaukan segalanya, aku menyetujui saran Namsius dan memberitahukan semua surat penting yang Rumos kirimkan.
"Kau pastinya tidak keberatan juga kan? Kau tidak ingin penyelamat mu terluka juga kan?"
"Meow!"
"Pintar. Kucing pintar" Tanganku menulis surat responku pada Rumos dan mengirimnya menggunakan sihir. Beranjak dari kursi, aku menggendong Namiel dan memberikannya tempat untuk tidur malam ini.
Menyembunyikan semua yang kulakukan dari keluarga Farrel, bukanlah tugas yang mudah. Sayangnya, ini adalah urusan personal keluarga Reiss. Selama kami tidak melakukan sesuatu yang buruk, seharusnya ini bukanlah masalah besar.
Rumos pernah mengatakan bahwa Fonsius adalah anak nubuat yang akan mengalahkan raja iblis. Aku tidak tahu darimana ia mendengarnya, tetapi ia serius saat mengatakannya. Makanya, ia mengirimku kemari sementara ia berada di ibukota mengawasi kestabilan kota penting tersebut-
—— Menyisakan Namsius yang berada di Byorgian sendiri tanpa kabar.
".. Itu mengkhawatirkan. Apakah dia benar-benar bersekolah disana atau..."
"Meow, meow.."
"Kau benar. Aku tidak seharusnya meragukannya tetapi dia bukanlah tipe yang dingin seperti Rumos. Dia terlalu baik"
Alangkah baiknya apabila ia tidak terkena masalah. Tidak ada yang membantunya diluar sana.
...*********...
Namsius POV
Badanku letih, semua tenagaku terkuras habis. Berjalan terhuyung-huyung pulang dari tempat kerjaku menuju apartemenku, aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk sampai ke kamarku di lantai paling atas. Aku menyeret kakiku masuk ke dalam dan langsung menjatuhkan badanku di atas kasurku sembari memejamkan mata.
"Ah.. ini yang terburuk.." Gumamku, hampir tak bersuara.
Perkenalkan, aku Namsius Reiss. Berusia 13 tahun, bersekolah di akademi militer dan politik di kerajaan Byorgian. Bagaimana aku bisa berada disini dan mengapa hidupku bisa menjadi seperti ini memiliki cerita yang panjang.
Singkatnya, setelah berpisah dengan kembaranku di usia 6 tahun, aku berkelana tanpa arah dan bekerja sebagai guru dan pedagang sementara di berbagai tempat. Pekerjaanku ini tidak berlangsung lama karena aku masih keterlaluan muda dan diragukan oleh banyak orang.
Selama setahun, aku berkeliaran dari satu kota dan desa ke yang lain. Dari hutan dan gunung-- mencoba beragam hal hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari kerajaan Asyran. Di kerajaan Byorgian, aku bekerja sebagai petani dan tukang kayu selama 3 tahun di sebuah desa bernama Narciennes sebelum memutuskan untuk pindah ke ibukotanya untuk menempuh pendidikan.
Aku tidak berhasil masuk ke sekolah ekonomi dan mengubah rencanaku setelah tidka melihat adanya kemungkinan mereka akan menerima ku begitu saja. Aku mulai mengikuti, menyogok, dan menunjukkan semua kemampuanku pada guru-guru di sekolah tersebut, menjamin aku tidak akan mengecewakan mereka sama sekali. Setelah berbulan-bulan menghantui mereka, aku diberikan kesempatan untuk bersekolah di ibukota.
Usaha jerih payahku membuat mereka menyerah dan lelah. Mereka bukanlah orang yang bisa diajak kerjasama meskipun aku ini orang dewasa atau tidak. Mereka sangat perhitungan, menilai, dingin, dan secara literal selalu mencari alasan. Ditambah, mereka tidak akan membiarkan rencanaku berjalan sesuai rencana.
Mereka akan menerimaku dengan syarat nilaiku harus selalu menempati peringkat pertama dengan angka tertinggi di ujian masuk. Jikalau aku gagal, mereka akan menolakku dan aku akan memiliki hutang dengan jumlah yang besar pada mereka. Jikalau berhasil, mereka akan menerimaku dengan syarat aku harus menjadi murid terbaik disekolah.
Kedua syarat ini tidak terdengar sulit di telingaku. Belajar bukanlah hal yang sulit bagiku.
.
.
Mereka sangat licik dan jahat melakukan itu. Untungnya, aku berhasil memenuhi syaratnya terkecuali dalam hasil tes fisik. Jujur, aku bangga dengan hasil tes ku dan saat itu aku pun sudah menyerah.
Lagipula, politik dan militer bukanlah sekolah yang kuinginkan. Hari itu aku tidak merasa kekecewaan sama sekali, melainkan rasa lega dan bangga pada diriku untuk menempati posisi pertama disetiap kategori terkecuali kemampuan fisik.
Aku rasa aku siap menerima fakta bahwa aku tidak cocok disini dan berencana kembali ke Narciennes untuk mengurus lahanku kembali dan bisnis kecilku sebagai tukang kayu. Aku tidak masalah sebenarnya dengan hal tersebut.
Namun, sebuah keajaiban yang tidak benar-benar menyenangkanku terjadi. Aku tiba-tiba diterima masuk sekaligus mendapatkan beasiswa blak-blakan. Mereka menerimaku setelah melihat nilai teoriku dam menghentikanku untuk pulang ke Narciennes.
Mereka menyuruhku untuk terus bersaing di ibukota dengan maksud tertentu. Aku tidak mengerti apa yang mereka pikirkan tapi entah mengapa aku tidak menyukai guru-guru mencurigakan seperti mereka.
Haaa.. Dan begitulah bagaimana aku bisa menjadi begini. Menyedihkan bukan?
Aku tidak mengecewakan mereka selama 3 tahun terakhir dan tersisa 2 tahun lagi sampai aku lulus. Mendapatkan nilai tertinggi dan menjadi murid ideal disekolah ini lebih sulit dari yang kubayangkan.
"... Sial.. aku tak seharusnya menerima tawaran mereka."
Aku akan lebih bersyukur apabila mereka dengan tulus menerimaku disana. Aku bisa membayarnya dengan uangku sendiri... Walaupun aku rasa itu sudah cukup baik mereka ingin membiayai pendidikanku.
CIT, CIT, CIT..
"Hei, Nam- Kau kelihatan lelah. Apa kau baik-baik saja?"
Aku membuka mataku, menemukan seekor tikus berbulu abu berada di ujung kakiku. Dia adalah teman sekamarku dan penghuni kamar ini lebih lama dariku. Ini adalah rumahnya.
"Oh, halo tikus kecil. Kau datang di waktu yang salah"
"Jangan panggil aku itu- Aku mempunyai nama juga sekarang."
"Haha, kau suka dengan nama yang kuberikan, Marcel?" Aku melihat tikus abu-abu tersebut naik secepat kilat ke atas bahuku dan mengubur dirinya di dekat leher. Tangaku secara refleks mendorongnya menjauh, takut dia akan menggigit ku disana.
"Apa itu salah? Kau adalah satu-satunya manusia yang bisa mendengarku dan berbicara bahasa hewan. Kau mengajariku banyak hal dan memberikanku nama"
"Hei, itu berlebihan. Aku tidak-"
"Aku berterimakasih padamu. Kau adalah manusia yang baik. Sebelum kau datang ke kerajaan ku, aku bahkan tidak mempunyai nama sama sekali"
".. Sejak kapan kau memanggil ruangan ini kerajaanmu?" Tanyaku, mendudukan badanku di ambang kasur.
"Semenjak kau mengajariku tentang dunia luas ini. Aku adalah rajanya disini," Jawabnya, mengerat gembira. "Kau bisa menjadi prajuritku kalau mau"
Aku mengangkat alisku, terkejut dia bisa mengingat apa yang kukatakan. Padahal beberapa bulan yang lalu dia hanyalah tikus biasa tanpa mengerti satu hal pun tentang dunia ini. Namun tikus kecil ini kini paham tentang sistem kerajaan?
Oh, benar. Itu pasti karena Marcel adalah seekor pangeran yang dikutuk menjadi tikus ajaib. Hahaha, itu jawabannya bukan?
.
.
.
—— Sial. Tentu saja tidak. Ini semua salahku dia bisa memiliki pikiran seperti itu. Marcel bukanlah seekor tikus ajaib atau apapun itu. Dia hanyalah seekor tikus yang tinggal di sebuah apartemen kumuh.
Ceritanya dimulai dari beberapa bulan yang lalu saat aku baru pindah ke ibukota. Tidak mempunyai tempat tinggal, aku menyewa sebuah apartemen murah di pinggiran kota. Akan tetapi, tak kusangka apartemen kumuh nan kecil ini ditinggali oleh banyak orang. Terutama mereka yang berasal dari keluarga miskin dan dari perkampungan.
Aku pun pada akhirnya tidak kebagian kamar dan harus tidur di tepi jalan. Di hari ke-3 ku di ibukota, seorang pemuda menghampiriku. Dia berpakaian rapi nan sederhana dengan penampilan tidak terlalu mencolok sama sekali.
Memperkenalkan dirinya sebagai Lewis Ptale, dia menanyaiku mengapa aku terbaring di tepi jalan bagai orang mati. Aku menjawabnya jujur, mengatakan aku tidak mempunyai tempat tinggal.
Mendengar ucapanku, ia merasa kasihan dan mengajakku ke sebuah gedung yang familiar. Itu adalah apartemen kumuh yang sama. Memberitahukannya apa yang terjadi 2 hari yang lalu, dia tertawa kecil dan meminta maaf padaku.
Memperkenalkan dirinya ulang, aku baru menyadari Lewis Ptale ternyata adalah pemilik apartemen kecil ini. Dia adalah orang yang mengatur gedung ini.
Tuan Ptale kemudian membawaku masuk ke dalam, memberikanku sebuah kunci usang. Dia menjelaskan memang benar tiada kamar kosong lagi di apartemen ini. Tetapi ia memperbolehkan ku menggunakan lotengnya dan membiarkanku tinggal gratis selama 3 bulan pertama. Bonusnya, uang sewanya tidaklah mahal.
Tuan Ptale adalah orang yang baik. Dia adalah orang pertama yang membantuku di tempat asing ini. Terharu, aku teringat aku menangis gembira hari itu dan menerima kunci tersebut dengan senang hati.
.
.
.
CIT, CIT..
Hmm, benar. Aku menangis semalaman..
.
.
... Sampai aku mendengar suara puluhan hewan pengerat dikamar baruku, aku menjadi ketakutan dan pingsan.
Aku tidak mempunyai phobia tikus aatau hewan pengerat jenis lain. Karena aku mendapatkan kamar usang di lantai paling atas, maklum ada banyak sekali debu dan binatang disana.
Tapi yang paling membuatku ketakutan adalah-
"Hei, Nam-"
—— Para tikus yang bebricara dengan bahasa mereka dan aku yang mengerti jelas apa yang mereka katakan berkat auto-translate ku. Sebaliknya, mereka juga mengerti kalimatku sebab tanpa kusadari aku berbicara menggunakan bahasa tikus secara otomatis.
Besoknya, aku berencana mencari tempat lain untukku tinggali. Ketika aku tidak menemukan satu, aku lalu menyadari satu-satunya pilihanku sekarang adalah untuk mengusir semua yang ada disana. Aku melakukan bersih-bersih secara besar-besaran dan membongkar seisi kamar tersebut.
Mengusir hampir semua serangga, hewan dan membersihkan debu, aku tidak menyisakan satupun dari mereka.
... Alangkah lebih baiknya apabila begitu kasusnya. Aku tak menyangka hewan pengerat yang bernama latin Apodemus sylvaticus ini cukup pintar untuk bernegosiasi denganku setelah menyadari aku dapat mengerti bahasa mereka.
Memaksa dan mengancamku untuk membiarkan mereka tinggal sembari memohon belas kasihan dariku, aku mendesah panjang dan memenuhi kemauan mereka. Membuat kesepakatan, aku mengharuskan mereka menjaga kehigenisan dan kebersihan ruangan ini dan diri mereka dengan mandi. Agar mempermudahkan mereka mengerti, aku mulai mengajari mereka berbagai hal dan menamai mereka supaya mudah dibedakan.
Dan itulah cerita bagaimana aku bisa bertemu dnegan Marcel si ketua tikus dan bagaimana kami bisa mencapai titik ini.
Di ruangan ini, aku tidaklah sendirian. Tempat ini adalah kerajaan mereka—— Sarang para tikus.
... Sialnya, aku tinggal ditempat yang sama dengan mereka. Ini pastinya adalah salah satu skenario terburuk.
"Hei, Nam- lihat! Kau punya surat disini!"
Entah sampai kapan aku harus tinggal bersama hewan yang dikatakan hama ini-- Setidaknya ini tidak seburuk yang ku kira.
.
.
.
"Iya, iya. Aku akan mengambilnya. Jangan makan suratku lagi, Marcel"