
Author POV
"Dewa Darumias sialan!"
Namsius mendaki gunung sambil menjaga jarak dari kembarannya yang berteriak dan mengumpat pada dewa Darumias seperti orang gila. Dia tertawa lemah dan terus naik hingga mereka sampai ke sebuah kota besar bernama Ibalion.
Sudah 2 bulan semenjak mereka pergi dari sirkus. Mereka telah menempuh perjalanan yang jauh mulai dari berjalan kaki, melewati hutan, dan mendaki gunung ke Ibalion menggunakan tubuh anak kecil berusia 5 setengah tahun.
"Salju, salju, dan salju. Itulah yang kita temukan terus belakangan ini," keluh Rumos.
"Musim dingin sudah hampir tiba. Aku harap kita tidak terkena badai salju sebelum sampai ke Ibalion"
"Lucu. Hal itu pasti akan terjadi mengetahui dewa sialan itu adalah sosok yang br*****k"
Namsius memaksakan tawa kecil agar tidak memperburuk suasana hatinya dan menggelengkan kepalanya. Menyadari dewa Darumias ataupun Whisly pasti mengawasi mereka dari suatu tempat, ia tahu semua hal terburuk yang dapat terjadi dalam sekedip mata.
Itulah satu-satunya hal yang ingin dia hindari. Dia tidak ingin usaha yang telah ia lakukan sia-sia hanya karena seorang dewa dan bawahannya membenci mereka.
".. Jangan khawatir, Rumos. Lihat, kita sudah hampir sampai"
Namsius menunjuk pada sebuah jalan yang menuju pada sebuah gerbang besar. Ia menarik Rumos ke dekat gerbang yang bertuliskan nama kota yang mereka cari selama ini dan tersenyum lebar ketika menyadari mereka telah sampai di tempat tujuan mereka.
"Setelah 2 bulan, kita akhirnya sampai juga di Ibalion. Haaa.. kupikir dewa sialan itu akan membuat kita sengsara lebih jauh lagi"
"Kita beruntung. Kita sebaiknya masuk. Kita tidak mempunyai banyak waktu lagi kan?"
Rumos mengiyakan saudaranya dan berjalan ke depan gerbang kota yang dijaga oleh 2 penjaga dengan telinga runcing. Mereka memeriksa si kembar dengan saksama dan menanyakan apa tujuan mereka kemari.
Penjaga bertelinga runcing ini adalah apa yang disebut Elf di dunia ini. Mereka adalah makhluk dengan Mana yang keterlaluan banyak dan kemampuan sihir yang tinggi-- melebihi manusia dan seluruh makhluk lain.
"Kami datang kesini untuk belajar sihir dan untuk menemui seseorang," jawab Namsius dengan lancar menggunakan bahasa ibu kedua penjaga tersebut.
Kedua penjaga Elf tersebut tersentak kecil dan bertukar pandang. Mereka tidak menyangka seorang anak manusia dapat berbahasa Elf. Dikarenakan bahasanya rumit dan kompleks, banyak dari makhluk lain kesulitan untuk berbicara dan belajar bahasa bangsa mereka.
—— Namun, ini adalah sebuah pengecualian bagi anak-anak Asa.
Bahasa Elf, Dwarf, hewan, iblis.. si kembar bisa mengerti semua bahasa. Mereka bisa membaca, menulis, memahami, dan berbicara semua bahasa yang ada di dunia ini ataupun tidak berkat hadiah ke-tiga yang diberikan dewa Darumias selain bisa bertelepati dan auto-heal.
Auto-translate-- Kemampuan untuk memahami, menerjemahkan, membaca, dan berbicara semua bahasa yang ada. Salah stau kemampuan yang tidak masuk ke dalam daftar 'hadiah terkutuk' dari dewa Darumias.
"... Itu mengejutkan kalian bisa berbahasa Elf," ujar seorang penjaga dengan ria. Para penjaga merasa senang dengan kemampuan Namsius dan Rumos. Mereka merasa dihargai dan bangga ada seseorang dari bangsa lain yang mau mempelajari bahasa bangsa mereka.
Akan tetapi, rasa sukacita yang mereka langsung berubah menjadi rasa curiga dan cemas saat mereka mengingat Namsius dan Rumos hanyalah anak berusia 5 tahun yang bisa berbahasa Elf dengan lancar. Ditambah, Mana mereka yang sedikit membuat mereka lebih mencurigakan sebab mereka naik ke gunung ini sendirian.
"Maaf, kami tidak bisa membiarkan anak kecil masuk. Biaya masuknya adalah 15 koin perak"
"Kami bisa membayarnya"
".. Tapi kalian masih balita"
"Kami akan berusia 6 tahun bulan ini. Jadi seharusnya bukan masalah besar kan?"
"Apakah kalian mempunyai wali? Kalian pasti tersesat--"
"Bisakah kalian berdua tidak mencari alasan? Kalian mendiskriminasi dan merendahkan kami"
Rumos menggigit bibirnya, tidak tahan dari rasa kesal. Ia merasa darahnya hampir mendidih karena 2 penjaga yang tidak memperbolehkan mereka masuk seberapapun ia dan Namsius memberikan penjelasan valid bahwa mereka bisa masuk sesuai persyaratan yang ada.
Hampir meledak di tempat, Namsius menenangkan kembarannya dan membujuk para penjaga satu kali lagi. Ia mengatakan mereka harus masuk ke dalam dan tidak bisa kembali sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Berakting menyedihkan, ia membuat kedua penjaga tersebut termakan bualannya dan memperbolehkannya masuk dengan satu syarat.
"Karena kalian masih kecil, kalian harus masuk bersama wali kalian"
"!!.. Wali?" Namsius tercengang, tidak mengenal siapapun yang bisa dikatakan sebagai wali mereka. Terutama mereka yang tidak mempunyai kenalan sama sekali di dekat sini.
—— Ini adalah jalan buntu. Mereka tidak mempunyai pilihan lain. Karena jalan di gunung ini hanya satu, mustahil bagi mereka untuk menyelinap masuk selain dari gerbang depan Ibalion.
TAP, TAP, TAP..
"Hei, hei, hei! Apa mereka berdua ingin masuk? Biarkan mereka masuk- Aku ini wali mereka"
Si kembar membalikkan badan mereka secepat kilat saat mendengar suara seorang wanita dari belakang. Mata mereka melebar, memandangi seorang wanita yang tersenyum lebar dengan lekat lekat.
Wanita tersebut mengenakan pakaian yang aneh dan misterius. Semua yang melihatnya pasti menyadari dia bukanlah seseorang dengan pekerjaan yang normal.
—— Jelasnya, mereka tidak mengenal siapa wanita yang mengaku sebagai wali mereka. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat manusia itu.
"Namaku Dori! Aku disini untuk memenggal kepala naga! Aku adalah mantan pendekar pedang dan ksatria! Salam kenal, bocah dan Elf Ibalion!!"
Namsius, Rumos, dan para penjaga Elf bertukar pandang. Untuk sesaat, mereka dipersatukan dengan sebuah pemikiran yang sama.
"Wow, haruskah dia memperkenalkan dirinya secara dramatis seperti itu? Wanita ini liar dan sembrono sekali"
...********...
Rumos POV
Untuk yang terakhir kalinya, aku mencoba satu hal bernama sihir bersama kembaranku di sebuah kamar penginapan kecil. Namun, kami menyerah tengah jalan karena ini mustahil bagi kami di tempat pertama.
Kami mempunyai banyak senjata seperti senapan dan pistol serta beberapa bom yang kurakit sendiri. Namsius kini sudah familiar dalam menggunakan senjata serta bisa seni bela diri dan tinju dalam standar minimal setidaknya.
Walaupun demikian, kami masih tidak bisa menggunakan sihir. Syukurnya, kami tidak memerlukannya untuk mengalahkan naga.
Tapi bagaimana jika ada sesuatu yang diluar kendali dan kami membutuhkannya? Kami akan tidak berdaya sama sekali melawan musuh sejenis itu.
Makanya, kami bertekad belajar di Ibaliom untuk memperdalam konsep tentang sihir di kota Elf ini. Yah.. meski tampaknya ini sia-sia saja.
TOK, TOK, TOK..
Aku menoleh ke arah pintu, mendengarkan perkenalan diri dari seorang wanita aneh. Jujur, aku tidak ingin berurusan dengannya jikalau bisa. Tapi kelihatannya kami akan sangat membutuhkan bantuannya disini.
Namsius membukakannya pintu dan mempersilahkannya masuk setelah mendapatkan anggukan kecil dariku. Sebegitu pintunya terbuka, wanita bernama Dori langsung menerobos masuk dan membuat dirinya nyaman di atas satu-satunya kursi yang ada di ruangan tersebut.
Dengan kakinya yang berada di atas meja, aku melihatnya duduk dengan punggung menyender senyaman mungkin bagai ia berada di rumahnya sendiri dan...
Ugh, astaga--- Dia tidak sopan. Apa dia tidak pernah diajarkan yang namanya tata krama dan etika?
Dia memberikan impersi pertama yang sangat buruk. Aku tidak menyangka dia akan bertingkah sembrono dan lalai selevel seorang bocah berusia 4 tahun.
".. Nona Dori, bisakah anda menurunkan kaki anda? Itu tidak sopan"
Alis Dori berkedut sekali saat mendengar Namsius menceramahinya. Ia bergegas melihat kakinya yang berada di atas meja sesaat sebelum mengiyakan Namsius dengan sebuah jentikkan jari.
"Ah, kau benar. Maaf, aku kelewatan," ujarnya, meminta maaf secara spontan nan datar sambil menurunkan kakinya. "Sebenarnya aku mempunyai kebiasaan buruk dengan yang namanya etika"
... Yup. Kami bisa melihatnya jelas dia tidak berbohong tetang itu.
Wanita mencurigakan ini pastinya sadar kami tidak menginginkannya berada disini kan?
"Tapi jangan khawatir. Aku ini bukan orang jahat. Aku hanya kemari untuk menyadari alasan kalian datang ke Ibalion"
.
.
... Yup. Dia mencurigakan. Apa dia pikir dengan menanyakan pertanyaan itu akan membuatnya semakin tidak membuat kami waspada?
"Uh.. Alasan pertamaku datang ke Ibalion adalah untuk mengalahkan naga atas utusan raja Asyran. Kedua, aku ingin mengambil sisik naga sebagai perisai anti sihir. Bonusnya, kudengar di dalam gua naga ada banyak emas dan harta kekayaan lain milik Elf. Bagaimana dengan kalian?"
... Yup. Tidak ada yang bertanya. Tapi terimakasih atas infonya.
Sekarang kami tahu dia adalah sebuah pengganggu untuk rencana kami. Sebaiknya ia disingkirkan. Bukan berarti dia jahat atau salah.
Masalahnya, kami membutuhkan jantung naga. Jadi kami harus mengeliminasinya agar tidak menganggu kami. Bonusnya, kami tidak bisa melewatkan kesempatan untuk mengambil uang dan harta lain di dalam sana. Kami akan menjadi kaya raya dengan semua emas disana.
".. Em, kami ingin belajar sihir dari Elf karena katanya mereka sangat hebat sihirnya. Itu saja"
"Hehehe, benarkah?"
Dori tertawa geli mendengar jawabanku seakan-akan mengejekku. Tapi aku tidak ingin kelihatan pintar dihadapan orang bodoh sepertinya.
Aku yakin kemampuannya tinggi dan jauh berbeda dariku mengingat dia ini mantan pendekar pedang dan ksatria. Tapi..
"——Impresinya dan perilakunya membuatku mengecapnya dalam daftar blokir ku. Kita akan menjalankan rencana kita secepat mungkin."
"Benarkah? Bukankah dia orang yang ramah?"
"Kau tidak masalah dengannya mengangkat kaki ke atas meja dan menerobos masuk?"
".. Tidak. Aku hanya menasihatinya karena kau terlihat tidak nyaman dengan kelakuannya. Dia adalah wanita yang gaul. Bukankah kita sebaiknya memanfaatkannya?"
Memanfaatkannya? Itu ide bagus. Sayangnya, aku merasa kami tidak seharusnya bergantung padanya. Lagipula, aku tidak ingin terlalu dekat dengan orang asing yang tak kukenal sama sekali.
Dari segi manapun, aku tidak bisa menemukan sisi baik dari dirinya. Aku tidka membencinya sama sekali. Hanya saja, aku tidak terlalu menyukai orang yang terlalu..
"Hei, hei- Aku dulu mendapat nilai 100 di setiap ujianku. Apa kalian mau belajar sihir dariku?"
... meledak antusias, ceria, dan tidak tahu etika. Aku tidak tahan dan tidak cocok dengan orang sejenis itu.
"Dari pengamatanku, kalian memang tidak mempunyai bakat dan tidak bisa menggunakan sihir terlalu banyak. Tapi aku akan mengajari kalian struktur dasar sihir dan cara memproyeksikannya sebagai permulaan"
Dori dengan antusias memulai penjelasannya tanpa menunggu persetujuan kami. Aku dan Namsius yang termangu mangu mendengarnya, berusaha memahami ajarannya yang lumayan abstrak dan berantakan.
Dia bukanlah guru yang terlalu baik. Menilainya sebagai pengajar, aku bisa menjaminnya di pecat dalam satu hari.
Dari penjelasan yang dia ajarkan, kami menyimpulkan pertama-tama seseorang harus fokus dan mengumpulkan Mana secukupnya sebelum membayangkan bagaimana bentuk sihir tersebut.
Kedua, menyebutkan mantra yang sudah ada dan mengalirkannya pada sebuah benda akan lebih membantu fokus dan konsentrasi kita akan apa yang kita bayangkan. Terakhir, rasakan Mana yang telah dikumpulkan dan cobalah mengubahnya menjadi sihir diinginkan.
"Mengucapkan mantra akan lebih membantu seseorang menggunakan sihir dan mempersingkat waktu. Tapi untuk yang pemula, aku sarankan untuk mencoba mengendalikan Mana dan memanipulasinya. Apa kalian mengerti sejauh ini?"
"... Uh, bagaimana cara kita mengendalikan Mana?"
"Ah, buatlah diri kalian senyaman mungkin dan tenangkan pikiran kalian. Tarik nafas dalam-dalam dan rasakan Mana yang keluar masuk tubuh kalian"
Buat.. diri kami senyaman mungkin... Tarik nafas dalam-dalam..?
.
.
... Tunggu- Aku masih tidak mengerti bagaimana ini bedanya dengan meditasi dan yoga. Itu tidak membantu kami sama sekali
Kami sudah mencoba cara ini berkali-kali dan hasilnya tetap saja nol. Percobaan kami tidak pernah membuahkan hasil. Yang ada malahan adalah kami membuang-buang waktu kami untuk sesuatu yang tidak berguna.
Haaa.. Kelihatannya kami benar-benar tidak punya harapan dalam sihir. Mari lupakan saja masalah ini dan ganti ke topik selanjutnya.
"Kami akan mencobanya nanti. Ngomong-ngomong, kapan kau akan memenggal naga itu?"
"Aku akan mencoba lihat guanya besok. Kalian ingin ikut?"
Aku mengangguk cepat dan menyeringai lebar. Tanpa ada sedikitpun rasa curiga padaku, Dori mengiyakan kami dengan anggukan sebelum pergi keluar dari kamar kami.
Sesaat setelah ia keluar, aku melirik Namsius yang langsung bersiap-siap untuk pergi ke gua dan membawa peralatan yang dibutuhkan. Itu bagus kami sepemikiran rupanya.
Semuanya berjalan dengan lancar. Ini lebih mudah dari yang kubayangkan.