I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 17: Naga



Naga adalah mahkluk mitologi yang berwujud reptil dan berukuran raksasa. Pada umumnya berwujud seekor ular besar, tetapi ada pula yang menggambarkannya sebagai kadal bersayap yang memilik beberapa kepala dan dapat menghembuskan nafas api.


Hanya saja di dunia ini..


"Naga di Ibalion sangatlah besar dengan sayap merah yang lebar. Ia bisa menyemburkan api yang sangat panas dari mulut dan terkadang hidung. Tapi ada juga yang panjang bagai ular dan tidka menghembuskan api"


... Bangsa naga memiliki sedikit masalah genetika yang tidak dapat dijelaskan sehingga naga terbagi menjadi 2 jenis.


"Wow.. aku masih tidak percaya naga itu nyata dan bukan mitologi yang digambarkan dari berbagai budaya"


"Hah? Kau bicara apa rambut hitam? Mereka itu nyata. Dari ribuan tahun yang lalu, mereka selalu ada di dunia ini"


Namsius tertawa kecil, menganggukkan kepalanya sembari diam-diam menghafal jalan menuju gua naga. Jalannya di cat kuning mencolok, dikelilingi hutan lebat, dan terletak cukup jauh dari Ibalion.


Di sepanjang jalan tersebut dipasang sihir yang dapat melarang seseorang untuk masuk ke dalam terkecuali yang berkepentingan seperti Dori. Tetapi, semua sihir dan perangkap yang ada disana dapat ditangani dengan memutari hutan dan tidak menginjak jalan kuning yang banyak perangkap sehingga mereka tidak terdeteksi.


Sesampainya di depan gua naga, Namsius menemukan puluhan rantai yang menghalangi gua tersebut. Yang lebih parahnya lagi, di sekitar gua terdapat ranjau yang harus mereka lewati secara hati-hati.


Melihat jalan yang harus mereka lalui, ia memperkirakan waktu dari Ibalion untuk sampai ke gua ini dan mengerutkan keningnya dari rasa bingung saat menyadari sesuatu yang tidak masuk akal.


"Hei, kita memerlukan waktu setidaknya setengah jam untuk sampai kesini. Itu menjadikannya 2 jam jikalau kita tidak memiliki izin. Itu tidak masuk akal."


"Tidak masuk akal? Apa maksudmu?" Tanya Dori kebingungan. "Semua perangkap ini dipasang agar tidak ada yang berani membebaskan naga dan membuat kekacauan. Ini adalah wilayah terlarang"


"Aku tahu dan itu tidak masuk akal. Jadi maksudnya selama ini kalian mengurung naga tersebut hanya untuk dipenggal kepalanya sampai harus memasang perangkap? Di tempat pertama, mengapa ada naga di gunung ini?"


Dori mengangkat bahunya, mengatakan ia tidak tahu secara rinci apa yang terjadi. Kononnya, naga ganas tersebut telah berada di dalam gua selama ribuan tahun tanpa ada yang mengunjunginya. Secara umum, begitulah cerita yang diketahui semua orang.


"Itu saja yang kuketahui. Aku tidak memiliki banyak informasi tentang naga ini. Kalian boleh menanyai rekan-rekan ku ketika mereka sampai nanti. Tunggulah sekitar 2 Minggu lagi"


"!! Sebentar- kau berencana memenggal kepala naga ini dalam waktu 2 Minggu kedepan?"


Dori mengiyakan pertanyaan Rumos. Ia menjelaskan dikarenakan tidak ada yang familiar dengan naga tersebut, ia harus menunggu rekannya yang lebih mengenal naga tersebut untuk membunuhnya.


Dan itu membuat sebuah pertanyaan muncul di kepala Namsius sekali lagi.


—— Bagaimana bisa tidak ada satupun makhluk disini yang mengenal naga tersebut dengan baik? Selama ribuan tahun, apa tidak pernah ada yang bertanya-tanya tentang keadaan naga tersebut?


Tidak- Di tempat pertama, mereka baru hanya menindaklanjuti masalah ketika naga yang berada di Ibalion mulai mengamuk dan berusaha kabur. Semuanya akan baik-baik saja apabila naga tersebut tidak bereaksi.


Dari kesimpulan tersebut, Namsius mematung sejenak dan menyadari satu hal penting.


—— Apa sang naga bahkan diperlakukan sebagai makhluk hidup?


Mengurungnya di dalam gua tanpa ada yang tahu alasan yang jelas membuatnya tidak habis pikir apa yang terjadi sebenarnya. Ditambah, tidak ada yang tahu latar belakang awal mula naga tersebut berada disini membuatnya lebih gelisah akan kenyataan yang belum terungkap.


Namsius menatap ke dalam gua yang mengeluarkan aura dingin mencekam. Untuk sekian detik, matanya bertemu dengan sosok yang berada di dalam sana-- naga yang tidak senang menyambut kedatangan mereka.


Melangkah mundur secara insting, Namsius mulai menyadari situasinya dan mempertimbangkan ulang rencana Rumos. Memeriksa ke sekitarnya, ia perlahan-lahan mempunyai firasat buruk.


"Hei, Rumos. Perubahan rencana. Ada sesuatu yang tidak beres disini dari tadi. Rencana kita akan gagal total"


".. Apa maksudmu? Tiba-tiba?"


"Iya. Kelihatannya kenyataan yang sebenarnya masih tersembunyi. Kita akan merundingkan ini lagi setelah keluar dari hutan ini"


Rumos melihat ke dalam gua yang gelap di depannya dan menghela nafas panjang. Dia mengiyakan Namsius dengan sebuah anggukan kecil, mempercayainya. Membungkuk kecil meminta maaf pada gua tersebut, Namsius bergegas menarik Rumos pergi.


"Nona Dori, kembaranku kurang enak badan. Apakah kami boleh kembali duluan?"


"Oh, tidak masalah. Aku akan mengantar kalian kembali"


"Terimakasih. Itu akan sangat membantu"


...********...


Rumos POV


Panci, kuali, daging yang kualitasnya lumayan, bumbu dan rempah-rempah, micin, garam, dan gula..


"Hei, kita disini bukan untuk masak-masak dan berkemah di hutan. Apa yang kau rencanakan?"


"Negosiasi. Naga itu juga makhluk hidup berakal budi kan? Artinya kita bisa menghindari pertumpahan darah yang tidak diperlukan"


"Kau akan memancingnya dengan makanan?"


"Tepat sekali. Apa ada masalah?"


"... Apa kau perlu sampai membawa rempah-rempah dan semua peralatan itu?"


Aku meletakkan tanganku di pinggang, melihat semua barang-barang yang ia kemas. Kamar penginapan kami dipenuhi dengan peralatan masak dan bahan makanan sampai-sampai aku tidak tahu dimana aku harus menginjakkan kakiku.


Merepotkan. Apa dia mencoba membuka restoran di kamar ini atau mau bersiap-siap ikut lomba masak? Aku belum pernah mendengar seseorang yang bersiap memenggal kepala naga membawa semua barang-barang ini.


Pernahkah seorang pahlawan pergi ke medan perangnya membawa peralatan masak dan bukan senjata? Tidak. Aku belum pernah mendengar cerita itu sama sekali.


Apa sang pahlawan akan bertarung pakai kuali sebagai perisai dan panci sebagai pedang? Lucu. Itu tidak akan berhasil. Jadi apa yang sebenarnya saudara konyol ku ini rencanakan?


"Ok. Semua persiapan sudah siap. Ayo kita pergi sekarang!"


"Oi, oi- jangan bercanda. Apa kau tahu sekarang ini jam berapa?"


"Jam 11 malam. Lalu?"


"Haaa.. tidurlah. Aku juga butuh tidur- jangan bangunkan aku sampai jam 7 pagi besok"


Aku menggulung diriku dalam selimut, menolak untuk pergi. Namsius tersenyum masam, mencoba membujukku sambil memasukkan semua barang-barang yang ia beli ke dalam ruang penyimpanan.


Akan tetapi, ia tidak memaksaku saat aku menolak tidak menjawabnya dan mendesah lelah.


"Aku mengerti. Tidurlah pulas kalau begitu"


"... Kau tidak akan pergi sendirian kan? Jangan bilang kau akan menyeretku ikut-"


"Aku masih sayang dengan nyawaku dan aku tidak gila. Aku akan menghargai mu jadi tidurlah"


Namsius duduk di ambang kasur dan ikut berbaring bersamaku. Aku pikir tadi dia akan melawan tapi ternyata dia sangat penurut denganku. Dia mudah sekali diatur-


—— Bagai anjing peliharaanku, dia akan mengikuti semua yang kuminta.


".. Hei, dipikirkan lagi, ini adalah pertama kalinya aku bebraring disebuah kasur yang nyaman dan layak. Bukankah ini menyedihkan?"


"Kau benar. Itu sebabnya kita harus tidur nyenyak malam ini dan JANGAN bertindak gegabah, Namsius"


"Iya, aku mengerti. Selamat malam kalau begitu"


...*********...


Aku terbangun di sebuah ruangan gelap. Salah satu hal yang menerangi pandanganku adalah sebuah lentera yang berada di sampingku. Tubuhku tidak terluka ataupun kenapa-napa. Aku masih terbangun di atas kasur dengan pakaian tidur yang sama.


——Sayangnya, Namsius tidak berada di sampingku dalam ruangan aneh ini.


Dari pengalaman ku, mimpi cenderung terasa lebih kacau dan penuh chaos dalam berbagai aspek.


.


.


".. Jadi dimana ini? Apa yang sedang terjadi di dunia ini?"


Aku beranjak dari kasur ku, meraih lentera minyak yang remang-remang. Kakiku menginjak lantai hitam yang terendam air sebatas pergelangan kakiku. Aku tidak menyadari keberadaan air jernih di tempat ini sebab penglihatan mata ku terbatas.


Ajaibnya, walaupun kakiku terendam air sedingin es, aku tidak merasa kakiku basah sama sekali. Yang kurasakan di kakiku sekarang adalah perasaan menggigil hingga ke ujung jari tanganku.


"!! .. Apa?" Mengamati sekeliling ku, aku menemukan sesuatu yang menarik perhatianku. Tanganku mengarahkan lentera yang kupegang menuju sisi barat ruangan. Menerangi tempat gelap tersebut, aku melihat sebuah pedang besar yang familiar berada di depanku.


Tidak jauh dari sana, hidungku perlahan-lahan menangkal bau rempah dan daging yang masih segar. Mulai menyadari apa yang terjadi, aku meneriaki nama seorang idiot yang hampir membuat jantungku berhenti dari rasa jengkel.


"Namsius, kau mendengarku?! Kau anak sialan- berani-beraninya kau memasukkan ku ke dalam ruang penyimpanan!! Apa kau sudah gila?!!"


"HOAM.. berhenti berteriak. Kau sudah bangun rupanya. Aku juga baru saja bangun di depan gua naga jadi berikan aku waktu sejenak"


!!! APA?!!


Sejak kapan aku bersaudara dengan seseorang yang segila ini?! Apa dia tidak mempunyai akal sehat?!


"-Hei, sialan! apa yang terjadi?! Kau tidak dalam bahaya kan?!"


"Tidak. Semalam aku mencoba memindahkanmu ke ruang penyimpanan setelah kau tidur. Aku lalu pergi ke gua naga dan tidur tidak jauh dari gua itu. Sekarang masih jam 5 pagi dan-"


"Kau apa?!!"


"Berhenti berteriak. Kau akan memecahkan gendang telingaku. Aku bilang aku sudah sampai di gua dan menyingkirkan semua perangkap yang ada di dalam. Mengapa kau sangat terkejut?"


.


.


... Aku salah menilainya. Dia bukanlah anjing peliharaan yang baik. Dia tidak cocok sama sekali sebagai hewan peliharaan.


——Dia adalah anjing liar yang blak-blakan dengan insting tidak stabil yang berbahaya.


"OI, KELUARKAN AKU DARI SINI SEKARANG JUGA- KAU IDIOT TAK BEROTAK!!!"


...******...


Author POV


Namsius menggosok kepalanya yang benjol berkat pukulan kembarannya. Ia tidak mengerti mengapa dia pantas dipukul padahal ia tidak melakukan apapun yang membahayakan nyawa Rumos.


"Aku melakukan semua ini untuk kebaikan kita. Ada apa denganmu melenceng dari rencananya?"


"Apa? Dengan memperlakukanku seperti barang? Itu rencana yang sangat buruk. Apa kewarasan mu berkurang seiring usiamu bertambah?"


"Aku? Kau tak pantas mengatakan itu. Kau menjualkan sebagai produk satu set. Kau pikir aku tidak tahu kau terkadang menganggap ku sebagai seekor anjing?"


"Kau benar. Tapi setidaknya aku menganggapmu sebagai makhluk hidup. Kau menganggap ku secara literal sebagai benda mati tanpa persetujuan ku"


Rumos memutar bola matanya, membuat nafas Namsius tertahan dari rasa tidak terima. Ia mengepalkan tinjunya dan memalingkan kepalanya supaya kepalanya mendingin. Matanya menunjukkan kekecewaan yang tak bisa dideskripsikan sama sekali.


"Haaa.. Sudahlah. Aku tidak ingin mendengar itu darimu. Setidaknya kita kini tahu seberapa fleksibelnya ruang penyimpanan kita. Kau juga terkadang tidak meminta persetujuanku. Jadi harusnya kita impas"


Namsius mengeluarkan helaan nafas yang membuat dirinya tidak terbawa perasaan. Ia menarik Rumos masuk ke dalam gua dan mempersiapkan bahan-bahan yang dia beli semalam di depan sana.


Di depan gua tersebut, ia memasak daging segar dan membumbuinya dengan rempah terbaik yang ia pilih sebelum meletakkannya di dalam gua dan pergi bersembunyi di dekat pohon sambil menunggu reaksi naga tersebut.


Rumos mengangkat alisnya, ragu rencana ini akan berhasil. Namun, daripada memilih pertumpahan darah yang akan menghabiskan banyak tenaga, solusi milik Namsius layak dicoba.


Sebisa mungkin, dia ingin menggunakan cara yang paling tenang, cepat, dan efektif untuk menyelesaikan misi ini. Apabila ada kemungkinan menghindari pencabutan nyawa satu sama lain, mengapa tidak mencobanya?


".. Namsius"


"Apa? Jangan mengomel. Aku percaya rencana ini akan berhasil"


".. Terserah. Itu tidak biasa kau memiliki tekad untuk melakukan sesuatu. Sebagimana gila rencana mu, aku akan mempercayaimu kali ini"


Rumos menepuk punggung Namsius dan menunjuk ke dalam gua. Keduanya dapat melihat jelas sosok seekor naga merah berada di depan mata. Naga tersebut kemudian duduk di depan daging yang memancingnya dengan aroma menggiurkan sebelum mengendus-endus daging tersebut.


Akam tetapi, naga tersebut tidak menyentuh makanannya sehingga Namsius harus turun tangan. Berjalan dengan kaki yang gemetaran, ia tidka bisa berjalan lurus. Rumos yang melihat berjalan terhuyung-huyung tertawa kecil, menikmati pemandangannya sambil membantunya.


Seketika keberadaan mereka berada dalam radar naga tersebut, sang naga terperanjat dan langsung meraung keras. Ia melebarkan sayap merahnya, membuat jantung si kembar berhenti berdetak dari rasa kaget.


Bertindak cepat, Namsius bergegas membungkuk dan memaksa Rumos juga sebagai pemastian mereka bukanlah ancaman. Namsius lalu memotong sedikit bagian daging di atas piring dan memasukkannya ke dalam mulut agar membuktikan daging yang ia masak tidak beracun.


"K, Kami tidak memiliki niat buruk sama sekali. Anda pasti lapar.. Makanlah sebelum makanan anda dingin"


"!!? Kau.. bisa berbahasa bangsaku..?" Sang naga terkaget saat mendengar Namsius berbicara menggunakan bahasa bangsanya. Ia mengamati 2 anak kecil di depannya dari atas sampai bawah dengan kebingungan.


Dia tidak merasakan ada maksud buruk dari mereka. Menunduk pada daging yang di depannya, ia mencium bau daging tersebut sekali lagi sebagai pemastian.


—— Tidak ada racun, sihir, atau apapun yang berbahaya. Hanya daging biasa yang di masak. Namsius tidak memasukkan apapun kedalamnya selain rempah yang beragam.


"Kami akan pergi dulu. Sampai jumpa, wahai naga Ibalion." Rumos mendorong Namsius pergi meninggalkan naga yang tercengang. Mereka lalu bersembunyi di belakang semak dan menunggu reaksi naga tersebut.


Jarang sekali ada orang yang mau melakukan hal baik tanpa imbalan. Sang naga sudah mempercayai hal itu dari ribuan tahun yang lalu. Baik manusia, Elf, Dwarf, bangsanya sendiri.. dia dan si kembar mengenalnya terlalu baik.


.


.


... Tapi setiap tahun dari triliunan orang yang terlahir di dunia, pastinya ada miliaran orang yang menjulurkan tangannya pada orang-orang yang kesulitan.


—— Setidaknya, itulah yang Namsius percayai selama ini.


TAK..


Sang naga mencoba segigit dari daging yang menggodanya sedari tadi. Keraguannya dan ketidakpercayaannya langsung menghilang setelah tidak ada efek apapun yang muncul sehabis ia menelannya.


Mengambil satu gigitan besar lagi, tanpa disadari semua daging yang berada di piring dihabiskannya dengan lahap. Ia menjilati bumbu di piring hingga bersih.


Terdiam beberapa saat, sang naga memandangi sekeliling guanya dan menyadari setiap perangkap yang berada dipasang di dalam telah menghilang terkecuali untuk rantai di depan gua. Ia kini bisa bergerak lebih bebas dari sebelumnya.


".. Ah, kapan terakhir kali aku merasakan sesuatu yang hangat dan enak"


Sang naga memalingkan kepalanya ke arah pintu masuk gua. Jarak yang memisahkannya dengan dunia luar tidaklah sejauh yang dulu. Dia bisa melihat langit biru yang berada di depannya dan merasakan angin sepoi-sepoi yang berhembus masuk lebih jelas dan nyata.


.


.


"—— Apa langit biasanya memang secerah ini?"