
...Aku tidak ingin dipukul sandal jepit...
Sinopsis:
Suara jantung berdebar-debar 2 remaja terdengar kencang. Membawa sepatu mereka, keduanya berjalan mengendap-endap di ruang tamu- berusaha tidak membangunkan bos level 999999 di kamarnya.
Menyelinap keluar di malam hari, mereka berlari keluar kamar tidur mereka. Tetapi lupa mengunci pintu rumah?
Sungguh mereka mempunyai satu sel otak yang mengharukan.
".. Ugh, sudah kuduga ini ide yang buruk"
...********...
Aku, Ram, duduk di bangku SMA kelas 10 di sebuah kampung kecil. Tidak ada yang spesial. Aku adalah murid normal tanpa teman dekat di kelas.
"Hei Ram, apa bel sudah bunyi?"
"Belum."
——Dan orang yang duduk di sebelahku ini adalah sepupu ku, Dylan. Dia adalah orang yenga berbeda 180° dariku.
"Ih, kamu ini dingin sekali."
"Kau berlebihan. Ngomong-ngomong, aku dengar kabarnya abang mu mau datang hari ini. Ada keperluan apa dia datang tiba-tiba?"
"Entahlah. Mungkin kangen padaku?" Tanya Dylan dengan lebay.
Bola mataku memutar malas, mendengarnya. Menyilangkan tanganku, aku memintanya berhenti bercanda. Belum sampai 2 Minggu bang David-- saudara tiri Dylan mengunjungi kami. Dia 2 tahun lebih tua daripada kami. Karena ia sebentar lagi akan lulus, bang David pasti sibuk sekali.
Makanya, kabar kedatangannya yang mendadak tidak masuk akal sama sekali.
"Bang David kan juga sudah kerja. Ada urusan penting-"
"Yang benar deh, Ram. Kita itu sebaiknya nggak usah ikut campur urusan orang lain. Kamu tanyain dia aja sendiri kalau mau"
Dylan menyikutku, menyuruhku tidak mengerutkan keningku. Dia mengajakku pergi ke kantin daripada bengong seperti orang bodoh. Tidak ada niat sama sekali, aku menolaknya dan mencari alasan lain agar dia meninggalkanku sendirian.
Akan tetapi, dia terus mendesak ku dan menarik tanganku sampai-sampai aku terjatuh dari kursiku. Membersihkan seragam ku yang terkena lantai kelas yang kotor-- tidak pernah piket.
Dylan tersentak kaget begitu aku melototi nya. Dia meminta maaf dan membantuku berdiri. Karena suara gaduh yang kami buat, semua murid di kelas menoleh ke arah kami.
"H, Hei.. Aku hanya bercanda. Jangan menatapku-"
"Tidak apa. Aku tidak marah."
".... Ok. Dipikirkan lagi, aku akan pergi ke kantin sendirian apabila kau tidak mau."
".. Haaaa.. bawakan aku obat nyamuk sekalian. Nyamuk disini keterlaluan banyak"
Dylan mengangguk sembari berjalan keluar kelas seketika ia dipanggil temannya, melimpahkan semua perhatian padaku. Tidak nyaman di tatap, aku membaringkan kepalaku di atas meja.
Sudah kuduga. Sedari Dylan tinggal serumah denganku, aku tidak menyukainya sama sekali. Aku terkadang menginginkan dia menghilang dari hidupku. Tak pernah aku ingat perbuatannya yang membuatku berwajah datar dengan canggung dan malu.
Akan tetapi, itu tidak seperti aku membencinya. Aku mentoleransi apa yang ia lakukan sebab dia adalah keluargaku. Lagipula, aku senang dia ingin berbicara denganku dan mengajakku.
Dia bukanlah orang yang buruk. Asal tahu saja, dia sejujurnya adalah-
"Psst- hei, sobat apa kau tahu tentang permainan itu?"
"permainan apa?"
"Permainan terlarang itu! Dimana monster akan keluar apabila kita menghitung sampai hitungan ketiga tengah malam di rumah tua ujung jalan. Kau mau mencobanya?"
"Apa? Tentu saja tidak bodoh! Aku terlalu ngantuk untuk jaga malam! Mengapa kau tidak mengajak Dylan sa-"
BAM!!
—— Anak yang berbakti nan jahil. Aku menganggapnya sebagai saudaraku.
"!!...Apa yang- Oi!! Apa kau ingin kami terkena serangan jantung?!"
"!!!.... Kok tiba-tiba mukul meja?! Kalau mood lagi jelek, tolong ya jangan lampias-"
"Baik. Jangan lampiaskan amarah kalian padaku. Aku hanya memukul nyamuk di atas mejaku," ujarku, tidak berbohong.
Aku menunjukkan telapak tanganku pada mereka, memperlihatkan nyamuk yang gepeng di telapak tanganku. Mencengangkan mereka, aku duduk kembali di bangku ku setelah meminta maaf.
Menyebalkan. Aku harap mereka tidak melibatkan Dylan atau aku lagi.
...********...
Aku berjalan pulang bersama sepupuku. Dia kelihatan lebih tidak bersemangat dari biasanya. Menanyainya apa yang terjadi, ia melirikku bimbang berkali-kali. Itu membuatku mengerutkan dahiku dengan jengkel.
"Baiklah, kau tidak perlu memberitahuku apabila-"
"Aku dengar dari temanku.. kau hari ini marah sampai kau memukul meja"
Ah.. jadi dia memikirkan hal itu ya?
"Aku tidak marah. Tidak.. Aku memang marah. Tapi bukan padamu. Aku marah pada nyamuk yang menggangguku"
".. Benarkah? Temanku berkata kau terlihat jengkel"
"Oh, itu memang tipikal wajahku. Sampai sekarang aku pun terlihat jengkel kan?"
.
.
.
.
"Ya.. Mungkin itu kenyataan yang tidak bisa diubah. Kau memang buruk rupa"
Dylan memperhatikan wajahku dalam waktu yang lama sebelum suara tawa dari kami berdua meletus. Berjalan diselimuti mentari jingga, ia merangkul pundak satu sama lain, berbincang kecil denganku. Aku senang dia mengajakku mengobrol meskipun aku tidak pandai menanggapinya. Aku memaksakan diriku untuk menyambung pembicaraannya.
Yah.. Hingga ia mengatakan satu hal yang tidak ingin aku dengar.
"Aku akan pergi rumah tua di ujung jalan malam ini"
Mataku membelalak, menatapnya tidak percaya. Mengetahui apa yang akan ia lakukan, alisku terangkat secara refleks. Akan tetapi, aku tidak mengatakan apapun padanya.
——Melainkan, aku mencari alasan logis agar dia tidak pergi ke rumah tua itu.
"Abang mu akan datang. Kau tetap akan pergi?"
"Aku sudah menemuinya Minggu lalu. Aku yakin dia bosan juga melihat wajahku"
"Tapi dia saudara kandungmu."
"..... Ada apa denganmu mengurusi urusanku? Apa kau kerasukan?"
Sayangnya, dia menangkap basah diriku lebih cepat dari dugaanku. Jujur padanya, aku mengatakan rumah tua di ujung jalan bukanlah tempat yang aman dikunjungi. Kayu tua yang rapuh, pencuri yang lalu lalang di tempat sepi, dan terlebih lagi, melakukan uji nyali disana akan membuat penunggu rumah tersebut terusik pastinya.
Setidaknya, aku tidak akan mau rumahku di bobol orang luar yang ingin memainkan sebuah permainan. Itu sangat tidak menghargaiku.
"Ram, ini bukan urusanmu. Kau tidak bisa melarang ku pergi"
Dylan setengah menatapku jengkel. Tidak memberikan reaksi yang besar, aku menubruknya dan mengangkat bahuku.
"Siapa bilang aku melarangmu. Pergilah apabila kau mau."
"!!!!... K, Kau serius?" Tanyanya dengan kaget.
Itu benar rumah tua di ujung jalan adalah tempat yang berbahaya. Namun, aku pun tidak bisa melarangnya apabila dia memutuskan untuk pergi.
Makanya, aku berusaha mempersuasinya supaya tidak pergi. Aku tidak ingin memaksanya. Membujuknya adalah satu-satunya cara yang bisa kulakukan.
... Itu rencana awalnya. Melihatnya bertekad pergi entah dkarena alasan apa, tampaknya aku harus melaksanakan rencana B.
"Asalkan kau mengajakku, maka aku ok dengan itu"
"EEEHHH?!!!" Dylan mengerutkan keningnya, memasang wajah yang... intinya, dia mirip Titan sari AOT jikalau ekspresinya begitu.
"M, Mengapa kau ingin ikut pergi?!"
"Aku tidak boleh? Kau tidak bisa melarangku. Bukankah lebih ramai lebih meriah?"
"...... Tapi.. Tapi.. Uh..."
Aku melihat remaja di sampingku yang gagap. Dia kehabisan kata-kata. Mendesah nafas panjang, wajahnya yang kini bak orang barusan kalah dalam pertandingan sepak bola menunduk ke bawah.
"Cih, Ram. Kau adalah perusak pesta rupanya"
"Mengapa? Aku juga bisa berpesta"
Aku tidak peduli dia senang atau tidak aku ikut. Maaf, keselamatan itu lebih penting daripada hiburan.
"Tapi itu bukan masalah utamanya sekarang LAN card"
"Oi, jangan memanggilku itu RAM memory. Aku pun tahu apa masalah"
Aku dan Dylan bertukar pandangan. Menginjakkan kaki ke halaman rumah, kami bisa mendengar suara musik bos paling berbahaya muncul. Berjalan mendekati pintu rumah, kami bisa merasakan tekanan hebat.
TAP, TAP, TAP..!!
"Kenapa kalian pulangnya telat hari ini?"
Menelan liur, kami membalikan badan kami perlahan-lahan. Daripada memikirkan bagaimana cara kabur dari rumah, memikirkan bagaimana cara bisa selamat dari bos di depan kami bersama senjata saktinya.
"H, Hai bu.."
"K, Kami pulang"
.
.
—— Emak dan sandalnya.
...*******...
Aku dan Dylan duduk di atas kasur kamar. Malam ini, bang David nggak jadi datang. Jadi kami tidak mempunyai alasan untuk keluar dari rumah.
—— Kami tidak bisa pergi ke rumah tua itu. Horeee!!!
"Tsk! kau punya ide? Teman-temanku sudah menunggu disana"
"Tidak. Kau pikir aku bisa mengalahkan bos yang namanya emak?"
Dylan mendecakkan lidahnya sekali lagi, meraih kerahku. Dia bersikap agresif dan menjengkelkan. Namun, dia tidak membantahku. Menghela nafas panjang, ia menyerah begitu saja.
Dia adalah anak yang nakal dan usil. Tetapi tidak pernah membantah dan selalu mematuhi orangtuaku dan orangtuanya. Dia adalah anak yang baik. Aku menganggapnya sebagai saudaraku..
"Ram, apa kau yakin kau baik-baik saja dengan ini?"
"Iya. Aku tidak masalah dengan tidak pergi kelu-"
"Aku akan memberitahu ibumu kau remedial MTK apabila kau tidak membantuku"
.... Yang licik dan menyebalkan terhadap saudaranya.
Mengancamku seperti itu-
—— Dasar picik!