
Daniel berjalan di lorong dengan langkah yang ringan. Mencari adik kelasnya, ia menyapa Irvette yang duduk di bangku taman sangat gembira.
"Haloo, Irvette! Sedang patah hati?"
Irvette tidak menjawabnya dan malah berwajah masam. Tidak mengatakan sepata kata. Mendadak, Daniel menekan kepalanya kebawa sehingga ia menunduk. Terkejut. Irvette menepis tangan Daniel, menanyakan apa yang ia mau.
"Jangan berlagak, kau muka dua"
".. Kau tidak menjawabku. Aku pun bisa kesal didiamkan" Daniel menyilangkan kakinya. Ia tanpa basa-basi menjelaskan apa yang ia mau. "Aku butuh bantuanmu."
"Mintalah Fonsius atau siapapun-"
"Aku tidak bisa. Kau satu-satunya orang yang tersedia. Keluargamu ada yang tinggal di ibukota kan?"
Irvette mengiyakannya ketus, menanyakan apa yang direncanakan Daniel. Bernegosiasi. Ia menyetujui membantunya asalkan Daniel harus membantu Lewine. Ia menyadari untuk saat ini, dia bukanlah orang yang dapat membantunya. Begitu juga Daniel.
Satu-satunya orang yang dapat membantu Lewine meluruskan hidupnya adalah Fonsius. Akan tetapi, ia tidak mempercayai remaja berambut perak tersebut.
Fonsius dan Lewine adalah Yin dan Yang. Bertolak belakang. Namun melengkapi satu sama lain. Apabila yang satu tidak ada, maka yang lain pun tidak. Seperti pahlawan dan penjahat dalam sebuah buku cerita.
"Jadi aku ingin kau mengawasi mereka. Mengatur Fonsius lebih tepatnya agar dia tidak kelewatan. Kau sepakat?"
"Itu adalah urusan mudah. Tentu saja aku bisa melakukannya"
"Bagus. Lalu apa yang kau inginkan? Berhubungan dengan guru baru itu?"
Ular berkulit manusia itu menjentikkan jarinya dan mengangguk. Memberikannya setumpuk kertas, Irvette membaca apa yang tertera disana. Kertas-kertas tersebut berisikan data yang sudah Daniel kumpulkan dalam waktu singkat.
[Guru baru itu masih muda. Dia pernah mengunjungi Asa sekali beberapa tahun lalu saat festival musim panas. Dia dulunya bekerja di sirkus tak terkenal. Di hari Yutew, dia terpilih sebagai pahlawan yang akan mengalahkan raja iblis.]
[Anak-anak Asa. Ia bertemu dengan mereka dan bekerja bersama mereka selama 2 tahun lebih. Beberapa tahun kemudian saat ia pergi, sirkus tersebut terbakar habis tanpa sisa. Anehnya, tidak ada jejak akan anak-anak Asa selamat ataupun terbakar. Mereka menghilang begitu saja]
Irvette memiringkan kepalanya dan tersenyum kaku. Ia tidak melihat adanya hubungan dengan permintaannya dan data yanh ia kumpulkan. Data yang ia kumpulkan pun tidak terlihat begitu penting sama sekali.
"Lalu?"
"Lalu apa? Aku memintamu menyelidiki kasus Asa. Guru baru itu memiliki hubungan dengan mereka"
"Tunggu.. Itu melenceng dari jalurnya. Bagaimana bisa kau tiba-tiba membahas Asa? Ditempat pertama, mengapa kau bertekad melakukan semua ini?"
Daniel menggosok dagunya. Ia tidak memikirkan alasan mengapa ia begitu mengantisipasinya. Akan tetapi, ia dapat mengasumsi mengapa ia melakukan semua ini.
"—— Sepupuku. Aku ingin bertemu dengan mereka. Bukankah itu wajar ingin bertemu dengan orang yang sedarah denganku?"
...********...
Ruang Kelas
Fonsius dan Lewine duduk berhadapan dengan seorang pemuda berambut pirang. Ketiganya terdiam canggung, tidak tahu harus mengatakan apapun. Memberanikan diri, Fonsius mengangkat suaranya— mendadak memperkenalkan diri.
"N, Namaku Fonsius Farrell."
"... Aku tahu. Aku ini guru mu."
"Heh, bodo- Konyol. Kau pikir kau baru masuk sekolah atau apa?"
Fonsius tersipu malu. Ia memalingkan wajahnya dan mainkan jarinya. Berpikir keras, ia mencoba memikirkan sebuah topik pembicaraan demi misi pentingnya di ruangan ini.
"P, Pak guru.. kami belum mengenal namamu. Bisakah kau memperkenalkan diri anda?"
"Aku? Kau tidak mengenalku?" Tanya guru baru itu. "Aku terkejut kau tidak mengenalku. Jadi rumor bahwa kota ini benar-benar ketinggalan memang benar ya"
Pemuda tersebut menggaruk kepalanya. Ia memikirkan cara bagaimana ia harus memulai menceritakan tentang dirinya. Meminta maaf, ia menjelaskan ini pertama kalinya ia menjadi guru. Ia tidak mengerti bagaimana ia harus bersikap.
"Aku dikirim kemari untuk mengembangkan wilayah ini dan untuk mencari pahlawan yang akan lahir di kota ini"
"Pahlawan? Pak guru adalah pahlawan yang akan mengalahkan raja iblis?"
Mengangguk pelan. Ia menjawab pertanyaan Fonsius. Awalnya, ia sangat terkejut. Entah keajaiban dari mana, ia tiba-tiba terpilih. Dia hanyalah orang miskin biasa yang baru di ibukota. Dia bekerja di sirkus keliling dengan gaji yang tidak terlalu besar.
"Ditambah, aku ini cacat. Kupikir ada kesalahan dengan hasilnya. Tapi setelah dikonfirmasi berulang kali, ternyata hasilnya-"
"Kau cacat?" Sela Lewine.
Fonsius dan guru baru itu bertukar pandang. Pertanyaan mendadaknya membuat si calon pahlawan terdiam. Fonsius mengedipkan matanya, mulai mempelajari sosok berjubah hitam. Dari atas sampai bawah, badannya tertutupi kain linen.
Melihat kakinya dan posturnya yang lumayan. Fonsius dan Lewine bisa menebak apa yang kurang darinya.
"Oh, kau tidak mempunyai- UMPH!!!"
Fonsius menutup mulut Lewine tanpa membiarkannya menyelesaikan satu kalimat. Mengetahui mulut perundungnya liar bagai kuda liar yang sakit perut, ia tidak mau menyinggung pemuda di depannya. Mengganti topik, ia mengikuti arahan yang telah diberikan Daniel sebelum ia memasuki ruangan.
"B, Begitu. Lalu mengapa pahlawan sepertimu memutuskan mengajar menjadi guru di desa ini? Bukankah pak guru memiliki banyak pilihan lain? Penyihir atau bekerja di pemerintahan.."
Si calon pahlawan terdiam. Ia menyilangkan tangannya dan menengadah seakan-akan mengingat sesuatu. Tersenyum nostalgia, ia mengatakan alasan dibaliknya adalah sesuatu yang personal.
"Seseorang yang kukenal mengajariku untuk tidak menjadi arogan. Ia menyuruhku melihat dunia luar dan terus mencari ilmu sewaktu aku bekerja di sebuah sirkus."
"Rekan kerjamu?"
"Benar! Dia dan kembarannya berasal dari Asa. Itulah mengapa aku memutuskan menjadi guru disini. Berkat keduanya, mereka mengubah caraku memandang hidup"
Ia menceritakan betapa beruntungnya dirinya. Menunjukkan ketiadaan lengannya, Fonsius dan Lewine membelalakkan mata. Keduanya memiliki reaksi yang wajah bagi orang yang tidak pernah melihat seorang cacat. Mengatakan dia sejak lahir sudah cacat, ia bersyukur tempat dimana dia tinggal menerima keberadaanya.
"Heh, kau sungguh beruntung. Para dewa pasti mencintaimu," puji Fonsius setengah sarkastik. Kalimatnya membuat uji mulut Lewine berkedut sedikit, bertanya-tanya mengapa Fonsius mengucapkannya.
Akan tetapi, ia tidak mengerti mengapa dia mengatakan hal tersebut. Ia dapat mendeteksi secuil keiriannya yang picik terhadap pemuda tak berlengan di depannya.
"Orang-orang yang berada dikeliling mu pasti orang baik"
Mungkin sebab ia tidak pernah menerima kebaikan dari orang luar secara cuma-cuma dan dirundung kemalangan tak berujung, ia tidak bisa menahan kata-katanya tidak keluar dari mulutnya.
"A, Ah.. Aku menyinggungnya. Apa yang harus ku lakukan?"
Fonsius menoleh pada Lewine. Ia meminta bantuan dari orang terburuk yang ia kenal secara terpaksa. Mengangkat bahu, Lewine menertawakannya dalam hati dan menyuruhnya berusaha sendiri.
Berpikir keras, ia tidak melihat adanya cara menarik perkataannya kembali kecuali melalui mesin waktu yang tidak nyata. Daripada mengkhawatirkan perkataannya tadi, ia menggunakan kesempatan ini untuk menilai pemuda yang ada di depannya melalui perkataan jujurnya.
"Itu membuatku iri, pak"
".. Kau iri dengan.. orang sepertiku?" Tanya pemuda itu terkejut.
"K, Katakan aku ini picik atau apapun. Itulah perasaan murni ku" Fonsius menelan liurnya. Jantungnya berdebar seolah-olah ingin keluar dari tubuhnya. Ia menjadi gelisah, menunggu responnya.
"Haha, kau benar. Aku ini orang yang beruntung. Walaupun itu tidak benar kau adalah orang yang picik. Bagaimana jika kita berkenalan dulu?"
"!!!!.. K, Kau ingin.. berkenalan?"
"Kau adalah muridku. Tentu saja aku ingin memahami kalian lebih dalam. Aku menghargai pendapat kalian tentang diriku. Tapi jangan memandang rendah dirimu mengerti?"
Nafas Fonsius tertahan, melihat pemuda yang tersenyum tulus. Melelehkan kegelisahannya, ia mengakhiri interogasinya sampai disini dan menentukan kesimpulan dari akhirnya.
"—— Sudah kuduga. Syukurlah dia bukanlah orang jahat seperti kata Daniel dan Lewine"
Dia adalah rakyat jelata yang dipandang baik oleh semua orang. Dia sangat peduli dan baik kepada semua orang. Sikap anehnya yang unik menarik ketertarikan semua orang. Meskipun memiliki Divine Protection, dia tidak angkuh. Ramah, supel, baik, dan suka bergaul adalah karakteristiknya. Memakai jubah hitam panjang, ia mengeluarkan bau harum. Dia selalu membuat semua orang merasa nyaman di sekitarnya.
—— Dia seorang pahlawan seperti yang dikatakan takdirnya.
Fonsius terkekeh kecil. Mengingat sesuatu yang belum ia ketahui, Fonsius menanyakan nama guru baru tersebut.
"Ah, benar. Namaku adalah—"
KRIEETt..
...*****...
Cendric POV
Aku berjalan kaki pulang. Mengikuti apa yang dikatakan écrevain Nom, aku memutuskan untuk melihat hasilnya hingga akhir. Apa yang ada di balik dunia ini.
——Aku tulis kelanjutannya dan kau hentikan kekacauannya. Itulah kerjasama kita.
Dan begitulah aku dijadikan tombol ESC berjalan dengan alasan écravaim Nom kehabisan ide. Tidak tahu malu bukan?
[Yah.. setidaknya aku tidak menyembunyikannya dan menyembunyikan plot armorku]
Seriusan.. kau gila.
TAK-
Aku mencoba membuka kunci rumahku sesampainya di rumah. Namun menemukan pintunya tidak terkunci aku mengangkat alisku dan buru-buru masuk. Apa Fonsius sudah pulang? Tidak- aku tidak melihat tasnya ataupun tanda ia berada disini.
Meletakkan tasku di lantai kamar, aku pergi ke dapur dan menemukan sebuah catatan Alice di meja. Dia ternyata pulang awal hari ini. Sialnya, dia kehilangan kuncinya dan terpaksa masuk lewat jendela kamarnya yang lupa ia kunci.
Yah.. karena Alice kehilangan kuncinya, satu-satunya orang yang memegamg kunci cadangan sisa adalah Fonsius. Ada kemungkinan, Alice sekarang sedang pergi menjemputnya.
[Lalu mengapa kau masih berdiri disini dengan wajah bak orang bengong?!!]
Hmm? Memangnya ada masalah apa?
[Apa maksudmu?! Apa kau lupa kita harus mencari pahlawan itu?!!]
Iya. Apa hubungannya dengan Alice? Apa aku ketinggalan sesuatu, Lecteur yang mahatahu?
.
.
.
.
Haaa, begitu ya.. Sekali lagi, aku lupa kalian tidak bisa berbicara denganku.
Aku penasaran bagaimana perasaan kalian yang mahatahu tetapi tidak bisa memberitahukan siapapun pengetahuan kalian akan dunia ini. Menurutku, itu sedikit menyebalkan.
Kelihatannya satu-satunya cara adalah mencari tahu sendiri konfliknya. Hanya saja, itu mengagetkanku.
—— Alice terlibat dengan pahlawan itu?
...*******...
Fonsius POV
"K, Kau... A, Alfred.."
Ini adalah pertama kalinya bagiku melihat kakak angkatku— Alice berekspresi begitu. Terkejut berbaur ketakutan dan amarah. Ia menggumamkan namanya. Matanya memancarkan dendam yang membara kepada pemuda tak berlengan yang sama kagetnya.
"Sarah.. K, Kau masih hid-"
PLAKk!!
Aku membelalakkan mataku, melihat tangan Alice yang mendarat di pipi guruku. Bergidik, aku merasakan arwah mematikan di sekelilingnya. Terlebih lagi, siapakah Sarah? Sejarah apa yang dimiliki nama itu hingga bisa memicu kemarahan Alice yang sabar?
"Dasar ba****an- Mengapa kau disini?!! Kau tidak puas atas apa yang kau lakukan pada kami?!!"
Ba*****an? Kami? Siapakah yang Alice maksudkan?
—— Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa Alice marah kepada orang sepertinya?
".. Pfft- Apa ini? Apa dia kakakmu?" Lewine menepuk pundakku. Ia terkesan dengan situasi ini. "Hei, ada apa dengan wajahmu? Itu tatapan yang bagus"
.... Apa maksudnya? Wajahku? Bagaimanakah raut wajahku sekarang?
Tidak. Itu tidak penting. Yang terutama, aku harus melerai mereka dulu. Tapi apa mereka akan mendengarkan ku jika aku mencobanya.
"Alice, pak guru! T, Tenang-"
PRAANGG!!!
!!!
Sebuah suara pecahan kaca menembus ketegangan ruangan. Menoleh pada sumbernya, aku melihat Lewine memecahkan kacanya sampai tangannya berdarah. Tercengang, aku mematung kewalahan dari apa yang terjadi.
"Ups, tanganku berdarah. Ini terlihat gawat. Biarkan aku pergi ke UKS sekarang. Aku bolehkan, pak?"
Pak guru mengerutkan keningnya, memandangnya aneh. Aku dan dia tidak bisa mengerti mengapa Lewine melakukan hal gila tadi. Akan tetapi, diakibatkan situasinya kacau, ia menyuruhku membawa Lewine pergi.
Tanpa kusadari, tubuhku menuruti perintahnya. Kakiku bergerak menuju luar pintu ke UKS. Aku baru bisa bergerak bebas sesaat ajaibnya diriku mengobati luka di tubuh Lewine.
—— Jadi inilah sihir tingkat tinggi seorang ahli sihir.
"Oi, sihir di tubuhmu sudah hilang?" Tanya Lewine, menyadarinya juga. "Kau akan menemui kakakmu sekarang?"
"Tentu saja! Aku harus menghentikan-"
BZZTT!!
[Fonsius. Aku sarankan kau tidak pergi lagi kesana. Datanglah ke atap sekarang]
"!!..." Aku mendengar suara Daniel dari alat di telingaku. Mengepalkan tanganku menahan kekesalan, aku menanyakan alasannya.
"Alice adalah kakakku. Akan kuakui aku tidak pernah menyangka reaksi keduanya begitu. Kelihatannya mereka memiliki hubungan yang lebih buruk daripadaku dan Lewine. Makanya- Aku harus melindunginya!!"
"—— Apa menurutmu tatapan mata kakakmu itu mata milik seseorang yang ingin dilindungi?"
.... Tidak. Tatapan matanya adalah milik seorang manusia tegas nan kuat yang telah melalui neraka tanpa ujung. Itu adalah tatapan dendam.
[Haaa.. merepotkan. Kau datanglah cepat kesini. Lewine juga]
"Aku? Mengapa aku harus ikut denganmu?" Tanya Lewine beraut enggan. "Aku ingin melihat pak guru itu ditinju"
[Tsk. Jangan banyak bicara. Aku sudah mengirim mata-mataku kesana. Irvette meninggalkanku sesuatu untuk diberikan padamu!]
Kau tersenyum masam mendengar perkataan Daniel. Aku tidal mengerti mengapa seringkali aku selalu salah di setiap waktu sementara Daniel dan Lewine selalu benar. Apa aku memang dilahirkan terkutuk?
Ini buruk. Pikirianku menjadi sangat kusut sampai aku tidak bisa berpikir lurus. Aku kehilangan pegangan ku akan kesimpulan yang terjadi disini. Aku sungguh-sungguh membenci keadaan ini-
[Fonsius, ada apa?]
"Haaaa... Bos. Bisakah kau membantuku?"
.
.
.
—— Situasi dimana aku tidak bisa meminta bantuan selain pada orang yang membuatku sengsara. Ini menyedihkan.
...*********...
Author POV
Berdiri di tepi danau Asa dekat semak-semak hutan, Alice menatap tajam Alfred yang berada di depannya. Menyetujui untuk mengikutinya ke tempat lain agar tidak terganggu dan mengkhawatirkan Fonsius, ia tahu seharusnya ia tidak membuat masalah. Namsius dan Rumos memintanya untuk tidak mencampur masalah personalnya dengan masalah Fonsius dan keluarganya.
Sebisa mungkin, biasanya ia akan menyembunyikan perasaannya. Akan tetapi, bertemu dengan orang yang paling ia benci membua darahnya mendidih. Jikalau bukan karena janjinya pada Rumos supaya tidak bertindak sembarangan, ia pasti akan membunuh Alfred sebegitu ia melihatnya.
".. Sarah-"
"Jangan memanggilku dengan nama kotor itu." Alice berbicara sembari menahan emosinya. Amarah dan perasaan benci tertumpuk di kalimatnya yang datar. "Aku membencimu. Jangan pernah menunjukkan muka br****ek itu di depanku"
Menggenggam ujung kemejanya, menahan kesal. Ia berusaha tidak menunjukkan satupun emosinya yang terpendam. Sayangnya, ia sekali lagi kelewatan batas ketika Alfred mengatakan kalimat yang tidak ingin ia dengar.
"—— Aku merindukanmu, Sarah"
Kalimat yang membuatnya tercengang dan terhina. Ia tidak percaya mendengar kalimat itu darinya.
"Bisa-bisanya kau mengatakan itu setelah apa yang kau lakukan pada kami, dasar bedebah sialan. Apa kau tidak menyadari apa yang kau lakukan?!"
".. Aku tahu. Aku meninggalkan kalian dan pergi ke ibukota. Saat sirkusnya kebakaran, aku-"
"Diamlah! Kau.. Kau tidak tahu apa yang ku lalui- Kau tidak berhak mengatakan seolah-olah kau mengetahui apa yang kupikirkan!!" Alice memegang keningnya. Pusing. Alfred ternyata tidak menyadari perbuatannya selama ini.
"Jadi, kau hidup dalam delusi. Heh- Itu lucu kau menganggap ku merindukanmu. Rumos pasti akan tertawa apabila mendengarmu mengucapkannya"
Alfreed mengangkat alisnya. Tidak memahami mengapa Alice mengatakan hal seperti itu. Sejauh hidupnya berjalan, ia tidak pernah menganggap dirinya hidup dalam delusi dan mimpi. Mendengarnya, ia menjadi kesal dan mulai meninggikan suaranya juga.
"Mengapa kau berpikir begitu? Apa yang kulakukan sampai membuatmu membenciku?! Kau tidak bisa melampiaskan kemarahanmu padaku tanpa alasan!!"
"Aku sudah membencimu dan kelakukan barbarianmu sejak pertama kali aku bertemu denganmu!!"
"Kau membenciku hanya karena aku bercanda?! Kau sangat tidak jelas!!"
"!! Kau menganggap tindakan tidak manusiawi itu sebagai candaan?!! Ugh- Sudah kuduga berbicara dengan orang bodoh memang tidak ada gunanya!!" Alice membalikkan badannya dan berjalan pergi. Ia muak dan mengutuk Alfred akan kebebalannya.
Alfred mengerutkan keningnya, mencoba mengingat apa yang ia lakukan. Ia tidak melihat adanya kesalahan dari perbuatannya di masa lalu. Tidak menerima apa yang dikatakannya, ia menahan Alice di tempat menggunakan sihirnya seketika ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan.
"Hei, lepaskan-"
"Bagaimana bisa kau hidup? Aku yakin rumahku habis terlahap api hingga jenazahnya pun tidak ada."
Alice menahan nafasnya. Jantungnya berdetak dalam ritem yang tidak normal saat Alfred mulai mencurigainya.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan? Apa kau membakar sirkus itu?"
Tertangkap basah. Ia tidak tahu apa ia harus mengakuinya atau tidak. Tetapi, seberapa ia percaya dia bisa mengelabuinya, Alice menemukan ia berada di ujung jurang dan tidak bisa berbohong lagi.
".. Kau tidak sebodoh yang aku kira"
Omongannya memancing kemarahan Alfred memuncak. Menggigit bibir, Alfred menanyakan alasannya meskipun Alice tidak menjawab pertanyaannya.
"Alasannya sudah jelas. Kau hanya menolak untuk mengakui apa yang ada di depan matamu"
"Tsk- Ada batasnya kau bisa melakukan seenaknya! Kau membakar rumahku dan rumahmu sendiri?!! Apa kau gila?!!"
"Rumahku? Lihatlah kewarasanmu sendiri! Aku tidak pernah menganggap neraka itu sebagai rumahku!!"
Alfred tersentak. Untuk pertama kalinya, ia melihat Alice mengutarakan pendapat aslinya yang berbeda dari asumsinya. Mendengarkan, ia tersadar selama ini ia telah mengasumsi banyak hal dari sudut pandangnya.
"Mengapa kau membuatku sebagai antagonisnya padahal kalianlah yang memaksaku hidup dalam neraka?!! Apa kau tidak lihat apa yang kau lakukan pada mataku?!! Kau belum meminta maaf padaku!!"
Kepenuhan. Alfred tidak mampu menahan kenyataan yang terlalu blak-blakan. Sihirnya menjadi tidak stabil dan ia menolak semua perkataan Alice. Menjadi kasar dan berbahaya, ia membantah perkataannya.
Ia mengeluarkan ramuan penghapus ingatan supaya delusinya menjadi kenyataan. Menahan Alice dengan rantai sihir, ia berjalan mendekatinya.
"Tidak, kau pasti berbohong. Aku tidak ingat aku melakukannya. Mengapa kau menyalahkan ku atas kecelakaan yang menimpamu? Kau sungguh tidak tahu bersyukur."
"Mengapa aku harus bersyukur? Kau monster penuh delusi"
"... Begitu. Kelihatannya kau tidak bisa mengakui kalau kau gila. Biarkan aku membantumu menghapus-"
BUUKK!!
"Apa kau senang bermain menjadi orang baik? Kau merepotkan sekali sebagai calon pahlawan"
Sebuah tinju melayang ke wajah Alfred mendadak. Membelalakkan matanya, Alice melepaskan dirinya dari rantai sihir dan menendang perut Alfred sekali lagi sebelum berjalan menuju sosok yang ia kenal.
"B, Bagaimana kau bisa tahu aku disini?"
—— Tidak lain adalah Cendric Farrel si tombol ESC otomatis.
"Kak Alice, jangan cemas. Ceritanya panjang," Ujar Cendric sembari mengecek Alfred yang setengah tersadar.
Alfred memegang mulutnya yang berdarah. Menemukan gigi serinya tanggal 2, ia mengedipkan matanya kebingungan berkali-kali melihat lelaki yang ajaibnya bisa tidak ia rasakan keberadaannya.
"Tentu saja ini berkatmu, écravain Nom"
Benar, plot armor ku!
"H, Hei.. Memgapa kau.. meninjuku?" Alfred mengangkat badannya dengan pincang. Meminta Alice pergi terlebih dahulu, Cendric memutar bola matanya dan menyeringai kecil.
"—— Kukira itu masuk akal kita tidak boleh menyakiti sesama. Yang kulakukan itu hanya pertahanan diri karena kau yang mulai duluan. Apa hal sekecil itu sulit dipahami?"
.
.
.
.
Mantap!! (✧_✧)