I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 22: Kesepakatan



Author POV


Namsius duduk berhadapan dengan Yulan sendirian di dalam ruangan bewarna putih. Ini adalah ruangan pribadi milik Yulan yang tak bisa dimasuki siapapun kecuali dirinya dan orang yang diberi izin.


Namsius menceritakan apa yang terjadi secara jujur dan apa adanya tentang kejadian naga di Ibalion dan sirkus Danija. Namun ia tidak membocorkan satu hal pun tentang Whisly, sistem mereka, dan misi yang diberikan dewa Darumias.


"Ah, hidup kalian setelah kematian Yuna pasti sulit. Ayah kalian memang tidak bisa diandalkan. Aku prihatin pada kalian dan Sarah"


"Tidak banyak yang bisa kami lakukan. Mengambil jantung naga sudah sulit untuk kami lakukan. Kami ingin menghindari pertumpahan darah jadi kami membebaskannya"


"Yah.. itu masuk akal dan aneh jikalau kau yang mengatakannya"


Namsius mengangguk pelan, mengerti apa yang dimaksudkan. Berbicara dengan Yulan membuatnya mengenal sedikit bagaimana sikap ayahnya. Ayahnya terdengar dingin, egois, dan mempunyai tujuannya sendiri-- seorang sosiopat yang mengerikan.


Namsius pikir dia terdengar mirip dengan kembarannya. Dia mempertanyakan setengah serius apakah pada akhirnya dia akan bersikap seperti ayahnya sebab ia memiliki keturunan genetikanya. Melihat keluarganya secara keseluruhan, keluarga yang ia anggap normal tidak lagi terlihat senormal yang dikiranya.


Malahan, dia merasa asing dengan hubungan keluarganya yang aneh-- penuh dengan masalah yang rumit dan sekumpulan orang tidak normal. Di titik ini, ia merasa orang yang paling normal adalah dirinya sendiri.


"Jadi.. apakah kita sudah selesai?"


"Iya. Apa ada sesuatu yang ingin kau tambahkan?"


"Tidak. Tapi ada sesuatu yang ingin saya tawarkan."


Yulan terdiam sesaat, merasa bimbang dan aneh. Ia menjadi was-was secara otomatis seolah-olah dia sudah mengetahui apa yang terjadi dari ingatannya. Mencondongkan badannya ke depan, ia menyembunyikan suara detak jantungnya yang berdebar kencang.


Trauma—— Itulah satu kata yang menjelaskan apa yang terjadi padanya. Dia merasakan sebuah Dejavu kuat, serasa waktu terulang kembali.


Namsius memiringkan kepalanya. Dia menyadari Yulan tidak merasa nyaman dan bertingkah aneh. Akan tetapi, ia tidak bisa menarik tawarannya kembali demi Rumos, Sarah, dan Fonsius. Supaya hidup mereka tidak lebih hancur daripada ini, mereka membutuhkan bantuan dari orang dewasa.


Sayangnya, semua itu bisa diselesaikan apabila Yulan mau bekerjasama dengannya. Dalam keadaan ini, sebuah kesepakatan tidak dapat terjalin sebab penyihir di depannya merasakan kegelisahan yang mengganggunya.


Namsius menghela nafas panjang. Spesifiknya, dia tidak tahu apa yang terjadi. Namun, ia bisa menebak mengapa dia bersikap seperti itu.


Tak bisa berhenti memikirkannya, ia menundukkan kepalanya dari rasa lelah dan kecewa-- membuat dirinya terbungkam. Ia merasa tak berdaya dan mulai bertanya-tanya bagaimana ia bisa membuat Yulan merasa lebih baik.


"... Maaf, aku membuatmu mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan. Aku tidak memilih untuk terlahir seperti ini"


"!!!..." Yulan mengangkat kepalanya dan menemukan seorang anak kecil yang memyedihkan dengan mata penuh kekecewaan dan rasa bersalah.


Jantung perlahan-lahan kembali berdegup pelan dan menjadi sesak saat pikirannya menjadi jernih. Yang berada di depannya bukanlah sosok dalam ingatannya, melainkan hanya seorang anak kecil yang telah melewati masalah hidup yang keterlaluan.


"Maaf, aku membuatmu terpaksa tersenyum. Aku ini bukan orang yang baik, bukan?"


".. Tidak.." Ia mulai menyadari ia tidak bisa melepaskan masa lalunya. Ia tidak bisa menerima kenyataan dan terjebak dalam lingkaran berbahaya tanpa henti sampai-sampai ia hampir menyalahkan Namsius.


"... Yang salah.. hanyalah aku seorang diri"


"Itu membuat kita setara. Aku yakin ibu kami tidak ingin melihat sahabatnya bersedih seperti ini"


Yulan tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya bersama Namsius. Mereka tidak berbicara selama 10 menit kedepan, membiarkan kesunyian menyelimuti ruangan.


Keheningan diantara keduanya memberikan mereka waktu untuk merenungkan dan menenangkan diri, serta membuat diri mereka nyaman dengan satu sama lain. Menghargai ketenangan yang ada, Namsius memejamkan matanya dan memutar sebuah melodi dari kehidupan sebelumnya.


Melodi yang mengingatkannya akan makan malam hangat dan sosok wanita yang megelus rambutnya dengan penuh kasih dan sosok pria yang bermain bersamanya. Melodi yang membuatnya tersenyum hangat, mengingatkannya akan keluarga lamanya yang berharga.


—— Hari-hari yang tak akan pernah terwujud kembali.


".. Hei, apa aku boleh memanggilmu Yulan?"


"Asalkan kau memberitahukanku namamu"


"Namaku Namsius Reiss dan saudaraku namanya Rumos"


"Kau memakai marga Yuna?"


"Iya. Walaupun kami tidak terlalu dekat dengannya, kami menghargainya sebab seorang ibulah yang melahirkan kami di dunia ini. Apa kau lebih memilih ayah kami?"


Yulan terkekeh geli dan menggelengkan kepalanya. Ia menyenderkan punggungnya di kursi dengan santai dan menceritakan kenangan yang ia ingat dalam ketenangan sebelumnya. Mereka berbincang-bincang kecil, membagi apa yang mereka pikirkan.


Berbincang hampir selama 25 menit, Yulan kemudian teringat akan tawaran yang ingin ditawarkan Namsius.


"Uh, tentang tawaranmu.."


"Ah, sejujurnya ini lebih ke permintaan daripada penawaran. Yah.. ini berkaitan tentang urusan pribadi sebenarnya. Bisakah kau merahasiakan ini dari Rumos?"


Yulan mengedipkan matanya 2 kali. Ia menoapng dagunya, memikirkan perkataan sejenak sebelum menjawabnya dengan netral.


"... Tergantung. Aku mungkin tidak bisa membantumu banyak. Aku bukanlah seorang konselor tapi aku bisa menjamin diriku adalah seorang pendengar yang baik."


Yulan melihat gerakan tangan Namsius yang ragu menyampaikan tawarannya. Ia melihatnya menairk nafas beberapa kali dan menggigit bibirnya penuh pertimbangan. Semakin penasaran, Yulan langsung menanyainya ke inti dan menyuruhnya untuk tidak gugup.


"Y, Yah.. Rumos akan marah apabila aku mengatakannya?"


"Apa tawaranmu separah itu?"


".. Aku ingin kau mengadopsi Rumos dan Sarah, apa kau bisa menjadi walii mereka?"


.


.


"!!!!... HAAAH?!!! AKU?!"


...*******...


Yulan POV


Itu tidak mungkin terjadi. Aku tidak bisa mengadopsi 2 anak kecil. Aku tidak bisa mengasuh anak-anak. Aku bahkan masih memerlukan seseorang untuk membantuku.


——Aku tidak siap menjadi orangtua.


"M, Mengapa mendadak?"


"Kami berencana berhenti dari sirkus. Setelah kami keluar, kami membutuhkan tempat tinggal dan seorang wali. Kami masih dibawah umur dan membutuhkan orang dewasa yang bertanggung jawab untuk menja-"


"Dan mengapa aku? Aku tidak punya kemampuan untuk mengurus anak-anak"


"Karena kau satu-satunya orang yang kami kenal. Kami mempercayaimu dan kau mengenal orangtua kami. Apa kau ingin kami tinggal di jalanan?"


Aku menggaruk kepalaku kebingungan. Dia benar. Mereka tidak memiliki wali sama sekali. Bos mereka bukanlah orang yang baik. Aku tidak ingin membiarkan 3 anak kecil tidur dijalan penuh bahaya sendirian namun aku juga tidak memiliki banyak pengalaman menjadi seorang wali.


"B, Bagaimana dengan panti asuhan? Kalian bisa tinggal dengan Dori?"


".. Apa kau yakin Dori bisa mengurus anak yang trauma? Aku tidak yakin Rumos mau dititipkan di panti asuhan yang tidak ia kenal."


"Dan kau pikir aku dapat membantu kalian?"


"Kau adalah pilihan terakhir kami. Jadi.."


Alisku berkedut sekali, kewalahan dengan permintaannya. Menurutku, solusi paling logis adalah dengan memasukkan mereka ke panti asuhan. Aku bisa mencarikan mereka sebuah panti asuhan jikalau mau.


Tapi Namsius terus menolaknya. Dia kelihatannya memiliki alasan tertentu mengapa dia bersikeras ingin aku memgambil Rumos dan Sarah.


Yah, aku yakin Rumos dapat mengurus dirinya sendiri. Dia dan Namsius adalah anak-anak yang dewasa. Dia tidak akan membuat masalah dan bisa menjaga dirinya sendiri.


"Yulan, bagaimana jika Rumos saja? Dia bisa memgatur hidupnya sendiri. Dia hanya membutuhkan seorang wali"


"Lalu bagaimana denganmu dan Sarah?"


"Aku akan mencarikan Sarah tempat tinggal baru. Tapi bolehkah aku memakai... Em, namamu? Maksudku, statusmu."


"Kau akan memasukkannya ke panti asuhan?"


"Tidak. Ke rumah Johnson Farrel dan Gwendoline"


.


.


.


(╯°□°)╯︵ ┻━┻


Apa?!! Itu tidak akan berhasil!! Aku tidak ingin membebani mereka- Bagaimana bisa dia pikir mereka dapat membantu Sarah?!!


Malahan, aku rasa Sarah akan merasa asing dikeluarga itu.


"Astaga- Mengapa kau harus memilih mereka dari semuanya?"


"Anak mereka bisa membantunya. Fonsius-- dia bisa membantu Sarah. Aku pernah bertemu dengannya, dia adalah anak yang baik dan positif. Mereka adalah keluarga yang suportif. Ditambah, aku sudah mengenal mereka"


"Jadi satu-satunya alasanmu memilih mereka adalah karena kau sudah mengenal mereka?"


"Aku tidak bisa mempercayakan Sarah pada orang tak dikenal. Meskipun baik, aku ingin dia merasa nyaman."


Aku mengulum bibirku, mempertimbangkannya. Aku tidak ingin memaska temanku untuk mengadopsi seorang anak. Terlebih lagi mereka sudah mempunyai 2 anak kecil yang harus diurus.


Setelah berpikir panjang, aku mengiyakan usulannya. Dengan syarat, aku tidak membiarkannya menggunakan nama dan statusku untuk meyakinkan Sarah diadopsi oleh kedua temanku. Jikalau mereka menolak untuk melakukannya, maka barulah dia boleh menggunakan namaku untuk mencarikan Sarah panti asuhan yang pantas dibawah persetujuan ku.


Mensahkan kesepakatan kami, aku mengeluarkan sebuah kertas perjanjian ajaib dan kami menandatanganinya agar tidak ada yang curang. Perjanjian ini tidak boleh diberitahukan kepada siapapun. Ini hanya diantara kami berdua.


Dipikir-pikir lagi, dia sedikit mirip dengan Yuna dalam sikap walaupun secara dominan lebih mengarah pada 'Pria' itu. Itu membuatku jengkel memikirkan kemiripan mereka.


"Tampaknya kita sudah selesai. Kita sebaiknya kembali"


Namsius beranjak dari kursinya dan menghampiriku. Dia menungguku mengirimnya kembali ke tempat saudaranya berada. Kelihatannya semuanya sudah beres. Akan tetapi, ada satu hal yang aku masih tidak mengerti-


"—— Mengapa kau perlu merahasiakan ini dari Rumos? Kau melakukan semua ini dibelakangnya dan Sarah. Kemana kau akan pergi sehabis ini?"


Namsius menggosok tengkuknya dan memainkan jari-jemarinya. Matanya melirik-lirik ke kiri dan kana dengan ragu sebelum menjawab ku dengan suara yang kecil.


"Yah.. Aku tidak ingin mereka khawatir. Rumos akan memarahiku apabila dia tahu aku merencanakan semua ini untuknya. Sarah juga akan merasa sungkan. Aku peduli pada mereka dan ingin masa depan mereka baik."


"Jadi ini cara terbaikmu menjamin mereka ya?"


"Uh-huh. Ini satu-satunya yang bisa kulakukan. Kemana aku pergi habis ini-- aku tidak tahu. Mungkin aku akan pergi ke kampung halaman orangtuaku?"


Senyuman polos dan lugu tertampil di wajahnya. Aku terdiam sejenak, mengamati paras wajahnya. Sesaat dalam benakku, ada sebuah memori unik yang terlintas dari seseorang dengan senyuman yang familiar.


Aku tidak terlalu mengingatnya. Dia samar-samar diingatan ku. Pastinya, dia seseorang yang hampir mirip dengan Namsius dan bukan 'Pria' itu.


... Mungkin?


.


.


Entahlah. Bisa jadi ingatanku salah. Lagipula, kenangan tua sngatlah rapuh apabila tidak dijaga denagn hati-hati.


...*******...


Author POV


Namsius dan Rumos berbaring di atas kasur. Mereka bisa mendengar suara gaduh Dori memarahi Yulan di ruangan sebelah. Syukurnya, berkat rasa lelah mereka yang kelewatan batas, mereka tertidur lelap hingga hari besok tiba.


Rumos terbangun tengah hari dengan badan yang ringan. Mencoba mengingat kejadian semalam, ia mebangunkan Namsius ketika ia menyadari dirinya belum menanyakannya tentang hasil interogasi Yulan.


"HOAM.. Apa?"


"-- Apa yang kalian bicarakan semalam?"


"Hah?" Namsius mengucek matanya dan mengangkat badannya duduk di atas kasur. Meregangkan badannya sembari mengulur waktu untuk mencerna apa yang terjadi, ia mempersiapkan jawaban dari apa yang ingin di dengar Rumos.


"Tidak banyak. Karena batas waktunya hanya setengah jam, aku sengaja berlama-lama. Aku tidak membocorkan misi dan sistem kita. Kami juga ada sedikit berbincang-bincang tentang Yuna. Intinya, aku berhasil mendapatkannya di sisi kita"


"Kerja bagus. Apa itu saja?"


"Iya. Kau pikir kami akan membicarakan apa lagi?"


"Aku tidak tahu. Makanya aku bertanya. Itu bagus kau tidka bertindak gegabah"


Rumos mendesah lega, beranjak dari kasurnya untuk bersiap-siap. Sedikit yang ia ketahui, Namsius menipu melalui giginya--- Menyembunyikan kebenarannya dari saudaranya. Bersikap natural, ia langsung membantu Rumos berkemas.


Ia dan Rumos akan kembali ke sirkus hari ini. Tujuan mereka di Ibaliln sudah selesai. Kini mereka bisa menyelesaikan urusan pribadi mereka dengan pak Edmond dan satu sirkus Danija.


Seusai berkemas, mereka pergi mencari Dori dan Yulan untuk berpamitan. Mereka menyampaikan salam perpisahan pada mereka.


"Oh, kalian sudah akan pulang. Waktu kita ternyata singkat ya. Kapan-kapan, kalian harus mengunjungi ibukota," ujar Dori.


"Iya. Kami akan melihat keadaannya dulu. Ada kenalan kami yang sedang sakit. Organ dalamnya rusak dan dia terluka parah sekali."


Yulan melebarkan matanya saat mendengar perkataan Rumos dan menatap Namsius yang memalingkan kepalanya. Ia tidak tahu penyiksaan mereka di sirkus Danija sekejam itu. Menutup mulutnya, ia kini mulai mengerti mengapa Namsius menginginkan seseorang untuk merawat dan membesarkan Sarah dengan penuh kasih nan layak.


".. A, Aku mempunyai obat yang bisa membantunya. Ini ambillah-"


Yulan memberikan sebuah botol kecil berisikan ramuan. Dia memesannya untuk menjaga obat tersebut baik-baik. Dori yang bersimpati pun mendoakan keadaan Sarah untuk membaik.


Ia memberikan si kembar sebuah sapu kayu dan menyuruh mereka duduk diatasnya. Namsius dan Rumos bertukar pandang, kebingungan dan ragu. Mereka memiliki firasat buruk, mengenal Dori adalah orang yang sedikit K**HAOS di otaknya.


Sayangnya, Dori tidak mempedulikan firasat mereka dan memaksa mereka duduk di atas api dengan benar. Ia mengatakan keselamatan mereka akan terjamin. Merasa curiga, si kembar menoleh pada Yulan untuk pemastian. Namun, Yulan malah menghilang kabur entah kemana sehingga mereka menjadi tidak berdaya.


Dori kemudian mengucapkan mantra yang akan menerbangkan sapu ini ke tempat tujuan yang diinginkan Namsius dan Rumos dengan kecepatan SUPER tinggi. Ia memesan mereka untuk tidak terlalu tegang dan khawatir karena ia yakin mereka akan selamat sampai ke tempat tujuan tanpa masalah.


"K, Kau yakin ini aman?"


"1000% aman dan terjamin. Kalian tidak perlu mengembalikannya. Yulan masih ada banyak dirumah."


"B, Benarkah?"


"Aku percaya selama kalian ada untuk sama lain, tidak akan ada bahaya dan kesulitan yang tak bisa kalian lewati. Kalian pintar dan hebat. Dewa Darumias tidak mungkin menginginkan kalian mati cepat"


Namsius dan Rumos mengernyitkan alis mereka, menjadi tidak yakin seketika nama sosok yang mereka tidak suka keluar dari mulut Dori. Sebagaimana pun, mereka tidak memiliki pilhan lain. Dori tidak salah saat mengatakan dewa Darumias tidak menginginkan kematian mereka.


"Yup! Jangan berpikir negatif, kawan! Dan selamat jalan, sobat! Jangan lupa mengunjungi ibukota!!"


"K, Kami harap begitu.. Selama kami selamat dengan utuh"