I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 15: Latagin



Namsius POV


Aku melihat diriku di cermin. Aku sadar aku sudah berubah banyak dan sikapku serta pola pikirku hampir menjadi seperti Rumos sedangkan ia semakin perlahan bersikap dan berpola pikir seperti diriku yang dulu.


Perubahan ini masih kecil. Tapi seiring wkatu berjalan, aku takut aku akan berubah tanpa kusadari dan aku tidak bisa kembali lagi ke diriku yang semula.


Itu berita baik untuk Rumos yang mulai menghargai kehidupan dan menahan dirinya untuk membunuh. Itu bagus sekarang dia tidak semena-mena terhadap nyawa orang lain.


—— Itu sangat bagus, dia mulai peduli dengan orang lain.


... Benar. Seharusnya semuanya akan baik-baik saja. Asalkan aku berada di bawah kendali.


.


.


Tidak- Sejak awal.. Apa yang membedakanku dan Rumos? Apa itu karena dia adalah pembunuh dan aku ini seorang guru TK normal?


Apa itu karena dia melakukan pembunuhdna dan kejahatan? Karena dia seorang kriminal? Mengapa aku beranggapan dia berbeda denganku?


"Oi, Namsius. Karena kita sudah di Latagin, bos memanggilmu"


".. Baik. Terimakasih, Alfred"


"Terserah. Jangan repotkan aku, gajiku bisa dipotong, mengerti?"


Alfred menginjak kakiku sebagai ancaman sebelum membawaku ke ruangan pak Edmond. Ia menendangku masuk dengan kasar dan pergi meninggalkanku di ruangan yang berisikan Rumos dan pak Edmond.


Mereka tampaknya sudah saling menukar informasi. Rumos pasti sudah menjelaskan sebagian situasinya. Dia lebih cepat tanggap daripadaku jadi aku tidak perlu khawatir tentang itu.


Mengapa juga aku disini? Rumos sudah mengatur semuanya. Yang perlu kulakukan disini hanyalah mengangguk dan mengiyakan semua sesuai rencana Rumos demi 'kebaikan' kami.


TAP, TAP, TAP..


"-- Namsius, apa ada masalah? Perbaiki ekspresimu dan contohi diriku seperti biasanya. Kau akan mengacaukan segalanya."


".. Aku menyadarinya juga"


Rumos menghampiriku, menyembunyikan wajahku dari pak Edmond. Sudah kuduga dia akan mencoba memanipulasi ku. Sudah kuduga dia akan mengatakan itu.


Pikiranku.sangat kacau dan acak sekarang. Aku merasa diputar-putar oleh takdir tanpa henti. Mengapa aku yang saat itu harus mati? Mengapa aku harus terjebak bersama Rumos?


"Ingatlah, kita masih mempunyai tujuan berada disini. Lakukan semua ini untuk diriku.. dan dirimu juga."


Rumors menatapku tajam dengan tegas, memperbaiki posturku dan raut wajahku dnegan tangannya. Dia mengangkat kepalaku dan memaksakan otot wajahku untuk tersenyum sesuai keinginannya.


Benar. Selalu saja mengaturku sesuai keinginannya. Selalu saja berusaha berpura-pura baik di hadapanku untuk memanipulasi ku.


Aku memujinya dia berhasil membuatku bekerja sama dengannya dna tidak membencinya. Jujur, aku sedikit menikmati waktuku bersamanya. Mungkin di satu titik, kami cocok dengan satu sama lain.


Tapi..


"Hei, aku tidak memerlukan pembunuh sialan sepertimu untuk kujadikan contoh. Otakmu setidaknya 1000 kali lebih miring daripadaku"


Aku paling tidak suka orang munafik sepertinya. Orang yang berpura-pura baik hanya untuk kepentingannya.


Yah, walaupun tidak jauh berbeda dengannya-


.


.


—— Aku tidaklah palsu dan niatku tidak pernah buruk. Itulah yang membuat kami berdua berbeda dari awal.


...********...


Author POV


"Tidak terasa 2 tahun sudah berlalu. Aku tidak menyangka membeli anak kembar yang berbeda 180° akan mengubah nasibku. Dilihat-lihat lagi, kalian ternyata lumayan mirip ya?"


"Terimakasih pak. Mari kita lanjut ke bisnis saja tanpa basa-basi"


Rumos mengeluarkan sekantong penuh koin emas dan sebuah surat warisan jikalau mereka mati saat di Ibalion pada pak Edmond. Total uang di dalam kantong tersebut adalah 400 koin emas dan di surat wasiatnya tertera nominal uang 700 koin emas yang akan diperuntukkan pada sirkus ini apabila mereka mati.


"Asalkan kau membakar kontrak perjanjian ku dan Namsius. Jika kami mati, maka surat wasiat ini akan menjadi milikmu."


".. Rumos, kau ingin aku membatalkan kontrak kita? Aku tahu kalian sedang-"


"Apa kami terlihat sedang menipu anda?"


Pak Edmond menyipitkan matanya, mengarahkan tatapan tajamnya pada Namsius yang menyelanya. Tatapan tersebut tidak dapat menembus dan melihat dibalik topengnya tetapi ia yakin sekali Namsius tidak berbohong padanya.


Sayangnya, dia merasakan sesuatu yang janggal dari perkataan Rumos. Seakan-akan dia sedang dijebak masuk ke dalam sebuah perangkap. Ia tidak bisa membuktikannya namun firasatnya mengatakan ada sesuatu yang aneh dengan tawaran mereka.


"Ah, kami mengerti kau mungkin tidak mempercayai kami. Maafkan kami karena menawarkan tawaran mencurigakan ini. Kami sebenarnya tidak yakin apa kami akan hidup atau mati sehabis pergi dari sini. Makanya, kami menawarkan surat warisan ini supaya-"


"Itu tidak menjelaskan sama sekali mengapa aku harus memutuskan kontrak perjanjian kita. Aku tidak melihat ada alasan yang logis dibalik perkataan mu"


Pak Edmond menyeringai sinis, mengintimidasi Rumos. Ia menyudutkannya dengan beberapa pertanyaan, berusaha menguak maksud tersembunyinya. Dia tidak berniat melepaskan mereka begitu saja terutama ketika mereka membawakan keberuntungan besar baginya.


Tidak melihat adanya kesepakatan yang terjadi, pak Edmond menopang dagunya dan memberikan sebuah saran yang membuat Rumos mengernyit tidak senang dari tawarannya.


".. Pak Edmond. Kau tahu kami ini satu set kan? Kau tidak bisa hanya melepaskan salah satu dari kami."


"Kalau begitu perjanjiannya dibatalkan. Aku tidak bisa melepaskan kalian berdua. Salah satu dari kalian harus tinggal disini. Tawaran bagus bukan?"


Rumos tersenyum masam, menggelengkan kepalanya. Dipikirkan lagi, dengan mengorbankan Namsius di sirkus ini, Rumos bisa bebas untuk sementara dan dapat membebaskan saudaranya dan Sarah setelah itu. Meskipun ia tahu pak Edmond sejujurnya lebih memilih dirinya yang tinggal di sirkus, ini bukanlah tawaran yang buruk baginya.


Secara literal, mereka saling melengkapi dan selalu bersama. Tapi semua orang yang perhitungan pastinya lebih memilih melepaskan Namsius karena ketergantungannya dan pasifnya pada kembarannya dibandingkan Rumos yang lebih sering memberikan masukan. Namun ia juga tidak dirugikan walau sedikit disayangkan apabila ia melepaskan Rumos.


"Bagaimana? Apa responmu tentang-"


TAK!!


"Kami menolaknya. Pak, tampaknya anda tidak mengerti situasinya disini"


"!!!... Apa?" Pak Edmond melebarkan matanya saat Namsius menjentikkan jarinya, menyela pembicaraannya. Begitu juga Rumos yang tidak mengerti apa yang dibicarakan Namsius tiba-tiba.


Keduanya terdiam sesaat, menatap Namsius yang mereka tidak perhatikan sedari tadi. Rumos tersenyum lebar, menepuk pundak kembarannya.


"Pak, biar kuperjelas. Kami tidak akan menjual satu sama lain. Jika anda tidak ingin menerima tawaran kami, maka kita akhiri sampai disini saja"


"... Begitu ya. Kukira kalian akan memegang pisau dibelakang punggung masing-masing untuk ditancapkan pada tenggorokan yang lain"


Namsius tertawa kecil, mendengarnya. Dia menggeleng dan melirik Rumos sekilas yang tersenyum diam sebelum menghela nafas dengan sedikit kecewa.


Walaupun ia yakin Rumos pastinya akan menolak tawaran untuk menjualnya lagi, dia tidak bodoh untuk tidak menyadari Rumos sempat mempertimbangkan keputusan tersebut selama sekian menit.


"Baiklah, kalau begitu kita akhiri disini saja. Jika anda tidak mau, maka kami akan memberikan surat ini beserta sumbangan kami pada panti asuhan. Dari seluruh harta kekayaan kami jadi.. totalnya 1000 koin emas-"


"!! Tunggu, Namsius- k.. kalian seriusan menyumbangkan uang sebanyak itu pada panti asuhan?"


"Iya. Mengapa tidak? Kami telah menabung uang ini selama 5 tahun lebih. Yah, kami berencana untuk bersantai sedikit jikalau kami selamat pulang dari Latagin tanpa cacat. Jadi kami tidak akan terburu-buru bekerja nantinya"


Pak Edmond langsung menjadi serius dan mendengarkan sungguh-sungguh. Tidak mungkin orang serakah sepertinya akan melewatkan kesempatan ini dan si kembar juga mengetahui fakta ini.


Meskipun ia pastinya tahu dirinya sedang dijebak, ia terlalu dibutakan oleh apa harta yang berada di depannya.


Rumos memperjelas tawarannya, menggiurkan pak Edmond masuk kedalam jebakannya. Ia sengaja memberikannya 200 koin emas untuk membeli Sarah dan sebagai perangkap awalnya.


"Bagaimana menurutmu, pak Edmond? Ini kesempatan sekali sumur hidup. Apa kau akan melewatkannya begitu saja?"


Pak Edmond menopang dagunya dan menghela nafas panjang. Dia mengambil kertas perjanjian milik Namsius dan Rumos dan meletakkannya di depan mereka. Setelah berpikir panjang, dia menyobek kertas itu dan membakarnya di perapian dengan berat hati.


Menyetujui penawaran Rumos dan Namsius sekaligus membiarkan mereka membeli sebuah jaminan untuk Sarah agar keluar dari sirkus, ia menambahkan satu syarat pada mereka sebelum mengakhiri perjanjian baru mereka.


"Tambahkan menjadi 1000 koin emas. Ditambah, bawakan aku jantung naga Ibalion padaku sebagai bukti kalian sudah menyelesaikan urusan kalian. Dengan begitu, aku juga akan memberikan Sarah pada kalian."


...*********...


Rumos POV


Pfft- dia gampang sekali di jebak.


Apa dia lupa dia hanya bisa mengambilnya apabila kami mati di Ibalion sedangkan kematian saja tidak bisa menyentuh kami?


Yah, itu kesalahannya sendiri terjebak dalam keserakahannya.


Tapi ini merepotkan. Dia tidak sebodoh itu ternyata. Syarat yang ia buat untuk membawa kembali jantung naga adalah hal yang sulit kami lakukan. Terutama, kami tidak bisa menipunya sebab dia mengecap kertas perjanjian kali ini dengan cap ajaib.


Ini juga berlaku untuknya yang berarti dia tidak akan mendapatkan emas jika kami tidak mati di Ibalion. Untungnya, syaratnya tidak melenceng dari agenda utama kami kesana. Setidaknya ini adalah sebuah perjanjian 50:50 yang cukup adil bukan?


"Rumos, kita terpaksa harus meninggalkan Sarah disini dulu kan? Aku mempunyai sebuah rencana besar yang baik untuknya"


"Benarkah? Ide bagus apa yang kau punya"


"Hmm, mari kita bakar sirkus ini dan kabur dengan Sarah setelah kembali dari Ibalion"


"Beserta orangnya?"


Namsius tersentak dan langsung menggeleng cepat. Reaksinya membuatku ujung bibirku terangkat dan mencandainya sampai membuatnya merasa bersalah. Aku bersyukur aku tidak menjualnya untuk yang kedua kalinya.


Yah.. Aku senang kami mulai saling mengerti satu sama lain. Dia semakin mirip denganku setiap hari. Dia adalah anak yang sangat penurut dan mudah dipengaruhi sebenarnya.


... Setidaknya untuk diriku dia sangat mudah percaya dan bergantung padaku di dunia asing ini. Bonusnya, dia yang tidak mempercayai dewa sialan itu membuat kami jauh lebih dekat dan senasib.


Hari ini, kami sudah mempersiapkan segalanya karena besok kami akan ke Ibalion. Kami sudah berjudi lagi secara diam-diam dan memenangkan uang yang lumayan besar. Total uang kami setelah kemungkinan kalah taruhan adalah 1,071,000 koin emas, 500 koin perak, 147 koin perunggu.


Jadi tidak masalah apabila kami menang atau kalah taruhan dengan pak Edmond. Uang kami masih sangat banyak.


—— Masalahnya, kami tidak mau membiarkan satu orang pun disini yang membawakan kami kesengsaraan hidup bahagia.


Terutama Alfred dan Gyana yang menyiksa kami paling kejam.


TAP, TAP, TAP!!


"Oi, kalian sudah berbicara dnegan bos? Apa yang kalian bicarakan?"


.. Oh, orang yang kupikirkan muncul juga rupanya. Pria yang menyebalkan ini pasti akan kubuat menderita.


"Ah, Alfred. Kami hanya berbicara tentang betapa luasnya dunia. Sayang sekali, kau terperangkap di dunia sempit ini. Jika ada kesempatan, cobalah pergi keluar. Mungkin otakmu akan memiliki lebih banyak sel kedepannya"


"!!!? Ada apa dengan gaya bicaramu? Kalian membuatku jengkel"


Aku tersenyum puas melihat Alfred mengerutkan keningnya tidak senang. Dia pantas mendapatkan sindiran tersebut. Sayangnya..


"H, Hei.. hentikan itu Rumos. Kau akan membuat kita dalam masalah."


Saudaraku kelihatan bagai tikus ketakutan. Itu lucu sekali. Padahal perjanjiannya sudah dibatalkan dan dia masih takut?


Aku tidak akan menarik perkataan ku. Dia yang harus melakukannya sendiri.


"Oi, kalian-"


"!! U, Uh.. m, maksud saudaraku adalah.. karena anda masih muda, anda sebaiknya pergi melihat dunia yang lebih luas. Anda mempunyai banyak bakat yang bisa anda kembangkan. Kami hanya menyarakan anda-"


"Tsk, apa hanya itu saja yang ingin kalian katakan? Jadi apa intinya?"


"... J, Jangan pernah berhenti belajar. Yakinlah pada kemampuan belajar anda, bukan kemampuan anda untuk melakukan tugas tertentu. Jangan berhenti berusaha untuk meningkatkan diri anda apapun alasannya. Itu.. saja aku rasa.. yang ingin kami sampaikan.."


Pfft- saran apaan itu? Tadi itu saran terburuk yang pernah ku dengar. Apa ia seriusan berpikir Alfred akan mengerti semua yang ia ucapkan?


"Diamlah. Aku tidak membutuhkan saran dari kalian atau apapun itu"


.. Yup. Dia tidak mengerti. Dia menyembunyikan rasa tercengangnya dengan bersikap sok keras. Dasar bocah.


Setelah Alfred pergi, kami langsung pergi menemui Sarah untuk memberitahukannya rencana brilian yang sudah disiapkan Namsius. Semuanya berjalan sempurna sejauh ini. Aku tidak melihat ada yang bisa membuat kami melenceng dari rencana ini.


Sekarang yang hanya kita perlukan adalah hari besok yang sangat kami nantikan.


...********...


Johnson Farrel POV


2 tahun yang lalu, aku bertemu dengan anak-anak Asa. Mereka adalah anak kecil yang pintar, cerdik, nan licik. Mereka kembar. Aku ingat terakhir kali aku bertemu dengan mereka.


Mereka masuk sebentar dan mengetuk pintu kesadaran kami. Ketika kami membuka pintu tersebut, mereka tidak ada sama sekali melainkan semuanya terasa bagai mimpi yang membuat kami terbangun pada kenyataan.


—— Suatu hari mereka hanya menghilang dari pandangan dan dunia ini begitu saja.


"Ayah, apa kita punya buku sihir?"


Aku melihat ke samping meja kerjaku dan menemukan Fonsius sedang mencari beberapa buku untuk ia baca. Dia adalah anak kami yang seusia dengan si kembar. Sama seperti mereka, anakku adalah anak yang pintar dan haus akan ilmu.


"Maaf nak. Kita tidak punya lagi buku itu."


"Mengapa?"


... Uh.. secara blak-blakan, rumah kami kemasukan perampok yang mencuri sebagian besar benda di rumah ini.


Buku-buku, dokumen-dokumen penting, peta, makanan, pisau dapur, bantal, dan bahkan kaus kaki ku hilang di malam festival musim panas.


Buku sihir, buku tarian milik ibumu, buku cara berperang dan bermain pedang, buku politik dan ekonomi.. semuanya hilang hari berikutnya setelah festival musim panas.


Aku tidak tahu mengapa dia mencuri sampai kaus kakiku juga tapi pencuri ini pasti hidupnya sangat menyedihkan dan nakal.


".. Jadi kita kecurian ya. Apa ini di hari festival musim panas?"


"Iya. Tunggu- bagaimana kau tahu?"


"Yah.. aku ingat melihat bayangan sedikit di dalam rumah saat aku terbangun. Orang yang mencurinya menyuruhku tidur lagi"


!! HAAAH?!!


Sebentar, jadi anakku tahu selama ini tetapi ia tidak memberitahuku?!


"Mengapa kau tidak memberitahuku?"


"Aku hanya tidur karena dia menyuruhku tidur. Aku tidak mengingat wajah dan siluetnya"


Aku mengangkat alisku, ternganga lebar. Aku tidak bisa berkomentar tentang itu. Yah.. mereka masih anak-anak. Aku harap kedepannya dia tidak menyembunyikan hal ini dariku.


Haaa.. Tidak ada gunanya lagi menangis dan marah. Lagipula ini sudah 2 tahun. Sebentar lagi akan menjadi 3 tahun.


Sudah banyak waktu yang berlalu sejak festival malam itu dan aku masih terjebak dari rasa penasaran tentang anak-anak Asa yang muncul dan pergi bagai angin di musim panas. Aku harap mereka baik-baik saja.


——Semoga dewa Darumias melindungi mereka.