I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Season 2 Chapter 1: Surat dan kabar



Alice POV


Tak terasa 6 tahun sudah berlalu. Aku kini berusia 15 tahun. Aku kini sudah jarang bermimpi buruk tentang 'Sarah' dan hidup normal sebagai seorang murid di sekolahku. Aku bekerja paruh waktu sebagai seorang pembuat ramuan di toko dekat sekolahku.


Bibi Gwen dan paman John sangat baik denganku. Pekerjaan mereka pun berlangsung lancar. Mereka dalam keadaan baik. Begitu pula Cendric yang belakangan ini tertarik dengan segala jenis buku. Terutama buku cerita dongeng. Walaupun dia tampaknya cuek dan dingin, ia sejujurnya peduli pada keluarganya.


Di sekolah, dia tidak memiliki banyak teman seperti Fonsius. Dia tidak jauh berbeda dengan kakaknya. Dia adalah seorang penyendiri dan sedikit arogan sebab ia...


.. Pubertasnya mungkin datang keawalan. Jelasnya, dia sering kali berbicara sendiri dan mengunci dirinya di ruang rahasianya, yakni--- di ruang baca sekolah no. 34.


Aku tidak tahu apa yang ia lakukan disana setiap hari sebab ruangan tersebut anti suara dan tidak bisa di akses oleh siapapun terkecuali Cendric.


Kudengar setiap murid di sekolah tersebut memiliki ruang baca pribadi sebagai pengganti loker. Lebih tepatnya, ruang kecil pribadi mereka yang serba guna dan hanya bisa diakses oleh pemiliknya. Setiap kali aku menanyakan apa yang ia lakukan disana, dia selalu memberikan jawaban ambigu.


[Haaa... dia seringkali bersikap begitu. Secara keseluruhan, dia tidak terkena masalah apapun dan bisa berbaur dengan murid lain dengan mudah. Dia seperempat mirip denganmu, Rumos.]


Cendric bukanlah anak yang bodoh. Dia memiliki nilai akademis dan sihir yang tinggi sampai bisa masuk ke sekolah elit di kota sebelah. Disana, ada banyak sekali bangsawan kelas menengah hingga kelas tinggi yang bersekolah disana. Hanya 5% rakyat jelata yang beruntunglah yang bisa masuk.


Namun, dibandingkan Cendric, ada satu orang dikeluarkan Farrel yang jauh lebih bermasalah daripadanya.


[—— Fonsius Farrel. Dia mengingatkanku sedikit akan 'Sarah'. Belakangan ini, perundungan yang ia alami memburuk dan lebih parah dari sebelumnya. Bibi Gwen dan paman John belum mengetahui tentang masalah ini. Hanya aku dan Cendric yang mengetahuinya. Dia meminta kami untuk tidak memberitah mereka satu katapun agar mereka tidak khawatir]


.


.


... Itu membuat darahku sedikit mendidih. Aku tidak mengerti mengapa dia melakukan ini. Kupikir ada jalan yang lebih baik ia lalui daripada ini.


Memikirkan banyak kemungkinan yang bisa ia pilih, tanganku berhenti menulis surat bulananku dan alisku berkedut sekali. Aku mengeluarkan sebuah ******* panjang.


Itu tidak seperti Fonsius tidak mempunyai pilihan lain untuk mengatasi masalah ini. Dibandingkan dengan ku dan adik-adikku, harus kukatakan dia lebih beruntung daripada kami. Situasinya tidak seburuk apa yang kami lalui 6 tahun lalu.


Pertama-tama, kupikir itu karena dia adalah seorang pasifis. Aku membiarkannya berharap keadaannya bisa berubah suatu saat. Tapi, seiring berjalannya waktu, aku mulai berpikir itu pikiran bodoh.


[Tentu dia seorang pasifis. Sayangnya, itu tidak memberikannya sebuah alasan untuk membiarkan dirinya dibully. Belakangan ini, aku baru menyadari satu fakta penting. Em.. tidak bermaksud kasar. Namun jikalau boleh aku menyampaikan pendapatku secara blak-blakan-]


—— Fonsius adalah seorang pengecut. Dia adalah seorang pecundang yang menyedihkan. Bisa dikatakan dia lebih menyedihkan daripada kita bertiga.


Setidaknya, itulah dirinya di mata orang lain. Semua orang memandangnya dengan definisi tersebut. Aku tidak bisa menjelaskan betapa prihatinnya diriku setiap kali melihatnya diperlakukan bagai seekor anjing. Akan tetapi, aku pun tidak bisa melakukan apapun sebab dia melarangku untuk ikut campur demi kebaikanku.


[Ia selalu menyembunyikan bekas lukanya dan memaksakan senyuman apabila ia berada di depanku dan Cendric ataupun orangtuanya. Dia tidak pernah membiarkan topengnya lepas sekali pun. Sisinya ini membuatku mengingatkanku akan dirimu, Namsius.]


Hmm, namun di saat yang bersamaan, aku tidak bisa mengatakan ia sepenuhnya adalah seorang pengecut. Terkadang, dia bisa membuat diri mereka dalam masalah untuk menyelamatkan seorang anak kecil yang hampir tenggelam.


Itu membuatku teringat akan Namsius dan Rumos yang berusaha mengeluarkanku dari sirkus. Aku berhutang budi pada mereka. Makanya, kali ini aku akan membantu mereka.


Aku menyadari mereka mempunyai sebuah rencana rahasia. Mereka merencanakan sesuatu. Apapun tujuannya, satu hal yang pasti adalah mereka tidak mungkin berniat buruk.


[Hei, bagaimana kabar kalian? Apa keadaan kalian baik? Aku harap kalian tidak kesulitan di sekolah dan tidak terkena masalah apapun. Oh, itu mengingatkanku. Sebentar lagi musim dingin akan tiba. Semua orang di Asa sedang sibuk mempersiapkan hari besar.]


—— Hari Gojamn. Pada tanggal 19 Desember semua bangsa di Liawes merayakan hari raya ini sebagai tanda terimakasih akan musim dingin yang tiba. Mereka akan mengadakan persembahan pada dewa salju dan berbagai acara lainnya setiap tahun.


Tahun lalu, aku merayakan hari raya ini bersama keluarga Fonsius. Itu tidak terlalu menyenangkan dikarenakan adanya badai salju tahun lalu. Aku tidak mengingat banyak tentang acara itu.


—— Oh, terkecuali untuk maskot hari Gojamn. Seorang kakek tua berjenggot panjang yang memakai pakaian merah bersama 7 rusa kutubnya. Salah satunya memiliki hidung merah yang bersinar.


Namanya adalah Klaus, orang yang mengantar hadiah pada semua anak kecil di seluruh dunia. Aku tidak percaya sosok ini nyata. Aku tidka pernah mendapatkan hadiah Gojamn ku semenjak aku lahir. Aku yakin adik-adikku juga tidak.


[Namun, jikalau sempat, kunjungilah Asa kapan-kapan. Mari kita adakan acara reuni lain kali kita bertemu]


...********...


Rumos POV


Aku duduk di bangku kamarku, membaca laporan bulanan yang dikirim Alice. Membaca, aku menyadari tidak banyak yang berubah disana. Yah.. Selepas dari Fonsius dan Cendric yang sikapnya tidak sesuai ekspektasiku, aku tidak merasa kecewa.


Awalnya, aku tidak percaya apa yang Alice sampaikan di laporannya. Seingatku, Fonsius bukanlah seseorang yang begitu menyedihkan dan serendah ini. Dari kata Alice, ia mulai berubah semenjak kelahiran adiknya Cendirc yang kelihatannya lebih cocok mendapatkan posisi protagonis.


Jujur, Fonsius berada di bawah ekspektasi ku. Dia terlalu biasa-biasa saja dan normal. Dia tidak memiliki apa yang seorang protagonis miliki kecuali secuil keberanian, kenaifan, dan kepolosan. Dia tidak memiliki sesuatu yang spesial.


Nilai akademik nya semuanya pas-pasan. Dia bukanlah seseorang yang memiliki fisik yang kuat dan bagus. Dia tidak memiliki banyak teman. Dia tidak beruntung, tidak setampan Leonardo Dicaprio, dan tidak memiliki karisma.


—— Seorang pecundang sejati yang tidak memenuhi syarat seorang protagonis novel.


Selain pekerjaan samping konyolnya yang hampir membuatku mati karena tertawa terlalu banyak, dia tidak memiliki apapun.


Percayalah atau tidak, si protagonis kecil ini bekerja sebagai seorang pelawak.


PE-LA-WAK!!


Pfft- menyedihkan. Alice benar saat memgatakan dia lebih menyedihkan daripada kami.


Dia adalah seorang dibully di sekolahnya- Tidak, oleh semua orang di Phari. Dia tidak menonjol ataupun spesial. Dia bersekolah di sekolah biasa di desa tidak seperti adiknya. Ditambah, dia bekerja sebagai pelawak di kota sebelah menambahkan bumbu yang membuat hidupnya bagai lelucon.


.


.


.


BRAKK!!


Sial. Ini tidak hanya untuknya. Semua yang kami lakukan terasa sia-sia. Seakan-akan seluruh dunia ini sedang mencemooh dan mempermainkan kami dengan memberikan protagonis lemah seperti Fonsius.


"Hei, Rumos. Jangan memukul meja. Kau harus menggantinya untukku apabila mejaku rusak"


Aku menarik nafas dalam-dalam, menenangkan diriku. Tanganku yang tadinya bergetar di atas meja dari rasa kesal dan amarah, merebahkan dirinya. Beranjak dari kursiku, aku pergi membuka pintu kamarku dan melihat Yulan sedang menungguku di depan pintu dengan tangan di pinggangnya.


Dia menginterogasiku mengapa aku memukul mejaku dan menanyakan apa yang terjadi. Aku sudah sering mengalami ini. Hampir setiap Minggu dia menginterogasi ku. Awalnya, kupikir dia bukanlah tipe orang yang akan mengurusi urusan orang lain.


Sayangnya aku salah. Aku sedikit menyesal tinggal satu atap dengannya. Aku rasa tinggal bersama Nam di jalan lebih baik daripada tinggal serumah dengannya.


"Ada masalah apa kali ini? Apa kemurkaan bulananmu tiba lagi? Biar kutebak, surat dari Alice bukan?"


"Iya. Dia membawa sebuah berita yang tidak begitu menyenangkan"


Yulan memutar bola matanya dengan bosan. Dia menghela nafas panjang, lelah mendengar alasan yang sama setiap bulan. Aku tidak pernah memberitahukan detail jelas padanya terkecuali gambaran umum. Jujur, aku tidak terlalu mempercayainya.


"... Kau tahu aku sudah banyak mentoleransi kelakuanmu bukan? Kau sudah berusia 13 tahun. Aku tahu kau anak yang mandiri dan aku menghargai privasi mu. Namun, bisakah kau tidak terlalu menutup diri padaku?"


"Aku sudah memberitahukan pekerjaan sampinganku. Apa lagi yang kau perlukan?"


Yulan mengerutkan keningnya dan menyilangkan tangannya tidak senang. Ia menggigit bibirnya, menyarankanku untuk berhenti dari pekerjaanku. Dia mengatakan itu bukanlah sebuah pekerjaan untuk remaja berusia 13 tahun.


—— Selama 3 tahun terakhir, aku telah membunuh hampir ratusan orang di ibukota demi kekayaan.


Aku bekerja sebagai pembunuh bayaran pada malam hari dan pedagang paruh sewaktu siang hari sembari menjadi murid biasa di sekolah ekonomi dan sosial politik di ibukota Asyran.


Aku pernah bekerja di sekolah sihir tetapi langsung dikeluarkan karena aku tidak membuahkan hasil sama sekali dalam sebulan. Yulan tidak bisa membantuku juga. Syukurlah aku tidak menyia-nyiakan waktuku belajar sihir.


Saat aku berusia 6 tahun, aku berhasil masuk ke sekolah berbasis militer dengan cara yang paling hoki. Yakni, bertemu dengan Yulan di hari tes masuk. Rencana menyogok sekolah tersebut pun dihapus dan aku menyelesaikan sekolahku dalam 4 tahun.


Sehabis itu, aku menempuh pendidikan lebih lanjut berkat bantuan Yulan di sekolah ekonomi dan politik tanpa menghabiskan satu uang pun.


Aku rasa keberuntunganku menjadi lebih baik tanpa ada Nam dan Alice. Oh, itu bukan berati aku membenci mereka sama sekali. Mereka berguna untukku kedepannya.


Dengan Alice yang sedang belajar sihir di bidang ramuan, dia bisa membantu kami membuat sebuah obat atau munkin sebuah racun yang dapat membantu kami mengeliminasi para pengganggu. Aku dengar dia lumayan berbakat jadi aku mempercayai kemampuan dan kesetiaannya.


Untuk Nam, kabarnya dia sedang berada di luar kerajaan Asyran dan pergi jauh ke arah timur. Aku tidak banyak mendengar berita baru darinya. Dia mengirimkan kami surat setidaknya 3 bulan sekali.


Yang kutahu hanyalah dia sedang bersekolah di kerajaan Byorgian yang maju. Yah.. kudengar dia memiliki banyak saingan disana dalam urusan sekolahnya dan tidak smeua orang bersikap ramah padanya.


Yah.. Sama seperti salju yang selalu menutupi negara tersebut, aku rasa semua orang disana sama dinginnya dengan cuaca disana.


Tapi, harus kuakui, dibandingkan dengan kerajaan kuat seperti Byorgian-


—— Kerajaan Asyran dipandang sebagai kerajaan lemah di dunia internasional. Kerjaan ini memang makmur, sayangnya Asyran bisa diibaratkan adalah sebuah kerajaan fantasi kuno yang ketinggalan dengan negara bangsa manusia lain.


Ditambah, sumber daya kerajaan ini tidaklah banyak. Satu-satunya hal yang bagus di negara ini hanyalah sihir mereka yang sangat hebat. Akan tetapi jika tidak dimanfaatkan dengan benar, kerajaan ini akan runtuh dalam kurun waktu yang singkat.


"Haaa... Rumos. Aku ini walimu. Jikalau ada masalah, kau boleh memberitahukan ku"


"Aku mengerti. Kau adalah waliku dalam nama. Aku akan memberitahumu apabila ada sesuatu yang terjadi"


Yulan mengangkat alisnya, menduga aku akan menjawab itu. Dia kemudian pergi masuk ke ruang kerjanya, meninggalkanku sendirian di depan pintu. Memiringkan kepalaku, aku menggaruk kepalaku dengan bingung.


Jujur, dia adalah seorang penyihir yang aneh dan eksentrik. Di hari tes masuk sekolah militer, aku tahu aku pastinya akan ditolak. Tidak memiliki wali dan terlalu muda, aku sudah mempersiapkan diri untuk gagal. Namun-


—— Entah ini sebuah kemungkinan atau takdir, aku bertemu dengan Yulan yang tiba-tiba mengakui dirinya sebagai waliku dan membuatku diterima. Alasan dia mengapa dia melakukannya sebenarnya sederhana.


Dia merasa prihatin dan bersimpati padaku. Akan tetapi, dari logika manapun walaupun dia menganggapku sebagai anak asuhnya- orang gila mana yang akan mengirim seorang anak berusia 6 tahun ke sekolah berbasis militer untuk anak berusia 16-21 tahun.


Itu diluar akal sehatku dan semua orang. Bahkan seseorang yang tidak berpengalaman mengetahuinya. Syukurnya aku berhasil melalui sekolah itu dengan baik. Ada banyak tekanan disana karena aku memakai nama Yulan.


Apa yang ia lakukan hari itu membuatku mencurigainya memiliki maksud tertentu dari tindakan absurd nya.


.


.


Yah.. Itu bukan masalah penting sekarang. Selama dia tidak membuat masalah untukku, aku juga tidak akan mengganggu nya.


Dia mengingatkanku akan masa-masa kuliahku dimana semua orang meminta bantuanku dikarenakan aku memegang nilai tertinggi disana. Mereka menganggap ku serba bisa.


Masa-masa kuliahku tidak terlalu menyenangkan.Terus terang, aku tidak menduga aku dari semua orang akan memilih jurusan ini.


——Meskipun aku ini seorang pembunuh, aku dulunya pernah belajar hukum dan lulus dengan nilai terbaik.


Sampai saat ini pun aku terkejut bagaimana itu bisa terjadi. Itu mengejutkan. Namun, yang lebih mengejutkan bagiku adalah bagaimana Nam--- seseorang yang pernah kuliah jurusan arsitektur di London melalui beasiswa, malah menjadi guru TK di kota kecil pada akhirnya?


Sungguh menyedihkan.


Hidupku setidaknya tidak semenyedihkan dirinya meski aku memiliki gaya hidup yang berbahaya.


KRIETt..


"Rumos, bisakah kau kemari sebentar?"


Yulan membuka pintu kamarnya menggunakan sihir, mempersilahkan ku masuk kedalam ruang kerjanya. Jarang sekali dia memperbolehkanku masuk kesana. Itu aneh dia memanggilku tiba-tiba.


Tapi aku sebaiknya tidak mempertanyakan hal itu. Sudah kubilang dia adalah orang gila eksentrik yang tidak masuk akal.


Aku memasuki kamarnya yang berantakan, menghindari ranjau yang bertebaran di seluruh ruangannya. Berhati-hati, aku duduk di atas kursi kosong dan mengernyitkan dahi ku ketika melihat ruangannya berantakan.


Ugh, dasar penyihir tidak disiplin. Bukankah dibandingkan aku, dia seharusnya mengurus dirinya sendiri?


"Yulan, aku menyarankanmu membersihkan ruangan ini sebelum ada hantu yang muncul. Aku setengah serius mempertanyakan pola pikirmu"


"Jangan khawatir, aku memiliki asuransi untuk setiap tindakanku. Lagipula, kapan kau akan kembali ke Phari?"


"Kenapa kau mendadak menanyai desa itu? Sejauh ini aku tidak memiliki rencana kesana"


Yulan menggaruk kepalanya, mengatakan dia membutuhkan ranting sebuah pohon yang hanya tumbuh di Asa. Dia memintaku mengambilnya. Ditambah, ia ingin meminta bantuanku untuk mengirimkan sesuatu pada orangtua Fonsius.


Aku yakin dia berasumsi aku merindukan desa mengerikan itu. Tidak sama sekali aku berniat mengunjungi Phari. Sebuah pengecualian hanyalah jikalau Alice terkena masalah.


"... Aku mempunyai sebuah penawa-"


"Tidak. Lakukanlah sendiri. Aku akan mengunjungi Alice diluar desa itu"


Yulan tersenyum masam, memalingkan kepalanya sejenak. Di benaknya ia sedang memikirkan sebuah cara supaya bisa membujukku. Aku tidka mengerti mengapa dia bersikeras. Secara literal, dia bisa menyuruh orang lain.


—— Itu berbeda lagi kasusnya apabila ia memiliki niat tertentu.


Aku mengamati Yulan, melihatnya menopang dagu. Tidak biasanya aku melihatnya begini. Apa ini urusan kerajaan? Aku yakin itu merepotkan apabila aku harus menerima tugas ini.


.


.


Namun.. Di sisi lain, aku juga khawatir akan keadaan di Phari. Protagonis rendahan disana membuatku stress.


... Dia lebih merepotkan daripada Nam rupanya.


"Haaa.. sial. Baiklah, aku akan menerimanya."


"!!!.. O, Oh, itu-"


"Dengan satu syarat! Kau- Bantulah aku dengan satu hal. Kau mengerti?"


Wajah Yulan yang berseri-seri meresponku dengan senyuman lebar. Dia menepuk kepalaku, mengatakan dia mempercayaiku bisa melakukan tugas ini dengan mudah.


Masalahnya, firasatku mengatakan yang sebaliknya. Tugasnya bukanlah masalahnya melainkan apa yang akan terjadi secara memdadak adalah masalah terbesarku.


——Terutama dengan dewa sialan itu yang mengatur dunia ini, aku yakin dia tidak akan membiarkan semua ini berjalan dengan lancar.