I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 14: Menuju Latagin



Author POV


Pukul 6 sore. Waktunya makan malam. Ketiga kereta kuda berhenti di pinggir jalan dan semua orang bersiap-siap mendirikan tenda, mengumpulkan kayu kering, menyiapkan makan malam, dan tempat tidur untuk semalam.


Seusai persiapannya, mereka semua duduk mengelilingi api unggun. Namsius dan Rumos yang duduk sedikit bersembunyi diam-diam masih berlatih menggunakan sihir secara otodidak. Mereka tidak ingin ketahuan oleh yang lain tetapi ingin sekali meminta saran dari seseorang tentang masalah mereka.


Sayangnya, mereka enggan meminta bantuan dari orang-orang yang telah menyiksa mereka.


"Namsius, apa novel yang kau baca tidak punya informasi tentang sihir sama sekali? Ini mulai memuakkan ku-"


"Em.. um.. ah, itu.. Aku akan coba mengingatnya. Pertama-tama, tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan. Lalu tenangkan jiwa dan badamu. Kemudian, coba rasakan aliran Mana yang ada di seluruh tubuhmu. Itu biasanya yang ada di novel"


"Bukankah itu meditasi? Terserah, kita coba saja dulu untuk yang kesekian kalinya"


Namsius dan Rumos memejamkan mata mereka sebelum mengikuti langkah-langkah yang tadi diberitahu. Mereka memenangkan tubuh dan jiwa mereka juga mengatur pernafasan.


Ini adalah percobaan mereka yang ke-n. Mereka hilang hitungan di tengah jalan akan berapa banyak kali mereka mencoba menggunakan sihir. Hasil akhirnya selalu sama setiap kalinya. Termasuk kali ini juga, mereka gagal dalam memproyeksikannya.


Si kembar mengernyitkan keningnya, menghembuskan nafas panjang. Ia menyerah dalam menggunakan sihir dan angkat tangan dalam masalah ini. Mereka terlalu lelah untuk mencobanya sekali lagi.


TAP, TAP, TAP..


"Oh, ini menarik. Tidak biasanya aku melihat kalian berdua frustasi"


"!!!.. Ah" Namsius mengangkat kepalanya, melihat Gyana berada di depannya bersama Alfred. Ia dan Rumos mematung sesaat sebelum merespon mereka dengan anggukan kecil dan menyembunyikan apa yang mereka lakukan dalam sekejap.


Gyana menyilangkan tangannya, memukul kepala mereka. Ia menanyai mereka apa yang mereka sembunyikan dan memaksa mereka untuk membocorkan apa yang terjadi. Sementara itu, Alfred yang berada di sampingnya hanya tertawa terbahak-bahak seakan-akan sedang menonton film komedi yang membuatnya kehabisan nafas.


"Hahahaha!! Kalian- Kalian baru saja mencoba sihir ya? Lucu" Alfred menunjuk pada si kembar yang tertegun mendengar perkataannya. Mereka tidak secara spesifik terkejut mengetahui Alfred bisa menebaknya dengan benar.


Lagipula, dia adalah orang yang menyelamatkan Namsius dan satu-satunya pengguna sihir yang ada di sirkus ini. Gajinya dan kekejamannya adalah yang tertinggi kedua setelah Gyana.


"Pfft- Kalian pasti sangat buruk dalam sihir. Mana kalian berantakan. Apa kalian mencoba bunuh diri atau apa?"


".. Seseorang bisa mati karena Mana yang tidak beraturan?"


"Kalian tidak tahu?"


Alfred menjentikkan jarinya, menunjukkan Mana yang mengelilingi Namsius dan Rumos untuk pamer. Si kembar ternganga lebar seketika mereka melihat bola-bola kecil yang melayang disekitarnya.


Mata mereka terbelalak, terpaku pada bola tersebut. Bola tersebut menyerap masuk ke dalam tubuh mereka saat di sentuh dan terasa hangat. Terlebih lagi ada beragam jenis bola yang berada di sekitar mereka saat ini dengan ukuran dan warna yang berbeda-beda.


"Namsius.. Aku bisa merasakannya mengalir di tubuhku. Jadi ini Mana ya?"


"Mungkin. Ini baru pertama kalinya aku melihat benda ini. Kita tidak mempunyai bakat sihir sama sekali, tapi setelah percobaan untuk yang kesekian kalinya.. aku ingin menganggap ini Mana saja"


Rumos mengamati Mana yang berada di dekatnya dan Namsius. Ia melihat bola tersebut sedikit berbeda dari yang ada di dekat Alfred. Namun, sebelum ia sempat mengamatinya lebih lanjut, bola-bola tersebut menghilang dari pandangannya.


Alfred tertawa mengejek mereka yang mendadak tersentak dan linglung. Gyana yang tidak terlalu tertarik meninggalkan si kembar bersamanya sebab ia tidak melihat ada untungnya dari belajar sihir.


Namsius mengucek matanya dari kebingungan. Ia melihat pada Alfred yang menanyai mereka pendapat tentang bola Mana yang ia tunjukkan.


".. Itu luar biasa. Aku baru tahu ada beragam Mana di dunia ini," komentar Rumos.


"Heh- Jadi kalian sadar Mana kalian sangat lemah bukan? Warnanya pucat, tidak mencolok, dan sedikit. Itu aneh kalian sampai saat ini masih hidup."


Namsius dan Rumos bertukar pandang. Meskipun mereka tidak mengingat warna apa Mana mereka, si kembar yakin mengetahui jumlah bola-bola yang berada di sekitarnya tidak mencapai angka 15.


Pada umumnya, seperti kata Alfred, seseorang yang memiliki Mana sedikit atau yang warnanya pucat tidak dapat bertahan hidup lama. Akan tetapi, ini adalah sebuah pengecualian yang diberikan dewa Darumias pada Namsius dan Rumos sehingga mereka tidak terikat dengan Mana.


—— Menyimpulkan, baik ada Mana atau tidak, mereka tetap akan hidup.


Kekurangannya, mereka tidak akan pernah bisa menggunakan sihir. Tetapi, tidak membuat mereka anti akan sihir dan tidak memiliki Mana sama sekali. Faktanya, mereka masih bisa menyentuh Mana dan menyalurkannya ke seluruh tubuh dengan bantuan orang lain.


".. Oh, tampaknya Alfred dicintai oleh Mana sedangkan kita dibenci kehidupan"


"Mungkin. Pastinya, dia tidak akan merasakan sakit dengan Mana sebanyak itu"


Rumos mengulum bibirnya, menyembunyikan rasa bencinya akan ketidakadilan hidup mereka. Namsius memaklumi keadaan di luar kawalan mereka dan hanya bisa mendesah panjang, menepuk punggung Rumos.


"Hei, ayo kita makan malam dan pergi tidur saja. Makanan pasti sudah siap sekarang"


...*********...


Rumos POV


Aku duduk disebelah Namsius dan memakan jatah makananku. Kami membagi jatah daging sapi yang secuil dan memakannya langsung sebelum dicuri oleh yang lain. Aku bersyukur sekarang mereka tidak memberikanku tikus mati atau cacing tanah sebagai makananku.


Aku sudah pasti akan membunuh mereka jika bukan karena penalti itu. Hukum khusus dunia ini untukku dan Namsius sangatlah kejam tanpa alasan.


Memang jika diingat lagi, awalnya Namsius tidak ingin makan tikus, burung, maupun daging anjing. Begitu pula aku yang menolak untuk memakan sesuatu yang menjijikkan seperti itu. Namun, secara rasional, kami tidak ingin mati kelaparan.


—— Terpaksa kami memakan semuanya baik mentah ataupun setengah matang untuk bertahan hidup.


Yah, menyedihkan dan sulit bukan?


Kami adalah sosok lemah nan menyedihkan yang tidak dicintai dewa, Mana, ataupun dunia. Mungkin saja ini hukumanku. Tapi bagaimana dengan Namsius?


Bagaimana bisa orang seburuk Alfred dicintai oleh Mana dan pak Edmond di kelilingi keberuntungan sedangkan Namsius tidak?


—— Namsius pasti orang tersial yang pernah kutemui sejauh ini.


"--- Sarah. Bisakah kau mengisikan ku air?"


... Dan Sarah pastinya sejenis dengan Namsius. Mereka sungguh sial terjebak dengan orang sepertiku dan sirkus ini.


"Baik, pak Edmond. Sebentar-"


Sarah mengambil wadah kosong yang diberikan pak Edmond. Dia menggumamkan sesuatu seperti mantra dan membuat nafasku tertahan saat bola-bola Mana muncul di depanku lagi. Kali ini, lebih banyak dan bewarna biru muda.


Bola-bola tersebut kemudian berubah menjadi air yang mengisi wadah pak Edmond setelah diserap oleh Sarah. Dalam semenit, aku tercengang melihat sesuatu yang begitu absurd terjadi di depanku.


".. E, Em, Rumos. Ekspresimu.."


"..... Wow"


"Hei, setidaknya tutup mulutmu. Mengapa kau sangat terkejut dengan Sarah yang bisa menggunakan sihir?"


Namsius menaikkan rahang bawahku yang ternganga kembali ke atas. Dia menjelaskan dalam dunia novel fantasi, secara faktanya, sihir adalah sesuatu yang berada di luar logika manusia normal sebab dapat melawan hukum fisika dan kimia.


Lalu, apa bedanya sihir, Divine Protection, dan kekuatan milik iblis? Bukankah mereka sama-sama sihir?


Dari penjelasan buku sang pemilik toko, sihir adalah sesuatu yang dimiliki Sarah. Sihir memiliki beragam macam jenisnya. Berbeda dengan Divine Protection yang secara literal adalah orang-orang yang dicintai Mana seperti Alfred dan diberikan perlindungan dewa serta kemampuan istimewa.


Yah.. kami tidak termasuk sebab kami tidak terikat dengan Mana dan jelasnya dewa Darumias tidak mungkin memberikan kami kemudahan dengan hadiahnya.


Untuk yang terakhir, milik iblis, aku tidak terlalu tahu bagaimana cara kerjanya itu. Kata Namsius, sihir tipe ini lebih berbahaya dan menggunakan lingkaran sihir. Entah apa bedanya. Aku mengibaratkannya bagai jampi-jampi sihir terlarang yang tidak diperbolehkan dipakai.


-DUK!!


"Oi, kalian pikir apa sampai serius sekali? Apa kalian sakit?"


Kurang ajar. Dasar anak gila tak berlengan.


Apa dia pikir ditendang sekuat tenaga tidak menyakitkan?


".. Tidak secara spesifik. Kami hanya berpikir betapa mengagumkannya sihir itu," jawab Namsius, menghabiskan makanannya.


"-- Apa kalian belajar sihir karena kalian ingin ke Ibalion?" Tanya Gyana, menyela keheningan yang ada.


Oh, dia tajam seperti biasa.


"Iya. Sebagai asuransi untuk menghindari kecelakaan. Kami harus menemukan sesuatu disana jadi belajar sihir akan mempermudah tujuan kami di Ibalion"


"Tujuan kalian ya? Aku tidak tertarik dengan apapun tujuan kalian kesana. Tapi harus kuingatkan, gaji kalian tetap dipotong dan aku tidak menanggung nyawa kalian sama sekali"


Pak Edmond memberikan kami peringatan yang tidak penting sedangkan Gyana tertawa terbahak-bahak sambil memukul kami di punggung sekuat tenaga. Aku dan Namsius menahan rasa sakit yang luar biasa bagai neraka dengan wajah datar.


Itu wajar. Kami sudah sering mengalami ini. Tidak perlu bertanya mengapa mereka melakukan ini. Kesimpulannya sudah jelas-


—— Mereka gila dan tidak waras. Makhluk rendah yang tidak tahu apa artinya sakit itu.


"Haha, jangan begitu. Mereka masih kecil. Apa kalian sudah akan tidur?" Toru mendekati kami, berpindah posisi ke samping Namsius yang menggeser ke samping 5 inchi ke arahku.


Dia adalah orang yang paling membuat kami tidak nyaman. Kami buru-buru mengemas barang-barang kami dan bersiap-siap tidur untuk menghindari anggota sirkus lain yang sebentar lagi berjaga malam dengan bermain kartu.


Mengakhiri hari ini, aku dan Namsius berbaring di tanah lapang sambil memandangi langit tak berbintang yang dingin. Kami tidak berkomunikasi selama beberapa menit, menatap kosong ke langit tak berujung.


Aku menghela nafas panjang, mengangkat tanganku ke atas sembari menghitung semua langkah yang telah kulakukan untuk hari yang sebentar lagi dinanti-nantikan.


Aku tidak tahu apakah akan berjalan lacar atau tidak. Setidaknya, aku ingin percaya bahwa kami akan baik-baik saja.


"Namsius. Beritahu aku. Apa kau pernah merasakan stres yang terlalu berat sampai-sampai pikiranmu kosong?"


".. Ada apa dengan pertanyaan itu. Tentu saja semua orang pernah. Apa itu yang kau rasakan sekarang?"


"Tidak. Namun diriku di masa lalu. Rumos yang lain pernah merasakannya"


Namsius melirikku dari pertanyaanku yang tiba-tiba. Dia tidak mempertanyakan alasan dibaliknya dan hanya mengeluarkan tawa kecil. Dia tidak kebingungan atau merasa kaget. Dia hanya memberikanku sebuah komentar yang membuatku tertegun.


"—— Itu bagus kau masih adalah seorang manusia berperasaan"


Mendadak, ia menepuk kepalaku seperti anak kecil sebelum berbalik ke arah yang berlawanan dan tidak bersuara.


Sesaat, aku ditinggalkan kebingungan dan lega. Aku merasakan kenyamanan dan ketenangan yang membuatku tidur nyenyak malam itu.


Pastinya, itu karena satu hal.


.


.


—— Aku bersyukur aku tidak membuangnya saat dia berusia 3 tahun.


...*******...


Author POV


Si kembar duduk di kereta sambil menoleh beberapa kali ke samping. Mereka terkejut dengan sosok gadis yang ada di sana terduduk kaku bagai boneka. Mereka lalu mencoba mengintip ke dalam kereta pak Edmond, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi disini.


"Sarah sayang, apa suamimu sedang marah?" Tanya Toru.


".. iya. Dia marah karena aku mendorongnya," jawab Sarah, menundukkan kepalanya.


Si kemabr bertukar tatapan, terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. Ini mungkin adalah yang pertama kalinya Sarah berani menolak dan membentak anggota sirkus lain.


Mereka tidak tahu apa yang terjadi secara rinci, namun mereka merasa sedikit puas.


Namsius melihat ke lengan Sarah yang penuh luka. Dia tahu apa yang terjadi padanya. Menepuk pundaknya, ia menghibur Sarah sambil memesannya agar berhati-hati di dekat anggota sirkus lainnya. Terutama ketika dia dan Rumos tidak ada.


"Jagalah dirimu sendiri. Rawatlah dan hargai dirimu. Kau tahu, aku sedikit kasihan denganmu yang berada dalam situasi," pesan Rumos


"T, Tapi aku tidak tahu.. aku tidak bisa melakukannya. Bagaimana bisa aku.. menjaga diriku sendiri..dari.."


"... Haaa.. kau benar. Ngomong-ngomong, bisakah kau ajarkan kami cara memakai sihir? Mungkin kami bisa.. membantumu"


"!!!.. Apa?"


Sarah terdiam sejenak bersama dengan Rumos yang kata-katanya tertahan di tenggorokannya. Mereka melirik satu sama lain, tidak bersuara dan melihat Namsius yang menatap mereka kebingungan juga.


Bahkan Toru yang sedang mengemudikan kereta memberhentikan keretanya untuk berbalik dan memastikan ulang apa yang ia dengar.


".. Apa? Mengapa kalian-"


PLAKK!!


Toru menampar wajah Namsius, menceramahinya. Berada dalam kebingungan, Namsius menoleh pada Sarah dan Rumos yang juga kaget. Dia sendiri tidak menyadari apa yang ia perbuat untuk pantas mendapatkan tamparan tersebut.


"Hmm, kalian berdua belakangan ini terlalu sibuk sendiri sampai menjadi bebal ya? Jangan lakukan itu lagi," ceramah Toru, meenjalankan kereta kudanya lagi.


Namsius mengedipkan matanya beberapa kali masih tidak mengerti. Ia mencoba meminta Rumos menjelaskan apa yang terjadi. Tetapi, ia malah diabaikan olehnya yang tertawa geli dari kelakuan anehnya.


".. Apa aku baru saja salah mengatakan sesu-"


"Sarah, kau pasti akan baik-baik saja. Berikan kami waktu 5 menit." Rumos menyela ucapan Namsius, membungkam mulutnya dengan tangan kanannya.


Ia menggosok belakang lehernya, merangkai kata-kata untuk mencoba menjelaskan apa yang barusan terjadi pada Namsius sebisa mungkin. Sayangnya, dia menganggap situasi ini terlalu menarik dan menjelaskannya secara ambigu padanya.


"Kau sudah mulai berubah ya? Jika ini kau yang dulu, kau pasti akan memperhatikan Sarah dulu. Tapi tadi kau malah menanyakan tentang sihir"


"?!.. Aku hanya ingin mencoba membantunya dengan sihir"


"Apa? Kau semakin egois dan dingin belakangan ini. Aku penasaran apakah ini ulahku atau tidak?"


Nafas Namsius tertahan saat ia menyadari situasinya. Suaranya tidak bisa keluar dan kepalanya secara refleks memberikan sebuah anggukan kecil sebagai responnya yang menyetujui perkataan Rumos.


Dia mengakui semakin hari dia hanya mementingkan dirinya dan semakin egois. Ia tidak yakin apa yang harus dia pilih dan lakukan lagi. Betapa dia tidak pedulinya terhadap orang lain membuatnya kecewa akan dirinya.


——Bahkan dalam keadaan tidak terpaksa seperti ini, dia lebih memilih dirinya sendiri.


"Aku tahu. Aku tidak yakin aku bisa kembali ke diriku yang normal lagi. Setiap hari.. rasanya sangat menyakitkan ketika bangun. Aku merasa lelah mengahadapi hidup ini. Aku mulai menyadari betapa miripnya diriku denganmu perlahan-lahan"


"Heh! Kau benar. Dan kupikir itu bukan sesuatu yang buruk asalkan kita berdua selamat. Semakin hari aku juga merasa semakin mirip denganmu. Aku tidak lagi membenci dirimu. Baik yang egois atau tidak. Kita sejujurnya luar biasa mirip bukan?"


Namsius menundukkan kepalanya, mengiyakan Rumos tanpa ragu. Dia menerima kenyataan ini tanpa adanya pemikiran kedua dan menggigit bibirnya dari rasa frustasi. Ia mendesah panjang, mengangguk mengerti dengan situasinya sekarang.


Rumos yang menemukan hal ini mengesankan, perlahan-lahan merangkul pundak saudaranya. Ia memberikannya sebuah 'nasihat' agar kembarannya merasa lebih baik dan tenang agar tidak merasa terlalu bersalah.


"Hei, di dunia manapun, pasti ada yang kalah dan menang. Yang diatas dan yang dibawah. Makanya, jangan terlalu mengkhawatirkan orang lain karena secara alami memang begitu sistem setiap dunia. Jadi selalu pikirkan diriku dan dirimu sendiri saja. Semuanya akan baik-baik saja"


"... Hentikan. Berhenti mencoba memanipulasi pola pikir ku."


"Tidak. Yang kukatakan itu benar dan kau tahu sendiri bukan cara kerja dunia ini?"


Rumos mengamati reaksi Namsius yang datar saat ia menyampaikan 'nasihat' nya. Suasana diantara mereka menjadi tegang sesaat sebelum Namsius memecahkannya dengan mengeluarkan obat untuk luka Sarah dan memutuskan pembicaraan telepati mereka sampai disana.


Ia meminta maaf pada Sarah, tersenyum tipis untuk menyembunyikan rasa kecewanya akan dirinya sendiri. Dia tidak menyangka dirinya mulai berubah secepat ini. Ia menjadi ketakutan dan gelisah akan apa yang terjadi selanjutnya.


.


.


—— Takut dia akan mengambil jalur yang sama dengan pembunuh disampingnya.