
Author POV
Aku ingin kau berhenti menindasku. Jangan pernah menemuiku dan berpura-pura lah tidak mengenalku. Kau hanya boleh menemuiku diluar jam sekolah dan kerja. Jika kau tidak menurut, aku akan bunuh diri sekarang juga. Pastinya, kau akan mendapatkan hukuman dari walikelas.
TAP, TAP, TAP!!
"Sial! Apa-apaan dengannya?! Memaksaku melakukan perintahnya- Dia pikir dia siapa?! Dia tidak tahu apapun tentang diriku- bahkan mengenalku pun tidak! Tsk- berani-beraninya dia!"
Berjalan di koridor sekolah, Lewine mengerutkan keningnya 2 kali lipat dari biasanya. Langkah kakinya yang lantang dan suara nafasnya yang beritme tidak stabil membuat perempuan bersurai merah muda disampingnya tidak nyaman. Mempelajari gerak-geriknya, ia menggigit bibirnya ragu.
Jarang sekali Lewine menampakkan raut wajah yang mengenaskan. Seberapa buruk moodnya, ia tidak pernah menampilkan perasaan jengkel atau amarahnya secara berlebihan. Faktanya, ia tidak ingin mengkhawatirkan temannya dan berusaha menahannya apabila ia sedang bersamanya walau biasanya Irvette menyadarinya.
Namun kali ini, saking jengkel dan frustasinya dnegan situasinya yang terpaksa, emosinya tidak bisa tertahan. Ia hanya bisa menahan seperempatnya demi Irvette supaya ia tidak melampiaskan amarahnya tanpa sengaja.
"L.. Lewine, sesuatu terjadi di UKS?"
"Tsk, tidak banyak yang terjadi. Pecundang itu membangkang ku."
"!! Dia? Fonsius? Apa itu karena guru baru itu? Kita harus memberikannya hukuman-"
"Tidak. Dia memaksaku membuat kesepakatan untuk tidak menemuinya di sekolah dan tempat kerjanya. Menyebalkan dia mengancam untuk bunuh diri"
Irvette membelalakkan matanya mendengar kalimat terakhir. Bergema di benaknya, matanya bergetar sejenak dan sebuah pertanyaan muncul di kepalanya.
—— Apakah kami benar-benar seburuk itu hingga dia ingin membunuh dirinya sendiri?
Di tempat pertama, ia tidak ingin Fonsius mati karena ulah mereka. Ia tidak pernah berpikir apa yang ia lakukan padanya sangatlah buruk sampai dapat menghancurkan seseorang.
".. Apa kita kelewatan?" Tanya Irvette dengan suara yang hanya dapat didengarnya dan Lewine. "Aku berpikir mungkin kita memang sedikit kelewatan."
".. Apa kau merasa bersalah?" Tanya Lewine, berusaha berbicara tanpa mengintimidasinya.
Irvette mengedipkan matanya, menganggukkan kepalanya. Menjawab ia sedikit bersalah, ia menjelaskan ia tidak pernah dendam atau benci padanya. Ia pun mulai bertanya-tanya mengapa ia menindasnya dari awal sebab ia sejujurnya tidak mempunyai alasan sama sekali.
"-- Bagaimana ya menjelaskannya? Aku rasa aku hanya menikmatinya saja tanpa pernah berpikir tentang kondisinya"
"... Begitu. Jadi kau merasa penyesalan ya. Itu bagus untukmu"
"!!.." Irvette mengangkat alisnya, menoleh pada lelaki disampingnya. Terkaget-kaget, ia menampar belakang kepala Lewine untuk mengecek kewarasannya.
"Oi, mengapa kau memukul-"
"Mengapa? Kau tidak akan memarahiku?"
"Apa kau tol*l?" Tanya Lewine, blak-blakan. "Mengapa aku harus? Kau ingin aku kecewa karena kau merasa menyesal dan berpikir berbeda dariku? Hei, aku ini tidak se-menyedihkan itu."
Lewine menggosok belakang kepalanya seketika Irvette tiba-tiba berhenti bergerak tengah jalan. Berhenti beberapa langkah di depannya, ia bisa merasakan sebuah perasaan sesak di dadanya. Tidak berani berbalik, mulutnya tersenyum masam.
"Maklum jikalau kita berbeda. Lagipula, itu bagus kau menyesal. Itu menandakan kau masih mempunyai harapan demi masa depanmu. Jujur, kau sebaiknya mulai mempersiapkan diri mulai dari tahun ini apabila kau mau masuk ke sekolah kedokteran"
".. Bagaimana kau tahu aku ingin masuk kesana?"
Lewine terdiam, tidak menjawabnya. Membalikkan badannya, Irvette dapat melihat senyum lebar nan bangga dari pipi ke pipi.
"Aku mendengarnya dari ibumu. Kau mulai mengoleksi berbagai jamu dan obat-obatan tradisional. Semoga berhasil kedepannya. Kalau kau terus mencoba, aku yakin kau bisa masuk ke sekolah terbaik di negeri ini."
".. Bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan?"
"Pertanyaan bagus. Aku belum tahu apa yang akan kulakukan. Aku sedikit iri padamu kau sudah menemukan makna hidup yang lain selain menindas orang. Yah.. meskipun begitu, aku tidak menyesal dengan apa yang kulakukan sekarang. Mungkin sedikit menyesal karena tidak merasakan penyesalan. Tapi itu bukan masalah besar"
Dalam seperlima menit, waktu seakan-akan macet di tempat. Sensasi aneh yang dirasakannya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Alexisthymia—— Ketiadaan kata-kata rasa. Tak bisa berucap, yang tersisa hanyalah air mata yang mengalir dari mata secerah biru langitnya.
Irvette memalingkan kepalanya, mengepalkan tangan. Membuat Lewine tersentak, keduanya tertegun tidak tahu bagaimana harus bersikap.
".. Mengapa kau menangis? Ini bukan masalah besar. Apa kau pikir aku akan mati atau apa? Ayolah, jangan memanjakan diri-"
"Bagaimana bisa kau mengatakan itu?! Kau tidak menyadari kau sedang menghancurkan hidupmu sendiri?!"
"Hei, jangan bercanda. Kita berdua sadar akan apa yang kita lakukan. Masalahnya adalah aku tidak peduli akan apa konsekuensinya. Daripada hidup tak bernyawa nan monoton seperti sebuah mesin, aku lebih memilih hidupku yang sekarang."
Sebuah lubang hitam di benaknya membuat berandal perempuan di Phari tertahan nafasnya. Kehabisan kata-kata, ia membuka mulutnya sedikit, mencoba menproses sebuah kalimat untuk keluar dari mulutnya.
"Oh- itu mengingatkanku, guru sialan itu menyuruhku untuk menemuiku sepulang sekolah. Pulanglah duluan. Kau tidak perlu menungguku hari ini"
Sayangnya, ia tidak bisa memikirkan sesuatu untuk diucapkan meskipun. Ia tidak ingin temannya untuk berjalan di jalan berduri yang akan menjauhkannya. Ia tidak akan menerimanya apabila Lewine menerima kehancuran tersebut dengan senang hati.
"Hei.. kalau kau pernah menghancurkan hidup, aku lebih baik membunuh diriku sendiri daripada melihat masa depan tanpa dirimu. Aku tidak ingin kau menjadi monster lagi."
...******...
Seorang remaja berusia 13 tahun bersembunyi di balik tiang penopang koridor. Terjebak diantara 2 orang yang sedang berada dalam skenario bak dramatis, ia berjongkok berharap ia tidak ketahuan.
"Ugh, mengapa aku ada disini? Sudah hampir 15 menit aku disini. Air suciku (kencing) hampir bocor keluar"
Fonsius, entah bagaimana dalam perjalanannya ke toilet, berusaha menghindari berpapasan dengan 2 orang yang paling ia hindari di sekolah ini dan kini terjebak diantara mereka yang sedang mengalami perbincangan yang tidak perlu dan tidak ingin ia dengarkan.
"Apa sebaiknya aku mengompol disini saja? Pembicaraan mereka tentangku, seakan-akan aku ini dalangnya, tampaknya tidak akan berakhir kapan saja"
Tidak terkecuali, Fonsius mendengar lengkap semua pembicaraan mereka dari awal sebab ia berada disana terlebih dahulu. Ia kini mengetahui situasi dari sudut pandang mereka. Mempelajari bagaimana cara pemikiran mereka dan mengenal sedikit sikap mereka.
Walaupun begitu, ia tetap tidak bisa memaafkan mereka-
—— Bahkan sekalipun dalam situasi kebelet dan kepepet seperti ini.
"Lupakan. Aku malah akan menjadi bahan pembicaraan nanti. Itu-"
TAP, TAP, TAP..
"Hmm, bukankah ini sebuah kebetulan? Mengapa kau bersembunyi disini?"
"!!.. D, Daniel- mengapa..." Fonsius berbalik 180° secepat kilat tanpa suara seketika ia mendengar suara bisikkan sesosok ular di telinganya. Menjaga jarak dan berusaha diam, ia menunjuk ke arah Lewine dan Irvette.
"Ah, jadi begitu ya. Mereka kelihatannya sedang berkonflik. Apa ini ada kaitannya dengan mu?"
"!! Apa?" Fonsius terkaget dan tercengang. Menatap tak percaya, ia yakin sekali Daniel baru saja datang kemari dari belakangnya. Bagaimana ia bisa menebak apa yang terjdi adalah sesuatu yang tidak dapat dimengerti Fonsius.
"Hei, hei. Jangan melihatku seperti itu. Aku bukan seorang cenayang. Aku melihatmu bersembunyi dari kejauhan dan penasaran. Ternyata kau hanya ingin buang air seni ya?"
"Eh?" Fonsius menunduk ke bawah celananya dan melihat sesuatu berbau amis membasahi celananya tanpa ia sadari. Membelalakkan matanya, ia tidak berani melihat pemuda didepannya yang bereskpresi mengerikan licik.
Menelan ludahnya. Ia merasakan badannya bergidik. Pastinya, Daniel akan memanfaatkan situasi ini. Sialnya lagi, ia tidak bis melupakan Lewine dan Irvette yang berada di tengah koridor-- menghalangi jalannya.
"Kau mengompol? Itu berita buruk. Kau butuh bantuanku?"
"... A, Apa yang kau mau?"
"Disini sedikit ramai. Mari kita pergi ke tempat sepi. Ditambah, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu"
...**********...
THUMP!!
"!!! Ouch-" Fonsius merintih kesakitan saat ia jatuh ke atas lantai atap dengan ketinggian setengah meter. Syukurnya, ia tidak mengalami cedera sama sekali. "A, Aku.. tidak tahu kau bisa menggunakan sihir semahir itu"
"Aku ini bos mu. Apa kau perlu menanyakan sesuatu seperti itu?" Tanya Daniel sembari mendaratkan dirinya perlahan-lahan di lantai dengan sihir. "Aku jarang menggunakan teleportasi akibat Mana yang dibutuhkan cukup besar. Sayangnya tadi itu situasi terdesak. Berterima kasihlah sedikit"
Teleportasi adalah sebuah sihir yang dapat dilakukan oleh pengguna sihir tingkat tinggi. Itu adalah sebuah pertanyaan akan bagaimana pemuda dengan banyak rahasia ini dapat melakukannya. Fonsius sendiri yang sudah bersama dengannya cukup lama pun masih tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Susah dibaca. Fonsius sempat berpikir Daniel adalah makhluk luar angkasa yang asing. Terlalu banyak pertanyaan yang tidak ada jawabannya sama sekali.
"Gantilah pakaianmu. Kau terlihat menjijikkan dengan celana putih ternodai itu," ujar Daniel, melemparkan sebuah tas yang berisikan pakaian kerja satu setelannya.
Mengangkat badannya berdiri, Fonsius mengganti celananya dengan celana baru yang dilemparkan Daniel. Sempit. Ia tidak bergerak senyaman mungkin dengan celana cokelat ketatnya. Sewaktu-waktu, ia merasakan celananya dapat pecah kapan saja. Melirik ke dalam tas, ia dapat menemukan kemeja kuning muda yang terlihat sama sempitnya. Sepatu yang kekecilan pun tersedia disana, membuatnya ujung bibirnya berkedut sedetik.
"Um.. bolehkah aku tidak memakainya?"
"Kau tahu, selera fashion mu sangat buruk jikalau begitu. Kau terlihat norak. Bukankah itu lebih baik untuk menyesuaikan diri dan berbaur dengan yang lain?"
Kepala Fonsius mengangguk secepatnya sesuai insting. Mengetahui kelicikan Daniel, ia bisa menebak dirinya akan berada dalam situasi yang lebih buruk daripada dipermalukan apabila tidak menurutinya. Ditambah, sangat sering ia mengingkari janjinya dan memanipulasinya sesuka hati.
Itulah yang membuatnya lebih buruk daripada Lewine. Setidaknya Lewine terasa lebih bertanggungjawab sebab ia menepati janjinya. Dia bukanlah orang yang akan membuat sebuah janji apabila ia tidak bisa menepati janjinya.
Sambil memakainya dengan tidak senang, Daniel mengeluarkan sekotak korek api dari koceknya. Mengatakan itu adalah hadiah untuk ulangtahunnya yang sebentar lagi akan tiba, Fonsius kebingungan akan mengapa ia menerima hadiah yang sungguh tidak berguna darinya.
Terutama, bagaimana ia bisa mengetahui ulangtahunnya adalah sebuah misteri sebab sejauh yang ia ingat, tidak pernah sekalipun ia mengatakan pada siapapun tanggal ulangtahunnya.
Fonsius membuka kotak tersebut, mengecek isinya. Pupil matanya mengecil, melihat sebuah jarum yang membuatnya bergidik. Disampingnya terdapat sebuah anting panjang yang membuatnya bergetar.
"M, Mengapa kau memberikanku ini?"
"Tidak ada alasan. Anggap saja itu satu-satunya barang yang ku punya saat ini. Bawalah terus benda itu."
"!! J, Jangan bilang kau memasang alat pelacak.. Mengapa?"
Daniel menengadah ke langit, mengabaikan pertanyaannya. Memberikan jeda sekitar 3 menit, ia terkekeh geli dan mengganti topiknya. Memberikan isyarat padanya untuk tidak bertanya lebih lanjut.
"Kudengar sehabis ini kau diminta menemui guru baru itu bersama Lewine. Berbicara tentangnya, aku dengar ia mengancam Lewine untuk tidak macam-macam"
"... Dia.. memang sedikit menakutkan dan aneh. Tapi dia membantuku dari Lewine.. Aku pikir dia mungkin "
"Pfft- benar. Intuisimu masih bisa menangkap kejanggalannya ternyata tetapi kau masih saja bodoh." Ular bekulit manusia itu tersenyum sarkastik. "Yah.. Aku sedikit prihatin pada Lewine. Dia berada dalam situasi bak penjahat komikal yang dalam jalur manapun akan berkahir pada kehancuran. Aku rasa itu yang membuat Irvette sangat marah padanya."
"... Begitu ya," gumam remaja berambut perak. "Itu aneh mengapa dia tidak berhenti saja melainkan terus meneruskan hidupnya. Aku tidak mengerti"
"Itu bukan masalahmu. Kau mempunyai masalah yang lebih besar sekarang. Ingat tentang guru baru itu?" Daniel mengambil jarum yang berada di kotak korek api yang ada di tangan Fonsius dan membakar ujungnya. Membingungkan remaja di depannya, ia menanyakan pendapatnya tentang walikelas barunya.
Terus terang, Fonsius belum bisa mengutarakan pendapatnya. Belum mengenalnya. Ia barusan bertemu dengannya hari ini. Kesan pertama yang ia dapatkan adalah betapa kuatnya guru tersebut sampai ia bisa menangani Lewine dan membuatnya takut. Ada sesuatu yang membuatnya spesial dibandingkan guru lain yang memicu perhatiannya.
——Disaat bersama, hal tersebut memicu kewaspadaan Daniel, Lewine, dan Irvette sendiri.
"Menurutku dia adalah pria yang baik. Walau harus kuakui dia sedikit nakal, dia bukanlah orang jahat," jawab Fonsius. "Namun Lewine mengatakannya dia adalah sesosok monster yang menyamar menjadi manusia. Aku percaya guru baru itu tidak akan pernah menyakiti seseorang"
"Polos. Tidak hanya orang jahat yang dapat menyakiti. Mengesankan di hadapanmu dia terlihat sebagai pria yang baik. Dihadapan ku, dia terlihat seperti seekor laba-laba jadi-jadian"
Fonsius melangkah kebelakang selangkah dengan terkejut. Tidak hanya Lewine, melainkan bosnya pun merasakan sesuatu yang tidak bisa ia mengerti. Bertanya-tanya, ia penasaran mengapa guru tersebut mendapat kesan pertama yang buruk bagi keduanya.
"A, Apa di matamu dia terlihat seperti serangga menjijikkan?"
"Iya. Di mata Lewine, dia terlihat seperti seorang monster. Kau tidak akan mengerti walau ku jelaskan. Bilang saja monster dapat mendeteksi monster lainnya yang sejenis. Lucunya, bahkan ular sepertiku dapat menemukan betapa busuk dirinya di dalam"
...********...
Fonsius POV
Hari ini kau tidak perlu pergi bekerja. Sebagai gantinya, aku akan memberikanmu sebuah misi penting. Di anting yang kupasang di telinga kirimu, terdapat sihir pelacak dan perekam suara. Aku ingin kau menyelidiki pria itu dan pastikan anting itu tidak disentuh sama sekali.
Mengapa?
Dia adalah sosok asing yang datang ke desa ini tanpa ada yang mengenalnya sama sekali. Wajar saja kita harus waspada dan menginterogasinya. Bisa jadi dia adalah seseorang yang berbahaya bukan? Menurutmu, mengapa seorang guru terkenal dan ternama sepertinya ingin mengajar di desa kumuh ini?
.
.
... Haaa. Aku seharusnya tidak menyetujuinya. Ditempat pertama, aku dan Daniel tidak berada dalam posisi untuk menginterogasinya. Menurutku, itu kasar melakukannya pada guru tersebut.
Apa Daniel selalu paranoid? Tidak. Ini pertama kalinya. Sebagian dari diriku menganggap sikapnya hari ini tidak normal. Oleh karena itu, aku menerima tugasnya agar dapat lebih mengenal walikelasku dan memutuskan untuk diriku sendiri jikalau dia adalah sesosok monster atau tidak.
KRIEEtt..
"Cih, wajahmu menyebalkan? Dimana guru sialan itu?"
"!!!.. H, Hah?" Aku menoleh pada sosok lelaki berbadan besar dengan wajah yang lebam, memasuki ruang kelas. Dia kelihatan barusan di tinju sangat keras hingga gigi depannya copot.
Y, Yah.. aku mempunyai firasat Irvette yang melakukannya tetapi aku tidka bisa membayangkan bagaimana seorang gadis bertumbuh ramping dapat membuat Lewine si monster dalam keadaan ini.
"U, Uh... Em.. D, Dia belum datang"
"Tsk- tutup mulutmu. Aku juga tahu tentang itu. Kau pikir aku buta?"
...
.....
........ Kau baru saja menanyakannya. Pernah dengar yang namanya telinga?
Haaa.. aku tidak mungkin bisa mengatakan hal itu padanya. Kami akan bertengkar panjang lebar lagi. Lewine sudah cukup babak belur. Sebaiknya aku tidak memperburuk keadaannya lagi.
Aku tidak mempunyai simpati atau empati padanya. Aku pun tidak memiliki dendam. Amarahku telah habis dikeluarkan. Jadi aku tidak peduli lagi dengan yang kemudian. Percaya atau tidak, aku tidak menginginkan apapun darinya. Jikalau dia tidak menggangguku, jelasnya aku pastinya menjadi orang asing yang hidup dalam tenang sendirian.
Sayangnya, itu bukan fokus ku untuk hari ini.
TAP, TAP, TAP..
"Ah, kalian berdua tiba duluan ya? Duduklah kalian berdua"
Aku harus memeras informasi keluar dari mulut pria berjubah hitam di depanku ini. Jikalau tidak..
—— Tubuhku akan dilubangi lagi oleh ular berkulit manusia itu.