I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
SP 4: Unnamed fairytale



...Fairytale of The Forgotten One...



Sinopsis:


Siapa aku? seorang pengecut? seorang pemberani?


Tidak, aku tidak lebih dari hanya sekedar karakter figuran tak bernama dari negeri dongeng ini. Aku ini si penjahit baju yang tak bernama. Peranku tidak terlalu penting di negeri dongeng. Aku dilupakan..


Cinderella, Aurora, Pangeran Tampan..


Itu bukan cerita ku. Tapi aku senang hidup seperti ini. Sampai suatu hari, aku baru menyadari bahwa ada dunia lain yang mengatur kehidupan kami.


Sosok bernama Frajakub yang mendatangiku tiba-tiba sekali, menyuruhku untuk menjadi pemeran utama.


"Kau adalah seorang karakter. Aku adalah seorang pembaca dan temanku adalah seorang penulis. Sampai akhir perjalananmu, aku tidak akan memberikanmu sebuah nama"


—— Aku menjadi pemeran utama tak bernama.


...**********...


Hari ini adalah hari yang spesial. Hari ini ulang tahun ke-20 teman terbaikku, si penyanyi. Kami sudah berteman selama 15 tahun. Aku ingin memberikannya kejutan paling spesial untuknya.


Mendatangi rumahnya, ia membukakan pintu dan menyapaku dengan senyuman hangat. Aku menyanyikannya lagu ulang tahun sambil menari bersamanya di lantai papan kayu sebuah rumah kecil. Bersiap-siap memberikannya kejutan pada temanku, aku menyuruhnya menebak apa hadiahku tahun ini.


Temanku si penyanyi tertawa geli. Ia mengamati diriku dari atas sampai bawah, melihatku tidak membawa hadiah apapun. Dia menggaruk kepalanya kebingungan. Itu wajar saja dia tidak bisa menebak apa yang akan ku berikan padanya.


Ini adalah sesuatu yang spesial dan tidak dimilik banyak orang. Aku baru menyadari hanya beberapa orang tertentu yang memilikinya dan aku tidak mengerti mengapa. Bisa dikatakan mereka adalah orang-orang yang terpilih.


Oleh karena itu, aku pikir hadiah ini adalah sesuatu yang spesial. Tidak banyak orang yang menyadari bahwa mereka tidak mempunyai hadiah tersebut. Makanya...


"—— Gisella. Itu adalah hadiahku untukmu"


... Nama. Aku akan memberikan temanku sebuah nama.


Temanku membesarkan matanya terkejut. Ia mematung, menatapku tidak percaya. Ekspresinya yang baru menyadari apa yang terjadi hari ini sama persis dengan hari ketika aku menyadari aku tidak memiliki nama bukanlah seseorang yang penting di dunia ini.


"... T, Tidak... nama..ku... adalah si penyanyi..."


"Itu nama pekerjaanmu. Tapi jangan khawatir. Kau punya sebuah nama sekarang. Mulai sekarang, namamu adalah Gisella"


Nama adalah sesuatu yang spesial di dunia ini. Jarang sekali ada orang yang memiliki nama. Karena aku bukanlah siapa-siapa, itulah alasan mengapa aku tidak mempunyai nama.


Sebuah nama bukan hanya sekedar panggilan melainkan identitas yang menjadi milik seseorang. Nama adalah sesuatu yang begitu berpengaruh besar bagi kehidupan. Aku sendiri tidak mempunyai identitas dan bisa digantikan oleh siapa saja. Aku tidak masalah dengan itu sebab aku memang tidak pernah melakukan sesuatu yang sangat besar selain menjahit. pakaian satu kota ini.


Tapi temanku adalah seseorang yang spesial dan berharga bagiku. Aku tidak ingin dia digantikan ataupun dilupakan. Temanku si penyanyi, Gisella... Aku ingin terus mengingatnya.


.


.


.


Andai saja aku menyadari apa yang kulakukan, aku pasti dapat menghindari tragedi yang menimpa Gisella.


...**********...


Third POV


Seorang penjahit muda duduk di ruang kerjanya menjahit pakaiannya. Dia bernyanyi kecil sambil menjahit sebuah pakaian baru di pagi yang cerah. Selesai menjahit, ia mencoba memakai pakaian yang baru saja ia buat di depan cermin.


Di depan cermin, ia bisa melihat refleksi seorang laki-laki berusia 19 tahun memakai sebuah pakaian yang tidak pernah dikenakan oleh orang-orang di kotanya. Pakaian asing yang tidak pernah ada di kerajaan ini sama sekali.


Ia mencoba menggerakkan tubuh langsingnya yang tingginya tidak seberapa untuk mengetes kenyamanan pakaian yang ia gunakan. Ia kemudian menata rambutnya, menilai penampilannya di depan cermin dan fleksibilitas pakaian tersebut.


"Pakaian ini cukup nyaman dan rapi. Ini baru pertama kalinya aku membuat sebuah kemeja berkerah dan celana panjang seperti ini. Sangat berbeda dengan tunik yang biasanya aku pakai."


Penampilan barunya membuatnya tersipu malu, menyadari dia terlihat berbeda dari yang lain. Memikirkan komentar dan sindiran yang akan ia terima, ia buru-buru melepaskan pakaiannya.


"Ah.. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian. Sebaiknya aku tidak memakainya di depan umum"


TOK, TOK, TOK..


Penjahit muda itu tersentak mendengar ketukan pintu. Ia bergegas membukakan pintu dan melihat temannya, Gisella berada di depan, membawa keranjang penuh roti.


"Gisella, kau datang. Kau terlihat dalam suasana hati yang bagus hari ini," ujar si penjahit, mempersilakan Gisella masuk ke dalam.


"Tentu saja. Hari ini adalah hari besar. Semua orang di undang ke kerajaan untuk merayakan kelahiran putri Aurora. Bagaimana bisa aku tidak senang?"


Si penjahit tersenyum tipis melihat temannya bernyanyi riang sambil menari-nari, membayangkan bagaimana suasana di pesta nanti malam.


Meletakkan keranjang roti yang temannya bawa di meja makannya, dia ikut bernyanyi dan menari bersama temannya juga. Seusai itu, keduanya duduk di meja makan dan makan siang bersama.


"Hei, Gisella. Dipikir-pikir lagi, sudah 2 Minggu semenjak aku memberikanmu nama. Apa ada sesuatu yang berubah? Apa yang lain tidak menyadari namamu?"


Gisella terdiam sesaat, menopang dagunya. Menggeleng, ia menjawab tidak banyak yang berubah ataupun menyadarinya. "Aku hanya merasa lebih hidup dan energik. Namun.."


"Namun..?"


"Belakangan ini aku merasa ada seseorang yang menggerakkan ku dan memanipulasi pikiranku. Terkadang aku tidak bisa mengendalikan dirinya dan seringkali kehilangan kesadaran diri. Kau bertingkah tidak seperti diriku. Aku merasa para dewa... mencoba menulis ulang karakterku."


"!!!..." Si penjahit tertegun, menjadi cemas. Menanyakan apa dia baik-baik saja, Gisella menjawabnya dengan acungan jempol. "Sejauh ini aku tidak memiliki masalah hidup apapun. Daripadaku, bagaimana denganmu?"


"Aku?" Tanya di penjahit, menunjuk dirinya kebingungan. "Aku baik-baik saja. Aku masih menjalankan rutinitas hidupku yang normal"


"Tidak. Kau tidak melakukannya. Kau jarang sekali keluar rumah dari 2 bulan yang lalu. Belakangan ini kau juga jarang bernyanyi dan menari? Apa ada masalah?"


"Tidak. Aku hanya... "


Gisella mencondongkan badannya mendekati si penjahit yang ragu. Menariknya keluar tanpa menunggu jawabannya, si penjahit langsung berubah defensive dan menjadi was-was saat kakinya menginjak keluar rumah. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang salah.


"... G, Gisella- S, Sebentar. Aku belum mengambil j, jubah ku"


"Tidak masalah. Bersenang-senanglah sedikit, sobat. Bukankah hari ini hari yang cerah?"


"!!!..." Si penjahit menatap temannya aneh. Firasat janggalnya menjadi kenyataan seketika ia melihat Gisella menjawabnya dengan begitu ceria. Dia sudah mengenal temannya lebih lama dibandingkan semua orang di kota ini. Dia mengetahui bagaimana seharusnya reaksi temannya.


Dan orang yang berada di depannya sekarang bukanlah si penyanyi yang ia kenal. Melainkan sosok Gisella yang tidak ia kenal sama sekali.


"Hei, penjahit. Ayolah jangan diam saja! Menarilah!!" Seru perempuan bernama Gisella yang menariknya ke tengah kota. Berada di keramaian, ia merasa kepalanya akan pecah.


Dimana-mana, ia dapat menemukan semua orang bernyanyi dan menari di jalanan. Menyanyikan sebuah lagu yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Lagu itu muncul begitu saja ketika kami membuka mulut. Semua orang menyambung kalimat dari lagu tersebut seakan-akan lagu mereka sudah dengar berulangkali. Kenyataannya, lagu baru pertama kali dinyanyikan dan dibuat hari ini. Namun rasanya ada sebuah mesin yang membuat mereka secara otomatis bernyanyi.


——Seolah-olah lagu tersebut dibuat hanya untuk mereka.


Tidak hanya itu, seisi kerajaan ini bernyanyi dan menari hampir setiap hari. Semua orang melakukannya. Mulai dari tulang besi, anak-anak, hingga ksatria. Menyanyikan lagu yang sama sekali tak pernah ada tetapi secara spontan mereka langsung mengetahui seluruh lagunya.


Beberapa dari mereka yang mempunyai nama akan menyanyikan lagu yang berbeda, menandakan betapa spesialnya mereka. Bagaimanapun juga, mereka tetap menyanyi dan menari.


Namun itu bukan kasusnya untuk si penjahit. Ia tidak tidak dapat menyambung ataupun menyanyikan lagunya. Ia tidak dapat menari secara teratur dan mengimprovisasi supaya menyesuaikan yang lain.


—— Bagai ikan keluar dari air, ia merasa terpapar di daratan asing.


Meskipun demikian, dia tidak terlahir begini sejak lahir. Faktanya, tidak sampai beberapa bulan yang lalu ia masih bisa melakukannya. Hanya semenjak ia menyadari ketidakberadaan namanya sendiri, ia merasa sesuatu dari dirinya dirampas. Ia menyadari sesuatu yang tidak seharusnya ia sadari.


Semua orang di sini menari dan bernyanyi bahkan yang bernama. Itu bukanlah hal yang aneh atau sesuatu yang memalukan. Mereka tidak gila maupun tidak masuk akal.


——Satu-satunya yang aneh disini adalah mereka yang tidak bernyanyi, baik dia memiliki nama atau tidak.


".. Aku tidak mengerti mengapa aku merasa hidup di dimensi yang berbeda. Yah.. walaupun itu bukan masalahnya sekarang.."


Si penjahit menoleh pada Gisella yang melambaikan tangannya tinggi-tinggi. Tidak mengenal sosok asing yang sok ramah, ia merasa bulu kuduknya merinding.


Cara bicaranya sampai sikapnya... Ia tahu temannya lebih tulus, tenang, dan perhatian. Si penyanyi tidak akan pernah menarik pergelangan tangannya melainkan akan mengajaknya dengan halus.


Namun...


"Penjahit, kau melamun lagi"


"Maaf. Aku hanya sedang memikirkan kerjaan-"


"Kau berbohong. Aku tahu kau memikirkan sesuatu yang lain. Kau pikir aku sudah mengenalmu berapa lama? Mengapa kau berbohong?"


.... Si penyanyi yang sekarang masih mengenalnua. Sikap, kebiasaan, pola pikir, dan semuanya. Itu mengingatkannya bahwa di dalam Gisella, di suatu pojok kecil, temannya tidak menghilang sepenuhnya.


Ia menjadi lemah dan tidak berani menyakiti maupun melukainya. Sebagaimana pun, Gisella adalah temannya.


"Oh.." Gisella menundukkan kepalanya sedikit kecewa karena si penjahit berbohong padanya. "Sangat disayangkan. Selamat beristirahat kalau begitu"


Ia lalu berjalan pergi mengantarnya pulang. Melambaikan tangannya, ia langsung pergi lagi entah kemana meninggalkan si penjahit depan rumah. "Sobat, maaf aku tidak bisa menemanimu istirahat. Aku harus pergi bersiap-siap. Aku akan menceritakan apa yang terjadi nanti"


"?? Bersiap-siap? Untuk apa?"


"Huh? Pesta kelahiran putri Aurora tentu saja"


Sesaat, selintas pikiran terlewat di benaknya. Melupakan pesat yang ada, ia teringat betapa tidak stabilnya keadaan temannya saat ini.


"Ah.. ini akan menjadi bencana besar"


...********...


Diana POV


Namaku Diana. Sudah setahun semenjak kematian ku... Dan sudah setahun aku berada di dunia baru penuh keanehan. Aku perlahan sudah mulai terbiasa dengan rutinitasku disini.


Di dunia lamaku, aku mati tua dia usia 92 tahun. Aku sudah mempunyai cucu dan hidupku dipenuhi kebahagiaan yang berlimpah. Aku tidak butuh kehidupan ke-dua lagi sebenarnya. Aku sudah cukup puas. Lalu..


MENGAPA AKU KEMBALI MENJADI ANAK BERUSIA 7 TAHUN LAGI?!! AKU SUDAH MELALUI MASA KANAK-KANAK KU!! AKU TIDAK PERLU INI LAGI INI!!!


Apa ini hukumanku karena hidup terlalu bahagia dan tenang semasa aku hidup sampai aku harus bekerja setelah aku mati?!!


Sumpah- dunia ini pada awalnya membuatku kesal. Terlalu banyak peraturan disini. Terlalu banyak warna putih di dunia ini. Tidak ada tempat lain disini selain gedung-gedung putih. Aku bahkan sama sekali belum menemukan langit biru di dunia ini. Dunia ini aneh!


Setelah aku meninggal, aku dipindahkan ke dunia baru dimana semua orang dikategorikan menjadi 2 kelompok. Kelompok penulis yang pekerjaannya menulis dongeng, cerita, dan mengatur sebuah dunia raksasa bernama negeri dongeng. Mereka memainkan peran penting dalam membangun sebuah cerita. Intinya, seperti penulis biasa pada umumnya.


Kelompok lainnya adalah kelompok pembaca yang bertugas membaca dan menilai cerita mereka. Mengevaluasi, mengkritik, dan memperbaiki cerita mereka dengan memberikan saran dan tanggapan. Itulah tugas seorang pembaca.


Semua orang yang berada di dunia ini setidaknya pernah mati satu kali. Ingatan masa lalu mereka tidak menghilang menjadi debu. Tapi kami hampir tidak pernah membicarakan kehidupan masa lalu kami lebih lanjut di dunia. Jarang sekali ada yang mau menceritakannya. Kami hanya fokus dengan pekerjaan kami.


Aku tidak bisa mengatakan dengan pasti kalau kami bereinkarnasi ke dunia ini. Lebih tepatnya, arwah kami yang masuk ke dunia ini dan tidak setiap orang yang meninggal pergi ke dunia ini. Tempat ini bukanlah surga ataupun neraka.


——Ini hanyalah tempat kerja biasa.


Tidak ada yang tahu siapa dan kapan dunia ini dibuat. Tidak ada yang bertanya juga tentang tempat ini. Mereka hanya lanjut bekerja. Saat aku bertanya, mereka tidak akan menjawabku.


Bukan karena mereka tidak mau, akan tetapi mereka sendiri juga tidak tahu apa jawabannya sebab tidak ada petunjuk yang merujuk pada jawabannya di dunia ini. Jadi kami hanya bekerja saja.


Setiap beberapa tahun sekali, akan ada arwah baru yang masuk. Biasanya, jumlahnya sedikit. Tahun ini hanya ada satu dan dia merupakan dimasukkan ke kategori penulis.


Yah, bekerja disini itu juga tidak buruk-buruk amat. Aku tidak keberatan berada disini. Sayangnya, aku tidak bisa pergi menemui anak dan cucuku. Itu membuatku sedih. Aku hanya bisa pergi apabila sebuah gerbang bernama Hawra terbuka.


Hawra adalah sebuah gerbang yang menghubungkan dunia ini dan dunia asalku. Gerbang itu hanya akan terbuka di hari-hari tertentu. Contohnya saat hari arwah.


Hari arwah di dunia ini bisa dikatakan sebagai hari libur bagi semua orang disini. Itu karena mereka bisa berhenti bekerja dan pulang ke bumi, menemui keluarga dan teman mereka.


Semua orang disini baik pembaca dan penulis menantikan kedatangan hari itu. Itu wajar saja. Lagipula kami hanya mendapatkan hari libur satu kali setiap tahun. Aku ingin hari itu cepat tiba.


TAP, TAP, TAP..


"Dian, kau baik-baik saja? Ini adalah rapat pertama mu di Majelis Pembaca/Penulis Utama kan?" Tanya seorang pria tua yang menghampiri ku. Dia tinggi berkacamata dari kelompok penulis yang berkedudukan tinggi dan dihormati.


Satu hal yang aneh disini adalah, penampilan kami disini. Usiaku dan pria ini hampir sama. Tapi mengapa aku yang jadi cebol?!


"Rapatnya baru selesai, Satire. Aku mungkin kelelahan karena grogi tadi"


"Oh, kalau begitu, apa kau mau ikut makan siang denganku? Itu akan membantu mengisi tenagamu"


Walaupun begitu, semua orang disini kebanyakan ramah dengan satu sama lain. Satire adalah salah satu orang paling ramah yang ada disini. Kami dekat dengan satu sama lain. Jika tidak ada kerjaan, kami biasanya akan nongkrong minum kopi bersama.


"Boleh," jawabku sembari kakiku melangkah menuju kafetaria. Duduk di salah satu bangku, kami menunggu makanan yang kami pesan datang sambil membahas hasil rapatnya.


"Itu mengejutkan, bukan? Bagaimana dia bisa mendapatkan nama? Tebakanku, dia memiliki kesadaran akan dunia ini"


"Hmm, menurutku tidak. Tidak secepat itu patsinya, Dian. Gisella adalah anomali yang muncul di negeri dongeng. Kami para penulis tidak memiliki persiapan apapun karena ini pertama kalinya hal ini terjadi"


"Jadi.. apa rencana kalian para penulis?"


Satire memalingkan kepalanya. Dia kelihatan murung, enggan untuk menjawabku. Menjelaskan dia bukanlah orang yang ditugaskan untuk mengatasi kasus ini, ia tidak bisa menjamin karakter Gisella akan aman. Dia mempunyai firasat mereka akan menelitinya dan bereksperimen dengan mengacaukan personalitas asli karakter tersebut.


"Haaa... Aku hanya bisa berharap dia baik-baik saja walaupun aku yakin ceritanya akan menjadi tragedi"


Ah.. itu menjelaskan mengapa dia terlihat sedih. Satire adalah seseorang yang tidak menyukai tragedi. Meskipun begitu, dia tidak berada dalam posisi untuk menangani cerita Gisella. Dia ditugaskan di tempat lain.


Sungguh disayangkan. Aku harap Gisella dapat berbahagia pada akhirnya.


.


.


.


Oh, tungguh sebentar- Aku bisa membantunya. Bukankah para pembaca memiliki hak istimewa?


Penulis memang biasanya adalah orang yang mengatur cerita dan karakter dalam dongeng. Tetapi, pembaca sebenarnya juga bisa melakukannya jikalau adanya sebuah perjanjian dengan seorang penulis.


Ini adalah hak istimewa para pembaca untuk mengatur seorang karakter mob yang tak memiliki peran penting. Dengan syarat, tidak mengubah cerita yang berkaitan terlalu banyak.


Harus ditegaskan, ini semua bisa dilakukan apabila seorang pembaca memiliki persetujuan dari seorang penulis agar pembaca tersebut tidak ikut campur terlalu banyak dan membatasi banyak perubahan yang dilakukan.


Jika pembaca terlalu banyak mengatur, bukankah semua itu akan menjadi kacau balau? Yah, mereka bukan penulis. Cerita karakter mereka ataupun yang lain bisa hancur apabila kelewatan.


Aku akan membuat perjanjian dengan teman sekamarku(penulis baru) dan mengawasi Gisella dari sana. Ide bagus bukan? Menyelidiki kasus ini secara tidak langsung akan mengisi rasa bosanku.


"Hei, kapan mereka akan mulai mengaturnya?"


"Sekarang. Kudengar mereka sedang membuat konfliknya"


HAAAAH?!! APA?!!! AKU TERLAMAT SATU LANGKAH?!!!


...***********...


Third POV


Senja telah tiba. Si penjahit duduk di atas kasurnya, melihat keluar jendela jalanan sepi bak kota hantu. Semua orang telah pergi ke istana. Yang tersisa hanyalah dia yang stress memikirkan kejanggalan yang terjadi. Dalam kesunyian tersebut, ia samar-samar merasakan ada yang mengawasinya dari suatu tempat jauh.


Tidak dapat menyapu perasaan itu, dia mencari sumbernya. Sayangnya, mengikuti intuisi nya, ia berakhir di kamarnya sendiri dengan sebuah kotak kayu mencurigakan di atas kasurnya. Diperiksa dari segi mana, ia belum pernah melihat benda tersebut.


"Apa aku seharusnya membuang benda ini? Atau-"


TAK!!


"Eh?"


[Yo, rambut hitam mata biru! Kau bisa mendengarku?]


"!!!!!....." Si penjahit berbalik secepat kilat. Membelalakkan matanya saat melihat kotak yang berbicara, ia mengucek matanya. Ketika ia memastikan bahwa suara dari kotak tersebut bukanlah halusinasi, ia memiringkan kepalanya linglung.


[Jangan takut, penjahit muda. Aku butuh bantuanmu]


"!!!.. A, Apa kau seorang dewa?"


[ Tidak. Aku ini seorang pembaca. Kita akan bahas itu nanti. Sekarang kau harus ke istana dan mencari seseorang yang namanya Gisella?]


"!! K, Kau mengenal Gisella?" Tanya si penjahit. Setengah dari dirinya menjadi waspada, siap-siap melempar kotak tersebut dari jendela. "Apa urusanmu? Dia adalah temanku. Apa ini ada urusannya dengan nama nya?"


Sejenak, kotak tersebut terdiam terkejut. Tidak menyangka si penjahit menyadari dia tidak memiliki nama, kotak tersebut menanyakan sebuah pertanyaan.


[—— Kau.. Apa kau menyadari kau hanyalah karakter sampingan?]


"A, Aku tentu tahu aku tidak mempunyai nama dan berperan penting."


[... Lalu apakah kemunculan Gisella.. Kau juga penyebabnya?]


Si penjahit memalingkan kepalanya. Mengangguk pelan, kotak tersebut tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya yang mengesankan nan memuaskan.


.


.


.


[Itu bagus. Kita beruntung para penulis itu belum menemukanmu.]