I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Season 2 Episode 5: Buruk Rupa



Namsius POV


Nom écravain, Lecteur, dan dunia dari balik layar ya.. Alice menjelaskan semuanya dngan rinci. Semua petunjuk sudah berada di tempat. Jika kita simpulkan dan rangkai, semuanya terdengar masuk akal.


Nom écravain adalah seorang penulis dari dunia asalku, Lecteur adalah pembaca dan dunia dari balik layar mengartikan dunia ini adalah cerita novel di sebuah gadget. Pertanyaannya-


—— Mengapa Authornya sendiri ikut campur? Apakah dia menulis cerita dengan tema memecahkan 4th wall atau mungkin... dia hanya unik?


Aku tidak pernah membaca novel, terutama novel isekai yang karakternya dapat berbicara dengan penulis dan pembacanya secara langsung. Aku tidak tahu novel ini bahkan ada. Judulnya, jalurnya, genrenya dan apa yang akan terjadi, aku tidak tahu sama sekali.


Uh.. aku rasa novel ini tidaklah populer. Apakah pembacanya bahkan mencapai angka ribuan? Dari yang kulihat, dunia ini kelihatan sedikit..


.. Em.. tidak bermaksud menghina apabila Author yang membaca ini tapi dunia ini sedikit kacau balau.


Juga, mengapa kau membuat karakter dewa pencipta dunia ini sangatlah busuk dan licik? Author, kau harusnya berhenti menulis dan merenung sedikit. Nasib ceritamu terlihat muram.


Yah.. Aku tidak akan mengkutuknya. Baik aku berada di dalam sebuah cerita atau ada seorang penulis yang berada di balik layar- itu tidak penting.


Yang sudah terjadi, sudah lewat dan yang akan terjadi, tidak bisa dihindari. Aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku berada dalam sebuah novel.


—— Aku memiliki tujuanku sendiri dan terlalu sibuk untuk bertahan di dunia ini. Aku hidup di dalam ceritanya. Jadi.. aku rasa topik ini tidak perlu dibahas lebih lanjut.


CIT, CIT, CIT..


"Nam, jadi tentang apa suratnya? Apa itu penting? Apa isinya?"


"Ini urusan pribadi. Jangan ikut campur dalam urusanku"


"Cih, inilah sebabnya aku memintamu untuk mengajariku bahasa manusia. Kau bisa berbicara dan mengerti bahasa tikus. Ini tidak adil!"


Marcel mengerutkan keningnya, mengekspresikan rasa iri dan tidak senangnya secara terbuka. Mengabaikannya, aku menyender di kursi belajarku, menuliskan surat reapon untuk Alice. Pandanganku kemudian tertuju pada jam yang menunjukkan pukul setengah 5 sore, menandakan aku masih memiliki 3 jam sebelum kantor pos tutup.


Haaa.. beruntung sekali hari ini tempat kerjaku libur. Aku tidak perlu buru-buru pergi ke kantor pos.


Meregangkan badanku, aku beranjak dari kursiku dan pergi ke kamar mandi. Marcel yang melihatku berdiri pun mengikutiku dari belakang. Ia lalu berdiri di depan pintu kamar mandi, mendadak menghadangku-- tidak memperbolehkanku masuk. Melihat tingkah laku anehnya, aku langsung tahu apa yang terjadi di dalam.


"Nam, bisakah kau tidak masuk kesini?"


"Tidak. Pertanyaannya menjelaskan semuanya. Aku tahu kalian para tikus adalah hewan pengerat pemakan segalanya. Seberapa buruk kah kalian merusak barang-barang ku kali ini?"


"Uh.. kami tidak menggigitnya sampai bolong. H, Hanya sabun, handuk, dan-"


"Aku tidak mempercayainya. Pemakan oportunistik seperti kalian tidak mungkin melakukan itu."


Pantas saja mereka adalah pembawa penyakit dan hama bagi manusia dan hewan lain. Menurutku, tikus bukanlah hewan yang menguntungkan. Hewan pemakan segalanya sampai memakan bangkai manusia adalah hewn penghancur segalanya.


Mereka bahkan pernah mencoba memakanku. Mereka pernah menggigitku saat aku tidur. Di leher, kaki, pinggang, dan lenganku. Gigitan ganas dari hewan kecil ini tidak boleh diremehkan. Mereka adalah hewan yang berbahaya yang membawa penyakit.


Mereka beruntung auto-heal adalah kemampuan yang kumiliki. Sehabis mereka menggigitku, tanganku tanpa ragu mengambil pisau dan menusukkan nya ke leherku. Kemarahanku akan mereka mencapai puncaknya saat itu. Aku tidak pernah memaafkan mereka karena menggigitku.


Sayangnya, aku terpaksa tinggal di tempat ini bersama mereka. Mungkin sudah saat nya aku pergi dari sini. Aku tidak tahan tinggal bersama para tikus.


.


.


.


"... Haa.. baiklah. Aku akan mandi di lantai bawah. Bereskan kekacauan yang kalian buat nanti"


...******...


Author POV


Namsius mengayuh sepedanya menyusuri jalanan ibukota Byorgian. Langit jingga yang biasa ia nikmati di kerajaan Asyran terasa berbeda disini. Dari segi manapun, tidak ada satupun kemiripan diantara 2 kerajaan ini.


Kerajaan Byorgian adalah kerajaan maju dan kuat yang mengalahkan kerajaan Asyran di semua aspek dan bidang. Kerajaan ini memiliki hukum dan militer yang kuat, ekonomi stabil, serta lebih modern dibandingkan Asyran. Para koruptor disini pun lebih sedikit jumlahnya berkat hukum negara ini.


—— Apabila kerajaan Asyran terasa bagai dunia fantasi sihir bak cerita dongeng, maka Byorgian terasa seperti dunia nyata di awal abad ke-18 dengan campuran fiksi dan teknologi yang menengah.


Perbedaan diantara kedua negara ini membuat Namsius serasa dilemparkan ke dunia lain. Meskipun demikian, hidupnya tetap sama-sama susah dimana pun ia berada.


".. Dipikirkan lagi kerajaan Asyran sungguh-sungguh ketinggalan. Mereka bahkan belum ada yang namanya sepeda disana. Tema fantasi sihir dan fantasi historis tenyata berbeda jauh ya"


Mengingat tentang Asyran, ia mulai bertanya-tanya bagaimana nasib saudara-saudarinya. Saking sibuk dan tertekannya, Namsius hanya bisa bertukar kabar dengan Rumos setidaknya 2 bulan sekali dan dengan Alice 3 bulan sekali.


Dikarenakan telepati si kembar tidak berfungsi dalam jarak yang terlalu jauh, mereka menggunakan ruang penyimpanan mereka yang terhubung untuk berkomunikasi instan tanpa gangguan. Berbeda kasusnya dengan Alice, si kembar sepakat untuk berkomunikasi dengan Alice menggunakan surat.


"Oh, benar. Rumos akan pulang kampung tahun ini. Ugh, andai saja aku bisa pulang. Sayang sekali di sekolahku ada yang namanya pelatihan musim dingin."


Namsius menghela nafas panjang. Sepanjang perjalanan, pikirannya mengambang sembari kakinya mengayuh menuju kantor pos. Sesampainya di tempat tujuan, tubuhnya yang mengingat lokasi meja untuk mengirim surat sementara pikirannya masih di tempat lain.


Menggunakan otot memorinya, ia berhasil mengirim suratnya dengan benar. Namun, tetap saja ia tidak merasa seperti dirinya dan Out of Focus mengingat liburan musim dingin hampir tiba. Menyadari dirinya sedang berada dalam keadaan yang janggal, ia beristirahat di depan kantor pos sejenak dan menengadah ke atas langit.


Setiap hari, sebuah ******* lelah keluar dari mulutnya. Tidak tahu harus bagaimana, ia merasa ingin sekali kabur dari kota persaingan yang sengit ini.


".. Haaa.. Mengapa juga aku disini di tempat pertama? Aku tidak membutuhkan semua ini". Apa sebaiknya aku-"


TENG, TENG, TENG, TENG!!!


Namsius membuka matanya secepat kilat sewaktu telinganya menangkap suara lonceng yang beregema di satu kota ini. Pikirannya menjadi kosong dan semua permasalahan di benaknya terputus. Matanya melirik pada sebuah bangunan tinggi nan megah yang menjulang ke atas-- mencapai langit.


"A, Ah.. Lonceng pertama sudah bunyi? Aku tidak tahu jam makan malam sudah hampir tiba. Oh ya, aku punya janji dengan Dante hari ini. Aku sebaiknya pergi ke kuil Yrmos"


Namsius berdiri, meraih sepedanya. Ia kemudian pergi menuju bangunan yang tadi ia lihat dan memarkirnya di tanah lapang dekat daerah tersebut supaya tidak dimarahi oleh petugas disana.


Kuil Yrmos Amaranthine—— Kuil dewa kecantikan dan keramahtamahan, dewa Angus. Kuil ini adalah kuil tertinggi dan termegah di Byorgian. Kononnya, tanah di kuil tersebut adalah tanah suci sehingga hanya orang yang disucikan lah yang boleh menginjakkan kaki di tanah tersebut.


Oleh sebab protokol kuil Yrmos yang terlalu rumit, jarang ada orang yang pergi kesana. Mereka lebih memilih pergi ke kuil lain atau berada di rumah daripada mengikuti semua protokol tersebut.


—— Terkecuali satu orang yang berusaha sebisa mungkin mengikutinya demi menemui temannya yang bekerja di kuil Yrmos.


"SIAL, SIAL!! AKU TELAT- AKU HARAP DANTE TIDAK MARAH SAMA SEKALI!!"


Namsius terburu-buru berlari ke dalam kuil sehabis menjalani semua protokol yang ada di luar selama 15 menit. Masuk melewati pintu utama, ia lantas dihampiri oleh seorang pria paruh baya berpakaian serba putih. Dia adalah seorang pendeta yang selalu menyapanya setiap kali ia datang kemari. Baginya, Namsius adalah pelanggan setia yang paling sering datang ke kuil Yrmos.


Pendeta Peregrin Pascaline—— Pendeta dan pengurus utama kuil Yrmos Amaranthine. Dia adalah seseorang yang baik hati, mulia, dan dermawan kepada semua orang.


"Namsius Reiss, senang melihat anda hari ini."


"Pendeta Peregrin, anda juga telihat sehat"


Pendeta Peregrin tertawa kecil, berbasa-basi dengan Namsius sebentar. Ia mengajaknya berjalan menuju dekat tangga, menghindari keramaian sebelum diam-diam memberikannya sebuah kotak yang tertutup rapat padanya.


Namsius mengangkat alisnya dengan kebingungan, memperhatikan kotak tersebut. Akan tetapi, mengingat dia tidak memiliki banyak waktu, ia memutuskan untuk tidak bertanya pada pendeta Peregrin dan berterimakasih padanya.


"Jangan sungkan. Ini adalah hadiah dari dewa Angus karena telah menjaga dirimu dengan baik setiap hari."


"Baik, pendeta Peregrin. Terimakasih banyak"


"Haha.. Selamat menikmati makan malam mu nak!"


...********...


Namsius berjalan menaiki tangga yang panjang. Menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir, ia memutar sebuah kenop pintu yang berada di depannya. Seketika ia membuka pintu kayu di hadapannya, ia kemudian disambut oleh angin sepoi-sepoi yang mengelus wajahnya dan pemandangan ibukota Byorgian dibawah langit bernaung jingga merah muda yang mempesona.


Tetapi, apa yang membuatnya tersenyum lebar tidak lain adalah temannya yang menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.


"Hayo, Nam. Aba kabal mu? (Halo, Nam. Apa kabar mu?)" Tanya temannya dengan sebuah nada bicara dan pelafalan yang aneh.


Nam mengangguk, menjawab dn meminta maaf padanya karena telat melalui isyarat tangan. Temannya menggelengkan kepalanya, membalasnya dengan cara yang sama, mengatakan ia tidak masalah menunggunya. Mengajaknya makan malam, ia mempersilakan Nam untuk duduk di sebuah kursi batu yang ia pahat sendiri.


Dante Carlone—— Seorang pembunyi lonceng kuil Yrmos yang tunarungu. Ia tinggal di lantai menara paling atas, di sebuah kamar di kuil ini. Ditinggalkan di kuil ini sejak lahir, ia dibesarkan oleh pendeta Peregrin dari bayi.


Dante menghabiskan seumur hidupnya di menara lonceng. Terkecuali pendeta Peregrin, kebanyakan dari petugas dan penghuni kuil Yrmos tidak menyukai dan menganggapnya sebagai seorang pendosa berat karena kecacatan nya. Keberadaannya di kuil ini dianggap sebagai sebuah hinaan bagi dewa Angus.


Jikalau bukan berkat pendeta Peregrin, ia pasti akan diusir dari kuil ini atau dibuang ke sungai saat ia ditemukan di depan pintu masuk. Oleh sebab itu, Dante yakin sekali dunia diluar tidak akan pernah menerimanya dan kekurangannya.


Sejak awal, ia tidak pernah mengetahui alasan mengapa seorang manusia bisa berbuat kejam terhadap sesama manusia dan membencinya hingga berbuat banyak dosa. Kendatipun ia tuli, ia tetap tidak melakukan apapun untuk menerima hal tidak manusiawi tersebut. Itulah pikir nya.


.


.


.


Hingga suatu hari ia melihat ke dalam cermin dan tertegun melihat paras wajahnya untuk yang pertama kalinya yang tidak serupa dengan manusia lain. Apa yang ia lihat hari itu membuatnya tidak bisa berkata-kata ataupun menangis sama sekali. Pada akhirnya, ia pun mengerti mengapa semua orang berbuat begitu.


—— Seorang buruk rupa yang bungkuk dengan punuk besar menonjol di bahu kanannya mematung, menatapnya kembali dengan mata biru menyalanya.


Terbungkam, permukaan tangannya yang kasar perlahan-lahan meraba wajahnya yang berbentuk aneh nan tidak simetris. Benjolan besar di atas mata kirinya dengan dagu yang mundur dan milik kebelakang, rambut hitam kusamnya beserta giginya yang tidak beraturan dan besar-- membuatnya ketakutan akan penampilannya sendiri.


Ia tidak bergerak bagai orang mati dan menundukkan kepalanya beberapa saat, sebelum menggumamkan sebuah kata dalam hatinya.


.


.


.


—— Aku.. adalah sosok monster mengerikan yang hina. Para dewa pasti mengutukku sebab aku ini manusia yang berdosa.


Menerima kenyataan, air matanya tanpa bersuara mengalir dari pipinya, meninggalkannya dengan perasaan pahit.