
NAMSIUS POV
TAP, TAP, TAP...
Aku dan Rumos berjalan menuruni tangga Noro yang panjang. Tangga tersebut terbuat dari kayu dengan anak tangganya terjal sehingga kami harus berhati-hati dalam menginjakkan kaki.
Ini sangat sulit, terutama dengan tubuh berusia 3 tahun ini. Salah satu langkah dan hidup ku akan tamat di dunia ini.
Seperti kata pria dan gadis muda itu, kami ini menyedihkan dan masih kecil dengan tidak ada orang yang mengurus kami di Asa. Semua orang di Phari mengetahuinya.
Tidak banyak orang yang membantu kami? Itu kata yang sangat berlebihan- Mana ada yang mau turun kemari hanya untuk membantu kami. Bahkan ibu Fonsius tidak mau juga susah payah turun kebawah.
Sangat sulit tinggal disini. Ini tidak seperti novel atau komik yang kubaca. Aku bisa mengeluh sepanjang hari dan mengeluarkan sebuah buku yang berisikan keluhan ku akan dunia ini.
"Sudah kuduga aku tidak bisa mempercayai dewa Darumias," gumamku lemah
"Kau tidak akan membunuhnya lain kali kau bertemu dengannya?"
"Aku bukan pembunuh seperti mu. Hidup ini mengecewakan dan tidak memberikan banyak untuk kita. Aku tidak ingin dipersulit lagi dengan membunuh seorang dewa"
Rumos terkekeh kecil mendengar ucapanku. Dia melirik ku sekilas sebelum menggeleng kecil dan mengomentari sikap plin-plan ku.
"Yah, kau masih peduli dengan hidupmu rupanya? Ku pikir kau tidak karena kau mengikuti kata seorang pembunuh berantai. Kau sangat tidak stabil"
"Sama juga denganmu."
"Hmm, setidaknya aku sudah terbiasa hidup tidak stabil dalam kehidupan yang kubenci ini. Kau harusnya bersyukur aku ada disini"
"...Iya, kau adalah hadiah terburuk dan terbaik dari semua yang ku punya." Aku mendesah kecil, menyeret kakiku menuruni tangga.
Dia tidak salah. Finansial kami saja tidak stabil, apalagi hidup kami. Uang hasil menipu kami tidaklah banyak sehingga kami harus menghemat dan mencuri makanan.
Itulah mengapa Rumos mengatakan padaku untuk tidak mempedulikan yang lain. Karena kami sendiri juga kesusahan. Tapi apa itu berarti kami harus mengabaikan mereka yang kesusahan juga seolah-olah mereka tidak ada?
"Kita sampai. Ini ambillah- Aku mencurinya selagi kau sibuk menipu gadis muda itu." Sesampainya dibawah, Rumos melemparkan jatah makan malamku.
Kami duduk di halaman rumah kami yang dan memakan roti dingin sesuai jatah kami. Satu hal yang baru kusadari selama aku hidup disini adalah aku tidak pernah makan dengan kenyang selama aku hidup disini.
Dengan peraturan dan hadiah tidak berguna ini, aku tidak yakin hidup kami akan menjadi nyaman. Tidak ada jaminan sama sekali kami akan hidup lebih baik dan sederhana. Kami hidup miskin dan tidak punya peluang untuk masuk ke dalam masyarakat.
——Kami tidak cocok disini. Kami hanya dipaksa datang kesini.
Aku tidak pernah melihat seseorang yang bereinkarnasi sepertiku hidup sengsara seperti ini.
.
.
TIK, TIK, TIK..
"!!!?! Hujan? Sekarang? Kau pasti bercanda Aku baru saja sampai di rumah!!"
"Haaa.. sungguh hari yang menyedihkan."
Aku dan Rumos berlari masuk ke rumah. Kami mengambil uang, pakaian, dan barang-barang penting lainnya sebelum memasukkannya kedapal sebuah koper usang besar.
Biasanya, ketika hujan turun, Asa akan menjadi danau besar yang setinggi Noro. Rumah kami akan terendam dan terkadang hancur ketika hujan deras. Tentu saja bagi mereka yang diatas ini bukan masalah besar.
--- Namun bagi kami, musim panas yang sering hujan adalah mimpi terburuk kami. Itu karena semua yang kami miliki terampas habis dalam hujan.
Setelah membereskan semuanya, kami pergi dari rumah kami yang berjamur dan dipenuhi lumut. Meskipun rumah itu kumuh, tempat itu adalah satu-satunya tempat kami untuk pulang. Tiada yang bisa menandingi rumah itu di Phari.
Malam itu hujannya deras sekali. Kami duduk di anak tangga teratas sambil melihat rumah kami hancur untuk ke sekian kalinya dan barang-barang kami dibawa hujan hingga menghilang. Udara malam yang dingin membuat kami menggigil dan jalanan yang sepi membuat kami terasa waktu telah berhenti.
"Ugh, aku benci dingin. Nasib kita sungguh sial. Bereinkarnasi menjadi penjahat kaya dari keluarga bangsawan walaupun berujung kehancuran sepertinya lebih nyaman daripada rakyat jelata di tingkat terendah."
"Itu tipikal novel yang sering kubaca. Penjahat dan pembantu protagonis... Sayangnya, aku belum pernah membaca tentang mob yang tersiksa seperti ini. Hidup mereka sangat nyaman ya?"
"Itu karena mereka punya banyak kesempatan untuk berkembang. Orang seperti kita mana punya yang seperti itu. Uang itu setidaknya bisa menyelesaikan sebagian dari masalah hidup yang mereka punya"
Ah, uang, status, dan kesempatan.. itu ada benarnya juga. Mana ada yang mau mempekerjakan dan mempercayai anak sebatang kara miskin yang berusia 3 tahun?
Meskipun bertalenta, memangnya ada yang percaya? Malahan, rata-rata anak seperti itu malah dijadikan budak meskipun kemampuannya tinggi.
Seberapa keras kami bekerja, seberapa kuat kami berteriak-teriak-
—— memangnya ada yang peduli kalau kami begini?
Suara kami tidak akan sampai juga dan keberadaan kami dihapus setelah kami mati. Membantu protagonisnya?
"Heh, lucu- dewa itu menyuruh kita membantu orang lain walaupun kita sendiri dalam keadaan yang putus asa. Kita bahkan tidak bisa menyelamatkan diri kita sendiri"
Bagaimana bisa kami membantunya? Apa kami ini hanya kambing hitam agar yang lain bahagia?
".. Namsius, kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Aku mengatakan aku tidak bersalah bukan?"
"Iya. Kau berbohong padaku kan?"
"Memang. Tapi sekarang aku benar-benar tidak bersalah dan hidupku juga masih menderita. Dunia ini memang tidak adil dan sama kejamnya"
"... Jikalau dunia ini tidak kejam, hidup dan nasibku tidak mungkin setara dengan seorang pembunuh sepertimu"
Aku mengangguk kecil dan menengadah ke langit gelap gulita. Badan kami basah kuyup dan meskipun dimandikan hujan, bau kemiskinan kami tetap tidak menghilang.
Kami ingin terus percaya, dengan terus berjalan dan membantu Fonsius, kami bisa hidup sederhana. Tidak perlu hidup kaya dan mewah, sederhana sudah cukup bagi kami. Akan tetapi untuk dunia ini--
—— Apa keinginan itu terlalu egois agar dapat terwujud?
"Rumos, dewa Darumias itu.. pasti ada maksud tersembunyi lain kan?"
"Tentu saja. Aku hanya bisa berharap dengan membantu Fonsius, kita bisa hidup dengan nyaman"
".. aku harap itu bukan harapan palsu"
.
.
Atau begitulah diriku yang naif harapkan. Dunia ini tidak akan berhenti untuk satu orang mob. Seharusnya aku tahu dari awal-
—— Bahwa hidup nyaman dalam situasi ini masih jauh dari kata mungkin.
...********...
Dibawah langit subuh berbau hujan, Namsius dan Rumos duduk di tangga, kedinginan tanpa tidur. Uang, pakaian, rumah, makanan.. semuanya basah dan hancur karena hujan. Tidak ada yang bisa mereka lakukan juga selain menatap matahari yang terbit.
Pagi sudah tiba, hari baru sudah datang. Tetapi-
—— Mereka kehilangan hampir segalanya karena hujan dalam sekejap. Disapu air hujan yang mengguyur Asa.
"Aku sepertinya demam. Sistem kita hanya bisa mengobati kita ketika dalam batas ambang kematian kan?"
"Yah, itu menyebalkan. Tidak seperti dalam novel, hidup kita sangat sengsara"
"Itu karena kita berada dalam dunia nyata. Novel? Disini hanya sistemnya aja yang seperti novel. Sistemnya bahkan menyebalkan seperti katamu Namsius"
Rumos berdiri dan membuka bajunya, memeras kering pakaiannya. Namsius mengikutinya sembari mengeringkan uang dan barang-barang lain dengan hati-hati. Menoleh ke arah matahari yang telah terbit sepenuhnya, suara ayam berkokok lantang bergema di satu desa Phari.
——Hari baru sudah tiba, tetapi mereka merasa sangat pahit dari dalam melihat semua yang mereka miliki hampir dirampas diluar kemauan mereka.
"Kita tidak bisa makan atau ke dokter sekarang. Uang kita basah dan tidak bisa dipakai.. Apa kau mau berpura-pura sakit di depan umum?"
"Sakit? Kau terkadang bisa berguna juga disaat-saat seperti ini"
"... Aku tidak bodoh di tempat pertama."
Namsius mendekat ke telinga Rumos, membisikkan ide konyolnya. Rumos mendengar rencana tersebut dengan anggukan kepala, merevisi beberapa bagian dan langsung menyetujuinya dnegan satu syarat.-
"--- Aku yang berpura-pura sakit. Kau yang berteriak minta tolong. Mengingat desa ini terdiri dari orang-orang munafik, aku yakin mereka pasti akan membantuku agar mereka tidak terlihat jelek"
"Kalau begitu target kita adalah dokter desa ini. Jika kita pergi ke rumahnya tanpa uang, dia pastinya mau mengobati kita. Tapi kalau di depan umum..."
"Benar. Kita akan melakukan ini dipusat kota. Tepatnya di dekat rumah Fonsius"
"!!!... Lagi?! Hei, apa mereka target langganan kita atau apa? Aku merasa kita selalu memilih mereka sebagai korbannya"
Namsius menghela nafas panjang, enggan untuk menipu orang yang sama berulang kali. Meskipun begitu, ia tetap melakukannya karena ia mengetahui ini adalah cara termudah baginya untuk mendapatkan pertolongan.
—— Mereka tidak bisa hidup tanpa mengandalkan kebaikan orang lain.
Ada 2 alasan mengapa Rumos memilih tempat itu. Pertama, karena tempat tersebut adalah rumah dari orangtua seorang pahlawan yang merupakan pusat perhatian dari dunia ini nantinya. Kedua, karena sebentar lagi acara musim panas paling penting di kerajaan ini akan dimulai. Semua orang akan berkumpul di pusat kota untuk mempersiapkannya.
Hampir setiap tahun ketika musim panas akan ada turun hujan deras pada saat hari festival. Sudah beberapa kali festival dibatalkan karena hujan. Oleh sebab itu mereka yakin para warga akan bersorak merayakan hujan yang turun seminggu sebelum hari festival. Pusat kota akan ramai dan banyak orang yang akan berkeliaran disana hanya untuk merayakan hujan yang turun semalam.
—— Namun sedikit yang mereka ketahui, saat hujan turun membersihkan tanah Phari, dua anak dari Asa menderita di bawah mereka.
"... Rumos.. kau pikir mereka seriusan akan bergembira dan bersorak setelah hujan? Apa mereka tidak penasaran apa yang terjadi pada kita, rumah hancur kita, dan Asa?
"Apa ada yang peduli kalau rumah kita hancur? Dengar, mereka tentu saja akan bersorak makanya aku 1000% yakin kalau rencana ini akan berhasil."
"... Hanya saja- bukankah ini menyedihkan? Apa mereka benar-benar tidak peduli dan tidak menyadarinya?"
Rumos terdiam sebelum tertawa geli mendengar perkataan Namsius. Dari dalam ia menyetujui perkataan senasibnya. Namun ia tidak bisa mengiyakannya dan tertawa pahit sembari tersenyum masam mendengar pertanyaan yang sangat mengenai kebenarannya.
Pada awalnya, ia tidak menyangka sama sekali betapa dekatnya ia dengan orang yang akan ia bunuh di kehidupan selanjutnya. Akan tetapi--
"—— ketika 2 manusia berada dalam situasi yang sama, mereka entah akan bermusuhan atau bekerja sama. Aku bersyukur kau mau bekerjasama denganku bahkan sepemikiran"
"... Kau adalah seorang pembunuh yang tidak bisa dimaafkan dunia sebelumnya. Aku tidak tahu apakaha mereka akan bersorak ketika kau mati atau apa ada yang menangisi ku. Itu tidak terlalu penting lagi"
"Lucu- kita ini manusia juga. Tapi terkadang aku bahkan tidak merasa diperlakukan seperti manusia oleh manusia lain
"Aku tidak terkejut sekarang. Aku bahkan tidak terkejut kalau aku bisa sepemikiran dengan pembunuh sepertimu"
Namsius menatap Rumos yang terlihat kecewa. Sesaat, ia dapat membaca perasaan dan pikirannya. Menghibur orang yang dulu pernah ingin membunuhnya, ia menepuk pundaknya dan meratapi langit biru cerah.
.
.
"Kita masih bau ya? Bahkan sehabis hujan deras"