
Rumos POV
Aku duduk di tepi jalan bersama Namiel. Memegang surat dari Alice, aku membaca surat tersebut berkali-kali.
[Aku memiliki 3 berita penting hari ini. Pertama, mengejutkanku, Fonsius mengetahui sesuatu tentang ayah kalian. Entah darimana asal informasinya, salah satu anggota keluarga mereka berada di Phari. Sayangnya aku tidak tahu siapa.
Kedua, ba****an tak berlengan itu masih hidup. Ia kini bekerja sebagai guru di sekolah Fonsius dan adalah calon pahlawan terpilih untuk mengalahkan raja iblis. Memuakkan. Dia telah menjadi penyihir terkenal di negara ini. Aku ingin sekali membunuhnya.
Ketiga, ini sedikit blak-blakan. Aku Aku pun tidak tahu bagaimana ia bisa melakukannya. Aku diselematkan oleh Cendric yang mendadak muncul. Ia meninju wajahnya sangat keras dengan mudah sedangkan aku kesusahan payah melepaskan diri..Kelihatannya dia memiliki sesuatu yang tidak kita ketahui.
Rumos, bagaimana menurutmu Aku akan menunggumu di Phari?]
Tsk- Membuatku frustasi saja. Jadi sialan itu hidup tenang dan nyaman sekarang? Jangan membuatku tertawa. Dewa-dewi dunia ini pasti tidak waras. Dasar makhluk sialan! Aku akan membunuh semuanya jikalau aku bertemu mereka! Mengapa dia hidup?! Merepotkan!
Sekarang masalah kami bertambah lagi. Sudah ada protagonis jadi-jadian yang harus kami urus. Lalu manusia sialan itu beserta penciptanya ternyata masih hidup. di Phari. Adiknya Fonsius juga merupakan sebuah misteri yang harus diwaspadai.
Tidak terlupakan, ayah dan keluarga jadi-jadian kami masih hidup. Aku tidak tertarik dengan urusan keluarga maupun rindu dengan ayah yang dibicarakan keluarga kami. Dia bukanlah perihal besar. Masalahnya adalah orang yang sedarah dengan kami berada di Phari dan mengenal Fonsius. Terlebih lagi, bagaimana ia bisa tahu Alice ada hubungannya dengan kami? Siapa dia?
—— Selain Nam, aku membenci semua orang yang sedarah denganku. Dan aku tidak membenci tanpa alasan.
Dari kedua silsilah keluarga kami secara turun menurun, darah keluarga kami sangatlah kotor. Setiap orang bermain licik dan dapat menusuk satu sama lain dari belakang. Orangtua kami dan orang yang diberitahukan Alice adalah buktinya.
Aku dan Nam pun tidak terkecuali. Kami sama liciknya dengan mereka. Yang membedakan Nam dari mereka semua adalah fakta bahwa ia mudah digunakan dan diatur. Makanya, aku tidak mempercayai orang lain selain dia dan Alice.
Mereka adalah keluarga asliku.
"Termasuk kau Namiel. Kucingku yang berguna"
Namiel mengeong, setuju. Ia lalu melompat ke pangkuanku— mengisyaratkan seseorang yang kukenal sedang berjalan kemari. Segera, aku menyembunyikan surat itu di saku celanaku dan menurunkan Namiel. Berdiri, tanganku membersihkan celanaku dan memperbaiki postur tubuhku.
Hari ini adalah hari liburku. Seseorang yang kukenal mengajakku janjian. Jika dia adalah orang biasa, aku akan menolaknya mentah-mentah. Aku bukanlah orang yang akan membiarkan hari liburku terbuang begitu saja. Sayangnya, dia adalah orang terkenal di kerajaan ini dan teman satu sekolahku. Aku pertama kali bertemu dengannya ketika aku kecil.
"Rumos, kau sudah menungguku dari tadi?" Aku membalikkan badanku pada seorang perempuan muda berambut merah dan bermata hijau zamrud. Siapa yang tidak mengenalinya?
Note: Bukan gambar Author.
"Aku barusan sampai beberapa menit yang lalu, putri. Apa hari ini ada banyak orang yang mengerumuni mu?"
"Ah, tidak. Aku menggunakan sihir untuk menyembunyikan keberadaanku."
—— Putri Raelyn. Satu-satunya putri di kerajaan Asyran. Siapapun yang menikahinya adalah orang paling beruntung. Kekayaan tak tertandingi dan status tinggi.
Sayang sekali dia sudah ada tunangan. Aku pun tidak tertarik dengannya. Statusnya adalah apa yang kuperkukan. Aku tidak sungguh-sungguh berteman dengannya.
"Itu cara yang pintar, putri. Aku sangat iri kau dapat menggunakan sihir"
"Kau berlebihan, Rumos," ujarnya, terkekeh geli. Ia tersenyum manis, berterimakasih telah menerima janjiannya. Bagiku, pertemanan ini sekedar menghabiskan waktu luang. Aku masih bisa mencari orang lain selain dia.
"Jadi kemana kita akan pergi hari ini?"
"Berbelanja. Aku butuh bantuanmu"
Akan tetapi, baginya, pertemanan kami adalah sesuatu yang tulus. Seseorang yang menemaninya dan dapat diandalkan kapan saja. Seharusnya, aku dapat menolak meskipun dia adalah seorang putri. Namun, aku merasa prihatin dan menyedihkan melakukan itu setelah berteman dengannya cukup lama. Aku mungkin ketularan Namsius makanya aku dapat berpikir seperti ini.
Jangan salah sangka. Aku tidak akan pernah memposisikannya dalam keadaan sulit atau bahaya. Apabila dia terlibat bahaya karena ulahnya sendiri, maka aku akan menawarkan solusi. Itu saja. Masalahnya adalah masalahnya. Bukan masalahku.
Aku bukanlah orang yang akan lompat kedalam air ketika seseorang tenggelam. Aku adalah orang yang akan memanggil bantuan atau berpura-pura tidak melihat.
"Oh, apa kau berbelanja untuk musim dingin?"
"Iya. Aku berencana mengunjungi adikku Minggu depan untuk Gojamn"
!!!.. Dia juga akan kesana? Pangeran Eliot satu sekolah dengan adiknya Fonsius bukan? Dia seharusnya satu atau dua tahun lebih tua dari Fonsius.
"Sama. Aku juga akan menemui kakakku. Sekalian, Yulan memintaku melakukan salah satu tugasnya disana"
"Eh? Kau mempunyai kakak? Kupikir kau memiliki saudara kembar"
"Memang benar aku memiliki saudara kembar di Byorgian dan aku juga mempunyai kakak angkat. Kalian berdua seumuran"
Raelyn mengangkat alisnya, menopang dagunya. Berhasil menarik ketertarikannya, aku menceritakannya lebih banyak tentang Alice dalam skala umum. Menggunakan kesempatan ini, aku menanyainya tentang Eliot lebih dalam. Berjaga-jaga apabila dia mengenalku sebagai anak Asa.
Kami pernah bertemu keluarga kerajaan. Syukurnya, Raelyn kelihatannya tidak mengenali kami. Akan tetapi, ia samar-samar mengingat anak-anak Asa dan menceritakan pangeran Liam mengenal jelas kami.
"Yah.. adikku adalah seseorang yang baik dan ramah. Dia populer di sekolah. Dia terkenal karena keceriaannya dan keras kepalanya"
"Dia mirip denganmu. Apa dia mirip dengan pangeran Liam?"
"Haha, tidak juga. Maksudku, kau tidak salah. Bedanya, dia jauh lebih kekanak-kanakan dan sedikit ceroboh. Kemiripannya dengan Liam adalah mereka berdua seringkali berbicara tentang anak kembar"
Dia mengingat kami? Kupikir anak kecil ingatannya masih pudar. Bukankah ini gawat? Dia diluar dugaan ku.
!!!! Dia mengingat nama kami juga?!!
"A, Apa pange-"
"Oh- Steve dan Udin!"
.
.
.
Siaapaaa?
"Mereka.. anak-anak Asa..?"
"Entahlah. Seingatku, itu bukan nama mereka. Mungkin saja nama itu adalah nama anak kembar lain walaupun aku tidak ingat dia pernah bertemu dengan anak kembar lain"
"... Steve... dan Udin ya..."
Sesaat, aku merasakan sebuah kilas balik. Disuatu tempat aku ingat nama konyol tersebut pernah diucapkan Namsius sebagai nama samaran. Tak ku sangka nama itu akan menyelamatkan kami.
Pfft- ternyata pangeran Eliot tidak berubah ya. Eliot si idiot. Harus kuakui, dia miliki ingatan yang baik dan jernih. Aku akan mendukungnya menjadi raja apabila terjadi perebutan kekuasaan kedepannya.
Panjang umur pangeran Eliot!
"Putri, aku bersyukur dan lega kau memiliki adik sepertinya"
"Mengapa? Kalian pernah bertemu?"
"Lupakan. Cuacanya semakin dingin. Kita sebaiknya tidak berlama-lama disini. Ayo pergi berbelanja"
...**********...
Author POV
Namsius dan Angus berdiri di depan sebuah pintu di padang bunga. Melototi curiga pintu itu, Namsius mencoba membukanya dan melihat sebuah lorong gelap yang panjang. Saking panjang dan gelapnya, ia tidak bisa melihat apa yang diujung dengan jelas.
".. Kita akan pergi kemana?"
"Tempat aman. Masuklah" Dewa Angus mendorong Fonsius ke dalam lorong. Menutup pintunya, Namsius menoleh ke belakang dan melihat sebuah pintu yang ia lalui menghilang menjadi debu. "Yang lain sudah menunggu"
Namsius mengerutkan keningnya, membuat dewa Angus terkekeh. Mengikuti arahan dewa kecantikan Liawes, ia berjalan bersamanya berdampingan. Semakin ia mendekat ke ujung, ia merasa sebuah sensai hangat yang janggal.
Kakinya berhenti di tempat. Menanyakan kembali kemana ia akan pergi, ia merasakan sebuah Dejavu. Ia jera dipegang nasibnya oleh dewa Darumias. Ia tidak ingin dipermainkan oleh dewa lain lagi.
"Ada apa? Kau tidak enak badan?"
"... A, Aku merasakan sensasi yang sama sewaktu dewa Darumias melakukan salah satu perbuatannya"
"Pfft- tidak, tidak. Kami dewa lain tidak akan berbuat begitu" Dewa Angus, menjulurkan telapak tangannya, menawarkan dirinya untuk memandu Namsius. Memuakkan Namsius, ia menepis tangannya— memutuskan tidak pernah percaya para dewa lagi.
Mengejutkan dewa Angus, ia mengedipkan matanya. "Astaga.. Kelihatannya dia benar-benar jera akibat perbuatan Darumias. Memang keterlaluan sikap dewa itu.. tapi sampai-sampai tidak mempercayai dewa lain.."
——Namsius berada di level muak tingkat tinggi.
"Namsius, jangan cemas. Kami tidak seburuk itu untuk melakukan apa yang Darumias-"
"Aku harap begitu.."
"Maaf.. Kau pasti trauma. Aku tidak peka ya?"
Namsius tidak menjawab. Hingga sampai di depan cahaya, Namsius mengiyakannya singkat. "Aku tidak memintamu peka terhadap situasiku. Jangan mengasumsikan yang tidak-tidak"
"!!!..." Dewa Angus mengangkat alisnya. Mendesah lega, ia tersenyum tipis.
"Benar. Kami, para dewa bersyukur telah memilihmu. Mari kita pergi"
Namsius mengangguk pelan. Melangkahkan kakinya menuju cahaya, matanya terasa buta sesaat. Menajamkan pendengarannya, mendengar suara bisikan-bisikan sebelum pandangannya kembali jernih.
Ia menemukan dirinya berdiri sendirian di sebuah aula megah dan bundar, dimana semuanya diwarnai putih dan emas. Meja penuh makanan dan berbagai macam peralatan makan yang mewah tertata rapi.
"Apa yang-"
"KEJUTAAAAANNN!!!!"
Namsius membelalakkan matanya dan tersentak kaget. Mendengar suara yang menyambutnya dengan meriah, makhluk yang dikatakan sebagai dewa-dewi satu persatu muncul dihadapannya dari udara. Mematung, ia menoleh pada dewa Angus yang tersenyum hangat.
"Selamat datang di pantheon Arumas, Namsius"