I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
SPECIAL 1 (SP 1): Abor-- Apakah surat monolog seorang penulis akan dibaca?



...A Fool Guide To Live In World End...



Sinopsis:


[Apakah Anda pernah melihat pemandangan di akhir dunia?]


Abor-- seorang penulis sekaligus pecundang sejati nomor 1, mempertanyakan pertanyaan yang pertama kali ia dengar dalam hidupnya oleh seorang karakter di novel yang tidak pernah ia publish.


Melihat keluar jendelanya, matanya bertemu dengan kata 'kiamat'.


[Aku bisa membantumu, wahai si dungu. Asalkan kau mengubah jalur ceritamu, kau akan-]


"Omong kosong- Kau adalah penjahat dalam ceritaku-- Haesong! Sekedar karakter fiksi- Bagaimana bisa kau membantuku?! Aku pasti sudah gila!!"


[Lalu apa masalahnya jikalau aku ini hidup? Apa pemandangan di depanmu terlihat nyata? Aku bisa memandu mu untuk hidup. Tentu saja dengan syarat kau harus melanjutkan ceritamu hingga tamat.]


...*******...


Kepada siapapun yang membacanya,


Aku tidak pernah memikirkan bagaimana aku akan hidup atau mati. Tanpa personalitas, aku menjalani hidup mengikuti alurnya bagai anjing liar di jalanan. Aku tidak punya ambisi besar ataupun cita-cita seperti teman-teman sekelasku.


Tidak mengerti bagaimana cara bersikap atau bertata krama juga. Jarang berinteraksi dengan orang lain, aku tidak mengerti bagaimana berkomunikasi dengan mereka. Aku sendirian dan terabaikan.


Aku tidak merasa seperti seorang manusia. Bukan makhluk sosial, bukan makhluk hidup, bukan sosok yang kuinginkan sama sekali. Aku tidak ingin terlahir dan tumbuh seperti ini.


Aku adalah seseorang yang ceroboh nan bodoh. Tidak mempunyai latar belakang menyedihkan atau tragis, aku berasal dari rumah tangga yang tentram. Aku sangat menantikan diriku menginjak masa dewasa.


——Yah.. setidaknya aku dulu adalah seorang manusia.


Kini aku bahkan tidak tahu lagi apakah aku ini. Aku dipenuhi hutang, seorang pengangguran, tidak memiliki kekayaan ataupun kebahagiaan, kesepian, dan menyedihkan. Definisi seorang pecundang sejati yang gagal di dunia.


Tapi aku tidak ingin menghilang dari dunia ini bagai angin di musim panas. Aku berdoa setiap malam dan menulis sebuah cerita. Aku tahu ini bukanlah saat yang tepat, namun aku mengangkat penaku dan mulai menulis.


Tentang seorang pahlawan dan penjahat dari negeri yang jauh. Itu bukan cerita terbaik yang pernah ada ataupun cerita yang masuk akal. Aku berpura-pura aku mengarang sebuah mahakarya terbaik.


Konyolnya, aku menuliskan diri yang kuimpikan dalam sana. Karena dunia fiksi adalah tempatku untuk kabur.


—— Jika mimpi tidak terwujud, mengapa tidak berpura-pura saja?


Semua ini adalah fiksi. Aku adalah penulisnya.


Aku sedang menulis tentang diriku yang tidak nyata. Aku menulis dirimu. Perasaan yang tak tergapai ini sungguh indah.


Aku harap kau tidak menjadi sepertiku. Ini bukanlah akhir yang ku inginkan.


Oh astaga- Aku sungguhlah seorang pengecut. Tak ingin dilupakan, aku menulis sebuah cerita untuk kabur. Menulis sepanjang tahun dan bulan, dalam sebuah ruangan penuh sampah-- aku tetap menulis hingga saat ini.


Seperti apakah menjadi manusia itu? Aku tidak bisa berbicara dengan benar karena aku kini bukanlah manusia. Yah.. itulah mengapa aku menulis cerita.


Jika ada sesuatu yang menyentuh pikiranku, aku akan menulis sebuah cerita. Tidak akan ada yang membacanya. Akan tetapi menulisnya membuatku sedikit senang. Sebuah tawa kecil terkadang keluar dari mulutku tanpa kusadari.


Sayangnya, otot pipiku sudah lama mati. Mungkin itu karena aku adalah sosok yang buruk rupa. Setiap kali aku ingin ceritaku dipuji, sebuah kekecewaan dan ketidakpuasan berbaur rasa malu membuatku menundukkan kepala.


Aku tidak bisa bertemu dengan diriku yang kuinginkan. Jadi aku menulis serangakaian omong kosong di selembar kertas. Itu saja membuatku merasa bangga. Seakan-akan kesepian dan hidupku terisi dan bermakna.


Pagi, siang, dan sore, aku menulis hingga pingsan. Namun aku masih tidak merasa cukup. Aku adalah ornag yang serakah bukan?


Menulis, menulis. Tentang cinta, fantasi, tragedi, akhirat--- apapun yang membuatku ingin mengangkat pena ini.


—— Aku menuangkan semuanya dan memakannya kembali. Menjijikan.


Sembari aku membakar seluruh hidupku, suara pena yang mengenai kertas tak pernah hilang dari ruangan ini.


Aku tidak tahu apa arti dari semua ini. Aku tahu itu. Aku tahu itu sejak lama-- Namun, aku tidka bisa menyelesannya begitu saja. Aku bahkan tidak bisa mengatakan aku telah menyelesaikannya.


Di ruangan sampah ini, aku sekarat. Tanpa tujuan, aku menangis setiap kali aku menuliskan cerita ini.


Aku menyerah. Aku lemah. Aku mengakui bahwa aku ini hanya seorang pecundang.


Kepada siapapun yang membacanya, kuburkanlah ragaku di bawah pohon besar dekat stasiun kereta. Bakar lah ceritaku menjadi abu.


Maaf, aku membuang-buang waktu kalian.


^^^——Abor Candra^^^


...*********...


Sebagai permintaan maaf, Author menuliskan 7 Episode special. Cerita ini tidak ada hubungannya tentang cerita Namsius dan Rumos.


Author menulis ini sudah lama sekali di catatan Author tetapi masih belum sempat membuatnya menjadi sebuah cerita novel yang baik.


Semoga kalian menikmatinya!!