
Dori POV
Aku sampai di depan gua Ibalion. Rantai dan semua jebakannya masih terpasang. Tidak ada tanda-tanda ada orang yang datang kemari sebelum kami. Namun, ada sesuatu yang janggal disini.
—— Aku tidak merasakan ada satu makhluk pun berada di dalam gua ini. Naga di dalam menghilang?!
Bagaimana bisa? Itu tidak masuk akal. Bukankah jika naga itu lepas Ibaion akan hancur?
".. Yulan, apa kau menemukan jejak sihir?"
"Tidak. Tidak ada kejanggalan apapun di dalam dan luar gua."
"Eh?! Bagaimana ini bisa terjadi?!"
".. Entahlah. Apa kita harus mengabari rekan kita yang lain dulu?"
Aku menoleh pada satu-satunya orang yang berada di tempat ini selain aku dengan frustasi. Aku tidak pernah bertemu dengan situasi se-absurd ini.
Haaa.. ini buruk. Karena badai salju yang terjadi beberapa hari yang lalu, rekan-rekanku tertahan di tengah gunung menuju Ibalion. Satu-satunya orang yang berhasil datang kemari adalah pria jomblo ini yang merupakan penyihir terkuat di Asyran.
Sayangnya dia tidak berguna dan tidak bis membantu apapun untuk sekarang.
"Sial. Semua ini akan lebih mudah apabila Gwendoline dan Johnson ada disini sekarang. Sayang sekali dia tidak bisa datang karena anaknya"
"Yah, keduanya sangat pandai menemukan hal aneh. Aku yakin mereka bisa memecahkan masalah ini dengan mudah. Ngomong-ngomong, apa kau sudah pernah bertemu dengan anaknya?"
"Mengapa kita membicarakan anak mereka sekarang?"
"Karena kau dekat dengan Gwendoline, Yulan. Kudengar mereka mempunyai 2 anak"
Yulan mengerutkan keningnya, menyuruhku berhenti bercanda. Aku terkekeh geli dan tersenyum lebar melihat reaksinya. Ini mengingatkanku tentang masa-masa dimana aku dan rekan-rekanku selalu bersenang-senang setiap usai berpetualang.
Yah.. Kami semua telah pensiun dan menghidupi kehidupan kami masing-masing. Aku membuka sebuah restoran di ibu kota dan Yulan menjadi tukang sihir kerajaan terhebat. Dua rekan kami, Johnson dan Gwendoline pulang ke kampung halaman mereka dan menjadi seorang ayah dan ibu. Sisanya ada yang membuka usaha dan hidup normal dnegan kekayaan yang mereka dapatkan.
Jujur, hari ini aku mengharapkan reuni yang mengharukan. Tampaknya aku sedang sial. Mengapa harus hari ini?
"Ini sungguh-"
"UWAAAAAAAAH- MINGGIR!! MINGGIR!!!"
!!!!
EEEEEHHH?!!!
Aku mengangkat kepalaku ke atas langit, menemukan 2 bocah yang jatuh bebas dari ketinggian sekitar setengah stratosfer. Mereka terjatuh dengan kecepatan tinggi tanpa membawa apapun di badan mereka.
Sama seperti 2 bocah itu, rahang bawahku jatuh bebas ke tanah. Bola mataku terbelalak dan aku tercengang bersama Yulan yang sama ternganga lebar melihat bocah-bocah itu.
Apa yang terjadi disini?! Bagaimana bisa mereka terjatuh dari ketinggian itu?!! Mereka seharusnya berada di bawah gunung- Bukan puncak gunung tetangga!!!
Mengapa mereka jatuh bebas dari atas langit?!! Apa mereka gila?!! Itu berbahaya!!!
"NONA DORI- AWAAASS!!!!"
.
.
"—— Levirium Ratenus"
WHOOSH- THUMP!!
Suara hantaman kuat di atas salju terdengar. Namun, suara tersebut tidak bersumber dari 2 bocah tersebut, melainkan sosok sebuah prajurit dari batu yang mendarat di tanah dengan si kembar di tangannya.
Prajurit tersebut berubah menjadi batu biasa sehabis menurunkan si kembar dan kembali ke tempat mereka. Aku bergegas memastikan keadaan mereka dan mengehla nafas lega setelah melihat mereka selamat tanpa luka.
Jantungku hampir berhenti. Aku bersyukur Yulan bertindak cepat. Aku yakin aku akan pingsan apabila dia tidak ada disini.
"Kerja bagus, Yulan."
"Haaa.. Itu mengagetkan ku. Apa kau kenal dengan mereka?"
"Iya. Ceritanya panjang. Sebaiknya kita kembali ke Ibalion dulu"
...*******...
Namsius POV
Itu tadi ide terburuk Rumos yang pernah ia sarankan. Kami bersyukur Dori dan temannya menangkap kami agar tubuh kami tidak hancur berantakan.
Bagaimana bisa dia pikir cara tercepat untuk turun dari gunung adalah dengan terjun bebas dari ketinggian 25 km dari bawah tanah? Itu kejam.
"Mengapa kau tidak bisa memilih ide yang lebih baik?"
"Itu adalah ide terbaikku dan cara tercepat."
Haaa.. benar. Apa otaknya kehilangan sel? Aku lebih memilih untuk percaya dia melakukan semua ini untuk balas dendam padaku.
Lupakan- Aku akan memperbolehkannya kali ini karena aku menyeretnya ikut ke gunung sebelah. Lagipula sekarang kami memiliki masalah yang lebih besar.
—— Kini kami sedang diawasi ketat oleh Dori dan temannya di kota Ibalion yang tak berpenghuni bak kota hantu.
Terutama oleh pria yang menyelamatkan kami tadi. Matanya selalu melekat pada kami. Itu membuat kami merasa terganggu.
SREET-
"Baiklah, kalian sudah berganti pakaian dan makan bukan? Kalian siap menceritakan apa yang terjadi?" Dori menyodorkan 2 gelas cokelat panas kepada kami. Aku dan Rumos mengambil gelas tersebut dengan hati-hati dan berterimakasih padanya.
"Jangan sungkan. Minumlah cokelatnya. Minuman hangat biasanya akan menenangkan kalian setelah ketegangan yang kalian alami"
Aku mengangguk pelan, melihat gelas yang kupegang. Bau tajam cokelat yang menusuk hidungku membuatku teringat akan sebuah memori di tempat kerja lamaku.
Aku ingat murid-murid ku selalu suka dengan cokelat hangat yang ku buat. Aku selalu membuatkan mereka segelas cokelat hangat setiap hari hujan. Terkadang kami juga akan memakan camilan seperti biskuit dan kue.
"Oh, ada apa? Kau tersenyum nostalgia lagi. Mengingat masa lampau mu?"
"Uh-huh. Kau tidak?"
"Wow, apa kau sadar mereka masih mengawasi kita? Jangan berekspresi terlalu banyak. Carilah cara agar mereka keluar dari sini"
Mataku melirik pada 2 orang di depanku secara bergantian. Aku tersenyum kaku, merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka dan cepat-cepat mencari topik pembicaraan. Rumos memulai pembicaraannya duluan dari menanyai mereka langsung tentang temannya Dori yang mengawasi kami dengan aneh.
Dori memperkenalkannya sebagai tukang sihir terkuat kerajaan Asyran dan merupakan salah satu teman terpercayanya. Namanya adalah Yulan. Dia memiliki sihir dan Mana yang luar biasa. Hebatnya, dia masih berusia 20an tahun.
Apa semua pencapaiannya ia lakukan di usia 12 tahun? Ada sesuatu yang salah dengan umurnya.
Maksudku, aku tahu biasanya di novel genre fantasi banyak sekali pemeran utama yang mulai di usia remaja dan bahkan ada yang belum menginjak pubertas. Aku rasa ini sebuah toleransi.
Kalian tahu, aku di usia begitu saja masih bertingkah kekanak-kanakan sedangkan orang-orang ini sudah pergi memenggal kepala musuh dan mengincar harta karun. Ini sedikit tidak masuk akal bukan?
"Hei, hei- Ngomong-ngomong, kita belum kenalan benar-benar deh"
"Eh? Kami sudah memberitahukan nama kami dari awal"
"Aku lupa bocah. Aku Dori! Ini Yulan! Kalian?"
Rumos mengedipkan matanya beberapa kali dalam situasi absurd ini. Ia menoleh ke arahku sesaat dan tersenyum tak percaya dengan Dori sebelum menyuruhku yang menangani situasi ini tanpa perlu membocorkan satupun hal yang terjadi disini.
Namun, sebelum aku sempat membuka mulutku, Yulan yang sedari tadi terdiam mendadak menyelaku dengan sebuah hentakkan tangan di atas meja yang mengagetkan semua orang.
"Dori, bisakah kau bantu aku sebentar?"
"Apa?"
"Keluarlah dari ruangan ini sekarang."
EEEHHH??!!!
"Aku tidak mau. Ada apa denganmu?" Tanya Dori, menyilangkan tangannya.
Yulan tersenyum masam, menggelengkan kepalanya. Ia beranjak dari kursinya tanpa menjawab pertanyaan Dori dan membawanya menggunakan sihir ke ruangan sebelah secara terpaksa sebelum menguncinya.
"OI, KAU TIDAK BISA MELAKUKAN ITU!! APA KAU TIDAK WARAS?!!"
"Maaf, berikan aku waktu 2 jam"
"HAAAH?!! KAU PENYIHIR SIALAN- AKU AKAN MENGUBAH MU MENJADI DAGING CINCANG MALAM INI SAMPAI KAU TIDAK BISA MERASAKAN TUBUHMU LAGI!!!"
... Kini aku mempertanyakan dengan setengah serius manakah yang lebih gila, Rumos yang mendorongku dari stratosfer atau Dori dan kelompok petualangnya yang dinamis nan mencurigakan.
Aku dan Rumos bisa mendengar suara teriakan Dori dari ruangan sebelah. Kami menjadi lebih tidak nyaman dan mempertanyakan maksud apakah penyihir bernama Yulan. Sialnya, kami juga tidak bisa kabur meskipun kami tahu motif tersembunyi.
Sekarang di Ibalion sedang terjadi badai salju yang ganas.
TAP, TAP, TAP..
"Jangan takut, aku tidak akan menyakiti kalian. Aku memiliki urusan personal dengan kalian"
.
.
—— Tidak. Kalimat yang ia ucapkan sudah membuatku yakin 1000% dia mencurigakan dari segi manapun.
"Ru, bisakah kau prediksikan apa yang terjadi selanjutnya?"
"Dia ingin berbicara dengan kita. Kedu, dia ingin kita meminum cokelat ini karena dia menambahkan sesuatu di dalamnya."
"Oh, bagaimana kau tahu?"
"Insting. Seorang kriminal bisa mengetahui ketika seseorang melakukan hal yang sama."
Ups, tampaknya hanya aku satu-satunya yang paling normal disini. Seorang kriminal, penyihir, pendekar pedang, dan guru TK biasa.
Sungguh pemandangan yang tidak biasa.
"Oh ya, aku akan membiarkanmu menangani masalah ini. Aku sudah melakukan bagianku ketika mencari cara turun dari gunung."
"Apa?! Itu tidak adil- Kau selalu memebrikanku bagian yang merepotkan!!"
"Kau ingin aku membantumu? Oh.. baiklah"
SREET- BYUUR!!
Rumos mengambil gelas cokelat panasku dan melemparkan isinya pada Yulan yang hendak duduk di kursi seberang kami. Yulan tersentak kaget dan secara refleks menghindar. Tidak memberikannya waktu untuk melanjutkan reaksinya, Rumos melemparkan gelas miliknya pada Yulan dan menarikku ke ujung ruangan.
Yulan kini menangkap gelas tersebut menggunakan sihirnya. Ia terkejut dengan apa yang barusan Rumos lakukan dan mencoba mencerna situasinya. Menggunakan sihirnya, ia memgekang kami di tempat dan mendesah panjang.
"Kalian tahu kalian harus mengelap kursi itu nanti kan? Mengapa kalian tidak duduk diam dan meminum cokelatnya?" Tanya Yulan, mendudukkan kami diatas kasur dengan sihirnya.
"Yah.." Kata-kata ku tertahan dan mataku melirik Rumos yang memalingkan kepalanya. Setelah melempar gelas dan membuat kekacauan, yang dia sebut sebagai 'bantuan'-
—— Apa dia seriusan menyuruhku untuk membereskan semua ini?!
".. Ini adalah sebuah pengetahuan umum untuk tidak menerima apapun dari orang yang tidak dikenal dan tidak mengikuti orang mencurigakan itu. Bahkan anak 3 tahun saja mengetahuinya"
"Oh, kau pintar. Sudah kuduga.."
.. Apa maksudnya itu? Dia menduga kami?
"—Kalian berasal dari Asa bukan?"
!!!
Bagaimana dia tahu itu? Apa Dori memberitahunya? Tidak- Dori tidak terlihat berbohong. Lagipula, memgala dia perlu berbohong?
Kalau begitu darimana ia mengetahui asal-usul kami yang hampir tidak ada orang yang tahu. Dia tidak mungkin orang bawahan pak Edmond mengingat dirinya adalah penyihir terkuat Asyran dan rekannya Dori.
Seorang penyihir kuat yang mengetahui tentang tempat kelahiran kami dan Asa. Hmm.. Jika kita lihat melalui jalur novel fantasi, maka dia pastinya ada hubungannya dengan sang protagonis-- Fonsius.
Darimana aku mengetahuinya? Yah, ini tipikal novel dan sekedar tebak-tebakan saja. Maksudku, ini tidak menutup kemungkinan dia akan berinteraksi dengan Fonsius.
Kalau begitu, salah satu kesimpulan bagaimana dia mendapatkan informasi latar belakang kami adalah-
"... Apa anda mengenal Johnson Farrel dan Gwendoline? Apa mereka memberitahukan anda tentang kami?"
—— Melalui orangtua Fonsius.
"!!.. Kalian mengenal mereka? Ah, benar. Phari dan Asa.. itu masuk akal kalian mengenal mereka."
!!!? HAH?! Aku salah menebaknya? Tunggu lalu darimana dia mengetahui kami berasal dari Asa? Kami belum pernah bertemu dnegan manusia ini seumur hidup kami.
"Tapi, bagaimana kalian mengetahui aku mengenal Johnson Farrel dan Gwendoline? Mereka dan Dori tidak mungkin memberitahu mereka kan?"
Yulan menopang dagunya dan bertanya dengan nada yang bercanda. Dia sedang mengetes ku dan Rumos sengaja tidak ingin membantu sama sekali. Entah apapun alasan mereka berdua, situasi ini sangat memusingkan kepalaku.
Aku telah menggali kuburanku sendiri. Bagaimana ini?!!
".. Kami menebaknya dari pekerjaan kalian. Kami hanya berasumsi kalian mengenal satus sama lain. Bagaimana denganmu?"
Yulan tersenyum tipis, tidak menjawabku. Senyuman itu seakan-akan mengejek dan menantang ku untuk menjawab pertanyaanku sendiri. Sayangnya, aku jujur tidak mempunyai banyak petunjuk dan hampir menyerah menebak.
Kepala desa? Tidak. Kalau orangtua Fonsius tidak memberitahukan kami padanya, mengapa dia perlu?
Pak Edmond? Tidak ada alasan. Satu sirkus Danaji tidak mungkin bertemu dengan Yulan.
Orangtua Fonsius? Tereliminasi.
Keluarga Kerajaan? Mungkin. Walaupun aku tidak yakin dia bisa menebak kami berasal dari Asa hanya melalui cerita mereka. Terkecuali dia bisa melihat ingatan mereka dan mencari wajah kami disana.
Nah, jalan buntu. Aku tidak mempunyai cukup petunjuk. Ugh, menyebalkan.
Haaaa... Tidak- Mari kita pikirkan sekali lagi. Otakku tidak boleh menyerah tengah jalan.
Dia mengatakan dia hanya dia memiliki urusan personal dengan kami. Artinya dia entah bagaimana caranya, dia mengenal kami dan memiliki urusan pribadi. Lalu--
.
.
!!!!
Tunggu sebentar- Apa ini artinya..
".... T, Tuan, anda mengenal orangtua kami?"
"Tepat! Kau mirip sekali dengan 'pria' itu. Jadi bagaimana kabar orangtua kalian?"
.
.
Sebentar-sebentar, apa yang baru saja terjadi?
Penyihir ini mengenal orangtua kami? Bukankah orangtua kami rakyat jelata biasa?
Dipikirkan lagi, kami tidak pernah mengenal mereka ataupun bertanya tentang mereka. Ini mengejutkan.
Kami bahkan tidak mengenal nama ibu kami dan mengingat satupun hal tentang ayah kami. Mereka hampir tidak memiliki peran apapun dalam hidup kami.
Plot twist mengerikan apa ini?!!