
Namsius POV
Matahari telah terbenam dan dari suatu tempat, aku bisa mencium bau masakan kari yang nostalgia. Malam turun ke Byorgian, semua orang bergegas pulang ke rumah-- menemui keluarga mereka. Lentera satu per satu mengisi satu kota ini, menerangi malam.
Menyelesaikan makan malamku, aku mulai bertanya-tanya akan rasa martabak telur di pinggir jalan yang kumakan sesekali sepulang kerja masih terasa sama. Aku masih mengingat rasanya dengan jelas.
Itu lucu sekali bukan bagaimana hal kecil seperti ini bisa melekat di benakku. Padahal aku tidak lagi di dunia itu. Aku ingin tahu bagaimana kabar penjual martabak keliling itu bersama keluarganya. Apakah pekerjaan mereka lancar? Apakah ia mengingatku?
... Pastinya tidak. Ini konyol aku mengingat ingatan ini pada waktu yang absurd.
TAK-
!!!
Aku mengangkat kepalaku, mendengar suara sendok kayu yang terjatuh di atas mangkuk porselen. Melihat makanan di mangkuk Dante sudah kosong, aku menunduk melihat makananku yang belum habis. Menyuap masuk makananku ke dalam mulutku, aku melicinkan makanan yang dimasaknya.
Haaa... Tak bisa dipercaya! Ada apa denganku belakangan ini? Aku tidak fokus dengan apa yang ada di depanku?!
'Nam, apa makanan hari ini enak?' Tanya Dante, menggunakan isyarat tangan.
'Tentu saja. Kau adalah seorang koki yang hebat.'
'Haha, itu bagus. Kau akan ikut kamp pelatihan musim dingin lagi tahun ini, bukan? Kau sebaiknya makan yang banyak'
Dante tersenyum lebar, memberikan sebuah apel untuk makanan penutup. Ia lalu membawa piring-piring kosong ke dapur sementara aku membersihkan meja dan memotong apel untuk kami berdua. Seperti biasa, kami akan berbincang-bincang sehabis makan malam sembari menunggu pukul 7 malam tiba.
Dante duduk di kursinya, membersihkan telapak tangannya. Ia mengambil sepotong apel yang kuletakkan di atas piring kosong dan memasukkannya ke dalam mulutnya tanpa digigit. Terkekeh geli, aku memesannya berhati-hati untuk tidak tersedak dan memakan sepotong juga.
Tak terasa sudah hampir setahun semenjak pertemuan awal kami pada suatu hari hujan di musim semi. Pertemuan kami sederhana dan sekedar saling menyapa. Aku sedikit terkejut saat melihat wajahnya namun tidak sepenuhnya takut.
Kami bertemu di belakang gerbang kuil Yrmos. Hari itu aku sedang mencari tempat bertedu. Belum sempat menemukan satu, hujan sudah turun deras sekali dan pakaianku basah kuyup. Melihat tidak ada kemungkinan lagi untuk pulang dalam keadaan kering, aku membawa tubuhku yang menggigil terkena hujan pulang.
Di tengah jalan, sesosok siluet di belakang kuil menarik perhatianku. Awalnya, aku berencana mengabaikannya dan langsung pulang. Aku berjalan melewatinya tanpa mempedulikannya sama sekali.
... Yah, tidak sampai ia tiba-tiba diteriaki dan ditendang oleh segerombolan murid. Tanpa pikir panjang, aku memberhentikan langkah kakiku dan buru-buru mengusir murid-murid tersebut. Sayangnya, itu malah berakhir buruk.
—— Aku dan Dante dijadikan babak belur oleh mereka. Itu bukanlah ingatan yang menyenangkan.
'Nam, ada apa? Mulutmu cengar-cengir dengan lebar'
'Oh, aku hanya mengingat pertemuan pertama kita. Kau tahu, hari dimana kau sedang membuang sisa sampah di gerbang belakang. Aku beruntung bisa bertemu denganmu hari itu'
'!! Uwaah- kau mengingatnya?! Itu.. sedikit memalukan aku kabur meninggalkanmu sendirian setelah kau membantuku.'
'Hehe, jangan cemas. Aku tidak marah.'
Dante menundukkan kepalanya, merasa bersalah. Itu bukan salahnya dia langsung kabur sebegitu aku melihat wajahnya. Dia pasti diperlakukan buruk karena wajahnya sehingga ia tidak ingin diketahui.
Aku berlutu di depannya dan memeluknya supaya dia tidak merasa kecewa. Ia pun memelukku erat dengan tangan kuatnya dan mengubur wajahnya di bahuku. Dia memiliki tenaga yang besar dan lengan yang kekar nan padat. Walaupun dia bongkok dan pendek, dia lebih kuat dari yang terlihat.
"Nam, alu minya mahaf dan beyimakashi. Hau atala olan yua petama hang menehinyaku apa adhanya. Aku senhan kau atala temahnku. (Nam aku minta maaf dan berterimakasih. Kau adalah orang luar pertama yang menerimaku apa adanya. Aku senang kau adalah temanku)"
Dante melepaskan pelukannya tidak lama kemudian, menunjukkan sebuah ekspresi tulus. Mengangguk kecil, aku mengucapkan terimakah padanya menggunakan bahasa tangan. Terharu, temanku yang lebih tua 4 tahun dariku lalu mulai menangis, membuatku terkaget-kaget. Aku mengelus pundaknya, menenangkannya.
'Hiks.. Hiks.. Nam, kau adalah orang yang baik. Kau datang kemari dan belajar bahasaku agar bisa berteman denganku-- menghabiskan waktu mu yang berharga dengan orang cacat seperti ku. Aku harap aku bisa membantu dan membalasmu juga'
'Itu tidak perlu. Aku senang kau menjadi temanku yang tulus. Kau adalah teman pertamaku di ibukota. Sejak dulu, aku sudah bisa berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Kau tidak perlu sungkan Dante'
Dante mengusap air matanya, menunjukkan gelak manis yang membuat jantungku berhenti sedetik.
'Terimakasih, Nam. Aku senang melihat seseorang seperti mu ada di dunia ini'
Mataku melebar, menjadi berair. Kepalaku menengadah ke langit-langit menyembunyikan sebuah perasaan yang kangen.
Sesaat, aku merasakan sebuah dejavu. Dia mengingatku akan seseorang yang pernah ada dalam hidupku. Sayangnya, aku hanya bisa mengingatnya samar-samar.
Aku yakin dia tersebut tidak terlalu penting dalam hidupku. Aku tidak mengerti mengapa aku bisa mengingat sesuatu sekecil itu.
.
.
.
Apa yang sebenarnya kulakukan untuk membuat orang dalam ingatanku mengatakan hal yang sama seperti Dante?
...******...
Author POV
Bumi, Indonesia, 25 Desember 20XX.
Di suatu hari hujan, seorang pemuda di usia 20nya sedng menunggu di bawah atap kanopi di depan gerbang tempat kerjanya. Melihat jam tangannya menunjukkan pukul 6 sore, ia menghela nafas panjang. Hujan deras yang mengguyur bumi membuatnya resah.
"Astaga- Aku tidak bisa pulang. Sekarang sisa aku sendiri di sekolah. Guru-guru dan satpam sudah pulang pakai motor dan mobil. Sayang sekali aku masih belum punya SIM"
Pemuda tersebut menyilangkan tangannya dengan jengkel, menengadah ke atas langit. Memejamkan matanya, ia bersenandung kecil sembari menghangatkan tangannya. Tak diduganya, ia merasakan sebuah ketenangan di dalam situasi tersebut dan terhanyut dalam pikirannya.
"Ah, aku pengen makan sesuatu yang hangat. Enaknya makan Indomie soto kalau-"
CELEPAK!!
.
.
.
——Sampai 3 menit kemudian ia mendengar suara cipratan air dari ujung jalan yang membuatnya ditarik ke realita.
Ujung alisnya berkedut sekali dan matanya melirik pada sebuah cahaya lampu LED 25 Watt yang menuju ke arahnya dari jarak yang jauh. Karena hujan terlalu deras, ia tidak bisa mengetahui apa yang ada di ujung jalan. Ia hanya tahu seseorang ada disana.
Semakin dekat cahaya tersebut maju, ia mengedipkan matanya beberapa kali saat melihat seorang pak tua berjas hujan sedang mendorong gerobak kecilnya yang tergantung lampu terang yang meneranginya di bawah hujan. Menopang dagunya, ia menjadi kebingungan akan kemana tujuannya.
"Hei, hei- pak! Apa kau bisa mendengarku?!!" panggil si pemuda smabil melambaikan tangannya. Ia berusaha mengajak pak tua tersebut berteduh bersamaan sesaat hingga hujan redah. Akan tetapi, suaranya tidak terdengar olehnya.
Menunggunya berjalan sedikit lebih dekat, ia pun memanggilnya kembali. Ia berteriak sekuat tenaga agar suaranya tidak terpendam dari hujan. Namun, pak tua tersebut masih tidak bereaksi sama sekali dan tetap berjalan maju--- Bahkan sampai ia berada di depan matanya.
Setelah mencoba beberapa kali, ia mulai merasa usahanya sia-sia dan menyerah. Ia merasa sedang berbicara dengan dinding yang tidak bisa meresponnya kembali.
Di satu titik, ia malah sempat mengira sang pak tua adalah sesosok hantu yang sedang berkeliaran di hari hujan. Tapi ia mencoret kemungkinan tersebut sebab ia tahu tidak mungkin ada hantu yang berkeliaran menjual martabak.
Jikalau ada, hantu tersebut pasti lebih menyedihkan dari makhluk apapun yang pernah ia temui.
"Haaa.. ya ampun. Tenggorokanku sakit. Ini mustahil memanggilnya kemari. Aku menyerah!!"
Pemuda itu memegang tenggorokannya yang perih. Ia berjanji dalam hati ia tidak akan pernah mengulangi usaha mustahilnya kedepannya lagi.
Menyisingkan lengan panjang nya, ia menarik nafas dalam-dalam sebelum kakinya berjalan menghampiri pak tua tersebut sambil melambaikan tangannya tinggi-tinggi di depannya. Berhasil menangkap keberadaannya, sang pak tua memberhentikan gerobaknya dan memiringkan kepalanya.
Sang pemuda lantas menghampirinya dan mengajaknya berteduh di bawah kanopi. Tetapi kata-katanya berhenti tengah jalan seketika ia menyadari hal yang janggal.
Matanya melihat ekspresi sang pria terlihat kebingungan dan tidak mengerti apa yang dikatakan. Sang pak tua menjadi was-was, sedikit ketakutan akan apa yang terjadi sembari mulutnya mengucapkan sesuatu kata yang tidak jelas. Menjeda kalimatnya dan mengamati situasi, ia kemudian mengerti apa yang terjadi dan menggunakan tubuhnya untuk mengisyaratkan maksudnya.
Menunjuk ke arah gerbang sekolah TK, pak tua tersebut baru menyadari maksud sang pemuda dan mengangguk cepat. Ia lalu mendorong gerobaknya menuju gerbang sekolah bersama sang pemuda sehabis mereka saling mengerti.
Sesampainya di bawah kanopi, pak tua tersebut berterimakasih padanya dengan nada yang aneh. "Mahaf, aju melepotan. Ahua kau dahi tafi mehcola memanhil ku? (Maaf, aku merepotkan. Apa kau dari tadi mencoba memanggil ku?)"
Sang pemuda mengangguk, berusaha tidak canggung. Walaupun ia sudah menduga bahwa orang disampingnya tidak bisa mendengarnya, ia tidak tahu bagaimana ia harus bersikap saat bertemu seorang tunarungu untuk yang pertama kalinya.
Meskipun tidak kelihatan karena tubuhnya basah sepenuhnya, ia sejujurnya sedang berkeringat dingin dan merasa gugup setengah mati sampai ia tidak tahu harus berbicara apa.
Seorang pria tua tunarungu mungkin di usia 60an sedang berdiri disampingnya. Ia tidak ingin menyinggungnya sama sekali karena kebebalannya. Disaat bersamaan, ia tidka ingin situasinya terus canggung.
"Nak, ahu tuli. Tidah bisha dengal. Tidah bisha baja ataocun tuhis. Tak hua ini cidak secoyah Maahf melepotan. (Nak, aku tuli. Tidak bisa dengar. Tak bisa baca ataupun tulis. Pak tua ini tidak sekolah. Maaf merepotkan)"
"!!..." Sang pemuda terdiam. Wajahnya menunduk ke bawah, tidak tahu bagaimana meresponnya. Bahkan dengan suara anehnya, ia tahu apa yang disampaikannya. Ia tahu apapun yang ia katakan, pak tua disebelahnya tidak akan bisa mendengarnya.
"Ah.. Hau fuhlu dishimi? Aku behyum pehna meyihamu. Bayu mahuk ha? (Ah.. Kau guru disini? Aku belum pernah melihatmu. Batu masuk ya?)" Tanya pak tua itu, menunjuk ke gedung putih tinggi di belakangnya.
Sang pemuda mengangguk tanpa suara. Menyembunyikan rasa sesaknya dan memaksakan senyuman tipis, ia lanjut mendengar monolog yang diucapkan pak tua tersebut dalam diam.
"Aku keyahnya fepahai pencuai matahbak cahaman. Ahu tuna hatu ahna dan ishti. Ahnaku mahi jecil. Mahi emcah tahum. Kahmi tinhal tidak lauh dahi simi. (Aku kerjanya sebagai penjual martabak jalanan. Aku punya satu anak dan istri. Anakku masih kecil. Masih empat tahun. Kami tinggal tidak jauh dari sini.)"
Sang pria tua tertawa kecil, meminta maaf sekali lagi seusai bercerita. Pemuda yang mendengarnya dengan senyum pahit menarik nafasnya dalam-dalam.
—— Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf karena terlahir beda dari yang lain. K**au adalah ayah yang pekerja keras yang terus maju apapun yang terjadi demi keluargamu. Aku tidak melihat apa salahnya dengan itu.
Andai saja ia bisa mengucapkannya dan didengar olehnya— Sang pemuda berharap mungkin pak tua disampingnya tidak merendahkan dirinya sejauh itu.
Terdiam selama beberapa saat, mereka berdua tidak berbicara sama sekali. Melihat hujan deras di depannya, pak tua tersebut memejamkan mata mereka perlahan-lahan, merenungkan kembali hidupnya.
".. Hari ini hujannya deras. Rumah kami pasti kebanjiran. Aku harap Dina dan Aya baik-baik saja. Sungguh.. aku adalah ayah yang mengecewakan"
Mengeluarkan sebuah nafas berat, matanya mulai berkaca-kaca. Berandai-andai hidupnya tidak menyedihkan dan miskin, ia berharap keluarganya dapat bahagia.
".. Oh, Tuhan.. Aku harap mereka dapat bahagia. Aku tidak pantas dipanggil seorang-"
PUK!!
"!!!.. Ah.."
Sang pak tua tersentak kecil sewaktu sebuah tangan menyentuh pundaknya. Ia mematung dan menyadari benaknya menjadi kosong sesaat dari rasa terkejut. Kepalanya langsung berbalik menghadap seorang pemuda yang tiba-tiba menggerakkan tangannya tanpa maksud yang jelas.
Mengedipkan matanya beberapa kali, ia mencoba menebak apa yang ingin dikatakan pemuda tersebut sebelum menebaknya dengan suara yang kecil.
"A, Apa hau inhin beyacal bahasha isharat? (A, Apa kau ingin belajar bahasa isyarat?)"
Pemuda tersebut mengangguk cepat, membuat sang pak tua terkaget-kaget dan ternganga dengan betapa absurdnya pemintaan mendadak guru ini.
——Ini pertama kalinya ada seseorang yang meminta seorang tanpa pendidikan sepertinya untuk mengajari seorang guru.
Masih dalam keadaan setengah tercengang, ia mengajari guru tersebut apa yang ia ketahui. Dalam waktu 10 menit, ia semakin terkejut saat melihatnya langsung mengerti dan kini bisa berbicara menggunakan isyarat dengan lancar.
'Namaku, Namsius. Aku baru pindah ke kota ini 3 bulan yang lalu. Terimakasih sudah mengajariku bahasamu. Kau adalah pengajar yang baik'
Pak tua tersebut melebarkan matanya dan menggelengkan kepalanya banyak kali, tersipu malu dengan pujian pemuda tersebut. Ia memuji Namsius kembali akan kecepatannya memahami sesuatu yang baru dan menanyai alasannya ingin mempelajari bahasa isyarat.
'Itu sedikit mendadak kau tiba-tiba ingin belajar bahasa tangan'
'Ah.. Itu karena aku memerlukannya. Ngomong-ngomong, apa toko mu masih buka hari ini?'
Pak tua itu mengerutkan keningnya, tidak mengerti mengapa Namsius mempertanyakan tentang tokonya yang tidak berkaitan dengan topiknya.
Tapi itu tidak membutuhkan waktu lama untuk menyadari apa yang Namsius pikirkan. Menutup mulutnya tak percaya, kepalanya terangkat ke atas-- menahan tangisannya dan sebuah hembusan lega keluar dari mulutnya.
'Aku ingin membeli 3 kotak martabak.'
"!!.. A, Apha kau.. (!!.. A, Apa kau..)"
'Yah.. Aku ingin berbicara denganmu menggunakan bahasamu. Martabak adalah makanan favoritku dan aku belum makan malam. Aku tidak bisa makan tanpa memesannya kan?'
Sebuah air mata menetes jatuh dari pipinya. Tidak mampu menahannya, ia menangis bahagia dan mengucap syukur dan selamat pada-Nya.
'Terimamasih, nak. Aku senang melihat masih seseorang seperti mu ada di dunia ini. Itu membuatku percaya bahkan keajaiban di hari natal pun dapat terjadi.'
'Keajaiban natal memang ada. Hari ini adalah hari yang bahagia, aku yakin hari ini tidak ada banjir dan musibah terjadi disini.'
Namsius tersenyum lebar, memeluk pak tua disampingnya dan mengucapkan kalimat yang ingin ia sampaikan dari awal. Keduanya merasa tersentuh dan dipenuhi rasa syukur dan keselamatan.
Dibawah langit malam sehabis hujan, sebuah bintang dari timur menyinari malam ini. Menyalami tangan satu sama lain, keduanya pun berseru-
'—— Selamat hari Natal!!'