
Cendric POV
Mandi? Cek. Ganti baju? Cek. Beres-beres rumah? Cek. Beristirahat sejenak? Duduk di meja makan? Cek dan cek!!
Hai, bagaimana kabar kalian? Aku sudah kembali lagi. Kali ini aku tidak sendirian. Lihatlah- Aku menyeret sesosok Nom écravain denganku.
[Hiks.. hiks.. jahat. Padahal aku sedang Hiatus makanya aku memberikan tugas narasi ini padamu. Hiks..Hiks.. (〒﹏〒)]
Hei, kau berlebihan. Kau tidak boleh melimpahkan semuanya untukku. Lakukanlah bagianmu juga. Kau tidak meresponku dari beberapa jam yang lalu.
[Itu karena kau terlalu mengandalkan ku. Bukankah kau masih hidup di dunia ku? Masa aku yang mengarahkanmu setiap saat- Cari sendiri sana jawabannya!!]
Terserah. Kau tidak berguna walaupun kau mahatahu. Ngomong-ngomong, kau disini tidak sebagai naratornya kan?
Aku yakin kau mendeskripsikan dunia ini untuk Lecteur dari sudut pandangku.. melalui tulisan tentu saja.
[Tepat sekali! Kau tokoh utamanya untuk saat ini. Jadi narasikan cerita ini untuk mereka]
Dengan satu syarat- Aku ingin tahu lebih banyak tentang dunia dari balik layar dan tentang kalian. Bisakah kau menjelaskannya padaku tentang dunia kalian?
[Sepakat-]
TAK!!!
...
....
[Hei, kau bisa mendengarku? Apa yang kau tunggu? Kita sudah mulai, Narrateur]
Oh maaf. Kupikir kau masih ingin melanjutkan kata-katamu. Aku akan mulai. Ehem..
Suara sebuah piring porselen yang menyentuh meja makan terdengar di telingaku. Aku menunduk ke bawah, melihat menu makanan malam ini. Sepiring makanan berisikan 2 potong roti, ikan goreng, sup jagung, dan bubur ayam.
Ah, kelihatannya menu malam ini sama dengan kemarin malam, malam sebelumnya, dan malam sebelumnya lagi. Menu klasik keluarga Farrel.
Akan tetapi, meja makan malam ini terasa terlalu besar. Tanpa ada orang dewasa disini, suasana di meja makan terasa lebih sunyi dari hari-hari sebelumnya. Ini membuatku tidak nyaman sama sekali.
Tidak tahu harus bagaimana, aku menengadah ke langit-langit meja makan dan memohon bantuan pada Nom-
[Aku tidak akan membantumu. Untuk malam ini aku adalah Nom écravain si komentator. Kau adalah narator dan pemeran utamanya]
Aaaawww.... Jahat.
—— Hmph! Lupakan. Aku akan memikirkan sebuah rencana lain.
"... Hei, Alice. Apa kau punya berita baik hari ini?" Tanyaku, memecahkan keheningan yang ada.
"Tidak. Semuanya berjalan relatif normal. Bagaimana denganmu, Fon? Kudengar kalian akan kedatangan guru baru Minggu depan"
!!!
EEEHHH?!!! Tunggu, tunggu--
Jadi itu alasan mengapa dia senang sekali hari ini?! Itu alasan yang absurd!!
"Iya. Dia akan menggantikan wali kelas kami. Kabarnya, dia berasal dari ibu kota"
Aku ternganga melihat Fonsius yang berseri-seri, menyampaikan semua ini padaku. Dia memang sepolos kertas tak bernoda. Aku tidak mengerti pikirannya.
Bagaimana bisa dia senang karena hal sepele seperti itu? Sampai dia tidak mau memberitahu dan menyembunyikannya dariku?!!
Hei, kalau kakakku yang aneh tetap akan membocorkannya di depan semua orang- Mengapa ia berbohong padaku sebelumnya?!! Apa dia gila?!!
Hei, hei, komentator- berikan sebuah komentar pada kami!! Aku yakin Lecteur juga penasaran dengan otaknya yang kurang sel!!
[Aku tidak bisa memberikan spoiler- Satu-satunya hal yang bisa kuberitahu hanyalah dia adalah seorang protagonis yang naif]
Itu tidak membantu! Jadi maksudmu dia adalah anak berusia 6 tahun?!
[No comment!!]
.
.
..... Aku tidak mengerti bahasa apa yang kau gunakan. Jelaskanlah menggunakan bahasa dan kalimat yang bisa kumengerti. Ya ampun, komentator.
Oh ya, berbicara tentang spoiler, aku lupa memberitahukan kalian sesuatu. Aku tidak sempat memberitahukannya pada kalian dan saudara-saudariku di pertemuan kita yang sebelumnya.
"Alice, Lecteur, Fon- ada sesuatu yang ingin kuberitahukan pada kalian. Ini tentang apa yang kulakukan disekolah" Aku berjalan ke kamarku, mengambil sebuah buku yang berisikan apa yang kuteliti. Membawanya ke meja makan, aku menunjukkan pada mereka apa yang kulakukan disana.
Alice dan Fonsius memandang satu sama lain, membaca judul besar buku tersebut. Fonsius mengernyitkan dahinya tidak mengerti sementara Alice kelihatannya sudah menduganya.
"... Kau meneliti tentang prinsip dunia ini ya. Kau sudah pernah memberitahuku. Jadi apa yang kau dapatkan sejauh ini?" Tanya Alice, tertarik dengan penelitian ku
"Aku mendapatkan banyak hal. Contohnya, aku sudah mengetahui inti dasar Liawes sekaligus kunci pedoman yang sangat penting bagi dunia ini," jawabku dengan bangga. Alice terkekeh kecil mengucapkan selamat padaku dan bertepuk tangan. Fonsius yang sedari tadi tidak menemukan perkataan ku masuk akal, menggaruk kepalanya kebingungan.
"Bukankah semua orang sudah tahu itu? Ibu sudah pernah menjelaskan bahwa semua yang ada di dunia ini selalu didasari dengan Mana dan-"
"Sihir? Aku tahu kita tidak bis ahidup tanpa Mana. Ibu sudah pernah menjelaskannya. Namun, aku baru menemukan sesuatu yang penting yang setiap makhluk hidup di dunia ini tidak bisa hidup tanpa hal ini"
Fonsius menatapku sejenak sebelum menghela nafas panjang. Ia tidak menganggap penelitianku sebagai valid. "Lalu apa itu? Kapan kau menemukannya?"
"Baru-baru ini"
Berkat sosok mahatahu yang tidak becus, aku mengetahui hal penting ini. Kalian pasti tahu siapa dia.
.
.
.
[Apa kau barusan mengatakan aku tidak becus? Hei, setidaknya kau menemukan sesuatu yang baru]
Tidak sama sekali. Aku tidak menemukan sesuatu yang baru. Aku hanya menyadarinya. Apa yang kutemukan sejujurnya sudah ada sejak dunia ini diciptakan.
Sama seperti di dunia kalian, sesuatu ini tidak lain adalah-
"—— Sains. Ilmu terpenting yang pernah ada. Semua di dunia ini terhubung pada sains. Bahkan sihir sekalipun memerlukannya"
Fonsius dan Alice memandang satu sama lain sejeneak dan memandangku dengan tatapan bertanya-tanya. Aku tersenyum lebar dnegan bangga, menjelaskan apa yang ku maksud.
"Lihatlah dunia ini- Apa kalian pernah bertanya-tanya mengapa kita bisa berpijak di tanah? Mengapa laut bewarna biru? Mengapa kita menangis ketika kita memotong bawang?" Tanyaku, membuat keduanya semakin penasaran.
Alice menopang dagunya, mengangkat bahunya. Fonsius menjawabku ia tidak pernah memikirkan hal itu. Menanyakannya saja tidak penah. "Bukankah itu karena para dewa memang menciptakan mereka begitu?"
Aku menggelengkan kepalaku, menggerakkan jari telunjukku. Memang merekalah yang menciptakannya. Namun itulah peran kita untuk menggali dan memahami lebih dalam karunia yang mereka berikan.
"Itulah mengapa para manusia menciptakan Sains- Semua pertanyaan ini ada jawabannya dalam ilmu sains! Semua yang sekeliling kita adalah sains!!"
"... Sains? Itu tidak masuk akal. Bagaimana kau bisa yakin semua itu adalah sains? Bagaimana dengan sihir? Sihir adalah-"
"Fon, kalau begitu biarkan aku bertanya satu hal padamu"
Kakakku yang aneh, mengerutkan keningnya--- tidak mempercayai ucapanku. Memberikan sebuah jeda diam, atmosfer di meja makan menjadi tegang.
Tanpa menunggu jawabannya, aku menanyakan pertanyaan penting yang membuatnya terbungkam-
"—— Fonsius, apa kau pernah mendengar suara sosok yang menulis dan mengatur alam semesta ini?"
"!!!.." Fonsius membelalakkan matanya, tak bisa berkata apa-apa. Aku lalu menoleh pada Alice yang tersenyum kecil, menggelengkan kepalanya sebagai perwakilan respon dari Fonsius. Ia mengangkat bahunya, membisikkan bahwa satu-satunya orang yang bisa mendengarkannya adalah ibu kami.
Menyeringai puas, aku menyilang kan tanganku dan menjawab mereka dengan jelas supaya mereka mengerti.
"Dikarenakan tidak semua orang mempunyai bakat sihir terutama perlindungan dari dewa, tidak semua orang bisa mendengarnya. Makanya, bisa dikatakan sihir adalah sesuatu yang terbatas dan tidak merata sehingga tidak bisa dikatakan sebagai prinsip dasar. Namun, bagaimana dengan sains?"
"Yah.. sains adalah sesuatu yang dapat semua orang pelajari. Air mengalir, matahari, dan seperti katamu, semua yang disekeliling kita adalah sains"
"Benar Alice! Sains adalah satu-satunya bahasa yang memungkinkan kita memahami alam semesta yang diciptakan sosok pencipta ini!! Bukan sihir ataupun-"
"Cen, ibu akan kecewa apabila ia mendengar semua itu. Mengapa kau mengatakan itu?"
!!!
Aku melebarkan mataku, menatap Fonsius yang sedikit bersedih. Dia tidak mempercayai satupun kata yang dikeluarkan dari mulutku meskipun semua kata yang kukatakan adalah yang sebenarnya. Dia menganggapku sebagai orang gila.
——Inilah alasan mengapa aku tidak ingin memberitahukannya pada siapapun.
Semua orang terlalu mengagungkan sihir sampai-sampai mereka melupakan alasan mengapa manusia bisa berkembang sejauh ini. Semua ini dapat terjadi berkat sains— bukan sihir.
Akan tetapi, orang seperti ibuku dan kebanyakan orang yang memiliki karunia dewa ataupun sihir tidak mungkin menerimanya. Mendengarku mengatakan sains adalah satu-satunya hal yang membuat kita bisa mengerti sosok pencipta kita akan membuat mereka kecewa pastinya.
Namun, aku tidak ingin percaya bahwa aku salah. Itu mengecewakan di dunia ini tidak ada yang bisa mengerti tentang apa yang kupercayai.
Sudah kuduga aku seharusnya tutup mulut. Suasana di meja makan menjadi kacau karena topik ini. Tampaknya mereka tidak akan menerimaku.
.
.
.
"—— Itu adalah tugas pendeta untuk percaya tetapi dasar inti dari sains adalah untuk mempertanyakan segalanya. Aku pikir sains, sihir, dan semua yang ada disini saling berhubungan sebab mereka berada di alam semesta yang sama"
!!
Aku merasa sesak seketika diriku dipenuhi perasaan yang tak bisa ku identifikasi. Mataku menjadi berair. Aku tidak tahu ekspresi apa yang harus ku kenakan.
Hei, kalian dari balik layar.. Apa yang sedang sedang terjadi padaku? Apa kalian tahu wajah apa yang sedang kubuat?
... Semua ini sangat membingungkan. Hidup ini sangat sulit. Aku tidak tahu manusia memanglah beragam.
Nom écravain, mengapa kau membuat sesosok manusia sangatlah rumit dari makhluk lainnya?
[... Aku bukanlah sosok yang menciptakan manusia. Aku hanyalah sosok yang membuat dunia kalian. Hidup ini simpel-- tetapi tidak mudah dan tidak serumit yang kalian kira.]
Aku tahu, aku tahu. Kau adalah pencipta alam semesta ini yang sebenarnya, penulis dari balik layar. Lectuer adalah seorang pengamat yang aku tidak tahu perannya. Fonsius adalah orang yang protagonis dalam dunia ini.
—— Dan aku hanyalah seorang manusia yang merupakan bagian dari rencanamu! Aku hanyalah seorang Narrateur! Aku sudah menyadari ini sangat lama walaupun aku tidak tahu apa peranku di dunia ini.
Aku tidak tahu apapun tentang dunia di balik layar. Aku tidak tahu tentang kalian ataupun Nom écravain sama sekali. Dewa-dewi apakah kalian ini- Aku tidak tahu sama sekali.
.
.
Katakanlah.. Apakah aku benar?
[... 50%]
... Sudah kuduga. Aku tahu kau akan mengatakan itu. Lagipula, aku tidaklah mahatahu sepertimu.
Aku menduga apa yang kau maksud dari layar adalah batas antar duniaku dan milik kalian. Seperti dalam buku cerita, aku pasti berada dalam sebuah dongeng yang kau tulis. Jadi aku hanyalah sekedar karakter fiksi yang ada dalam ceritamu.
Aku tidak salah. Nom écravain, bagaimana menurutmu?
[... Kau benar saat kau mengatakan akulah sosok pencipta alam semesta ini yang asli dan tentang para pembaca. Tapi mahatahu-- Aku? Tidak. Aku tidak mahatahu sama sekali. Kau punya banyak poin yang salah dari jawabanmu]
Kau tidak mahatahu? Lalu dewa-dewi apakah kalian?
[Aku dan para pembaca? Kami bukanlah dewa-dewi. Kami hanyalah manusia biasa sepertimu. Kami tidak ada bedanya dengan kalian. Di dunia kami, tidak ada yang namanya sihir. Yang ada hanyalah sains dan agama]
!!!..
[Yah.. kami ini iugalah manusia. Kami tidaklah mahakuasa dan mahatahu sebab masih ada Yang Mahakuasa dan Maha Esa di atas kami. Dia adalah pencipta manusia. Aku hanyalah seorang penulis dalam waktu luang]
Namun sebagai seorang penulis dan pembaca- kalian sudah tahu jalur ceritanya. Sebagaimana pun, kau adalah penulisnya dan kalian adalah orang yang menyaksikan semuanya.
[Hmm, entahlah. Terkadang, seorang penulis juga kehabisan ide. Aku tidaklah serba tahu di dunia kalian. Begitu juga pembacanya. Cerita yang ku tulis bahkan belum tamat.]
EEEHHH?!! KAU MASIH MENULIS DONGENG INI?!
[Yup. Ditambah, jikalau aku ini mahatahu, aku pastinya sudah tahu apa yang semua orang lakukan di dunia itu. Kenyataannya, aku bahkan tidak tahu nama semua manusia di dunia yang ku tulis sendiri. Aku menulis dunia kalian mengikuti alurnya sendiri. Jujur, aku sendiri masih belum tahu peran apakah karaktermu ini]
Tunggu, tunggu- apa maksudmu? Kau tidak masuk akal- Kau tidak tahu peranku?! Kau serius?!!
Mengapa kau membuat sebuah karakter anomali sepertiku? Apa kau gila, Nom écravain?
[Aku tidak tahu. Setidaknya kau bukan satu-satunya orang yang mempertanyakan kewarasan ku. Ini adalah sebuah eksperimen percobaan bagi kita berdua. Aku belum pernah membuat karakter yang aktif berinteraksi dengan penulis sebelumnya. Aku pikir ide begini akan menarik]
Haaa.. sial. Kau adalah yang terburuk, Nom écravain. Aku tidak tahu apa yang terjadi sekarang.
Bagaimana pendapat kalian, Lecteur? Apa semua ini masuk akal?
Seorang penulis absurd menulis cerita ini tanpa tujuan yang jelas-- Aku tidak bisa membayangkan nasib cerita ini. Kau bukanlah penulis yang baik. Nom écravain, ceritamu akan hancur!!
[Hehe... Menurutku, proses cerita ini lebih penting daripada endingnya. Lagipula, kau bukanlah sekedar karakter di dunia mu. Walaupun hanya dari tulisan, bukankah kau hidup di dunia yang ku tulis? Lagipula, kau adalah pemeran utamanya]
Haaah?!! Aku pemeran utamanya?
[Yup. Begitu juga aku, para pembaca, kakak-kakak mu, dan semua orang disana dan dibalik layar. Setiap orang adalah pemeran utama dalam hidup mereka. Logika ini berlaku di dunia manapun.]
Tsk- kau mengatakan sesuatu yang sudah jelas. Akulah bukti bahwa setiap orang adalah pemeran utamanya. Meskipun aku ini bukan protagonis dunia ini, aku tetaplah pemeran utama hidupku.
Benar kan, Lecteur? Untuk sesaat, apakah aku menjadi seorang pemeran utama?
Dipikir-pikir lagi, aku tidak pernah tahu berapa banyak kalian yang berada di depanku. Apakah kalian berjumlah banyak?
Nom écravain?
[!! Em.. Ceritaku tidak sepopuler yang kau kira-- bukanlah karya besar yang dipajang di depan. Namun aku bersyukur para pembaca setia terus mendukungku untuk menulis]
Heh! Jadi kau adalah penulis pecundang yang absurd ya? Itu cocok untukmu.
[Haha.. Bagaimanapun Narrateur, apa kau sudah menemukan jawaban akan pertanyaan pertamamu?]
Eh? pertanyaan-
KLANG!!
!!?
Suara sendok yang terjatuh di atas piring, membuatku tersentak. Semua orang menoleh ke arahku, menatapku khawatir tanpa kusadari alasannya. Memandang raut muka mereka, aku perlahan-lahan memahami apa yang terjadi.
Aku menundukkan kepalaku, melihat peralatan makanku yang melepaskan diri dari tanganku. Tak lama kemudian, aku merasakan sesuatu mulai membasahi pipiku.
"Cen, ada apa?! Mengapa kau menangis?! Aku minta maaf," ujar kakakku yang bodoh sembari memelukku dengan cemas, diikuti Alice yang mengelus kepalaku.
"... Ah, aku mengerti sekarang.." Kepalaku terangkat, menyadari ekspresi apa yang ada di wajahku. Tanganku yang gemetar dari perasaan yang meluap-luap ini, memeluk kembali saudara-saudari ku se-erat mungkin.
Mengangkat kepalaku, aku mengucapkan sebuah puji syukur. Ujung mulutku menarik diri mereka ke ujung telingaku tanpa kusadari. Kini aku mengerti apa yang kurasakan.
"Cen, apa kau baik-baik saja?"
"Adikku.. aku minta maaf. Aku tidak bermaksud-"
"Aku.. sangat senang.. dan lega... hiks.. Kalian semua ada disini.. bersamaku... Syukurlah..."
—— Senang, lega, bersyukur, dan berterimakasih. Itulah apa yang memenuhi diriku.
Semua yang berharga dan dekat denganku ada disini. Mereka mungkin tidak mengerti tentangku tetapi mereka pastinya akan menerimaku apa adanya.
"Maaf.. aku berpikiran.. sangat negatif..."
"!! E, Eh?"
"C, Cen- Apa maksudmu-"
"Uwaah.. maaf.. aku arogan.. dan menyebalkan..."
Orangtuaku, Fonsius, Alice, Lecteur, dan Nom écravain.. Aku sangat senang dan lega kalian semua selalu ada baik dalam keadaan suka dan duka dunia ini.
.
.
.
——Terimakasih karena telah membaca narasiku.
...*******...
Author P.S:
Halo semuanya, apa kabar kalian? Cerita chapter ini agak beda dengan yang lain ya. Agak sedikit panjang juga. (• ▽ •;)
Phew.. Pertama-tama mari kita bertepuk tangan pada Cendric-- pengganti Author sementara kita yang telah menarasikan cerita ini.
Kerja bagus Cendric!! (。•̀ᴗ-)✧
Tampaknya ini giliran Author lagi. Jangan khawatir, Author sudah dalam Holiday Mode. Jadi sedang free.. Yah, walaupun sedang ikut camp pelatihan online sih.
Kedua..
... Itu saja sih kelihatannya yang ingin disampaikan. Welp, Author baru nyadar Author ternyata absurd. Ini akhirnya ya?
Cen:... Yup, Nom écravain bisa dipastikan gila. Kalian setuju kan?
Hei- kok disini Cendric?!
Cen: Cuman mau aja.
Dasar kurang kerjaan. Mau apa kamu sekarang?
Cen: Terserah. Mau main ular tangga nggak?
Oh, game masa kecil Author. Tunggu- Gimana lagi cara mainnya?
Cen: (ー_ー゛).... Dasar pikun.
.
.
.
Btw, readers, sementara kami main ular tangga-- jangan lupa jaga kesehatan masing-masing ya!!
Cen: Sampai jumpa!! Have a nice day!!