I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
SP 2: Apakah ruangan ini berhantu atau.. Oh, maaf- itu hanya raja kobra berdesis



Seorang pemuda berambut hitam acak-acakan dengan baju kusut duduk di atas lantai kayunya. Di ruangan gelap bak kapal pecah penuh kertas sampah tanpa ada satu cahaya matahari yang tembus, segelas pestisida menunggunya.


Seusai menulis surat terakhirnya, pemuda tersebut melirik pada kamarnya yang sunyi. Tangannya meraih selembar lembaran-lembaran kertas yang diikat menggunakan tali ravia menjadi sebuah buku.


Mencari jejak kapan terakhir kali ia menulis dan sampai manakah ceritanya terputus. Mengambil pena hitamnya yang sekarat, ia memenuhi keinginan terakhirnya di dunia ini


—— Menyelesaikan bab terakhir dari ceritanya.


[Di dalam sebuah rumah, di tepi laut, aku bisa mendengar suara deburan ombak yang menghantam bebatuan dengan jelas.


Datang dan pergi, menyapu pasir—— Sebuah melodi alam bersajak yang tidak pernah membosankan jiwaku tercipta.


Di dalam ruangan kecil di rumahku, tercium bau aroma nasi padang yang selalu menghangatkan mulut dan hati, serasi dengan teh di atas mejaku yang mengeluarkan uap secara konstan.


Tak satupun jam berdetak terdengar di ruangan tersebut, tak ada satupun alat komunikasi yang mengubungkanku dengan dunia diluar rumahku.


Bulan purnama tidak terlihat sama sekali malam ini. Suara hujan deras mengguyur kota ini terdengar bagai selimut yang terbungkus rapat. Petir yang menghantam langit tidak pernah berhenti dari hari kemarin.


Telingaku menangkap alunan derak kayu yang terbakar dan suara pena yang mengenai kertas tidak pernah hilang, begitu pula musik yang berputar di ruanganku.


Setiap matahari tiba menyinari kota ini, aku memulai keseharianku dan rutinitasku di dalam ruang kerjaku-- tidak pernah meninggalkannya.


Aku membuat ribuan memori di dalam rumah ini. Melakukan aktivitas baru, hobi baru, memoles keterampilan lama, mencoba sesuatu yang baru.


Sekali rumah ku menjadi rumah untuk 2 orang, obrolan dan tawa tidak pernah meninggalkan ruangan ini. Awan hitam mungkin menutupi bulan purnama dan mentari, tetapi tidak pernah berhenti menyinari ku.


.


.


.


Atau begitulah yang kupikirkan hingga ia menjadi bagian dari kenanganku.


Sekali dua kali dalam keseharianku, aku selalu membuka jendelaku dan menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup bau segar laut yang asin berbaur dengan hujan. Menarik dan menghembuskannya-


—— Aroma hujan mengingatkanku tentang seseorang yang tidak pernah nyata.


Berkali-kali aku merasa tersiksa akan sosoknya yang menghantuiku setiap malam. Seakan-akan jatuh dari jurang, aku terbangun di ruang kerjaku tengah malam.


Tanganku yang dingin dari suasan di hari hujan terjulur, berusaha meraih seseorang berbau tinta yang dulunya menempati ruangan ini.


—— Namun dia yang kucari sudah pergi sejak lama.


^^^THE E..]^^^


"!! Eh? Tintanya habis?" Pemuda tersebut melebarkan matanya, menggoyangkan penanya yang kosong. Beranjak dari posisinya, ia tidak bisa menemukan pena lainnya.


"... Ah, tidak masalah. Ini juga bukanlah cerita yang baik. Tidak akan pernah ada yang membacanya."


Ia menghela nafas panjang, membaca ulang kalimat yang ia tulis. Buku tidak resmi yang ia buat adalah peninggalan terakhirnya di dunia ini. Sebab ia telah membuang hidupnya tanpa melakukan apapun selama bertahun-tahun.


Abor Candra—— Penulis muda di usia 20an yang hidup menyedihkan. Hancur, ia menanyakan bagaimana ia bisa hidup hingga hari ini. Tidak pernah sekalipun ia berencana hidup selama ini. Yang membuatnya terus hidup adalah ceritanya dan pertanyaannya yang tiada ujungnya.


Tidak mengerti bagaimana hidup layaknya seorang manusia, ia diperlakukan bagai sesosok asing. Ia tidak mengerti tentang dirinya sendiri yang mengenakan topeng. Begitu pula orang lain yang melakukan hal yang sama.


Seakan-akan ia terputus dan terurai dari dunia nyata. Mempelajari dirinya, ia menulis sebuah cerita yang menuangkan semua yang ia pikirkan. Hingga akhirnya ia menyerah dengan hidup.


"Sayang sekali.. Aku tidak bisa menamatkannya bahkan di hari terakhirku. Tidak masalah, itu tidak penting lagi. Lagipula, ini bukanlah akhir yang kuinginkan. Aku rasa lebih baik tidak menamatkannya"


Abor menutup bukunya dan menyimpannya di sebuah rak koleksi karyanya yang berdebu. Mengakhiri hari ini, ia melihat pada gelas di atas mejanya. Tangannya gemetar, air matanya mengalir di pipinya, kesesakan yang ia rasakan mengacaukan pikirannya yang terserang kilas balik.


Ia mendekatkan gelas tersebut ke bibirnya perlahan-lahan. Menarik nafas dalam-dalam, ia memberanikan diri dan menghitung mundur dalam hatinya menuju akhirat.


"L- Lima, empat.. t, tiga, dua-"


[Hei, bisakah kau berhenti mengasihani dirimu sendiri?]


"!!..." Abor menahan tangannya, tersentak kaget. Mengecek apakah telinganya tidak salah, ia melihat ke sekeliling ruangannya yang hampa.


Sekilas, pikiran akan kamarnya berhantu membuatnya bergidik. Namun, ia yakin itu mustahil. Hidup disini semenjak lahir, ia sudah mengenal rumah ini sangat lama.


[Di depan meja kerjamu]


"Huh?" Abor menoleh ke kanannya, ia membelalakkan matanya seketika seekor raja kobra bewarna hitam dan emas berdesis, menyapanya.


[Wahai pecundang, bisakah kau tidak menatapku-]


"UWAAAAHHH!!!!!! U, ULAR!!"


[Kau berisik.. dan kasar. Aku akan lebih menghargai apabi-]


"UGYAAAAAAA!! UWAAAAHH!!! U- ULAR!!"


PRANG!!


Abor melempar gelas yang ia pegang ke atas mejanya dengan panik. Sayangnya, ia semakin Panin dan terkaget-kaget saat gelas sayang ia lempar menembus badan sosok tersebut.


Saking ketakutannya, kesadarannya membuyar dan badannya ambruk ke lantai. Pingsan. Ia ditatap jengkel oleh seekor raja kobra di atas mejanya.


[Hei, bukankah kau keterlaluan kurang ajar? Kau beruntung ini hanya wujud ku yang seperdelapan persen. Kau benar-benar seorang pecundang pengecut bukan?]


...********...


ABOR POV


Sebuah denyutan beritme terasa nyeri di kepalaku. Perlahan-lahan membuka mata, aku merasakan sesuatu menahanku. Tidak bisa bergerak ataupun berbicara, tubuhku dililit seekor kobra raksasa yang membuatku membelalakkan mataku.


"Umph- Mmh!?"


[Tenanglah wahai dungu. Apakah engkau ingin tulangmu remuk semua?]


Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Yang kutahu, aku berada dalam situasi yang sulit. Mengobservasi dari segi manapun, aku tidak bisa menemukan logika dibalik semua ini.


Di tempat pertama, aku hanya ingin semua ini berakhir. Menyerah memahami diriku sendiri. Aku tidak mengerti mengapa aku diasingkan. Ketakutan, aku merasa lelah.


... Bagaimana bisa kini aku tiba-tiba berada dalam posisi tidak menguntungkan bersama ular besar ini? Ini tidak bisa diproses di kepalaku.


Saat ini, aku menyadari nyawaku berada di ambang. Aku bisa mati kapan saja. Jujur, aku tidam akan marah ataupun kecewa apa ila aku mati sekarang. Aku telah menghabiskan hidupku tanpa melakukan apapun.


Anehnya, entah mengapa- saat ini aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu ekspresi apa yang kubuat. Aku merasa ketakutan di sekujur tubuhku namun masih bisa berpikir logis dan tenang.


[Oh, kau sudah diam. Apa kita bisa mulai perkenalannya?] Ular tersebut menyingkirkan dirinya dari mulutku, memperbolehkan ku untuk berbicara.


Tidak tahu harus menjawab apa, aku termangu bodoh. Aku tidak suka berbicara dengan seseorang atau sesuatu yang bisa membalasku balik. Aku akan kewalahan setiap kali berinteraksi. Aku rasa kalian bisa mengatakan aku ini anti sosial. Ironisnya, aku ingin mempunyai seseorang yang mengerti diriku dan sesuatu bernama 'teman'.


Berada dalam posisi yang membuatku tidak nyaman, aku berusaha membebaskan diriku dnegan menggigit kulitnya dengan sangat kuat. Kesakitan, ia melonggarkan lilitannya secara refleks dan memberikanku kesempatan kabur.


[Kau- Berani-beraninya engkau menggigit ku dengan gigi kotormu!!]


Aku melihat ular tersebut mengejarku dnegan kecepatan yang mengerikan. Ia memperkecil ukuran tubuhnya sehingga mempermudah tubuhnya bergerak. Berusaha menangkapku, aku bergegas kabur ke dapur yang sempit dan memanjat meja makan dengan sekantong garam di tanganku.


Ular tersebut berhenti di tengah ruangan, memiringkan kepalanya. Aku bisa merasakan kewaspadaannya meningkat sebelum mendesis lantang seolah-olah mengejek kebodohanku.


[Garam itu tidak efektif untuk mengusir ular. Kau pikir kau bisa mengalahkanku?]


Itu benar. Ular tidak efektif dengan garam. Ibuku pernah memberitahukan hal ini dulu-dulu sekali. Meskipun demikian, ular didepanku bukanlah seekor ular. Dia bukan binatang yang pernah diciptakan di dunia ini.


".. T, Tidak pernah ada ular yang bisa mengubah ukuran tubuhnya. Jadi sosok apakah kau itu? S, Seekor iblis?"


Itulah kesimpulan yang kudapatkan. Dia pasti jin jahat atau makhluk gaib yang melekat padaku. Sayang sekali aku ini miskin. Aku bahkan tidak bisa membayar listrik bulan lalu dan bulan ini. Aku hidup dalam kegelapan dan bak seorang gelandangan.


[Pintar. Kau tidak sebodoh yang kukira dan kau tetap saja orang dungu.]


.


.


...Heh, walaupun aku sedikit kesal, setidaknya aku mengakui sebagiannya.


"A, Apa mau mu?"


Ular tersebut menyeringai lebar, membuat bulu kudukku naik Ia menungguku menanyakan pertanyaan itu. Menyusuri lantai dapur di bawah meja, tubuhnya mengilingi seakan-akan ia sedang bermain denganku. Mempelajarinya dari atas, aku kebingungan akan apa yang ia lakukan.


Apa ini? Apa dia mencoba menarik perhatianku atau apa? Apa dia sedang memancingku atau-


—— SREET- DESIS...


[Apa aku membuatmu penasaran?]


"!!!... A, Ah-" Sesaat atau dua, aku kehilangannya dari pandanganku. Aku lengah. Memicu rasa penasaranku, ia menungguku dikelabuinya dan mengambil inisiatif untuk menyerangku duluan.


Mengagetkanku. Ia berhasil melilitkan ekornya pada kakiku.


[Sudah cukup waktu main-main nya. Aku akan langsung ke intinya saja]


"A, Apa? Apa maksud-"


[Apa kau pernah melihat pemandangan di akhir dunia?]


!!! Eh? P, Pemandangan?


.. Tidak. Entahlah. Aku tidak pernah menanyakannya. Itu tidak penting bagiku. Apa yang ada di ujung dunia? Aku tidak tertarik.


Lagipula, aku hidup tidak dalam dunia yang sama dengan yang lain. Serasa memiliki dunia ku sendiri, aku terlalu sibuk menulis dan terjebak dalam ruangan ini. Aku selalu menunggu seseorang untuk menarikku keluar dari sini. Disaat yang bersamaan aku tidak ingin diekspos.


Aku hanya bisa mengangkat bahuku apabila pertanyaan tersebut muncul di kepalaku.


"——Mengapa kau berpikir aku pernah melihatnya sementara aku sendiri tidak pernah menjalani yang namanya hidup di dunia luar?"


Itu aneh mengapa ular ini menanyakan hal tersebut padaku. Aku tidak punya keinginan. "... Sosok menyedihkan ini tidak-"


[Kau memuakkan. Bisakah kau berhenti mengasihani dirimu sendiri? Yang kau lakukan selama ini hanyalah kabur tanpa usaha. Kau bahkan kabur dari cerita yang kau tulis sendiri]


Itu.. benar. Aku kabur ke zona aman yang menyiksaku dalam jangka waktu yang lama. Kebahagian kecil sudah terbakar habis berkat diriku. Tiada yang tersisa dalam hidupku, aku berusaha bunuh diri.


Satu-satunya hal yang membuat tetap hidup selama ini adalah cerita konyol yang kutulis. Dan aku telah menyelesaikannya hari ini.


".. Aku telah menuliskan semuanya. Ceritaku sudah tamat"


[Pfft- jangan konyol. Bagaimana bisa kau mengatakan kau menulis semuanya sedangkan kau belum menyelesaikan milikku? Kau bahkan belum memulai ceritamu sama sekali- kau adalah lembar kosong.]


Ular tersebut memuncratkan bisanya sembari ia menghantamku dengan realita. Rasanya menyakitkan. Aku yang tanpa personalita dan kosong- apa yang sebenarnya ia inginkan?


Mengapa ia mendatangiku? Mengenalku dan mengetahui diriku-- Aku tidak menyukainya.


—— Aku tidak menyukai seseorang yang melihat kedalam diriku. Berpura-pura mengenalku, mereka hanya membaca dingin diriku.


"Hentikan. Apa mau mu? Apa kau datang kemari untuk membunuhku?"


[Aku datang kemari untuk menyeretmu keluar dari ruangan ini dan memaksamu menjalani hidup hingga lembaran kosong hidupmu habis.]


"A, Aku tidak membutuhkan itu. Kau telat. Aku memutuskan untuk mati hari ini"


[Hahahaha!!! Kau ingin mati? Sungguh menyedihkan. Mengapa kau tidak jujur pada dirimu sendiri? Bukankah kau ingin diselamatkan dan dikeluarkan dari sini?]


Ular tersebut tertawa terbahak-bahak. Ia merayap naik ke tubuhku, mengitari tubuhnya di leherku. Membuat jantungku berdegup kencang, ia membisikkan ku kata-kata yang tidak membuatku sesak.


[Masalahnya, kau adalah seorang pengecut yang tidak ingin keluar dari ruang kumuh ini. Itulah sebabnya kau hanya bisa berpura-pura. Yah.. walaupun aku harus berterimakasih padamu akan itu. Akibat dirimu yang lemah, kau menciptakanku dan ceritaku]


"A, aku menciptakanmu?" Tanyaku, melepaskan diriku darinya. Ular tersebut mengangguk pelan, menatapku dengan mata hitam abu-abunya. Memalingkan kepalaku, aku merasakan hal tidak masuk akal ini berubah sejenak menjadi masuk akal.


[Kemarilah, penulis- ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu] Ular tersebut melata di lantai menuju ruangann utama, memicu inisiatif ku untuk mengikutinya. Aku berjalan di kamar apartemenku terhuyung-huyung mengikuti sambil kakiku menghindari barang-barang berserakan berantakan.


Melihatnya berdiri di atas meja belajarku, aku mengamati siluet tubuhnya yang terkena cahaya jingga. Badanku yang berdiri tertutupi bayangannya terasa kecil dihadapan sang raja kobra. Di dekat jendela kamar, aku melihat ekornya meraih ujung tirai.


[—— Lihatlah dan bakarlah pemandangan di depanmu ini.]


Membuka paksa mataku, aku mematung dnegan apa yang berada di hadapanku. Mataku menemukan api jingga yang hangat membakar kota. Gedung-gedung yang runtuh dan sinar mentari sore berbaur dengan pemandangan lautan darah yang tergenang di jalanan.


Jeritan dan tangisan orang tak dikenal memenuhi kepalaku. Berlari-lari ketakutan di jalanan, mereka berusaha kabur dari sesosok makhluk tak bernyawa yang berjalan tanpa arah. Hingga tak ada yang tersisa, aku kini menyadari aku telah mencapai akhirat.


[—— Benar. Konyolnya, ceritamu baru dimulai sekarang wahai dungu. Ini adalah lembaran pertamamu di akhir dunia]


...A Fool Guide To Live In World End ...



^^^—— To be Continued (End)..^^^