I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Season 2 episode 9: Terpaksa + pengumuman



HALO PEMBACA!! Semoga sehat selalu dan menjalani keseharian kalian dengan lancar.


Author hari ini membawa kabar yang... tidak bisa dikategorikan kabar buruk dan baik. Dikarenakan kesibukan di awal tahun 2022, Author tidak bisa mengupdate cerita sesering mungkin.


Oleh karena itu, Author akan mengupdatenya mingguan. Setiap hari Senin atau Minggu.


Cen: HAAAH?!! YANG BENAR NO ÉCRAVAIN?!! (╯°□°)╯︵ ┻━┻


Ok Cendric, tolong jangan banting meja. Author tidak punya uang untuk menggantinya.


Mohon maaf dan ampun. Author tidak bisa menulis dengan fokus apabila tugasnya tidak selesai. 。:゚(;´∩`;)゚:。


Cen: Yah.. Sementara Nom écravain menangis. Biarkan Narrateur ini menyampaikan kalimat terakhir-


—— Semoga menikmati ceritanya, Lecteur!!


...******...


Author POV


Fonsius dan Lewine duduk di atas ranjang UKS dengan dahi penuh kerutan berlapis-lapis. Wajah mereka seakan-akan menua 40 tahun lebih saking berkerutnya kepala mereka. Membaca soal di depannya, ia tidak bisa percaya apa yang tertulis disana.


"Oi, apa ini soal jebakan?"


"A, Aku tidak tahu. Sihir adalah sesuatu yang lebih membingungkan daripada matematika. Syukurlah soalnya 20 pilihan ganda dan 2 soal esai"


"Cih- Aku benci ini. Mengapa soalnya semua sulit. Mau pakai *C**ap-cip-cup*?"


Fonsius meregangkan tubuhnya, pasrah dengan soalnya. Menggunakan metode anak sekolah putus asa, mereka menggunakan teknik Cap-cip-cup dan hitung kancing baju supaya mereka keluar dari sini secepatnya. Menyilang indah buku mereka, keduanya menyelesaikan soal pilihan ganda tanpa membaca soalnya sama sekali.


Itu tidak seperti membacanya akan membuat mereka mengerti. Di tempat pertama, sihir adalah sesuatu diluar jawaban mereka. Bagi mereka yang tidak berbakat dibidang ini, pelajaran ini adalah pelajaran hafalan yang diluar pemahaman mereka.


Sihir adalah sesuatu yang asing. Tidak seperti matematika dan sastra, mereka tidak mengenalnya. Akibat malas belajar, kini mereka terjebak di soal esai yang membuat otak mereka error setengah.


[1. Menurutmu, sihir elemental mana yang lebih kuat? Air atau api? Sebutkan alasannya!



Apa yang terjadi apabila kedua sihir tersebut digabungkan?]


.


.


.



Bertukar pandang, sel otak mereka sekilas berpikir sejenis.


".... Jadi.. bagaimana jika kita membaginya?"


"Aku nomor satu dan kau nomor 2. Aku harus selalu yang nomor 1"


"Kau memberikanku soal yang sulit"


"Kau memakai kacamata jadi kau jelasnya mendapatkan yang sulit."


"!!? Hukum itu tidak berlaku! Ugh, terserah.."


Lewine memiringkan kepalanya kebingungan. Untuk yang pertama kalinya, ia berusaha mengerti dan mempelajari pola pikir Fonsius yang aneh.


Sekitar beberapa saat yang lalu manusia di depannya gemetaran ketakutan sebab ia selalu menindasnya. Namun sekarang, ia tidak melihat adanya jejak ketakutan sama sekali.


".. Kau aneh, pecundang. Kau tidak seperti dugaanku. Kau bisa mencaci maki dan mengutuk orang rupanya"


"Tentu saja aku bisa. Kau lebih aneh dari-"


"Tutup mulutmu. Hanya karena aku tidak bisa memukulmu sekarang bukan berarti aku tidak bisa memukulmu nanti. Saat sihir di ruangan ini menghilang, aku akan langsung meninju wajahmu"


"Aku tidak terkejut. Kau barbarian yang tidak pandai berpikir lurus. Yang kau punya itu cuman tenaga paksaan saja. Tanpa itu, kau tidak bisa-"


BAAM!!


Lewine mengerut keningnya kesal. Mendecakkan lidah, ia melampiaskan amarahnya pada lantai UKS dengan meninjunya sangat keras hingga retak kedalam. Mengejutkan Fonsius sampai ia terduduk, Lewine mengancamnya untuk tidak berbicara sembarangan dan berjanji akan membunuhnya apabila ia membuka mulutnya sekali lagi.


—— Binatang buas. Bagai berada di dalam cengkraman sesosok ganas, ia mematung ketakutan- mengingat alasan mengapa ia takut akan Lewine.


Akan tetapi, ia sudah lelah dan muak. Jikalau ia harus ditindas oleh 3 orang disaat yang bersamaan setiap hari, ia lebih baik mengangkat suaranya daripada terus diam dan tidak mengubah apapun.


Masalahnya, yang ia katakan pun tidak memperbaik situasinya. Makanya, ia perlu mencari cara untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik.


"... Ada apa dengannya? Apa dia saking kurang kerjaannya menindasku. Memberitahukannya apa yang salah dan memakinya tampaknya tidak bekerja. Itu malah akan memancingnya mengamuk"


Cara apakah yang terbaik? Fonsius telah memikirkan semua ini dari hari pertama ia ditindas. Sayangnya, ia tidak menemukan apapun.


Lewine Reevese adalah anak seorang yatim. Ayahnya bekerja sebagai pedagang sederhana. Mereka tidaklah kaya ataupun terkenal. Latar belakangnya cukup baik. Ia dibesarkan penuh kasih sayang, tinggal di lingkungan baik, dan ayahnya tidak memperlakukannya buruk. Ia selalu dinasehati oleh ayahnya apabila ia melakukan sesuatu yang buruk. Belakangan ini ayahnya menyerah. Ia berada pada fase pemberontakannya.


Lalu apa yang membuatnya menjadi anak nakal yang dicap sebagai murid terburuk Phari?


"Haaa... S, Sudahlah. Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan-"


"Siapa yang menyuruhmu mengerti? Tidak ada yang menyuruhmu. Hanya kau yang bersusah payah sendiri"


"Itulah mengapa kita tidak bisa akur sama sekali. Kita tidak pernah mencoba memahami dan mengenal satu sama lain. Apa kau tidak capek menghancurkan hidup orang lain?"


"Hidupmu? Aku tidak pernah menghancurkannya. Aku bahkan jarang bertemu denganmu semenjak tahun lalu. Kau pikir aku tidak ada kerjaan? Yang menghancurkan hidupmu itu majikan mu sendiri!!"


Fonsius mengepalkan tangannya, mengulum bibirnya. Walaupun Daniel yang menghancurkan sebagian besar hidupnya, dalang awalnya adalah Lewine yang mengganggunya lebih dulu. Akibat ditindas terus menerus, Daniel memanfaatkan situasinya.


Itu benar Lewine tidak selalu mengganggunya setiap hari. Faktanya, ada hari-hari dimana Lewine tidak menindasnya dan mengabaikannya. Namun-


—— Dampak yang ditanamkannya membuat Fonsius ketakutan dan risau. Ia menjadi paranoid dan was-was, menghindarinya.


"K, Kau.. tidak tahu apa-apa. Apa kau pikir paku yang kau tancapkan tidak akan berlubang di pagar kayu?"


"Aku tidak bodoh untuk tidak mengetahui maknanya. Aku tidak akan minta maaf pada pecundang sejati"


...******...


Cendric POV


Hei, Lecteur. Gimana kabarnya? Narrateur favorit kalian disini. Apa kalian sehat-sehat saja?


...


.....


........ Oh benar. Ini satu arah.


Ehem, mari kita lanjutkan saja.


Kabarku hari ini cukup baik. Aku kini berada di ruang bacaku sedang mengerjakan tugas pribadiku. Yah.. ini sedikit memalukan untuk mengakui apa yang kulakukan dihadapan kalian.


Oh, aku tidak melakukan hal yang berbahaya. Justru, aku sedang meneliti dunia ini dnegan cara yang paling sederhana.


—— Membangun sebuah dunia cerita di lembaran kosong.


Apabila dunia ini adalah dunia dibalik layar yang ditulis oleh seorang penulis, maka cara paling sederhana memahaminya adalah dengan menjadi seorang penulis juga.


Sayangnya, membangun sebuah lebih sulit dari yang kuduga. Ceritaku terasa seperti sampah dengan diksi dan kata-kata yang tidak nyambung. Sangat memalukan!


Syukurlah nilai sastra ku pas-pasan. ( •_• )


Tidak ada yang spesial. Kalian tahu, aku hanya menjalani hidup yang santai karena aku bukan protagonisnya.


Kabar kakakku? Uh.. aku tidak mengetahui bagaimana keadaannya. Pastinya, dia akan baik-baik saja karena Nom écravain menjaminnya.


Itulah sebabnya aku tidak boleh lengah. Berkat kabar guru baru dari ibukota yang datang dari luar, aku tahu dunia ini telah memasuki sebuah event/arc cerita baru. Mungkin ini tidak akan berdampak padaku karena aku tidak memiliki peran, tapi sesuatu yang menarik akan terjadi di desa ini. Mungkin akan menimpa Fonsius.


Itu benar kan, Nom écravain?


[Yup! Dia adalah salah satu karakter penting. Aku bisa menjamin dia tidak akan membuat masalah untuk Fonsius]


Syukurlah. Masalahnya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Situasi drama apa yang akan terjadi?


Kutebak, karena fokusnya pasti akan pada Fonsius, mungkin tentang kehidupan sekolahnya. Tentang perundungan dan semua masalahnya akan terkuak perlahan-lahan.


Guru baru itu akan membantunya dan..


.


.


.


Tunggu, itu aneh. Dari sudut pandang ku sebagai penulis, cerita ini terlalu sederhana dan tipikal. Mengapa Fonsius sebagai seorang protagonis sangatlah tidak menarik?


——Tidak- ditempat pertama, apa dia satu-satunya protagonis di cerita ini?


Ceritanya akan berakhir cepat sedangkan masih ada banyak pertanyaan dan konflik. Bagaimana dengan Asa? Aku pikir itu adalah tempat yang penting dalam cerita ini.


Apa? Aku melakukan sebuah kesalahpahaman senior?


[Benar sekali, junior! Apa kau lupa apa yang menjalankan sebuah cerita?]


Hmm, seorang protagonis?


[Dan apakah seorang protagonis sama dengan seorang pemeran utama?]


!!!! Eh?


[Seorang protagonis adalah apa yang menjalankan sebuah cerita sementara karakter utamanya tidak selalu adalah seorang protagonis. Sama halnya seperti antagonis yang tidak selalu adalah seorang penjahat, karakter utama tidaklah selalu pahlawan yang baik]


Sebentar, kau memberitahuku Fonsius adalah protagonis yang berkaitan kuat dengan dunia ini tetapi bukanlah pemeran utama inti?


Kalau begitu siapa? Pahlawan yang akan menyelamatkan dunia ini adalah Fonsius. Kau mengatakannya sendiri.


[No comment. Satu hal yang bisa kukatakan adalah tidak setiap cerita membutuhkan seorang pahlawan. Harus diingatkan Fonsius tidak memiliki yang namanya 'Main Character Syndrome'.]


Haaah?!! Lalu apa yang akan terjadi padanya?! Kau berjanji kau tidak akan membahayakannya!!


[Aku tidak akan membahayakannya. Disinilah peranmu dimulai. Kau akan menjadi Plot Device yang menggerakkan cerita ini untuk mencegahnya dari situasi terburuk yang ada.]


Plot Device? Kau akan menggunakanku untuk mengeluarkan Fonsius dari masalah? Kupikir kau tidak akan melibatkan ku?!


—— Lecteur, apa kau bahkan bisa percaya apa kata pencipta dunia ini?!! Cerita berbingkai yang merangkai ini membuatku pusing.


Seorang narator tidak bisa berkualifikasi untuk menjadi seorang pemeran utama atau protagonis! Terlebih lagi, aku ini sendirian!!


[Tapi seorang narator bisa menjadi seorang pemeran utama dari sudut pandangnya. Kau adalah asuransiku di cerita ini. Tentu saja kau bukanlah satu-satunya narator yang berada di duniamu. Kau pikir Alice dan ayahmu tidka pernah menjadi seorang narator?]


Itu- Ugh, lupakan! Nom écravain, kau luar biasa blak-blakan mengatakan ini pada karakter ceritamu sendiri. Kau tidak takut cerita ini akan hancur?


Haaa.. aku yakin kau tidak memikirkannya sejauh itu.


Yah, demi keluargaku.. aku akan melakukan asalkan kau memberitahukan ku apa yang harus kulakukan dan tidka membahayakan nyawaku. Berikan aku plot armor!


[Jangan cemas. Kau mempunyai seorang penulis disisi mu.]


Mari kita langsung ke intinya saja. Bocorkan data pentingnya. Apa Fonsius berada dalam masalah? Berkaitan dnegan guru barunya bukan?


[Keluargamu berada dalam masalah. Info penting yang harus dicatat adalah guru baru Fonsius adalah seorang pahlawan yang terpilih di hari Yutew untuk mengalahkan raja iblis. Dia adalah orang yang rupawan, bersihir hebat, ddan fisiknya lumayan. Dia memiliki rambut pirang pucat dan mengenakan jubah hitam sampai ke kaki]


Heh, dia terdengar berbahaya. Status tingginya dapat menghantam rakyat jelata sepertiku sampai habis tanpa bantuanmu.


[Ia tidak mengetahui orangtuanya. Tujuannya datang ke desa Phari sejujurnya adalah untuk mengenang seseorang.. dan untuk mencari pembunuh yang membunuh keluarganya.]


Latar belakang tragis layaknya seorang pahlawan. Jadi kau ingin aku melakukan apa?


[Temuilah dia. Nama pahlawan ini adalah——]


.


.


.


... Sial, disensor. ತ_ʖತ


...********...


Author POV


Fonsius dan Lewine duduk berhadapan setelah memenangkan diri. Melihat jam menunjukkan pukul setengah 3, mereka sudah lelah bertengkar dan lanjut mengerjakan soal dengan atmosfer tegang.


Melirik Lewine terus menerus, Fonsius merasa tidak nyaman dengan tatapan menyengat yang ia terima. Memecahkan keheningan, ia menanyakan pendapat Lewine tentang jawaban nomor satu, berusaha berdamai. "Ba.. Bagaimana menurutmu, apakah itu air atau api yang lebih kuat?"


"Aku tidak akan memberitahukan mu"


"Haaaa.. begitu. Jujur, aku tidak mengerti mengapa kau selalu kasar padaku."


Lewine memutar bola matanya, malas menjawabnya. Tangannya menunjuk pada cermin yang berada disamping mereka-- menyuruhnya bercermin sendiri.


Fonsius memalingkan kepalanya, melihat sosoknya yang tidak ada bekas luka berkat sihir penyembuh wali kelas barunya. Meskipun demikian, ia tetap terlihat menyedihkan di depan cermin.


"Aku selalu seperti ini ya?"


"Kau baru menyadarinya pecundang?"


"... Apa kau membenciku?"


"Iya. Berapa banyak kali kau harus menanyakan itu?"


".. Mengapa? Apa aku pernah melakuakn sesuatu padamu? Aku minta maaf apabila aku melakukannya"


Lewine untuk yang ke sekian kalinya, mendecak lidahnya. Ini adalah yang ke-185 kalinya Fonsius menanyakan pertanyaan yang sama tahun ini. Tidak terhitung dari tahun-tahun lalu, ia sudah terbiasa mendengarnya.


Ia tidak pernah memberitahukannya mengapa. Ia tidak pernah menjawabnya pasti maupun memikirkan lebih dalam mengapa. Dia tidak tertarik dnegan pertanyaan seperti itu.


——Lewine tidak ingin mengetahui rahasia dari dunia ini atau mengerti. Ia hanya tahu dan ingin dirinya hidup tanpa mempersulit dirinya mempertanyakan hal yang tidak dianggap penting.


"... Latar belakangmu keterlaluan normal. Jadi apa yang membuatmu seperti ini? Kau tidak pernah dirundung kemalangan, hidup terpenuhi, dan harusnya bahagia. Jadi.. mengapa kau begini?"


Alasan ia selalu diam selama ini bukanlah sesuatu yang rumit. Sederhananya, ia tidak tahu sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Itulah mengapa ia tidak penrha menjawabnya langsung.


".. Apa kau sangat ingin tahu?" Tanya Lewine dengan nada menyerah seakan-akan ia kalah mutlak. Mungkin saja, ia menyerah mengelak pertanyaan yang sudah melekat di benaknya terus menerus.


Lewine melirik Fonsius yang mengangguk kecil. Menghembuskan nafas pelan, ia menatap refleksi dirinya di cermin sebelum tertawa sinis secara natural.


"Aku tidak tahu. Kau puas?"


".. Apa maksudmu kau tidak tahu? K, Kau tidak tahu mengapa kau membenciku?"


"Iya. Sama seperti cinta tak perlu alasan, tidak ada alasan logis dan spesifik untuk membenci seseorang. Aku tidak mempunyai alasan untuk membencimu tetapi aku ajaibnya membencimu. Itulah satu-satunya hal yang bisa dan ingin kulakukan"


Fonsius tertegun. Memandang wajah datar Lewine, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Yakni-


—— Kehampaan yang ada di dalamnya.


Selama ini, ia selalu melihatnya sebagai seorang penjahat dalam buku komik yang menindasnya. Baru kali ini, ia melihat Lewine terlihat seperti seorang manusia. Wajah datarnya adalah ekspresi yang tidak pernah ia lihat.


"Kau selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Mengapa aku bersikap kasar? Itu karena aku dilahirkan seperti ini. Tidak ada alasan lain. Aku hanya diciptakan sebagai manusia bak monster brutal. Dan.. Aku menerima ,jati diriku apa adanya sebab begitulah bagaimana aku dirangkai"


".. Seperti air dan api, keduanya memiliki karakteristik mereka masing-masing. Mereka saling melengkapi satu sama lain dan sama penting. Musuh atau teman, mereka saling membutuhkan juga"


Fonsius membelalakkan matanya, terperanjat. Tidak ingin mendengar kata-kata tersebut keluar dari Lewine, ia menanyakan maksudnya. Selama ini, ia telah sengsara akibatnya. Ia tidak mau menerima perkataannya.


"Aku adalah perundungmu-- monster yang akan menghancurkan dan mendorongmu terus. Aku tidak akan meminta maaf dan menyesal. Aku tidak ingin berubah."


Darahnya mendidih. Amarahnya memuncak. Merasa tidak pantas mendapatkan perlakuan ini, ia men


"Jadi apa sebenarnya.. aku ini bagimu?"


".. Orang yang kubenci. Di hari pertama kita masuk sekolah ini, dalam sekilas- aku bisa merasakan sesuatu yang mengisi kekosonganku. Entah bagaimana, yang mengisinya adalah rasa benciku padamu."


"Apa maksudnya itu? Kau.."


"Aku menemukan tujuan hidupku saat itu. Mulai hari itu, aku merasa lebih hidup dari hari-hari sebelumnya. Aku menikmati apa yang kulakukan. Yaitu, menindasmu sesering mungkin"


Kepala Fonsius mengosong. Semua yang ia pikirkan tadi tertimpa dengan pertanyaan yang mengulang terus menerus.


—— Mengapa?


"Kau adalah pelengkap ku. Tanpamu, aku merasa hampa. Kau hanya sedang sial kau bertemu monster yang paling buruk. Setiap orang memiliki peran di dunia ini. Anggap saja ini adalah takdir"


".. Aku tidak akan menerimanya. Aku tidak akan menerima omong kosong itu! Apa kau mencoba membuatku menjadi seorang pahlawan protagonis dalam cerita menyedihkan mu?!!"


Fonsius mendorong Lewine ke lantai dan menempatkan tangannya di leher, bersiap-siap mecekiknya. Air matanya menetes di pipi Lewine. Siluetnya yang diselimuti mentari membuatnya terlihat berantakan.


Mempertemukan tatapan mata mereka, sejenak, mereka bisa melihat monster yang berada di dalam diri mereka dan sesama. Tidak merasa takut, mereka menerimanya tanpa masalah.


"Apa kau tidak akan mengatakan sesuatu padaku?"


Lewine mengacak-acak rambutnya, tidak merasakan satupun simpati dan empati padanya. Seolah-olah ia tidak memiliki rasa kasihan padanya. "Tidak ada. Apa yang ingin kau dengar dariku?"


"!!.. Kalimat itu. Aku senang kau masih sama br****ek dengan sebelumnya" Fonsius tersenyum pahit, menjauh darinya secepatnya. Meraih pensil yang ada di sampingnya, ia meletakkannya disamping telinga-- bersiap-siap menancapkannya.


Mengancam akan bunuh diri, Lewine melebarkan matanya. Menyadari Fonsius serius, ia terkekeh geli dari rasa konyol sebelum mendecakkan lidah jengkel.


"Yang memutuskan kau hidup atau mati bukan dirimu-"


"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan hidupku lebih lanjut."


Lewine terdiam, tidka tahu harus melakukan apa. Pertama kali dalam hidupnya ia menghadapi situasi seperti ini. Baginya, Fonsius adalah makna hidupnya. Tanpa keberadaannya, ia tidak memiliki tujuan hidup.


Memahaminya sangat, ia berada dalam keadaan yang tersudut. Tidak ingin diperintahkan tetapi ingin merasa hidup juga. Secara rasional, satu-satunya pilihannya adalah dengan bernegosiasi.


".. Tsk- menyebalkan. Sebutkan apa yang kau mau. Kau punya 2 menit sebelum aku berubah pikiran"