I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 11: Rutinitas di sirkus



Author POV


Rumks terbangun di tendanya seperti biasa. Dia duduk dan meregangkan badannya di pagi hari dan membangunkan Namsius sesuai rutinitasnya. Namun matanya menangkap sesuatu yang aneh hari ini dan membuat tubuhnya mematung sesaat, mengamati sekitarnya.


Ia bisa menemukan tanda-tanda seseorang menerobos masuk ke dalam tendanya. Tirai tenda yang terbuka lebar, pakaian yang dibongkar, dan jejak kaki di tanah adalah buktinya.


Untungnya, tidak ada tanda-tanda sosok tersebut mau melukai mereka. Walaupun demikian, ini tidak mengurangi amarah Rumos terhadap pelakunya yang sudah jelas.


"Ugh, Toru- si pedofil itu-- Dia menjijikkan!!"


"HOAM.. Ada apa? Kau pagi-pagi sudah mengernyitkan dahi?"


"Tsk, pria menjijikan itu memang tidak memiliki standar sama sekali. Aku akan membunuhnya jikalau aku bisa"


"Yah.. Secara literal selera semua orang di sirkus ini rusak bagai kapal pecah. Jadi jangan menanyakan kelakuan aneh mereka."


Namsius mendesah panjang, mengajak Rumos bersiap-siap. Mereka pergi kedalam hutan dan menggosok giginya dan mandi. Sehabis itu sarapan dengan berburu hewan disekitar dan memetik buah-buahan di hutan sebab mereka tidak bisa mengandalkan sirkus ini.


Tidak lupa juga, mereka jaga-jaga menyiapkan makanan untuk Sarah yang kemungkinan besar bernasib sama dengan mereka.


Ketika waktunya istirahat, mereka akan menghabiskan waktu mereka berolahraga dan latihan menembak panah diam-diam agar melatih kemampuan fisik dan membidik mereka. Atau biasanya mereka akan latihan bela diri ataupun bermain petak umpet untuk melatih kemampuan mereka di bidang lain.


Jika tidak, mereka akan berjualan di kota dengan hati-hati agar tidak ketahuan. Walaupun terkadang sedikit berbahaya, mereka akan menyelinap keluar dari sirkus dengan berbagai alasan.


TAP, TAP, TAP..


"Oi, si kembar. Apa kalian melihat Gyana?" Tanya Alfred, menghampiri mereka yang sedang membersihkan panggung.


Si kembar menggeleng, mengangkat bahunya. Mereka belum melihatnya dari tadi pagi. Ini buian hal yang aneh sebab Gyana seringkali pergi tanpa izin dari sirkus. Dikarenakan posisinya adalah yang tertinggi kedua dan hubungannya dengan pak Edmond sangatlah dekat, mereka membiarkannya melakukan sesuka hatinya.


Alfred menggaruk keningnya, menghela nafas malas. "Mengapa wanita itu selalu saja merepotkan semua orang. Menghilang ke kota lagi.."


"Apa ada yang bisa kami bantu?" Tanya Namsius, menyela gumaman Alfred yang keras.


Alfred melirik pada mereka, menopang dagunya. Ia bimbang untuk meminta bantuan pada Namsius dan Rumos. Namun, mengingat dia terlalu lelah nan malas, ia memesan pesan singkat pada mereka sebelum berbalik pergi.


"Kalian cari dia sampai ketemu. Bos memanggilnya"


...********...


Kota adalah tempat yang selalu sibuk nan ramai. Menggunakan kesempatan ini, Namsius dan Rumos mencuri, berjualan, serta menipu banyak orang sebanyak mungkin. Setelah puas mengumpulkan uang sebanyak mungkin, barulah mereka serius mencari Gyana di kota.


Mereka menemukannya di alun-alun kota bersama seorang pria tinggi dan tampan didekat air terjut. Mendekat dan menguping, mereka mengamati situasinya dengan saksama. Pria tersebut berpakaian bagus dan merupakan orang kelas menengah ke atas.


Gyana tersenyum lebar saat berada bersamanya. Begitu juga pria tersebut. Mereka sangat dekat dan mesra. Dapat disimpulkan-


"—— Lee Minho KW itu kekasih Gyana?!"


"Entah Gyana mencintainya atau hanya karena uang, itu bukan masalah kita."


"Benar. Bukannya aku peduli juga dengan hubungan mereka. Aku hanya merasa kasihan pada Lee Min Ho KW yang pacaran dnegan seorang monster"


Ujung mulut Rumos naik sedikit, merasa terhibur dari komentar Namsius. Ia menyetujuinya tanpa ragi dan melanjutkan candaan kembarannya sambil menunggu Gyana sendirian.


Setelah pria itu pergi, mereka mendatangi Gyana dan menyampaikan pesan Alfred. Mereka membuatnya seolah-olah mereka baru datang dan bertingkah senatural mungkin. Melihat Gyana berada dalam suasana hati yang luar biasa baik, mereka memiringkan kepalanya dan menoleh pada pria yang baru saja pergi.


Seluruh anggota sirkus tahu bahwa Gyana adalah seseorang yang rumit. Seseorang yang bisa membuatnya tersenyum seperti sekarang pastinya adalah seseorang yang kaya raya sampai memiliki sebuah kastil di bukit.


"Hmm, iya mungkin. Tipe-tipe yang seperti itu pasti seorang pedagang. Apa sebaiknya kita memanfaatkan nya?"


"Tidak. Kita tidak perlu senekat itu. Tapi.."


"Oi, kalian berdua- ada apa? Tidak biasa kalian melamun tengah jalan," ujar Gyana


Namsius dan Alfred tersentak kaget. Mereka menggelengkan kepala mereka cepat, mencari alasan yang terbaik untuk menghindari kecurigaan dan mendapatkan informasi yang mereka inginkan.


".. Maafkan kami. Kami tidak bermaksud begitu. Kami sedang bermain tebak-tebakan," ujar Namsius


"Apa nona Gyana bisa menebak apa yang pria itu lakukan?" Tanya Rumos, menunjuk pada kekasih Gyana.


Gyana tentu saja mengetahui si kembar memiliki maksud tertentu dan pangsung menjambak rambut merekat kuat. Menahan rasa sakitnya, mereka meminta maaf.


"Ada apa dengan kalian tiba-tiba? Merusak suasana saja."


".. Tidak. Kami pikir dia adalah seorang pedagang sukses dari pakaiannya"


"Oh, begitu ya? Dia itu mantan koki kerajaan yang sekarang bekerja sebagai penjahit. Mengapa kalian mencari seorang pedagang? Mau ku jual ya?"


BRUKK-


Gyana melempar mereka ke tanah dan membersihkan tangannya sebelum berjalan kembali ke sirkus. Namsius menggosok kepalanya sakit dan mengumpat di tempat sementara Rumos melototi nya, mengutuknya berkali-kali.


"Ugh, kurang ajar! Aku akan membunuhnya!"


"Tenaganya kuat sekali tadi. Aku jadi merasa kita tidak mungkin bisa mengalahkan naga"


"Diam- mengalahkan naga itu bukan pakai otot, tapi pakai otak!"


Namsius mengulum bibirnya. Walaupun Rumos (sebagaimana) pantas mendapatkan semua yang terjadi di dunia ini berkat apa yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya, Namsius masih tidak mengerti mengapa dia pantas diperlakukan dunia seperti ini.


"Haaa.. Lupakan. Ayo kita kembali saja"


...*******...


Pukul 12 siang, waktunya makan siang. Namsius dan Rumos duduk di dekat hutan beristirahat. Tidak secara spesifik mereka bersantai, mereka sedang mengawasi semua orang di sirkus Danija. Terutama Sarah, Gyana, dan pak Edmond.


Namun, hanya untuk hari ini saja, mereka memfokuskan perhatian mereka pada Sarah yang sedang memakan makanan yang mereka bawakan diam-diam di belakang tenda agar tidak ketahuan yang lain.


"Ya ampun- Bisakah kau tidak melakukannya lain kali?"


"Melakukan apa?"


"Memberi makan orang lain? Setidaknya lakukanlah lebih hati-hati!"


Namsius memutar bola matanya, mengabaikan Rumos. Dia terus mengamati Sarah dari kejauhan sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Tentu saja yang paling utama sekarang adalah mencari uang. Karena mereka sebentar lagi akan ke Latagin dan Ibalion, mereka membutuhkan uang yang cukup untuk persiapan mereka. Selanjutnya, mereka berencana untuk kabur seusai misi mereka selesai.


Pertanyaannya adalah-


—— Bagaimana cara mendapatkan uang banyak dalam waktu yang singkat?


"Ah- Aku punya ide!"