I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 4: Pangeran



Suara kereta kencana dan terompet terdengar. Keluarga kerajaan Asyran telah tiba. Semua orang menyambut mereka dengan riang dan meriah.


Namsius dan Rumos menonton kedatangan mereka dari atas sebuah atap rumah yang jauh. Mereka melihat keluarga kerajaan yang terdiri dari seorang raja dan ratu, 2 pangeran, dan seorang putri. Anak pertamanya adalah pangeran Liam yang berusia 15 tahun.


Anak keduanya adalah putri Raelyn yang berusia 12 tahun, dan anak paling bungsu adalah pangeran Elliot-- berusia 5 tahun.


Ciri fisik paling mencolok dari keluarga kerajaan adalah rambut merah api dan mata hijau zamrud mereka. Turun temurun, keluarga ini rata-rata mahir dalam sihir dan memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan dalam bidang tersebut.


Terkecuali pangeran bungsu yang terlahir tanpa bisa menggunakannya sama sekali.


"Apa itu tipikal novel fantasi dan isekai?"


"Iya, sangat. Aku yakin nanti Eliot yang akan naik takhta dibandingkan pangeran Liam yang dingin tapi diam-diam mencintai keluarganya. Itu.. uh, terlalu banyak digunakan dalam cerita fantasi romantis"


"Terserah. Itu bukan masalah kita. Mau apapun yang terjadi kita juga tetap miskin"


"Haha, benar-benar. Sesaat ini terasa seperti novel- mungkin bagi mereka. Tapi ini 100% dunia nyata untuk kita."


Rumos mengangguk, mengawasi keluarga kerajaan lagi sementara Namsius menyiapkan sebuah tali untuk turun dari atap. Keduanya berencana mencuri makanan untuk sarapan dan makan siang mereka.


Seusai penyambutan keluarga kerajaan dan pembukaan resmi festival musim panas selesai, Namsius dan Rumos segera mencuri berbagai makanan di toko-toko sekitar, kemudian membawanya ke tepi danau Niro untuk disantap.


Disana, mereka duduk di tepi danau menyantap hasil curian mereka dengan lahap tanpa meninggalkan satu remah pun. Namsius dan Rumos sekarang tinggal di dekat anak tangga setiap malam.


Tempat tersebut bukanlah tempat yang layak di tinggali tetapi tempat tersebut merupakan tempat terbaik sebagai rumah pengganti mereka.


Ketika hari masih terang, mereka akan pergi ke pesisir desa mencari makan dan mengumpulkan uang. Saat malam tiba, mereka akan menyelimuti diri mereka dengan koran-koran bekas dan tidur didekat danau.


Masalah terbesar mereka untuk saat ini adalah apabila ada orang yang berstatus sama dan sejenis dengan mereka merampok makanan dan uang yang sudah mereka sembunyikan.


Itulah makanya diantara kaum rendahan nan miskin, sebuah sistem perang wilayah secara tidak langsung terbentuk di Phari, dimana Namsius dan Rumos menempati wilayah dekat danau.


"Hei, Rumos. Apa yang harus kita lakukan sehabis ini? Kelihatannya kita tidak bisa menipu orang hari ini. Terlalu ramai."


"Kita memang tidak berencana menipu orang hari ini. Kita akan mengambil sisik ikan di danau ini kemudian menjualnya."


"!!! Itu rencana kita hari ini?! Apa kau gila?! Kau lupa ya fisik kita ini masih berusia 3 tahun?!"


Namsius ternganga mendengar ide Rumos. Dibandingkan dengan ukuran dan kemampuan mereka sebagai anak berusia 3 tahun, itu mustahil bagi mereka untuk mencabut sisik ikan raksasa.


"Tidak, tidak. Kita tentu saja akan bernegosiasi. Kudengar mereka mempunyai akal budi. Tidak ada salahnya untuk mencoba"


".. Uh... Aku tidak yakin"


Namsius menggaruk pipinya meragukan ide aneh Rumos. Dia kebingungan mendengar rencana kali ini. Sejauh yang ia ingat, Rumos adalah orang yang tidak bertindak gegabah.


"Mengapa? Kita bisa saja mencari cara lain apabila kita ingin menghasilkan uang"


"Aku sudah memutuskannya ini cara tercepat agar kita kaya"


Alasan mengapa Rumos bersikeras mengambilnya adalah-


—— Meskipun ini adalah dunia nyata, ini tetaplah dunia fantasi berbasis novel.


"Rumah kita sudah hancur. Tidak ada salahnya kita mencoba. Dalam keadaan ini kita harus mengambil resiko dan tidak boleh melewatkan satupun kesempatan."


Namsius menghela nafas dalam dan tersenyum kaku. Matanya melirik pada sisa rumah mereka yang mengapung seperti sampah. Barang-barang tertinggal yang tidak sempat mereka ambil tersebar di permukaan danau dalam keadaan hancur.


Kayu yang merupakan bagian dari lemari, foto-foto tua milik orangtua mereka, kaos kaki usang..


——Tidak ada yang tersisa.


"Wah, lihat warna danaunya biru jernih"


"Benar, putri. Tapi sayang sekali ada banyak sampah disini"


"Orang-orang yang membuangnya pasti orang yang tidak peduli lingkungan sama sekali. Mereka sangat rendah sampai mau mengotori danau ini. Sayang sekali nanti ikan-ikannya mati"


"Ikannya akan mati akibat polusi. Mereka adalah orang terburuk yang pernah ada."


.


.


Namsius dan Rumos menoleh ke kiri mereka, menemukan seorang gadis berpakaian mewah bersama dua saudaranya dan pengawalnya sedang berjalan-jalan di tepi danau. Mereka adalah putri Raelyn dan pangeran Liam dan Eliot.


Mendengar perkataan yang baru saja dikatakan keluarga kerajaan, Namsius dan Rumos merasa pahit dan tidak nyaman. Mereka menggigit bibir mereka dan menunduk ke bawah, ingin sekali membalas perkataannya.


"Polusi kata mereka.. padahal kita lebih duluan ada disana. Yang ada di danau itu rumah kami yang hancur, bukan polusi"


".... Sudahlah. Kita memang dianggap polusi bukan? Lebih rendah daripada seekor ikan dan udang"


"Kau benar, Rumos. Baru sedikit kita memanjat tangga menuju ke atas, dan dalam sekejap hujan sederhana menyapu kerja keras kita dalam sekedip mata"


"Yah, hujan saja membilas kita karena menganggap kita polusi. Cara orang memandang orang kaya berarti jahat itu salah. Bangsawan kaya seperti mereka tidak jahat, hanya bebal dan egois"


Namsius dan Rumos mendesah panjang dan memandangi langit yang terlalu cerah seakan-akan nasib baik bukan disisi mereka. Hidup mereka selama 3 tahun ini sulit. Apa yang akan terjadi 13 tahun ke depan?


TAP, TAP, TAP-


"-- Kakak, lihat disana!"


Namsius dan Rumos melihat tempat sekitar mereka mulai ramai, membuat suasan hati mereka semakin buruk. Mengetahui kalau mereka akan lebih tersakiti lebih dari ini, mereka bergegas berdiri dan pergi dengan kepala tertunduk ketika anak-anak raja berjalan menuju arah mereka.


Sayangnya..


BRUKK!!


Ketika berlari pergi, Rumos tanpa sengaja menabrak seseorang di depannya. Namsius membantunya berdiri terburu-buru dan meminta maaf pada orang yang didepannya agar tidak terjadi keributan.


.


.


—— Atau begitulah rencana mereka sampai mereka menyadari orang di hadapan mereka adalah raja kerajaan Asyran.


".. S, Salam pada yang mulia raja Asyran. Sebuah.. kehormatan dapat bertemu dengan tuan"


"Y, Yang mulia raja.. Maafkan kami telah menabrak yang mulia. Kami telah berdosa."


Melihat pria di depan mereka mengenakan pakaian dengan lambang kerajaan ini, Mereka langsung memberi salam pada raja dan membungkuk minta maaf


Raja Asyran hanya tertawa kecil dan memaafkan luka mereka, ia menanyakan keadaan mereka sebelum disela oleh anak-anaknya dan pelayannya yang menghampirinya.


"Hei, apa kita boleh pergi sekarang? akan sangat tidak sopan kan?"


"Belum, kita akan dianggap tidak sopan- tahanlah sebentar"


Namsius dan Rumos hanya bisa memaksakan senyuman lebar yang menyakitkan di wajah kurus mereka, memberi salam pada setiap keluarga kerajaan beserta pelayan mereka. Mereka berniat untuk permisi pergi pada saat itu juga.


Namun, mereka ditahan oleh sang raja yang memegang bahu mereka karena ia belum selesai mengecek keadaan mereka.


"Ayah, apa kau lihat di danau itu terdapat banyak polutan?"


"Iya, Raelyn. Ayah akan menyuruh kepala desa disini untuk membersihkannya"


Mereka merasa canggung berada diantara keluarga kerajaan. Terutama, keberadaan mereka sepenuhnya hampir diabaikan. Mereka menutup mulut mereka erat-erat, tidak bersuara sampai pangeran terbungsu menyadari keberadaan mereka.


"Ayah, siapa mereka?" tanya pangeran Eliot sembari menunjuk pada 2 anak kecil yang berpakaian compang-camping.


Namsius dan Rumos menelan liur, meregangkan otot wajah mereka agar menampilkan senyuman terbaik seketika pandangan semua orang melekat pada mereka.


Membungkuk dan memperkenalkan diri, mereka berusaha memberikan impresi terbaik dengan memuji keluarga kerajaan dan apa yang sudah mereka lakukan demi kerajaan ini. Mereka berusaha menyanjung semua orang dan membuat mereka senang.


Sesuai harapan mereka, sang raja pun merasa senang dan tertawa kecil. Tertarik dengan Namsius dan Rumos, ia meminta para pelayan menyiapkan 2 kursi di meja makan dan mengajak mereka makan siang bersamanya.


"Sudah waktunya makan siang, apa kalian ingin makan siang bersama kami?"


Mata dua anak kembar itu langsung berbinar-binar ketika mendengar mereka akan mendapatkan makanan gratis. Sudah lama mereka tidak makan sepuas mereka. Ini adalah kesempatan yang datang sekali seumur hidup.


Sayangnya, mengingat status mereka, lidah mereka tertahan dan menjadi bimbang untuk menjawabnya.


"Namsius, apa seorang anak 3 tahun punya rasa malu dan sopan santun? Mereka bisa bertindak semaunya karena masih kecil kan?"


"Uh, aku tidak ingat aku bertindak seenaknya di usia 3 tahun. Secara literal, kita ini pria berusia 20an ke atas di tubuh anak 3 tahun"


Namsius dan Rumos menjadi panik di dalam dan benar-benar bimbang. Mereka tidak tahu apa yang harus dijawab.


"Kalian berdua- Ada apa? kalian tampak sangat pucat?"


Rumos melirik Namsius yang mulai bernafas berat. Kembarannya hampir seputih hantu dan kelihatan baru saja melihat hantu. Ia tidak mengerti mengapa Namsius terlihat seperti itu.


Mengenal sikapnya, se-tegang apapun situasinya, ia mengetahui Namsius adalah orang yang sangat lihai memakai topeng.


"Uh.. Apa kalian-"


BRUKK!!!


"!!! KYAAA- A, Ayah dia pingsan!"


Semua orang terkejut saat Namsius tiba-tiba terjatuh ke tanah. Semua orang menjadi panik dan bergegas menolongnya. Pada saat itu juga, barulah Rumos menyadari rencana Namsius dan ikut bermain dalam aktingnya.


Ia mendesak situasinya hingga ke ujung-- membuat sebuah skenario drama yang berlebihan sehingga sang raja memerintahkan orangnya untuk membawa mereka ke dalam tempat penginapannya.


"Heh, kau pintar juga. Berpura-pura pingsan untuk kabur"


"Memang. Sekarang, kita akan mendapatkan makanan gratis dan tempat istirahat sementara."


"Kerja bagus, partner"


...******...


Helena Thebeoceron POV


Aku adalah ratu kerajaan Asyran, ratu Helena. Aku adalah istri kedua raja setelah istri pertamanya meninggal. Jujur, aku tidak dekat dengan para pangeran dan putri serta masih merasa canggung dengan pelayan.


Padahal, ini sudah tahun ke-2 ku di istana ini. Di dalam kandunganku juga, ada seorang bayi yang nantinya menjadi putri kerajaan ini.


Meskipun begitu, aku masih merasa ini bukanlah tempatku.


——Itu karena aku berasal dari kota biasa dan bukan seorang bangsawan. Hidupku sederhana saja dan cukup bahagia sebelum menikahi raja.


"Nyonya, makan siang sudah siap"


"Iya, aku akan kesana"


Sudah waktunya makan siang ya? Sebaiknya aku tidak membuat yang lain menunggu.


Sesampainya di meja makan, aku melihat semua orang sudah duduk di meja makan. Sama seperti hari biasanya, aku pun menyapa mereka dengan senyuman kecil.


"Salam kepada yang mulia ratu Asyran"


Aku menemukan 2 anak kecil berpakaian compang-camping duduk semeja dengan mereka. Samar-samar aku bisa mencium bau comberan keluar dari tubuh mereka.


".. Ah, iya. Kalian boleh duduk"


"Terimakasih yang mulia ratu"


... Siapa anak-anak ini sampai sang raja mengundnag mereka makan siang bersama? Jarang sekali sang raja mengundang seorang tamu untuk makan bersama. Apalagi seorang anak jalanan seperti mereka.


Duduk di kursiku, aku masih tidak mengerti situasinya. Tubuh mereka sangat kecil, kurus, dan kusam. Walaupun mereka sudah duduk di kursi terkecil yang ada, mereka masih terlihat duduk di sebuah kursi raksasa.


Wajar saja. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di jalan. Pangeran Eliot tidak pernah terlihat sekurus ini karena ia terawat dengan baik pertumbuhan dan kesehatannya. Berbeda dengan mereka yang hidup susah payah di jalanan.


"Siapa nama kalian? Kalian tinggal dimana?"


"Yang mulia ratu, namaku adalah Namsius Reiss dari Asa. Ini adalah saudaraku Rumos."


"Kami ini kembar tidak identik. Ini sungguh sebuah kehormatan bertemu dengan anda, yang mulia ratu"


Namsius dan Rumos membungkuk kepadaku sambil memperkenalkan dirinya. Diluar dari dugaan ku, mereka ternyata adalah saudara kembar yang tidak berasal dari Phari.


Asa? Desa apakah itu? Aku belum pernah mendengarnya sama sekali.


"Kalian pasti dari desa dekat sini untuk merayakan festival."


".. Iya. Kami datang kesini untuk merayakan festival musim panas tahun ini"


"Itu bagus. Kalian masih muda. Bersenang-senanglah hari ini di festival."


"... Baik, yang mulia ratu"


... Uh, mengapa mereka kelihatan sangat kaku. Sebaiknya aku mengganti topik pembicaraan.


"Yah.. Kalian terlihat kecil sekali. Berapa umur kalian?"


"3 tahun, yang mulia ratu"


!!!!!


3 tahun?! Aku tidak pernah melihat anak berusia 3 tahun berbicara seperti ini!


Bagaimana bisa?! Mereka masih 3 tahun?! Apa mereka seriusan bukan Dwarf?!


".. Kalian masih sangat muda ya?" Aku tersenyum kaku, memasukkan makanan di depan mataku ke dalam mulut.


Suasana canggung disini sangat pekat setiap kali aku bersama keluarga kerajaan lainnya. Untungnya, suasana cepat kembali normal dengan raja yang memulai pembicaraannya tentang pangeran Liam.


Ia menanyakannya tentang sekolahnya dan kehidupannya di kerajaan tetangga. Sementara mereka asyik berbincang, aku melirik ke arah si kembar yang duduk dengan tenang dan memakan makanan mereka dengan sendok dan garpu yang benar.


Mereka memakan makanan mereka dengan elegan dan sangat tenang seolah-olah mereka sudah terbiasa melakukannya. Itu membuat rahang bawahku jatuh bebas ke tanah bersama rasa percaya diri ku yang menurun drastis.


Siapa mereka ini? Tidak ada anak seusia mereka yang bisa melakukannya. Pangeran Eliot di usia 3 tahunnya bahkan belum bisa berbicara dengan jelas.


Apa mereka ini diam-diam seorang bangsawan ya? Mereka mempunyai kemampuan yang sangat menyeramkan.


Sayangnya...


"Ah, kalian bisa memakai sendok dan garpu?"


Sang raja yang diam-diam memperhatikan dengan mata elangnya sembari berbicara dengan putranya adalah makhluk yang lebih menyeramkan daripada mereka.


Mereka luar biasa hebat bisa tetap tenang dalam keadaan ini.


"Iya, kami belajar karena kami mempunyai ketertarikan," ujar Rumos


"Begitu, aku sampai terkadang mengira kalian adalah Dwarf karena kalian sangat pintar." Sang raja tersenyum tipis, menajamkan tatapannya yang menilai mereka.


Ini bukan hal biasa. Sang raja dan psnngeran Liam seringkali mengetes kemampuan dan kepercayaan seseorang. Mereka akan memancingnya dengan fakta, menyudutkan mereka dan menunggu reaksinya.


Tapi, harus diingatkan-


---- Apa dia serius mengetes anak berusia 3 tahun ini?


" Ngomong-ngomong, di kota ini barusan aku dengar ada yang mencuri makanan saat festival berlangsung."


!!!!


Apa sang raja seriusan mengetes mereka dengan status miskin mereka? Terutama mereka masih 3 tahun. Itu sedikit keterlaluan bukan ia mengetesnya dengan topik ini?


"...Yang mulia raja, itu dikarenakan mereka adalah orang miskin dan tidak bisa menghasilkan uang banyak. Bukan karena mereka tidak mampu, tapi itu karena mereka tidak mempunyai kesempatan untuk belajar dan mempunyai peluang dalam hidup mereka. Tidak ada uang dan tidak ada yang mau menerima mereka sehingga mereka tidak tahu cara bekerja produktif"


!??!! Apa.. apa yang tadi barusan dia katakan? Aku tidak mengharapkan jawaban yang seperti itu.


Raja dan pangeran Liam terkejut mendengar jawaban Namsius. Kata-katanya, diksinya, nadanya.. semuanya tidak terlihat seperti anak usia 3 tahun yang berbicara.


"Aku setuju dengan saudaraku. Orang-orang miskin kebanyakan terjebak dalam lingkaran konstan yang terus menerus memimpikan sesuatu yang lebih meskipun pada kenyataannya mereka ditahan.. oleh beberapa faktor. Aku pernah melihat 2 keluarga yang sama-sama sangat bertalenta tapi sayangnya kelas ekonomi mereka berbeda hanya karena keadaannya tidak menguntungkan untuk yang satunya"


"Yah.. sebuah sistem ekonomi dapat mempengaruhi hidup seseorang.. Lagipula, ketika krisis ekonomi, yang kaya akan baik-baik saja tetapi merupakan bencana besar yang miskin. Yang miskin akan dipaksa berada dipaling bawah tanpa ada... --Ah, maafkan saya kelewatan"


Namsius dan Rumos memutuskan pembicaraannya tengah jalan dan menutup mulut mereka. Mereka melanjutkan menyantap makanan mereka kelihatannya ingin menghabiskan makanan mereka yang mulai mendingin.


Sementara itu, aku ternganga lebar-lebar. Sudah kuduga mereka ini bukan anak 3 tahun yang normal. Anak berusia 3 tahun berbicara tentang krisis ekonomi adalah sesuatu yang bisa membuat semua orang terdiam, termasuk sang raja dan pangeran Liam.


".. Itu adalah jawaban yang baik. Kalian sangat berpengetahuan," puji pangeran Liam.


"Benar!" Seru sang raja, menjentikkan jarinya. "Karena kita berbicara tentang yang kaya dan miskin, apa pendapat kalian mengenai ini?"


Aku melebarkan mataku saat suamiku menanyakan mereka pertanyaan tersebut. Dia menanyakan pertanyaan tersebut secara blak-blakan pada anak-anak miskin berusia 3 tahun?!


Si kembar bertukar pandang sekilas, terlihat tidak nyaman. Mereka enggan untuk menjawabnya tetapi mereka masih harus memberikan respon.


"K, Kami.. tidak berada dalam posisi untuk membicarakan perihal ini."


"Katakanlah," pinta pangeran Liam, mendesak mereka. "Aku ingin mendengar pendapat mentah kalian tentang pembagian dua dunia ini"


Sekilas, aku bisa melihat wajah mereka tercengang. Mereka mencoba untuk tenang. Aku mengerti bagaimana perasaan itu. Aku juga pernah melalui hal yang sama di hari pernikahanku.


—— Hari itu terasa kejam dan menyakitkan.


Terutama ketika aku menyadari sang raja hanya menikahi ku agar mereka bisa memenangkan perang dengan negara tetangga. Mereka hanya membutuhkan pengetahuanku. Bukan pendapatku ataupun yang lain.


Dan aku menerimanya karena aku membutuhkan uang untuk menghidupi kakakku yang buta akibat perang. Aku tidak ingin mereka bernasib sama dengan ku.


Aku memandangi mulut mereka yang terbuka sedikit, merasa ragu. Menguatkan diri mereka, aku melihat mereka mengenakan topeng senyuman lebar dan mengangguk kecil.


".. Yang mulia pangeran Liam, menurut pendapat mentah kami, 2 pembagian yang ada di dunia ini bukanlah yang kaya dan yang miskin. Lebih tepatnya pemenang dan yang kalah"


"Pertarungan sebenarnya yang terjadi setiap hari dalam masyarakat bukanlah antara kaya dan miskin, melainkan antara yang miskin dan yang miskin-- antara yang tidak memiliki apa-apa, yang bangkrut, dan yang hancur. Hidup adalah sebuah kompetisi walaupun kita sering kali memilih untuk tidak menyadarinya"


... Ah, Itu benar.


—— 'Kau akan dibayar sesuai kemampuanmu'


Itu adalah kata-kata dari orang yang sudah mendapatkan pekerjaan. Secara kenyataan, koneksi dan pengalaman kerja serta ekonomi adalah yang paling penting.


Usaha yang kalian kerjakan? Seseorang atau sesuatu pasti akan mencoba menghancurkannya. Pekerjaan yang seseorang suka? Orang lain bisa dan akan dengan senang hati menggantikanmu.


Hadiah, gaji, dan penghargaan yang kalian targetkan? Semua orang pun menargetkannya.


Sungguh menyakitkan untuk dipercaya tentu saja, itulah sebabnya kita terus-menerus meyakinkan satu sama lain tentang hal yang sebaliknya.


"Tapi- persaingan itu penting agar kita terus mencoba hal baru yang lebih kreatif. Jika persaingan benar-benar tidak penting, aku mungkin akan memberi tahu cucu masa depanku untuk menyerah saja ketika ia kesulitan," jelas Namsius


Cucu? Kau bahkan masih 3 tahun.


"Namun, jangan pernah terjebak pada khayalan kolektif bahwa tidak ada persaingan yang sedang berlangsung. Jika seseorang menyangkal adanya persaingan, ia hanya akan kalah pada akhirnya. Masyarakat menilai orang berdasarkan apa yang dapat mereka lakukan untuk orang lain," kata Rumos


Hmm.. Jadi kita sudah berganti topik ya. Lidah mereka pasti sudah sangat terbiasa dalam mengganti topik secara alami. Ditambah, mereka memiliki nada bicara yang fasih.


Cara mereka menyampaikan kalimat mereka terdengar sangat meyakinkan. Mereka mahir dalam membujuk dan mempersuasi orang lain.


"Yah, dorongan diam seperti 'Saya orang yang baik dan ambisius' atau 'Saya lebih baik dari ini', mungkin menghibur kita dari dalam. Tapi itu bukan cara dunia melihat kita dan hendaknya kita tidak memaksakan ideal kita pada orang lain"


"Kemampuan tidak dihadiahi oleh kebajikan mereka. Apapun kekaguman masyarakat terhadap kita- itu berasal dari perspektif egois orang lain. Contohnya, petugas kebersihan yang bekerja keras kurang dihargai oleh masyarakat dibandingkan dengan pialang saham yang dingin."


"Mengapa? Karena kemampuan itu lebih langka dan berdampak lebih banyak pada masyarakat"


"Harus kuakui, aku membenci kenyataan menyakitkan ini. Sayangnya realitas tidak peduli. Semua orang dinilai berdasarkan kemampuan mereka dan banyak orang yang dapat mereka pengaruhi."


Yah, aku juga membenci kenyataannya. Jika kita tidak menerima ini, maka penilaian dunia akan tampak sangat tidak adil.


"Belajar dengan giat tetapi gagal dalam ujian. Bekerja keras, tetapi tidak dipromosikan-"


"--- Masalahnya bukanlah hidup ini tidak adil; masalahnya adalah gagasan terbelit seseorang tentang keadilan. Contohnya, seseorang yang kita kagumi, tidak mengagumi kita kembali. Mengapa?"


"Jelasnya, itu karena orang tersebut duah berpengalaman selama bertahun-tahun-- seseorang yang sangat berbeda dengan kita. Dia adalah orang yang telah berinteraksi dan berurusan dengan ratusan atau ribuan orang lain setiap tahun"


"Namun, seberapa banyak masalah yang ada di dunia yang harus kita hadapi-- jalan yang kita pilih tidak sesuai keinginan kita, dan semuanya hancur berantakan--- kita harus mencoba yang terbaik dalam hidup. Supaya kelak nanti kita tidak menyesal di kemudian hari. Itu saja yang ingin kami sampaikan"


!!!


Oh, mereka sudah selesai? Tadi itu pendapat yang luar biasa baik. Aku menikmatinya lebih dari yang kuduga. Walaupun ada beberapa hal yang mereka coba hindari, tapi setidaknya semua yang mereka katakan masuk akal.


PLOK, PLOK, PLOK!!!


"Bravo!" Seru sang raja, tersenyum puas. Diikuti pangeran Liam yang bertepuk tangan, aku memuji pengetahuan dan kemampuan mereka.


Memang benar apa yang mereka katakan. Hidup ini terkadang banyak masalah dan sulit. Aku yang berasal dari kaum rakyat jelata dan masa kelamku. Tapi dibandingkan semua itu-


—— Aku masih memliki masa depan yang menantikan ku. Tidak sebagai seorang rakyat jelata, namun sebagai seorang ratu.


Semua tindakanku saat ini akan menentukan masa depanku dan orang seperti apakah aku kedepannya. Jujur, selama ini aku kebingungan akan apa yang harus kulakukan.


Aku terus menerus berjalan bagai anjing liar yang kehilangan arah setelah menjadi seorang ratu. Walaupun ini bukan keinginanku untuk menjadi seorang ratu, ini adalah konsekuensi dan tanggungjawab ku-


--- Aku tetap harus mencoba yang terbaik agar diriku di masa depan tidak menyesal dan dapat tersenyum lagi.


Namsius, Rumos-


.


.


"—— Terimakasih banyak, sobat"