I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 6: Festival malam



Namsius POV


Sial, sial, sial!!


Kami ketahuan- Mengapa harus sekarang?! Jika saja tadi siang kita tidak membocorkan identitas kita terlalu banyak- semua ini tidak akan terjadi?!


Kini kami terpaksa mengemas koper untuk keluar dari desa ini. Kami mengganti pakaian basah kami dan makan malam terlebih dahulu. Mengapa setiap kali ada sesuatu yang hampir berjalan sesuai rencana kami, semuanya akan kacau dalam sekejap?


Terutama misi kita di dunia ini adalah untuk mengawasi Fonsius, ini akan sulit apabila kami jauh dari Phari.


"Kapan kita akan pergi?"


"Besok pagi-pagi sekali. Untuk sekarang, kita tidur dulu."


Aku menarik nafas dalam-dalam, pasrah dengan situasinya. Mengiyakan perkataan Rumos, kami memanjat sebuah pohon besar yang tidak terlalu tinggi dan menandainya sebagai tempat bermalam.


Kami membuat diri kami nyaman diatas pohon, memejamkan mata kami. Hari ini hari yang lelah dengan penuh plot twist. Padahal kami bisa mendapatkan akhir bahagia.


Kepala desa, pangeran Liam, pangeran Eliot, dan 2 pria tak dikenal tadi.. Timing mereka sangatlah buruk.


"... Oi, Namsius," Panggil Rumos tiba-tiba. "Aku sejujurnya tidak ingin memberitahukan ini padamu tapi untuk kebaikan kita, aku akan memperingatkan mu sekali saja"


!! Hei, hei.. Ada apa ini? Aku tidak pernah melihatnya serius dan tegang seperti ini.


".. Apa kita dalam bahaya?"


"Kelihatannya. Kau lihat 2 pria asing tadi kan?"


"Iya, mereka tampak mencurigakan."


"Benar, berhati-hatilah dengan mereka. Sebagai seorang kriminal, aku bisa mengetahui mereka bukan orang baik. Mereka lebih busuk daripada kepala desa Phari"


!!! Apa..?


... Untuk Rumos mengatakan ini sebagai seorang pembunuh.. bukankah berarti ini masalah yang gawat bukan?


Mengapa? Tidak- maksudku mereka seharusnya tidak ada hubungannya dengan kami.


Apa ini maksudnya kami akan diincar oleh mereka?


TAP, TAP, TAP-


"Ketemu- si kembar basah!"


!!! Hah?


Aku menundukkan kepalaku, melihat 2 anak kecil berada di bawah pohon. Mereka adalah Fonsius dan pangeran Eliot yang sedang bergandengan tangan.


"Kami tersesat! Bisakah kalian membantu kami?"


Rumos mengerutkan keningnya seketika dan melirikku. Dia kelihatan enggan untuk mengurus mereka.


Sepertinya aku tahu skenario novel yang terjadi. Mereka berdua pasti tersesat dan bertemu satu sama lain tengah jalan. Setelah itu, mereka pasti mencari kami entah dengan alasan apa itu.


"Uh.. Jangan khawatir. Aku yang akan membantu mereka. Tunggulah disini dan jaga barang-barang kami"


"Haaa... Lupakan. Aku akan ikut juga"


Aku dan Rumos turun dari pohon, membawa barang-barang kami. Aku mengecek apa mereka baik-baik saja. Syukurnya, tidak ada tanda mereka terluka ataupun sakit.


Hmm, dipikir-pikir lagi, pangeran Eliot umurnya 5 tahun kan sedangkan Fonsius 3 tahun?


Pertemuan ini, jika dalam novel-novel.. bukankah mereka akan menjadi teman masa kecil dan ketika dewasa bertemu lagi? Mungkin menjadi rival atau teman?


"Ada apa?"


"Tidak, aku hanya merasa pertemuan pertama mereka sangatlah penting. Ini event yang akan melibatkan keluarga kerajaan sebagai karakter penting nantinya."


"Apa maksudmu identitas kita bisa bocor? Aku tidak ingin kena penalti"


".. Selama dia tidak mengingat kita harusnya itu tidak masalah"


Rumos melirik ke anak berambut perak dengan mata merah api. Dia adalah pahlawan masa depan yang mempunyai darah keturunan iblis. Kekuatannya pasti sangat hebat. Tapi mengapa dia malah menjadi raja iblis pada akhirnya?


"Kita akan pikirkan hal itu nanti. Pertama-tama kita harus membawa mereka pulang."


"Astaga.. Namun, aku tidak akan membantumu mengasuh anak-anak"


Rumos menyilangkan tangannya, menungguiku untuk mengurus Fonsius dan pangeran Eliot. Aku tersenyum tipis, berterimakasih padanya. Aku menggandeng Fonsius dan pangeran Eliot agar mereka tidak hilang dari pandanganku ia sementara berjalan mengawasi kami dari belakang.


Kami membawa mereka ke penginapan dimana keluarga kerajaan menginap. Sang ratu yang berada di penginapan terburu-buru keluar ketika melihat pangeran Eliot berada diluar bersama kami.


Kami memberitahukan keadaan kami padanya dengan sedikit mengarang agar ceritanya masuk akal dan berhubungan.


"Begitu ya. Kalian pasti lelah. Apa kalian mau menemaniku dan pangeran Eliot sebentar?"


"Iya-"


Tanpa pikir panjang dan pertimbangan dariku, Rumos langsung menerima tawarannya. Ia mendorong punggungku, memaksaku ikut bermain dalam aktingnya. Menggigit bibirku, aku mengeluarkan ******* lelah, menyetujuinya.


Sang ratu kemudian membawa kami semua ke dalam kamarnya dimana kami diperbolehkan bermain sepuasnya disana sementara ia menyiapkan beberapa makanan.


Jadi sekarang, yang tersisa di ruangan tersebut hanyalah aku, Rumos, Fonsius, pangeran Eliot, dan para pelayan yang mengawasi kami. Semuanya terlihat normal dan baik-baik saja terkecuali untuk satu hal.


—— Tatapan para pelayan yang menatapku dan Rumos.


Ok, kami sadar kami ini bukan seorang bangsawan. Kami bahkan bukan berasal dari golongan rakyat jelata yang sederhana seperti Fonsius, melainkan orang miskin yang dipenuhi debu dan tanah.


Awalnya, aku merasa tertekan dengan pandangan semua orang yang melihat kami sebagai sampah masyarakat. Tapi kini aku tidak peduli lagi karena sejujurnya kami memang berasal dari kaum terendah. Kami menerima kenyataannya.


Kami tidak memilih untuk berasal dari sana. Ini bukan salah kami dilahirkan seperti ini. Apabila semua orang tidak menyukai fakta itu, maka bantulah kami menjadi kaya. Itu bukan masalah kami sama sekali.


"Abaikan saja mereka. Tidak ada gunanya kita melibatkan diri dengan mereka. Kau hanya perlu fokus bermain dengan anak-anak lain sementara aku berpura-pura tidur."


"Kau akan tidur? Aku tidak terkejut. Yah, selamat tidur"


"Selamat bermain. Panggil aku jika ada sesuatu yang PENTING terjadi"


Rumos menutup kelopak matanya, membaringkan dirinya di karpet bulu yang hangat. Mengabaikan para pelayan, aku pun bermain bersama Fonsius dan pangeran Eliot dan mengajari mereka sedikit.


"Wah, kau cerdas!"


"Benar! Kau sepintar kakakku!"


Pujian mereka membuatku tertawa senang. Sudah lama aku tidak bersenang-senang seperti ink. Berinteraksi dan bermain bersama anak-anak balita yang normal membuat rindu akan masa-masa ku sebagai guru TK dan SD.


Ah- Senangnya! Mereka sangat polos dan menggemaskan!!


Belakangan ini aku selalu berinteraksi dengan orang dewasa terus. Rumos (20an) bukanlah anak balita yang terlalu ramah. Sebagai anak-anak, dia sangat sering melotot dan menggerutu.


--- Dia adalah anak balita terseram yang pernah kutemui sejauh ini.


"Siapa nama kalian?" Tanya pangeran Eliot


!!! Eh..?!!


Mereka sudah melupakan namaku dan Rumos?! Tunggu- apa artinya ini kabar baik. Apa aku harus memberitahukannya lagi?


Yah, pangeran pertama sudah mengetahuinya jadi apa aku masih harus menyembunyikannya? Tapi..


Rumos tidak akan menyukainya apabila kami terlalu dekat dnegan mereka.


"Namaku Eliot, pangeran termuda"


"Aku Fonsius. Siapa namamu?"


"... Aku dan saudaraku?"


Pangeran Eliot dan Fonsius mengangguk antusias. Anak-anak memang selalu senang ketika mendapatkan teman bermain baru.


Masalahnya, aku ini bukan anak-anak. Aku ini berusia 23 tahun saat aku mati. Artinya secara kronologis aku ini berusia 26 tahun. Aku tidak bisa bersikap seperti anak-anak dan lebih baik aku menjaga jarak dari mereka.


"Jadi siapa namamu dan saudaramu?"


Mereka penasaran sekali.


"Fonsius ingin tahu nama kalian. Fonsius ingin main bersama!"


Untung saja aku sudah mempersiapkan nama yang baik-


"Namaku Steve dan saudaraku yang sedang tertidur disana adalah Udin. Senang bertemu kalian!"


—— Setidaknya secara spontan dari buku paket.


Rumos.. Maafkan aku jika suatu hari kita dikenal dengan nama seperti ini oleh para pahlawan.


"Wow, keren!"


"Nama kalian bagus sekali. Steve, itu terdengar seperti nama ksatria"


Haha, untung saja mereka masih anak-anak.


Aku tersenyum lebar, menghela nafas lega. Merespon pujian mereka, aku menepuk kepala mereka dan berterimakasih. Mereka merasa bangga saat aku melakukannya. Seolah-olah mereka telah melakukan sebuah pencapaian besar dengan memberitahuku sebuah pujian.


——Tidak seharusnya seperti kami. Mereka tidak seharusnya menyadari kenyataan dunia ini terlalu cepat.


"Hei, aku ingin memegang rambutmu. Apa itu boleh?" tanya Fonsius, mencondongkan tubuhnya ke dekatku dan mengambil helaian rambutku dan mengelusnya.


Ah, aku jadi teringat ketika aku masih menjadi guru TK, anak-anak sering sekali menarik rambutku karena ingin memegangnya. Aku biasanya tidak keberatan dengan anak-anak yang main-main memanjatku atau dengan nakal mencubitku.


Aku adalah guru TK yang paling sering disuruh menenangkan anak-anak paling ribut karena kalah taruhan. Ini bukanlah masalah besar. Ini hanya sifat alami anak-anak.


"Steve.."


"Ada apa?"


"Rambutmu bau. Steve tidak mandi ya?"


Ugh..


Aku hampir lupa kejujuran brutal adalah salah satu sifat anak-anak juga. Apabila seorang anak kecil mengatakan 'kau jelek' maka itu adalah pendapat jujur mereka. Jangan terlalu dibawa ke hati.


Yah, dibandingkan rambut halus nan lembut milik Eliot.. milikku kasar, kotor dan kaku. Itu karena aku dan Rumos baru saja berenang bersama ikan. Jadi badan kami bau amis.


"Guru TK, aku sudah bangun. Ringkaskan situasinya dalam 20 kata kebawah"


Aku menoleh kebelakang ku, melihat Rumos yang mengucek matanya. Dia melirikku, meminta laporan ku sembari meregangkan badannya.


".. Em.. Jangan marah.. Situasinya tadi hamoir sedikit.."


"Beritahukanlah"


".. Baik. Namamu mulai sekarang adalah Udin dan aku Steve. Mereka melupakan nama kita. Mereka mengomentari badan kita bau"


"Hah? Situasi absurd apa itu?"


"Intinya kita aman."


Rumos memandang bingung ekspresikj. Menoleh pada Fonsius dan pangeran Eliot berlebihan, ia mencoba mengolah apa yang terjadi di kepalanya sebelum menyerah dan berakting sesuai situasi yang kuberikan.


"Ah, Udin sudah bangun!"


".. I, Iya.. Aku sudah bangun."


"Kau sama baunya dengan Steve. Kalian mandi sana dulu!"


Rumos mengernyitkan dahinya, tidak senang. Ia melototi ku, menyuruhku untuk menangani situasi ini.


"Oi, kau tahu aku benci anak-anak kan? Apa kau sengaja mengganti namaku atau apa?"


"Um.. akan kupastikan menjelaskan detailnya nanti. Untuk sekarang kita mandi saja dulu"


...**********...


Kamar mandi VIP tempat penginapan keluarga kerajaan adalah tempat terbaik untuk melepaskan stress. Katanya berada di tempat ini dapat membuatmu tenang.


"Ah.. Aku rasa itu benar. Disini sangat nyaman"


"Aku sudah lama tidak mandi. Bersyukurlah mood ku sedang baik. Aku akan membunuhmu jikalau kau tidak menjelaskan sesuatu yang masuk akal tadi."


"Iya, iya. Aku baru tersadar juga anak-anak ternyata memiliki memori yang singkat.


"Ngomong-ngomong, apa si protagonis sudah pulang ke rumahnya?"


Aku menggeleng, mengatakan Fonsius sedang menunggu di lobi untuk mengucapkan salam perpisahan pada kami dan pangeran Eliot. Dia menghela nafas santai, mengiyakan ku, tidak peduli.


Hanya ketika aku menyebutkan jam berapa sekarang ini, barulah ia melebarkan matanya dan memarahiku karena tidak memberitahunya lebih awal.


"Sudah jam 9 malam?! Sial- mengapa kau tidak mengatakannya lebih awal?!!"


"!! Ada apa denganmu?! Berhenti berteriak!"


"Hah?!! Kau lupa ya tentang telur ikan yang kita makan aktif jam 10 malam? Ikan itu menyuruh kita untuk tidur sebelum jam menunjukkan pukul 10."


!!!


Ah, aku hampir lupa tentang telur ikan yang kami makan. Sebelum kami meninggalkan danau, ikan tersebut memperingatkan kami untuk sudah tertidur sebelum jam 10 malam agar efeknya bekerja baik.


Secepat kilat, ia menarikku membersihkan tubuhnya dan menyuruhku cepat. Padahal masih satu jam lagi, mengapa dia panik sekali.


Pada akhirnya, kami keluar dari kamar mandi dalam waktu 15 menit setelah membersihkan diri secara menyeluruh dan bergnti pakaian. Kami pun pergi ke lobi dimana Fonsius dan pangeram Eliot sudah menunggu disana sementara sang ratu dan ibunya sedang berbincang di luar lobi.


Sebagai salam perpisahan, Eliot memberikan Fonsius sebuah cincin dan memeluknya erat. Luar biasanya anak-anak adalah mereka sangat mudah dekat dengan orang lain seusianya setelah bermain setidaknya satu kali dengan mereka.


Fonsius memeluk hangat Eliot dan berterimakasih. Pandangan matanya lalu menuju pada kami sebelum ia berjalan memeluk kami juga.


Rumos yang tidak pandai dengan anak kecil memasang senyuman dingin, memberikannya tepukan pelan dipunggung agar ia melepaskan pelukannya. Dia tidak bisa bereaksi dan menjadi kaku.


Aku menepuk dan mengelus kepalanya pelan, sebelum memeluknya sejenak. Ia memeluk kami semakin erat, menguburkan wajahnya di pundak kami. Tersenyum lebar, ia mengatakan kalimat yang membuat alisku terangkat dan Rumos jengkel-


—— Aku tidak akan melupakan kalian.


.


.


Aku tidak ingin mendengar kalimat itu tetapi hanya bisa menerima nasib.


"Fonsius.. dipikir lagi itu nama yang membawakan kesialan untuk kita tapi kebahagiaan untuk orang lain kan?"


"... Oh, diamlah. Hanya karena kau menjadi patung dan tidak menyukai anak-anak, bukan berarti kau perlu mengatai anak tak bersalah seperti ini. Lagipula.. ini tugas kita untuk membantunya kan?"


"Terserah- dia adalah biang masalah. Aku akan memberikan pesan singkat padanya dulu"


Rumos mendorong Fonsius menjauh sedikit dari kami secara kasar. Menghadang ku untuk bergerak lebih jauh dari posisiku, ia memeluk Fonsius dengan aneh dan memanggil namanya dengan nada yang menyeramkan.


"Fonsius, kau tidak akan mati dibunuh oleh raja iblis. Kau akan mati dibunuh oleh kami berdua. Ingatlah itu, kau anak sialan-"


!!!?


"Hei- Hentikan, kau bodoh!"


Setelah Rumos membisikkan kata-kata itu pada Fonsius, aku menariknya dan mencubit tangan Rumos dengan kesal. Apa dia serius mengatakan itu pada anak berusia 3 tahun?!


Reaksi Fonsius seperti yang diharapkan; terperanjat, takut, dan menangis sambil berlari ke ibunya. Itu karena Rumos melampiaskan kebenciannya akan dunia ini padanya.


Tidak salah, karena bisa dibilang Fonsius akan nanti menjadi masalah besar untuk kami- tapi dia sekarang masih anak 3 tahun yang polos dan naif! Apa masalahnya dengan itu?!


"Haa.. Kau tidak tahu sama sekali tentang anak kecil. Aku tidak bisa berkomentar apapun lagi"


"Baguslah. Sekarang ayo kita cari tempat untuk tidur"


Rumos mendorongku menuju pintu keluar, membuatku kesal. Hampir kelepasan di depan pangeran Eliot, aku menggigit bibirku dan mengepalkan tanganku kuat.


"Aku membencimu, pembunuh"


"Sama, guru TK"


...*******...


Author POV


Pangeran Liam menopang dagunya setelah mengetahui kebenaran tentang wilayah Asa dan danau Noro. Ia mendesah kecil melihat betapa tidak kompetennya kepala desa di Phari, kecewa dengan apa yang selama ini dilakukan desa Phari-


"—— tidak melakukan apa-apa? Kalian pasti bercanda?"


"K, kami hanya mendengar masih ada 2 anak kecil yang ada di Asa tapi tidak pernah mengetahui keberadaan mereka. Tidak ada yang mau memberitahu kami-"


"Itu karena mereka takut direndahkan. Mereka berdua sadar- memberitahumu atau tidak, situasi tidak akan membaik untuk mereka dan malah akan memburuk setiap hari"


Kepala desa itu terbungkam dan meminta maaf. Merasa harga dirinya dan posisinya direndahkan, dia memaksa pangeran Liam mengatakan dia bisa mengatasinya.


Sayangnya, pangeran Liam sudah cukup muak dan menolaknya, tidak ingin berurusan dengan kepala desa Phari lagi. Ia telah memutuskan untuk menempatkan mereka di sebuah panti asuhan di desa tetangga.


Mendengar pembicaraan kepala desa dan pangeran Liam, 2 pemuda yang sedari tadi mendengarkan dengan saksama, mengangkat suaranya dari rasa penasaran


"Pangeran Liam, jikalau saya boleh bertanya. Apakah anda yakin anak tersebut bukanlah dwarf? Anak 3 tahun terdengar mustahil untuk melakukan semua ini," ujar pemuda dengan luka di kepala


"Iya dan mereka keterlaluan pintar. Mereka cerdas dan berwawasan luas"


"Keterlaluan pintar? Apa maksud anda mereka bisa membaca lancar? Atau-"


"Tidak. Mereka lebih dari itu," Jawab pangeran Liam sambil menggeleng. Ia menggaruk kepalanya, kesulitan untuk menjelaskannya dalam kata-kata. Lagipula, ia sendiri tidak percaya ada anak berusia 3 tahun yang secerdas itu.


"Mereka... memiliki persepsi yang tidak biasa tentang dunia ini untuk anak seumuran 3 tahun. Mereka mengerti ekonomi dan politik. Mereka memberikanku solusi untuk masalahku."


Kedua pemuda tersebut bertukar pandang, samar-samar memyeringai dalam diam. Sedikit yang pangeran Liam ketahui, mereka merencanakan sesuatu yang busuk demi kepentingan mereka sendiri.


Bagai langit tenang sebelum badai, mereka pergi sehabis memberi salam pada pangeran Liam dan kepala desa.


.


.


"––Anak-anak Asa ya.. Mereka pasti akan membuat kita menjadi kaya"