
Johnson Farrel POV
Aku melihat gadis dengan rambut pirang pucat bermata hijau duduk di kursi rumahku. Namanya adalah Alice Reiss dan dia berusia 9 tahun. Kakak angkat dari anak-anak Asa.
Si kembar meninggalkanku 2 surat melalui Alice. Surat pertama berisikan permintaan maaf karena telah membobol rumah kami mencuri barang-barang kami. Ini sebuah kejutan merekalah yang mencurinya.
"Sayang, apa maksudnya yang mencuri barang-barang kita adalah anak-anak Asa?"
"Haaa.. seperti begitu. Tapi.. dari mana dia mendapatkan semua emas ini?"
Aku menoleh ke atas meja sekantong penuh koin emas. 35 koin emas secara total mereka berikan sebagai ganti barang yang mereka curi. Lalu di surat itu juga ada tertulis satu hal lagi.
[Kami mempunyai sebuah permintaan kecil. Apakah kalian boleh menyembunyikan keberadaan kami dari anak-anakmu? Kami mempunyai alasan tersendiri. Kalian boleh menceritakan tentang Asa, tapi tolong jangan beritahukan nama kami ataupun satu hal pun pada mereka]
... Apa maksudnya ini? Kau yakin mereka tidak berniat buruk. Lebih tepatnya, mereka meminta bantuan kami. Juga, darimana ia mendapatkan semua informasi tentang kami?
[Oh ya, selamat atas kelahiran anak kedua kalian. Maaf kami tidak membawakan hadiah untuk kelahiran anak kalian. Kami dengar dari Yulan dan Dori bahwa kalian menamai anak kedua kalian Cendric yang artinya sinar bulan. Itu nama yang bagus]
.
.
.
Oh, itu menjelaskan semuanya. Mereka bertemu dengan Yulan dan Dori-- salah satu kombinasi orang terburuk yang pernah ada. Dori pasti membocorkan semuanya pada mereka.
Tunggu- apa itu artinya mereka berada di Ibalion? Mengapa?
[Kabar kami baik. Setelah pergi dari Phari, kami berencana berkelana dari satu kota ke kota lain. Kami menjadi pengembara jalanan. Lanjutannya ada di surat kedua.]
!!!!
EEEEHHH?!!
Mereka berkelana dari satu tempat ke tempat lain?! Dengan uang apa? Apa mereka memiliki wali?
Aku membuka surat kedua, dan membaca lanjutan suratnya. Di surat kedua mereka menveritakan pengalaman mereka di sirkus dan bagaimana cara mereka bertemu dengan Sarah. Ternyata, mereka dijual oleh kepala desa sehari setelah mereka merampok rumah kami.
Alice berasal dari sirkus yang sama dan mereka bertiga ditindas disana. Mereka memberitahuku Alice mempunyai trauma karena itu. Ia menyuruhku membawaku ke terapi dan menjaganya untuk sementara waktu sementara mereka pergi berkelanan tanpa arah.
[Ini adalah akhir dari surat kami. Tolong jaga Alice dengan baik dan sembunyikan fakta kalau kami nyata. Kalian satu-satunya harapan kami dan kenalan yang bisa kami percayai]
.... Ya ampun. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan tapi aku akan mencoba sebisaku untuk itu. Lagipula, aku tidak mungkin mengusir Alice yang sudah datang jauh-jauh bukan?
...********...
Author POV
Namsius dan Rumos berjalan kaki keluar kota sembari memutuskan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Untuk sementara waktu, mereka menyuruh Alice untuk mengawasi Fonsius dan gerak-gerik semua orang disana.
Setelah kejadian sirkus dan penalti ini, mereka tersadar kalau mereka harus lebih menyiapkan diri untuk kedepannya. Mereka berencana untuk berpencar dalam perjalanan mereka.
"Nam, kau akan pergi ke timur bukan?"
"Iya, dan kau akan ke barat. Apa yang akan kau lakukan disana?"
"Aku akan berniat menjadi pembunuh bayaran. Mungkin belajar militer dan politik untuk persiapan kedepannya. Bagaimana denganmu?
"Entahlah. Mungkin belajar ekonomi? Aku bisa bekerja menjadi guru atau pedagang. Intinya, aku akan tinggalkan politik untuk dirimu karena aku tidak suka bermain permainan politik"
Rumos tersenyum tipis dan menengadah menatap langit mendung. Langit yang sama ketika ia berada di Asa membentang luas di atas kepalanya. Hampir lupa dengan status mereka, ia mengangkat tangannya dan mencium bau badannya.
Namsius yang teringat dengan statusnya dari kaum rendahan pun mengikuti kembarannya mencium bau badanya sebelum menyadari mereka tidak lagi bau comberan. Mereka baru menyadari mereka telah menempuh perjalanan jauh dari Asa.
".. Melihat ke belakang, kita sudah berjalan jauh. Tapi jalan di depan kita lebih jauh dan curam. Ini menyedihkan," komentar Namsius, menoleh ke belakang, melihat jalan setapak yang jauh dari rumahnya.
"Bersyukurlah kita mempunyai uang. Kita tidak bisa membiarkan diri kita bau lagi. Untuk finansial, aku akan bekerja sebagai pedagang dan pembunuh bayaran. Kita sebaiknya tidak mencari pekerjaan yang gajinya terlalu kecil"
"Menjadi pedagang akan sangat membantu kita. Itu pun apabila kau bisa sukses. Aku penasaran dengan gaji guru disini. Mungkin aku bisa menjadi penjahit atau juru masak?"
"Nah, itu tidak akan berhasil. Bagaimana jika penari dan pedagang. Kudengar penari yang menggoda orang mendapatkan gaji yang besar-"
"Siapa? Aku? Pfft- Hahahaha" Namsius menyemburkan tawa besar dan mencandai usulan Rumos tentang dirinya menjadi penari. Rumos memiringkan kepalanya kebingungan sebab ia serius saat mengatakannya. Ia tidak mengerti apa yang lucu dari perkataannya.
"Ayahnya Fonsius memiliki buku untuk belajar menari. Kudengar dari gosip di Phari bahwa dia mempelajarinya untuk menggoda istrinya dulu. Siapa tahu itu akan berhasil. Lagipula, itu akan menarik melihatmu menari."
"Hahaha, perutmu pasti akan meledak saat aku melihatnya. Tarianku akan menjadi stand-up comedy. Badanku ini seperti kayu kering yang kaku"
Rumos mengangkat alisnya, meliriknya dari atas sampai bawah. Dia menopang dagunya membayangkan apa yang dikatakan Namsius. Memikirkan kemungkinan saudaranya menari bagai robot dengan gerakanan aneh yang tidak bisa dikatakan sebagai tarian, ia tertawa kecil.
"Itu tidak akan buruk-buruk amat. Setidaknya kau bisa menjadi pelawak di dunia ini. Seperti Charlie Chaplin dan Rowan Atkinson."
"Tidak. Aku tidak ingin menjadi bahan tawaan. Bagaimana jika kita memikirkan bagaimana caranya kita masuk ke sekolah? Beasiswa?"
"Kita sudah punya uang. Kita bisa menyogok mereka. Tapi pertama-tama, kita harus mencari seorang wali terlebih dahulu"
Namsius mengiyakannya dan menghela nafas lega. Ia cengar-cengir dalam suasana hati yang baik sembari menyarankan mereka untuk bertemu di ibukota ketika usia mereka mencapai 15 tahun. Rumos mengiyakan rencana itu dengan menetapkan pertemuan mereka di hari Yutew.
Mereka kemudian berjalan hingga ke persimpangan jalan tempat mereka akan berpisah. Menghadap satu sama lain, Namsius menampilkan senyum kekanak-kanakannya dan membungkuk kecil pada Rumos sebagai tanda perpisahan dan menghargainya, diikuti oleh Rumos yang meresponnya dengan anggukan pelan dan dewasa
"Sepertinya kau mempercayaiku sangat dalam?"
"Tidak sedalam itu. Tapi aku percaya padamu dibandingkan dunia ini. Kita akan bertemu 9 tahun lagi"
Rumos tertawa lemah, menjulurkan tangannya pada saudaranya. Namsius terdiam sebentar melihat tangan tersebut sebelum tersenyum tipis dan menjabatnya.
"Sampai jumpa di ibu kota 9 tahun lagi, Nam Aku mempercayai dirimu juga lebih dibandingkan dunia ini"
"Yah, kau sebaiknya menjaga dirimu juga. Mari kita lihat hasil dari misi kita"
...********...
Cendric POV
HOAM.. Aku terbangun dari tidurku dan mengucek mataku. Menduduki badanku di ambang kasur, aku melihat ke sekeliling ruanganku dan menemukan kakakku yang masih tertidur di kasurnya.
Menghela nafas panjang, aku berjalan menghampiri kasurnya dan melihatnya tidur meringkuk. Kakak kandungku yang aneh ini bukanlah seseorang yang normal.
—— Dia adalah seorang penyendiri yang membosankan dan aneh. Tidak pernah hebat dalam melakukan apapun.
"Hei, Fon- Bangunlah! kau bisa mendengarku?"
".. 5 menit.. lagi.."
"Dengar, Fonsius- Aku tidak akan membangunkan mu lagi sehabis ini. Kau mengerti?"
Aku menuruni tangga menuju dapur bersamanya. Ayah dan ibu sedang menungguku disana. Kami memakan sarapan sambil berbincang-bincang. Kemudian, barulah aku pergi mandi dan bersiap-siap untuk sekolah.
-- Oh ya, aku hampir lupa memperkenalkan diriku. Kalian para pembaca pasti kebingungan.
Namaku Cendric Farrel. Aku adalah anak bungsu dari keluargaku. Aku tinggal bersama ayah dan ibuku beserta saudara-saudariku. Kakak angkat perempuankuku bernama Alice Reiss dan kakak kandung laki-laki ku bernama Fonsius Farrel.
Aku bertemu dengan Alice saat aku berusia 3 tahun. Dia adalah orang yang pemalu. Tetapi dia ramah dan baik. Walaupun di dititipkan pada kami dan berasal dari keluarga yang berbeda, kami telah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga kami.
Lalu ada yang namanya-
BRAAKKK!!!!
"TIIIDAAAAKKK!!! AKU TELAT!!!"
.
.
—— Yup. Orang yang barusan membanting pintu kamarnya itu adalah kakak kandungku, Fonsius. Seperti yang kubilang, dia adalah orang teraneh di dunia ini. Seorang pecundang gila dan pengecut sejati.
Alice dan aku menghela nafas panjang, melihatnya yang kepanikan. Fonsius berlari menuruni tangga menggunakan seragamnya yang kusut-- tidak mandi dan sarapan secepat kilat hanya dengan memakan sepotong roti dan telur rebus.
Ia kemudian lomba lari dnegan waktu menuju sekolahnya sembari aku dan Alice berpamitan dengan ayah dan ibuku sebelum mengikuti Fonsius dari belakang. Padahal masih ada waktu setengah jam sebelum sekolah dimulai.
Mengapa kakak anehku bersikap seperti ini?
"Haaa.. Andai saja kakaku bisa bersikap lebih normal"
"Cen, kau tidak seharusnya mengatakan hal itu"
"Aku tahu dia bisa lebih baik daripada ini. Jadi aku sedikit kecewa padanya"
Alice tersenyum masam sembari berjalan di tepi danau Noro menuju sekolah. Dia menyuruhku untuk tidak mengatakan hal tersebut.
"Keluarga adalah orang terpenting dalam hidup ini. Mereka adalah harta berharga yang harus dijaga"
"Itu benar. Tapi maaf, apa yang aku katakan tidaklah salah. Kakakku memang bisa menjadi lebih baik daripada ini"
"Jangan katakan itu. Kau akan menyesal nantinya"
Aku mengangguk, mengiyakannya dan meminta maaf padanya. Aku tidak terlalu berharap banyak pada Fonsius ataupun aku melihat sebuah alasan mengapa aku harus melakukannya. Demi kebaikannya, dia seharusnya berhenti bertingkah abnormal.
"Tidak masalah. Aku memaafkanmu," Ujar Alice, melangkahkan kakinya maju.
Aku dan Alice lalu berjalan tanpa suara sambil melihat danau Noro yang jernih nan biru bersih. Kononnya, danau ini terbentuk pertama kali dengan penuh polutan dan serpihan kayu. Tapi kata ayah, perkataan mereka tidaklah benar.
Dulunya, jika seseorang berjalan menuruni tangga di dekat danau, mereka akan melihat sebuah tempat kumuh dan gersang tanpa kehidupan. Nama tempat tersebut adalah Asa. Katanya, jika seseorang sampai ke Asa, mereka bisa akan bertemu dengan satu-satunya penghuni disana—— Sepasang anak kembar.
Suatu hari mereka hanya menghilang begitu saja dan semua orang melupakan keberadaannya bersama Asa yang hancur karena hujan beberapa tahun lalu yang membentuk danau Noro secara permanen.
Tahun lalu, dasar danau ini dibersihkan dan ikan-ikan mulai didatangkan ke danau ini. Keberadaan Asa dihapus secara total sekarang. Tidak ada bukti kalau tempat itu benar-benar nyata bersama anak-anak dari Asa. Akan tetapi, aku mulai bertanya-tanya kemanakah mereka pergi saat ini.
".. Hei, Alice. Menurutmu, diamnakah anak-anak Asa sekarang ini? Apa mereka baik?"
"Si kembar Asa? Yah.. aku tidak tahu keberadaan mereka tetapi aku yakin mereka hidup dengan baik-baik saja. Mengapa kau bertanya?"
"Tidak ada yang spesifik. Hanya penasaran dan tertarik. Aku tidak mengerutkan keningku terlalu banyak bukan?"
Alice menggelengkan kepalanya dan terkekeh geli. Dia membalas candaanku, mengatakan aku adalah seseorang yang dewasa dan haus akan ilmu sama seperti Fonsius.
Cukup adil. Aku setuju dengan itu. Bedanya, aku tidak bertingkah seperti orang gila yang tidak tidur selama berbulan-bulan.
"Kau setidaknya harus berusia 15 tahun untuk mengerutkan keningmu. Sehabis Yutew, barulah kau secara resmi boleh membebani pikiranmu dengan hal-hal yang mengerutkan keningmu. Bersenang-senanglah dini hari"
".. Maaf, sayangnya aku tidak menantikan hari Yutew sama sekali. Tumbuh dewasa terdengar merepotkan"
Yutew—— Ketika seseorang menginjak 15 tahun, sebuah bola sihir secara literal akan memberitahukan semua bakat, kekuatan, talenta, serta pekerjaan yang cocok untuk mereka. Itulah inti dari Yutew.
Dan menurutku...
Um.. tidak terlalu penting sama sekali. Maksudku, semua itu tidak berguna dan menentukan siapa dirimu. Baiklah, harus kuakui tidak sepenuhnya hari istimewa ini tidak berguna sebab seseorang dapat kenemukan kemampuan terpendam mereka.
Namun..
"Alice, mengapa kau memilih sekolah khusus untuk membuat ramuan dan obat-obatan?"
"Sebagian besar dikarena aku tertarik di bidang itu. Untungnya, hasil Yutew ku mengatakan aku ahli di bidang itu dan mahir menggunakan sihir tanah. Makanya, aku dapat diterima disana"
"Jadi hasil Yutew itu mempengaruhi bidang kerjamu? Itu terdengar tidak adil"
Lihat- mereka terlalu bergantung pada Yutew. Mereka tidak seharusnya melakukan itu dan menilainya dari kemampuan seseorang.
"Haaa.. itu menyebalkan"
"... Sayangnya, itulah kenyataannya. Keluhanmu tidak akan mengubah apapun. Juga, berhentilah memikirkan hal yang membuatmu pusing sendiri"
"Aku sudah banyak mendengar hal itu. Aku tidak bodoh. 9 adalah pangkat dua dari 3 dan bukanlah angka yang kecil."
Alice mengangkat bahunya, menyetujui ku. Dia sudah sering mendengarku mengatakan hal ini sampai dia malas mendengar alasan ini. Di satu poin, dia ada benarnya saat mengatakan aku ini masih muda
Di poin lain, dia salah sebab aku tidaklah terlalu dewasa untuk usiaku. Aku mengetahui sebuah fakta dan mengetahui rahasia seluruh jagat raya dan alam semesta ini yang tidak diketahui siapapun.
Aku dapat mengetahui semua rahasia ini berkat salah satu kemampuanku yang sudah ada sejak lahir.
—— Spoiler. Itulah nama kemampuanku. Yakni, kemampuan untuk berbicara dengan sosok yang jauh lebih tinggi dari dewa Darumias dan pengontrol takdir dari semua makhluk hidup yang ada di alam semesta ini.
Tentu saja tidak ada yang menyadari sosok inilah yang mengatur dan menyusun semua yang ada di dunia ini. Dia adalah soosk tersembunyi yang hanya aku satu-satunya yang menyadari keberadaannya di seluruh jagat raya ini.
Dari waktu ke waktu, aku dapat berkomunikasi dengan sosok ini dan dia dapat merespon ku. Aku tidak tahu makhluk apakah dia ini. Dia memanggil dirinya sebagai Author.
Akan tetapi, aku menamainya sebagai Nom écrivain—— Dewa narasi yang tersembunyi sekaligus sahabatku. Setidaknya, aku menganggapnya sebagai sosok tersebut. Motif utamanya tidak kuketahui sama sekali.
Satu hal yang pasti adalah sampai saat ini pun, aku yakin dia selalu mengawasi dan memperhatikanku. Entah dia baik atau jahat, aku yakin semua itu bukan masalahku.
Sebab aku bukanlah protagonis dalam cerita yang ia tulis. Aku hanya sekedar pemeran sampingan yang membantu narasinya.
.
.
Aku benar bukan, Nom écrivain?