
Sarah melihat dirinya di cermin. Tubuhnya dipenuhi bekas luka dan sering berdarah semenjak kepergian si kembar. Tapi hal yang paling mencolok sekarang adalah, dia memakai penutup mata di mata sebelah kanannya.
"Hei, baju yang kau cuci tidak terlalu bersih dan masih bau. Si kembar lebih kecil darimu tapi mereka lebih baik daripada ini. Kau tidka berguna sama sekali" kata Gyana sambil menendang perut Sarah.
Sarah terjatuh ke tanah, ketakutan dan gemetaran. Ia bergegas pergi dnegan terhuyung-huyung, mengambil baju Gyana untuk dicuci kembali.
Selama kepergian si kembar, hidupnya menjadi lebih sengsara. Terutama setelah Alfred keluar dari sirkus sebulan lalu ke kota besar untuk belajar sihir, ia menjadi target satu-satunya penindasan di sirkus oleh Gyana.
"Hei, hei.. jangan terlalu kasar padanya. Dia sudah melakukan yang terbaik. Lagipula, hari ini adalah hari Yutew untuk Alfred. Bukankah kita harus merayakannya?"
"Ha? Bocah itu sudah 15 tahun?"
Toru menganggukkan kepalanya, menjelaskan alasan lain mengapa Alfred pergi dari sirkus ini adalah karena hari Yutew-- dimana setiap anak 15 tahun dan ke atas diberi berkah dan membuka bakat terpendam mereka. Tidak hanya untuk bangsa manusia, tetapi seluruh bangsa yang ada di Liawes merayakan Yutew. Setiap bangsa yang ada wajib mengikutinya dan hanya bisa dilakukan satu kali dalam hidup mereka.
Kini anggota yang tersisa adalah Gyana, Toru, dan Sarah. Semenjak kepergian 3 Anggita sirkus lain, sirkus mereka semakin sibuk setiap hari. Gyana menjaid lebih stress sehingga memerlukan bantuan Toru sementara Sarah menggantikan tugas si kembar dan Alfred.
Semua ini dikarenakan pak Edmond yang mabuk dalam khayalannya akan surat wasiat sejak kepergian Namsius dan Rumos sampai-sampai ia mengabaikan sirkusnya.
"Ugh, si pemabuk itu. Jikalau bukan karena dia akupasti akan berhenti dari sirkus ini. Semua ini karena aku berhutang pada sialan itu-"
"Haha, tapi dia tetap membayar gaji dan mengajak kita minum-minum kan? Ini tidak terlalu buruk. Juga, sebentar lagi kita akan ada rapat lagi. Haruskah aku memanggil Sarah?"
"Biarkan saja dia. Dia tidak berguna. Lagipula.. apa kau mencium sesuatu?"
Toru mengendus-endus udara sekitar dan menggaruk hidungnya. Dia mengangkat bahunya dan mengatakan ia tidak mencium sesuatu yang aneh.
"Sedikit bau besi saja. Selain itu tidak ada yang spesial. Kita temui pak Edmond saja dulu. Anggur istimewanya sedang menunggu kita"
Gyana mengiyakan Toru dan masuk ke dalam tenda pak Edmond yang dikelilingi bau alkohol. Mereka berdiskusi tentang acara besok malam dan berbincang kecil sambil mabuk-mabukan salam tenda. Seperti malam kemarin juga, mereka minum-minum dan melarutkan diri dalam alkohol.
Inilah keadaan mereka sehari-hari setelah kepergian si kembar. Situasi mereka bertambah gila saat Alfred pergi dan mereka pun mulai berfoya-foya tanpa mementingkan sirkus terlalu banyak.
"Hei, kerja bagus. Bagaimana keadaan Sarah?" Tanya pak Edmond dalam keadaan setengah tersadar.
""Layak. Dia pantas mendapatkan matanya dicabut oleh Alfred. Dia bahkan tidak bisa bekerja dengan benar"
"Hei, itu terlalu kasar. Kau-"
.
.
DUAR- BOOOMM!!!!
"!!! Apa itu?!"
Suara ledakan besar terdengar, membangunkan kesadaran penuh ketiga orang yang mabuk. Mereka keluar dari tenda secepatnya dan terperanjat panik saat menemukan semua tenda lain termakan api-- hampir tidak menyisakan apapun.
"!!! Apa yang kalian lakukan?! Cepat padamkan apinya!!!"
"B, Baik, bos!"
Gyana dan Toru bergegas ke danau dekat sirku dan mengambil air untuk memadamkan api besar. Tentu saja usaha mereka sia-sia, akan tetapi pak Edmond dengan putus asa memerintahkan mereka untuk melakukannya.
Mengingat semua hartanya berada di dalam tenda bersama surat wasiat si kembar, ia dengan putus asa berlari dan berteriak meminta bantuan. Sampai matanya menangkap 2 sosok yang ia kenal, langkah kakinya berhenti dan pandangannya jatuh pada jantung naga Ibalion yang berada di tangan mereka.
Pada saat itulah, ia baru menyadari kenyataan yang sebenarnya.
"Kalian- mengapa kalian masih hidup?!! Kalian menipuku!!"
".. Kami tidak melanggar satupun persyaratan"
"Kalian membakar tenda ku dan harta ku!! Itu bukan bagian dari perjanjian- Kalian penipu sialan!! Kalian memanipulasi taruhan ini!!"
Pak Edmond menatap si kembar yang bertukar pandang sembari mencemoohnya. Ia tidak ingin mengakui semua ini adalah akhir dari hidupnya. Akan tetapi, semua khayalan dan delusinya dipecahkan saat seorang gadis kecil berjalan muncul di depan matanya.
Tak bisa berkata-kata, ia menunjuk pada gadis tersebut dan terduduk di tanah dengan gemetaran.
"Mereka tidak melakukan kesalahan apapun. Akulah yang membakar sirkus ini dengan keinginanku sendiri"
"A, Apa- k, kau tidak.. taruhan ini.."
Rumos tersenyum sinis dan tertawa terbahak-bahak. Melihat kekonyolan dan kebodohannya, ia menunjuk pak Edmond kembali sebelum menembakkan peluru di kepalanya, mengakhiri nyawanya.
"—— Hidup ini bukanlah permainan taruhan. Salah sendiri kau tidak hati-hati. Kau layak mendapatkannya."
.
.
...********...
Toru POV
Ada sesuatu yang aneh sedang terjadi di sirkus ini. Semuanya kacau. Sirkus ini sudah tamat. Satu-satunya harapanku menghilang tanpa jejak.
"SARAH, SARAH, DIMANA KAU?!!"
Aku memanggil Sarah yang manis beberapa kali tapi dia tidak muncul sama sekali. Kemana anak sialan itu pergi?!
Aku sudah susah payah mencarinya masuk ke dalam hutan. Dia bersembunyi dariku. Padahal aku sudah berbuat baik padanya. Dia mengetes kesabaranku.
SREEK, SREEK-
!!!
Aku mendengar suara seseorang bergerak dibalik semak-semak. Mendekati semak belukar, aku menemukan Sarah sedang bersembunyi disana. Menggenggam tangannya, aku menariknya keluar dari semak.
Sungguh merepotkan. Dia tidak seperti si kembar yang mudah diatur. Dia pemberontak.
"Sa-"
DOR, DOR!!!
!!??!!
".. A, apa?"
Aku merasakan sakit di perut dan kakiku. Secara refleks, aku melemparnya menjauhiku sampai ia terjatuh ke belakang. Aku menoleh pada tangannya yang menodongkanku sebuah benda terbuat dari besi. Benda tersebut menembakkan benda yang sangat kecil dan menyakitkan.
Saking cepatnya, aku tidak bisa melihatnya melesat ataupun menghindarinya. Dasar anak kurang ajar.
"Kau sialan-- aku akan menghukum-"
DOR, DOR, DOR!!
!!!!
Aku memegang petangan dan bahuku yang terkena benda besil kecil itu lagi. Kini aku menyadari bukan Sarah yang menembakkannya sedari tadi. Benda kecil yang mengenaiku tidak berasal dari benda yang ia pengang.
Lalu siapa?
"Pfft- Sarah, mundurlah. Jangan menggangguku. Kau sudah lama tidak merasa sebebas ini"
"!!!?! K, Kau- Rumos!"
"Halo, lama tak berjumpa. Aku akan segera mengirim mu ke tempat bos dan si ja***g. Sampai jumpa!"
Aku melihat sosok anak berambut hitam menodongkanku sesuatu yang panjang dan berlubang di ujungnya. Itu adalah benda yang menembakkan benda kecil tersebut.
Jadi selama ini si kembar adalah dalangnya. Apa ini? Sejak kapan mereka merencanakan ini? Apa bos dan Gyana sudah mati?
DOR!
"Oi, oi.. kau tidak punya waktu untuk melamun. Bukankah kau sedang mengejar Sarah?"
"S, Sarah? Dia juga terlibat dalam semua ini.."
Aku melirik Sarah yang berlari menuju Namsius yang ada di belakang. Namsius adalah anak yang ramah. Namun hari ini, aku tidak menemukan wajahnya yang menunjukkan keramahtamahan padaku.
Sebuah ekspresi muak bercampur sinisme yang tidak pernah kulihat muncul. Ekspresi yang ia sembunyikan selama ini dari semua orang. Sebelum ia dan Sarah pergi dari pandanganku, mereka memberikan sebuah tatapan benci yang membuatku menyadari semuanya.
"... Kalian merencanakan ini dari hari pertama kalian masuk ke dalam sirkus ini. Kalian menandatangani perjanjian mengetahui semua ini akan terjadi"
"Benar. Kami merencanakan semua ini. Semuanya tercatat dalam skripsi yang dibuat Nam dan direvisi olehku. Sarah adalah orang yang menyiapkan panggungnya dan membuat skenario kebakaran ini terwujud. Aku menyurunya menaburkan bubuk mesiu dan minyak di satu sirkus ini sementara aku yang memasang bom."
".. Dan Namsius pasti adalah orang yang menyalakan apinya sampai menjalar ke satu sirkus. Membuat ledakan besar, kekacauan, dan kebakaran hebat sekaligus menghilangkan jejak kalian"
"Tepat sekali. Aku memberikannya peran penting dalam rencana yang ia buat sendiri. Tapi semua ini dapat terjadi dan berjalan mulus berkat satu hal"
Rumos menyeringai lebar dan menepuk tangannya secara meriah. Ia tertawa dengan mengerikannya dan mengucapkan selamat padaku hingga membuatku merinding.
"Selamat! Berkat kalian, semua ini dapat terjadi! Kalian yang membawa ini pada diri kalian sendiri!!"
Aku melebarkan mataku, merasakan sebuah kesakitan yang luar biasa di satu tubuhku. Ia sengaja menembaki ku beberapa kali di tempat yang tidak fatal sebelum menumpahkan minyak di satu tubuhku.
Melihatnya menyalakan api, aku merasakan sebuah ketakutan hebat yang membuat tubuhku tak bisa bergerak. Aku tidak mempunyai tenaga lagi untuk bergerak.
"Kau ingin tahu satu fakta menarik?" Tanya seorang monster di depanku.
"Aku merasa sangat nyaman dna senang hari ini. Aku ini bukan anak kecil biasa. Aku ini seorang pembunuh berantai terkenal yang selalu dikejar oleh polisi. Mereka adalah fans-ku dan semua orang mengejarku-- ingin menangkapku agar mereka bisa mengawasiku"
!!! A, Apa?
Rumos menjatuhkan api tersebut ke badanku, memabakarku hidup-hidup. Aku menjerit kesakitan dan memohon ampun padanya. Akan tetapi, suaraku tertutupi oleh tawa maniaknya.
Tubuhku perlahan-lahan hancur dan pandanganku menghitam. Aku bisa merasakan kematian di depanku. Yang membawaku dan sirkus ini ke depan kematian tidak lain adalah-
"Selamat tinggal, ba****an!"
—— Mereka yang menyedihkan seumur hidup mereka.
.
.
.
".. Al.. fred.."
...***********...
Namsius POV
Aku mengobati Sarah dan memastikan dia baik-baik saja. Semua luka di tubuhnya sudah hilang dan dia sudah bebas. Sarah memelukku erat-erat, tidak ingin melepaskan ku. Badan kecilnya gemetaran dan ia menangis terisak-isak.
Kami sudah membawa akhir pada sirkus ini. Semua jejak sudah dihapus dan sekarang yang harus kulakukan adalah melaksanakan rencana tersembunyi ku dan Yulan.
TAP, TAP, TAP..
"..Apa dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja. Bagaimana dengan Toru tadi? Kau-"
"Aku sudah membunuhnya. Ayo kita pergi dari sini"
...Satu-satunya hal yang tidak sesuai rencana ku adalah kebakaran sirkus dan kematian semua anggotanya. Aku tidak merencanakan ini ataupun berniat membunuh seseorang. Aku berencana membakar sirkus dalam arti membuatnya bangkrut- Bukan ini!
Aku baru menyadari rencananya hari ini. Rumos diam-diam merencanakan semua ini dibalik punggungku dan menggunakan namaku. Aku tidak menginginkan ini.
—— Ini adalah yang kedua kalinya Rumos mengkhianatiku. Seperti kata pak Edmond, dia memanipulasi hasil akhirnya.
"Hei, ada apa? Tanganmu gemetar-"
"!! A, ah.. maaf. A, Aku pikir kita sebaiknya berganti baju dulu. Kau berlumuran darah kotor"
".. Oh, apa kau takut padaku?"
Nafasku tertahan, menatap Rumos yang tertutupi darah. Harus dicatat, ini adalah hari dimana Rumos pertama kalinya membunuh di dunia ini. Badanku langsung bergidik, mengingat dirinya adalah seorang pembunuh berantai maniak di kehidupan sebelumnya.
Dia tersenyum saat ia melakukan semua itu tadi. Dia memakai Sarah sebagai umpan. Dia tidak merasa satupun rasa bersalah atau takut saat ia melakukannya.
"-Tidak! Aku.. hanya tidak ingin semuanya kacau. Sarah dan yang lain pastinya akan ketakutan melihatmu berpenampilan kotor seperti itu. Bahkan aku tidak menyukainya"
".. Baiklah." Rumos mengambil baju bersih dari ruang penyimpanan dan memberikannku dan Sarah satu juga.
Sesaat, dia tadi sedang mengetesku. Jawabanku tidak benar-benar meyakinkannya tapi setidaknya cukup untuk membuatnya percaya bahwa aku masih bisa bergantung padanya dan memerlukannya.
Aku harus berhati-hatilah. Aku tidak ingin terjadi lagi. Dia bisa-
SREET!!
!!!!
.....
"Kau.. benar-benar tidak takut ya?"
Rumos memelukku dengan pakaiannya yang berdarah dari belakangku. Dia membuat tubuhku membuku, tidak bisa bergerak dan wajahku memucat. Aku bersyukur Sarah sedang berganti baju di tempat lain. Aku tidak ingin melihat sosoknya yang saat ini.
".. Jawaban apa yang kau inginkan dariku?"
Saudaraku adalah seorang pembunuh maniak. Aku hampir melupakan hal itu. Aku menurunkan kewaspadaan ku sebab aku mulai menerimanya.
Aku dan Sarah telah menjadi kaki tangan seorang pembunuh berantai. Sial, seharusnya aku tidak pernah melakukan itu.
"Jantungmu berdetak abnormal. Reaksi tubuhmu berkata sebaliknya dari ucapanmu-"
"Berhenti mengetes ku. Kita tidak mempunyai banyak waktu! Tidak bisakah kau serius sedikit?!"
"... Haaaa.. Kau benar. Kita tidak mempunyai banyak waktu"
Rumos melepaskan, membuatku bisa bernafas normal lagi. Aku mengepalkan tanganku yang tremor dan cepat-cepat berganti baju supaya ia tidak membacaku lebih dalam. Ia pun berhenti mencurigai ku dengan usil sehabis aku menyuruhnya berhenti bercanda.
Setelah kami berganti pakaian, aku membuang pakaian kami ke api dan pergi ke penginapan terdekat. Disana, Sarah menceritakan apa semua yang terjadi di sirkus dan menjelaskan apa yang terjadi dengan matanya yang dicabut Alfred beberapa hari setelah kami pergi.
Satu sirkus itu telah menyiksanya dan sirkus tersebut kini sudah tiada. Sayangnya, luka secara psikologis yang diberikan tidak akan pernah kami lupakan ataupun menghilang begitu saja.
Aku melihat penutup mata Sarah. Tampaknya obat Dori tidak bisa mengembalikan organ tubuh yang sudah hilang. Sarah akan hidup dengan satu mata mulai sekarang. Ia akan membutuhkan terapi yang banyak.
"Ugh, sialan! Mengapa Alfred tidak ada disana?! Aku pasti akan menghantam kepalanya dengan batu lain kali aku menemuinya!!"
"Kita tidak tahu keberadaannya terkecuali dia ada di kota besar. Ru, aku harap kau tidak akan membuat masalah di kota besar jikalau kau ingin mencarinya"
Rumos tersenyum masam, melihat Sarah. Ia menanyaiku apa yang aku kulakukan dengannya mulai sekarang. Secara literal, aku akan menitipkannya ke tempat Fonsius. Dia adalah protagonisnya jadi aku yakin dia bisa membantu Sarah.
"E, Em.. k, kalian.." Sarah memainkan tangannya dengan gugup. Dia berdiri dari kursinya dan membungkuk pada kami, membuatku dan Rumos bertukar pandang karena kaget.
"T, Terimakasih. Kalian menyelamatkanku"
.
.
.
.... Tidak. Kami tidak menyelamatkannya. Kami sempat meninggalkannya dan membiarkannya sengsara. Kami tidak bisa dikatakan sebagai pahlawannya.
"—— Itu tidak benar. Orang yang menyelamatkanmu adalah tidak lain dirimu sendiri. Berkat keberanian mu untuk membantah mereka, kau bisa terbebas dari penyiksaan itu"
"!!.. B, Benarkah?"
Mata Sarah mulai berkaca-kaca dan air matanya mulai mengalir. Dia mencurahkan semuanya keluar dalam tangisannya itu. Aku memeluknya menenangkannya. Dia sudah menahannya dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang sangat busuk.
Tapi sejujurnya, aku juga sama buruknya sebab aku menggunakan Sarah sebagai pion ku secara tidak langsung. Alasan utama mengapa aku mengirimnya ke rumah Fonsius adalah agar dia bisa mengawasi dan melaporkan gerak-gerik mereka.
Jujur, aku pun menggunakannya secara diam-diam meskipun aku tidka memiliki niat buruk. Aku sama buruknya dengan orang-orang yang kubenci.
".. Maafkan kami Sa-"
"!! Jangan panggil aku itu! Aku membenci nama yang mereka berikan!!"
Sarah menyelaku, membuatku tertegun. Aku kini merasa lebih buruk dan busuk dibandingkan Rumos dan sirkus Danaji sebab aku menggunakan Sarah meskipun aku tahu dia memiliki trauma dan barusan melalui siksaan terburuk.
—— Aku pasti akan masuk neraka saat aku mati. Aku harap begitu.
".. Jangan merasa terlalu buruk. Kita sebaiknya memberikannya nama dulu"
"Haaa.. itu mudah untuk dikatakan. Jadi bagaimana menurutmu? Punya nama yang cocok?"
"Yah, dia memiliki rambut pirang dan mata hijau. Kulitnya putih porselen dan dari semua hal gila yang telah ia lalui... aku rasa kita dapat menamainya Alice dari Alice di Wonderland"
"Hmm, dia memang mengingatkanku tentang Alice. Itu mengingatkanku tentang seorang karakter dalam novel yang juga bernama Alice. Dia adalah seorang kstaria dan berpenutup mata satu yang pemberani"
Rumos mengangguk puas. Nama tersebut memang cocok untuknya. Akan tetapi, masih ada satu pertanyaan lagi yang belum terjawab.
"Nam, karena kita sudah membawanya bersama kita. Jadi.. Kita menganggapnya sebagai apa?"
Pertanyaan bagus. Aku juga menanyakan hal yang sama. Bagiku, Alice adalah seorang teman, pion, sekaligus mata-mata yang kukirim ke rumah Fonsius.
Tentu saja kau tidak akan membahayakannya. Aku tidak sekejam itu untuk mengorbankan nyawanya. Aku peduli padanya.
".. Mungkin seorang kakak angkat? Dengan begitu, kita bisa melindunginya dan menjaganya apabila ada sesuatu yang terjadi."
"Kita akan bermain keluarga-keluargaan? Cukup adil. Kita bisa menggunakannya. Ditambah, dia bisa menggunakan sihir dan menutupi kekurangan kita"
"... Terserah. Selama kita membahayakannya"
Aku menepuk punggung Sara- maksudku Alice. Mengusap air matanya, aku tersenyum hangat padanya agar dia tenang. Aku berjanji dia dapat hidup bahagia kedepannya.
"Namamu mulai sekarang adalah Alice Reiss. Perkenalkan, namaku Namsius Reiss"
"Namaku Rumos Reiss, kembarannya. Mulai sekarang kau adalah kakak angkat kami, Alice"
"Senang berkenalan denganmu, kakak!"
.
.
.
——Maafkan aku karena menggunakanmu sekali lagi Alice.