
Rumos POV
Harus kuakui kemampuanku dalam memecahkan masalah tidak lebih abik dariapada milik Namsius. Dia terkadang bisa berpikir lebih encer daripadaku. Kelemahannya hanyalah satu..
"Nam, bisakah kau tutup mulutmu? Lalat bisa masuk ke mulutmu"
"......"
.
.
.... Baiklah, tak perlu dijelaskan.
Setidaknya dia sudah selesai memecahkan masalahnya. Walaupun berdebat bukan hobiku, aku akan membantunya mulai dari sini.
"Intinya, apa yang kau mau? Orangtua kami sudah meninggal dan Asa sudah tiada. Apa lagi yang kau inginkan?"
".. Oh.. Begitu. Jadi aku.. telat..."
Yulan menundukkan kepalanya, terlihat murung. Dia tidak terkejut mendengar berita tentang orangtua kami. Dia sudah menduga ini. Artinya, orangtua kami tidak hanya sekedar orang di masa lalunya. Mereka pasti teman atau minimalnya kenal baik dengan Yulan.
Sayangnya, itu tidak penting dan kami tidak peduli. Semua ini bukan masalah kami.
"Ibu kami meninggal tidak lama setelah kami lahir dan kami tidak pernah bertemu dengan ayah kami yang menghilang dari awal. Kami menamai diri kami sendiri. Itu saja yang bisa kami sampaikan"
"... Dimana ibumu dikuburkan?"
"Di bawah pohon besar di Asa. Sialnya, kau tidak bisa pergi kesana karena Asa telah menjadi sebuah danau besar. Kau tidak bisa mengunjungi kuburannya"
"..... Ah.. Jadi ini akhirnya ya..?"
Sebuah helaan nafas panjang keluar dari mulut Yulan. Matanya memancarkan kesedihan yang tak bisa dimengerti orang lain. Aku tidak merasakan simpati ataupun sedih untuknya. Aku pun tidak ingin mendengar latar belakangnya dengan orangtua kami.
Menganalisisnya, jelas sekali ada yang aneh disini. Dia terlihat seperti orang patah hati karena cintanya tidak terwujud. Aku merasa sedang menonton sinetron.
Pertama-tama, bisa disimpulkan hubungannya dengan ibu kami tidaklah sesederhana itu. Aku rasa dia menyukai ibu kami. Entah itu secara platonis atau romantis-- intinya dia peduli dengannya.
Kedua, tidak sekalipun dia menunjukkan ketertarikan pada ayah kami. Dia merujuknya menggunakan 'Pria' itu. Artinya, hubungannya dengana yah kami tidak sebaik kami perkirakan dan mungkin lebih tegang dari yang seharusnya.
Ketiga, aku bisa merasakan dia memperlakukanku dan Namsius dengan berbeda. Baik dia sengaja atau tidak, dia jauh lebih dingin dan cuek pada Namsius karena ia mirip dengan ayah kami yang tidak pernah kami lihat dibandingkan perilakunya padaku.
Namsius mungkin tidak menyadari ini namun sedari tadi aku mengamati Yulan, dia kelihatannya memiliki dendam dan rasa benci serta amarah pada ayah kami tetapi memproyeksikannya diam-diam terhadap Namsius.
Itu lucu sebab dari sudut pandangku dia terlihat sedang mencari kelahi dengan anak berusia 5 tahun yang bahkan tidak menyadari rasa sinis Yulan.
"Ru, dia mengetahui ayah dan ibu kita. Apa kita harus memanfaatkannya? Dia mungkin bisa membantu Fonsius dan kita"
Aku menoleh pada Nam sekilas, memastikan apa yang barusan dikatakannya. Wajah polosnya menunjukkan dia tidak menyadari apa yang baru saja ia katakan. Yah, lebih baik aku tidak memberitahukan hal itu padanya
Aku tidak ingin dia berhenti tengah jalan. Aku menyukai pemikirannya belakangan ini. Tidak semua idenya bagus. Tapi kami yang semakin sepemikiran itu kabar baik bagiku. Kami tidak lagi bagai api dan air.
Bonusnya, dia mudah dimanfaatkan.
"Asalkan kau yang membujuknya."
"Aku lagi?! Kau pasti bercanda. Kau tidak merasakan aura sinisme yang ia keluarkan pada kita?"
Oh, jadi dia sadar? Yah, lebih tepatnya adalah pada Nam sendiri.
"Iya. Kau yang lakukan. Jangan membangkang dan lakukan saja. Kau pasti bisa menipunya"
Tapi itu tidak masalah. Kemampuan menipu Nam jauh lebih tinggi dibandingkan Yulan. Dia bisa memanipulasi akhir yang ku mau.
Nam menarik nafas dalam-dalam dan memasang topeng kuningnya. Senyumnya, mata lembutnya, dan nada bicara yang ramah..
——Semuanya sempurna. Dan sesuai perhitungan ku, itu membuat Yulan tidak senang melihat wajah Nam.
Nam pasti mengingatkannya akan 'Pria' itu.
"Tuan, anda tampaknya tahu banyak tentang orangtua kami. Apa anda bisa menceritakan tentang mereka? Bagaimanakah cara mereka hidup? Kami penasaran dengan semua itu"
".. Aku bisa memberitahu kalian dengan syarat kalian memberitahukan ku tentang naga di Ibalion ini. Sepakat?"
"Tidak. Kami tidak bisa menyetujuinya. Terkecuali anda juga menyetujui syarat kami juga"
Ujung mulut Yulan berkedut, mengekspresikan rasa jengkel. Ia terpaksa menganggukkan kepalanya dan mulai bercerita tentang bagaimanakah wanita yang kami sebut ibu berasal dari sebuah negeri timur yang jauh dari sini.
Dia adalah seorang cendekiawan yang berasal dari keluarga sederhana. Dia bukanlah orang yang terlalu ramah. Bisa dikatakan dia cerdik, licik, dingin, dan lumayan bersinar di antara orang-orang sekitarnya.
"Nama ibu kalian adalah Yuna. Aku bertemu dengannya saat aku belajar di kampung halamannya. Meskipun dingin, dia adalah wanita yang berbaik hati dan memperbolehkan ku tinggal dengannya. Dia adalah salah satu penasihat kaisar yang bijak"
"Dia adalah sungguh wanita yang mengagumkan"
Yulan tersenyum lemah mendengar komentar Nam. Pandangannya kemudian tertuju padaku seakan-akan ia menemukan sebuah ingatan manis saat melihat wajahku sembari mengelus pipiku.
"Benar. Dia mengagumkan. Dia tidak pernah berhenti membuatku terkesan. Dia ahli dalam segalanya. Dan hal tersebut membuat semua orang iri sehingga dia tidak memiliki teman.. terkecuali diriku yang menjadi sahabatnya.."
Yulan menundukkan kepalanya dengam perasaan sedikit kecewa. Penyihir ini gila dan buta akan cinta. Bulu kudukku sampai merinding memikirkan betapa mengerikannya pria ini.
Dia kecewa akan fakta bahwa dia hanya dianggap saja oleh wanita yang ia cintai. Jikalau dia benar-benar mencintainya, seharusnya dia senang karena secara literal dia adalah salah satu orang yang bisa diandalkan dan dipercayakan.
Ditambah, dia adalah satu-satunya teman sekaligus sahabat yang dimilikinya. Seharusnya dia bersyukur walaupun cintanya tidak terwujud.
"Uh.. aku rasa dia hanya merindukannya. Maksudku, dia setidaknya lebih baik daripada ayah kita yang tidak bertanggungjawab. Setidaknya dia mencintai Yuna"
Oh, aku hampir lupa tentang 'Pria' itu. Dia belum muncul dalam cerita Yulan. Apa yang terjadi padanya?
".. Bagaimana dengan ayah kami?"
"Dia? Pria yang mengacaukan segalanya?"
Nam tersentak ketika ekspresi Yulan berubah drastis dan wajahnya menghadap ke arahnya seolah-olah perasaannya diarahkan padanya. Ia tertegun bukan dari rasa takut melainkan dari rasa tak percaya akan Yulan yang melampiaskan semuanya padanya.
"Dia adalah seorang petani bernama Antasius. Aku tidak tahu banyak tentangnya. Satu hal yang jelas adalah dia bukanlah orang yang mempunyai niat tersembunyi pada Yuna. Aku tidak mengerti mengapa Yuna mau menikahi orang sepertinya"
".. E, Em.. begitu. N, Namun tuan.. bisakah anda tidak.. menatapku seperti itu?"
Yulan mengangkat alisnya dan melihat ke cermin dekatnya untuk mengecek raut wajahnya. Tak kusangka dia selama ini tidak menyadari dirinya terbawa perasaan. Dia terhanyut dalam ingatannya.
Ini mengecewakan. Penyihir terkuat kerajaan Asyran adalah orang sepertinya yang melampiaskan kekesalannya pada anak berusia 5 tahun? Dia lebih mirip bocah menurutku.
Yulan meminta maaf dan memalingkan kepalanya dari rasa malu. Dia mengatakan Yuna adalah orang terpenting baginya. Dia tidak bermaksud memproyeksikan frustasinya pada Nam.
".. Kalian beruda mirip dengan mereka."
Aku dan Nam bertukar tatapan. Kami mengamati wajah satu sama lain. Aku tidak mengingat wajah ayah ataupun ibu ku di dunia ini. Mereka samar-samar.
Apa ini berarti wajahku dikategorikan cantik? Jujur, aku tidak peduli. Kau sudah berkali-kali melihat wajah dungu Nam. Ini tidak penting lagi.
Yulan memutuskan pembicaraannya sampai disana, mengatakan ini giliran ku dan Nam untuk bercerita. Jari telunjuknya diacungkan ke udara dan mulutnya mengatakan sebuah mantra yang tidak tertangkap oleh telinga kami.
Sebuah botol ramuan kecil muncul di udara seketika dan jatuh pada tangan Nam. Ia lalu menjelaskan ramuan tersebut tidak memperbolehkan kami berbohong dalam 30 menit ke depan. Dia akan menginterogasi bersih kami.
"Tuan, saya yang meminumnya?"
"Tidak masalah siapa yang meminumnya."
Nam menyikutku, menanyakan keputusanku. Kami tentu saja tidak ingin meminumnya. Aku-
GULP!!
!!!!
"Huh?" Mataku melirik dan terbelalak melihat botol ramuan yang dikosongkan Nam. Dia menghabiskannya?! Aku belum menyuruhnya melakukan apapun.
"Oi, apa kau waras?"
"Yup. Sekarang kau keluar dari ruangan ini. Itu syarat yang ku tambahkan sendiri."
"!!! Apa?! Kau tidak bisa melakukan itu. Kau akan mengacau."
Nam tidak mendengarkan ku dan mengajukan syaratnya pada Yulan. Aku berusaha membungkam mulutnya tetapi dia mengelak ku terus menerus. Terlebih lagi, Yulam tampaknya menyetujui syarat tersebut dengan senang hati.
Sumpah- Dia memiliki rencana lain. Tak bisa dipercaya.
.
.
"Haaaa- kau lebih baik tidak mengatakan hal yang aneh"
...******...
Namsius POV
.
.
Aku mengingatnya dengan jelas hingga kini. Cahaya-cahaya kontras dari kota yang bersinar cemerlang menyinari diriku. Bercampur dengan warna neon dan keluar dari setiap seluk-beluk bangunan tinggi.
Waktuku ditukar di dunia ini demi kesuksesan dan uang-
—— Hingga aku tenggelam ke dalam malam.
Pulang menggunakan kereta terakhir malam ini, aku melihat refleksi ku di jendela kaca bukanlah aku yang ku impikan.
Terlihat seakan-akan ingin menangis. Seseorang yang sendirian di kegelapan. Seseorang yang tersesat begitu saja. Seseorang yang menyedihkan dan apa adanya.
Aku akan baik-baik saja-- itulah yang selalu kukatakan pada diriku.
—— Tapi nyatanya, kota ini terlalu bersinar dan aku dibutakan oleh cahayanya.
.
.
...********...
Author P.S: Maaf chapter ini singkat. Author sedikit sibuk belakangan ini. 。:゚(;´∩`;)゚:。
Terimakasih atas dukungannya selama ini. Para reader juga tetap semangat ya! ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Tetap jaga kesehatan dan sampai jumpa di chapter berikutnya!!