I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Chapter 12: Taruhan



Namsius dan Rumos mengemas tenda sirkus, membungkusnya dengan rapi. Mereka mencopot tiang-tiang penyangga dan tali-tali pengikatnya sebelum disimpan dalam kereta kuda. Sesuai jadwalnya, 3 hari lagi mereka akan berangkat ke Latagin.


Hari ini adalah hari dimana mereka berencana melaksanakan salah satu rencana besar mereka.


Menyelesaikan pekerjaan mereka, mereka mengamati kegiatan semua orang di sekitar. Seperti hari-hari yang lain, tidak ada yang aneh dengan hari ini terkecuali hari ini adalah hari libur semua orang. Semuanya bersiap-siap pergi jalan-jalan di kota.


Namun, sore ini mereka menemukan suasan di sirkus sedikit sepi meskipun hari ini adalah hari yang dinantikan semua anggota sirkus Danija.


"Oi, kalian berdua. Bawakan aku rokok-"


"!!!..."


Namsius dan Rumos tersentak sesaat mereka dipanggil entah dari mana sumbernya. Pandangan mereka kemudian tertuju pada Toru dan yang lain di depan tenda Gyana yang terbuka. Mendekati tenda yang ramai, mereka kebingungan dan menanyai mengapa mereka berkumpul disini sembari memberikan Toru rokok di tangan mereka.


"Hahaha, ini bukan masalah bagi anak kecil seperti kalian," Jawab pak Alfred, memaksakan tawanya.


"Dasar lambat- Gyana akan pergi bersama kekasihnya hari ini. Kalian tidak tahu ya?" Tanya Alfred menendang kepala si kembar.


Namsius dan Rumos mengedipkan mata mereka beberapa kali, mengintip ke dalam. Ia melihat di dalam tenda tersebut Gyana sedang menyisir rambutnya dan mengenakan pakaian bak bangsawan.


Mereka tidak peduli dengan apa yang ia lakukan atau tidak tertarik dengan urusan orang lain. Mereka mempunyai rencana sendiri untuk hari ini. Namun—


"Uh.. Bagaimana ini?"


"Apa maksudmu bagaimana ini?"


"Sarah.. Apa kita akan meninggalkannya disini?"


"Sejauh inilah yang bisa kita lakukan untuknya. Kita hanya bisa membantunya sebatas ini"


—— Mereka tetap tidak bisa mengabaikan gadis muda disamping mereka yang terpesona dengan Gyana.


Namsius mengawasinya diam-diam dengan wajah datar, menjadi khawatir akan apa yang terjadi saat mereka pergi. Ia tahu Rumos pastinya tidak akan setuju untuk membawanya ikut dalam rencana mereka.


Makanya, dia tidak bisa membuat dirinya tidak merasa cemas terutama dengan adanya pak Edmond dan Toru di sirkus ini. Dia tidak ingin ia terluka dari monster-monster itu. Dia ingin mencoba melindunginya.


—— Walaupun dia ini hanya seseorang yang lemah tak berdaya, walaupun dia tidak akan memapu mengubah situasinya, dia berharap tangan kurusnya setidaknya bisa membantunya tersenyum sedikit.


"Hehehe, Sarah matamu berbinar-binar. Apa kau juga ingin berdandan?" Tanya Toru


"Iya. Aku ingin menjadi cantik juga," jawab Sarah dengan polosnya.


Rumos memutar bola matanya dengan malas, melihat Gyana yang sedang memasang lipstik merah. Dari pada terkagum-kagum, ia merasa jijik dengan apa yang Gyana lakukan.


"..Oi, apa yang menarik dari ini? Mengapa dia sangat terkagum-kagum?"


"Itu hal yang wajar bagi anak kecil. Mereka suka dengan hal-hal seperti ini karena mereka ingin terlihat seperti orang dewasa. Anak-anak seringkali mengimitasi tindakan orang dewasa"


"Mengapa mereka ingin menjadi orang dewasa? Padahal menjadi anak kecil itu sangat mudah. Makan, tidur, mandi, main.."


"Yah, anak-anak belum tahu bagaimana rasanya menjadi dewasa. Jadi rasa penasaran mereka akan dunia sangat besar. Makanya, kita sebagai orang dewasa harus memberikan contoh yang baik pada anak-anak"


Ujung mulut Rumos berkedut sekali, merasa jengkel. Ia sadar bahwa Namsius baru saja menceramahi nya secara tidak langsung, menyuruhnya untuk tidak melakukan hal yang terlalu busuk. Mengabaikannya, ia memperhatikan gerak-gerik pak Edmond dan Alfred sementara Namsius mendengarkan percakapan Sarah dan Toru.


Selama 5 menit kedepan, tidak ada hal spesial yang terjadi. Mereka semua hanya basa-basi saja.


.... Sampai Toru tiba-tiba menanyakan sesuatu yang membuat si kembar memalingkan kepalanya secepat kilat.


"Hei, hei- Sarah. Kau habis ini tidak ada rencana kan?"


"T, Tidak."


"Bagaimana jika aku mengajakmu ke kota untuk berdandan? Mau tidak?"


Namsius menoleh pada Sarah dengan cepat, mengisyaratkannya untuk tidak merespon. Akan tetapi, sebelum Sarah bahkan sempat melihatnya, tangan dan mulutnya telah terlebih dahulu ditahan oleh Rumos sehingga ia tidak bisa bergerak.


Rumos perlahan-lahan menariknya mundur dari gerombolan orang dan menjewer telinganya. Ia menyuruhnya untuk tidak ikut campur agar tidak memperburuk keadaan.


"Oi, belajarlah untuk menjadi egois! Kau pikir ini akan membantu kita dan dirinya sendiri?!"


"... Jadi apa yang harus kita lakukan? Apa kau tega melihat seorang anak akan dipukul lagi sehabis ini?!"


"Tsk, kau- Haaa.. berapa banyak lagi aku harus mengalah untukmu?"


"Kau mengalah untukku? Heh! Aku sadar apa yang- Ugh.. Lupakan. Lakukan sesuka hatimu!"


Namsius menggigit bibirnya, menyerah. Sesuatu dalam dirinya ingin sekali membuka mulutnya lebar-lebar dan memaki semua orang yang berada disini.


Tidak ingin mengikuti perintah Rumos, ia menyela pembicaraan mereka dan melaporkan dengan lantang pada pak Edmond tentang pekerjaan mereka, mengatakan ia sudah mengurus semuanya.


Sesaat, semua orang terdiam sebentar. Tindakannya yang tidak direncanakan kembarannya hampir membuat Rumos meledak dari kemarahan besar. Ia memecahkan keheningan dan membereskan kekakuan yang dibuat Namsius dengan menambahkan mereka sudah mengemas tenda-tenda yang ada.


"... Apa yang sebenarnya ingin kalian sampaikan?" Tanya Alfred, menemukan perkataan mereka tidak masuk akal.


"Kami.. ingin gaji kami. Pak Edmond, kami ada urusan sehabis ini. Jadi mari kita tidak berlama-lama," jawab Namsius.


Pak Edmond tertawa kecil mendengarnya dan mengiyakannya. Ia lalu tersenyum dan memberikan masing-masing dari pekerjanya gaji mereka sesuai kontrak.


Sebagai bonus dari usahanya yang sedang naik daun, ia memberikan pekerjanya bonus 3 koin emas untuk setiap orang. Termasuk Namsius dan Rumos.


Rumos mengecek koin-koin miliknya dan Namsius dengan saksama sebelum menyimpan pendapatan mereka di ruang penyimpanan tanpa ketahuan anggota sirkus lain.


Pak Edmond juga memberikan gaji milik Gyana seusai dia berdandan dan mengucapakan selamat padanya. Satu-satunya orang yang tidak mendapatkan gaji hanyalah Sarah yang terdiam dan menggaruk kepalanya kebingungan. Melihat reaksinya, Alfred tertawa dan menendangnya wajahnya ke tanah.


Dia terkekeh geli seakan-akan itu hal yang sangat menarik hingga membuat bulu kuduk Namsius berdiri dari kekejaman mereka.


"Namsius, ekspresi takutmu kelihatan. Kau akan merusak semuanya"


"Maaf, aku hanya.. tadi itu sangat kejam. Aku tidak tahu anak berusia 14 tahun bisa sekejam itu"


"Apa? Bukankah itu usia yang sangat biasa? Aku memulainya ketika berusia 13 tahun"


"Baik, baik. Aku akan mencoba tenang, jadi jangan paksa aku!"


Namsius menarik nafas dalam-dalam, memperbaiki raut wajahnya. Ia menoleh ke arah Gyana yang memasukkan uangnya ke dalam dompetnya sesudah menghitung pendapatannya.


"Heh, memangnya kau mencintainya benar-benar atau hanya karena uang?" Tanya Toru


"Cih, itu bukan urusanmu. Tentu saja karena aku menyukai uangnya," jawab Gyana ketus


Namsius dan Rumos mengangkat alisnya. Mereka sudah menduga jawabannya dari awal meskipun berharap mungkin ada sekian persen dari dirinya yang tidak busuk.


——Lagipula, orang seperti Gyana tidak mungkin akan melewatkan kesempatan ini karena dia terlalu mencintai uang daripada manusia.


"Oh ya, Kalian tidak merencanakan sesuatu kan?" Tanya pak Edmond tiba-tiba pada Namsius dan Rumos.


Si kembar berbalik pada pak Edmond seketika dan menggeleng cepat untuk menyembunyikan rasa keterkejutan mereka. Sayangnya, Gyana dalam sekejap langsung mengetahui mereka menyembunyikan sesuatu dan meraih kerah mereka dengan kasar.


"Kalian tidak akan ikut campur dengan masalahku kan?" Tanya Gyana sedikit kesal


"Tidak, tidak. Kami tidak mungkin ikut campur dalam urusan anda. Kami tidak mempunyai alasan untuk melakukannya," jawab Namsius


"Saya setuju. Kami mempunyai urusan kami sendiri. Kami tidak mungkin ikut campur, terlebih lagi ketika sirkus ini akan pergi ke Latagin dalam 3 hari," tambah Rumos


Pak Edmond sekali lagi tertawa, terkesan dengan jawaban mereka. Dia lalu meyakinkan Gyana untuk pergi dan meminta Alfred untuk menyiapkan kereta.


Setelah Gyana pergi, pak Edmond menyuruh Sarah untuk masuk ke dalam tendanya bersama si kembar sementara Toru dan Alfred dibiarkannya bebas berkeliaran.


"Kalian berdua pasti ingin mengatakan sesuatu padaku ketika aku menanyakan rencana kalian, aku langsung tahu kalian memancingku untuk sesuatu."


Pak Edmond mempersilahkan si kembar dan Sarah duduk di sebuah kursi panjang. Ia mengeluarkan selembar kertas perjanjian baru, meletakkannya di atas meja.


"Karena kekhawatiran dan kegelisahan kalian sudah tiada berkat Saran disini. Bisakah kita mulai saja tawar-menawar nya?"


Namsius dan Rumos bertukar pandang. Mereka tidak kaget dengan ketajaman pak Edmond tetapi terkejut saat menyadari keserakahannya luar biasa besar.


"Baiklah, mari kita tanpa basa-basi langsung ke intinya."


——Sebagaimana pun, semua yang terjadi saat ini tetap berjalan sesuai prediksi mereka.


...**********...


Edmond POV


Aku menunggu di depan sebuah kasino sambil merokok. Aku tidak melakukan sesuatu spesifik tapi penting. Mengapa aku berada disini dan Apa yang aku lakukan sekarang berhubungan dengan seluruh harta kekayaan ku.


—— Aku membiarkan mereka berjudi atas namaku dengan taruhan seluruh harta kekayaan ku.


Perjanjian yang kami buat adalah apabila mereka bisa membuatku untung setidaknya 2000 koin emas dari berjudi maka aku akan membiarkan mereka pergi ke Ibalion sebegitu mereka sampai di Latagin. Jikalau tidak, mereka akan lanjut bekerja untukku selama 10 tahun lagi.


Lalu bagaimana dengan Sarah?


Oh, dia hanya sekedar penonton sebagai penyaksi dari perjanjian kami. Dia sekarang berada bersama Alfred dan Toru tanpa diketahui si kembar.


"Haaa... Mereka seriusan seorang pebisnis dan penjudi. Seseorang yang sangat oportunis dan pintar sekali ada di sirkus ini bisa sangat merepotkan ya.."


Mereka pintar. Sayangnya, mereka tetaplah anak miskin berusia 5 tahun dari Asa. Meskipun begitu, aku senang berbisnis dengan mereka.


TAP, TAP, TAP..


"Oh, bos? Mengapa kau disini?"


Aku mengangkat kepalaku, menemukan Gyana berada di depan mata. Sungguh sebuah kebetulan. Dia kelihatannya sudah selesai berkencan. Cengar-cengir di wajahnya menunjukkan pasti ada sesuatu yang baik terjadi.


".. Biar kutebak. Kau dilamar bukan?"


"Benar. Cemburu?"


"Tidak peduli tentang itu. Kau akan meninggalkan sirkus?"


Gyana tersenyum licik. Dia menjawabku dengan ambigu supapa aku memohon padanya agar ia tidak pergi.


Yah.. Aku tidak akan melakukan itu. Setidaknya, bukan masalah yang paling penting sekarang. Uangku sedang dipertaruhkan. Saat ini tidak ada yang lebih penting daripada itu.


"Oh, hei. Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di depan kasino tempat orang-orang kaya berkumpul? Kupikir kau benci berjudi."


"Lihat saja nanti. Aku sedang berjudi dengan anak-anak Asa sekarang."


Gyana mengangkat alisnya, mengedipkan matanya beberapa kali. Dia terdengar tidak percaya apa yang baru saja kukatakan karena aku bukanlah tipe orang yang akan menjudikan harta kekayaanku.


Hmm, jujur aku juga terkejut mengapa aku mengambil resiko ini. Kata-kata mereka terdengar sangat meyakinkan di telingaku hingga aku tak bisa menolaknya sama sekali.


"Kau gila. Apa kau serakah sampai-"


"Diam. Aku tidak ingin mendengarnya dari mata duitan sepertimu"


Gyana memutar bola matanya, menyilangkan tangannya. Kami lalu menunggu bersama-sama si kembar di depan kasino. Tidak lama kemudian, kami melihat 2 siluet anak kecil keluar dari pintu masuk dengan 2 kantong penuh emas.


Pertama-tama, aku tidak yakin apa aku berhalusinasi atau tidak. Namun setelah mendengar suara mereka, aku yakin sekali anak-anak Asa itu dengan ajaibnya menepati janji mereka.


"Pak Edmond, apa kalian sudah menunggu lama?"


Aku membelalakkan mataku tidak percaya. Gyana pun membelalakkan matanya dan kami langsung menghampiri mereka. Aku menghitung setiap koin yang ada di 2 kantong itu dan menjadi tremor saat menyadari jumlahnya.


"A, APA?!! 2765 KOIN EMAS?!!! BAGAIMANA BISA KALIAN MENANG SEBANYAK INI?!!"


".. Uh, terimakasih..?"


Si kembar tidak membocorkan rahasia bagaimana mereka menang. Tapi itu tidak penting lagi. Mereka menepati janjinya. Aku bersyukur telah membawa mereka masuk 2 tahun yang lalu.


"WOOHOO!! AKU KAYA!!! AKU KAYA!!!"


.


.


—— Setidaknya sampai karma mengacaukan segalanya.