
Author POV
TENG-TENG-TENG!!
Namsius mendengar bunyi suara lonceng yang kedua dari bawah kuil Yrmos, pertanda malam sudah tiba. Berpamitan dengan Dante dan berjanji akan mengunjunginya dalam 2 hari lagi, ia bersepeda menuju tempat tujuan terakhirnya sebelum pulang ke rumah.
Sesampainya di tempat tujuannya, ia memarkirkan sepedanya di gedung seberang sebelum masuk ke sebuah bangunan kecil nan sederhana. Sesudah melakukan apa yang harus ia lakukan disana dengan cepat, ia pergi menemui seorang wanita yang standby di depan ujung ruangan.
"Handuk, cermin, sisir, sikat gigi, sapu, dan 3 pasang sarung tangan. Totalnya adalah 25 koin perunggu."
——Benar. Tempat yang ia kunjungi tidak lain adalah toserba langganannya yang terletak di samping apartemennya.
Alasan mengapa dia datang kemari 85% setiap saat adalah untuk menggantikan barang-barangnya yang dihancurkan para tikus. Dikarenakan ia tidak ingin dimarahi Rumos LAGI gara-gara menyimpan keperluan sehari-harinya di dalam ruang penyimpanan, ia tidak mempunyai pilihan lain selain mencari solusi lain.
Ditambah, ia tidak ingin mengkhawatirkan Rumos. Ini jugalah salah satu alasan mengapa dia tidak memberitahukan keadaannya yang sebenarnya di Byorgian.
".. Bos, apa toko ini ada diskon untuk anak berusia-"
"Maaf, aku tidak akan memberikanmu diskon meskipun aku ini bos mu di tempat kerja. Lagipula, bukankah ini sudah saatnya kau mengusir hewan pengerat itu keluar?"
"Terlalu banyak. Aku berencana pindah tahun depan. Ngomong-ngomong, mengapa bos masih bekerja disini? Aku pikir-"
"Aku hanya membantu adik mertuaku menjaga toko. Dia dan saudaraku sedang berlibur keluar kota. Apa itu salah?"
Namsius menggelengkan kepalanya, mengatakan ia tidak akan menilainya. Wanita berambut hijau muda yang dikepang, berpostur baik, dan bertubuh bugar nan sehat ini adalah bos dan mentor di tempat kerjanya—— Dea Kurogane. Salah satu orang yang Namsius percayai sangat selain Rumos dan Dante.
"Oh, apa itu juga alasan mengapa kerja diliburkan hari ini?"
"Iya. Alasan lainnya adalah karena air sedang pasang malam ini. Aku tidak mau tempat kerja ku kebanjiran"
"Banjir? itu tidak mungkin. Air pasang sudah tiba tadi sore dan aku tidak melihat ada tanda-tanda banjir," ujar Namsius dengan percaya diri sembari membayar belanjaannya.
Mengangkat alisnya, Dea menanyakan kembali pernyataan yakin yang diberikan karyawannya. "Apa yang membuatmu berkata begitu? Bagaimana bisa kau yakin sekali hari ini tidqk ada banjir?"
"Kalender bulan. Aku menghitungnya dari sana. Aku bisa menjamin hasilnya akurat. Begitulah cara orang zaman dulu menentukan air pasang di negara timur bukan?"
Dea memiringkan kepalanya, tidak memberikan jawaban pasti padanya. Mengalihkan pembicaraannya, Dea langsung menanyakan kotak yang dibawa Namsius kemari. Namsius menjawabnya jujur dan menceritakan apa yang ia lakukan hari pada bosnya di kuil Yrmos.
Membicarakan kuil tersebut, Dea menjadi teringat akan rumor tentang sesosok monster yang tinggal di atas menara lonceng. Ini adalah cerita yang tersebar luas di ibukota Byorgian. Awalnya, mendengar bahwa Namsius sering mengunjungi menara lonceng, ia tidak bisa membantu dirinya untuk tidak cemas. Sebagai bos dan mentornya, ia takut akan sesuatu yang berbahaya menimpa pekerjanya.
Namun setelah mendengar ceritanya berkali-kali, ia menjadi yakin sosok monster di dalam menara lonceng itu tidak ada. Di dalam sana, hanya ada pembunyi lonceng bernama Dante. Akan tetapi, itu membuatnya lebih cemas dan merinding dibandingkan sebelumnya mengingat sesuatu yang lebih buruk dari rumor tersebut.
——Monster yang asli berada di sekitarnya, berkeliaran bebas-- berbaur dengan masyarakat. Tidak bisa dibedakan, mereka terlihat seperti manusia yang sama dengannya.
Itulah kenyataan yang paling mengerikan. Mereka adalah manusia yang tidak berbeda dengannya. Membuatnya percaya bahwa dalam diri setiap orang terdapat sosok monster yang tertidur pulas. Manusia bisa menjadi sesosok monster menyeramkan apabila mereka tidak bisa mengalahkan monster di dalam mereka.
—— Bukan lagi manusia. Sejak lama, bangsa manusia dikatakan sebagai bangsa pejuang dan petarung.
Detik-detik dimana seorang manusia berhenti berjuang dalam hidup mereka dan dikalahkan oleh monster-- pada saat itulah, seseorang bukan lagi manusia
"... Jadi kabar mereka baik? Dante dan pendeta Peregrin," Tanya Dea sambil memainkan rambutnya.
Namsius yang sedang mencari uang pas di dompetnya melirik ke atas sekilas. Ia mengiyakan dan membayar belanjaannya sebelum menunjukkan gelak tawa yang membingungkan Dea.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang lucu?"
"Hehe.. Aku hanya senang bos adalah orang yang peduli nan pengasih. Padahal bos tidak pernah bertemu dengan mereka dan bahkan tidak pernah tahu eksistensi mereka sebelum aku bekerja denganmu. Tapi kau peduli dan mencemaskan mereka meskipun demikian."
"!! K, Kau memujiku terlalu banyak. Kau berlebihan." Dea membalikkan badannya, tersipu malu. Menyembunyikan wajahnya dari salah satu rekan kerjanya. Melihat reaksinya, Namsius tertawa geli.
"Aku tidak berbohong. Aku tulus dan berterimakasih banyak pada bos. Kau memberikanku sebuah pekerjaan walaupun tahu aku ini hanya seorang gelandangan. Bos adalah wanita yang penuh dengan empati"
"Hei, jangan merendahkan dirimu- aku mempekerjakan mu karena aku tahu kau handal. Aku tidak menilai seseorang dari penampilan." Dea meletakkan tangannya di pinggang, mencondongkan badannya ke depan seolah-olah menceramahi anak kecil di depannya.
"Lagipula, melainkan bangsa manusia yang dijuluki sebagai bangsa pejuang, empati dan simpati serta solidaritas adalah karakteristik unik yang kita miliki. Lebih dari yang lain, kita mengetahui kasih dan kesengsaraan lebih dalam dari yang lain. Jadi... itu wajar apabila seorang manusia membantu satu sama lain"
Namsius mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan telinga Dea yang tiba-tiba memerah. Mengambil belanjaan di tangannya, ia mempelajari raut wajahnya benar-benar.
".. Bos, kau tidak perlu malu menyampaikan hal itu padaku. Kau tidak salah."
"!! A, Aku hanya tidak terbiasa mengatakan hal- Ugh, Ini sudah malam. Kau anak muda seharusnya pergi berisitirahat!!" Dea mendorong Namsius buru-buru keluar dari toko. Puas mencandai bosnya, ia terkekeh nakal dan melambaikan tangannya dengan jahil-- menunjukkan sikap kekanak-kanakannya.
Dea tersenyum konyol, menggeleng pelan. Sikap kanak-kanaknya yang jarang Namsius perlihatkan membuatnya cengar-cengir geli. Jarang sekali rekan kerjanya menunjukkan kelakuan nakalnya. Di tempat kerja, Namsius selalu memasang wajah dewasa yang serius.
"Hei, Namsius- Tidurlah dan jangan bergadang."
"Baik, bos. Sampai jumpa besok malam!"
Dea melambaikan tangannya, menjaga Namsius dari ujung jalan. Sampai ia masuk ke dalam apartemen, ia tidak menurunkan pandangan dan tangannya dari anak berusia 13 tahun itu. Berjalan masuk ke dalam toko, ia menggumamkan kalimat yang ia lupa ucapkan.
"—— Anak muda sepertimu tidak perlu tumbuh dewasa terlalu cepat. Alangkah baiknya apabila kau menikmati masa mudamu dan tumbuh dengan baik tanpa tekanan"
...**********...
Tak di duganya, Namsius hari ini pulang lebih awal. Mengartikan, ia bisa lebih cepat beristirahat. Namun, mengetahui sesuatu yang tidak menyenangkan sedang menunggunya, ia tidak ingin masuk ke kamarnya untuk membereskan kekacauan yang para tikus buat.
Terlalu malas berpikir panjang, ia berjalan keluar dari apartemen lagi dan menemui tuan Lewis yang sedang berada di gedung sebelah-- menjadi bandar judi. Pertama-tama, tuan Lewis terkaget dengan kedatangannya yang mendadak. Akan tetapi tetap menerimanya di dalam kasino yang ramai dan menanyakan maksud kedatangannya secara terbuka.
".. Aku berencana untuk pindah Minggu depan."
"Kau?" Tanya tuan Lewis. "Oh, sayang sekali. Aku pikir kau akan tinggal lebih lama. Tapi.. apa kau datang hanya untuk mengatakan itu?"
"Tidak. Aku datang untuk bertanya apakah kau memiliki sebuah kunci cadangan untuk kamarku. Aku meninggalkan kunciku di kamar," bohongnya sembari menyembunyikan kuncinya di dalam saku.
Tuan Lewis terdiam sesaat sebelum tertawa terbahak-bahak, menarik perhatian semua orang. Namsius pun tersentak kecil dan kebingungan dengan reaksinya. Menanyakan apa yang salah, tuan Lewis menjelaskan kamar di loteng apartemen tidak memiliki kunci cadangan-- tidak mengejutkan Namsius sebab ia sudah mengetahuinya dari awal.
Apa yang ia incar dari pembicaraan ini adalah kunci induk apartemen yang dapat membuka semua pintu. Dengan begitu, ia bisa mengakses ruangan kosong yang tersisa di apartemen sebagai tempat tidur semalam.
"Pfft- tapi itu mengejutkan seseorang sepertimu bisa melupakan kunci kamar. Aku pikir kau cukup bertanggungjawab dan hati-hati untuk hal sekecil ini"
"Yah.. aku ini juga manusia. Aku bisa lupa satu atau dua hal. Jadi.. aku akan tidur dimana malam ini?"
"Hahaha, malam ini ya? Mungkin kau bisa-"
"OI, BANDAR!! APA SUDAH MULAI?!!"
Namsius melirik pada meja yang dikerumuni banyak orang di belakang tuan Lewis. Mereka menunggu tuan Lewis memulai permainan dengan antusias. Merasa tidak nyaman menunda pekerjaan sampingannya, ia memutuskan untuk menggagalkan rencananya dan berpamitan sepihak dengan tuan Lewis.
Sayangnya belum sempat ia meninggalkan kasino, ia dicegah oleh tuan Lewis yang menahan tangannya. "Hei, kau ingin pergi ke mana?"
"Aku sudah menemukan sebuah solusi. Aku akan pulang sekarang. Maaf-"
TAKK!!
Tuan Lewis menjentikkan jarinya, menarik Namsius ke sebuah meja. Ia mengarahkannya dan menahannya untuk tidak pergi menggunakan badannya. Berfirasat burul dan keterlaluan lelah, ia menanyainya blak-blakan ke inti. "Tuan Lewis, apa kau ingin aku berjudi?"
"Iya. Aku tahu kau lihai. Terus terang, aku berencana memberikanmu tempat ini padamu sebagai penerus ku. Bagaimana jika kau ikut aku bermain untuk malam ini saja?"
Tuan Lewis yang berseri-seri berubah cepat, mendnegar tolakan Namsius. Menopang dagunya, ia melihat jarum jam yang mengarah pada angka 7 dan menyeringai samar-samar.
"Bagaimana jika kau bermain satu ronde saja? Apabila kau menang, aku akan memberikanmu kunci induk. Jikalau kalah, kau harus membantuku sampai jam 9. Jangan khawatir tentang uang, kau akan bermain dnegan uangku"
"Maaf, aku-"
"Hei, Lewis! Kami sudah siap!!"
Namsius mengerutkan keningnya, melihat puluhan orang berada di meja depannya. Berpikir sejenak, ia tidak melihat ada salahnya mencoba sekali. Menyetujuinya, ia pun ikut bermain di ronde pertama.
Hanya dalam setengah jam, ronde pertama berlalu dengan Namsius sebagai pemenangnya. Sesuai perjanjiannya, ia seharusnya berhenti di ronde ini. Masalahnya, ia tidak dapat berhenti ataupun diberi cela untuk keluar dari permainan sebab tuan Lewis sengaja memulai permainan begitu satu ronde selesai.
—— Dan hal ini berlanjut sampai ia tetap bermain di ronde ke-5 dengan jumlah uang yang sangat besar.
"Uh.. tuan, ini sudah jam 10 malam. Aku bisa terlambat besok"
"!! Jam 10?" Tuan Lewis menoleh pada jam dinding, tidak menyadari waktu yang berjalan terus menerus. Melihat sudah larut malam, ia menjeda permainannya sebentar dan mengantar Namsius ke pintu luar-- memberikannya kunci yang ia janjikan.
"Kerja bagus hari ini! Tadi itu menyenangkan bukan? Kau tersenyum lebar setiap kali ronde baru mulai."
".. Aku tidak se-antusias itu. Aku hanya ingin permainannya cepat selesai. Namun kau memakasaku bermain terus"
Tuan Lewis menggosok tengkuknya merasa sedikit bersalah. Ia tidak bermaksud mengambil waktu istirahatnya. "Yah.. Kau terlihat menikmati waktumu. Kupikir kau menyukai permainannya dan menang 3 ronde berturut-turut. Apa kau benci berjudi?"
"Em.. secara personal tidak. Judi adalah sebuah permainan yang menyenangkan. Disaat bersamaan, sebuah racun mematikan yang menyialkan. Aku tidak ingin meminum racun terlalu banyak sampai hidupku hancur"
"Ah, itu membuat kita berada dalam posisi yang sama. Apa kau penasaran mengapa aku menjadi bandar judi meskipun apartemenku sangat laku?" Tuan Lewis berjongkok, menepuk kepalanya. Tidak berhasil menarik rasa perasaan anak kecil didepannya, ia menjadi kecewa dan menyuruhnya menebaknya. "Kau pasti tidak tahu alasan mengapa aku berjudi bukan?"
Namsius menatap mata tuan Lewis yang gelap, menemukan seberkas kesedihan dan harapan. Memahami apa yang di simpannya dengan hati-hati, tangannya menepuk bahu pemuda bersurai Lilac panjang.
"—— Aku tahu. Kau sudah berusaha dengan baik. Jadi jangan bersedih"
Kalimat itu membuat nafasnya tertahan dan memberikan sebuah kenyamanan hangat yang meluruhkan keraguannya. Ia merasa terntuh dan terharu ada seseorang yang menyadari apa yang ia lakukan.
Namun ia tidak bisa menunjukkannya sama sekali. Sesuatu bernama 'harga diri' melarangnya untuk menunjukkannya. Ia tidak bisa membuka kedoknya dan menangis gembira. Dia adalah seorang bandar judi.
Hanya membuka sebagian topengnya, ia bertanya kembali pada Namsius pertanyaannya. "Jadi, apa alasannya? Kau belum menjawab pertanyaanku"
"Aku pikir itu sudah jelas. Alasan mengapa kau berjudi adalah karena uang. Kau membutuhkan uang yang banyak untuk membantu banyak orang di kota ini"
".. Bagaimana kau tahu?"
"Sama sepertimu melihatku dari jauh, aku memperhatikanmu juga. Kau menyumbang dana yang besar untuk panti asuhan, membantu korban banjir di ibukota, mendidik anak-anak yang kurang mampu, dan memberikan beasiswa. Aku yakin usahamu tidak sia-sia"
"!!!..." Sebuah tangan kecil mendarat di kepalanya, menyentakkan dirinya. Mengelus rambutnya, ia mematung dengan mata melebar dari perasaannya yang hampir meledak.
Tak mampu menahannya, matanya memancarkan rasa bersalah yang luar biasa dan mulutnya mulai mengakui tindakan ilegalnya sembari menahan frustasi.
"Tapi aku ini pendosa! Aku telah melakukan banyak hal yang salah- Bukankah berjudi adalah sesuatu yang dilarang? Aku sudah banyak menipu! Aku tidak mungkin melakukan ini demi membantu orang- Aku mungkin telah menggunakan banyak alasan untuk menutupi kesalahanku!!"
"Seseorang yang memberikan orang sepertiku tempat tinggal tidak mungkin. Kau adalah orang yang tulus."
"T, Tapi.. Aku sebenarnya hanyalah seorang yatim piatu dari sebuah panti asuhan. Bukan pahlawan yang menyelamatkan dunia ataupun-"
.
.
"——Tiada orang yang terbebas dari dosa. Apapun yang kau perbuat, kau pastinya akan mendapat balasan yang adil. Pahlawan, raja atau siapun itu-- Kita hanyalah seorang manusia. Yang Mahakuasa yang akan menghakimi mu nanti. Jadi.. jangan menghakimi dirimu sendiri"
Sesaat, waktu di seluruh dunia serasa berhenti bagi pemuda yang tertegun. Kepalanya terangkat, menghadap ke cahaya yang menerangi kepalanya. Seolah-olah terlahirkan kembali, ia mendapatkan sebuah pencerahan.
Memandang sosok di depannya, ia berterimakasih dengan suara yang kecil dan menyuruhnya pulang. Setelah Namsius tidak terlihat di matanya, ia kembali masuk ke dalam ruangan yang ramai tanpa mengenakan sepertiga topengnya.
"Tak bisa kubayangkan sebuah pengakuan dari seorang anak kecil membuatku senang. Dia adalah orang pertama yang mengakuiku sebagai pendosa setelah mendengar ceritaku. Sungguh... Aku membutuhkan kata-kata itu"
...******...
Namsius POV
Aku membaringkan badanku diatas kasur kamar apartemen kosong di lantai 2. Tanganku meraba tekstur kasur yang berkualitas sedang. Walaupun kamarnya tidak seluas kamarku di loteng, ini adalah tempat ternyaman yang ada di apartemen ini.
Haaa... menjengkelkannya adalah meskipun aku bisa beristirahat dengan tenang, ada sesuatu yang membuatku cemas.
".. Kalung apa ini?" Tanyaku, mengamati hadiah pemberian pendeta Peregrin yang terbaring di atas mejaku.
Sebuah linotin yang tergantung permata lavender dan dirantai perak. Diperhatikan dari manapun, benda ini sangat aneh dan mencurigakan. Sangat mahal nan berkelas.
Mengapa dia memberikannya padaku?
Ditambah, liotin ini membuatku tidak nyaman. Benda ini mengeluarkan sebuah arwah yang membuatku was-was.
TING!!
!! Huh? Suara itu-- Whisly?!
Aku terduduk di atas kasurku secepat kilat, otomatis berada dalam mode defense. Menarik nafas dalam-dalam, aku melihat ke sekeliling ruanganku hanya untuk melihat tiada kelinci putih yang muncul.
.
.
Lalu dari mana asal suaranya? Salah satu hal yang aneh disini hanyalah-
"——Liontin pendeta Peregrin..? I, Itu tidak mungkin. Jangan bercanda"
PSSHH..
"!!! EEEHH?!!" Sebuah asap merah muda muncul dari kalung tersebut. Dengan panik, aku bergegas membuka jendela kamar danmengeluarkan asapnya.
Sayangnya, itu tidak berhasil. Asap tersebut tidak mengalir keluar jendela. Ia memiliki sebuah target, yakni-- Aku.
Tidak hingga 3 menit, asap tersebut telah memenuhi ruangan. Aku yang berdiri di dekat jendela berusaha tidak menghirupnya. Akan tetapi, segala usaha yang kulakukan terasa sia-sia berkat rasa capek ku yang sudah berada pada tingkatnya. Menghirup asap tersebut memperburuknya. Ada sesuatu yang terkandung di dalamnya membuatku mengantuk.
Tak mampu melawannya, badanku terjatuh di atas lantai ubin dengan sangat keras. Aku bisa merasakan darah mengalir dari keningku. Namun, aku tidak bisa merasakan denyutan kepalaku dan cederanya. Kesadaranku ditarik keluar dari tubuhku dan..
.
.
.
—— Aku merasa diriku dicabut paksa keluar dari tubuhku dan dikembalikan ke akhirat sekali lagi.