I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly

I And My Murderer Reincarnated As A Twin Mob To Help The Hero Secretly
Season 2 Chapter 2: Narrateur



Author POV


Seorang remaja berkacamata berdiri di depan cermin, mengenakan pakaian norak yang mencolok. Merapikan rambut perak dan memejamkan mata merahnya sejenak, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Seusai melakukan ritual rutinitas nya, ia berjalan ke belakang panggung di tempat kerjanya dan melihat para penonton ramai yang sedang makan di restoran. Menjadi gugup, ia melirik pada atasannya yang berdiri mengawasinya dari tadi di belakangnya.


"Em.. Daniel, aku.. A, Apa kau bisa menggantikanku untuk hari ini?"


"Mengapa? Kau harus mengambil bagianmu sore ini. Mereka sudah menunggu mu. Bukankah melakukan ini demi balas budi padaku?"


Fonsius membuka mulutnya, menatap rekan kerjanya yang menyeringai. Kata-kata tidak keluar dari mulutnya ketika apa yang dikatakannya selanjutnya tidak bermakna di hadapan lelaki tampan yang jangkung.


"Jangan khawatir, mereka pasti akan tertawa. Kau mempunyai bakat alami. Seluruh dirimu adalah sebuah lelucon"


Fonsius tersenyum lemah, memalingkan kepalanya. Dia tidak senang dengan pujian bagai hinaan Daniel. Terus terang, dia tidak menyukai pekerjaannya.


Jikalau bukan karena hutangnya terhadap Daniel Rochessac—— Kakak kelasnya sekaligus bosnya yang memaksanya menjadi budak setianya. Semua ini berawal dari beberapa tahun yang lalu saat Daniel membantunya kabur dari para perundung yang mengejarnya.


Akan tetapi, Daniel tidak pernah menyelamatkan Fonsius. Dia tidak lebih baik daripada mereka yang mengganggu Fonsius. Malahan, dia jauh lebih berbahaya daripada perunding bar-bar yang mengerjarnya.


Lelaki bermanik mata hijau dan bewarna rambut tembaga adalah orang paling manipulatif nan licik yang pernah Fonsius temui. Parahnya, dia adalah serigala berbulu domba yang mengenakan topeng manisnya.


Fonsius tidaklah bodoh untuk tidak menyadari topengnya. Senaif apapun dirinya, dia menyadari kepalsuan Daniel yang memuakkannya.


Namun..


"Jangan khawatir. Aku mempercayaimu. Keluargamu pasti akan senang. Kau tidak mau kasus perundungan mu bocor kepada-"


"Aku akan bekerja dengan baik. Aku... akan membayar 'kebaikan' mu. Jadi jangan libatkan keluargaku dalam masalah ini. Aku tidak ingin mereka tahu aku sedang dibully"


Sangat sulit baginya untuk melepaskan diri dari genggaman Daniel sebab ia selalu mengancamnya dengan kelemahan dan masalahnya di sekolah. Ia tidak ingin orangtuanya khawatir dan kecewa akan fakta bahwa ia menyembunyikan penderitaannya sendirian.


Makanya, Fonsius yang naif memohon pada sosok bagai iblis di depannya untuk tidak membocorkan apa yang ia alami pada keluarganya.


"... Benar. Kita akan bekerja sama hingga 20 tahun ke depan. Jadi dengarkanlah perkataanku. Akulah yang akan membimbing dan membantumu dalam hidup ini. Hidupmu tidak berguna tanpa ku"


...*********...


Cendric POV


Aku duduk di bangku kelas ku, menopang daguku. Aku dapat melihat langit senja dan matahari terbenam dari ruang kelasku. Sekolah yang sepi menenangkan pikiranku. Kelas dan klub telah usai 2 jam yang lalu, tidak ada orang di sekolah ini terkecuali aku, petugas kebersihan, dan penjaga sekolah.


Tentu saja ini tidak terlepas dari Nom écrivain yang selalu mengamati ku entah dari dunia mana. Sayangnya, aku tidak bisa berkomunikasi dengannya sesuka hati. Dia bisa memanggilku tetapi tidak sebaliknya.


Benarkan, Nom écrivain?


...


....


.....


.... Lupakan. Dia tidak akan meresponku. Jika narasinya dalam sudut pandang ku, itu tidak berguna. Aku hanya dapat mendengar spoiler Nom écrivain apabila dia yang menarasikan dunia ini.


"Sial, mengapa dia melimpahkan tugasnya padaku? Dia meninggalkanku kesulitan.. lagi"


Apa kalian bisa percaya itu? Bagaimana bisa dia meninggalkanku sendirian untuk mengerjakan tugasnya menarasikan dunia ini?!


Dasar tidak bertanggungjawab. Syukurlah aku masih mempunyai kalian. Ngomong-ngomong-


—— Halo! Bagaimana kabar kalian, sosok di balik layar? Ini pertama kalinya kita berinteraksikan. Apa kalian bisa membaca pikiranku?


.


.


.


Oh.. benar. Aku hampir lupa. Ini adalah komunikasi satu arah. Sungguh disayangkan.


Aku mendengar tentang kalian dari Nom écrivain. Kalian berasal dari dunia di balik layar. Yah.. Walaupun aku tidak tahu layar apa yang dimaksudkan. Ia mengatakan dunia ini terhubung dengan dunia kalian melewati suatu alat dan dia adalah sosok yang mendeskripsikan pikiranku pada kalian sementara aku menarasikannya.


Maksudku tidak selalu melalui mata dan benakku. Terkadang, dari orang lain juga tanpa mereka sadari. Dia pasti kurang kerjaan sampai melakukan semua ini. Aku sendiri tidak mengenal banyak tentangnya maupun kalian.


Aku tidak tahu siapakah kalian berapa banyak dari kalian yang membaca ini ataupun peran kalian dengan dunia ini, tapi siapapun yang berada di balik layar--- Halo! Salam kenal!!


Aku harap kalian tidak keberatan apabila aku memanggil Lecteur yang berarti pembaca dalam bahasa kuno. Kalian juga boleh memanggilku Narrateur ketika aku sedang menarasikan dunia ini pada kalian.


—— Aku ingin membedakan diriku saat aku sedang menggantikan Nom écrivain dan saat aku menjadi penonton sampingan.


Yah, karena kita pastinya akan tetap bersama sampai beberapa tahun kedepan. Mari kita tidak merasa canggung pada satu sama lain. Ini memang aneh, namun kalian akan terbiasa lama kelamaan.


Ah, tapi sebelum itu, aku akan menarasikan situasi dunia ini dari sudut pandangku.


Pertama-tama, aku akan menarasikan apa yang terjadi disini terlebih dahulu. Ehem-


Jadi, seperti yang kalian ketahui, sekolah sudah usai sedari tadi. Sejak 2 jam yang lalu, aku berada di ruang kelas ini dengan satu alasan sederhana.


—— Aku sedang melakukan sebuah penelitian sembari menunggu kakakku selesai kerja di restoran. Dan penelitian apakah yang aku lakukan? Aku yakin kalian bisa menebaknya.


.


.


Yup. Itu rahasia. Aku tidak bisa memberitahu kalian. Aku hanya bisa membocorkan satu hal. Ini berkaitan erat dengan ketertarikanku akan dunia literasi. Ini urusan pribadi tapi kau akan mengetahuinya segera.


Nah, itu saja yang bisa kuberitahu. Jam kini sudah menunjukkan pukul 5 sore--- tepat saat Fonsius pulang kerja. Waktunya ia menjemputku dari sini.


Beranjak dari kursiku, aku mengemas barang-barang dan meraih tasku. Kakiku berjalan menuju luar kelas sembari kepalaku celingak-celinguk ke kiri kanan, menikmati suasana senja.


Aku ingin sekali memberikan kalian tur keliling sekolahku. Tapi mungkin kapan-kapan. Ibu akan membunuhku apabila aku telat makan malam.


Yah.. Ini adalah rutinitas ku sehari-hari. Walaupun aku masuk ke sekolah elit, itu tidak mengubah diriku sebagai seseorang dari keluarga sederhana yang tidak ingin hidup berlebihan. Aku yakin saudara-saudari ku juga menginginkan hal yang sama.


TAP, TAP, TAP..


Ah, berbicara tentang saudaraku, Fonsius tampaknya sudah tiba di sekolahku. Dia lebih cepat dari biasanya dan tidak se-muram biasanya. Dia pasti mendapatkan sebuah kabar baik dari 'bos' nya.


"Hei, Fon- ada berita apa hari ini?" Tanyaku, menghampirinya di luar gerbang sekolah.


... Sangat tipikal kakakku yang aneh.


Kelakuannya sudah jelas mengindikasikan bahwa ia sedang berbohong. Entah apa yang ia sembunyikan, aku yakin ini berkaitan tentang sekolahnya.


"Fon, bukannya aku tidak menghargai privasimu. Sayangnya, kau harus belajar berbohong lebih baik dari 'bos' mu lain kali"


"!!!.. A, Aku tidak berbohong- Bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan di sekolah setiap hari sampai sore begini?"


Alisku berkedut sekali, teringat akan satu hal penting yang lupa ku narasikan. Aku lupa memberitahu kalian bahwa tidak ada yang tahu alasan sebenarnya mengapa aku disini. Aku berbohong pada keluargaku menggunakan alasan 'Aku mengikuti klub' supaya mereka tidak mencurigai apa yang mereka lakukan.


Oh, terkecuali Alice. Dia adalah sebuah pengecualian sebab dia mentoleransikan dan malahan mendukung apa yang sedang kulakukan setiap sore. Bisa kubilang, kami memiliki ketertarikan dan selera yang sama sehingga kami bisa saling mengerti.


Akan tetapi, belakangan ini Fonsius mulai mencurigai kebohongan ku. Dia lebih tajam dari yang semua orang duga. Dia mulai ikut campur dalam masalah personal ku semenjak aku pulang semakin malam 6 bulan yang lalu.


Aku ingat hari itu aku dimarahi habis-habisan oleh orangtuaku sampai menangis. Alice lah yang menghiburku dan memberikanku nasihat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Lalu bagaimana dengan Fonsius?


Yah.. dia tidak melakukan apapun hari itu karena dia pulang lebih telat daripadaku dan dimarahi lebih banyak. Namun mendengar kabar aku juga dimarahi, ia mulai bertanya-tanya dan mencurigai apa yang kulakukan selama ini.


Di hari berikutnya hingga 3 Minggu kedepan, ia tiba-tiba menjadi penguntit ku dan mencoba mencari petunjuk akan apa yang kulakukan. Untungnya, aku cepat tanggap dan bergegas menyembunyikan keberadaanku darinya.


Kalian tahu, aku merasa sedang bersembunyi dari seorang pembunuh berantai yang mengincar nyawaku. Dia membuatku hampir jantungan setiap kali ia mengikuti dan melacak ku tanpa suara dari 7 meter di belakang. Aku sampai bergidik mengingat hari-hari itu.


Dia baru berhenti ketika Alice menceramahinya habis-habisan setelah aku menceritakan apa yang ku lalui. Sayangnya, itu tidak mengurangi rasa cemas dan curiganya terhadapku.


Oleh karena itu, Alice menyarankan sebuah solusi yang kami sepakati. Yakni, untuk menjemputku sepulang sekolah setiap ia pulang kerja agar perasaan janggalnya berkurang.


Kehidupan tenangku saat ini dapat terjadi berkat Alice yang menjadi penyelamat ku. Fonsius tidak mungkin berhenti apabila Alice tidak turun tangan. Mungkin hingga sekarang dia masih akan menguntit setiap aktivitasku.


"-- Cen, jangan melamun. Kau belum menjawab pertanyaanku"


"Aku tidak melamun. Aku sedang menarasikan pikiranku pada Lecteur"


"Siapa? Apa itu teman khayalan barumu?"


"Mereka bukan dari khayalanku. Mereka nyata"


Fonsius tersenyum kaku, mengiyakan ku. Ini sudah biasa. Keluargaku tidak menganggapku serius. Aku tidak pernah berbohong pada mereka tentang kalian dan Nom écrivain. Mereka menganggapku sebagai seorang anak kecil yang mempunyai imajinasi liar.


Alice lah satu-satunya orang yang mempercayai semua ceritaku. Makanya, dia adalah orang terpercaya dan terdekatku yang bisa ku andalkan apabila sesuatu terjadi. Aku yakin dia tidak akan mengkhianati ku.


"... Intinya, kau tidak akan mengerti apa yang kumaksud. Mereka nyata. Apabila kau ingin mengetahui apa yang kulakukan, aku pun bisa memberitahumu"


"Haaa.. Kalau begitu katakanlah apa yang kau lakukan selama ini di meja makan nanti. Kau sudah berbohong terlalu banyak"


"Aku tidak ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu."


Fonsius merespon ku dengan sebuah ******* panjang, memutuskan topiknya sampai disini. Merasa malas meladaniku, ia menggandeng tanganku dan menyeretku pulang. Sesampainya di rumah, kami disambut oleh Alice yang juga baru saja pulang kerja.


Menghampiri kami, ia melambaikan tangannya dan menanyakan bagaimana hari kami. Fonsius menjawabnya dengan menceritakan bagaimana kesehariannya disekolah. Fonsius mengangguk pelan, tidak memberitahukan detail apa yang terjadi. Jelasnya, dia berada dalam suasan hati yang baik.


Aku dan Alice bertukar pandang sekilas, bertanya-tanya apa yang terjadi. Sayangnya, dia tidak membocorkan rahasianya sama sekali.


"Oh, bagaimana denganmu? Apa kau menikmati harimu juga?"


Aku mengacungkan jempolku, menjawabnya jujur akan keseharian ku. Tidak ada yang spesial.


—— Oh, terkecuali pertemuanku dengan kalian, Lecteur.


"Hei, hei- Alice. Dengarkan ini, hari ini aku bertemu dengan sosok dari balik layar bernama Lecteur"


"Biar kutebak, dia adalah sosok yang sama dengan Nom écrivain. Apa dia berasal dari dunia lain?"


"Benar. Mereka bukan cuman satu. Kudengar mereka ada banyak. Ditambah, hari ini adalah hari pertemuan pertamaku dengan mereka secara resmi. Bagaimana menurutmu?"


Alice mengedipkan matanya 2 kali, menopang dagunya sementara Fonsius mengangkat bahunya dan memasrahkan diri. Dia mengatakan pada Alice untuk tidak berpikir terlalu dalam dan mengajak kami masuk.


Sayangnya, Alice tidak mendengarkannya sama sekali dan sibuk tenggelam dalam pikirannya, menggumamkan ulang kalimat yang kukatakan.


"Ah, sepertinya aku pernah mendengar sedikit tentang mereka dari adik-adikku. Mereka pasti berasal dari dunia tanpa sihir"


"Entahlah. Kami hanya bisa berkomunikasi satu arah. Mereka bisa membaca pikiran sembari aku menarasikannya dari sudut pandangku."


"Satu arah? Oh, itu menarik. Jadi mereka adalah pengamat- Tidak, pembaca lebih tepatnya. Kau adalah naratornya dan Nom adalah penulisnya."


Aku menjentikkan jariku, mengangguk cepat. Dia cepat menangkap yang ku maksud dengan serius. Dia mempercayaiku dan percaya akan keberadaan dunia lain.


"Yah, kalau begitu sampaikan salamku pada para pembaca dari balik layar kapan-kapan"


"Oh, aku bisa menyampaikannya sekarang"


"Benarkah?"


—— Halo, Lecteur! Kakak angkatku mengucapkan salam pada kalian.


"Sudah. Aku sudah menyampaikannya"


"!! Itu cepat sekali," ujar Alice. "Apa kau berbicara secepat kilat dalam pikiranmu?"


Aku tertawa geli, menggelengkan kepalaku. Fonsius pun ikut mencandaiku, membuat Alice tersenyum lebar dan mengacak-acak rambutnya. Kami lalu masuk ke rumah setelah bertukar tawa dan bersiap-siap makan malam.


.


.


Haaa.. bersiap-siap untuk makan malam ya? Ini akan membutuhkan waktu yang lama.


Satu info penting yang harus kalian ingat—— Orangtua kami sedang membantu warga setempat mempersiapkan Gojamn yang sebentar lagi tiba dari tadi pagi. Jadi hanya ada kami bertiga. Mereka tidak akan pulang sampai hari esok tiba.


Yah.. Aku rasa itu sudah cukup untuk narasinya. Maaf Lecteur, aku tidak bisa menemani kalian. (╥﹏╥)


Mari kita lanjutkan narasinya kapan-kapan. Lain kali kita bertemu, aku jamin akan memberitahukan rahasiaku.


Untuk sekarang, selamat beristirahat dan nikmati hari kalian!! Terimakasih sudah mendengar narasi setengah curhatanku!!


(◠‿・)—☆