
Setelah menyantap makan siangnya lalu Semi segera kembali ke lab karena aka nada murid selanjutnya yaitu anak MM II. Ia akan menjelaskan bagaimana mengerjakan tugas yang ia berikan. Semi duduk sendiri diruangan itu sambil melihat jam tangannya.
“Santai aja, jangan buru-buru dateng ke lab.” katanya yang ditujukan untuk muridnya, ia berbicara itu sendirian, secara langsung ia seperti telepati kepada muridnya. Ia melihat sosial medianya untuk mengisi waktu sampai mereka datang.
Tak lama datang satu orang. “Masih sepi mas ?”
“Baru kamu doang yang dateng Abdul.”
Abdul segera duduk berhadapan dengan Semi tetapi bersebrangan. Setelah Abdul datang mereka semua datang secara ramai-ramai. “Ok semuanya duduk mendekat sini saya mau jelasin sistematikan mengerjakan tugas pertama kalian.”
“Buat desain kasar dulu kan mas ?”
“Bukan, main desain aja sebelom kalian desain kita harus riset harga dulu. Riset itu gak cuma dalam penelitian aja, tapi kaya gini juga harus riset. Kalian mau sablon atau print ?”
“Kita si ada yang mau print ada yang mau sablon mas. Nah kalian riset harga dulu, kalian kan mau desian full color kan, nah kalian riset dulu. Setelah itu baru kalian desain. Ada kan disekitar sini buat sablon sama print kaos ?”
“Ada mas, walau lumayan jauh dari sini, sekitar 0,98 km.”
“Ya gak jauh banget lah. Riset aja dulu, missal nih kalo semakin banyak warna yang kalian gunakan itu malah makin mahal, kalian pake warnnanya jangan banyak-banyak supaya gak sampe meledak harganya, harga produksi melambung otomatis kan pas jual harus balikin modal, nah kalo jual mahal yang ada gak ada yang mau kan ? Itu pentingnya riset harga.”
Para murid segera mencari tempat untuk menegerjakan tugas tersebut. Mereka kini tengah mencari tempat itu diponsel mereka, walau sedikit ramai tetapi tidak menganggu. Begitu juga Semi, ia juga mencari tempat untuk mengerjakan tugas untuk para muridnya.
“Nah dapet, tiga warna harga enam puluh lima ribu, itu kaos bawa sendiri, kalo kaos dari dia harga tujuh lima. Mahal gak si mas itu ?”
“Ya lumayan sih bagi saya. Coba cari opsi lain deh Syifa.”
“Mungkin ada yang tau tempat buat kaya gitu bisa langsung kasih tau ke saya aja langsung.”
“Saya mas, ditempat deket rumah saya luamayan sih mas terjangkau juga.”
“Ok coba kamu sebutin harganya Rian.”
“Kalo print kaos, yang mempengaruhi harga satu ukuran, kalo ukurannya makin besar harganya naik sekitar ceban, terus berapa banyak warna, kalo harga satu warna sekitar tiga puluh ribu, dua warna tiga lima nah kalo lima warna sekitar empat lima. Itu udah termasuk dibungkus rapih.”
“Ok, bagaimana dengan harga sablon ?”
“Sama sih mas, setiap ukuran nanti nambah goceng, terus kalo warna paling mahal nambah dua puluh ribu mas. Nambah dua puluh itu kalo warnanya lebih dari enam mas, lima warna itu lima belas mas, kalo kaosnya nggak dari kita pasti nambah lagi mas sesuai dengan ukuran. Kalo kaos dari kita cuma bayar ukuran sama berapa warna yang dipake. Itu semua udah termasuk bungkus rapih mas.”
“Mantab, mungkin dari kalian ada mau yang ngasih tau ditempat yang lain ?”
“Lumayan banyak nih mas, saya nemuin di google. Mulai dari harga bersahabat sampe harga ngajak ribut juga ada nih mas.”
“Coba harga bersahabat, kalo harga ngajak ribut udah pasti ngajak ribut itu.”
“Kalo buat print kaos, satu warna kaos dari mereka, itu harganya sekitar lima puluh lima, setiap ukuran nambah tujuh ribu. Kalo kaos dari kita menciut ceban mas harganya mas.”
“Lanjutkan mas, kayanya sih lumayan banget tuh. Harga empat lima, lumayan bisa dapet kebab ukuran XL dua.”
“Yah mas nyebut kebab laper saya mas.”
“Lucky kamu itu paling gak bisa kondisikan perut kamu ya kalo masalah makanan ya ? Kecilin tu perut, biar perempuan banyak yang mau deketin.”
“Di deketin kaga, yang ada yang homo mas deketin.”
“Ya walau begitu kamu kecilin aja perut kamu, biar nanti banyak yang deketin. Kalo diluar negeri perempuan itu mau sama kalian dengan bebebrapa hal ini. Satu kalian kaya, dua badan kalian bagus, tiga kalian itu tahan lama dalam tanda kutip n besar juga. Apalagi kalo badboy. Disana kan manusia itu hewan, main sana sini, bapaknya gak jelas.”
Beberapa mereka tertawa, beberapa juga ada yang menahan tawanya, tetapi ada juga yang tertawa keras karena itu. “Ardi, yeh ketawanya paling kenceng sendiri. Udah kompeten kamu ya ?”
“Jangan ditanya mas udah kompeten parah.”
“Yaudah lah bodo amat masalah kaya gitu, lanjutin lagi Arian.”
“Nah kalo harga sablon kaos dari mereka nambah ceban mas, itu juga tergantung harganya. Setelah itu mau sebesar apa ukuran sablonnya itu nambah lima belas.”
“Ko mahal si lima belas ribu ?’
“Sablonnya bagus mas, kaya diprint.dipake setahun pun sablonnya masih terbilang bagus mas, Cuma warnanya aja yang redup.”
“Kamu ada kaosnya ?”
“Saya pake sekarang.”
“Coba saya liat.”
Arian membuka beberapa kancing batiknya untuk menunjukkan bukti ucapannya. Ia melihat kaos itu dan menyentuhnya “Oh iya bagus beneran ini kamu kaos sendiri apa dari mereka ?”
“Sendiri mas.”
“Setahun pas mas hari ini.”
“Keren. Boleh tuh tempat kamu, kalo warna berapa ?”
“Satu warna itu cuma ceban, kalo nambah warna itu tujuh ribu.”
“Maksimal bisa berapa warna tempat sablon kamu ?”
“Enam warna si mas. Enam warna itu tiga puluh ribu, kalo warnanya udah lebih itu harganya gocap mas.”
“Hmmm, kalo saya timbang-timbang sih oke juga tempat kamu. Yang penting sih buat tugas ini jangan sampe nyentuh delapan puluh ribu. Supaya nanti kalian pas jual kaosnya yang minat banyak. Nah dari situ kalian bisa coba buat ?”
“Buka bisnis clothing.”
“Pinter, itu mengapa saya minta kalian buat mengerjakan tugas ini, saya mengajak kalian juga buat berwirausaha, siapa tau sukses kan ? Kalian sungkem saya nanti.”
“Iya mas jadikan.”
“Kaga lah. Cuma jangan melupakan saya aja, itu aja. Ok saya rasa cukup deh buat riset harga, nanti kalo ada yang punya tempat sendiri, nanti kita bisa omongin digmeet aja kali ya ? Buat hemat waktu.”
“Wah horror mas dengernya, keinget waktu dirumah aja mas. Gabut parah mas stress parah, kalo bisa digambarkan stressnya itu udah kaya Joker mas.”
“Joker itu kelainan jiwanya serius banget itu. Psikopat, terus ada tuh namanya apa yang membuat dia jadi ketawa sendiri, terus dia itu juga Biopolar. Jadi kerpibadiannya terpecah. Jadi suatu saat dia bisa seneng banget, nanti tiba-tiba dia jadi sedih, putus asa. Kalo Joker itu tarafnya itu udah gila banget lah.”
“Sarjana psikologi mas ?”
“Iya lah, makanya saya tau, saya jug ada niatan ngambil S2 nanti. Tapi buat sekarang sih saya mau ajarin kalian aja dulu. Ok kalian buat desain kasarnya deh sekarang, kita pake empat warna aja. Jangan banyak-banyak biar gak kemahalan harganya. Kalo kalian udah ada yang saya acc desainnya hari ini berarti tinggal eksekusi aja. Nah buat batas pengumpulan, seselesainya tempat dimana kalian mengerjakan itu. Kerjain sekarang.”
“Ok mas.”
“Yang mau dengerin lagu silahkan tapi jangan kenceng-kenceng.”
“Ok mas mantul kalo begini, ada mood booster auto cepet kelarnya nih.”
“Lucky kecilin tu perut. Terllau gendut juga bahaya mas.”
“Ok mas, saya coba deh kapan-kapan.”
“Biar jadi motivasi kamu ni, kalo perut kamu udah kecil terus dibuat sixpack perempuan banyak yang deket. Tuh motivasinya.”
“Ok mas mantab.”
Lalu mereka mulai mengerjakan desain kasar mereka, karena pasti desain mereka akan menerim koreksi dari Semi, walau nanti jam sudah habis mereka masih bisa membicarakan itu nanti secara daring. Semi tidak duduk santai, ia juga membuat desain kaos sebagai contoh untuk muridnya dengan menggunakan tiga warna saja.”
“Warna apa yang mau kalian pake ?”
“Item paling mas.”
“Sudah saya duga, karena warna yang simple n kesannya cool. Lanjutkan.”
Semi memiliki banyak bahan desain seperti itu didalam flashdisknya. Sehingga ia hanya perlu memasukkan file itu kedalam software desain. Untuk contoh kepada muridnya kali ini ia menggunakan Corel Draw, karena ia dulu mempelajari software itu susah payah, jadi sekarang ia lebih sering menggunakan Corel Draw dari pada Photoshop. Bila ia ingin membuat desain yang lebih bagus lagi ia akan menggunakan Illustrator.
Diantara mereka tidak ada yang memiliki pangkat lebih tinggi. Semi yang berstatus guru, ia tidak hanya duduk diam bersantai selagi muridnya mengerjakan tugas, ia iseng membuat desain. Itu memang sebuah kegabutan yang biasa ia lakukan setelah ia telah menguasai tiga software desain itu. Kegabutan baginya adalah sebuah waktu untuk membuat sebuah karya.
“Ah kalian buat desainnya ini tulisan atau ngebuat sebuah ilustrasi gitu ?”
“Ada yang Cuma tulisan ada yang ilustrasi mas.”
“Ok, kalo kalian yang cuma tulisna aja kalian buat semenarik mungkin ya, kan udah saya ajarin itu. Ok tuangkan imajinasi terbaik kalian, karena apa yang kalian lakukan ini kalian akan mendapatkan timbal baliknya juga dengan baik. Andai, andai aja nih ya. Kalo kalian ada yang mau coba buat clothing kaya gitu. Saya join. Buat desain kaos beberapa yang pertama kalianya, supaya banyak yang tertarik.”
“Ok mas, siap mas.”
“Kalo ada yang mau saya koreksi panggil aja ya. Saya juga buat desain juga. Sama tiga warna juga kaya kalian, jadi saya nggak gabut. Saya itu gabut berkarya kaya sekarang.”
“Ok ajarin ya mas nanti cara gabut yang bermanfaat.”
“Tenang, itu nanti saya ajarin kalian, kerjain aja ini desain sekarang.”
Semuanya kembali bekerja. Semuanya terlihat santai namun serius. Beberapa dari mereka mendengarkan lagu sembari mengerjakan desain. Mulai dari sebuah desain yang hanya sebuah tulisan saja, sampai membuat ilustrasi. Ilustrasi pun mulai dari yang sederhan sampai yang menarik.
Semi, ia juga membuat desain yang secara mentahnya terlihat sangat abstrak. Beberpaa muridnya melihat Semi membuat desain mentah itu, mereka bahkan tidak tertarik dengan desain itu, mereka kembali mengerjakan tugas mereka. Semuanya tidak ada yang tertarik dengan benda mentah. Termasuk desain juga, tidak akan ada yang tertarik dengan desain mentah sampai mereka melihat hasil matangnya.
Semi mengerjakan desain mentahnya dengan perlahan namun pasti, ia juga mengerjakan itu dengan sangat santai sambil beberpa kali memperhatikan muridnya dari kejauhan. Semuanya tampak mengerjakan dengan baik, mereka santai tapi tidak terlena. Mereka sadar bahwa mereka memiliki tugas yang harus dikerjakan, sehingga mereka tidak merasa santai dan bebas.