How To Be A Good Teacher

How To Be A Good Teacher
Memupuk



“Nah ok, kalo mas Sem bisa mengatur itu jadi tinggal kita aja yang melakukan sistem seperti layaknya mereka berada di dunia pekerjaan.”


“Tunggu bu, saya ada pikiran bahwa bagaimana bila sistem pendidikannya seperti ini, jadi mereka yang kelas  X mereka akan di pupuk untuk dunia pkl, dan mereka yang kelas XI persiapkan lagi agar mereka mantab dalam melakukan pkl, dan kelas dua belas benar-benar di persiapkan untuk menghadapi dunia pekerjaan, jadi demikian, kelas X lebih di perbanyak jam produktif mereka sama seperti kelas XI dan XII.”


“Menarik mas, tapi kalau begitu harus ngomong dulu sama kepala sekolah, mas karena kita ngomong begini aja kan gampang, gak tau kata pak Adnan apa.”


“Ok saya ke sana sendiri.” Semi segera bangkit dan meninggalkan ruangan guru. “Mas Sem kalo ada masalah yang penting dia gerak cepet banget, sendirian lagi, salut saya.”


“Emang gitu mas Hat, dia. Sayang sih mas Hat belom pulang, dia ngomong ke kepala sekolah itu bahasanya keren banget mas. Saya aja yang kepala jurusan belom tentu bisa mnegatakan itu kepada pak Adnan.”


“Jadi penasaran saya kaya apa ngomongnya kaya apa.’


Semi berjalan ke ruangan pak Adnan sendirian, terlihat belum banyak anak yang keluar dari kelasnya, karena jam pelajaran masih berlangsung, jadi mereka belum di perbolehkan keluar kelas.


Ruangan kepalas sekolah. Pak Adnan tengah membaca suatu berkas. Semi mengetuk pintu dan masuk.” Pak Semi ada apa bertamu ke ruangan saya ?”


“Ah pak Adnan, saya ingin mengajukan untuk mengubah sistem pendidikan pada sekolah ini.”


“Wah, ini berat sekali. Apa bisa dijabarkan itu pak Semi karena itu tidak bisa langsung di sahkan.”


‘Mungkin bukan sistem pendidikan, ah… Ya sistem pendidikan. Karena sekolah ini adalah SMK di mana banyak dari mereka yang datang ke sekolah ini untuk cepat bekerja, jadi saya mngusulkan sebuah sistem pendidikan yang saya rasa ampuh.”


“Mohon di jelas kan Pak Semi.”


“Jadi, karena saya telah menjalankan misi saya kepada murid kelas XI dan XII, dan saya juga telah membeberkan kepada anak kelas X apa yang tengah mereka lakukan sekarang, dan itu menimbulkan seperti suatu rasa iri kepada mereka. Jadi saya ingin berperilaku adil kepada mereka dnegan melakukan hal yang sedikit berbeda.”


“Bagaimana sedikit berbedanya pak Semi ?”


“Bedanya adalah, bila murid kelas XI dan XII mendapatkan tugas sesuai dnegan keahlian mereka dair orang yang langsung bekerja di industry desain, bila saya ingin menerapkan hal yang sama kepada mereka saya khawatir bahwa mereka tidak bisa melakukannya. Karena mereka baru saja lulus dair SMP dan kemampuan mereka dalam mendesian juga belum tentu bagus. Jadi untuk sistem pada kelas X saya ingin mempersiapkan mereka untuk kelas XI, karena pada kelas XI mereka mulai mendapatkan tugas sesuai keahlian mereka dan mereka memulai berbisnis. Saya tidak berani menyuruh mereka untuk melakukan bisnis, karena mugnkin saja desain mereka tidak begitu menarik perhatian banyak orang, jadi saya tidak berani untuk melakukan itu kepada murid kelas X.”


“Benar pak Semi, mungkin saja mereka bisa dalam menalankan bisnis tersebut dan juga bisa membuat desain, tetapi bila desain mereka tidak begitu menarik maka akan kesian mereka, mereka telah leleah mendesain tetapi bila tidak ada yang meliriknya maka sia-sia.”


“Itu yang saya pikirkan pak. Untuk murid kelas X, saya akan mempersiapkan mereka untuk kelas XI karena saya mulai menjalakan misi saya. Jadi saya ingin pendidikan pada anak kelas X adalah bahwa mempersiapkan mereka untuk kelas XI nanti karena misi saya mulai saya jalankan.”


“Bisa saya terima. Tetapi ini harus di rapatkan bersama dengan guru lain, saya pribadi sangat setuju kepada pak Semi, karena SMK harus mencetak pelajar yang siap untuk bekerja. Karena itu adalah motivasi mereka.”


“Saya juga ingin membuat kata-kata itu benar terjadi dan tebrukti pak. Karena pekerjaan manusia pada masa depan adalah wirausaha. Di masa pandemi ini saja banyak mereka yang di pecat, di tambah juga revolusi indostri yang begitu merugikan. Di tambah banyaknya perusahaan asing yang mendirikan tempat mereka dan berperilaku rasis kepada kita. Maka masa depan pekerjaan manusia adalah berwirausaha.”


“Pemikiran anda sangat visioner sekali pak Semi, saya sangat setuju sekali dengan sistem yang anda ajukan, setelah merapatkan ini dengan guru yang lain, saya rasa orangtau murid juga perlu mengetahui ini. Karena program anda akan mengubah nama SMK menjadi lebih baik. Mungkin untuk pertemuan dengan orangtua murid hari Jum’at saja. Jadi pada hari itu murid di perkenankan untuk tidak menghadiri sekolah karena ini hanya pertemuan orangtua murid. Untuk rapat, mungkin kita bisa mengadakan ini pada hari Kamis besok. Bagaimana pak Semi.”


“Siap pak. Saya siap untuk menjadi pembicara pada hari Jum’at pak, karena ini adalah program saya pak.”


“Terima kasih pak Semi atas kedatnagan anda, karena anda telah memberikan suatu program yang sangat jenius dan bahkan saya sendiri tidak pernah memikirkannya.” Semi menjabat tangan pak Adnan. “Terima kasih pak, pendapat anda sangat mendukung program saya.” Semi lalu meninggalkan ruangan pak Adnan dan kembali untuk menggodok ini bersama dengan guru jurusan.”


Di ruang guru mereka telah menikmati kopi Dalgona yang di buat oleh mba Riana. “Di minum bu, enak nih.”


“Woh, mantab mba.” Semi masuk. “Mas Sem ngopi dulu mas Sem.”


“Iya makasih bu.”


“Nih mas, udah saya buatin santai aja mas. Kopi Dalgona ni mas.”


“Pas, banget kesukaan saya ini.”


“Gimana mas Sem di terima sama pak Adnan ?”


“Di terima pak, tapi hari Kamis besok harus dirapatkaan sama guru yang lain. Lalu Kamis besok aka nada pertemuan orangtua murid, saya akan menjaid pembicaranya.”


“Nah jadi gimana mas Sem ?”


“Pak Adnan menerima pendapat saya bahwa untuk anak kelas X pendidikan mereka adalah pemupukan. Jadi kita semua harus memupuk mereka dari sekarang, mas Hatta bisa mengajarkan mereka fotografi dasar, lalu mba Riana memberikan tugas dan menerapkan sistem seperti mereka layaknya ada di industri hiburan, dan bu Aya bisa memberikan tugas dari update dunia desain, atapun hiburan lalu turunkan kepada kami. Lalu pak Afrian ajarkan mereka editing, jangan hanya editing yang biasa saja pak, tapi ajarkan mereka editing seperti yang ada di YouTube pak, dengan demikian bahwa kita adalah guru yang update akan jaman.”


“Siap mas Sem, saya selalu update masalah kaya gitu, saya gini-gini saya itu ditunjuk jadi asesor editing loh mas.”


“Nah mantab pak.”


“Nah buat mas Hatta, kan mas Hatta kan belom tau program saya. Nah jadi saya punya program dimana nanti saya akan memberikan tugas sesuai dengan keahlian mereka nanti, dimana bila mereka yang bisa fotografi, maka itu adalah tugas mereka. Nah dikarenakan untuk mempermudah mereka untuk mereka mendapatkan tempat pkl dan pekerjaan, saya akan memberikan mereka tugas langsung dari mereka yang bekerja langsung dari dunia itu. Mas Hatta bisa pelajari fotografi pada industri itu lalu mas Hatta ajarkan kepada mereka, itu mas.”


“Oh, keren banget mas itu programnya. Ok mas kalo masalah itu, saya itu kan baru pulang dari acara besar mas. Saya itu jadi fotografer di event cat walk besar itu mas. Ok mas kalo masalah itu saya bisa atur.”


“Ok mas Hatta. Nah apakah ada yang harus kita bicarakan lagi ?”


“Clear sih mas. Clear udah gak ada lagi yang harus di bicarakan.”


“Ok, berarti kita mulai dari sekarang harus selalui akan industri hiburan dan lainnya, karena kita akan mengirimkan mereka kepada dunia itu.” Semi bangkit meninggalkan ruangan, tetapi ia kembali lagi. “Bu Aya, bener bu anak kelas X harus shooting cooking show bu ?”


“Iya bener mas.”


“Weh mas Sem, kalo gitu caranya mereka bisa nyelesain tugas tepat waktu mas.”


“Lebih cepat lebih bagus bu, lalu mba Riana, perlakukan mereka seperti mereka bekera di dunia hiburan ya mba ?”


“Siap bos. Kenapa mas Sem yang kaya kepala sekolah ya ?”


“Ok saya balik dulu ke ruangan desain.” Semi menutup pintu dan kembali ke lab desain. “Bu kenapa mas Sem rasnaya kaya dia yang jadi kepala sekolah ya bu ?”


“Kepala jurusan lebih tepatnya.”


“Nah iya itu maksdunya bu.”


“Iya sih, soalnya itu program dia kerena banget sih, saya aja yang kepala jurusan aja gak mikir kaya gitu loh, pemikirannya itu visioner banget. Hebat bener-bener. Atau saya bisa saranin dia buat jadi kepala jurusan aja kali ya ?”


“Mungkin bisa tuh bu, kebayang gak sih bun anti jadinya kaya apa bu ? Kepala sekolah udah setujus sama programnya, terus dia jadi kepala jurusan, beuh saya rasa setiap tahun yang lulus dari sekolah ini auto kerja bu.”


“Ada benernya itu bu, saya juga mikirnya demikian. karena kan mas Semi kan masih muda jadi pikirannya bagus banget. Daun yang mulai menguning perlu digantikan sama daun yang masih hijau.”


“Wah iya, saya rela buat ngelepas jabatan saya. Karena saya yakin di tangannya dia pasti bakal jadinya hebat.”


“Udah selesai ?” Semi masuk dengan tiba-tiba dan mengagetkan.


“Hampir mas.”


“Oh ya, saya udah membicarakan permintaan kalian, jadi permintaan kalian udah saya terima.”


“Jadi bisa dong mas kaya anak kelas XI ?”


“Ya nggak lah Mae, kalian kan baru pada lulus SMP. Jadi kalian harus di pupuk dulu, baru kalian harus di kasih dulu ilmunya baru saya kasih yang kaya anak kelas XI. Begitu.”


“Jadi, kita belom bisa mas kaya anak kelas XI sama kelas XII ?”


“Belom lah, kalian masih harus saya pupuk dulu. Emang nya kalian mu saya suruh buat berbisnis tapi kalian gak ada yang beli ? Nggak kan ? Nah makanya itu saya harus kalian saya pupuk dulu. Baru saya kasih kalian buat menjalani seperit mereka.”


“Ok deh mas, yang terbaik buat kita aja deh mas.”


“Pasti lah saya kasih kalian yang terbaik. Masa saya kasih yang tebruruk sih buat murid saya, saya kan gak kejam.” Semi membunyikan jarinya dan tubuhnya,


“Mae, kamu keahliannya di bidang apa Mae ?”


“Bisa di editing sama desain sih mas. Foto sedikit.”


“Tapi lebih condong kemana kamu ?”


“Editing mas.”


“Kamu bisa shoot video ?”


“Bisa mas, sering buat sinematik.”


“Nah, nanti kamu kelas XI nanti kamu dapet tugas kaya gitu. Seusai keahlian kamu, jadi nanti pas kelas XI beda keahlian beda tugas, begitu.”


“Mas ini desian harus di acc dulu apa langsung eksekusi aja mas ?”


“Coba mana saya liat dulu. Kayanya perlu di acc.” Semi berjalan mendekati Rendy. “Ren kamu cooking show mau buatnya apa emang ?”


“Menu olahan yang mudah tapi enak sih mas, kaya pake marshmallow, pake ice cream.”


“Nah artinya kamu harus cari font yang sedikit relate ke situ Ren, coba kamu bisa explore font ice cream. Buat desain kamu udah bagus, desainnya ice cream banget sih Cuma fontnya aja, mantab Ren.”


“Ok makasih mas.”


“Mas, saya selesai mas.”


“Ok mana Maemunah Paramita.” Semi detik memperhatikan desainnya. “Buat apa neng ?”


“Menu sarapan coklat mas.”


“Keren, desain kamu udah bagus, tinggal pemilihan font aja sama nih kaya Rendy, nah setelah itu nanti kamu tambahin bevel emboss, biar keliatannya kaya bisa di sentuh gitu, nah terakhir kasih ilusi coklat netes. Bisa kan ?”


“Pasti lah mas.”


“Ok, buat pemilihan font, kamu bisa minta pendapat saya. Adakah yang lain ?” Semi mengoreksi desain para muridnya, kesenangan utamnaya pada hari ini adalah bahwa apa yang dia usulkan diterima dengan baik oleh pak Adnan, rasanya bila program seperti itu diterapkan dalam kehidupan nyata, pasti akan sangat indah sekali. Andaikan saja.